Minggu, 13 Januari 2019

MEMBANGUN IMUNITAS ANAK TERHADAP PENGARUH BURUK LINGKUNGAN




Tanya : 

Saya sekolahkan anak saya di Islamic School dengan harapan dia mendapatkan cultur Islami. Tapi dia dapat cara nembak cewek, dan hal-hal seperti itu. Apakah saya harus mengisolasi anak di rumah supaya tidak terpengaruh hal-hal buruk? Bagaimana membuat imunitas anak ini, supaya kalau saya lepas di hutan, di mana-mana pun, dia bisa tetap baik?

Jawab : 

PENGARUH LINGKUNGAN SEKOLAH DAN CARA MENGATASINYA



Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting bersama Okina Fitriani
Tanya : 

Anak saya umur 10 dan 7, dua duanya laki-laki. Mereka banyak meluangkan waktu di sekolah. Sampai rumah sudah jam 4 sore. Paling hanya dua jam saja efektifnya saya berkomunikasi dengan anak-anak. 

CARA MEMBERI TAHU ANAK KRITERIA MEMILIH JODOH



Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting bersama Okina Fitriani

Tanya :
 Bagaimana cara memberitahu anak kriteria memilih pasangan?

Jawab :

PERAN GURU BAGI MURIDNYA


Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting bersama Okina Fitriani

Tanya : 

Saya seorang guru. Bagaimana peran yang harus saya jalankan untuk mendidik anak-anak murid saya. Apakah peran saya mirip peran ayah bagi murid-murid saya?

Jawab : 

MENGATASI ANAK BALITA SUKA MEMUKUL

Mengatasi Anak Balita Suka Memukul

Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting bersama Okina Fitriani

Tanya : Anak saya usia dua tahun suka memukul. Bagaimana mengatasinya?

Jawab : Anak usia dini suka memukul ada tiga kemungkinan penyebabnya.
  • 1.       Meniru perilaku orangtuanya.
  • 2.       Anak berkebutuhan khusus. ( hal ini harus ditegakkan dengan diagnosis)
  • 3.       Ada masalah sensori.

Minggu, 06 Januari 2019

CARA LENGKAP DAN TERSTRUKTUR MENANGANI BULLYING




Mbak Okina Fitriani, Psikolog, founder Enlightening Parenting, menemui banyak sekali pertanyaan mengenai cara penganganan bullying, baik di kelas training, maupun forum-forum parenting  yang dikelolanya.

Demikian bermacamnya anjuran untuk menangani hal ini, membuat para orangtua bingung, mana yang tepat untuk dilakukan.

Berikut ini penjabaran Mbak Okina Fitriani yang secara lengkap dan terstruktur menjawab pertanyaan mengenai langkah-langkah penanganan bullying.

Mari dimulai dengan memahami dulu tentang bully. Bully dalam bahasa Indonesia disebut perundungan, tetapi dalam artikel ini digunakan kata buli saja agar singkat. 

Buli secara umum terbagi menjadi 3 kategori
  • Verbal : yaitu ucapan yang menyakitkan, meledek, memanggil dengan julukan, menghina, mengancam,
  • Mental : Mengabaikan, mengucilkan, menyebarkan berita yang membuat seseorang dimusuhi, mengerdilkan :D, dll
  • Fisik : Memukul, menendang, mencubit, dll.
Bully dilakukan secara SADAR. Artinya jika tindakan mendorong itu dilakukan oleh anak usia 2 tahun yang masih dalam tahap latihan sensori atau dilakukan oleh ABK (anak berkebutuhan khusus) yang belum paham kekuatan menyentuh dan mendorong, maka JANGAN dengan mudah kita mengatakan kepada yang mendorong maupun yang didorong “Ih.. kamu dibuli lhoo” “Ih ini anak kecil-kecil sudah jadi pembuli” . Dalam hal ini justru si pembuli sesungguhnya adalah yang berkomentar itu.

Di banyak keluarga justru pembuli pertama anak-anak adalah orang tuanya sendiri, kadang verbal dengan labelling( memberi “cap” atau label misalnya anak pemalas, lemot, ngamukan, anak rewel, dll) atau menghardik.  Kadang Mental dengan mengabaikan.  Sering juga fisik, bahkan ada yang paket lengkap 3 kategori sekaligus. Tentu orangtua sebagai sosok dewasa sudah pasti SADAR ketika melakukannya.

Anak yang sudah dibuli terlebih dahulu di rumah sangat besar kecenderungannya untuk jadi pelaku maupun korban bullies di sekolah. Penelitian Renae D. Duncan (1999) dari Murray State University menyimpulkan 69% anak yang dibuli di sekolah, adalah anak yang mendapatkan kekerasan di rumah. Tidak mengherankan memang, karena anak-anak yang sering dilabel, dikritisi, dihardik atau disakiti di rumah akan datang ke sekolah dengan penampakan 2 jenis, yaitu tidak percaya diri atau wajah tambeng dan penuh dendam. 

Inilah yang kemudian berkembang menjadi korban maupun pelaku buli. Pembuli mengenali sasaran yang bisa dibuli. Pembuli pilih-pilih dan melakukan coba-coba dulu. Anak yang berjalan dengan tegak dan pandangan yang penuh percaya tetapi tidak sombong, jarang dijadikan sasaran pembuli.

Anehnya, orangtua yang membuli anak di rumah sangat tidak terima ketika anak diperlakukan sama di sekolah bukan? Seolah lupa bahwa sumbernya berasal dari rumah.

Maka, LANGKAH PERTAMA untuk mencegah dan mengatasi buli adalah, Perlakukan anak-anak kita dengan respectful di rumah. Dengan memperlakukan mereka dengan respectful sesungguhnya juga sekaligus sedang mendapat contoh akhlaq yang baik dan akan tumbuh menjadi anak yang santun dan percaya diri. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW

“Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka.” (riwayat Ibnu Majah).

LANGKAH KEDUA, pelajari aturan di lingkungan tempat anak berinteraksi. Untuk memperjelas, kita umpamakan saja sekolah. Tanyakan apakah ada aturan yang jelas tentang handling bullies . Jika tidak punya sampaikan kepada sekolah bahwa anda akan membuat standar penanganan buli, sosialisasikan pada pihak sekolah dan lebih baik lagi jika disepakati sebagai aturan sekolah. Lebih bermanfaat daripada sekedar kesal karena sekolah tidak punya aturan penanganan buli bukan?

LANGKAH KETIGA, Briefing dan Role Playing. Beri anak penjelasan mengenai hal-hal berikut ini

1. Definisi perilaku buli seperti yang sudah disebutkan di atas, supaya anak juga tidak epes me’er, ditowel dikit merasa dibuli, disenggol dikit buli, dipanggil dengan nada tinggi dikit buli. Orangtua juga tidak perlu reaktif supaya anak juga tidak baperan.

2. Beritahu tahap-tahap menyikapi buli (saya attach video Rangga saat diminta menceritakan kembali materi briefing dan alhamdulillah tidak pernah dibuli oleh siapapun):

  • Abaikan (Ignore) : Jika masih tahap coba-coba, biasanya berbentuk verbal seperti kata Ciee.. ciee… , memasangkan dengan si fulan, ledekan ringan dan sejenisnya, ajarkan anak untuk mengabaikan dengan wajah tetap percaya diri dan tersenyum. Pembuli suka dengan reaksi berlebihan, wajar merengut, mata berkaca-kaca dan tangisan.
  • Tegur dengan Tegas (Stand Up) : Katakan dengan tegas, STOP it! Hentikan! Dengan tatapan yang mantap. Ini dilakukan jika setelah diabaikan perilaku yang sama masih berulang. Jika sudah berupa kontak fisik, tangkap tangannya, tekan ke bawah sambil menegur dengan tegas. Jika kategori mental ajarkan anak berani melakukan klarifikasi. Pada tahap 2 ini ditutup dengan laporan kepada Guru dan ortu.
  • Laporkan kepada Guru. Ajarkan anak untuk mencatat setiap laporan. tanggal berapa dan nama guru yang dilapori. Biarkan pihak sekolah melakukan tugasnya untuk menegur.
  • Orangtua menemui pihak sekolah. Jika hingga laporan ke 3 masih berulang maka temui pihak sekolah untuk difasilitasi berdiskusi bersama orangtua pembuli. Jika pembuli juga melakukan hal yang sama kepada anak lain, upayakan laporan bersama agar sekolah dan orangtua pembuli melakukan tindakan kuratif nyata seperti skorsing atau konseling keluarga
  • Jika masuk ke level kriminal, seperti pengeroyokan, laporkan kepada polisi.
3. Latih anak menghadapi berbagai situasi ini secara role playing di rumah, karena sikap dan kebiasaan tidak terbentuk melalui nasehat tetapi melalui latihan.

LANGKAH KEEMPAT. Sebarkan kasih sayang. “Siapa yang menyayangi, dia akan disayangi”. Jangan pernah mengajarkan anak untuk membalas pembuli, tetapi justru menyapa dengan ramah, menanyakan kabar, sesekali berbagi bekal tetapi bukan dengan niat menyuap atau nyogok. Berbagi kepada semuanya, baik yang bersikap baik maupun yang tidak. Latih anak untuk memuji efektif temannya yang bersikap baik. Menjadi detektif kebaikan. Sesekali undang teman-teman anak untuk bermain di rumah termasuk yang suka membuli dan perlakukan mereka dengan kasih sayang. Pada umumnya pelaku buli ini kering kasih sayang. Tidak ada orang yang imun pada kasih sayang, karena kasih sayang itu fitrah. Jika dihidupkan dan disirami, maka mekarlah ia.

So, Handling Bullies? insyaaAllah mudah…

“Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangimu”.


Tulisan-tulisan Mbak Okina Fitriani lebih lengkap bisa dibaca di www.okinafitriani.com

Rabu, 05 Desember 2018

MENYELESAIKAN EMOSI DALAM HITUNGAN DETIK DENGAN TEKNIK DISSOSIASI



Banyak orangtua yang bertanya, bagaimana sih caranya menahan amarah ketika berhadapan dengan perilaku anak yang tak sesuai harapan?

Banyak orangtua sudah paham bahwa melepaskan amarah yang meledak-ledak tak baik akibatnya bagi anak.  Selain bisa merusak fitrah kasih sayang anak, perilaku marah-marah berpotensi merusak hubungan kedekatan dengan anak.  Yang lebih parah lagi, bisa menimbulkan trauma pada anak.

Sadarkah orangtua, bila mereka kerap melakukan tindakan keras, berkata dengan intonasi tinggi, berteriak, memaki, mencela dan sebagainya,  kemungkinan besar kelak anak akan berperilaku sama persis seperti orangtuanya ketika mereka marah. Ingat, orangtua itu teladan bagi anak-anaknya. Anak  bisa salah mendengar, tapi tidak akan salah meniru.

Hanya saja ketika orangtua dihadapkan pada kondisi yang membuat emosi terpicu, lagi-lagi mereka terjebak dalam pola perilaku itu-itu saja. Marah-marah, lalu menyesal. Tapi besok marah-marah lagi, kemudian menyesal lagi.  Adakah orangtua yang kalau marah-marah sampai memukul atau melakukan kekerasan fisik pada anak? Kasihan anak, sang tamu istimewa titipan Tuhan, harus menjadi korban ketidakmampuan orangtua mengelola emosinya.

Dalam Enlightening Parenting dan Transforming Behavior Skill-nya Mbak Okina Fitriani, amarah itu bukan ditahan, tapi diselesaikan.  Apa bedanya menahan dengan menyelesaikan?

Menahan amarah  itu  diibaratkan menahan pintu yang didorong kuat dari arah luar. Pintunya bisa saja  tertahan tidak sampai terbuka, tapi capek kan ya? Harus terus menahan pintu itu agar tidak terkuak. Lalu kalau sudah tidak kuat menahan, pintunya bisa jebol karena desakan dari luar.

Berbeda halnya kalau amarah  diselesaikan. Emosi marah bila diibaratkan ban mobil  yang menggelembung mau meledak, lalu dicoblos pakai paku. Blessss....kempes. Tak jadi meledak, sekaligus lega.  Logika pun naik, bisa berpikir langkah apa yang tepat untuk mengatasi keadaan. 

Nah..enak mana, menahan marah atau menyelesaikannya?

Salah satu teknik dasar untuk menyelesaikan emosi  berdasarkan Neuro Linguistic Programming yang aku dapat dari training Enlightening Parenting dan Transforming Behavior Skill adalah assosiasi- dissosiasi. Teknik ini  merupakan skill yang sangat penting dilatih, dipakai dan dibiasakan untuk modal menyelesaikan emosi. Bukan cuma untuk mengatasi marah saja, tapi bisa juga untuk mengatasi berbagai emosi lainnya seperti kecewa, sedih, kesal, khawatir, malas dan lain-lain.

Assosiasi-Dissosiasi ini adalah skill yang mendasar, skill yang perlu dimiliki karena  merupakan prasyarat melakukan berbagai teknik menyelesaikan emosi  lainnya seperti reframing, anchor, perceptual position, self coaching dan lain-lain.

Kalau rajin dilatih, orang yang menguasai teknik dissosiasi bisa menyelesaikan emosi dalam hitungan detik. 

Senin, 12 November 2018

Keluarga Kusmajadi Jalan-jalan di Palembang


Masih ingat sahabatku, Mbak Melati M Putri dan suaminya Mas Dodi Kusmajadi yang keliling Indonesia sekeluarga  naik motorhome selama 1 tahun?

Nah, perjalanan mereka edisi Pulau Sumatera telah tiba di Palembang, Kamis 8 November 2018.

Saat akan menuju ke rumah Wati, adiknya si Akang   di Kompleks Pusri Sukamaju Kenten, motorhome yang tingginya 3.1 meter tersangkut kabel yang melendot, sehingga solar cell yang terletak di atas motorhome mengalami gangguan. Saat itu menjelang malam dan hujan turun. Untung ada suami Wati, Mas Yono, dan Rifki keponakanku yang membantu. Malam itu motorhome parkir di lapangan di depan rumah, dan keesokan harinya diperbaiki.

Senin, 22 Oktober 2018

MENUJU GENERASI GEMILANG BERSAMA KOMUNITAS ENLIGHTENING PARENTING






Okina Fitriani, seorang Psikolog dan Master di bidang human resources yang mendalami bidang psikologi: Neuro-Linguistic Programming dan Brain Development adalah founder Enlightening Parenting.

Enlightening Parenting adalah konsep, prinsip dan metode pengasuhan yang disarikan dari Al-Qur’an, Hadist, Sirah, dan Psikologi Perkembangan berbasis riset maupun penanganan kasus-kasus dengan dibantu teknik-teknik Neuro Linguistic Programming (NLP) sebagai sarana pendukung.

Enlightening Parenting tidak hanya sesuai bagi keluarga muslim tetapi juga bagi keluarga dari berbagai latar belakang agama karena nilai-nilai yang dijadikan dasar merupakan kebenaran universal. Terbukti pula bahwa peserta training tidak hanya keluarga muslim, bahkan juga pasangan- pasangan dari berbagai bangsa seperti Arab, Amerika latin, Filipina, India dan lain-lain.

Kamis, 04 Oktober 2018

MENGHILANGKAN ALERGI MENJAHIT DENGAN SELF TALK


Ilmu yang didapat dari training, kalau tak dipakai sehari-hari, bisa terlupakan, bahkan hilang tanpa kesan.  Kalau sayang ilmu, sayang dengan waktu yang sudah terpakai untuk training, sayang dengan uang yang sudah dibayar untuk biaya training, maka sering-seringlah mengamalkan ilmunya.  Mengamalkan ilmu membuat hidup lebih baik, lebih nyaman.  Ilmunya pun  nancep dalam diri kita, tidak hilang percuma.

Ilmu apa sih yang didapat dari training, yang sehari-hari dipakai oleh Emak-emak dasteran macam aku? Hehe..Salah satunya  keterampilan berdialog dengan self talk dengan menggunakan kalimat kalimat berbentuk milton model dan meta model. Hal ini aku peroleh dari training Transforming Behavior Skill-nya Mbak Okina Fitriani.

Senin, 10 September 2018

MENYIKAPI ANAK YANG TIDAK KONSISTEN BANGUN PAGI



Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting
Nara Sumber : Okina Fitriani

Tanya : 

Saya kesulitan membangunkan anak pagi-pagi. Sempat beberapa kali berhasil dibangunkan dengan kesepakatan menggunakan alarm. Mereka sempat excited ketika pertama kali melakukannya. Sekitar 7  kali berhasil, lalu mulai agak susah.

Selasa, 04 September 2018

Ragu Ingin Keliling Indonesia Sekeluarga? Gunakan 14 Jurus Silat Lidah



Keluarga Kusmajadi

Bahagianya punya sahabat yang unik banget.. tiada duanya💕💕💕. Kami sama-sama penggerak Enlightening Parenting, sama-sama belajar dari CikGu Okina Fitriani. Sengaja aku ingin memperkenalkan sahabatku, karena aku dan teman-teman semua bisa belajar sangat banyaaak dari dia.

Namanya Melati M Puteri. Sebenarnya sebelum kami dekat, aku sudah beberapa kali bertemu dia di Kuala Lumpur. Pernah juga bertemu saat Mbak Mel ikut jadi peserta  training Transforming Behavior Skill untuk alumni Enlightening Parenting. Kesan pertama melihat dia biasa saja, kalem, sepertinya orangnya pendiam. Barulah waktu kami sama-sama jadi fasilitator training di Jogja, aku dan Mbak Mel punya kesempatan banyak buat ngobrol.

Kami sekamar di hotel tempat penyelenggaraan training saat itu. Naah.. barulah ketahuan aslinya. Ternyata orangnya asyik banget. Dan jelas  nggak pendiam karena kami bisa ngobrol berjam-jam sampai mata tak sanggup melek lagi. Obrolannya bergizi,  menambah ilmu, menambah wawasan, menambah kebijaksanaan.

Jumat, 27 Juli 2018

CARA MEMBERDAYAKAN DIRI DENGAN SELF TALK


Saat pertama kali diperkenalkan tentang Neuro Lingusitic Programming (NLP) oleh CikGu Okina Fitriani, beliau menjelaskan tentang NLP Presupositions.  Buat Emak-emak dasteran yang pikirannya simple, aku cukup pusing dengan belasan macam NLP Presuposition itu. Kalimat-kalimatnya singkat, tapi punya makna yang dalam. Untuk mudahnya, aku menganggap bahwa NLP Presuppositions itu adalah prinsip berpikir, sikap dalam memandang dunia dan prinsip berperilaku dalam ilmu NLP.

Salah satu NLP Presupposition yang kemudian dalam perjalanan hidupku terbukti bermanfaat adalah  yang satu ini :


Senin, 02 Juli 2018

Honeymoon Ala Biker dan Boncenger di Kampung Sampireun Garut


Kampung Sampireun Garut

Dua puluh tahun jadi pasangan suami istri,  Aku dan si Akang Sutedja tentu inginnya rumah tangga kami langgeng, sakinah mawaddah warrahmah sampai kehidupan abadi di surgaNya, Aamiin..

Malam menjelang  28 Juni 2018, aku dan Akang nyantai tidur-tiduran di kamar. Kami mengenang lagi setiap mile stone perjalanan pernikahan kami. Alhamdulillah..Banyak sekali nikmat kebahagiaan yang kami rasakan.

Selalu bahagiakah? Ya ada juga bumbu lainnya dong. Kami, eh tepatnya aku, pernah baper-baper nggak jelas saat menanti Allah menitipkan amanah tamu istimewaNya. Lalu anak-anak lahir, seiring dengan karier si Akang dan rezeki  yang terus meningkat .