Kamis, 04 Oktober 2018

MENGHILANGKAN ALERGI MENJAHIT DENGAN SELF TALK


Ilmu yang didapat dari training, kalau tak dipakai sehari-hari, bisa terlupakan, bahkan hilang tanpa kesan.  Kalau sayang ilmu, sayang dengan waktu yang sudah terpakai untuk training, sayang dengan uang yang sudah dibayar untuk biaya training, maka sering-seringlah mengamalkan ilmunya.  Mengamalkan ilmu membuat hidup lebih baik, lebih nyaman.  Ilmunya pun  nancep dalam diri kita, tidak hilang percuma.

Ilmu apa sih yang didapat dari training, yang sehari-hari dipakai oleh Emak-emak dasteran macam aku? Hehe..Salah satunya  keterampilan berdialog dengan self talk dengan menggunakan kalimat kalimat berbentuk milton model dan meta model. Hal ini aku peroleh dari training Transforming Behavior Skill-nya Mbak Okina Fitriani.

Berdialog dengan self talk sangat membantu aku mengatasi potensi baper, malas, takut, enggan, tak percaya diri dan jenis emosi tak memberdayakan lainnya. Salah satunya baru saja aku gunakan untuk mengugurkan keenggananku menjahit, akibat limiting belief “Aku tak bisa menjahit” yang sudah lama kupelihara.

Jadi ceritanya, sejak kenal pelajaran prakarya, khususnya jahit menjahit  di bangku SMP, aku banyak menemui kesulitan. Seingatku di zaman SMP dulu diajarkan berbagai macam jenis jahit tangan, misalnya tusuk jelujur, tusuk  tikam jejak, tusuk feston, tusuk flanel, tusuk silang dan lain-lain.

Bagi teman-temanku, pelajaran menjahit  itu bukan masalah. Aku mengagumi karya mereka. Jahitan tangan mereka   begitu rapi, simetris, presisi. Bagiku menjahit adalah beban. Beban yang berat karena hal itu tak ubahnya kegiatan yang membuat aku  merasa tertekan. Ketika melihat hasil karya sendiri, perutku mules-mules. Tusuk jelujur yang paling sederhana sekalipun jauh dari rapi. Ada yang panjang, ada yang pendek, mencong sana, mengot di sini. Padahal sudah beberapa kali aku ulang, hasilnya ya begitulah.

Tiap pelajaran prakarya, aku tersiksa. Merasa stress,  dan frustasi. Kelihatan juga dari perolehan nilai prakaryaku yang tak jauh dari angka 6. Itu pun karena Bu Guru kasihan. Mestinya aku pantas dapat nilai 5.

Kalau boleh memilih, aku lebih senang disuruh mengerjakan soal matematika, fisika, atau disuruh main musik, menari dan  menyanyi ketimbang menjahit.

Di SMA ketidaksukaanku pada kegiatan menjahit makin menjadi-jadi. Aku ingat, Bu Guru memberi tugas membuat rok putih  sederhana. Aku sudah tersiksa sejak awal  membuat pola, menggunting, dan puncaknya ketika disuruh menjahit, dengan tangan maupun dengan mesin.

Beberapa hari sebelum hasil karya dikumpulkan, drama  terjadi.  Kukoyak-koyak rok putih itu dengan emosi memuncak.  Marah dan kesal sekali rasanya melihat rupanya yang tak karuan. Padahal sudah kuhabiskan banyak waktu mengerjakannya. Setelah menumpahkan emosi, melihat rok yang sudah terburai tak jelas lagi bentuknya,  aku menangis.  Bingung mau bagaimana. Akhirnya pilih jalan pintas. Salah seorang teman yang kasihan padaku meminta Kakak perempuannya menjahitkan rok untukku. Dan dengan perasaan kacau balau, aku kumpulkan rok itu sebagai hasil karyaku  ke Ibu Guru prakarya. Hiks... Maafkan aku Bu Guru. Aku sudah berdusta.

Rupanya bertahun tahun kemudian, sebagai Emak-emak dasteran masih saja aku tak bisa menghindar dari kegiatan menjahit.

Si Akang sedang  menjahitkan celana panjangku 

Aku seringkali diselamatkan oleh si Akang. Ya, suamiku tersayang yang hobi fitness dan olahraga angkat beban itu ternyata pandai pula menjahit! Sering dia memotongkan celana panjangku, celana dan rok anak-anak, lalu menjahitkannya. Hasilnya rapi. Memang dia tak ahli layaknya penjahit profesional, tapi untuk urusan memperbaiki pakaian di kondisi kepepet, dia cukup jago. Hehehe...

Perkara menjahit ini pun kerap membuat aku kagum pada Tuhan. Sungguh elok Dia membuat rencana hidupku. Perempuan yang tak pandai menjahit, dijodohkanNya dengan lelaki yang bisa menjahit. Ibarat panci dengan tutupnya, pas sekali. Bukan main!πŸ˜ŽπŸ˜ƒπŸ˜ƒ

Tapi ada-ada saja kejadian yang memaksa aku  berhubungan dengan jarum dan benang jahit,  dua benda yang membuatku alergi.  

Misalnya di pagi yang heboh saat Rafif sudah akan berangkat sekolah, tiba-tiba dia teriak.

“Yaah... Mama.. Kancing baju Afif lepas! Jahitin ya Ma!”

Mau bagaimana lagi? Tak mungkin aku lari ke tukang jahit. Mana bisa minta tolong si Akang, dia sudah berangkat kerja.  Si Mbak sedang cuci pakaian di lantai atas. Ya terpaksa dengan perut mules aku lakukan tergesa-gesa.

Entah karena kondisi emosi yang tidak nyaman,  kegiatan menjahit berlangsung tegang.

“Aww!” Cepat-cepat aku menarik jariku. Ini sudah kesekian kalinya jarum jahit kecil itu menancap di ujung jari manis sebelah kiri.  Sebelumnya jempolku yang kena.

Lanjut lagi. Kutusukkan jarum lewat bagian bawah lubang kancing, tusukan selanjutnya menancap di lubang sebelahnya. Keringat bercucuran. Kuulangi beberapa kali, di bagian lubang kancing berikutnya. Setelah membuat simpul, akhirnya selesai. Aku meraih gunting. Kuangkat baju seragam Rafif, tapi.. Ya Tuhaan. Rokku ikut terangkat! Aku tanpa sadar sudah menjahitkan rokku ke baju Rafif.  Bongkar lagi!Huaaaaa!

Nyangkut di rokπŸ˜“

Akhirnya keluar jurus terakhir.

“Mbaaak... Tinggalkan dulu kerjaannya. Tolong jahitkan kancing Rafif. Saya mules!”

Itu dulu. Sebelum ikut training Transforming Behavior Skill.

Hari ini, aku  bertekad menjahit lambang-lambang dan label nama Rafif di baju seragam pramukanya yang baru.  Biasanya dulu, hal ini selalu aku serahkan ke tukang jahit di pasar Sukasari, atau pasar Bogor. 

Kali ini  aku sengaja ingin menaklukan kondisi emosi tegang, stress, dan mules yang selalu menyertai kegiatan menjahit.

Aku sadar sudah memelihara limiting belief  “Aku tidak bisa menjahit” sejak bertahun-tahun. Padahal, dalam melakukan kegiatan menjahit, tidak ada perilaku yang benar-benar baru, yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan. Menjahit itu kan kumpulan dari menggerakkan jari-jari tangan, menusukkan jarum ke kain dengan jarak tertentu, menyimpulkan benang, dan sebagainya.

Setelah kupikir-pikir, masalahku sebenarnya bukan pada skill menjahitnya. Tapi pada pengelolaan emosi saat melakukan kegiatan ini. Dulu zaman SMP dan SMA, ada target waktu, target nilai yang harus dicapai, ditambah lagi ada tekanan emosi karena membandingkan hasil karyaku dengan karya teman-temanku, ada aroma persaingan, ditambah lagi dengan keyakinan bahwa menjahit itu sulit , dan sebagainya yang semuanya membuat aku stress. Kenangan akan kondisi tidak nyaman ini ternyata terbawa sampai sekarang. Tak heran aku selalu mules kalau harus berhubungan dengan jarum jahit dan benang.

Ketika meraih benang, memasukkan ujungnya ke lubang jarum, aku sudah mulai merasa tertekan dan tak nyaman. Untuk menyelesaikan emosi ini aku mulai bicara pada diri sendiri. Berdialog dengan self talk. Perbincangan ini melibatkan 2 self talkku, Neng dan Iwed.

“Okelah Iwed.. Sekarang kondisi sudah berbeda. Kamu bukan lagi pelajar SMP atau SMA. Kamu tak perlu lagi khawatir tentang nilai. Tak ada guru yang akan menilai kerapian hasil jahitanmu. Target pun sederhana saja : menjahit lambang-lambang dan label nama di baju seragam pramuka Rafif sesuai dengan ketentuan sekolah. Tak ada target waktu harus selesai sekian menit. Santai. Simple. Kamu bisa. “ Kata si Neng.

Kata-kata yang aku ucapkan sendiri pada diri sendiri itu rasanya sudah melenyapkan sebagian besar rasa tak nyaman. Meski masih ada khawatir..

“Bagaimana kalau jariku ketusuk lagi?”Sahut Iwed.

“Kalau ketusuk resikonya apa? Mati apa nggak? Tetanus nggak? Cuma sakit sedikit aja kan ya? Resiko megang jarum itu ketusuk jarum. Wajar nggak?” Neng memberondong dengan pertanyaan berbentuk meta model.

“Iya sih.. “

“Terakhir kamu ketusuk jarum itu kenapa?”

“Karena buru-buru. Tegang harus cepat menyelesaikan jahitan. Nah sekarang bagaimana supaya nggak ketusuk jarum lagi?”

“Pelan-pelan. Lakukan dengan tumakninah. Seperti dalam shalat, tumakninah itu rileks, tidak tergesa-gesa dalam melakukan gerakan dan pikiran fokus pada apa yang dikerjakan. Mulai dengan menarik nafas yang dalam dan teratur, kemudian lakukan. “

Kata-kata si Neng itu manjur membuatku tenang. Aku meraih label nama Rafif. Melipat  pinggirannya. Meletakkan di bagian atas kantung seragam, mengira-ngira posisi yang tepat. Kusematkan jarum pentul di label nama agar posisinya tak berubah.  Lalu mulai menjahit. Aku tak tahu model jahitan apa yang aku pakai, sepertinya perpaduan antara tusuk jelujur dengan tikam jejak. Mulai dari sudut label nama, kutusukkan jarum dari bagian dalam baju, kemudian di lubang yang hampir sama jarum kutusuk kembali. Lewat bagian dalam baju, benang membentuk garis jelujur.  Selanjutnya kutusukkan ke bagian luar, hingga  dari luar yang tampak hanya titik-titik kecil simpul benang mengelilingi sisi label nama. Akhirnya selesai. Ah lega.


Ketika membalik baju, betapa kagetnya.  Ternyata lipatan baju di bagian dalam ikut terjahit!Aaaaarghhh! Emosiku terpicu lagi.Hampir saja kubanting baju seragam itu. Tapi si Neng bereaksi.

Arrrghh...😠

“Tenang... kondisi emosimu sudah bagus tadi. Mengerjakannya juga sudah tumakninah. Hanya kurang teliti saja. Apa sih resikonya melakukan kesalahan? Tak apa-apa, kan? Ini mudah. Tinggal dibongkar sedikit bagian yang kena lipatan baju bagian dalam, tak perlu seluruh jahitannya dibongkar. Bisa dilanjutkan lagi jahitannya, sebentar juga selesai.” Kata si Neng.

Baiklah. Tarik nafas. Mulai lagi. Kubongkar jahitan yang mengikat lipatan baju. Lalu mengulang lagi jahitannya. Perlahan. Hati-hati. Alhamdulillah selesai.

Kupandangi hasilnya. Memang belum rapi, tapi lumayanlah. Si Neng kembali beraksi. Dia mengucapkan kata-kata sakti yang membuat aku nyaman.

“Selanjutnya untuk memasang tanda pandu dunia, tanda pelantikan, tanda lokasi dan badge daerah, kamu hanya perlu mengulang perilaku yang sama dengan yang kamu lakukan saat menjahit label nama. Kali ini hati-hati, jangan sampai terjahit bagian dalamnya. Artinya kamu tidak perlu menusukkan jarum terlalu dalam. Mudah kan?”

Tenang, tumakninah, hati-hati, teliti, santai, nikmati prosesnya.


Alhamdulillah akhirnya selesai.  Aku tak terlalu bangga dengan hasil jahitanku. Tentu saja mengendalikan emosi dengan memberdayakan self talk tidak serta merta menjadikan aku ahli menjahit. Tapi setidaknya aku jadi mampu bersabar menjalani prosesnya.  Rasa tak nyaman, mules-mules dan tegang pun hilang.  Dan tujuanku  tercapai. 


Selesai πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Lambang-lambang  itu sudah terpasang di baju pramuka Rafif. Gugur sudah keyakinan bahwa aku tak bisa menjahit. Aku bisa. Hanya saja butuh latihan lebih banyak supaya hasilnya lebih rapi. Tinggal tergantung diri sendiri, mau atau tidak menyediakan waktu latihan menjahit  hingga mahir?

Penyemangat paling hebat sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Kalau kita punya kemampuan menasehati dan memotivasi orang lain, mengapa tak kita gunakan kemampuan itu untuk menyemangati, menasehati dan memotivasi diri kita sendiri?

Senin, 10 September 2018

MENYIKAPI ANAK YANG TIDAK KONSISTEN BANGUN PAGI



Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting
Nara Sumber : Okina Fitriani

Tanya : 

Saya kesulitan membangunkan anak pagi-pagi. Sempat beberapa kali berhasil dibangunkan dengan kesepakatan menggunakan alarm. Mereka sempat excited ketika pertama kali melakukannya. Sekitar 7  kali berhasil, lalu mulai agak susah.

Saya bangunkan lalu saya tanya,” Mau berapa menit lagi bangunnya, Nak?”

Dijawabnya, “ Enam menit lagi, tapi nggak mau pakai alarm.”

Tapi setelah 6 menit dia masih tidak bangun.

“Sudah 6 menit, Nak..” Kata saya.

“Belum. “

“Enam menit menurut siapa?” Tanya saya.

“Menurut aku.” Katanya.

Bagaimana cara menyikapinya?

Jawab : 

Hehehe.. Ayahnya kalah cerdas sama anak.  Apakah setelah dia berhasil bangun pagi 7 kali itu  dia mendapat pujian efektif dari orangtua dan mendapat keuntungan?

Mengapa anak saya tidak pernah bangun terlambat? Karena kalau dia bangun terlambat sehingga ketinggalan bus sekolah, saya tidak akan pernah mengantarkannya ke sekolah. Ya sudah biar saja tidak sekolah. Biar saja dia usaha sendiri mengejar bus. Naik gojek atau apa terserah saja, dan ongkosnya dia bayar sendiri.

Komitmen ke anak harus jelas. Kamu tidak boleh begini, karena untungnya begini dan ruginya begini. Dan dia harus merasakan sendiri resiko dari pelanggaran yang dilakukannya. Tapi ketika dia konsekuen bangun pagi, puji dia.

“Alhamdulillah.. Adek bangun pagi. Mama nggak usah repot bangunin sudah bisa bangun sendiri. Nanti kalau kamu menjadi pemimpin, kamu akan jadi contoh yang baik. “

 Maka anak akan percaya diri, karena dia merasa perilakunya baik untuk dicontoh.

Lalu rayakan keberhasilannya bangun pagi itu.

“Nak, karena  dirimu sudah berhasil beberapa hari bisa bangun  pagi sendiri, kita rayakan dengan makan es krim di warung. “

Lho kok di warung? Ya, nggak apa-apa. Reward itu gak usah mahal-mahal.Hemat. Anak-anak itu mau makan di restoran atau di warung ya sama saja asal bersama orangtuanya. Contohnya anak saya. Saya ajak mancing di emperan dengan jalan-jalan ke Universal Studio, ekspresi bahagianya sama saja. Dia bahagia selama bersama orangtuanya.

Intinya, komitmen dengan anak itu harus jelas, biarkan anak menerima resiko bila melanggar, puji anak bila sudah berhasil, dan beri reward yang  membuat dia berkata “ Wow.. I am good!”

Selasa, 04 September 2018

Ragu Ingin Keliling Indonesia Sekeluarga? Gunakan 14 Jurus Silat Lidah



Keluarga Kusmajadi

Bahagianya punya sahabat yang unik banget.. tiada duanyaπŸ’•πŸ’•πŸ’•. Kami sama-sama penggerak Enlightening Parenting, sama-sama belajar dari CikGu Okina Fitriani. Sengaja aku ingin memperkenalkan sahabatku, karena aku dan teman-teman semua bisa belajar sangat banyaaak dari dia.

Namanya Melati M Puteri. Sebenarnya sebelum kami dekat, aku sudah beberapa kali bertemu dia di Kuala Lumpur. Pernah juga bertemu saat Mbak Mel ikut jadi peserta  training Transforming Behavior Skill untuk alumni Enlightening Parenting. Kesan pertama melihat dia biasa saja, kalem, sepertinya orangnya pendiam. Barulah waktu kami sama-sama jadi fasilitator training di Jogja, aku dan Mbak Mel punya kesempatan banyak buat ngobrol.

Kami sekamar di hotel tempat penyelenggaraan training saat itu. Naah.. barulah ketahuan aslinya. Ternyata orangnya asyik banget. Dan jelas  nggak pendiam karena kami bisa ngobrol berjam-jam sampai mata tak sanggup melek lagi. Obrolannya bergizi,  menambah ilmu, menambah wawasan, menambah kebijaksanaan.

Salah satu yang bikin aku terkagum-kagum adalah kepandaiannya menemukan unsur humor atau hal-hal lucu yang bisa kami tertawakan bahkan pada kejadian  tidak nyaman sekalipun.  Kok bisa ya? Karena itulah bergaul dengan Mbak Mel tak pernah berasa ada susahnya. Peta mentalnya luas, jadi enak kalau minta pendapatnya.  Aku bisa dapat makna  memberdayakan dari sebuah peristiwa tidak menyenangkan.

Dibalik tampang  kalem itu ternyata dia ekpresif banget.  Aku yakin baru detik ini dia tahu, kalau ekspresi wajahnya itu aku jadikan anchor untuk menghilangkan kondisi emosi yang negatif.  Kesal? Bete? Hadirkan saja visualisasi ekpresi wajah Mbak Mel saat menceritakan hal lucu. Lalu Jreeeng... Aku happy lagi! Hahaha.. Terimakasih Mbak Mel!

Keunikan Mbak Melati M. Puteri  dan suaminya Mas Dodi Kusmajadi yang bikin aku tercengang kagum adalah keputusan mereka untuk melaksanakan jalan-jalan selama 1 tahun sekeluarga dengan mobil. 

Keliling Indonesia sekeluarga dengan mobil selama 1 tahun! Hebat sekali!  Apa yang dicari keluarga ini selama perjalanan itu? Tentang ini sudah diceritakan Mbak Melati di Muslimah Diary yang tayang di Kompas TV hari Minggu  2 September 2018  lalu.

Keluarga Kusmajadi

Pertama kali mendengar gagasan itu, aku bertanya-tanya. Kok bisa mengambil keputusan itu? Kok berani?  Pendidikan anak-anak bagaimana? Bagaimana dengan pekerjaan? Biayanya  gede banget kan.. dan pikiran-pikiran lain yang kalau aku sendiri rasanya tak akan berani mengambil keputusan sehebat apa yang  dilakukan Mbak Mel dan Mas Dodi yang akrab dipanggil “Abah”.

Dan.. mereka benar-benar berangkat. Tanggal 3 September 2018 hari Senin sekitar jam 13.30, aku melepas keberangkatan keluarga ini menggunakan mobil yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan keluarga Kusmajadi selama perjalanan.

Ide untuk melaksanakan perjalanan ini datang dari Mbak Melati. Tapi untuk sampai pada keputusan menjalankan ide ini, tentulah banyak keraguan dan  pergulatan pikiran di benaknya hingga akhirnya bisa berkata dengan mantap “ Oke. Bismillah, kami akan melakukannya!”

Bagaimana sih proses menyingkirkan keraguan Mbak Melati? Bagaimana cara berpikirnya, mengingat keputusan ini termasuk tindakan  out of the box, lain dari yang lain, berbeda dengan orang pada umumnya.

Aku beruntung Mbak Melati mau berbagi kiatnya. Mbak Melati mampu mematahkan keraguan dan mengambil keputusan penting, membuat sejarah baru  dalam hidup keluarganya, menggunakan sebuah teknik  yang dikenal dalam dunia Neuro-Linguistic Programming (NLP). Teknik ini  digagas oleh Robert Dilt, seorang pengembang, penulis, pelatih, dan konsultan di bidang NLP . Robert Dilt mengembangkan berbagai teknik  yang disebut sebagai Systemic NLP yang salah satunya disebut Sleight of Mouth (SOM).

Sleight of Mouth yang kalau dibahasa Indonesiakan  istilahnya  Silat Lidah ini sungguh powerful. Teknik ini merupakan perpaduan pola bahasa Meta Model (pola bahasa gagasan John Grinder dan Richard Bandler hasil memodel ahli terapis Fritz Perls dan Viginia Satir) dan pola bahasa Milton Model ( pola bahasa yang digagas John Grinder dan Richard Bandler hasil memodel Milton H Erickson, yang digelari Bapak Hypnosis Modern) .

Kenapa begitu powerful? Karena demikian sistemik, Sleight of Mouth ini mampu mematahkan keyakinan sekaligus menanamkan belief baru yang memberdayakan, sesuai dengan tujuan penggunanya.

Kok bisa-bisanya Emak-emak macam Mbak Mel dan aku nemu teknik SOM? Alhamdulillah kami diajari  CikGu Okina Fitriani yang tak ragu berfoya-foya menumpahkan ilmunya yang bermanfaat.
Nah, balik lagi ke SOM. Teknik ini pernah digunakan suamiku, si Akang,  untuk mengatasi  emosiku. Emosi tak memberdayakan itu sudah berlangsung berbulan-bulan akibat ingin dipuji suami, dan ternyata bisa reda dengan 14 jurus silat lidah.

Bagaimana dengan Mbak Melati dan keraguannya menjalankan ide jalan-jalan sekeluarga keliling Indonesia selama 1 tahun?

Belief atau keyakinan yang menghalangi Mbak Melati untuk melaksanakan niat keliling Indonesia adalah :

“KELUARGAKU AKAN SENGSARA KALAU ABAH BERHENTI BEKERJA DAN KELILING INDONESIA”

Yang dilakukan Mbak Melati adalah memborbardir dirinya sendiri dengan  berbagai pertanyaan berbentuk meta model dan pernyataan berbentuk milton model dengan struktur  14 Jurus Silat lidah  / 14 Sleight of Mouth. Tujuannya :  mematahkan keyakinan tersebut, dan menanamkan keyakinan baru yang memberdayakan.  Prosesnya sebagai berikut :

1.       Meta Frame : Menantang latar belakang belief.
Kamu ngomong begitu karena kamu peduli akan masa depan keluargamu kan?”

2.       Reality Strategi : Menanyakan asal mula diperolehnya belief itu.
“Darimana kamu tahu kalau keluargamu akan sengsara kalau Abah berhenti bekerja dan keliling Indonesia?”

3.       Model of the World : Ubah referensi.
“Apakah dengan terus bekerja di TVOne dan tinggal di Malaysia adalah satu-satunya cara menjamin masa depan keluarga?”

4.       Apply to Self : Membalikkan faktor akibat dan membalikkan faktor penyebab.
“Alangkah monotonnya hidup ini dan kapan kita bisa berkarya di tanah air, kalau terus-terusan tinggal dan bekerja di negeri orang?”

5.       Change Context : Evaluasi implikasi yang lebih luas (Chunk Up)
“Jadi berhenti bekerja dan berkeliling Indoensia pasti bikin sengsara ya? “

6.       Hierarchy of Value : Cari kriteria yang lebih penting.
“Mana yang lebih penting; memberi pengalaman berharga pada keluarga tentang keindahan negeri kita dan kearifan lokal masyarakatnya, juga belajar bersama melalui perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik, daripada diam di negeri orang yang tanpa tantangan dan menjalani hari yang begitu-begitu saja?”

7.       Consequence : Tunjukkan konsekuensi
“Jika stay dan bekerja di negri orang itu satu-satunya cara menjamin masa depan, hati-hati dengan cara berpikir sempit dan menuhankan materi. Padahal rezeki tiap makhluk dari mulai lahir hingga mati dijamin oleh Allah SWT.”

8.       Metaphore : Gunakan analogi.
“Negeri ini menunggu kita menjelajahi setiap sudutnya. Setiap ceruk dananu dan lembah, setiap puncak gunung, memanggil-manggil kita untuk mengunjunginya. Seperti buku, negri ini berisi pengetahuan tentang alam dan hidup. Tinggal kita mau membukanya atau tidak”

9.       Another Outcome : Tawarkan belief lain.
“Berhenti bekerja dan keliling Indoensia adalah cara kita mengenal negeri ini, mengambil hikmah dari kearifan lokal dan belajar menjadi manusia yang lebih baik melalui perjalanan. Perjalanan ini juga jadi sarana belajar yang baik bagi anak-anak, baik dari segi pengetahuan juga life skill, mumpung mereka sedang homescholling.”

10.   Redefine : Mendefinisikan kembali
“Insya Allah kita nggak akan sengsara. Selain memiliki modal usaha, kita juga akan mengumpulkan data dan informasi sepanjang jalan selama perjalanan, yang juga berharga untuk menentukan jenis dan tempat usaha sepulangnya kita dari berkelana nanti.”

11.   Chunk Down :Cari elemen spesifik.
“Yang disebut sengsara itu apa? Kalau bisa menimati tempat-tempat indah dan bertemu langsung dengan masyarakat tradisional yang gaya hidupnya masih selaras dengan alam dan fitrah manusianya, apakah itu yang disebut sengsara?”

12.   Chunk Up : Jadikan abstrak.
“Dengan keliling Indonesia, kita akan menjadi kaya”

13.   Counter Example ;Mencari perkecualian.
“Kalau berhenti kerja dan melakukan perjalanan itu sengsara, berarti keluarga-keluarga pengelana yang keliling dunia itu sengsara juga dong?”

14.   Intent : Pertanyakan intensinya.
“Apakah kamu ragu kita bisa mengeksekusi rencana dengan baik? Insya Allah kita siapkan semuanya dengan baik mulai sekarang, termasuk rencana setelah selesai berkelana nanti.”

Bayangkan anda membaca tulisan ini sambil meng-assosiasikan diri sebagai Mbak Mel, yang punya keyakinan tak memberdayakan. Lalu baca langkah-langkah 14 jurus silat lidah dengan penghayatan penuh, dihirup pelan-pelan pertanyaan demi pertanyaan, kalimat demi kalimat, sambil diresapi.  Apa yang terjadi? Apa yang anda rasakan?

Keliling Indonesia sekeluarga selama satu tahun?? Siapa takut?! Berangkaaaat!!!πŸ™ŒπŸ™ŒπŸ™ŒπŸ™Œ

Penasaran ingin lihat interior dalam mobil keluarga Kusmajadi ? lihat di video ini πŸ‘‡






Berangkaaat...πŸ‘‡





Jumat, 27 Juli 2018

CARA MEMBERDAYAKAN DIRI DENGAN SELF TALK


Saat pertama kali diperkenalkan tentang Neuro Lingusitic Programming (NLP) oleh CikGu Okina Fitriani, beliau menjelaskan tentang NLP Presupositions.  Buat Emak-emak dasteran yang pikirannya simple, aku cukup pusing dengan belasan macam NLP Presuposition itu. Kalimat-kalimatnya singkat, tapi punya makna yang dalam. Untuk mudahnya, aku menganggap bahwa NLP Presuppositions itu adalah prinsip berpikir, sikap dalam memandang dunia dan prinsip berperilaku dalam ilmu NLP.

Salah satu NLP Presupposition yang kemudian dalam perjalanan hidupku terbukti bermanfaat adalah  yang satu ini :


Senin, 02 Juli 2018

Honeymoon Ala Biker dan Boncenger di Kampung Sampireun Garut


Kampung Sampireun Garut

Dua puluh tahun jadi pasangan suami istri,  Aku dan si Akang Sutedja tentu inginnya rumah tangga kami langgeng, sakinah mawaddah warrahmah sampai kehidupan abadi di surgaNya, Aamiin..

Malam menjelang  28 Juni 2018, aku dan Akang nyantai tidur-tiduran di kamar. Kami mengenang lagi setiap mile stone perjalanan pernikahan kami. Alhamdulillah..Banyak sekali nikmat kebahagiaan yang kami rasakan.

Selalu bahagiakah? Ya ada juga bumbu lainnya dong. Kami, eh tepatnya aku, pernah baper-baper nggak jelas saat menanti Allah menitipkan amanah tamu istimewaNya. Lalu anak-anak lahir, seiring dengan karier si Akang dan rezeki  yang terus meningkat .

Selasa, 05 Juni 2018

Kisah Dumdum dan Rasamaha


Keberadaan kucing-kucing liar yang berkeliaran di lingkungan cluster tempat tinggal kami rupanya menyentuh hati anak-anakku, Anin dan Dea. Seingatku, sejak kami pindah ke Bogor tahun 2009, Anin dan Dea sering membelikan makanan kucing untuk diberikan pada kucing-kucing liar yang  menghampiri teras taman samping rumah kami.

Silih berganti kucing-kucing liar datang. Satu persatu mereka diberi nama oleh Anin, Dea dan Rafif. Dulu ada yang namanya si Cross, Mopi, Culun, Belang, Koneng dan lain-lain. Satu persatu mereka menghilang. Ada yang mati kecemplung kolam ikan di taman cluster, ada yang mati di trotoar jalan  karena sudah tua, ada juga yang menghilang tak pernah muncul lagi. Kemungkinan kucing-kucing itu ditangkap, ditertibkan dan dibuang  oleh satpam cluster.

Rabu, 18 April 2018

Cara Jitu Mengugurkan Keyakinan yang Tidak Memberdayakan dengan Meta Model


Kalau kita punya keyakinan yang tidak memberdayakan terhadap diri sendiri, terhadap anak, suami atau orang lain, jangan di pelihara ya.. Mending pelihara kucing atau ayam  J

Keyakinan-keyakinan yang tidak memberdayakan sering disebut limiting beliefs atau mental block. Keyakinan ini jika disematkan kepada diri sendiri akan menghambat kita bertumbuh menjadi lebih baik.  Jika disematkan pada orang lain menjadi label negatif yang selain tidak baik bagi orang tersebut, juga mengganggu emosi kita sendiri saat menghadapi orang tersebut.


Contohnya apa sih limiting belief itu? Kalau ada yang bilang begini,

“Aku itu pemalas.”

“Anakku  yang bungsu itu lemot.”

“Suamiku nggak pernah mendengarkan aku.”

“Aku nggak bisa bicara di depan orang banyak.”

Limiting belief atau label buruk yang kita sematkan pada diri sendiri maupun orang lain membuat kita  tidak punya respon yang luas, sehingga merugikan diri  atau orang-orang terdekat yang kita beri label itu. Kok bisa merugikan?

Jumat, 13 April 2018

TIPS MENYIKAPI SUAMI SUKA MARAH DAN MEMUKUL ANAK


Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting
Nara Sumber : Sutedja Eddy Saputra dan Okina Fitriani

Punya suami yang suka marah dan memukul anak? Bagaimana menyikapi dan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal yang demikian?

Mari simak  poin-poin yang dirangkum dari sesi tanya jawab materi PERAN AYAH dalam Training Enlightening Parenting di Surabaya 7-8 April 2018, bersama nara sumber Sutedja Eddy Saputra dan Okina Fitriani.


Tanya : Suami saya dididik dengan keras oleh orangtuanya dengan hukuman fisik . Salah satunya, pernah kepalanya dibenturkan ke tembok oleh orangtuanya. Ketika menikah, kami sering mengalami perbedaan pendapat dalam hal  cara mendidik anak. Suami saya bersikeras bahwa  anak harus dikerasi.  Saat dia marah dan melakukan hukuman fisik pada anak, saya langsung meng-interupsi, karena saya tak tega pada anak. “Jangan, jangan di pukul!” Begitu saya katakan pada suami. Padahal saya tahu, tidak boleh berbeda pendapat di hadapan anak. Saya sudah memberi tahu suami, tetapi di lain waktu masih saja suami berkeras harus mendisiplinkan anak dengan hukuman fisik. Bagaimana  cara mengatasi hal ini ?

Selasa, 10 April 2018

LONG DISTANCE RELATIONSHIP DAN RAHASIA MENGAJAK SUAMI AKTIF BERMAIN DENGAN ANAK



Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting
Nara Sumber : Okina Fitriani dan Ronny Gunarto

 Seorang istri menjalani Long Distance Relationship (LDR) dengan suaminya  karena suami bekerja  jauh dari tempat tinggalnya. Sang istri  mengeluh tentang cara mengajak suami aktif bermain dengan anak saat suami berada di rumah.

Berikut ini  tips dari Mas Ronny Gunarto dan Mbak Okina Fitriani yang disarikan dari materi “KOMUNIKASI SUAMI ISTRI “ yang disampaikan dalam  Enlightening Parenting Training,  Surabaya 7-8 April 2018.


Tanya : Saya  dan suami  menjalani LDR. Kami punya anak usia 3 tahun. Saat suami jauh, selalu saya yang menghubungi dia dengan video call supaya bisa ngobrol dengan anak. Lalu ketika suami pulang, dia kurang aktif bermain dengan anak.  Bagaimana sebaiknya, apakah saya harus ikut suami, atau biarlah seperti ini keadaannya, dan apakah meski LDR hubungan kami bisa tetap baik juga?

Sabtu, 31 Maret 2018

TIPS MENGEMBALIKAN ANAK PADA FITRAH BAIKNYA : BANGUN DINI HARI.


SERI TANYA JAWAB ENLIGHTENING PARENTING
BERSAMA PSIKOLOG OKINA FITRIANI


Masih ingatkah kita, bahwa bayi suka sekali bangun menjelang subuh?

Manusia didesain Tuhan untuk beribadah dan memulai kegiatan produktif sejak dini hari.
Tapi apa yang dilakukan sebagian orangtua? Mereka sibuk menidurkan lagi bayinya supaya kegiatan pagi orangtua tidak terganggu.

Lalu kemudian orangtua mengeluh. " Kenapa kok kamu susah sekali bangun pagi, Naaaak??!!"
Andakah orangtua yang seperti ini? Mari kembalikan lagi anak ke fitrah baiknya : bangun subuh/ dini hari.
Caranya? Ikuti di sini ya.