Jumat, 23 Agustus 2019

PELESIRAN MESRA DI BATAM DAN BINTAN



Kali ini si Akang ada kerjaan di Batam dan dia  mengajak bininya ikut. Hihihi...๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Ngapain ikut suami kerja? Ya kalau diajak suami nggak boleh nolak kan ya.. Dengan kehadiran istri, dia merasa lebih nyaman. Dan aku juga tidak akan ikut ke lokasi Shipyard tempat dia bekerja. Aku hanya menemani dia di hotel dan saat sudah selesai kerjaannya. (Ini sebenarnya percakapan self talkku. . ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚)

Aku berangkat ke Batam dari Palembang. Karena dari Kamis 15 Agustus aku ada di Palembang untuk menengok Mami dan mertuaku. Tepat di hari kemerdekaan, 17 Agustus 2019,  tiba di bandara Hang Nadim Batam pukul 13.00. Dengan taksi aku langsung menuju hotel Harmoni di kawasan Sungai Jodoh, Nagoya. Ternyata hotelnya terletak di pusat kota Batam. Di mana di sekeliling hotel terdapat beberapa tempat makan yang terjangkau dengan jalan kaki.

Akang berangkat dari Bogor dan tiba di hotel sore hari.  Hari ini kami habiskan dengan santai-santai di hotel.

Hari Minggu 18 Agustus 2019, usai akang mengunjungi Shipyard, kami makan siang menikmati sop ikan khas Batam yang sudah dari dulu ngehits.

Akang memilih menu sop ikan, aku memilih sop ikan dicampur sea food.  Sop ikan dan sea food ini enak, segar. Cocok sekali dengan selera kami yang suka makan makanan berkuah, panas dan gurih. Potongan daging ikan, dimasak dengan kuah  dicampur bumbu, potongan tomat hijau dan sayur. Semakin mantap rasanya setelah aku campurkan irisan cabe rawit hijau. Hmmm...yummmy.


Lalu ada siput gong gong. Siput ini direbus, kemudian disajikan di piring lengkap dengan sambal untuk cocolannya. Rasanya kenyal-kenyal, lumayan enak. Meskipun menurutku siput ini lebih enak kalau dibuat jadi  keripik.


Yang juga enak adalah menu ayam goreng bawang. Tampaknya menu ini juga khas Batam, karena ayam goreng bawang ini disajikan juga di menu sarapan di hotel. Ayamnya dipotong-potong kecil, digoreng dengan bumbu spicy, lalu disajikan dengan bawang putih yang digoreng lengkap dengan kulitnya. Aku tak cuma mencicipi ayam yang dagingnya lembut spicy, tapi bawang putih goreng itu ternyata enak juga. ๐Ÿ˜‹


Sore itu aku dan Akang menghabiskan waktu ngegym di hotel.



“Nanti malam kan kita mau makan duren, Neng. Jadi sekarang kita bakar lemak dan kalori dulu. Supaya gak kegendutan.” Begitu saran si Akang.

Malamnya kami kelayapan keluar hotel. Ngapain lagi kalau bukan mencari durian. Si akang penggemar berat buah berduri itu.  Kabarnya, durian import dari Malaysia sampai juga ke Batam. Maka kami terdampar di kawasan Tanjung Batu. Di sana ada kios Durian Datuk yang menyediakan durian-durian import dari Malaysia.

Sebenarnya kami datang ke tempat ini bukan di waktu yang tepat. Saat itu jam 7.30 malam, sedangkan kiriman durian biasanya datang jam 9 malam. Sehingga saat itu kami hanya kebagian “sisa” saja. Tapi Alhamdulillah.. masih ada durian  jenis Teik Kah, Udang Merah daaan.... Musang King.







Durian udang merah dagingnya berwarna sedikit orange. Rasanya manis. Teik Kah lebih enak, manis dan ada pahitnya. Bagiku, paling juara rasanya adalah Musang King. Manisnya ngejreng, daging buah berwarna kuning glowing cantik, pahitnya ada sedikit saja, daging buah tebaal, bijinya tipis kempet. Tapi bagi si Akang, dia lebih suka makan Teik Kah yang rasa pahitnya agak lebih kuat dari Musang King. Sayang sekali, durian jenis Duri Hitam, yang paling digemari Akang, tidak tersedia.

Hari ini ditutup dengan bobok cantik kekenyangan makan durian.

Si Akang, belahan jiwa yang baik hati  terlihat gantengnya meningkat berlipat-lipat di mataku.  Bagaimana tidak, dia mengajak aku jalan-jalan ke Pulau Bintan.  Yeayyy....

Kerjaan gimana kerjaan? Hehehe... pas banget ini rezeki istri shalehah.  Ada beberapa hambatan di lapangan sehingga kerjaannya belum  bisa dimulai, baru bisa dimulai esok harinya.

Maka, kami memesan mobil sewaan untuk jalan-jalan satu hari di Pulau Bintan.  Akang pesan di nomor ini : Tanjung Uban Rental ( Pak Adi ) 082284812724.

Sewa mobil + sopir+ bensin+ parkir seharian Rp. 550.000,- Jenis mobil yang kami sewa Proton Exora. Kami baru tahu kalau harganya bisa ditawar sebenarnya. Tapi ya nggak tega juga nawarnya. Hehe..๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ


Pagi-pagi kami bangun dengan semangat 45. Sepertinya masih terpengaruh suasana 17 Agustusan. Usai sarapan, sekitar jam 7 pagi akang memesan taksi online untuk menuju ke Pelabuhan Telaga Punggur. Atas petunjuk seorang teman, kami disarankan naik speedboat menuju Pelabuhan Tanjung Uban Pulau Bintan. Dia tidak menyarankan naik kapal Roro/ ferry karena membutuhkan waktu menyeberang yang lebih lama yaitu 1 jam. Dengan speedboat hanya butuh 15 menit saja menyeberang dari Telaga Punggur ke Tanjung Uban.

Setelah membayar taksi online sejumlah Rp. 95.000 untuk perjalanan sekitar 35 menit dari hotel, kami turun di Pelabuhan Telaga Punggur.

Suasana sepi, tapi counter-counter tiket sudah buka. Kami memilih counter tiket untuk menuju ke Tanjung Uban. Harga tiketnya Rp. 53.000 per orang. Setelah dapat tiket, dengan langkah cepat kami berjalan menuju dermaga.

Speedboat sudah menanti di dermaga. Tak menunggu lama, kapal kecil itu segera membawa kami menuju Tanjung Uban. Perjalanan singkat  dengan pemandangan laut dan langit  biru, angin kencang  menerjang jilbabku lewat  jendela kapal , mengingatkan aku saat bulan Juli lalu ketika menyeberangi laut menuju  Venezia Italy yang juga dilakukan dengan speedboat. Ah..senangnya. Kini kami jalan-jalan lagi.


Pelabuhan Tanjung Uban juga tidak terlihat ramai. Setelah kapal bersandar, kami cepat-cepat berjalan menuju parkiran mobil. Akang menelpon driver, dan segera disambut. Nama drivernya Pak Adi. Lelaki usia  30an tahun itu terseyum ramah menyambut kami.



“Kita langsung ke objek wisata Gurun Telaga Biru ya Pak.” Usul Pak Adi. Kami berdua manut saja.

Dari pelabuhan Tanjung Uban, kami menempuh jarak sekitar 17 km. Selama berkendara, melewati  hamparan semak dan tanah kering di sisi jalan,Pak Adi bercerita tentang pualu Bintan dan bagaimana dia bertemu istrinya yang orang Palembang, hingga menikah dan menetap di pulau ini. Menurut Pak Adi sebagian besar tanah di pulau ini milik Salim group. Termasuk juga wilayah objek wisata yang sedang kami tuju.

 GURUN TELAGA BIRU DESA BUSUNG

Gurun pasir Telaga Biru desa Busung  terletak di Kecamatan Tanjung Uban, Kabupaten Bintan, Propinsi Kepulauan Riau. Dari Pelabuhan Tanjung Uban butuh waktu sekitar 20 menit perjalanan. Sedangkan dari bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjung Pinang maupun Pelabuhan Tanjung Pinang membutuhkan waktu tempuh sekitar 45 menit dengan mobil.

Tempat ini sebelumnya adalah area penambangan pasir bauksit yang kini sudah mengeras seperti karang. Penambangan sudah lama dihentikan sejak Orde Baru masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Puluhan tahun terbengkalai, cekungan bekas galian kemudian terisi air, membentuk telaga dengan air yang hijau kebiruan, bening dan tenang.

Terdapat pula gundukan-gundukan pasir mengeras berwarna cream dengan butiran berkilau seluas 6000 hektar, tampak seperti gurun di Timur Tengah. Tempat ini menjadi sangat cantik ketika diabadikan dalam foto.

Masuk ke area ini tidak ada biaya retribusi, hanya perlu membayar uang parkir Rp. 2000,- untuk motor dan Rp. 5.000 untuk mobil.

Matahari bersinar terang, namun arah datang cahaya matahari seolah mendukung kami menghasilkan foto-foto cantik.

Terdapat telaga biru di bagian depan area, namun Pak Adi membawa kami ke telaga biru yang lebih jauh, melewati gurun pasir.

Serombongan turis asing berbahasa China berbondong-bondong turun dari bus, kemudian menyerbu gurun dan telaga biru. Aku tersenyum-senyum melihat seorang gadis melepas pakaian luarnya, rupanya dia sudah siap bergaya dengan baju senam, lalu berpose dengan pose yoga di atas titian telaga biru. Temannya sibuk memotret sang gadis dari berbagai posisi. Hahaha... keren. Niat banget.

Pak Adi memotret  kami di tiap spot cantik, baik di gurun maupun di telaga biru. Hasilnya bisa dilihat di sini.





“Neng, ini tempatnya memang cantik ya. Tak perlu photographer profesional, driver mobil sewaan saja dengan sedikit arahan sudah bisa menghasilkan foto dengan komposisi cantik begini.” Ujar Akang puas melihat hasil jepretan Pak Adi.

Panas terik matahari membuat kami haus. Setelah berfoto dan menikmati suasana, kami duduk di tenda-tenda warung menyeruput air kelapa muda yang menyegarkan. Warung-warung itu juga menjual durian. Tapi kami tidak membeli karena Pak Adi bilang lebih baik beli di tempat yang khusus menjual buah durian.

“Jangan khawatir, Pak. Nanti kita mampir makan durian di perjalanan kita  ini. Banyak juga tempat makan durian di pinggir jalan. “ Ujar pak Adi.

LAGOI BAY 

Pak Adi kemudian membawa kami ke Lagoi Bay. Berada pada kawasan seluas 1.300 hektar, Lagoi Bay adalah ‘jantung Pulau Bintan’. 


Di area ini terdapat banyak tempat makan  dan hotel-hotel mahal.  Ada juga kebun binatang dan Treasure Bay Lagoi, yaitu kolam renang terbesar di Asia Tenggara. Luasnya mencapai 6,3 hektar, dan memiliki panjang 800 meter. Luas  permukaannya bahkan setara dengan 50 kolam renang untuk ukuran olimpiade. Daya tamping airnya sampai 115 juta kubik, dengan kedalaman terjauh adalah 2,5 meter.



Sayangnya untuk kali ini kami  memutuskan tidak mengunjungi Treasure Bay, karena waktu yang sempit dan tidak bawa pakaian renang. Mungkin nanti kalau ada kesempatan lagi, ingin rasanya menginap dan menikmati suasana Treasure  Bay.


Kami hanya mengunjungi Lagoi Bay saja. Di sini terdapat Lantern Park, taman lampion yang buka pada malam hari. Tapi sayangnya taman ini sedang tutup, karena renovasi.

Di Lagoi Bay, pantainya landai . Akang menatap hamparan laut dan pantai tanpa selera.


“Akang lebih suka pegunungan Neng.” Ucapnya.

“Nanti kita ke pantai yang bagus, Pak. Namanya Pantai Trikora. Jauh lebih bangus dari tempat ini.” Ucap Pak Adi.

 MAKAN DURIAN LOKAL BINTAN 

Dari Lagoi Bay, Pak Adi membawa kami makan durian. Duriannya jenis lokal. 


Salah seorang teman yang tinggal di Batam meminta aku mencoba durian daun kalau berkunjung ke Bintan. Katanya enak. 

Durian daun ukurannya kecil, durinya langsing dan rapat. Buahnya pun kecil-kecil. Rasanya bagaimana? Hehehe... kurang enak menurutku dan akang. 

Ini masalah selera. Aku yang sudah mencicip durian import seperti Musang King jadi punya standard yang tinggi untuk ukuran kelezatan durian. Dan Durian daun ini  menurutku ada di bawah standard enak. 


Kami mencicipi durian lokal juga. Lumayanlah.. manis dan cukup enak  meski tidak seenak durian import.

PONDOK TELUK BAKAU BAY VIEW

Siang makin menjelang. Pak Adi membawa kami ke resto Seafood di kawasan pantai Trikora. Nama tempatnya “Pondok Makan Teluk Bakau Bay View”.


Berharap bisa menyantap ikan bakar, Akang jadi kecewa karena ikan tidak tersedia.  Akhirnya kami memesan cumi lada hitam, Ayam goreng bawang, siput gong gong, dan tumis kangkung. Kenyaang..

PANTAI TRIKORA 3


Setelah shalat zuhur dan ashar dijamak, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Trikora 3.  Naah... ini baru pantainya cuantiiik.



Pantai Trikora terletak di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Pulau Bintan.  Nama Trikora berasal dari nama “three corral”, yang diberikan oleh wisatawan asing yang kala itu berkunjung ke pantai ini. Demikian menurut cerita masyarakat sekitar.

Versi lainnya  mengaitkan bahwa Trikora berhubungan dengan Tri Komando Rakyat. Dimana pada saat pemerintahan Presiden Soekarno, tengah hangat beredar isu tentang “Ganyang Malaysia”, dan pantai ini merupakan basis pertahanan wilayah terluar Indonesia pada masa itu.

Terdapat pantai Trikora 1, Trikora 2, Trikora 3 dan 4. Pak Adi membawa kami ke pantai Trikora 3, yang menurutnya paling indah.





Dan memang benar apa yang dikatakan Pak Adi. Pantai Trikora terbentang sepanjang 25 kilometer. Di Trikora 3, bentang pantainya bervariasi, dari pantai yang landai hingga bagian yang dihiasi batu-batu granit besar, baik di pinggir pantai maupun agak ke tengah  lautan. Dari pantai ini pun terlihat tanjung, yaitu bagian pantai yang mejorok ke lautan. Sehingga bentnag pantai Trikora 3 terlihat cantik sekali.

Airnya biru tenang, bening. Angin bertiup semilir. Di tepi pantai berderet gazebo kayu untuk duduk-duduk bersantai menikmati suasana.

Aku dan Akang tak melewatkan kesempatan ini. Kami menikmati suasana lalu berfoto-foto mengabadikan kecantikan pantai ini. Kecantikan pantai Trikora mirip dengan pantai-pantai berbatu seperti pantai Parai di Pulau Bangka dan pantai-pantai di Pulau Belitung.

DURIAN SI KUNING


Sebenarnya aku ingin lebih lama berada di tempat ini, tapi Akang masih ingin makan durian.  Ya Allah... si Akang bukan main gemarnya makan durian. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ 

Kami mampir lagi ke kedai durian pinggir jalan. Alhamdulillah kami beruntung bisa mencicipi durian Si Kuning. Durian tembaga yang tampilannya cukup menggiurkan. Buahnya kuning glowing mirip tampilan  Musangking. Rasanya enak juga, meski masih kalah dengan Musang King.

 OTAK OTAK DEKAT JEMBATAN 

Mbak Melati, salah satu sahabatku, merekomendasikan makan otak-otak pulau Bintan yang katanya dijual dekat jembatan. Kampi pun mencari lokasi makanan ini. Alhamdulillah ketemu.. Yeayy...


Otak-otak Bintan terbuat dari ikan, dan ada juga dari cumi.  Adonan ikan atau cumi dicampur bumbu warna merah, lalu dibungkus dengan daun kelapa, lalu dibakar. 



Rasanya enaaak... dan harganya murah. Otak-otak ikan dijual @Rp. 1.000,- dan otak-otak cumi @Rp. 2000,- . Agak jauh dari jembatan bahkan kami menemukan otak-otak yang lebih enak dan lebih tebal ukurannya. Otak-otak ini terbuat dari ikan dicampur cumi dan harganya Rp 1000,-. Jangan lupa mencicipi makanan ini kalau ke pulau Bintan dan Batam ya..


Menjelang pukul 4 sore, aku dan Akang diantar kembali ke pelabuhan Tanjung Uban. Sepanjang jalan rasanya hatiku hangat, tangan kami saling bergenggaman, nyaman sekali, berasa kayak penganten baru๐Ÿ˜š๐Ÿ’˜๐Ÿ’˜๐Ÿ’˜ ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ . Tampaknya kena pengaruh suasana tempat-tempat indah yang baru saja kami kunjungi. 

Sesekali akang mencium tanganku. Romantis?? Bukaan.. Soalnya tanganku bau durian. Hahahaha...๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Alhamdulilah.. hari yang indah.


Minggu, 10 Februari 2019

MENJADI ORANG YANG FLEKSIBEL BUKANLAH BERGANTI- GANTI TOPENG



Di kelas komunikasi Suami Istri -Enlightening Parenting,Jakarta 2 Februari lalu, salah seorang peserta bertanya tentang kiat menghadapi berbagai situasi dan kondisi sehubungan dengan perannya yang berbeda-beda di berbagai komunitas. Mbak Okina Fitriani, Mas Ronny Gunarto dan Akang Sutedja E Saputra membagikan tips, landasan ilmu,   dan sharing pengalaman mereka untuk menjawab pertanyaan ini.

Nara Sumberr dan panitia Kelas Komunikasi Suami Istri- Enlightening Parenting
Kelas Komunikasi Suami Istri Enlightening Parenting, Jakarta 2 Februari 2019, Amaris Hotel Tebet

Tanya :

Bagaimana cara  berinteraksi dalam lingkungan yang berbeda-beda.
Misalnya, kalau di rumah saya kan seorang suami, juga seorang ayah bagi anak-anak, dan juga seorang menantu. Sedangkan di tempat kerja saya harus berperan sebagai leader.  

Kemudian di komunitas sosial, lingkungan teman-teman lama, teman-teman sekolah saya, mereka itu kan tahu benar siapa saya.  Masing-masing peran itu ritmenya berbeda-beda.

Akhirnya saya merasa  harus memasang “topeng” yang berbeda-beda. Masalahnya, kadang-kadang di kantor, rekan kerja suka bertanya hal-hal yang remeh pada saya. Sehingga saya berpikir, kok hal yang seperti ini ditanyakan ke saya? Nah, masalah harus pasang-pasang topeng ini  membuat saya cukup stress. Bagaimana menyikapinya?

Jawab :

 Okina Fitriani :

Respon kita tergantung makna yang kita pilih. Anda menjadi stress karena memilih makna “memakai topeng”.

Orang yang paling efisien, orang yang paling berhasil, adalah orang yang paling fleksibel.  Orang  yang fleksibel maksudnya apa? Yaitu orang yang mampu me-manage state yang berbeda-beda.

Kalau anda baca buku Tonny Robbins, bagaimana menjadi orang yang powerful, kita harus bisa punya state yang berbeda dalam berbagai situasi dan kondisi.

Nah, kalau anda maknai, “Aku ini pakai topeng.” Maka respon emosi anda  tidak memberdayakan.

Tapi coba kalau anda maknai, “Aku ini orang yang paling efektif dan fleksibel.”State emosi anda akan berdaya.

Ya memang harus beda. Contohnya, kalau ada atasan di kantor ngomong sama anak buahnya,

“Haii.. bikinin  aku dong... simulasi..” Dengan nada manja-manja minta alem. Yaaah... ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚itu namanya gatel๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜œ

Tapi kalau di rumah dia ngomong sama istrinya,” Ma, bikinin kopi dong..” Dengan nada manja dan tatapan mesra. Ini cocok๐Ÿ‘Œ๐Ÿ‘๐Ÿ‘.

Padahal sama saja kan kondisinya : minta sesuatu, tapi harusnya dilakukan dengan state yang berbeda.

Contoh lainnya, seorang pria di rumah ditanyai istrinya,

” Sayang, hari ini teh-nya mau manis atau kurang manis?” (Padahal istrinya sudah tahu kegemaran suami).

Suami menjawab dengan lembut,

”Mau yang kurang manis, sayang..”

Tapi kalau di kantor, sebagai atasan, dia ditanya oleh office boy, 

“Pak, hari ini teh-nya mau pakai gula 1 sendok atau 2 sendok?”

Pantas  kalau dengan tegas  dia menanggapi,

”Tujuh tahun lho kamu sudah membuatkan saya teh manis tiap pagi. Masak nggak hafal kesukaan saya?”

Coba bayangkan kalau si pria menanggapi pertanyaan office boy dengan state yang sama dengan ketika menanggapi pertanyaan istrinya,

”Mau yang satu sendok, sayang..”

Wk..wk..wk..wkk...๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜œ Gak cocoook.

Jadi bukan plin-plan. Kita memang harus berganti gaya di mana-mana, tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi.

Contoh lain. Anda sedang memimpin rapat penting di kantor. Anda mengarahkan anak buah dengan tegas dan  serius. Di tengah rapat, tiba-tiba  ada kabar dari satu unit kerja  bahwa ada musibah kebakaran. Maka anda harus berubah state, menanggapi dengan  wajah penuh empati. Bertanya kepada lembut, menghibur korban. 

Lalu saat pulang ke rumah, bertemu anak.  Maka berubah lagi state-nya, anda  bersikap playful pada anak. Ada haditsnya kan..

Suami bersikap berwibawa, disegani dan bisa diandalkan di luar rumah, baik itu ketika bekerja atau bermuamalah. Tetapi di dalam rumahnya, seorang suami ramah, akrab dan bermain-main dengan istri dan anak-anaknya. 

Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Perhatikan riwayat berikut,

ุนู† ุซุงุจุช ุจู† ุนุจูŠุฏ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ู‚ุงู„ : ู…َุง ุฑَุฃَูŠْุชُ ุฃَุญَุฏًุง ุฃَุฌَู„َّ ุฅِุฐَุง ุฌَู„َุณَ ู…َุนَ ุงู„ْู‚َูˆْู…ِ ، ูˆَู„ุงَ ุฃَูْูƒَู‡َ ูِูŠ ุจَูŠْุชِู‡ِ ، ู…ِู†ْ ุฒَูŠْุฏِ ุจْู†ِ ุซَุงุจِุช
Dari Tsabit bin Ubaid,  “Aku belum pernah melihat seorang yang demikian berwibawa saat duduk bersama kawan-kawan namun demikian akrab dan kocak saat berada di rumah melebihi Zaid bin Tsabit”

Nada suara pun berbeda, intonasi dan ekspresi wajah harus manis dan menyenangkan.

“Hallo sayang...๐Ÿ’•๐Ÿ’– Mau main apa? Main bola?  Main lego? Yuk main sama Papa..๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ’ž”

Coba bayangkan kalau anda itu bicara seperti itu pada boss anda. ๐Ÿ˜ต๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ณ

Nah. Segala stimulus itu netral. Tergantung bagaimana kita memberi makna.  

Jadi, ganti frame anda. Bahwa menjadi orang yang fleksibel bukanlah berganti-ganti topeng. Orang yang paling fleksibel adalah orang yang paling berhasil. 

Di training Enlightening Parenting diajarkan bagaimana memanage state dengan beragam teknik. Salah satunya dengan anchor. Kalau anda sudah mahir, anda bisa berganti-ganti state dalam hitungan detik.


Ronny Gunarto :

Memang benar apa yang dikatakan istri saya. Saya misalnya, ketika sedang meeting dengan Vice President atau atasan saya.  Tiba-tiba istri menelepon dan menceritakan sesuatu yang sangat berbeda dengan urusan kantor. Yang saya lalukan ya “switch/beralih” saja. State saya berubah, intonasi saya berubah,padahal beberapa detik sebelumnya saya presentasi dengan intonasi yang keras. Itu sebenarnya sesuatu yang sangat mudah dilakukan.

Dalam konteks komunikasi suami istri, ada hal penting yang ingin saya ingatkan. Banyak orang ketika bersikap kepada orang lain, baik itu tetangga, kenalan, rekan kerja, bahkan orang yang baru kenal, bersikap sangat baik, sopan, lembut, senyum.  Tapi, ketika berhadapan dengan istri, atau suami bersikap “jutek”๐Ÿ˜’๐Ÿ˜ .

Padahal, pasangan  adalah orang yang sangat penting dalam kehidupan kita. Mengapa cara kita berkomunikasi dengan dia  lebih buruk dibandingkan dengan orang lain?

Coba saja, kalau bertanya pada orang yang tidak kita kenal, ketika dijawabnya, lalu kita balas dengan sopan, lembut, senyum๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜„,

“ Terimakasih, Pak. Terimakasih, Bu..”

Tapi pada pasangan kita yang setiap hari memenuhi kebutuhan kita, apakah kita sopan, lembut tersenyum dan mengucapkan terimakasih?

Inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau sangat baik dengan keluarga, istri dan anak-anak beliau. Beliau bersabda,

๏บงَ๏ปดْ๏บฎُ๏ป›ُ๏ปขْ ๏บงَ๏ปดْ๏บฎُ๏ป›ُ๏ปขْ ๏ปทَ๏ปซْ๏ป ِ๏ปชِ ๏ปญَ๏บƒَ๏ปงَ๏บŽ ๏บงَ๏ปดْ๏บฎُ๏ป›ُ๏ปขْ ๏ปทَ๏ปซْ๏ป ِ๏ปฒ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku”.

Di riwayat yang lain,

ูˆَุฎِูŠَุงุฑُูƒُู…ْ ุฎِูŠَุงุฑُูƒُู…ْ ู„ِู†ِุณَุงุฆِู‡ِู…ْ ุฎُู„ُู‚ًุง

“dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya”

Jadi, mari kita tanamkan, bahwa ketika istri atau anak kita membutuhkan,  prioritaskan mereka untuk memperoleh state kita yang terbaik.

Sutedja E Saputra :

Saya ingin menambahkan pengalaman saya sehubungan dengan apa yang disebutkan sebagai “memakai topeng” tadi.

Suatu hari saya meeting dengan rekan-rekan lama. Kami dulu pernah bekerja di satu perusahaan yang sama, tapi sekarang masing-masing di perusahaan yang berbeda. Setelah meeting, saya masih ngobrol-ngobrol dengan rekan-rekan saya. Saya ingat, di kantor itu, ada salah seorang alumni training Enlightening Parenting. Maka saya telepon dia saya ajak bergabung dan ngobrol juga. Ketika dia datang, saya perkenalkan pada rekan-rekan saya.

Salah satu rekan lama, dengan suara  lantang dan  logat Batak yang sangat kental, langsung berkomentar.

“Kenal dimana kau dengan Sutedja ini? “

Alumni itu menjelaskan   bahwa dia kenal ketika ikut training Enlightening Parenting.

“Pak Sutedja ngasih materi waktu training Enlightening Parenting, Pak.” Jawabnya.

“Kok kau percaya sama Sutedja ini๐Ÿ˜?  Kau tau gak,  aku kenal sama dia ini  sejak tahun 1997. Kalau ngomong kencang sekali dia.  Kerjanya marah-marah dan mukulin orang saja✊๐Ÿ˜ˆ!”

Apakah saya marah ketika rekan saya bicara begitu?  Bisa saja saya malu,  di depan alumni training kan pantesnya  jaga wibawa. Tapi saya tidak marah. Saya berkata pada alumni itu,

“Apa yang dikatakan Bapak ini benar. Saya dulu seperti itu. Tapi sejak 2016 saya berubah.”

“Iya, Pak. Saya tau. Hal ini juga sudah Bapak disampaikan saat training.”

Apakah saya malu? Tidak. Di facebook itu kan banyak kawan-kawan kecil saya yang tau benar kelakukan saya dulu yang bandel luar biasa. Tukang  maling buah tetangga, tukang berantem mukulin anak orang,  tukang ngadu ayam. Lalu sekarang facebook saya penuh dengan kegiatan-kegiatan parenting. Saat bertemu teman-teman bertanya.

“Apa betul kau berubah begitu?”

Ya saya jawab bahwa saya berusaha menjadi lebih baik saja.

Jadi bukan pasang topeng. Kalau kita memang sudah punya komitmen untuk menjadi lebih baik,  toh itu yang kita lakukan.

Seringkali saya bicara dengan nada tegas dan keras saat memberi arahan dalam meeting di kantor, sedetik kemudian bicara lembut ketika istri menelepon, lalu senyum-senyum baca WA dari anak-anak.  

Fleksibel, berganti-ganti state sesuai kondisi dan situasi, itu skill yang bisa dilatih, untuk menjadi orang yang efektif dan efisien.


Kamis, 31 Januari 2019

PARA ISTRI MARI LURUSKAN NIAT



Beberapa bulan yang lalu, salah seorang ibu yang hadir di sharing session Enlightening Parenting, meminta waktu untuk curhat usai acara. Ibu muda ini menanyakan kiat-kiat membangun kemesraan dengan suami, sambil curhat tentang rumah tangganya yang tengah dilanda masalah.

“Oh, jadi begitu ya Bu, supaya suami mesra. Kalau saya melakukan langkah-langkah membangun kemesraan itu, dijamin gak,Bu, suami saya akan setia pada saya, tidak menjalin hubungan dengan wanita lain?”

Kata-kata itu diajukan dengan nada sedih setengah putus asa dan mata berkaca-kaca. Aku terdiam sejenak mencerna pertanyaannya.

“Bu, aku tidak bisa menjamin. Aku ini bukan siapa-siapa. Bahkan di dalam Al Qur an juga tidak ada ayat yang menyebutkan kalau istri bersikap mesra maka suami akan setia. Tidak ada. “

Jawaban itu membuat si ibu kecewa. Wajah cantiknya menunduk.

“Bu, saya ingin tanya. Apakah tujuan ibu mau berbaik-baik pada suami, mau membangun kemesraan dengan suami, supaya suami tidak melirik wanita lain?”

“Iya.”

“Bu, tujuan yang hasilnya bergantung pada orang lain adalah tujuan yang paling besar kemungkinannya membuat frustasi, membuat kecewa. Kita tidak bisa mengatur orang, meski itu suami sendiri. Mau nggak aku sarankan cara untuk terhindar dari kecewa, atau frustasi?”

Si Ibu mengangguk.Aku kemudian menceritakan pengalamanku padanya, tentang berbuat sesuatu dengan tujuan berharap pada suami.

“Bu, aku pernah, berbulan-bulan mengaduk-aduk bahan bakso di dapur, ingin sekali membuat bakso yang enak dengan resep sendiri. Tujuannya supaya suami suka bakso buatanku, lalu memuji. Akhirnya aku dapat resep yang pas. Resep itu aku posting di web, lalu menjadi viral di internet. Ratusan orang memuji resep itu karena hasilnya enak. Tapi ketika menyajikan bakso itu pada suami, tidak ada tanggapan sama sekali. Mukanya lempeeng saja. Tidak bicara apa-apa. Tidak ada pujian seperti yang diharapkan. Aku kecewa, marah, kesal, merasa sia-sia. Tapi sahabatku, Mbak Okina Fitriani mengingatkan.

“Mbak Iwed. Mari kita luruskan niat. Letakkan makna baru dalam niatnya Mbak Iwed untuk melayani suami dan anak-anak. Lakukan karena Allah SWT semata. Jangan demi pujian, demi cinta, atau yang lain. Lakukan semua kebaikan untuk suami, anak-anak, atau siapa pun semata-mata karena mengharap ridho Allah. Jadi, bila hasilnya tidak memperoleh pujian atau penghargaan dari makhlukNya, Mbak Iwed tidak akan kecewa. Yang penting Allah mencatatkan semua amal baikmu. Nanti, di kehidupan abadi, semua tidak ada yang sia-sia. Allah menilai usaha Mbak Iwed, bukan hasil.”

Begitu katanya.

"Nah, kembali lagi ke masalah membangun kemesraan supaya suami setia. Ini juga sama. Ada kata-kata bijak dari Ali Bin Abi Thalib yang menyebutkan,

“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.”

Ada perintah dalam Al Quran surat Al Insyirah (94) ayat 8 menyebutkan “ dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

Maka kembali lagi, sebagai istri, mari luruskan niat. Supaya tidak kecewa, tidak frustasi, mari sandarkan harapan kepada Zat yang tidak pernah ingkar akan janjiNya. Allah tidak pernah lalai mencatat kebaikan hambanya walau sebiji zarah sekalipun, akan dibalas dengan pahala disisiNya.

Ibu muda tersenyum. Wajahnya terlihat lebih cerah. Semoga apa yang aku sampaikan membuka pikirannya. Aamiin

Pesanku untuk para istri, apa pun kebaikan yang dilakukan, baik itu melayani suami, bermesra-mesra, berkata lembut, menuruti perintah suami selama tidak melanggar syariatNya, lakukanlah dengan niat hanya untuk mengharap ridho Allah semata.

Bukan supaya suami makin cinta, supaya suami makin mesra, supaya suami setia dan lain-lain.

Istri sudah berupaya berbuat baik, lalu ternyata suami tidak makin cinta, tidak mesra, tidak makin baik, tidak setia.
Dipandang di level dunia, upaya para istri berbuat kebaikan itu tampaknya sia-sia saja.

Tapi bila istri meletakkan harapan di level yang paling tinggi, level akhirat, maka semua upaya istri itu di mata Allah SWT tidak ada yang sia-sia. Allah tidak lalai mencatat, dan kelak istri akan mendapat balasan kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.

Bila upaya istri dibalas suami dengan kebaikan juga, dengan kemesraan, dengan kesetiaan, maka itu hanyalah bonus semata. Biasanya, hasil tidak mengkhianati upaya.๐Ÿ˜

Sebenarnya tidak ada ruginya sama sekali berbuat baik pada suami kan ya? Mau dibalas suami atau tidak, istri tetap dapat pahalaNya.

Lagi pula, kalau ada suami yang menyia-nyiakan istri yang baik lagi shalihah, sebenarnya yang rugi siapa?
Jadi tunggu apa lagi? Yuk para istri benahi niat. Berbuat kebaikan pada suami untuk mendapat ridhoNya. Semangaaat !!!...๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ❤️❤️❤️❤️