Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Maret 2020

PEMPEK UDANG REBON ALA IWED



Stok pempek habis. Kalau beli ikan giling resikonya harus keluar ke pasar tradisional, dan takutnya nanti di pasar ramai, resiko ketempelan virus lebih besar. Jadi ya.. sementara #stay_at_home menghindari virus Corona, cari alternatif gimana caranya tetap ada stok pempek meski bukan pakai daging ikan giling. Mau gimana lagi, ini lidah sudah selera Palembang soalnya😁😁

Nemu udang rebon kering 2 ons di kulkas. Ya itulah yang diolah jadi pempek. Ternyata rasanya enak juga meski tampilan pempeknya agak "gelap"😁😁.

Kamis, 05 September 2019

DIMSUM AYAM IKAN TENGGIRI


Dea kebelet ingin dimsum. Jam 8 malam minta dibuatkan..Lho gimana? Bahannya belum adaπŸ˜….

Mama malas keluar rumah, akhirnya pilih jasa gomart, minta driver gojek beli kulit pangsit di supermarket. Untung ada😁😁.


Terus bongkar freezer. "Nemu" ikan tenggiri giling 500 gr (entah kapan ini belinya, aku sudah lupa🀣🀣) dan nemu juga ayam giling 800 gr ( ini padahal rencananya mau dibikin chicken nugget).

Jumat, 23 Agustus 2019

PELESIRAN MESRA DI BATAM DAN BINTAN



Kali ini si Akang ada kerjaan di Batam dan dia  mengajak bininya ikut. Hihihi...πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Ngapain ikut suami kerja? Ya kalau diajak suami nggak boleh nolak kan ya.. Dengan kehadiran istri, dia merasa lebih nyaman. Dan aku juga tidak akan ikut ke lokasi Shipyard tempat dia bekerja. Aku hanya menemani dia di hotel dan saat sudah selesai kerjaannya. (Ini sebenarnya percakapan self talkku. . πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚)

Aku berangkat ke Batam dari Palembang. Karena dari Kamis 15 Agustus aku ada di Palembang untuk menengok Mami dan mertuaku. Tepat di hari kemerdekaan, 17 Agustus 2019,  tiba di bandara Hang Nadim Batam pukul 13.00. Dengan taksi aku langsung menuju hotel Harmoni di kawasan Sungai Jodoh, Nagoya. Ternyata hotelnya terletak di pusat kota Batam. Di mana di sekeliling hotel terdapat beberapa tempat makan yang terjangkau dengan jalan kaki.

Akang berangkat dari Bogor dan tiba di hotel sore hari.  Hari ini kami habiskan dengan santai-santai di hotel.

Hari Minggu 18 Agustus 2019, usai akang mengunjungi Shipyard, kami makan siang menikmati sop ikan khas Batam yang sudah dari dulu ngehits.

Akang memilih menu sop ikan, aku memilih sop ikan dicampur sea food.  Sop ikan dan sea food ini enak, segar. Cocok sekali dengan selera kami yang suka makan makanan berkuah, panas dan gurih. Potongan daging ikan, dimasak dengan kuah  dicampur bumbu, potongan tomat hijau dan sayur. Semakin mantap rasanya setelah aku campurkan irisan cabe rawit hijau. Hmmm...yummmy.


Lalu ada siput gong gong. Siput ini direbus, kemudian disajikan di piring lengkap dengan sambal untuk cocolannya. Rasanya kenyal-kenyal, lumayan enak. Meskipun menurutku siput ini lebih enak kalau dibuat jadi  keripik.


Yang juga enak adalah menu ayam goreng bawang. Tampaknya menu ini juga khas Batam, karena ayam goreng bawang ini disajikan juga di menu sarapan di hotel. Ayamnya dipotong-potong kecil, digoreng dengan bumbu spicy, lalu disajikan dengan bawang putih yang digoreng lengkap dengan kulitnya. Aku tak cuma mencicipi ayam yang dagingnya lembut spicy, tapi bawang putih goreng itu ternyata enak juga. πŸ˜‹


Sore itu aku dan Akang menghabiskan waktu ngegym di hotel.



“Nanti malam kan kita mau makan duren, Neng. Jadi sekarang kita bakar lemak dan kalori dulu. Supaya gak kegendutan.” Begitu saran si Akang.

Malamnya kami kelayapan keluar hotel. Ngapain lagi kalau bukan mencari durian. Si akang penggemar berat buah berduri itu.  Kabarnya, durian import dari Malaysia sampai juga ke Batam. Maka kami terdampar di kawasan Tanjung Batu. Di sana ada kios Durian Datuk yang menyediakan durian-durian import dari Malaysia.

Sebenarnya kami datang ke tempat ini bukan di waktu yang tepat. Saat itu jam 7.30 malam, sedangkan kiriman durian biasanya datang jam 9 malam. Sehingga saat itu kami hanya kebagian “sisa” saja. Tapi Alhamdulillah.. masih ada durian  jenis Teik Kah, Udang Merah daaan.... Musang King.







Durian udang merah dagingnya berwarna sedikit orange. Rasanya manis. Teik Kah lebih enak, manis dan ada pahitnya. Bagiku, paling juara rasanya adalah Musang King. Manisnya ngejreng, daging buah berwarna kuning glowing cantik, pahitnya ada sedikit saja, daging buah tebaal, bijinya tipis kempet. Tapi bagi si Akang, dia lebih suka makan Teik Kah yang rasa pahitnya agak lebih kuat dari Musang King. Sayang sekali, durian jenis Duri Hitam, yang paling digemari Akang, tidak tersedia.

Hari ini ditutup dengan bobok cantik kekenyangan makan durian.

Si Akang, belahan jiwa yang baik hati  terlihat gantengnya meningkat berlipat-lipat di mataku.  Bagaimana tidak, dia mengajak aku jalan-jalan ke Pulau Bintan.  Yeayyy....

Kerjaan gimana kerjaan? Hehehe... pas banget ini rezeki istri shalehah.  Ada beberapa hambatan di lapangan sehingga kerjaannya belum  bisa dimulai, baru bisa dimulai esok harinya.

Maka, kami memesan mobil sewaan untuk jalan-jalan satu hari di Pulau Bintan.  Akang pesan di nomor ini : Tanjung Uban Rental ( Pak Adi ) 082284812724.

Sewa mobil + sopir+ bensin+ parkir seharian Rp. 550.000,- Jenis mobil yang kami sewa Proton Exora. Kami baru tahu kalau harganya bisa ditawar sebenarnya. Tapi ya nggak tega juga nawarnya. Hehe..πŸ˜ƒπŸ˜ƒ


Pagi-pagi kami bangun dengan semangat 45. Sepertinya masih terpengaruh suasana 17 Agustusan. Usai sarapan, sekitar jam 7 pagi akang memesan taksi online untuk menuju ke Pelabuhan Telaga Punggur. Atas petunjuk seorang teman, kami disarankan naik speedboat menuju Pelabuhan Tanjung Uban Pulau Bintan. Dia tidak menyarankan naik kapal Roro/ ferry karena membutuhkan waktu menyeberang yang lebih lama yaitu 1 jam. Dengan speedboat hanya butuh 15 menit saja menyeberang dari Telaga Punggur ke Tanjung Uban.

Setelah membayar taksi online sejumlah Rp. 95.000 untuk perjalanan sekitar 35 menit dari hotel, kami turun di Pelabuhan Telaga Punggur.

Suasana sepi, tapi counter-counter tiket sudah buka. Kami memilih counter tiket untuk menuju ke Tanjung Uban. Harga tiketnya Rp. 53.000 per orang. Setelah dapat tiket, dengan langkah cepat kami berjalan menuju dermaga.

Speedboat sudah menanti di dermaga. Tak menunggu lama, kapal kecil itu segera membawa kami menuju Tanjung Uban. Perjalanan singkat  dengan pemandangan laut dan langit  biru, angin kencang  menerjang jilbabku lewat  jendela kapal , mengingatkan aku saat bulan Juli lalu ketika menyeberangi laut menuju  Venezia Italy yang juga dilakukan dengan speedboat. Ah..senangnya. Kini kami jalan-jalan lagi.


Pelabuhan Tanjung Uban juga tidak terlihat ramai. Setelah kapal bersandar, kami cepat-cepat berjalan menuju parkiran mobil. Akang menelpon driver, dan segera disambut. Nama drivernya Pak Adi. Lelaki usia  30an tahun itu terseyum ramah menyambut kami.



“Kita langsung ke objek wisata Gurun Telaga Biru ya Pak.” Usul Pak Adi. Kami berdua manut saja.

Dari pelabuhan Tanjung Uban, kami menempuh jarak sekitar 17 km. Selama berkendara, melewati  hamparan semak dan tanah kering di sisi jalan,Pak Adi bercerita tentang pualu Bintan dan bagaimana dia bertemu istrinya yang orang Palembang, hingga menikah dan menetap di pulau ini. Menurut Pak Adi sebagian besar tanah di pulau ini milik Salim group. Termasuk juga wilayah objek wisata yang sedang kami tuju.

 GURUN TELAGA BIRU DESA BUSUNG

Gurun pasir Telaga Biru desa Busung  terletak di Kecamatan Tanjung Uban, Kabupaten Bintan, Propinsi Kepulauan Riau. Dari Pelabuhan Tanjung Uban butuh waktu sekitar 20 menit perjalanan. Sedangkan dari bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjung Pinang maupun Pelabuhan Tanjung Pinang membutuhkan waktu tempuh sekitar 45 menit dengan mobil.

Tempat ini sebelumnya adalah area penambangan pasir bauksit yang kini sudah mengeras seperti karang. Penambangan sudah lama dihentikan sejak Orde Baru masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Puluhan tahun terbengkalai, cekungan bekas galian kemudian terisi air, membentuk telaga dengan air yang hijau kebiruan, bening dan tenang.

Terdapat pula gundukan-gundukan pasir mengeras berwarna cream dengan butiran berkilau seluas 6000 hektar, tampak seperti gurun di Timur Tengah. Tempat ini menjadi sangat cantik ketika diabadikan dalam foto.

Masuk ke area ini tidak ada biaya retribusi, hanya perlu membayar uang parkir Rp. 2000,- untuk motor dan Rp. 5.000 untuk mobil.

Matahari bersinar terang, namun arah datang cahaya matahari seolah mendukung kami menghasilkan foto-foto cantik.

Terdapat telaga biru di bagian depan area, namun Pak Adi membawa kami ke telaga biru yang lebih jauh, melewati gurun pasir.

Serombongan turis asing berbahasa China berbondong-bondong turun dari bus, kemudian menyerbu gurun dan telaga biru. Aku tersenyum-senyum melihat seorang gadis melepas pakaian luarnya, rupanya dia sudah siap bergaya dengan baju senam, lalu berpose dengan pose yoga di atas titian telaga biru. Temannya sibuk memotret sang gadis dari berbagai posisi. Hahaha... keren. Niat banget.

Pak Adi memotret  kami di tiap spot cantik, baik di gurun maupun di telaga biru. Hasilnya bisa dilihat di sini.





“Neng, ini tempatnya memang cantik ya. Tak perlu photographer profesional, driver mobil sewaan saja dengan sedikit arahan sudah bisa menghasilkan foto dengan komposisi cantik begini.” Ujar Akang puas melihat hasil jepretan Pak Adi.

Panas terik matahari membuat kami haus. Setelah berfoto dan menikmati suasana, kami duduk di tenda-tenda warung menyeruput air kelapa muda yang menyegarkan. Warung-warung itu juga menjual durian. Tapi kami tidak membeli karena Pak Adi bilang lebih baik beli di tempat yang khusus menjual buah durian.

“Jangan khawatir, Pak. Nanti kita mampir makan durian di perjalanan kita  ini. Banyak juga tempat makan durian di pinggir jalan. “ Ujar pak Adi.

LAGOI BAY 

Pak Adi kemudian membawa kami ke Lagoi Bay. Berada pada kawasan seluas 1.300 hektar, Lagoi Bay adalah ‘jantung Pulau Bintan’. 


Di area ini terdapat banyak tempat makan  dan hotel-hotel mahal.  Ada juga kebun binatang dan Treasure Bay Lagoi, yaitu kolam renang terbesar di Asia Tenggara. Luasnya mencapai 6,3 hektar, dan memiliki panjang 800 meter. Luas  permukaannya bahkan setara dengan 50 kolam renang untuk ukuran olimpiade. Daya tamping airnya sampai 115 juta kubik, dengan kedalaman terjauh adalah 2,5 meter.



Sayangnya untuk kali ini kami  memutuskan tidak mengunjungi Treasure Bay, karena waktu yang sempit dan tidak bawa pakaian renang. Mungkin nanti kalau ada kesempatan lagi, ingin rasanya menginap dan menikmati suasana Treasure  Bay.


Kami hanya mengunjungi Lagoi Bay saja. Di sini terdapat Lantern Park, taman lampion yang buka pada malam hari. Tapi sayangnya taman ini sedang tutup, karena renovasi.

Di Lagoi Bay, pantainya landai . Akang menatap hamparan laut dan pantai tanpa selera.


“Akang lebih suka pegunungan Neng.” Ucapnya.

“Nanti kita ke pantai yang bagus, Pak. Namanya Pantai Trikora. Jauh lebih bangus dari tempat ini.” Ucap Pak Adi.

 MAKAN DURIAN LOKAL BINTAN 

Dari Lagoi Bay, Pak Adi membawa kami makan durian. Duriannya jenis lokal. 


Salah seorang teman yang tinggal di Batam meminta aku mencoba durian daun kalau berkunjung ke Bintan. Katanya enak. 

Durian daun ukurannya kecil, durinya langsing dan rapat. Buahnya pun kecil-kecil. Rasanya bagaimana? Hehehe... kurang enak menurutku dan akang. 

Ini masalah selera. Aku yang sudah mencicip durian import seperti Musang King jadi punya standard yang tinggi untuk ukuran kelezatan durian. Dan Durian daun ini  menurutku ada di bawah standard enak. 


Kami mencicipi durian lokal juga. Lumayanlah.. manis dan cukup enak  meski tidak seenak durian import.

PONDOK TELUK BAKAU BAY VIEW

Siang makin menjelang. Pak Adi membawa kami ke resto Seafood di kawasan pantai Trikora. Nama tempatnya “Pondok Makan Teluk Bakau Bay View”.


Berharap bisa menyantap ikan bakar, Akang jadi kecewa karena ikan tidak tersedia.  Akhirnya kami memesan cumi lada hitam, Ayam goreng bawang, siput gong gong, dan tumis kangkung. Kenyaang..

PANTAI TRIKORA 3


Setelah shalat zuhur dan ashar dijamak, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Trikora 3.  Naah... ini baru pantainya cuantiiik.



Pantai Trikora terletak di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Pulau Bintan.  Nama Trikora berasal dari nama “three corral”, yang diberikan oleh wisatawan asing yang kala itu berkunjung ke pantai ini. Demikian menurut cerita masyarakat sekitar.

Versi lainnya  mengaitkan bahwa Trikora berhubungan dengan Tri Komando Rakyat. Dimana pada saat pemerintahan Presiden Soekarno, tengah hangat beredar isu tentang “Ganyang Malaysia”, dan pantai ini merupakan basis pertahanan wilayah terluar Indonesia pada masa itu.

Terdapat pantai Trikora 1, Trikora 2, Trikora 3 dan 4. Pak Adi membawa kami ke pantai Trikora 3, yang menurutnya paling indah.





Dan memang benar apa yang dikatakan Pak Adi. Pantai Trikora terbentang sepanjang 25 kilometer. Di Trikora 3, bentang pantainya bervariasi, dari pantai yang landai hingga bagian yang dihiasi batu-batu granit besar, baik di pinggir pantai maupun agak ke tengah  lautan. Dari pantai ini pun terlihat tanjung, yaitu bagian pantai yang mejorok ke lautan. Sehingga bentnag pantai Trikora 3 terlihat cantik sekali.

Airnya biru tenang, bening. Angin bertiup semilir. Di tepi pantai berderet gazebo kayu untuk duduk-duduk bersantai menikmati suasana.

Aku dan Akang tak melewatkan kesempatan ini. Kami menikmati suasana lalu berfoto-foto mengabadikan kecantikan pantai ini. Kecantikan pantai Trikora mirip dengan pantai-pantai berbatu seperti pantai Parai di Pulau Bangka dan pantai-pantai di Pulau Belitung.

DURIAN SI KUNING


Sebenarnya aku ingin lebih lama berada di tempat ini, tapi Akang masih ingin makan durian.  Ya Allah... si Akang bukan main gemarnya makan durian. 😁😁 

Kami mampir lagi ke kedai durian pinggir jalan. Alhamdulillah kami beruntung bisa mencicipi durian Si Kuning. Durian tembaga yang tampilannya cukup menggiurkan. Buahnya kuning glowing mirip tampilan  Musangking. Rasanya enak juga, meski masih kalah dengan Musang King.

 OTAK OTAK DEKAT JEMBATAN 

Mbak Melati, salah satu sahabatku, merekomendasikan makan otak-otak pulau Bintan yang katanya dijual dekat jembatan. Kampi pun mencari lokasi makanan ini. Alhamdulillah ketemu.. Yeayy...


Otak-otak Bintan terbuat dari ikan, dan ada juga dari cumi.  Adonan ikan atau cumi dicampur bumbu warna merah, lalu dibungkus dengan daun kelapa, lalu dibakar. 



Rasanya enaaak... dan harganya murah. Otak-otak ikan dijual @Rp. 1.000,- dan otak-otak cumi @Rp. 2000,- . Agak jauh dari jembatan bahkan kami menemukan otak-otak yang lebih enak dan lebih tebal ukurannya. Otak-otak ini terbuat dari ikan dicampur cumi dan harganya Rp 1000,-. Jangan lupa mencicipi makanan ini kalau ke pulau Bintan dan Batam ya..


Menjelang pukul 4 sore, aku dan Akang diantar kembali ke pelabuhan Tanjung Uban. Sepanjang jalan rasanya hatiku hangat, tangan kami saling bergenggaman, nyaman sekali, berasa kayak penganten baruπŸ˜šπŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜ πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ . Tampaknya kena pengaruh suasana tempat-tempat indah yang baru saja kami kunjungi. 

Sesekali akang mencium tanganku. Romantis?? Bukaan.. Soalnya tanganku bau durian. Hahahaha...πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Alhamdulilah.. hari yang indah.


Kamis, 09 Maret 2017

Resep Lasagna ala Iwed


Lasagna adalah salah satu makanan kegemaran anak-anakku. Dulu, kalau ingin makan lasagna kami biasanya datang ke resto masakan Italia. 




Aku akhirnya membuat sendiri masakan ini, dengan racikan bumbu  sendiri, sampai kutemukan komposisi yang pas di lidah anak-anakku. 

Resepnya sebagai berikut :

Kamis, 02 Februari 2017

Cerita Rasa Karena Rasa Punya Cerita


Rempah iting, sebuah resto di kawasan Jl. Sunda no. 7 Menteng dekat Sarinah Thamrin melayangkan undangan untuk peluncuran produk baru berupa nasi box yang dinamai “Cerita Rasa”. Biasanya,  kalau aku dapat undangan peluncuran menu baru dari caffe atau rumah makan, aku memberlakukan  banyak pertimbangan untuk hadir di acara itu.  


Namun kali ini berbeda. Pengalamanku beberapa saat  lalu ketika makan  di resto ini,  terbukti membuat lidah dan indera penciuman hanyut dalam lezatnya rasa serta aroma eksotisme rempah Indonesia. Masakan ala Rempah Iting sudah berhasil membuat aku dan anak-anak jatuh cinta  lagi pada masakan Indonesia. Mengingat bagaimana lezatnya masakan ala Rempah Iting, aku penasaran ingin hadir dan mencicipi “Cerita Rasa”. 

Jumat, 20 Januari 2017

Kemewahan Rasa Tradisional di Rempah Iting

Makan bukan hanya sekedar kegiatan memasukkan makanan ke dalam mulut kemudian mengunyah dan menelannya. Makan juga bukan hanya untuk menghilangkan lapar dan memperoleh nutrisi bagi tubuh. Lebih dari itu.  Kegiatan makan ternyata  bisa menjadi pengalaman yang mengesankan. Seperti menikmati sebuah karya seni.  Bahkan makan juga bisa menumbuhkan rasa nasionalisme, cinta tanah air. Lho, kok bisa? Bagaimana ceritanya? Hehe..



Aku mendengar cerita dari salah seorang sahabat, katanya ada sebuah rumah makan di sebelah Sarinah Thamrin. Tempatnya agak tersembunyi,   di Jalan Sunda no.7 Menteng. Menurutnya masakan di situ enak. Harga makanannya pun untuk ukuran Jakarta Pusat termasuk murah.

“Makanan dan minumannya ditambahi rempah. Jadi bukan cuma rasa, tapi juga aroma. Nikmatnya cetarr ! ”Ujarnya melafalkan huruf r yang bergetar-getar. Ekspresi wajahnya saat mengucapkan kalimat itu kok “makjleb”. Aku jadi penasaran.

Kamis, 29 Desember 2016

Chicken Nugget Keju Isi Telur Puyuh ala Iwed

Bosan dengan chicken nugget yang itu-itu saja? Coba deh buat chicken nugget keju isi telur puyuh. Ide membuat masakan ini datang dari anakku, Dea. Cara membuatnya mudah. Yuk kita masak!



Minggu, 27 November 2016

Arisan Seru di Cabana Resto Bogor

Berinteraksi dan bersosialisasi adalah salah satu fitrah manusia sebagai makhluk sosial.  Salah satu wadah bersosialisasi yang digemari ibu-ibu adalah arisan. Kegiatan arisan punya banyak manfaat positif . Antara lain menjadi ajang silaturrahmi, sarana refreshing, sarana menabung, membuka pintu rezeki, menambah networking, dan lain-lain.



Lihat saja apa yang dilakukan oleh Ibu-ibu “Arisan Pertiwi Rempong”. Mereka adalah orang tua murid SD Pertiwi Bogor yang anaknya saat ini duduk di kelas 6. Satu bulan sekali mereka berkumpul, meluangkan waktu beberapa jam untuk bertemu, bertukar kabar, dan  berbagi informasi.

Kali ini lokasi arisan  bertempat di Cabana,  resto cantik bergaya modern minimalist yang terletak di kawasan  Bogor Nirwana Residence, Bogor. Kebetulan aku dan Bu Leni menjadi penyelenggara arisan.

Minggu, 21 Agustus 2016

PASTA GIO, SAJIAN PASTA LEZAT ALA WARUNG DI JOGJAKARTA



Jogja selalu bikin kangen, dengan segala keunikannya. Berkali-kali touring dengan motor dari Bogor ke kota ini, selalu ada hal baru yang kami temui. Akhir Juli 2016 lalu, aku dan Akang kembali touring ke Jogja untuk menghadiri  training Transforming Behaviour Skill di hotel Hyatt Regency. Malam usai training, kami berencana berkumpul dengan sahabat-sahabat untuk ngobrol santai berbagi cerita.

Mas Yoyok, salah seorang sahabat,   merekomendasikan PASTA GIO,  tempat makan  unik yang berlokasi di Ngelempong Lor Blok 1 No. 4 Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Jogjakarta. Lokasi  itu tak jauh dari Hyatt Regency. 




Memenuhi janji bertemu, aku dan Akang menyusuri jalan dari hotel dengan bantuan GPS. Mulanya kami menyusuri jalan Palagan Tentara Pelajar yang ramai, motor kami kemudian berbelok ke jalan yang lebih kecil, lalu masuk ke jalan-jalan desa. Dalam hati aku heran, kok jalan menuju tempat itu makin blusukan. 

Minggu, 15 Mei 2016

Resep Makarel ala Ikan Kemasan Kaleng






Si bungsu Rafif suka makan ikan berbumbu saus tomat  yang dikemas dalam kaleng.  Sebenarnya  aku khawatir dengan pengawet yang terkandung dalam makanan itu. Sekali-sekali sih, tak apa-apa. Tapi kalau  sering dikonsumsi, aku takut tak akan bagus untuk kesehatannya.

Akhirnya  aku coba masak ikan dengan bumbu tomat seperti ikan kemasan. Di Supermarket  tak jauh dari kompleks perumahan, sering dijual ikan Makarel. Ikan ini salah satu bahan baku pembuatan ikan kemasan. Supaya mirip cita rasanya, aku menggunakan ikan makarel untuk bahan masakanku.

Sabtu, 14 Mei 2016

Resep Pempek Adaan ala Dewi Sutedja



Pempek adaan adalah salah satu dari sekian banyak varian pempek Palembang yang lezat dan gurih. Dalam proses pembuatan beberapa varian pempek, adonan ikan direbus dahulu, kemudian baru digoreng. Pempek adaan berbeda. Setelah bahan-bahan dicampur dan diaduk rata, adonan tidak direbus tapi langsung digoreng dan bisa segera dinikmati.



Aku dan suamiku, si Akang, sering memanfaatkan waktu luang berdua dengan masak makanan ini. Akang yang membuat adonannya, aku yang membentuk, dan Akang yang menggoreng. Setelah itu kami menikmati hasil masakan bersama anak-anak.

Minggu, 01 Mei 2016

Kecanduan Lezatnya Menu Halal Sophia Restaurant Bangkok






Siang yang terik di kota Bangkok. Rasanya  seperti berada dalam  kepungan udara panas yang terjebak dalam stoples kaca. Empat jam penerbangan dari Jakarta ditambah  sekitar 40 menit berkendara di tengah padatnya lalu lintas Bangkok menuju hotel sudah cukup membuat perut kami berteriak.  Lapar! Aku, dan sahabat-sahabatku, Mbak Arie, dan Mbak Chita merasa lega ketika Mbak Okky mengajak kami ke sebuah resto persis di sebelah hotel Al Meroz. Dalam otakku terbayang minuman segar yang bisa memberi kesejukan dan makanan yang mampu  membangkitkan energi di tubuh  yang loyo tersengat matahari.



Sabtu, 06 Februari 2016

Resep Bakso Sehat ala Iwed


Bakso adalah jajanan yang paling umum digemari anak-anak dan orang dewasa. Dengan maraknya berita tentang bakso yang menggunakan berbagai bahan berbahaya seperti borax, formalin dan zat additive lainnya, aku jadi was-was kalau anak-anak jajan bakso di luar.


Sebagai emak-emak, aku  selalu ingin memberikan yang terbaik bagi keluarga. Karena itu aku mencoba membuat sendiri bakso yang enak, sehat dan aman dikonsumsi.  Setelah beberapa kali membuat bakso, akhirnya aku menemukan formulasi yang aku anggap pas untuk memenuhi selera anak-anakku.
Berikut ini bahan dan cara membuat bakso ala aku :