Rabu, 24 Januari 2018

MENGHALAU GALAU DENGAN PARENTAL COACHING


Banyak orang berpendapat ilmu parenting  hanya cocok untuk anak-anak usia balita hingga mencapai baligh saja. Kalau anak sudah lebih dewasa, sudah telat menerapkan ilmu parenting. Pendapat ini sungguh tak berdasar.

Kenyataannya, ilmu parenting tetap sangat dibutuhkan di semua tahap perkembangan anak. Masalah yang dihadapi anak pun terus berkembang. Maka tugas orang tua  menerapkan pengasuhan tetap berlanjut hingga nyawa terpisah dari raga. Tak terkecuali saat sang anak yang sudah menjadi mahasiswi tiba-tiba galau.

Pesan   Whatsapps masuk ke telepon selular-ku, dari si sulung.

  • Anin : Mama, Anin mau kuliah di Taiwan aja, kayak kawan Anin.
  • Mama :  Lho? Maksudnya bagaimana?
  • Anin : Anin pindah kuliah aja.
  • Mama : Nanti kita bicarakan ya, Nak..
  • Anin : Ok


Percakapan Whatsapps itu sempat tak terlalu aku hiraukan. Kupikir Anin sedang iseng. Tapi keesokan harinya..
  • Anin : Ma, Anin mau belajar sambil magang aja. Pindah kuliah.
  • Mama : Sebenarnya ada masalah apa, Nak?
  • Anin : Anin gak ngerti apa-apa sama sekali.
  • Mama : Apanya yang Anin gak ngerti? Materi kuliah?
  • Anin: Iya. Materi gak jelas. Anin gak ngerti.  Sudah baca ,materinya benar-benar nggak ada yang masuk otak. Sudah nggak ngerti lagi Anin. Emang bukan bakatnya di sini.
  • Mama : Mata kuliah yang mana, Nak?
  • Anin : Semua mata kuliah Ma. Kan Anin pernah kirim ke Mama apa saja mata kuliahnya. Nah, semuanya Anin gak bisa. Sampai sekarang,  masuk kuliah nggak dapat ilmu apa-apa. Sejarah Hubungan Internasional saja Anin belum mengerti. Definisinya saja nggak tahu. Jadi tahun depan mau kuliah jurusan yang lain aja.
  • Mama :  Anin, tenang  dulu ya Nak. Nanti Mama telpon.


Aku segera menghubungi suamiku, si Akang. Dia sedang di kantornya di Jakarta. Kujelaskan isi percakapan dengan Anin.

“Kita cari hotel dekat tempat kos-nya Anin. Kita menginap bertiga dengan Anin malam ini, Neng.” Ujar si Akang. Aku setuju dengan keputusan Akang untuk menunjukkan keseriusan kami menanggapi kegundahan Anin. 

Maka setelah berkoordinasi dengan Anin,  Emak dasteran pun cepat-cepat berganti kostum, lalu nyetir dari Bogor ke Jakarta.

Akang dan Anin lebih dulu sampai di hotel. Sementara menunggu aku yang terjebak macet parah, Akang mengajak Anin berbincang-bincang. Kesempatan itu digunakan Akang untuk membangun kedekatan, agar Anin merasa nyaman menyampaikan uneg-unegnya. Dia juga berusaha menanamkan belief lewat kisah-kisah pengalaman hidupnya supaya Anin tergugah.

Anin dan Bapak

Ketika aku akhirnya sampai di hotel, kami ngobrol bertiga dalam suasana santai sambil makan sate. Wajah Anin  terlihat cerah. Tampaknya sesi berduaan dengan Bapaknya sangat  membantu dia merasa lebih nyaman meski pun sedang menghadapi masalah.

Pagi hari, ketika si Akang sudah berangkat ke kantor, aku mulai membuka percakapan tentang permasalahan Anin. Rencanyanya aku ingin menerapkan metode  parental coaching untuk membantu Anin menemukan solusi masalahnya.

“Anin nggak bisa, Ma. Anin sudah belajar, sudah baca berkali-kali tapi tetap nggak bisa. Makanya Anin mau pindah saja. Tahun depan Anin mau ikut seleksi masuk perguruan tinggi negeri lagi ya.” Ujar Anin dengan tampang kusut.

Ketika aku membantu orang lain, meski ia membawa berbagai masalah yang jauh lebih pelik, rumit bin ribet, meski pun dia mengadukan masalahnya sambil menangis, marah-marah, bahkan histeris, aku bisa  dengan mudah mengelola emosiku. Aku bisa menjaga emosi dalam kondisi netral, tidak terhanyut atau terpengaruh.

Namun melakukan parental coaching terhadap anak sendiri, ternyata ada  tantangan  yang lebih.  Mau tak mau, ada ikatan rasa yang sangat kuat dengan anak. Dia adalah bagian dari diriku. Masalahnya adalah masalahku juga.  Lalu ada  ekspektasi yang tinggi terhadap anak. Semua itu menambah beban emosiku.

Jangan tanya bagaimana perasaanku. Yang jelas ada rasa kecewa, keinginan untuk marah, sekaligus sedih. Ini jelas emosi yang tidak memberdayakan.  Bagaimana bisa timbul perasaan itu? Seperti ini self talk yang ribut di kepalaku.

Ini anak nggak konsisten. Dia sendiri yang ingin kuliah di Hubungan Internasional. Sudah lolos seleksi perguruan tinggi negeri, sudah didukung sepenuhnya, lha sekarang mau pindah ?” (kecewa).
Menghadapi satu masalah saja langsung menyerah? Mau jadi apa anak ini??!” (marah).
“Waduuh... ini dia anak hasil didikanku selama ini. Gagal dong aku jadi ibu yang baik..” (sedih).

Menyadari timbulnya emosi negatif itu, aku mengerahkan self talk yang memberdayakan, dengan me-metamodeli diri sendiri. Hal ini kulakukan sesuai dengan prinsip 5 pillar komunikasi, dimana langkah menyelesaikan emosi sangat krusial sebagai syarat untuk bisa berfikir jernih menemukan solusi.

Kalau memang sekarang dia nggak konsisten, bisa nggak aku buat supaya dia kembali fokus pada tujuannya?”
“Nah, bagaimana caranya supaya dia nggak menyerah?”
“Oke, ini memang hasil didikanku. Aku akui , 14 Tahun aku menerapkan pola asuh yang salah, baru hampir 4  tahun belakangan ini menerapkan Enlightening Parenting. Jadi wajarlah kalau masih ada sisa-sisa kesalahan pengasuhan yang harus aku tuai. Nah, sekarang mau diapakan anak ini? Dimarah-marahi atau diperbaiki?”

Self talk yang demikian itu dengan cepat menyelesaikan emosiku. Rasa tak nyaman akibat kecewa, marah dan sedih segera surut, berganti semangat untuk melakukan parental coaching. Lalu aku  mulai dengan building rapport (membangun kedekatan) dengan teknik pacing-leading yang di dalam materi Enlightening Parenting disebut dengan "pahami dulu, lalu arahkan".

Pacing adalah upaya untuk menyamakan berbagai aspek terhadap seseorang (dalam hal ini, Anin) dengan tujuan untuk membangun kedekatan.  Hal ini aku butuhkan agar Anin merasa dipahami, dimengerti dan merasa nyaman curhat pada Mamanya. Setelah Anin merasa nyaman, proses leading  yaitu mengarahkan Anin pada tujuan akan  lebih mudah.

“Anin, Mama mengerti Anin menemui kesulitan.  Bukan cuma Anin lho yang mengalami  hal seperti ini. Mama juga. Dulu, waktu awal-awal kuliah, nilai Mama sempat hancur-hancuran.  Anin kenal Bunda Okina Fitriani kan? Nah,  orang secerdas dia juga ternyata pernah kewalahan saat semester awal kuliahnya. Sahabat Mama, Tante Gita Djambek juga begitu. Ini masalah umum, Nak. Masa penyesuaian dari cara belajar anak SMA lalu berubah jadi mahasiswa. Jadi jangan khawatir, Anin nggak sendiri,lho .  Sekarang coba ceritakan bagaimana cara Anin belajar.”

“ Ya Anin baca.  Tapi nggak ngerti. Berkali-kali baca juga nggak ngerti.”

“Oke. Anin baca sendiri materinya? “

“Ya iyalah.”

“Menurut Anin, ada nggak cara lain, supaya Anin bisa mengerti?”

Anin diam. Wajahnya rusuh, seolah pikirannya buntu.

“Oke. Tadi Anin bilang kalau Anin belajar sendiri, terus nggak mengerti materinya. Nah kalau belajar sendiri nggak bisa, lalu apa yang mungkin bisa dilakukan supaya Anin mengerti materinya?” Aku menatap wajah Anin, menunggu reaksinya.

“Belajar sama teman yang pintar. “

“Siapa itu teman yang pintar?”

Anin menyebutkan nama salah satu sahabatnya.

“Nah.. berarti kita dapat satu cara ya. Belajar sama sahabat Anin. Selain itu siapa lagi?”

“Ada kakak tingkat Anin, Ma. Tapi dia kayaknya perlu uang transport kalo harus ngajarin Anin.  “

“O ya, nggak apa-apa. Wajar saja, kita menghargai dia kalau dia mau jadi mentor Anin. Jadi apa yang bisa Mama bantu?”

“Paling nanti Mama tambahin ya, uang untuk ganti transport dan fee kalau Anin jadi minta tolong Kakak tingkat.” Anin menopangkan tangan didagunya, bibirnya tertarik ke atas membentuk seulas senyum.

“Siaaap.. Jadi sudah ada dua alternatif ya. Belajar sama sahabat, atau belajar sama Kakak tingkat. Bisa  dilakukan? “

Anin mengangguk. Wajahnya sudah berubah cerah. Artinya sekarang aku sudah bisa mulai menanamkan keyakinan yang positif (installing belief dengan Milton Model).

“Anin,  Mama ingin mengingatkan kembali tentang tujuan Anin. Mama masih ingat ketika Anin bilang ingin kuliah di jurusan Hubungan Internasional. Lalu selain itu,  Anin juga memilih 2 jurusan lain. Mama dan Bapak mendukung sepenuhnya apa yang menjadi keinginan Anin. Ingat nggak Mama bilang bahwa Mama mendoakan Anin? “ Tanyaku.

Anin mengangguk.

“Mama berdoa bukan minta pada Tuhan supaya Anin diterima di jurusan Hubungan Internasional (HI), lho Nak. Ya Allah, pilihkanlah mana yang terbaik untuk anakku. Begitu doa Mama. Lalu ketika ternyata Anin diterima di HI,  bukan di dua  pilihan yang lain, apakah mungkin   Allah SWT asal-asalan saja memilihkan jurusan kuliah untuk Anin? “

Anin tersenyum. Wajahnya jauh lebih cerah. Ada ekspresi kelegaan di wajahnya.

“Artinya apa, Nak? Insya Allah ini adalah jalan yang dipilihkanNya. Jalan yang terbaik untuk Anin. Jadi kalau diperjalanan ini Anin menemukan masalah, apa yang akan Anin lakukan? Masalahnya di hindari, didiamkan saja, atau dihadapi?"

Anin menatapku.

“Dihadapi, Ma. “ Jawabnya mantap.

“ Hehehehe... Toss dulu dong kita.” Ujarku,menyodorkan lima jari. Anin menyambut dengan senyum. Telapak tangan kami bertemu.

Ah... Leganya. Proses coaching selesai.

Kegalauan Anin itu terjadi di bulan Oktober 2017 ketika dia baru 2 bulan kuliah. Di akhir semester pertama, ketika Index Prestasi Kumulatif (IPK)  dibagikan, Anin mendapatkan IPK 3.5. Cukup baik untuk mahasiswi yang dulunya galau.

“Anin, bagaimana cara Anin belajar sehingga hasilnya sebaik ini? “ Tanyaku.

“ Anin belajar sendiri.”

“Wah, sudah bisa ya Nak? Tidak jadi dimentori Kakak tingkat?”

“Anin bisa belajar sendiri. Hanya saja tempo hari sedang galau. Belajar sambil galau ya bedalah hasilnya dengan belajar tanpa beban. “ Sahut Anin riang.

Oh, begitu. Ternyata masalahnya sederhana saja. Selesaikan kegalauan anak, sehingga dia bisa menemukan sendiri solusi permasalahannya.  Alhamdulillah...


Jumat, 29 Desember 2017

MENYELAM ALA WISATA KEKINIAN DI UMBUL PONGGOK

Anak-anak jaman now kalau diajak liburan, inginnya ke tempat-tempat yang sedang  hitz dan kekinian.  Padahal belumlah lengkap semua destinasi tempat wisata Jogja kami kunjungi, kami malah beralih ke arah  Klaten, Jawa Tengah demi memenuhi keinginan anak-anak dan keponakanku. Ada apa di sana?



Salah seorang sahabat merekomendasikan tempat wisata Umbul Ponggok, yang terletak di Jl. Raya Ponggok-Delanggu, Ponggok, Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Maka meski kami harus menempuh sekitar 42-an Km atau satu jam lebih dua puluh menit bermobil dari Jogja, kami tetap semangat menuju Umbul Ponggok.

Selasa, 26 Desember 2017

Melewati Senja Romantis di Floating Market dan Kota Mini Lembang


Sore menjelang senja. Aku duduk dengan nyaman di jok si Kuning, memeluk erat pinggang suamiku, si Akang . Kami berdua tengah menjalani one day sweet escape, melepaskan diri sejenak dari segala rutinitas sehari-hari. Touring dengan moge, meski hanya jarak dekat, dari Bogor ke Lembang,  sejenak merasakan efek adrenalin yang meningkat dari kegiatan berpetualang di atas kuda besi, namun cukup membuat kami merasakan energi baru.

 Setelah menjelajahi Farmhouse Susu Lembang, kemudian makan siang yang kesorean menikmati sate dan tongseng, kini kami  meluncur  mengikuti petunjuk Google maps menuju Floating Market.

Lokasi Floating Market terletak di Jalan Grand Hotel no. 33 E, Lembang, Jalur Kampung Leuit A1, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.  Tempat ini buka hari Senin –Jumat jam 09.00-17.00 dan Sabtu-Minggu  dari jam 9 pagi hingga jam 20.00.

Perjalanan tak memakan waktu lama. Tiba di lokasi, kami langsung membeli 2 tiket masuk @Rp. 20.000,- Tiket itu sudah termasuk minuman hangat millo, choco latte atau coffe latte yang bisa diperoleh di sebuah stand di dekat pintu masuk. Lumayan deh untuk menghangatkan badan.


Senin, 18 Desember 2017

A Parent’s Diary- Anakku Tamu Istimewa


Mengasuh anak  jaman now  tak bisa lagi hanya dengan mencontek cara-cara pengasuhan jaman old. Tantangan pengasuhan saat ini sudah demikian hebatnya, sungguh sangat berbeda kondisinya dibanding jaman dulu.

Orangtua sekarang butuh ilmu parenting yang aplikatif, bukan cuma teori yang hanya mengendap di kepala tanpa tahu cara mempraktekkannya. Ibaratnya, ketika  berhadapan dengan kondisi genting misalnya anak berada dalam kondisi emosi marah, bingung, cemas, kecewa, takut, bahkan histeris atau tantrum, orangtua sudah tahu langkah apa yang harus dilakukan.  Tak ada  lagi bingung, atau ketularan emosi negatif anak sehingga akhirnya orangtua malah melakukan tindakan yang tidak memberdayakan.

Dengan teknik dan metode terstruktur, mencerahkan, mudah dipahami dan dipraktekkan oleh orangtua dengan latar belakang pendidikan apa pun, kegiatan pengasuhan anak bukan menjadi sebuah beban tetapi  menjadi sesuatu yang menyenangkan baik bagi orangtua maupun  anak. Hal inilah yang menjadi ciri Enlightening Parenting yang dikembangkan oleh Okina Fitriani, seorang Psikolog dan Master di bidang human resources yang mendalami bidang psikologi: Neuro-Linguistic Programming dan Brain Development.

Enlightening Parenting  (EP) adalah konsep, prinsip dan metode pengasuhan yang disarikan dari Al-Qur’an, Hadist, Sirah, dan Psikologi Perkembangan berbasis riset maupun penanganan kasus-kasus dengan dibantu teknik-teknik Neuro Linguistic Programming (NLP) sebagai sarana pendukung. Enlightening Parenting tidak hanya sesuai bagi keluarga muslim tetapi juga bagi keluarga dari berbagai latar belakang agama karena nilai-nilai yang dijadikan dasar merupakan kebenaran universal. Terbukti pula bahwa peserta training Enlightening Parenting tidak hanya keluarga muslim, bahkan juga pasangan- pasangan dari berbagai bangsa seperti Arab, Amerika latin, Filipina, India dan lain-lain.

Teori-teori, teknik dan metode Enlightening Parenting sudah teruji dan terbukti mudah diterapkan dalam pengasuhan anak. Para alumni kelas training Enlightening Parenting seringkali membagi pengalaman sukses mereka menerapkan materi EP  di group alumni. Demikian banyaknya pengalaman-pengalaman sukses tersebut, sehingga menggerakkan dua orang alumni, Gita Djambek dan Juliana Dewi, untuk mengumpulkan kisah-kisah itu dalam sebuah buku.

Dengan semangat menebarkan ilmu dan inspirasi kepada para orangtua, lahirlah buku A Parent’s Diary- Anakku Tamu Istimewa, yang disebut dengan buku PD.

Dalam buku PD,  dua puluh satu orang ibu dan ayah berbagi  kisah nyata menerapkan materi EP untuk mengatasi berbagai permasalahan anak di kehidupan sehari-hari. Kisah mereka disampaikan dengan gaya bertutur ringan, mudah dicerna, enak dibaca, mencerahkan, mudah dimengerti, mudah ditiru dan diterapkan oleh orangtua mana pun.

Kisah nyata apa sajakah yang dituangkan dalam 6 Bab buku PD? Mari kita intip teaser-nya satu persatu.

BAB 1 : “ MENGATASI PERTENGKARAN ANAK”


Jumat, 15 Desember 2017

Pre-Order Buku A Parent's Diary- Anakku Tamu Istimewa



Telah hadir, cetakan Ke-2, buku “A Parents’ Diary : Anakku Tamu Istimewa”, setelah cetakan pertama habis dalam 10 hari. 

Teman-teman yang kemarin belum kebagian, silahkan pesan di periode Pre-Order Utk mendapatkan harga yg lebih bersahabat. 

PO dibuka di Tanggal 11 Desember sd 25 Desember 2017. Harga pembelian selama periode PO : Rp.60.000 (Setelah PO berakhir, harga menjadi Rp. 70.000). Harga diluar ongkir
Pesan melalui Admin penjualan buku :
Via : 0251 8656755
Edi : 083818059374
Jam kerja Admin :
Senin - Sabtu : 08.30 - 19.00
Pembayaran setelah dikonfirmasi oleh Admin ditransfer Ke Rekening Bank Mandiri
PT Onbloss Creative Mandiri : 156 000 4563989
Silahkan chat dengan langsung menyertakan format order berikut:
Nama :
Alamat (termasuk kode pos): 
No Telepon :
Jumlah buku : 

Kamis, 26 Oktober 2017

KOMUNIKASI SUAMI ISTRI KUNCI KEBERHASILAN PENGASUHAN ANAK


Satu hal yang sangat mendasar dalam pengasuhan anak dan  membina rumah tangga  adalah komunikasi suami istri. Bagaimana tidak? Mau tak mau, orangtua adalah teladan bagi anak-anaknya. Bila suami istri bisa berkomunikasi dengan baik, nyaman, adem ayem, kompak, penuh kasih sayang, mesra dan harmonis, maka anak akan melihat seperti itulah contoh nyata rumah tangga  sakinah yang kelak akan mereka bentuk di masa depannya. Anak akan mencontoh, seperti itulah cara suami memperlakukan istri, dan cara istri memperlakukan suami. Anak-anak akan melihat betapa berumah tangga itu menetramkan hati,  dan membuat anak-anak merasakan hadirnya surga di rumah mereka sendiri. Dalam rumah tangga seperti itu, anak-anak akan tumbuh dengan fitrah baik yang tetap terjaga.

Ronny Gunarto & Okina Fitriani

Beda halnya kalau anak melihat pola komunikasi orangtuanya morat-marit, saling menyalahkan, saling menuntut, saling menyindir, saling bersaing, bicara dengan nada keras, kata-kata kasar, bahkan saling menyakiti baik lewat kata maupun secara fisik. Kondisi ini berpotensi merusak fitrah baik anak, bahkan menimbulkan trauma. Yang paling parah, bagaimana kalau anak mengira bahwa memang seharusnya demikianlah cara  suami memperlakukan  istri dan sebaliknya, lalu kemudian mempraktekkan hal yang sama dalam rumah tangga mereka. Duh....

Demikian pentingnya komunikasi suami istri sebagai dasar untuk pengasuhan anak,  maka aku ingin membagikan salah satu materi yang disampaikan Mas Ronny Gunarto dalam training Enlightening Parenting for Dads , di hotel POP! Kelapa Gading Jakarta, 21-22  Oktober 2017 lalu. 

Selasa, 24 Oktober 2017

Review Buku " Berlibur, Berburu Beasiswa, Belajar, Bekerja dan Bermukim di Australia Barat"




Sudah lama tidak jalan-jalan ke luar negeri, rasanya sudah sangat ingin melakukan hal ini lagi. Tapi kemana?

Ketika ngobrol via Whatsapps Call dengan sahabatku, Novi Wilkinson, dia bilang Australia Barat bagus. Dalam hati aku berkata,

” Ah, tentu saja Novi bilang Australia Barat menarik. Lha kan dia tinggal di sana. Pasti sengaja bilang begitu supaya aku mau jalan-jalan ke sana.”

Novi bercerita dengan penuh semangat tentang hal-hal baru dan menarik yang dia jumpai di sana. Dia baru saja pindah dari Kuala Lumpur ke Perth. Dia bilang dia jatuh cinta pada Perth.

Kamis, 19 Oktober 2017

ANCHOR CINTA



Dalam berinteraksi dengan orang-orang, terutama orang terdekat dan tercinta, misalnya suami dan anak-anak, ada kalanya timbul emosi tertentu yang kurang memberdayakan. Ya wajarlah, kita sendiri dan mereka adalah  manusia biasa. Anak-anak  dan suami tentu tidak bisa  24 jam bersikap manis dan menyenangkan. Sementara kondisi emosi diri kita juga tidak selamanya stabil, bisa saja di saat-saat tertentu misalnya  mengalami pre –menstruasi, sehingga  menjadi lebih sensitif.

Bila dalam berinteraksi kemudian timbul “percikan-percikan” yang menimbulkan emosi negatif , apakah yang  bisa dilakukan untuk mengatasi keadaan itu?

Mau marah-marah? Berkata dengan nada tinggi, mata melotot, atau mengucapkan kalimat dengan nada rendah tapi isi kalimatnya “pedas”? Ngomel dan menumpahkan semua uneg-uneg biar hati kita puas? Itu pilihan, Kawan.

Tapi selama ada pilihan yang lebih baik, mengapa tak kita pilih jalan yang lebih baik itu? Bukankah orang yang paling baik adalah yang berlaku paling baik pada keluarganya?
Seperti yang diriwayatkan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku” [HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no: 285].

Jadi kalau kesal, kecewa, marah, gondok, sebal atau apalah itu pada suami dan anak-anak,  harus bagaimana?

Selasa, 10 Oktober 2017

Aksi Jando Beraes


Kenanganku akan masa lalu saat masih remaja dengan empat orang adik perempuan tak lepas dari kenangan tentang  almarhum Papi dan si Jando Beraes.

Siapakah Jando Beraes itu? Tak lain itulah julukan yang kami berikan pada sebuah mobil sedan tua bobrok keluaran tahun 1970 . Mobil itu milik Papiku.  Jando beraes dalam bahasa Palembang artinya janda berdandan. Mobil tua ini diibaratkan  seorang janda tua yang berusaha keras berdandan, namun seberapa keras usaha untuk melawan usia tetap saja harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah digerogoti penyakit tua. Sering mogok mesinnya, pintu kadang-kadang sulit dibuka, engkol untuk membuka kaca jendela macet, karat yang mulai menghiasi bagian body di sana-sini,dan lain-lain.

SENYUM LIMA JARI





Hai Moms.. Pernah nggak memperhatikan ketika anggota keluarga pulang ke rumah setelah berkegiatan di luar rumah, siapa yang pertama kali mereka cari di rumah?

Apa pentingnya memperhatikan hal ini? Tadinya sih iseng saja, tapi memperhatikan hal kecil seperti ini ternyata bisa membuat hati dibanjiri kehangatan, lho. Kok bisa ya?