Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Juli 2021

REZEKI SUDAH ADA ALAMATNYA

Pagi ini, aku butuh uang cash karena uang cash di dompet sudah sekarat😜. 


Turun dari mobil, aku lihat pintu mini market baru saja dibuka. Si abang pegawai wara wiri mengatur barang2 jualannya.



Aku melangkah masuk ke mini market. Eh.. ada yang mengikutiku. Seekor kucing hitam liar 
dekil mengeong manja, berputar-putar mengelilingi kakiku. Digesek-gesekkannya kepala dan badannya ke kakiku, minta alem.

Jumat, 02 Juli 2021

BABE MERTUA DALAM KENANGAN

Babe, begitu aku memanggilnya. Dia ayah mertuaku. Sejak pertama kali berbincang dengannya, saat itu di tahun 1997 via telepon, aku sudah terkesan dengan keramahannya. Bicaranya lembut, khas orang Sunda. Kalau cerita, runut dari awal sampai akhir, sehingga asyik sekali mendengar dia bicara. Sikapnya yang luwes, tidak berjarak, membuat aku sejak awal sudah menetapkan hati untuk mencintai Babe dan Ibu sebagaimana aku mencintai Mami dan Papiku.




Bukan cuma ramah, dia bijak, perhatian dan baik hati. Dulu, ketika aku belum resmi jadi menantunya, dia sudah rela meminjamkan mobil untuk kupakai dari pagi sampai malam mengurusi keperluanku ke sana kemari. Padahal urusanku itu apalaah...nggak penting banget🤣🤣. Aku heran, kok beliau baik banget, ngadepin calon menantu yang ngelunjak😜

Minggu, 28 Maret 2021

INGIN DIKENANG SEBAGAI ISTRI YANG BAGAIMANAKAH KITA ?

Di kelas-kelas training mapun sharing Enlightening Parenting, setelah  si Akang menyampaikan materi Peran Ayah,biasanya ramai yang bertanya, 

“Mbak Iwed bagaimana kok bisa tahan dan terus konsisten menghadapi suami yang Rahwana? Kok nggak minta cerai saja? “

 


Suami Rahwana? Hehehe.. Si Akang sendiri yang menjuluki dirinya yang dulu  sebagai Rahwana.  Rahwana adalah tokoh antagonis dalam kisah Ramayana.Silakan di browsing sendiri ya bagaimana profil Rahwana.

 

Selasa, 09 Maret 2021

IBU MERTUA DAN MESIN CUCI AKARI

Setiap kali aku mudik ke Palembang dan nginep di rumah mertua, ada rutinitas yang bisa dibilang" quality time " bareng ibu mertuaku.

Pagi setelah sarapan, biasanya Ibu tanya.

"Banyak baju kotor gak, Wi? Kalau banyak, kita nyuci pakai mesin cuci saja."

Kalimat sederhana itu bagiku istimewa. Itu menunjukkan betapa ibu mertuaku tak tega kalau aku harus ngucek cucian secara manual . Kalimat itu juga menunjukkan kemurahan hati ibu mengizinkan aku memakai mesin cuci istimewanya. Mesin cuci istimewa? Iya😁😁



Mesin cuci Ibu merk Akari keluaran tahun 2003. Tipe manual, dua tabung, bukaan atas. Mesin itu dibeli dengan uang gaji PNS ke-13nya, saat beliau masih bekerja sebagai guru SD.Meski usianya sudah 18 tahun, kondisi mesin cuci Ibu kinclong, bersih, mengkilat, tanpa noda debu sedikitpun. Sungguh pandai Ibu merawat barang-barangnya.

Tentu aku tersanjung. Diajak ibu mencuci pakai mèsin cuci istimewa.

Jumat, 05 Maret 2021

Taat pada Suami, Susah atau Mudah?

 Perkara taat pada suami aku sudah  tahu dasar hukumnya dalam Islam sejak sebelum menikah, bahkan sebelum kenal si Akang.



Ada banyak  dasar hukum  yang menjelaskan kedudukan suami, baik dalam Al Quran maupun hadits. Salah satu hadits yang saat itu membuat aku melongo takjub adalah Hadits riwayat Turmudzi :1159 


“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya “

Hanya saja sujud kepada selain Allah itu dilarang, tapi dari hadits ini aku belajar betapa pentingnya  istri patuh dan taat pada suami. Kedudukan hak seorang suami  terhadap istri adalah setelah hak Allah dan Rasulnya. Bahkan hak seorang suami berada diatas hak kedua orangtua.

 Jadi kesimpulannya, taat dan patuh pada suami itu adalah tanggung jawab terpenting seorang istri. Tentu saja taat dan patuhnya dengan syarat tertentu ya. Artinya seorang istri harus taat dan patuh pada suami selama perintah suami tidak mengandung maksiat dan tidak bertentangan dengan syariat.

 Terus pelaksanaanya bagaimana?

Apakah mudah melakukan taat pada suami?

Selasa, 10 Oktober 2017

Aksi Jando Beraes


 

SENYUM LIMA JARI





Hai Moms.. Pernah nggak memperhatikan ketika anggota keluarga pulang ke rumah setelah berkegiatan di luar rumah, siapa yang pertama kali mereka cari di rumah?

Apa pentingnya memperhatikan hal ini? Tadinya sih iseng saja, tapi memperhatikan hal kecil seperti ini ternyata bisa membuat hati dibanjiri kehangatan, lho. Kok bisa ya?

Jumat, 11 Maret 2016

Menulis untuk Investasi Akhirat


Pada suatu masa, aku pernah merasa berada di titik rendah dalam hidup. Waktu itu perasaanku galau karena berhenti bekerja demi menuruti perintah suami. Egoku berontak. Pada akhirnya, aturan agama yang menempatkan suami sebagai pemimpin  yang harus  dipatuhi selama perintahnya tak bertentangan dengan ajaran Islam membuat aku harus berdamai dengan egoku.

Rabu, 23 Desember 2015

Ulukuteuk Leunca Buat Mami


“Mami ingin ulukuteuk leunca. Nanti titipkan sama Lia dan  Tian ya. Jangan lupa. “ Begitu pesan Linda adikku sebelum dia menutup  telepon di ujung sana.

Mami dan Alm. Papiku

Aku langsung tersengat panik. Waktu cuma tersisa sedikit sebelum Lia, adik bungsuku, dan suaminya, Tian, berangkat ke bandara. Lia dan Tian menghabiskan waktu beberapa hari  di Bogor untuk jalan-jalan. Mereka menginap di rumahku. Sekarang mereka berdua sedang mengemas barang-barang  bersiap pulang ke Palembang.

Minggu, 13 September 2015

Kisah Inspiratif Sahabat Lamaku, Yosi Matsu


Aku  mengobrol seru dengan Patriani, Santi, Devi Arianto dan Dedi Agustian, membongkar-bongkar kembali kenangan lama yang konyolnya kerap  membuat kami terbahak.  Mereka semua adalah teman lamaku, lebih dari dua puluhan tahun lalu kami adalah siswa SMP 19 Palembang.  Pertemuan ini tak direncanakan sebelumnya, tiba-tiba saja aku ditelpon untuk datang ke rumah Patriani, karena Dedi yang datang dari  di Palembang mampir ke rumah Patriani. Jadilah reuni dadakan ini terlaksana.

Aku, Patriani, Santi, Dedi dan Devi


“Yus mau datang ke sini. Sekarang sedang dalam perjalanan!”Seru Patriani setelah menutup pembicaraan di ponselnya.

Kontan ucapan Patri membuat kami bersemangat. Sebelum pertemuan ini, aku sudah pernah bertemu Dedi, Devi, Santi dan Patriani. Tapi dengan Yus, bisa dikatakan pertemuan terakhir dengannya berjarak lebih dua puluhan tahun lalu. Rindu sekali  aku pada teman lamaku itu.

Ingatanku terlempar ke masa lalu,ketika kami masih berseragam putih biru.  Aku sekelas dengan Patri, Devi, dan Dedi, sementara Santi dan Yus berada di kelas yang berbeda. Meski berbeda kelas, aku sering juga menyambangi teman-teman di kelas lain.

Seingatku Yus, atau lengkapnya Yusaidin Mahfi,  adalah anak laki-laki kecil keriting dengan cara bicara yang unik. Aku dulu tak mengerti mengapa kalau Yus bicara, suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Lalu bila bicara padanya, kami teman-temannya, harus menggerakkan bibir  perlahan hingga dia bisa menangkap maksud pembicaraan.

Rabu, 22 Juli 2015

Nyaris “Married by Accident” Sebuah Pelajaran tentang Tanggung Jawab


Istilah "Married by Accident" atau menikah karena kecelakaan seringkali berkonotasi negatif. Pergaulan bebas di kalangan anak muda  mengakibatkan   kehamilan  tak direncanakan kerap membuat para pelakunya memasuki gerbang  pernikahan dengan terpaksa.  Tapi bukan itu yang akan aku ceritakan di sini. Kisah ini adalah pengalaman inspiratif tentang Married by Accident dalam arti sesungguhnya. Kisah ini tentang sebuah pelajaran bertanggung jawab yang ditunjukkan oleh dua lelaki bijaksana.

Ketika itu  aku masih menjadi mahasiswi jurusan Teknik Sipil Universitas Sriwijaya. Masa indah penuh semangat merancang masa depan aku lalui bersama teman-teman satu angkatan yang sebagian besar laki-laki.

Mahasiswi termasuk makhluk langka di jurusan teknik kecuali di Teknik Kimia. Di jurusan Teknik Sipil angkatan 1991, hanya ada 17 mahasiswi di tengah  53 mahasiswa. Berada di lingkungan yang didominasi kaum lelaki justru membuat  aku dan 16 teman mahasiswi merasa nyaman. Para mahasiswa seangkatan rata-rata baik dan mau membantu kesulitan rekan mahasiswi. Bahkan kadang-kadang kami merasa dimanja. Bila  mengalami kesulitan dalam memahami mata kuliah atau pengerjaan tugas, teman-teman pria baik seangkatan maupun kakak-kakak tingkat rela membantu.

Mahasiswa Fakultas Teknik Sipil Universitas Sriwijaya angkatan 1991.

Sabtu, 16 Mei 2015

Touring dari Bogor ke Jawa Timur

Pemandangan di Penanjakan Bromo


Bromo. Nama gunung itu demikian akrab di telingaku. Meski sering membaca berita di berbagai media tentang kecantikan gunung ini, tapi kakiku belum pernah menjejak Jawa Timur, propinsi di mana gunung tersebut berada. Selain Bromo, pesona alam Jawa Timur lainnya   membuat aku dan Akang menjadikan propinsi itu sebagai tujuan touring tanggal 7-12 Mei 2015 lalu.  

Minggu, 22 Februari 2015

Ketika Kebaikan Menjadi Investasi

Pemandangan di kaki gunung Ciremai

Setiap kali ke Kuningan, aku dan suamiku si Akang, tak pernah melewatkan kesempatan mengunjungi desa Setianegara,  tempat asal kakek  dan ayah mertuaku. Di kesempatan touring ke Kuningan kali ini, kami tak punya banyak waktu  menikmati suasana desa cantik  di kaki gunung Ciremai tersebut. Setelah nyekar ke makam kakek, kami memanfaatkan waktu yang sedikit sebelum melanjutkan perjalanan ke Baturraden untuk mengunjungi Wak Eno dan istrinya, Wak Eroh.

Sabtu, 24 Januari 2015

Kata Adalah Doa


Saat itu tahun 2005. Aku dan suamiku, si Akang, menikmati pagi yang cerah sambil menatap kecantikan Pagar Alam. Pagar Alam adalah sebuah wilayah dataran tinggi  di propinsi Sumatera Selatan yang berjarak 298 km dari kota Palembang.   Cantiknya Pagar Alam berwujud  kebun teh hijau terbentang dengan latar gunung Dempo yang berselaput  kabut tipis.  Vila-vila cantik bergaya tradisional  demikian serasi dengan alam. Kecantikan yang  membuai mata. Kami diam terbius indahnya alam.

Rabu, 21 Januari 2015

Sebuah Renungan Tentang Rezeki


Salah seorang temanku, sebut saja namanya Milla,  senang sekali belanja barang-barang branded.  Kalau dengar kabar ada “sale” di sebuah mall besar di kawasan Pondok Indah, dia pasti hadir duluan. Tas dan sepatunya banyak, demikian juga baju-bajunya. Tapi baju, tas dan sepatu mahalnya hanya dipakai sekali-sekali saja kalau ada undangan pesta atau kumpul-kumpul dengan teman. Sehari-hari sebagai ibu rumah tangga yang tugasnya antar jemput anak sekolah dan les, dia pakai baju seadanya, yang itu-itu saja.

Sabtu, 10 Januari 2015

Waktu Bukan Milik Kita


 Melihat foto-foto yang diposting salah seorang sahabat yang sedang menjalankan ibadah haji dan umroh, hatiku diliputi rindu untuk kembali ke tanah suci. Tiba-tiba terlintas ingatan akan seorang sahabat masa kecil. Kenangan tentangnya  membuatku hatiku sesak oleh kesedihan.   

Sebut saja namanya Devika (  bukan nama asli). Pertama kali saling kenal, saat  masih pakai seragam putih merah. Aku anak baru, pindahan dari Bandar Lampung. Bagiku Palembang masih asing. Asing adatnya, asing bahasanya.  Aku perlu menyesuaikan diri beberapa waktu untuk bisa melebur dalam pergaulan di lingkunganku.

Senin, 29 Desember 2014

Arisan dan 10 Manfaatnya


Tak bisa dipungkiri, manusia sebagai makhluk sosial gemar bergaul. Bagi wanita, atau khususnya ibu-ibu, bentuk pergaulan itu seringkali diwujudkan dalam acara arisan.

Kata Arisan adalah istilah yang berlaku di Indonesia. Dalam kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa arisan adalah pengumpulan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang, lalu diundi diantara mereka. Undian tersebut dilaksanakan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya.

Bagaimana arisan dalam pandangan Islam? Apakah haram atau diperbolehkan?

Senin, 22 Desember 2014

Ibu Mertua dan Matematika Allah

“Waktu kecil, si Tedja itu paling  banyak maunya.  Berbeda dengan anak Ibu yang lain. “ Suara ibu mertuaku sedikit serak. Dia berdeham sebentar lalu melanjutkan bicaranya.

 “Kalau makan maunya yang enak-enak. Paling suka protes dengan menu yang biasa Ibu masak. Maunya dibuatkan masakan “bule”. Sandwich, atau apalah itu namanya. Ya mana bisalah. Ibu kan dulu harus cermat mengatur keuangan. Kalau menuruti semua keinginannya, bisa jeblok pengeluaran.” Tubuh Ibu terangguk-angguk seirama kursi goyang jati kesayangannya. Kursi itu dari Jepara, hadiah dari suamiku, Sutedja Eddy Saputra, yang dipanggil Ibu dengan sebutan kesayangan “ si Tedja”.

Duduk  dan mengobrol berdua Ibu di ruang tengah rumahnya seringkali aku lakukan kala mudik ke Palembang. Ibu paling senang menceritakan kisah-kisah masa lalunya. Masa kecil Akang, begitulah aku memanggil suamiku, adalah yang paling banyak diceritakannya.

“Dulu waktu dia masih di taman kanak-kanak, hampir setiap hari Ibu buatkan terigu goreng untuk bekal sekolahnya. Pilihan rasanya hanya dua, pake gula pasir atau pakai garam.” Ibu terkekeh, mengenang terigu goreng buatannya dengan dua rasa, versi manis dan versi gurih.


Kamis, 18 Desember 2014

Menggali Manfaat Silaturahmi


Bergaul itu asyik. Sudah kodratnya manusia sebagai makhluk sosial selalu ingin menjalin silaturahmi. Secara umum silaturahmi atau silaturahim berarti  menyambungkan kasih-sayang atau kekerabatan yang menghendaki kebaikan. Secara istilah makna silaturahmi, antara lain dapat dipahami dari apa yang dikemukakan Al-maraghi menyebutkan, “Yaitu menyambungkan kebaikan dan menolak sesuatu yang merugikan dengan sekemampuan”. 
Aku pernah membaca sebuah artikel yang menyebutkan ada banyak “ mutiara” tersembunyi dibalik anjuran silaturahmi. 

Sabtu, 06 Desember 2014

8 Tips Merawat Pasangan yang Sakit


Menjalani kehidupan pernikahan ibarat merajut kisah cinta dari hari ke hari sepanjang hidup bersama. Ketika ijab kabul diucapkan, saat itu dimulailah sebuah komitmen yang digenggam dua mempelai  untuk menjalani kehidupan berdua,  tetap bersama dalam suka maupun duka.