Rabu, 05 Desember 2018

MENYELESAIKAN EMOSI DALAM HITUNGAN DETIK DENGAN TEKNIK DISSOSIASI



Banyak orangtua yang bertanya, bagaimana sih caranya menahan amarah ketika berhadapan dengan perilaku anak yang tak sesuai harapan?

Banyak orangtua sudah paham bahwa melepaskan amarah yang meledak-ledak tak baik akibatnya bagi anak.  Selain bisa merusak fitrah kasih sayang anak, perilaku marah-marah berpotensi merusak hubungan kedekatan dengan anak.  Yang lebih parah lagi, bisa menimbulkan trauma pada anak.

Sadarkah orangtua, bila mereka kerap melakukan tindakan keras, berkata dengan intonasi tinggi, berteriak, memaki, mencela dan sebagainya,  kemungkinan besar kelak anak akan berperilaku sama persis seperti orangtuanya ketika mereka marah. Ingat, orangtua itu teladan bagi anak-anaknya. Anak  bisa salah mendengar, tapi tidak akan salah meniru.

Hanya saja ketika orangtua dihadapkan pada kondisi yang membuat emosi terpicu, lagi-lagi mereka terjebak dalam pola perilaku itu-itu saja. Marah-marah, lalu menyesal. Tapi besok marah-marah lagi, kemudian menyesal lagi.  Adakah orangtua yang kalau marah-marah sampai memukul atau melakukan kekerasan fisik pada anak? Kasihan anak, sang tamu istimewa titipan Tuhan, harus menjadi korban ketidakmampuan orangtua mengelola emosinya.

Dalam Enlightening Parenting dan Transforming Behavior Skill-nya Mbak Okina Fitriani, amarah itu bukan ditahan, tapi diselesaikan.  Apa bedanya menahan dengan menyelesaikan?

Menahan amarah  itu  diibaratkan menahan pintu yang didorong kuat dari arah luar. Pintunya bisa saja  tertahan tidak sampai terbuka, tapi capek kan ya? Harus terus menahan pintu itu agar tidak terkuak. Lalu kalau sudah tidak kuat menahan, pintunya bisa jebol karena desakan dari luar.

Berbeda halnya kalau amarah  diselesaikan. Emosi marah bila diibaratkan ban mobil  yang menggelembung mau meledak, lalu dicoblos pakai paku. Blessss....kempes. Tak jadi meledak, sekaligus lega.  Logika pun naik, bisa berpikir langkah apa yang tepat untuk mengatasi keadaan. 

Nah..enak mana, menahan marah atau menyelesaikannya?

Salah satu teknik dasar untuk menyelesaikan emosi  berdasarkan Neuro Linguistic Programming yang aku dapat dari training Enlightening Parenting dan Transforming Behavior Skill adalah assosiasi- dissosiasi. Teknik ini  merupakan skill yang sangat penting dilatih, dipakai dan dibiasakan untuk modal menyelesaikan emosi. Bukan cuma untuk mengatasi marah saja, tapi bisa juga untuk mengatasi berbagai emosi lainnya seperti kecewa, sedih, kesal, khawatir, malas dan lain-lain.

Assosiasi-Dissosiasi ini adalah skill yang mendasar, skill yang perlu dimiliki karena  merupakan prasyarat melakukan berbagai teknik menyelesaikan emosi  lainnya seperti reframing, anchor, perceptual position, self coaching dan lain-lain.

Kalau rajin dilatih, orang yang menguasai teknik dissosiasi bisa menyelesaikan emosi dalam hitungan detik. 

Senin, 12 November 2018

Keluarga Kusmajadi Jalan-jalan di Palembang


Masih ingat sahabatku, Mbak Melati M Putri dan suaminya Mas Dodi Kusmajadi yang keliling Indonesia sekeluarga  naik motorhome selama 1 tahun?

Nah, perjalanan mereka edisi Pulau Sumatera telah tiba di Palembang, Kamis 8 November 2018.

Saat akan menuju ke rumah Wati, adiknya si Akang   di Kompleks Pusri Sukamaju Kenten, motorhome yang tingginya 3.1 meter tersangkut kabel yang melendot, sehingga solar cell yang terletak di atas motorhome mengalami gangguan. Saat itu menjelang malam dan hujan turun. Untung ada suami Wati, Mas Yono, dan Rifki keponakanku yang membantu. Malam itu motorhome parkir di lapangan di depan rumah, dan keesokan harinya diperbaiki.

Senin, 22 Oktober 2018

MENUJU GENERASI GEMILANG BERSAMA KOMUNITAS ENLIGHTENING PARENTING






Okina Fitriani, seorang Psikolog dan Master di bidang human resources yang mendalami bidang psikologi: Neuro-Linguistic Programming dan Brain Development adalah founder Enlightening Parenting.

Enlightening Parenting adalah konsep, prinsip dan metode pengasuhan yang disarikan dari Al-Qur’an, Hadist, Sirah, dan Psikologi Perkembangan berbasis riset maupun penanganan kasus-kasus dengan dibantu teknik-teknik Neuro Linguistic Programming (NLP) sebagai sarana pendukung.

Enlightening Parenting tidak hanya sesuai bagi keluarga muslim tetapi juga bagi keluarga dari berbagai latar belakang agama karena nilai-nilai yang dijadikan dasar merupakan kebenaran universal. Terbukti pula bahwa peserta training tidak hanya keluarga muslim, bahkan juga pasangan- pasangan dari berbagai bangsa seperti Arab, Amerika latin, Filipina, India dan lain-lain.

Kamis, 04 Oktober 2018

MENGHILANGKAN ALERGI MENJAHIT DENGAN SELF TALK


Ilmu yang didapat dari training, kalau tak dipakai sehari-hari, bisa terlupakan, bahkan hilang tanpa kesan.  Kalau sayang ilmu, sayang dengan waktu yang sudah terpakai untuk training, sayang dengan uang yang sudah dibayar untuk biaya training, maka sering-seringlah mengamalkan ilmunya.  Mengamalkan ilmu membuat hidup lebih baik, lebih nyaman.  Ilmunya pun  nancep dalam diri kita, tidak hilang percuma.

Ilmu apa sih yang didapat dari training, yang sehari-hari dipakai oleh Emak-emak dasteran macam aku? Hehe..Salah satunya  keterampilan berdialog dengan self talk dengan menggunakan kalimat kalimat berbentuk milton model dan meta model. Hal ini aku peroleh dari training Transforming Behavior Skill-nya Mbak Okina Fitriani.

Senin, 10 September 2018

MENYIKAPI ANAK YANG TIDAK KONSISTEN BANGUN PAGI



Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting
Nara Sumber : Okina Fitriani

Tanya : 

Saya kesulitan membangunkan anak pagi-pagi. Sempat beberapa kali berhasil dibangunkan dengan kesepakatan menggunakan alarm. Mereka sempat excited ketika pertama kali melakukannya. Sekitar 7  kali berhasil, lalu mulai agak susah.

Selasa, 04 September 2018

Ragu Ingin Keliling Indonesia Sekeluarga? Gunakan 14 Jurus Silat Lidah



Keluarga Kusmajadi

Bahagianya punya sahabat yang unik banget.. tiada duanya💕💕💕. Kami sama-sama penggerak Enlightening Parenting, sama-sama belajar dari CikGu Okina Fitriani. Sengaja aku ingin memperkenalkan sahabatku, karena aku dan teman-teman semua bisa belajar sangat banyaaak dari dia.

Namanya Melati M Puteri. Sebenarnya sebelum kami dekat, aku sudah beberapa kali bertemu dia di Kuala Lumpur. Pernah juga bertemu saat Mbak Mel ikut jadi peserta  training Transforming Behavior Skill untuk alumni Enlightening Parenting. Kesan pertama melihat dia biasa saja, kalem, sepertinya orangnya pendiam. Barulah waktu kami sama-sama jadi fasilitator training di Jogja, aku dan Mbak Mel punya kesempatan banyak buat ngobrol.

Kami sekamar di hotel tempat penyelenggaraan training saat itu. Naah.. barulah ketahuan aslinya. Ternyata orangnya asyik banget. Dan jelas  nggak pendiam karena kami bisa ngobrol berjam-jam sampai mata tak sanggup melek lagi. Obrolannya bergizi,  menambah ilmu, menambah wawasan, menambah kebijaksanaan.

Jumat, 27 Juli 2018

CARA MEMBERDAYAKAN DIRI DENGAN SELF TALK


Saat pertama kali diperkenalkan tentang Neuro Lingusitic Programming (NLP) oleh CikGu Okina Fitriani, beliau menjelaskan tentang NLP Presupositions.  Buat Emak-emak dasteran yang pikirannya simple, aku cukup pusing dengan belasan macam NLP Presuposition itu. Kalimat-kalimatnya singkat, tapi punya makna yang dalam. Untuk mudahnya, aku menganggap bahwa NLP Presuppositions itu adalah prinsip berpikir, sikap dalam memandang dunia dan prinsip berperilaku dalam ilmu NLP.

Salah satu NLP Presupposition yang kemudian dalam perjalanan hidupku terbukti bermanfaat adalah  yang satu ini :


Senin, 02 Juli 2018

Honeymoon Ala Biker dan Boncenger di Kampung Sampireun Garut


Kampung Sampireun Garut

Dua puluh tahun jadi pasangan suami istri,  Aku dan si Akang Sutedja tentu inginnya rumah tangga kami langgeng, sakinah mawaddah warrahmah sampai kehidupan abadi di surgaNya, Aamiin..

Malam menjelang  28 Juni 2018, aku dan Akang nyantai tidur-tiduran di kamar. Kami mengenang lagi setiap mile stone perjalanan pernikahan kami. Alhamdulillah..Banyak sekali nikmat kebahagiaan yang kami rasakan.

Selalu bahagiakah? Ya ada juga bumbu lainnya dong. Kami, eh tepatnya aku, pernah baper-baper nggak jelas saat menanti Allah menitipkan amanah tamu istimewaNya. Lalu anak-anak lahir, seiring dengan karier si Akang dan rezeki  yang terus meningkat .

Selasa, 05 Juni 2018

Kisah Dumdum dan Rasamaha


Keberadaan kucing-kucing liar yang berkeliaran di lingkungan cluster tempat tinggal kami rupanya menyentuh hati anak-anakku, Anin dan Dea. Seingatku, sejak kami pindah ke Bogor tahun 2009, Anin dan Dea sering membelikan makanan kucing untuk diberikan pada kucing-kucing liar yang  menghampiri teras taman samping rumah kami.

Silih berganti kucing-kucing liar datang. Satu persatu mereka diberi nama oleh Anin, Dea dan Rafif. Dulu ada yang namanya si Cross, Mopi, Culun, Belang, Koneng dan lain-lain. Satu persatu mereka menghilang. Ada yang mati kecemplung kolam ikan di taman cluster, ada yang mati di trotoar jalan  karena sudah tua, ada juga yang menghilang tak pernah muncul lagi. Kemungkinan kucing-kucing itu ditangkap, ditertibkan dan dibuang  oleh satpam cluster.

Rabu, 18 April 2018

Cara Jitu Mengugurkan Keyakinan yang Tidak Memberdayakan dengan Meta Model


Kalau kita punya keyakinan yang tidak memberdayakan terhadap diri sendiri, terhadap anak, suami atau orang lain, jangan di pelihara ya.. Mending pelihara kucing atau ayam  J

Keyakinan-keyakinan yang tidak memberdayakan sering disebut limiting beliefs atau mental block. Keyakinan ini jika disematkan kepada diri sendiri akan menghambat kita bertumbuh menjadi lebih baik.  Jika disematkan pada orang lain menjadi label negatif yang selain tidak baik bagi orang tersebut, juga mengganggu emosi kita sendiri saat menghadapi orang tersebut.


Contohnya apa sih limiting belief itu? Kalau ada yang bilang begini,

“Aku itu pemalas.”

“Anakku  yang bungsu itu lemot.”

“Suamiku nggak pernah mendengarkan aku.”

“Aku nggak bisa bicara di depan orang banyak.”

Limiting belief atau label buruk yang kita sematkan pada diri sendiri maupun orang lain membuat kita  tidak punya respon yang luas, sehingga merugikan diri  atau orang-orang terdekat yang kita beri label itu. Kok bisa merugikan?