Selasa, 05 Juni 2018

Kisah Dumdum dan Rasamaha


Keberadaan kucing-kucing liar yang berkeliaran di lingkungan cluster tempat tinggal kami rupanya menyentuh hati anak-anakku, Anin dan Dea. Seingatku, sejak kami pindah ke Bogor tahun 2009, Anin dan Dea sering membelikan makanan kucing untuk diberikan pada kucing-kucing liar yang  menghampiri teras taman samping rumah kami.

Silih berganti kucing-kucing liar datang. Satu persatu mereka diberi nama oleh Anin, Dea dan Rafif. Dulu ada yang namanya si Cross, Mopi, Culun, Belang, Koneng dan lain-lain. Satu persatu mereka menghilang. Ada yang mati kecemplung kolam ikan di taman cluster, ada yang mati di trotoar jalan  karena sudah tua, ada juga yang menghilang tak pernah muncul lagi. Kemungkinan kucing-kucing itu ditangkap, ditertibkan dan dibuang  oleh satpam cluster.

Lalu datang lagi  kucing liar lainnya, misalnya  si Cungkring kucing jantan.  Dulunya Cungkring kurus kering, sekarang jadi lebih montok karena dapat asupan makanan dari Anin dan Dea. Ada juga  kucing betina yang sering sekali hamil, Rasamaha namanya.

Rasamaha mulanya datang mengendap-endap di teras samping. Perutnya buncit. Tatapan matanya waspada. Mengeong-ngeong. Bila didekati, dia lari. Anin meletakkan makanan di teras, lalu masuk ke dalam rumah. Rasamaha mengintai dari kejauhan.  Pelan-pelan dia datang lagi. Sambil celingak-celinguk waspada, kucing betina bunting itu makan. Mungkin kucing itu pernah dipukul atau diperlakukan kasar sehingga  trauma pada manusia.

Kadang-kadang Rasamaha datang dalam kondisi perut yang kempes. Entah dimana dia melahirkan anak-anaknya. Lalu datang lagi dengan perut buncit. Dan kali ini berbeda, dia tak lagi takut pada aku, Anin atau pun Dea.

Rupanya kebiasaan kami memberi makan, tak pernah memukul, menghardik dan memarahi kucing-kucing itu berpengaruh juga pada trauma Rasamaha. Kelihatannya dia sembuh. Bahkan dengan manja dia    menggesek-gesekkan tubuhnya ke kaki kami. Mengeong minta makan. Bila didekati dia berbaring terlentang di lantai, minta dibelai-belai. Digendong pun dia pasrah, tidak memberontak. Tatapan matanya tidak lagi curiga. Kelihatannya dia percaya bahwa kami tak akan menyakitinya.

Nah, masalahnya, Rasamaha sudah demikian yakin bahwa kami bukanlah monster.  Maka dia memutuskan membawa bayi-bayinya ke rumah kami.

Suatu hari aku mendengar ada suara anak kucing di garasi. Aku cari-cari. Kaget sekali ketika melihat seekor anak kucing yang masih merah baru lahir ada di atas sepatu si Akang. Waduh.. kalau Akang tahu sepatunya jadi tempat tidur bayi kucing, sudah pasti dia murka.😠

Aku bingung. Kubawa anak kucing itu keluar garasi. Kuletakkan di bawah rimbun tanaman hias.  Beberapa saat kemudian, suara anak kucing terdengar lagi. Dari teras samping. Dan kali ini bukan cuma satu. Tapi empat! Waduuuh...

Rasamaha menjilati anak-anaknya. Mereka terbaring di lantai teras. Tatapan mata Rasamaha seolah berkata,” Tolonglah kami..”😑

Maka Dea dan Anin pun heboh. Mereka sibuk mencari kotak kardus dan kain untuk alas tempat tidur kucing-kucing itu. Gembira sekali mereka dapat 4 bayi kucing. Sementara aku pusing. Apa yang harus kukatakan pada si Akang? Dia tak suka kucing. Dan ini tak main-main.  Ada 5 ekor kucing minta perlindungan di teras samping.

Aku pandangi dua anak gadisku, Anin dan Dea.

“Tolonglah Ma... Biarkan kami merawat anak-anak kucing ini. Jangan dibuang. Nanti kami berdua yang mengurus mereka. Tinggal di teras kita juga nggak apa-apa. Kan nggak masuk rumah..” Anin berargumen.

“Bapak nggak suka kucing. Dari dulu juga dia nggak pernah setuju kita pelihara kucing. Mama harus bilang apa, lha ini 5 ekor lho sama induknya.”

“Bilang aja sama Bapak, kucingnya cuma di luar rumah kok.. Nggak menganggu. “Dea bersungut-sungut.

Sekali lagi kupandangi Anin dan Dea. Anak gadis usia 18  dan 15 tahun itu membelai-belai Rasamaha dan bayi-bayinya dengan penuh kasih sayang. Hatiku terasa hangat.

Aku ingat salah satu materi Enlightening Parenting, yaitu tahapan perkembangan anak . Bukankah anak perempuan di atas 12 tahun sangat baik diberi tanggung jawab memelihara binatang? Ini baik untuk melatih anak menjalankan fitrahnya  sebagai wanita, menjadi ibu yang menjaga, merawat dan memelihara anak-anaknya. Nah, kucing ini bisa menjadi sarana  untuk melatih anak bertanggung jawab dan menyalurkan naluri kasih sayangnya. Lagi pula kucing kan binatang kesayangan Nabi Muhammad SAW. Aku yakin ini bisa menjadi alasan yang kuat supaya si Akang mengizinkan kucing-kucing itu tetap di teras rumah kami.

Alhamdulillah, meski agak alot negosiasinya, si Akang akhirnya setuju kucing-kucing itu tinggal di teras samping rumah. Dengan persyaratan bahwa Anin dan Dea bertanggung jawab mengurusi, bukan cuma memberi makan tapi juga membersihkan kotorannya.



Lalu mulailah hari-hari kami diwarnai aksi kocak dan menggemaskan 4 anak kucing : Blueband,  Dumdum, Orange Peel,  dan Tummi. Mereka tidur di kotak kardus bersama induknya, Rasamaha. Setiap hari taman samping kami menjadi ajang bermain mereka. Empat ekor kucing berlarian riang gembira di atas rumpt hijau, bergulatan, gigit-gigitan, dan bercanda. Adakalanya empat anak kucing itu menyusu dengan nyaman. Rasamaha pun tampak sangat menikmati dan sayang sekali pada anak-anaknya.


Suatu hari Dea mengadu.

“Ma, si Blueband matanya belekan. Dia gak nafsu makan, cuma diam saja di dalam kotak. Yang lain main-main, dia diam saja. Dea takut dia mati, Ma.. Ayok kita bawa ke dokter hewan. Cepetan Ma.. “ Rengek Dea.

Kulihat wajah Dea cemas. Dia tak berhenti merengek minta ke dokter hewan.


Sore itu, Dea meletakkan Blueband di kotak kecil bekas sepatu beralaskan kain bekas. Digendongnya kotak itu, dan si Blueband pun diam pasrah. Dea sabar menanti giliran dipanggil dokter. Aku tersenyum geli ketika Dea  berbisik,

“Ma, orang lain bawa binatang peliharaan keren-keren ya. Ada anjing Siberian Husky, besar, ganteng, gagah, keren. Ibu itu, yang disana, bawa kucing Persia, gondrong, putih bersih,cakep banget. Lha kita bawa kucing kampung. Belekan pulak..hihihihi..😁😁. Tapi Dea sayang sama si Blueband. “ Ucap Dea.

Aku mengangguk-angguk.

Tiba giliran Dea. Dokter bertanya tentang data-data Blueband.

“Apa? Blueband? Namanya unik, kayak mentega. Lahirnya kapan?”Tanya Bu Dokter.

 “Wah, nggak tahu Dok, induknya kucing liar membawa anaknya ke teras rumah kami. Entah kapan lahirnya.” Sahut Dea.



Blueband kemudian ditimbang, dibawa ke ruang dokter. Matanya dibersihkan dan diperiksa dokter. Dea diajari cara menyuapkan obat kapsul dan vitamin cair untuk Blueband. Lalu Dokter memberi obat untuk dibawa pulang ke rumah.

Selama beberapa hari, Dea merawat Blueband. Menyuapi makanan, menyuapi obat dan memberi cairan vitamin dengan menggunakan alat injeksi yang dimasukkan lewat samping mulut Blueband. Di week end, saat Anin pulang ke rumah dari tempat kos nya, mereka merawat Blueband bersama-sama. Hingga Blueband cepat pulihnya. Alhamdulillah..😍😍

Suatu hari, aku dan Akang berangkat ke Jakarta usai shalat subuh. Kami berdua akan menjalani medical check up rutin tahunan yang dibiayai perusahaan tempat Akang bekerja. Ketika menunggu di lobby, sekitar pukul 7 pagi, Anin menelpon. Suaranya terdengar panik.

“Mamaa... anak kucing semuanya nggak ada! Sudah dicari kemana-mana nggak ada. Rasamaha ngeong-ngeong terus cari anak-anaknya. Jangan-jangan anaknya masuk ke mesin mobil. Lha, mobilnya dibawa Bapak ke Jakarta ya? Soalnya kemarin Anin pernah lihat mereka masuk ke mesin lewat kolong mobil. Coba dilihat Ma.. Aduuuh... takut mereka mati atau hilang. Coba dilihat ada nggak di mobil..” Tangis Anin histeris.😒😒😒😒

Dengan panik aku berlari ke basement gedung tempat parkir mobil. Seandainya ada anak-anak kucing didalam mesin mobil, sementara mobilnya kami bawa dari Bogor ke Jakarta. Ya Tuhaan... Tak kuat aku membayangkan apa yang terjadi. Bagaimana kalau kucingnya kena mesin, kepanasan, jatuh tergilas di jalan tol. Lututku lemas. Aku balik lagi ke lobby menemui Akang.

Yang kulakukan konyol sekali. Tak dapat menahan diri,  aku  mengadu pada Akang sambil menangis seperti anak kecil. 😒😒😒Terbayang wajah Anin yang sedih dan kebingungan mencari kucing-kucingnya. Aku tak kuat bila harus  membuka kap mesin mobil. Aku takut kalau melihat pemandangan mengerikan. Bagaimana kalau kucing-kucing itu tercabik mesin dan terkapar berdarah-darah di dalam kap mobil? Aku tak  kuat...😱😱😱

Akang sibuk menenangkanku.  Akhirnya  bisa berhenti menangis, meski hati tetap tidak tenang. Usai menjalani medical check up, aku kembali cemas. Kami harus memeriksa mesin mobil untuk memastikan nasib anak-anak kucing itu.

“Neng duduk saja di kantin. Biar Akang yang lihat.” Ujar Akang memenangkanku.

Tak lama kemudian Akang kembali.

“Nggak ada anak kucing di dalam kap mesin. Tidak ada juga bekas-bekas darah atau tanda-tanda ada anak kucing. Dipanggil-panggil juga gak ada yang nyahut.” Akang berkata sambil memandangku.

Perasaanku campur aduk. Ada lega, setidaknya ada kemungkinan anak-anak kucing itu masih hidup, tidak mati di dalam kap mesin. Ada rasa bersalah, dan sedih.  Apalagi si Mbak assisten rumah tangga menelpon, mengabari Anin yang menangis terus menerus mencari kucing-kucingnya. Dan induk kucing, si Rasamaha yang tak berhenti mengeong, membawa bangkai tikus  ke sana ke mari mencari anak-anaknya.

Hari sudah sore ketika aku dan Akang tiba di  rumah. Akang memarkir mobil di carport. Dengan perasaan kacau, aku turun dari mobil sambil berdoa,

“Ya Allah ampunilah hamba yang tak teliti. Seandainya ada satu saja anak kucing yang bisa ditemukan, mungkin bisa mengobati perasaan Anin dan Rasamaha. Rasanya tak tega harus menyaksikan kesedihan Anin dan induk kucing itu. “

Baru saja menghela napas menepis rasa tak nyaman, aku melihat Rasamaha berlari menghampiri mobil. Nada suara mengeongnya khas, agak rendah dan lembut. Seperti itulah nada kasih sayang yang diperdengarkan dia setiap kali memanggil anak-anaknya, berbeda nadanya dengan nada mengeong bila dia minta makan.

Rasamaha mengendus-endus bagian bawah bumper mobil. Suaranya lirih mengeong. Aku menatapnya dengan perasaan hancur.

Rasanya aku tak mempercayai pendengaranku. Ada suara lain! Suara kecil lirih dari bagian bawah bumper. Tak lama makhluk kecil berbulu cream kekuningan itu nongol. Si Dumdum! Dia ada di dalam bumper mobil. Jadi ternyata sejak malam kemarin dia tak beranjak, ikut ke Jakarta, mendekam di bumper mobil selama parkir berjam-jam di basement gedung kantor Akang,  dan tetap di sana sampai balik ke Bogor lagi. Sekarang dia keluar ketika dipanggil induknya. Ya Allah... Alhamdulillah.


Dengan riang aku raih anak kucing itu. Tubuhnya lemas, bau asap mobil. Dea langsung membawa Dumdum, dibasuhnya tubuh mungil itu dengan  air hangat dan dikeringkan. Kemudian Dumdum menyusu pada induknya. Rasamaha terlihat  sangat bahagia menjilati seluruh tubuh Dumdum.πŸ˜—πŸ˜—πŸ˜—πŸ’“πŸ’“πŸ’“

“Ma, kasihan Teteh Anin. Dia tadi nelpon. Kayak orang linglung. Dia di tempat kosnya, gak bawa apa-apa. Nangis terus kayak orang patah hati.” Ujar Dea.

“Cepat telpon Teteh suruh balik ke Bogor. Anak kucingnya ketemu satu. Yang lainnya entah hilang kemana, tapi satu ini mungkin bisa mengobati sedihnya Teteh Anin.” Sahutku.


Akhirnya... Alhamdulillah. Aku bisa melihat Anin dengan lega dan bahagia memeluk Dumdum. πŸ’–πŸ’–πŸ’–Meskipun ada juga rasa sedih karena tiga ekor anak kucing lainnya tak jelas nasibnya. Blueband, Tummi dan Orange-peel, entah bagaimana nasib mereka. Semoga Allah melindungi..

Hati rasanya hangat menyaksikan Anin yang sayang sekali pada kucingnya. Sering dia mengirimkan message padaku ketika di weekday dia tinggal di tempat kos dekat kampusnya,

“Mama, Dumdum lagi ngapain?”

Maka aku pun memotret atau mengambil video Dumdum lalu kukirimkan ke Anin. Hehehe...


Anin membelikan Dumdum tempat tidur, rumah-rumahan, mainan, perlengkapan makan dan minum, dan boneka mainan. Bila Anin pulang ke rumah, dia rajin meracik makanan buat Dumdum. Selain  memberi makanan kering, Anin merebus tempe. Lalu tempe diuleg halus, dicampur makanan kucing yang basah dan sedikit yogurt. Dumdum dan Rasamaha makan dengan lahap. Kadang-kadang si Cungkring ikut makan juga.




Sekarang Dumdum tumbuh sehat dan pintar. Ini videonya ketika main dengan Anin 





Alhamdulillah...Sehat dan happy terus ya Dumdum dan Rasamaha πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–

Rabu, 18 April 2018

Cara Jitu Mengugurkan Keyakinan yang Tidak Memberdayakan dengan Meta Model


Kalau kita punya keyakinan yang tidak memberdayakan terhadap diri sendiri, terhadap anak, suami atau orang lain, jangan di pelihara ya.. Mending pelihara kucing atau ayam  J

Keyakinan-keyakinan yang tidak memberdayakan sering disebut limiting beliefs atau mental block. Keyakinan ini jika disematkan kepada diri sendiri akan menghambat kita bertumbuh menjadi lebih baik.  Jika disematkan pada orang lain menjadi label negatif yang selain tidak baik bagi orang tersebut, juga mengganggu emosi kita sendiri saat menghadapi orang tersebut.


Contohnya apa sih limiting belief itu? Kalau ada yang bilang begini,

“Aku itu pemalas.”

“Anakku  yang bungsu itu lemot.”

“Suamiku nggak pernah mendengarkan aku.”

“Aku nggak bisa bicara di depan orang banyak.”

Limiting belief atau label buruk yang kita sematkan pada diri sendiri maupun orang lain membuat kita  tidak punya respon yang luas, sehingga merugikan diri  atau orang-orang terdekat yang kita beri label itu. Kok bisa merugikan?

Contohnya pengalamanku sendiri. Dulu, aku pernah diberi label pemalas oleh Mamiku. Karena Mami bilang aku pemalas, sedangkan Mami adalah orang yang mengasuh aku sejak lahir hingga dewasa, dan aku anggap Mami adalah orang yang paling kenal diriku, maka aku percaya bahwa aku memang pemalas.

 Suatu ketika aku pernah ditawari ikut mengerjakan sebuah proyek bersama teman-teman.

“Ini proyek pakai deadline lho! Jadi harus rajin dikerjakan.” Ujar temanku.

Aku yang tadinya semangat ingin ikut, tiba-tiba merasa tak sanggup. Dalam hati aku berkata,

“Lha, harus rajin dikerjakan? Aku kan pemalas. Mana bisa? Nanti aku bakal keteteran mengejar deadline. Mending dari awal saja aku nggak usah ikutan.”

Karena pemikiran itu, akhirnya aku memutuskan tak jadi ikut mengerjakan proyek. Padahal setelah proyek itu berjalan, aku banyak punya waktu luang. Seandainya aku jadi ikut, pasti bisa mengerjakan pekerjaan itu. Akhirnya, teman-temanku yang mengerjakan proyek  memperoleh keberhasilan, sementara aku cuma gigit jari. Menyesal.

Apakah aku harus marah pada Mamiku? Ya nggaklah. Mami kan dulu belum pernah belajar ilmu parenting sehingga dia tidak mengerti kalau melabel anak itu efeknya tidak baik.

Di kelas Enlightening Parentingnya Mbak Okina, aku dibantu melepaskan label pemalas dengan menggunakan meta model chunk down.

Apa itu meta model ? Meta model atau pertanyaan klarifikasi  adalah bentuk serangkaian pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh informasi lebih lengkap, sehingga berguna untuk memodel dunia lebih luas.  Sedangkan chunk down artinya mencacah informasi sehingga tampak detailnya. Manfaat mencacah informasi adalah untuk membangkitkan kesadaran,  dan mengembalikan persepsi ke realita yang sesungguhnya.

Okina : “Mbak Iwed, bagaimana tepatnya Mbak Iwed merasa bahwa Mbak Iwed itu pemalas? Apakah 30 hari sebulan, 7 hari seminggu, 24 jam sehari Mbak Iwed selalu malas?

Iwed : “Iya nggak juga. Tapi aku suka kadang malas mengerjakan suatu pekerjaan.”

Okina : “Biasanya kalau malas mengerjakan sesuatu itu dalam keadaan apa?

Iwed : “Kalau capek, atau sedang nggak enak badan.”

Okina : “Mbak Iwed pernah merasa rajin, nggak?

Iwed : “ Pernah.”

Okina : “Coba ceritakan apa saja kegiatan Mbak Iwed dalam satu hari.”

Iwed : “Aku bangun subuh, shalat, menyiapkan sarapan anak dan suami, mengantar anak ke sekolah, menulis, masak, jemput anak dan antar  mereka les, antar anak pulang ke rumah, menemani mereka, menemani suami, lalu tidur.”

Okina : “Lha pekerjaan sebanyak itu dikerjakan tiap hari, kira-kira itu pekerjaannya orang pemalas apa bukan?”

Iwed : (Cengengesan).

Okina : “Saat Mbak Iwed mengerjakan pekerjaan-pekerjaan itu apa yang dirasakan?”

Iwed : “Semangat. Karena cinta sama anak dan suami.”

Okina : “Artinya Mbak Iwed bisa rajin kan? Bagaimana caranya supaya bisa rajin terus?”

Iwed : “Menjaga semangat, menjaga cinta pada keluarga, dan juga menjaga fitalitas dan  kesehatan badan.”

Okina  :“Jadi Mbak Iwed itu pemalas apa bukan?”

Iwed  :“Hehehe... bukan.”

Maka gugurlah limiting belief  itu.

Contoh lain cara menggugurkan limiting belief pernah aku lakukan terhadap Rafif yang melabel Bapaknya sebagai “tukang marah”. Hal ini terjadi karena pada saat marah, si Bapak nada bicaranya tinggi,suaranya keras, ekspresi wajah menyeramkan, sehingga heboh dan tertanam kuat  di ingatan Rafif.

Berhubung Bapaknya Rafif sudah berkomitmen untuk berubah, berupaya menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya, maka aku merasa perlu membantu Rafif menggugurkan limiting belief atau label negatif yang terlanjur disematkannya. Tujuanku, dengan menggugurkan limiting belief , proses membangun kembali kedekatan yang diupayakan si Bapak pada Rafif bisa berjalan lebih  lancar.

Rafif : “Bapak itu tukang marah.”

Mama : “Rafif yakin Bapak tukang marah? Memangnya dalam 30 hari sebulan, setiap hari, setiap saat Bapak itu selalu marah?”

Rafif : “Ya enggak sih...”

Mama : “Coba, dalam sehari saja. Dalam 24 jam. Berapa kali dan berapa lama Bapak marah, Fif?”

Rafif : “Yaa.. nggak tiap hari sih..”

Mama : “Nah, di hari saat Bapak marah, berapa lama sih Bapak marahnya? Berapa jam atau berapa menit?”

Rafif : “Ya.. kira-kira 10 menitlah.”

Mama : “Sepuluh menit dalam 24 jam ya?”

Rafif : “Ya kira-kiranya segitu.”

Mama : “Oke. Yuk kita hitung presentasinya ya. Dalam 24 jam itu kan Bapak tidur kira-kira 7 jam. Jadi sisanya  17 jam. 10 menit dibagi 17 jam ya. Supaya enak kita jadikan menit semua. 10 menit dibagi 1020 menit itu sama dengan 0.98 %. Presentasi Bapak marah adalah 0.98 %. Artinya presentasi Bapak nggak marah adalah 99.02%. Benar nggak, Fif?”

Rafif : “Iya.”

Mama : “Nah,faktanya Bapak marah cuma 0.98% sedangkan tidak marah 99.02%. Lha kok bisa Rafif bilang Bapak itu tukang marah? Jadi sebenarnya, Bapak itu tukang marah apa bukan?”

Rafif : Cengengesan, lalu menggelengkan kepala.

Maka gugurlah sudah keyakinan Rafif kalau Bapaknya tukang marah. Alhamdulillah.. sekarang Rafif kalau ditanya kapan terakhir melihat Bapaknya marah, dia sudah tak ingat lagi. J

Jumat, 13 April 2018

TIPS MENYIKAPI SUAMI SUKA MARAH DAN MEMUKUL ANAK


Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting
Nara Sumber : Sutedja Eddy Saputra dan Okina Fitriani

Punya suami yang suka marah dan memukul anak? Bagaimana menyikapi dan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal yang demikian?

Mari simak  poin-poin yang dirangkum dari sesi tanya jawab materi PERAN AYAH dalam Training Enlightening Parenting di Surabaya 7-8 April 2018, bersama nara sumber Sutedja Eddy Saputra dan Okina Fitriani.


Tanya : Suami saya dididik dengan keras oleh orangtuanya dengan hukuman fisik . Salah satunya, pernah kepalanya dibenturkan ke tembok oleh orangtuanya. Ketika menikah, kami sering mengalami perbedaan pendapat dalam hal  cara mendidik anak. Suami saya bersikeras bahwa  anak harus dikerasi.  Saat dia marah dan melakukan hukuman fisik pada anak, saya langsung meng-interupsi, karena saya tak tega pada anak. “Jangan, jangan di pukul!” Begitu saya katakan pada suami. Padahal saya tahu, tidak boleh berbeda pendapat di hadapan anak. Saya sudah memberi tahu suami, tetapi di lain waktu masih saja suami berkeras harus mendisiplinkan anak dengan hukuman fisik. Bagaimana  cara mengatasi hal ini ?

Jawab (Sutedja Eddy Saputra ) : Ini masalahnya sangat simple sebenarnya. Seharusnya suami ikut belajar parenting  di ruangan ini hari ini. Kalau dia tidak mau belajar, maka tugas istri melakukan persuasi agar suami mau. Memang banyak usaha yang harus dilakukan istri. Ini kasusnya mirip dengan pengalaman saya dulu. Istri saya butuh waktu 2 tahun melakukan upaya persuasi sampai akhirnya saya bersedia belajar parenting, lalu menyadari kesalahan saya.

 Selain itu, hal ini terjadi karena belum punya visi misi keluarga yang dibuat dan disepakati bersama. Sama persis dengan pengalaman saya dulu.  Saya belum belajar parenting, tidak punya visi misi keluarga, sehingga saya maunya mendidik anak dengan cara saya yang keras, sementara istri sudah tahu bagaimana cara mendidik anak dengan benar.

Kalau sudah ada visi-misi keluarga, artinya sudah ada aturan bagaimana ayah memainkan perannya , bagaimana ibu menjalankan perannya.  Apa saja  kesepakatan  yang harus dijalankan dalam pengasuhan anak.

Lalu, karena istri yang sudah belajar parenting lebih dulu, maka istri harus memberi contoh untuk berubah. “Ini lho contoh mendidik anak dengan cara yang lebih baik. “

Apa bedanya mendidik dengan dan tanpa kekerasan?

Dulu ketika saya mendidik anak dengan keras, anak itu melakukan perlawanan. Mereka tidak langsung nurut. Saya harus marah dulu, harus memukul dulu, baru mereka melakukan apa yang saya inginkan. Tapi ketika saya tidak ada, maka pelanggaran kembali terjadi. Intinya, mereka  hanya takut pada saya, bukan taat pada aturan.

Sebaliknya, ketika anak dididik dengan kasih sayang, ketika orangtua dan anak membuat objektif bersama-sama, ternyata mereka bisa jauh lebih berkomitmen. Sehingga mendidik anak menjadi lebih mudah. Mendisiplinkan anak ternyata tidak harus dengan cara kekerasan.

Mbak Okina dan suaminya,  Mas Ronny,  sangat berhati-hati dalam memilih kata sehingga sangat jarang berkata keras pada anak.  Tapi saya lihat sendiri bagaimana hasilnya, karena saya pernah beberapa kali berkesempatan bersama keluarga mereka. Diingatkan dengan kata-kata lemah lembut saja,  anaknya sudah mengerti.

Beberapa waktu lalu saat di sebuah sharing session, ada seorang ibu yang bertanya. Anaknya yang masih di usia SD, memukuli teman-temannya.  Ternyata, ayah sang anak adalah seorang t*****a yang mendidik anaknya dengan kekerasan, dengan maksud supaya anaknya disiplin.  Padahal, sang ayah menerima pendidikan disiplin yang keras itu setelah menjadi t*****a di usia yang sekurang-kurangnya 18 tahun, usia di mana dia sudah siap  menerima  kedisiplinan dalam pendidikan yang  keras seperti itu.  Sedangkan anaknya kan masih  jauh dibawah itu . Tidak bisa disamakan, mendidik anak-anak  usia 7-8 tahun dengan mendidik  t*****a yang usianya sudah 18 tahun. Inilah pentingnya  orangtua paham ilmu parenting sehingga bisa mendidik anak dengan benar.

Jawab (Okina Fitriani) : Saya tambahkan sedikit ya. Sebenarnya suami yang suka memukul, suami yang perkataan atau ucapannya jelek, bicaranya bad word,   itu  karena tangki cintanya kosong.  Maka tugas siapa mengisi tangki cinta sang suami? Apa sang istri mesti bilang begini,

“Sana! Balik ke orangtuamu sana! Aku nggak mau dekat-dekat kamu! Karena kamu suka memukul anakku!”

Ya tidak begitu. Ada hal-hal yang bisa dilakukan secara simultan sebagai berikut :

1. Istri harus menegur suami dengan baik.  Di sisi lain, tambahkan limpahan cinta  pada suami. Tugas istrilah mengisi tangki cinta suaminya. Suami seperti itu justru harus disayang-sayang. Banyak puji suami, layani jauh lebih baik, beri sentuhan jauh lebih banyak, lihat perbedaan sikapnya. Diharapkan  kalau tangki cinta suami sudah meluber-luber, tangannya jadi penuh cinta, mulutnya jadi penuh cinta, matanya juga jadi penuh cinta.

Bagaimana saat sedang kesal pada suami, tapi istri bisa memperlakukan suami dengan penuh cinta? Bisa dicoba dengan Anchor Cinta seperti pengalaman Mbak Iwed dalam tulisannya “ANCHOR CINTA” di  link ini http://www.julianadewi.com/2017/10/anchor-cinta.html

2. Jika suami  masih tetap memukul anak, laporkan suami pada walinya.  

3. Selanjutnya, katakan dengan tegas pada suami jika tetap memukul anak, dia akan dilaporkan ke polisi.  Jangan lakukan ancaman kosong, artinya bila perilaku memukul tetap berlanjut, istri harus benar-benar melaporkan suami ke polisi. 




Selasa, 10 April 2018

LONG DISTANCE RELATIONSHIP DAN RAHASIA MENGAJAK SUAMI AKTIF BERMAIN DENGAN ANAK



Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting
Nara Sumber : Okina Fitriani dan Ronny Gunarto

 Seorang istri menjalani Long Distance Relationship (LDR) dengan suaminya  karena suami bekerja  jauh dari tempat tinggalnya. Sang istri  mengeluh tentang cara mengajak suami aktif bermain dengan anak saat suami berada di rumah.

Berikut ini  tips dari Mas Ronny Gunarto dan Mbak Okina Fitriani yang disarikan dari materi “KOMUNIKASI SUAMI ISTRI “ yang disampaikan dalam  Enlightening Parenting Training,  Surabaya 7-8 April 2018.


Tanya : Saya  dan suami  menjalani LDR. Kami punya anak usia 3 tahun. Saat suami jauh, selalu saya yang menghubungi dia dengan video call supaya bisa ngobrol dengan anak. Lalu ketika suami pulang, dia kurang aktif bermain dengan anak.  Bagaimana sebaiknya, apakah saya harus ikut suami, atau biarlah seperti ini keadaannya, dan apakah meski LDR hubungan kami bisa tetap baik juga?

Jawab (Ronny Gunarto ) : LDR memang lebih challenging daripada hubungan biasa. Sebaiknya LDR itu memiliki target. Misalnya sepasang suami istri sepakat untuk hidup berjauhan selama sekian tahun atau sekian bulan, atau berapa lama pun.  Tapi dengan target bahwa suatu hari mereka akan menetap dan berkumpul sebagai satu keluarga.  Kemudian, suami istri harus membicarakan dan punya kesepakatan tentang peran  suami ketika hadir ditengah-tengah keluarga. Misalnya saja bila suami bekerja di oil and gas yang jadwalnya 28 hari bekerja dan 28 hari libur. Nah saat libur selama 28 hari itu, jangan sampai suami  maunya hanya tidur-tiduran saja di rumah, tidak menjalankan perannya sebagai ayah.  Suami-istri harus punya rencana. Kapan akan berkumpul kembali, dan ketika suami ada di rumah, apa saja kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan sang suami ketika dia berperan sebagai seorang ayah.  Buatlah peran ayah yang maksimum disaat-saat bersama untuk mengganti intensitas waktu saat jauh dari anak.

Saya sharing sedikit pengalaman. Saya pernah LDR  selama 8 bulan. Terkadang LDR itu malah bagus lho. Jadi ketika saya LDR karena bekerja di Saudi Arabia,  saat pulang, saya melihat anak saya kok lebih baik ya? Lebih sopan, lebih menghargai, lebih ceria, dan lain-lain.  Ternyata mungkin ketika saya ada, saya kurang memberi efek yang lebih baik.Setelah berbincang dengan istri, saya paham dan saya mendukung pola pengasuhan yang sudah dirintis oleh istri saya, dan saya bersedia untuk mengambil peran bersama-sama istri meneruskan pola asuh yang  baik itu.

Jawab (Okina Fitriani ) : Betul apa yang dikatakan Mas Ronny. Kadang LDR itu adalah kesempatan   istri untuk membuktikan pada suami bahwa sang istri sudah melakukan hal yang benar. 

Siapa sih di dunia ini yang mau dikasih “ kue” yang gak enak? Kalau suami pulang, lalu dilapori “Itu lho, anakmu itu lho, nakal! Anakmu begini, anakmu begitu.” Sambil mukanya cemberut-cemberut. Mengeluh terus soal anak. Itu sama saja memberi suami kue yang nggak enak.  Kira-kira mau nggak suami? Ya mana maulah. Kalau istri terus-terusan mengeluh, jangan-jangan untuk pulang ke rumah saja suami jadi malas. Karena merasa bahwa “Ah, sebentar lagi bakal dapat kue yang nggak enak.”

Maka tugas istri menjadikan kue itu enak banget. Biar suami ngiler. Biar suami ngences-ngences. Coba kalau istri bilang,” Asyik banget lho main sama anak-anak.Wiiih...seruuuu!” Apalagi kalau dilihatnya anak berperilaku baik, maka suami akan berpikir “Aku kok nggak diajak main?” Lalu malah suami yang ingin,  lalu berkata pada anak-anak. “Yuk main sama Ayah yuuk!” Begitu triknya.

Trik selanjutya.  Misalnya ada istri yang mengeluh. “ Suami saya kok nggak mau berperan dalam pengasuhan saat berada di rumah.”

Saat suami jauh, sepakati dulu rencana-rencana yang akan dilakukan suami ketika  nanti bersama anak. Saat dia datang, dia pasti lelah karena perjalanan yang jauh misalnya. Caranya kasih dulu, baru minta. Dalam ilmu persuasi namanya pacing, pacing, pacing, lalu leading.

Kasih dulu. Penuhi dulu tangki cintanya.  Suami disenang-senangin dulu, kasih makan , kasih minum, dipijitin dulu, dielus-elus dulu, facial-facial,  suruh bobok  manis dulu. Sudah segar, baru ajak main  dengan anak.  Jangan terbalik, minta-minta baru kasih. Yang benar itu kasih, kasih, kasih dulu  baru minta.

Kuncinya adalah rendah hati. Menjadi istri itu rendah hati. Mungkin istri ilmunya banyak. Mungkin istri lebih paham tentang ilmu parenting daripada suami. Tapi nggak usah kepinteran. Jangan  bicara  begini pada suami,

“Begini lho tak kasih tau. Kamu Salah! Teori parentingnya itu begini!”

Atau

“Tu kaan.. Kalau kamu nggak ada, anakmu malah jadi sopan kaan?”

Jangan lakukan hal itu.  Rendah hatilah sebagai istri. Harusnya yang dilakukan istri adalah berterimakasih. Katakan pada suami seperti ini,

“Terimakasih lho sudah memberi ruang kepadaku untuk mengevaluasi apa yang keliru pada anak-anak. Ini sudah mulai kubangun, sudah ada hasilnya. Tinggal kita teruskan yuk, kita sama-sama..”

Jangan lupa mengapresiasi apa pun peran ayah yang sudah dilakukan suami. Pria itu  kalau  makin dihargai akan juga  makin menghargai istrinya.

Sabtu, 31 Maret 2018

TIPS MENGEMBALIKAN ANAK PADA FITRAH BAIKNYA : BANGUN DINI HARI.


SERI TANYA JAWAB ENLIGHTENING PARENTING
BERSAMA PSIKOLOG OKINA FITRIANI


Masih ingatkah kita, bahwa bayi suka sekali bangun menjelang subuh?

Manusia didesain Tuhan untuk beribadah dan memulai kegiatan produktif sejak dini hari.
Tapi apa yang dilakukan sebagian orangtua? Mereka sibuk menidurkan lagi bayinya supaya kegiatan pagi orangtua tidak terganggu.

Lalu kemudian orangtua mengeluh. " Kenapa kok kamu susah sekali bangun pagi, Naaaak??!!"
Andakah orangtua yang seperti ini? Mari kembalikan lagi anak ke fitrah baiknya : bangun subuh/ dini hari.
Caranya? Ikuti di sini ya.

Kamis, 29 Maret 2018

TIPS MENGATASI PERILAKU MEMUKUL PADA ANAK BALITA

Bila anak balita memukul, apa yang sebaiknya dilakukan orangtua?




Mbak Okina Fitriani, founder Enlightening Parenting menyarankan beberapa hal berikut ini :

1. Berhenti melabel anak, lakukan chunking down untuk menghilangkan label atau limiting belief yang terlanjur dilekatkan pada anak. Selesaikan emosi.

2. Lakukan "The Power of Touch"
Pijatan itu"memberi makan" terhadap lapar sentuhan yang mungkin tidak terpenuhi saat 0-2 tahun, atau anak memiliki kebutuhan sensori yang masih tinggi. Tekniknya bisa dicari, googling saja aneka pijatan sensori/stimulasi bayi. (ini pijatan untuk situasi normal ya. Untuk Anak Berkebutuhan Khusus berbeda. Anak ABK programnya tailored sesuai assesment.

3. Jadilah detektif kebaikan yang mengapresiasi setiap kebaikan yang dilakukan anak, meski pun kebaikan kecil.

4. Konsisten, fokus pada tujuan.

5. Optimalkan peran ayah.

6. Check mainan, tontonan dan perilaku orang-orang yang terlibat dalam pengasuhan anak, apakah dari situ anak ketularan emosi atau perilaku memukul?

Detailnya bagaimana? Silakan disimak sharing pengalaman Mbak Winda, salah seorang alumni Training Enlightening Parenting berikut ini :

CARA MEMPERBAIKI LABELING POSITIF YANG TERLANJUR DILAKUKAN PADA ANAK

Sudah terlanjur sering menyebut anak hebat, anak pintar, anak shaleh, dan berbagai label positif pada anak? STOP DOING IT! Lakukan jurus memuji efektif sebagai langkah perbaikan. Simak tanya jawab berikut ini

TANYA JAWAB ENLIGHTENING PARENTING  
NARASUMBER : OKINA FITRIANI


Rabu, 28 Maret 2018

KIAT MENGHINDARI MELAKUKAN ANCAMAN TERHADAP ANAK

(TANYA JAWAB ENLIGHTENING PARENTING. NARASUMBER : OKINA FITRIANI)


T : Saya masih sulit sekali menghindari mengancam terhadap anak. Saya merasa masih terbatas dalam berkomunikasi dengan baik dalam kondisi tertekan. Karena ingin cepat, akhirnya keluar juga ancaman. Bagaimana cara mengatasinya ?

Rabu, 24 Januari 2018

MENGHALAU GALAU DENGAN PARENTAL COACHING


Banyak orang berpendapat ilmu parenting  hanya cocok untuk anak-anak usia balita hingga mencapai baligh saja. Kalau anak sudah lebih dewasa, sudah telat menerapkan ilmu parenting. Pendapat ini sungguh tak berdasar.

Kenyataannya, ilmu parenting tetap sangat dibutuhkan di semua tahap perkembangan anak. Masalah yang dihadapi anak pun terus berkembang. Maka tugas orang tua  menerapkan pengasuhan tetap berlanjut hingga nyawa terpisah dari raga. Tak terkecuali saat sang anak yang sudah menjadi mahasiswi tiba-tiba galau.

Pesan   Whatsapps masuk ke telepon selular-ku, dari si sulung.

Jumat, 29 Desember 2017

MENYELAM ALA WISATA KEKINIAN DI UMBUL PONGGOK

Anak-anak jaman now kalau diajak liburan, inginnya ke tempat-tempat yang sedang  hitz dan kekinian.  Padahal belumlah lengkap semua destinasi tempat wisata Jogja kami kunjungi, kami malah beralih ke arah  Klaten, Jawa Tengah demi memenuhi keinginan anak-anak dan keponakanku. Ada apa di sana?



Salah seorang sahabat merekomendasikan tempat wisata Umbul Ponggok, yang terletak di Jl. Raya Ponggok-Delanggu, Ponggok, Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Maka meski kami harus menempuh sekitar 42-an Km atau satu jam lebih dua puluh menit bermobil dari Jogja, kami tetap semangat menuju Umbul Ponggok.