Kamis, 19 Oktober 2017

ANCHOR CINTA



Dalam berinteraksi dengan orang-orang, terutama orang terdekat dan tercinta, misalnya suami dan anak-anak, ada kalanya timbul emosi tertentu yang kurang memberdayakan. Ya wajarlah, kita sendiri dan mereka adalah  manusia biasa. Anak-anak  dan suami tentu tidak bisa  24 jam bersikap manis dan menyenangkan. Sementara kondisi emosi diri kita juga tidak selamanya stabil, bisa saja di saat-saat tertentu misalnya  mengalami pre –menstruasi, sehingga  menjadi lebih sensitif.

Bila dalam berinteraksi kemudian timbul “percikan-percikan” yang menimbulkan emosi negatif , apakah yang  bisa dilakukan untuk mengatasi keadaan itu?

Mau marah-marah? Berkata dengan nada tinggi, mata melotot, atau mengucapkan kalimat dengan nada rendah tapi isi kalimatnya “pedas”? Ngomel dan menumpahkan semua uneg-uneg biar hati kita puas? Itu pilihan, Kawan.

Tapi selama ada pilihan yang lebih baik, mengapa tak kita pilih jalan yang lebih baik itu? Bukankah orang yang paling baik adalah yang berlaku paling baik pada keluarganya?
Seperti yang diriwayatkan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku” [HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no: 285].

Jadi kalau kesal, kecewa, marah, gondok, sebal atau apalah itu pada suami dan anak-anak,  harus bagaimana?

 Kuncinya adalah SELESAIKAN EMOSI, begitulah jurus canggih yang diajarkan guru, trainer, dan sahabat tersayangku, Mbak Okina Fitriani.   

Banyak jalannya. Aku sudah pernah menulis beberapa cara menyelesaikan emosi, misalnya dengan reframing, melakukan editting sub modality dan lain-lain baik di buku maupun di website pribadi. Tapi kali ini aku mau share salah satu cara merubah emosi negatif yang tak menyenangkan itu menjadi rasa cinta yang meluber-luber.

Nah, pada suami dan anak-anak, tentu kita sudah pernah merasakan perasaan sayaaaang banget, atau jatuh cintaaa banget pada mereka, kan?  Kita bisa dengan sengaja memanggil ulang kondisi emosi perasaan cinta termehek-mehek itu, sehingga kesal, marah, sebal, dan emosi negatif yang kita rasakan menjadi so small, berubah jadi kecil tak berarti,  sampai sama sekali tak mengganggu lagi.

Nama keren tekniknya adalah ANCHOR. Tak perlu pusing dengan istilah ya. Jadi Anchor itu sebenarnya adalah pemicu untuk menghadirkan kondisi emosi yang kita inginkan untuk mengatasi kondisi emosi tak memberdayakan. Bagaimana caranya bisa mengatasi emosi yang tak memberdayakan? Nah, saat merekam anchor, yang perlu kita lakukan adalah memperkuat berkali-kali lipat sensasi rasa (dalam hal ini rasa cinta dan sayang)  sehingga sangat kuat, demikian kuatnya sehingga emosi  yang tak memberdayakan akan kalah, lemah tak berdaya melawan kondisi cinta itu. Hehehe… begitulah kira-kira.

Salah satu cara membuat anchor adalah circle of excellence. Aku nggak akan menerangkan cara ini, soalnya sudah pernah ditulis di bukuku,  A Parent’s Diary- Anakku Tamu Istimewa, tepatnya di tulisan yang berjudul “Kantuk dan Malas pun Mendadak Hilang” dengan Mbak Eti Mutia sebagai kontributor.  Beli ya bukunya.. Sudah sold out sih, tapi sekarang sedang proses cetak ulang. J

Aku cuma mau sharing cara lain membuat anchor. Baik suami dan anak-anak  itu kan sudah menorehkan banyak keindahan dalam hidup kita. Keindahan, kebahagiaan, dan semua rasa cinta yang ditimbulkan mereka itu  banyak yang didokumentasikan dalam foto.  Maka aku membuat sebuah video dari foto-foto mereka, dengan lagu yang aku pilih dengan cermat untuk bisa menimbulkan efek pada diriku menjadi termehek-mehek jatuh cinta lagi.

Setelah jadi videonya, aku saksikan sendiri. Tapi nontonnya bukan sekedar nonton ya. Aku melakukan apa yang disebut assosiasi ketika memutar video itu. Assosiasi artinya merasa mengalami kembali, menyelami dengan sungguh-sungguh kejadian-kejadian, rangkaian peristiwa indah dan menyenangkan, momen yang menimbulkan rasa syukur, rasa terharu, rasa beruntung memiliki suami dan anak-anakku, dalam setiap detail gambar di video itu. Aku larutkan, bahkan  benamkan diriku dalam setiap  nada   yang diiringi visualisasi wajah-wajah orang-orang tercinta itu. Lalu aku rekam video itu dalam benakku, lengkap dengan melodi,  gambar dan segala detail visualisasinya dengan niat, “ Tiap kali aku mendengar lagu ini, atau memutar lagu ini dalam kepalaku, maka rasa sayang dan cinta  yang kuat ini akan hadir.”

Setiap detik video itu bertambah, aku kuatkan rasa cinta makin kuat dan makin dalam sambil bercakap-cakap pada diri sendiri dengan self talk yang memberdayakan. Misalnya “Aku sudah diberi karunia begitu besar, begitu indah. Maka aku akan menjaga ucapanku, tutur kata, perlakuanku, dan memberikan segala upaya yang terbaik yang bisa aku lakukan untuk suami, dan anak-anakku. “

Dulu, ketika didera rasa kesal atau marah, aku masih butuh masuk kamar, buka laptop lalu nonton video itu sendiri. Yang terjadi kemudian adalah merasakan emosi negatif luruh berganti dengan rasa sayang dan cinta yang menggebu. Jadi ketika keluar kamar, aku sudah bisa memamerkan senyum sayang dan pelukan penuh cinta kembali pada anak-anak, atau suami.

Tapi sekarang, tak perlu lagi masuk kamar dan nonton video itu. Aku sudah bisa memutar video  itu dalam benakku kapan pun aku butuhkan, menikmati visualisasi dan melodi lagu  yang sudah terekam di kepalaku,  otomatis meluruhkan emosi negatif.

Bagaimana cara bekerja  anchor  sehingga bisa mengatasi emosi negatif? Ketika  merekam anchor, kita dengan sengaja (atau bisa juga tanpa sengaja) merekatkan atau menempelkan kondisi emosi tertentu  yang kita inginkan (dalam hal ini kondisi mencintai)  ke dalam melodi lagu dan visualisasi gambar.  Sehingga ketika lagu itu diperdengarkan, atau ketika video itu diputar, bahkan ketika di putar di dalam benak sekalipun, kondisi emosi mencintai  yang kuat itu akan hadir menggantikan kondisi emosi negatif.

Apakah harus  begitu cara membuat anchor? Tentu saja tidak. Anchor tidak harus berupa video, atau lagu.

Salah satu guruku,  Mas Teddi Prasetya Yuliawan, menulis di bukunya “ The Art of Enjoying Life :
“Secara teknis, anchor dapat dikatakan sebagai representasi internal atau eksternal yang memicu representasi yang lain. Maka stimulus dalam anchor tidaklah harus sesuatu yang sifatnya eksternal (misalnya musik, sentuhan), melainkan juga ingatan kita sendiri yang kemudian memicu ingatan yang lain.”

 Lebih fleksibel bila kita membuat anchor yang mudah di akses kapan pun kita mau.  Bisa direkam dalam gerakan, atau di salah satu titik pada tubuh kita yang nantinya berfungsi sebagai tombol anchor.

Kalau memilih anchor berupa lagu atau video, memang agak repot juga ketika kita ingin mengaktifkan anchor harus cari handphone dulu, atau laptop, atau MP3 player.  Maka jalan keluarnya, ya kita rekam saja video atau lagu itu di kepala, jadi kapanpun butuh, tinggal dimainkan dalam benak.

 Jadi ketika suami tampak menyebalkan, bikin emosi naik, ingin ngomel, luangkan saja  waktu beberapa menit  untuk menikmati musik dan video yang diputar di kepala.  Benamkan diri dengan sungguh-sungguh dalam setiap kejadian manis yang pernah dilewati, sehingga mata berkaca-kaca dan  diri sendiri berkata,” Sebelmu  itu kecil… tak sebanding dengan kebaikan-kebaikan dia yang banyak itu, cinta, pengorbanannya dalam membahagiakanmu, dan peristiwa-peristiwa indah penuh berkah yang sudah dilalui bersama. Lalu apa yang membuat dia tak layak mendapatkan perlakuan termanismu?”

 Setelah itu nikmatilah rasa cinta yang membuncah-buncah . Pandanglah wajah suami lekat-lekat. Rasakan.  Ada  hangat di dalam dada, kan? Dalam kondisi seperti itu, mana bisa marah-marah. Yang ada malah ingin peluk-peluk suami, nempel teruuuus...💖💕💕💕

video

Tak yakin bisa mengatasi emosi dengan anchor? Aku tantang Anda untuk mencoba!




Selasa, 10 Oktober 2017

Aksi Jando Beraes


Kenanganku akan masa lalu saat masih remaja dengan empat orang adik perempuan tak lepas dari kenangan tentang  almarhum Papi dan si Jando Beraes.

Siapakah Jando Beraes itu? Tak lain itulah julukan yang kami berikan pada sebuah mobil sedan tua bobrok keluaran tahun 1970 . Mobil itu milik Papiku.  Jando beraes dalam bahasa Palembang artinya janda berdandan. Mobil tua ini diibaratkan  seorang janda tua yang berusaha keras berdandan, namun seberapa keras usaha untuk melawan usia tetap saja harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah digerogoti penyakit tua. Sering mogok mesinnya, pintu kadang-kadang sulit dibuka, engkol untuk membuka kaca jendela macet, karat yang mulai menghiasi bagian body di sana-sini,dan lain-lain.

 Papi hanya tersenyum kalau kutanya kenapa tidak beli mobil yang lebih bagus. Pertanyaan retoris yang tak perlu dijawab. Tentu saja, karena aku sendiri sudah mengerti bahwa inilah mobil yang mampu dibeli Papiku, seorang pegawai negri jujur yang memegang teguh prinsip idealismenya,  dengan beban satu orang istri  dan 5 orang anak perempuan yang semuanya sekolah.

Hubungan  kami dengan si Jando Beraes ini pasang surut, sering kuibaratkan “ benci tapi terpaksa rindu”.  Yah... terpaksa rindu, karena inilah satu-satunya kendaraan yang kami miliki saat itu.

Waktu itu selepas shalat subuh kami sekeluarga berangkat dari Palembang menuju rumah nenek di Lampung. Jalanan masih sepi. Papi yang duduk dibelakang kemudi serius menekuri jalan lintas Sumatera. Mami duduk di depan, sementara aku dan keempat adikku berdesakan  di bangku belakang. Hebat sekali, 5 orang anak perempuan bisa muat di bangku belakang sedan tua itu. Tak anehlah, karena kami dulu bertubuh kecil kurus.

Hari beranjak siang, aku dan adik-adikku terangguk-angguk di bangku belakang. Mata kami terpejam dibuai kantuk. Sesekali tubuh kami condong ke kiri atau ke kanan seirama tikungan yang dilewati.

Tiba-tiba aku terbangun. Jando beraes tak bergerak.

“ Waduh, mogok.” Ujar Papi sambil beranjak turun dari mobil lalu membuka kap mesin.

Aku ikut turun. Kami di tengah jalan. Di belakang kami pasar yang padat pengunjung. Jando Beraes yang ngambek di tengah jalan jelas mengganggu lau lintas.

Cepat-cepat aku bangunkan adik-adikku. Satu persatu mereka turun dengan wajah mengantuk. Kami pun bersiap mendorong mobil ke pinggir.

Beberapa pria yang berdiri di pinggir jalan terusik hatinya melihat 5  anak perempuan mendorong mobil bobrok.

“ Sudah, Dik. Duduk saja di sana. Biar kami yang dorong. “ Ujar salah seorang lelaki.

“ Terimakasih, Pak!” Ucapku, antara berterimakasih dan malu.

Kami berlima duduk berjejer dipinggir jalan.  Mami duduk agak jauh dari kami, sementara Papi mengambil air untuk mengisi radioator.

Apa yang terjadi pada Jando Beraes?

“ Mesinnya terlalu panas. Sepertinya radiator bocor. Kita harus menunggu sampai mesinnya dingin.” Kata Papi.

Olalaa... Jadi tak ada yang dapat kami lakukan selain menunggu hati si Jando Beraes kembali dingin. Ternyata dia gampang emosi . Terbukti dalam perjalanan mudik itu total 4 kali si Jando ngambek. Sehingga kami harus rela 4 kali duduk menunggui mesinnya dingin. Oh...kejaam!

Jando Beraes kadangkala tak memandang tempat dan waktu untuk ngambek. Dia berlaku semaunya saja. Pernah waktu itu dia mogok persis di pusat kota Palembang. Di depan mesjid Agung yang ramainya bukan kepalang.  Sambil mendorong mobil aku berdoa semoga saja tak ada teman-temanku yang melihat aksiku. Jando Beraes, teganya dikau!

Namun adakalanya Jando Beraes berbaik hati. Aku bahkan tak menyangka dia bisa begitu perkasa. Seperti  hari itu..

Sinar keemasan matahari pagi di bulan April 1997  menghamburkan kehangatan di penjuru bumi.   Dari balik deretan pohon karet, matahari mengintip malu-malu laksana gadis muda yang diam-diam menebar pesonanya.

Aku  duduk  pasrah di  jok Jando Beraes.  Di belakang kemudi, Papiku terlihat serius menyusuri jalan lintas Sumatera menuju arah Jambi. Sesekali setir mobil  dibelokkannya dengan gerakan zig-zag hingga    sedan tua itu  meliuk-liuk menghindari lubang menganga di aspal .

Kupandangi Papi dengan perasaan bercampur-aduk. Sebenarnya hatiku tak tega membiarkan Papi mengantarku. Belum terbayangkan  bagaimana dan di mana sebenarnya lokasi yang di tuju itu. Yang aku  tahu hanyalah bahwa aku harus datang untuk wawancara penerimaan karyawan, sehubungan dengan surat lamaran pekerjaan yang pernah  kukirimkan.

Kemarin sore, seseorang menelpon, menanyakan apakah aku sudah bekerja atau belum. Lalu dia menanyakan apakah benar aku pernah mengirim surat lamaran pekerjaan ke sebuah perusahaan Jepang bernama Penta Ocean. “ Ya, benar.” Jawabku. Padahal sebenarnya aku tidak ingat pernah mengirim surat lamaran ke perusahaan itu. Sudah ratusan surat lamaran disebarkan kemana-mana untuk menggenapkan usaha mencari pekerjaan setelah menjalani wisuda sebagai sarjana teknik sipil beberapa bulan yang lalu.

“Kamu besok siang di tunggu di  kantor Penta Ocean di Grissik. Besok pagi kamu berangkat dari Palembang lewat jalan lintas Sumatera ke arah Jambi. Nanti cari Desa Peninggalan, kecamatan Tungkal Jaya, Musi Banyu Asin. Letaknya di pinggir jalan sekitar 3 jam perjalanan dari Palembang. Di desa Peninggalan itu ada mess karyawan Penta Ocean. Tanya saja disana, bagaimana caranya menuju kantor Penta Ocean. Besok temui Mr. Tsano untuk wawancara. “

Grissik? Desa Peninggalan? Nama-nama tempat itu terasa asing, bagaikan negri antah berantah. Belum pernah aku dengar  atau lihat lokasinya di peta sebelumnya. Maklumlah aku benci pelajaran geografi,  menggambar peta, apalagi  ujian peta buta.Nilai-nilaiku untuk pelajaran itu lumayan jeblok dibandingkan nilai Matematika dan IPA.  

Bagi  seorang pencari kerja seperti aku, tawaran untuk interview selalu terasa menarik, meskipun lokasinya belum jelas di mana. Papiku dengan semangat langsung menawarkan diri untuk mengantarku, tentu bersama jando Beraes. Meskipun hal ini terasa menambah beban moral di pundakku, aku tak punya pilihan lain.

Aku, anak pertama yang menjadi tumpuan harapan kedua orangtua tentulah mengerti akan tanggung jawabku, melihat beberapa tahun ke depan Papi yang seorang pegawai negeri akan pensiun sementara ke-empat adikku masih sekolah dan kuliah.

Aku melemparkan pandangan ke sisi jalan yang ditumbuhi pohon-pohon dan semak.  Sesekali terlihat beberapa rumah panggung kayu berdiri di atas rawa dan perkampungan penduduk.  Selebihnya hutan Sumatera yang senyap. Perasaanku campur aduk antara harap-harap cemas dan penasaran. Berharap bisa memperoleh pekerjaan hingga memenuhi harapan kedua orang tua dan adik-adikku. Cemas pada jando beraes. Semoga  hari ini dia berbaik hati, tidak mogok dan bertingkah akibat penyakit tuanya.  Penasaran karena aku ingin segera mengetahui perusahaan macam apa yang telah memintaku hadir hari ini.

Sekitar 3 jam perjalanan sudah kami lalui, ketika mataku akhirnya menangkap sebuah papan bertuliskan “ Mess Karyawan Penta Ocean” berdiri tegak di depan dua buah rumah bercat putih. Dua rumah itu bersebelahan tetapi berada dalam satu pagar. Papi memarkir Jando Beraes di halaman rumah itu.

Aku menghampiri pintu rumah yang terbuka. Seorang ibu setengah baya sedang duduk  sambil memangku baskom berisi kacang panjang. Kepalanya tertunduk menekuni pekerjaannya memotong-motong kacang panjang, sementara lagu   dangdut Melayu meratap-ratap pedih terdengar dari sebuah radio-tape butut yang teronggok di meja. Aku mengucapkan salam. Ibu itu agak terkejut melihat kedatanganku. Dia segera menghampiri setelah mengecilkan volume radionya.

“Waalaikum salam. Adik mau cari siapa ya?” Tanyanya.

“ Saya dari Palembang, Bu. Kemarin saya ditelpon disuruh datang ke kantor Penta Ocean untuk bertemu Mr. Tsano. Kalau ke kantor  lewat mana ya, Bu?’’.

“ Wah, sayang sekali. Baru saja tadi mobil yang mengantar makan siang karyawan berangkat ke kantor. Mestinya Adik ikut mobil tadi. Tapi kalau mau pergi sendiri ke sana bisa juga.” Mata si Ibu tertumbuk pada mobil bobrok yang terparkir di halaman. Dari ekspersi wajahnya, aku tahu si Ibu meragukan kemampuan Jando Beraes.

 “Hati-hati ya, Dik. Semoga tidak hujan. Jalan kesana belum di aspal. Kalau hujan turun, jalan tanah merah itu tak  bisa  dilalui mobil yang tidak dilengkapi double gardan. Jalannya jadi berlumpur dan licin. Banyak terjadi kecelakaan di jalan itu, mobil terjungkal karena tak sanggup melalui  tanah licin berlumpur saat hujan. “

Hatiku dilanda  kekhawatiran , namun aku tidak bisa mundur lagi. Setelah memperoleh penjelasan dari si Ibu, aku dan Papi berpamitan dan mengucapkan terimakasih.

Sebelum masuk mobil, kubelai kap Jando Beraes. “ Tolong bantu aku.” Bisikku. “ Ini hari yang penting.”

Sejurus kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju kantor yang dimaksud.  Sekitar 3 km dari  mess Peninggalan, Jando Beraes berbelok masuk ke sebuah jalan tanah lebar yang membelah belantara Sumatera. Jalan  itu mengepulkan debu tebal tanah merah ketika roda mobil melewatinya. Hatiku tak henti-henti melantunkan doa,  mengusir segenap gundah dan rasa bercampur aduk di dada.
 Jalan tanah itu kadangkala menanjak,  menurun serta berliku. Dikiri-kanan jalan terbentang hutan belantara. Sesekali terlihat kawananan monyet bergelantungan di pohon. Seekor rusa kecil berlari menyeberang jalan lalu menghilang di balik semak. Lalu ular berukuran lumayan panjang tampak melintas cepat di hadapan kami.

Beberapa saat kemudian mulai tampak bangunan-bangunan semi permanen,  dikelilingi pagar kawat di sisi kiri-kanan jalan. Gundukan pasir dan koral tertumpuk di pinggir jalan.   Sebuah kompleks mess karyawan  yang luas dijaga petugas keamanan terlihat di depan mataku, hingga akhirnya kami tiba di sebuah areal luas terbuka berbatas pagar kawat yang kokoh. Setelah melapor pada petugas keamanan di pos penjagaan, kami dipersilahkan melewati gerbang.

Mataku segera menangkap berbagai aktivitas di sana. Di bawah teriknya matahari yang terasa membakar kulit, tampak alat berat seperti crane, loader, excavator dan roller tengah beroperasi di beberapa titik. Gundukan tanah galian, pasir, koral dan batu pecah (split)  terlihat dimana-mana.

Beberapa kelompok pekerja kasar tengah melakukan pekerjaan diawasi  mandornya. Container-container bercat merah tampak berderet di sisi kanan.  Sebuah bangunan batching plant dengan mobil pengaduk semen tengah beroperasi di sudut sana.  Aku menebarkan pandangan ke penjuru tempat itu.  Terpesona. Tak menyangka di tengah hutan belantara Sumatera ada tempat seperti ini. Apakah yang sedang di kerjakan orang-orang ini? Akan dibangun apakah tempat ini? Tentu aku akan dapat banyak pengalaman hebat bila bisa bergabung di sini.

Aku turun dari mobil, meninggalkan Papiku yang menunggu di dekat pos satpam.  Aku berjalan menuju sebuah bangunan bercat putih berbentuk segi empat memanjang. Seorang pria setengah baya berpakaian seragam dari bahan Japan drill berwarna cream dengan logo Penta Ocean di dadanya, mengenakan sepatu boot  hijau, dan helm putih tiba-tiba muncul di pintu.

“ Permisi, Pak. Saya diminta datang ke kantor Penta Ocean untuk bertemu Mr. Tsano. Apakah ini benar tempatnya? “ Tanyaku.

“ Oh, ya benar. Silahkan masuk, Dik. Mari saya antar. “ Tangan si Bapak meraih gagang pintu dan mendorongnya hingga terbuka. Udara sejuk dari pendingin udara merayap keluar membelai wajahku, sungguh berbeda suhu di luar dengan di dalam ruangan. Aku melangkah masuk.

Mataku menyapu  ruangan luas memanjang dengan deretan meja kerja tersusun  berbaris-baris, lengkap dengan karyawan-karyawati yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya.  Jendela-jendela kaca terpasang di dinding menampilkan pemandangan lapangan di luar.  Seperangkat peralatan  radio komunikasi SSB terdengar mendesis-desis di sudut ruangan. Deretan meja yang lebih besar  tersusun sepanjang dinding. Di belakang meja-meja besar itu duduk pria-pria bermata sipit dan berkulit putih. Beberapa diantara mereka tengah terlibat pembicaraan dalam bahasa yang tidak kumengerti. Kedengarannya bahasa Jepang.

Kehadiranku disitu menarik perhatian beberapa orang . Mereka memandangku dengan rasa ingin tahu. Aku membalas tatapan mereka dengan melemparkan senyum paling manis.

Aku dipersilakan menemui Mr. Tsano, seorang Jepang berusia sekitar 30-an dengan wajah datar tanpa ekspresi dan Mr. Tasaki yang kutaksir usianya sekitar 40-an dengan wajah yang lebih ramah.

Setelah perkenalan seperlunya dan menjelaskan proyek corridor block gas yang tengah dikerjakan, dua orang Jepang itu silih berganti menanyaiku dengan  pertanyaan seputar pengetahuan yang berhubungan dengan latar belakang pendidikanku.

Setelah  aku selesai mengerjakan beberapa soal hitungan yang diberikan, mereka  menjelaskan apa-apa saja yang menjadi tugasku bila aku diterima bekerja berikut jumlah gaji yang menggiurkan.

Harapanku melambung tinggi saat mereka menyebutkan jumlah gaji  dan fasilitas yang akan aku terima bila bekerja di perusahaan ini. Jumlahnya beberapa kali lipat dari gaji pegawai negri lulusan sarjana saat itu.

Mereka menanyakan persetujuanku, apakah tidak keberatan menerima gaji sejumlah itu.

“Aku setuju!” Sergahku cepat. Manalah mungkin aku menolak tawaran bagus ini. Tak apalah bekerja di tengah hutan jauh dari rumah, aku yakin di sini pasti akan mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman yang berharga.

Mr. Tasaki tersenyum. “ Masalahnya, kapan  bisa mulai bekerja?”

Serasa tak percaya aku mendengarnya berkata seperti itu. Alhamdulillah... Semudah ini jalannya.
Hari itu aku tidak bisa mulai bekerja. Seorang karyawan mengatakan kepada Mr. Tasaki bahwa kamar untukku sedang dipersiapkan. Aku diminta mulai bekerja minggu depan.

Setelah menyatakan setuju, aku pamit pulang.

“Sayonara. Sampai jumpa minggu depan!” Ujar Mr. Tasaki sambil tersenyum dan membungkuk memberi hormat ala Jepang.

Foto kenangan saat bekerja di Penta Ocean
Bersama rekan kerja di Penta Ocean

“ Sampai jumpa. Terimakasih.” Sahutku sambil membungkuk juga.

Keluar dari kantor itu, rasanya aku ingin berteriak gembira. Senang tak terkira rasanya akan segera bekerja di perusahaan itu. Semua yang ada disana tampak begitu hebat dan menakjubkan di mataku. Tak sabar menunggu minggu depan!

Kegembiraanku langsung surut dengan cepat tatkala aku melihat ke atas.  Awan mendung telah bergantung di sana.  Aku berlari kencang menghampiri pos satpam tempat Papi menungguku.

“ Papi, ayo cepat kita pulang. Bahaya kalau hujan!” Teriakku.

Tanpa banyak bicara, Papi menginjak pedal gas Jando Beraes. Jalan tanah yang kami lalui masih sekitar 4,5 km lagi. Hatiku berdebar melihat warna kelabu yang makin menebal di langit.

Debu tanah merah berhamburan. Jando Beraes beraksi, berlari dengan kekuatan penuh menyusuri jalan membelah hutan. Aku memandang ke belakang. Astaga! Di kejauhan terlihat hujan sudah mulai turun. Aku memejamkan mata sambil berdoa,” Ya Allah... tolonglah kami.”

“Jando Beraes, berbaik hatilah padaku. Jangan mogok dan teruslah berlari kencang. Kalau terjebak hujan kita semua bakal susah.” Bisikku.

Di tikungan si Jando melesat mengeluarkan bunyi berdecit-decit. Tubuhku condong ke kiri dan ke kanan mengikuti alur jalan menikung.  Sedikit lagi... Ya Tuhan! Aroma tanah kering tersiram hujan telah menyelinap di indra penciumanku. Itu artinya hujan deras mengejar di belakang kami.

“ Cepat! Cepat!” Teriakku tanpa sadar.

Papi menginjak pedal gas makin dalam.  Jando Beraes mengamuk, melesat bagai panah. Untung saja tak ada kendaraan lain yang melintas sehingga si Jando bebas berzig-zag sesukanya.

“ Aaaaahhhh! “Aku dan Papi memekik tanpa sadar ketika akhirnya hujan deras menerjang kami. Tapi itu teriakan lega. Tepat di saat roda Jando Beraes menyentuh aspal jalan lintas Sumatera, hujan berhasil menyusul kami. Alhamdulillah...

Sensasi kebut-kebutan  bermandi debu tanah merah dan kejaran hujan setelah diterima bekerja bukanlah pengalaman yang sering ketemui. Sangat berkesan.  Akan ku kenang seperti aku mengenang almarhum Papiku, yang selalu mendukung dengan penuh cinta.  

Terimakasih Jando Beraes, ternyata dirimu bisa juga berbaik hati di saat yang tepat, di  salah satu hari yang penting dalam hidupku.   Hari yang menjadi awal terbentangnya pintu rezeki, untuk membantu kedua orangtuaku, untuk mendukung empat orang adikku yang masih utuh biaya sekolah hingga mereka meraih bahagia. Hari itu pun menjadi awal skenario indah menemukan jodohku.  Aku akan mengenangmu Jando Beraes, menggambarkanmu sebagai bagian  kisah hidupku, di sini.


SENYUM LIMA JARI





Hai Moms.. Pernah nggak memperhatikan ketika anggota keluarga pulang ke rumah setelah berkegiatan di luar rumah, siapa yang pertama kali mereka cari di rumah?

Apa pentingnya memperhatikan hal ini? Tadinya sih iseng saja, tapi memperhatikan hal kecil seperti ini ternyata bisa membuat hati dibanjiri kehangatan, lho. Kok bisa ya?

Waktu aku tanya pada si bungsu Rafif. “Nak, kalau Rafif pulang sekolah atau pulang les, sampai di rumah, siapa yang pertama kali Rafif cari di rumah?”

Dengan mantap Rafif menjawab,” Mama.”

“Kenapa Mama, Nak?”

“Kalau ada Mama, nyaman.”

Jawabannya bikin hati berbunga-bunga.🌺🌻🌼🌷🏵️🌹

Beda halnya dengan Dea. Saat aku tanya, dia tak mau menjawab, cuma senyum-senyum penuh misteri. Jadi aku berusaha mencari tahu sendiri.

Di sore hari, terdengar suara motor gojek berhenti di depan rumah. Aku cepat-cepat masuk kamarku, berbaring di ranjang, pura-pura tidur. Kutunggu beberapa saat. Tak lama pintu kamar dibuka tanpa suara, lalu wajah Dea menyembul dari balik daun pintu. Ketika matanya sudah menangkap kehadiranku, kembali tanpa suara ditutupnya pintu kamarku, lalu dia naik ke atas ke kamarnya sendiri. Hahaha... ketahuaaan.😜😜🤣🤣🤣

Lain lagi dengan Anin. Pulang dari tempat kos nya di Jakarta, sesaat setelah membuka pintu rumah, dia mencariku dan langsung bertanya,

“Mama, adek mana, Ma?”

Yang dimaksud dengan adek itu tak lain si bungsu Rafif. Jadi terharu, ketahuan betapa dia rindu pada adiknya.💖❤️❤️💞

Kalau si Akang sampai di rumah dari kantornya, suaranya langsung menggelegar.

“Assalamualaikum. Neng...!”

Hehehe...😍😍😍😍😍

Hal kecil seperti itu selain membuat hati hangat dan terharu, sekaligus mendorong keinginan menjadi ibu dan istri yang membuat adem hati suami dan anak-anak.

Yuk kita sambut anak-anak dan suami yang pulang ke rumah dengan wajah happy dan senyum tulus selebar 5 jari.😁😁🤣😊😊😊😊😊