30 Agustus 2015

The Secret of Enlightening Parenting

Tunggu kehadiran bukuku bersama teman-teman dan Mbak Okina Fitriani beredar di toko buku Gramedia September 2015 ya..

Apa pendapat 7 tokoh dari berbagai bidang tentang buku ini? Saksikan teasernya..

20 Agustus 2015

Jalan-jalan di Kota Tua Inns'bruck Austria



 Inns’bruck adalah ibu kota  negara federal Tyrol, Austria.  Nama Inns’bruck berarti jembatan di atas sungai. Dunia mengenal Inns’bruck sebagai kota tempat diselenggarakan olimpiade musim dingin tahun 1964, 1976 dan 2012. 


Musim semi tahun 2011 aku dan sahabatku, Mariska, berkesempatan mengunjungi kota ini. Sayang aku tak bisa melihat  bagaimana ekspresi wajahku sendiri saat menyaksikan lanskap Inns’bruck. Sepertinya aku terpelongok dengan mulut menganga. Masya Allah, indah sekali!

18 Agustus 2015

Menikmati Keindahan Buochs Switzerland


Aku tak akan melupakan Buochs, sebuah wilayah seluas 9.9 Km2 yang terletak di antara Beckenried dan Stans, Switzerland. Aku singgah di tempat ini saat musim semi, bulan April tahun 2011. Meski hanya dua hari satu malam menginap di  tempat ini, tapi keindahannya sangat berkesan. Bagaimana tidak, udaranya bersih, suhu dingin sejuk, suasana tenang, pemandangan indah oleh tanaman hijau, pegunungan dan danau. Atmosfir tempat ini  khas pemandangan negri empat musim.

Ketika pagi menjelang di tepi danau Lucerne



12 Agustus 2015

Jalan-jalan ke Schaffhausen Rhein Falls Switzerland

Musim semi bulan April  2011, Eropa tengah memancarkan kecantikan terindahnya.   Aku dan sahabatku, Mariska, tak menyia-nyiakan kesempatan menikmati pemandangan di Schaffhausen Rhine Falls.

Cantiknya aliran air deras yang berbuih putih di Sungai Rhein
Schaffhausen Rhine Fall adalah air terjun yang terdapat di sungai Rhein. Dengan lebar 150 meter, tinggi 23 meter dan kedalaman 13 meter, air terjun ini merupakan yang terbesar di Eropa dan diperkirakan berusia 15.000 tahun.

08 Agustus 2015

Little Saigon, Sekelumit Vietnam di Negeri Paman Sam


Tahun 2013 lalu aku bersama teman-teman SMA jalan-jalan ke Saigon atau Ho Chi Minh City, Vietnam.  Tak kukira di tahun 2014 aku bisa kembali menikmati suasana Vietnam. Mendengar orang-orang bermata sipit dan bertubuh mungil bicara dalam bahasa Vietnam, melihat wanita tua bertopi caping (la non) yang berbentuk kerucut, pria-pria tua duduk bermain kartu tradisional Tien Len,  menelusuri toko-toko  yang dipenuhi rambutan, nangka, jambu air, pisang, manggis dan buah-buahan tropis lainnya seperti di pasar malam Ben Tanh.  Suasana tempat ini persis seperti  kenanganku akan Vietnam, tapi nyatanya aku tak berada di Vietnam!

Pertokoan di Bolsa Avenue Westminster

Little Saigon, begitulah orang menyebut area seluas 4 mil persegi  yang berada di jantung  Orange County, California, USA.  Di tempat ini berdiam 282.000 orang yang merupakan   populasi orang Vietnam terbesar di dunia, di luar Vietnam.

Asian Garden Mall

07 Agustus 2015

Nikmatnya Shalat di Masjid Al Rahman Orange County, California



Berkesempatan mengunjungi Orange County, sebuah wilayah di California Amerika Serikat tahun 2014 lalu, aku tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati shalat di masjid  Al Rahman yang terletak di kawasan Islamic Society of Orange County, tepatnya di  1 Al-Rahman Plaza, Garden Grove, CA 92844, United States.


Islamic Society of Orange County (ISOC) berdiri tahun 1976, dan saat ini merupakan pusat komunitas muslim terbesar di kawasan California Selatan dan juga merupakan salah satu  yang terbesar di USA. Menepati kawasan seluas 5.2 Hektar, ISOC dilengkapi dengan fasilitas masjid yang disebut Masjid Al Rahman.

28 Juli 2015

Wisata Kuliner di Resto Pempek Wawa


Palembang dan pempek. Dua kata itu sudah demikian akrab, seolah saling memberi makna meneguhkan eksistensi sebuah kota dengan ciri khas kuliner lezat  yang tak terpisahkan.

Aku tinggal di Palembang sejak 1985 hingga 2009. Dalam rentang waktu 24 tahun  hingga sekarang tak pernah  bosan aku  menikmati pempek, seperti juga warga Palembang yang sangat menggemari makanan ini.

Seingatku, meski resto dan warung pempek “bertaburan” banyaknya di kota Palembang, jarang ada yang bangkrut. Masing-masing sudah memiliki penggemar dan pangsa pasar tersendiri.  Bahkan akhir-akhir ini makin banyak resto pempek  bermunculan.

Aku dan suamiku, si Akang, gemar mencicipi pempek dari berbagai merk yang ada di Palembang. Kami sering membandingkan rasa dan kualitas pempek dengan cara safari kuliner dari resto ke resto, dari warung ke warung. Meskipun dibuat dari bahan yang sama, komposisi dan racikan tiap merk pempek tentu menghasilkan cita rasa dan kualitas berbeda.

Dari hasil membanding-bandingkan rasa berbagai merk pempek, kami membuat klasifikasi sendiri. Ada pempek  premium, pempek super, pempek standar dan pempek dibawah standar.

Pempek premium harganya mahal, di atas rata-rata harga pempek di Palembang, tapi kualitasnya memang juara. Pempek ini tampaknya dibuat dengan komposisi daging ikan yang banyak, dengan campuran sagu yang  jumlahnya sedikit. Pempek jenis ini penggemarnya terbatas pada konsumen yang mengutamakan kualitas, dan tak bermasalah dengan harga.

Pempek super lebih ideal karena harga lebih bersahabat sementara rasanya enak . Jenis pempek inilah yang paling kugemari. Hehe..

Kemudian  pempek kualitas standar. Standard yang kumaksud di sini adalah standar cita rasa Palembang ya. Jadi meski kualitasnya standar, rasa masih lebih enak daripada pempek yang dijual di luar Palembang. Meski rasanya dibawah kualitas super, masalah harga kadangkala sama dengan yang super.
 
Yang terakhir adalah pempek yang dibawah standar.  Pempek ini menurut kami cita rasanya kalah dalam percaturan dunia pempek Palembang. Bisa karena berbau amis,  terlalu kenyal, atau tak terasa gurih ikan akibat terlalu banyak kandungan sagu dibandingkan daging ikannya. Harganya pun murah. Bahkan ada yang sangat murah.

Berbagai varian Pempek Wawa

27 Juli 2015

Kuliner Soto Babat dan Teh Susu Depan Pasar Cinde Palembang


Delapan tahun lalu saat masih tinggal di Palembang, tepatnya tahun 2007, aku dan  si Akang, pernah diajak   tetangga kami, Pak Yusfik dan istrinya, menikmati kuliner soto babat di sebuah warung makan sederhana. 

Mulanya aku heran mengapa  mereka menganggap tempat makan sederhana itu sebagai sesuatu yang istimewa  hingga  mengajak kami ke sana. Warung itu menempati sebuah ruko di jalan Jendral Sudirman, berseberangan dengan pasar Cinde.  Suasana bergaya seadanya,cenderung suram dan “jadul”, bahkan tidak ada papan namanya.

Meja-meja kayu dengan kursi plastik berbeda-beda warna. Ada yang putih dekil, merah pudar dan hijau lusuh seakan membawaku pada suasana warung makan masa lalu.

“Kami ingin mengajak kalian bernostalgia. Dulu kami sering makan di sini. Sotonya enak. Dan rasanya tetap tak berubah seiring waktu. “ Ujar Pak Yusfik disambut senyum manis istrinya. Pasangan setengah baya itu ramah dan baik hati.

Kami memesan soto  babat campur daging dan nasi putih.

“Saya pesankan minuman istimewa ya. Es teh susu di sini  enak lho. “ Pak Yusfik berkata setengah promosi.

Aku dan Akang  mengangguk.


25 Juli 2015

Martabak HAR, Kuliner Khas Palembang

Mudik ke Palembang tak pernah kulewati tanpa wisata kuliner menikmati makanan khasnya. Kuliner  Palembang  sangat banyak jenisnya, bukan hanya pempek, lenggang, model, tekwan, celimpungan, mie celor, burgo, laksan, pindang dan jenis makanan dengan bahan dasar ikan, tapi ada juga martabak telur yang sangat tersohor di kota ini. Namanya martabak HAR.


HAR adalah singkatan dari Haji Abdul Rozak, seorang saudagar keturunan India yang menikah dengan wanita Palembang. Haji Abdul Rozak adalah  sang pencipta kuliner unik ini.

22 Juli 2015

Nyaris “Married by Accident” Sebuah Pelajaran tentang Tanggung Jawab


Istilah "Married by Accident" atau menikah karena kecelakaan seringkali berkonotasi negatif. Pergaulan bebas di kalangan anak muda  mengakibatkan   kehamilan  tak direncanakan kerap membuat para pelakunya memasuki gerbang  pernikahan dengan terpaksa.  Tapi bukan itu yang akan aku ceritakan di sini. Kisah ini adalah pengalaman inspiratif tentang Married by Accident dalam arti sesungguhnya. Kisah ini tentang sebuah pelajaran bertanggung jawab yang ditunjukkan oleh dua lelaki bijaksana.

Ketika itu  aku masih menjadi mahasiswi jurusan Teknik Sipil Universitas Sriwijaya. Masa indah penuh semangat merancang masa depan aku lalui bersama teman-teman satu angkatan yang sebagian besar laki-laki.

Mahasiswi termasuk makhluk langka di jurusan teknik kecuali di Teknik Kimia. Di jurusan Teknik Sipil angkatan 1991, hanya ada 17 mahasiswi di tengah  53 mahasiswa. Berada di lingkungan yang didominasi kaum lelaki justru membuat  aku dan 16 teman mahasiswi merasa nyaman. Para mahasiswa seangkatan rata-rata baik dan mau membantu kesulitan rekan mahasiswi. Bahkan kadang-kadang kami merasa dimanja. Bila  mengalami kesulitan dalam memahami mata kuliah atau pengerjaan tugas, teman-teman pria baik seangkatan maupun kakak-kakak tingkat rela membantu.

Mahasiswa Fakultas Teknik Sipil Universitas Sriwijaya angkatan 1991.