Kamis, 19 Oktober 2017

ANCHOR CINTA



Dalam berinteraksi dengan orang-orang, terutama orang terdekat dan tercinta, misalnya suami dan anak-anak, ada kalanya timbul emosi tertentu yang kurang memberdayakan. Ya wajarlah, kita sendiri dan mereka adalah  manusia biasa. Anak-anak  dan suami tentu tidak bisa  24 jam bersikap manis dan menyenangkan. Sementara kondisi emosi diri kita juga tidak selamanya stabil, bisa saja di saat-saat tertentu misalnya  mengalami pre –menstruasi, sehingga  menjadi lebih sensitif.

Bila dalam berinteraksi kemudian timbul “percikan-percikan” yang menimbulkan emosi negatif , apakah yang  bisa dilakukan untuk mengatasi keadaan itu?

Mau marah-marah? Berkata dengan nada tinggi, mata melotot, atau mengucapkan kalimat dengan nada rendah tapi isi kalimatnya “pedas”? Ngomel dan menumpahkan semua uneg-uneg biar hati kita puas? Itu pilihan, Kawan.

Tapi selama ada pilihan yang lebih baik, mengapa tak kita pilih jalan yang lebih baik itu? Bukankah orang yang paling baik adalah yang berlaku paling baik pada keluarganya?
Seperti yang diriwayatkan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku” [HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no: 285].

Jadi kalau kesal, kecewa, marah, gondok, sebal atau apalah itu pada suami dan anak-anak,  harus bagaimana?


 Kuncinya adalah SELESAIKAN EMOSI, begitulah jurus canggih yang diajarkan guru, trainer, dan sahabat tersayangku, Mbak Okina Fitriani.   

Banyak jalannya. Aku sudah pernah menulis beberapa cara menyelesaikan emosi, misalnya dengan reframing, melakukan editting sub modality dan lain-lain baik di buku maupun di website pribadi. Tapi kali ini aku mau share salah satu cara merubah emosi negatif yang tak menyenangkan itu menjadi rasa cinta yang meluber-luber.

Nah, pada suami dan anak-anak, tentu kita sudah pernah merasakan perasaan sayaaaang banget, atau jatuh cintaaa banget pada mereka, kan?  Kita bisa dengan sengaja memanggil ulang kondisi emosi perasaan cinta termehek-mehek itu, sehingga kesal, marah, sebal, dan emosi negatif yang kita rasakan menjadi so small, berubah jadi kecil tak berarti,  sampai sama sekali tak mengganggu lagi.

Nama keren tekniknya adalah ANCHOR. Tak perlu pusing dengan istilah ya. Jadi Anchor itu sebenarnya adalah pemicu untuk menghadirkan kondisi emosi yang kita inginkan untuk mengatasi kondisi emosi tak memberdayakan. Bagaimana caranya bisa mengatasi emosi yang tak memberdayakan? Nah, saat merekam anchor, yang perlu kita lakukan adalah memperkuat berkali-kali lipat sensasi rasa (dalam hal ini rasa cinta dan sayang)  sehingga sangat kuat, demikian kuatnya sehingga emosi  yang tak memberdayakan akan kalah, lemah tak berdaya melawan kondisi cinta itu. Hehehe… begitulah kira-kira.

Salah satu cara membuat anchor adalah circle of excellence. Aku nggak akan menerangkan cara ini, soalnya sudah pernah ditulis di bukuku,  A Parent’s Diary- Anakku Tamu Istimewa, tepatnya di tulisan yang berjudul “Kantuk dan Malas pun Mendadak Hilang” dengan Mbak Eti Mutia sebagai kontributor.  Beli ya bukunya.. Sudah sold out sih, tapi sekarang sedang proses cetak ulang. J

Aku cuma mau sharing cara lain membuat anchor. Baik suami dan anak-anak  itu kan sudah menorehkan banyak keindahan dalam hidup kita. Keindahan, kebahagiaan, dan semua rasa cinta yang ditimbulkan mereka itu  banyak yang didokumentasikan dalam foto.  Maka aku membuat sebuah video dari foto-foto mereka, dengan lagu yang aku pilih dengan cermat untuk bisa menimbulkan efek pada diriku menjadi termehek-mehek jatuh cinta lagi.

Setelah jadi videonya, aku saksikan sendiri. Tapi nontonnya bukan sekedar nonton ya. Aku melakukan apa yang disebut assosiasi ketika memutar video itu. Assosiasi artinya merasa mengalami kembali, menyelami dengan sungguh-sungguh kejadian-kejadian, rangkaian peristiwa indah dan menyenangkan, momen yang menimbulkan rasa syukur, rasa terharu, rasa beruntung memiliki suami dan anak-anakku, dalam setiap detail gambar di video itu. Aku larutkan, bahkan  benamkan diriku dalam setiap  nada   yang diiringi visualisasi wajah-wajah orang-orang tercinta itu. Lalu aku rekam video itu dalam benakku, lengkap dengan melodi,  gambar dan segala detail visualisasinya dengan niat, “ Tiap kali aku mendengar lagu ini, atau memutar lagu ini dalam kepalaku, maka rasa sayang dan cinta  yang kuat ini akan hadir.”

Setiap detik video itu bertambah, aku kuatkan rasa cinta makin kuat dan makin dalam sambil bercakap-cakap pada diri sendiri dengan self talk yang memberdayakan. Misalnya “Aku sudah diberi karunia begitu besar, begitu indah. Maka aku akan menjaga ucapanku, tutur kata, perlakuanku, dan memberikan segala upaya yang terbaik yang bisa aku lakukan untuk suami, dan anak-anakku. “

Dulu, ketika didera rasa kesal atau marah, aku masih butuh masuk kamar, buka laptop lalu nonton video itu sendiri. Yang terjadi kemudian adalah merasakan emosi negatif luruh berganti dengan rasa sayang dan cinta yang menggebu. Jadi ketika keluar kamar, aku sudah bisa memamerkan senyum sayang dan pelukan penuh cinta kembali pada anak-anak, atau suami.

Tapi sekarang, tak perlu lagi masuk kamar dan nonton video itu. Aku sudah bisa memutar video  itu dalam benakku kapan pun aku butuhkan, menikmati visualisasi dan melodi lagu  yang sudah terekam di kepalaku,  otomatis meluruhkan emosi negatif.

Bagaimana cara bekerja  anchor  sehingga bisa mengatasi emosi negatif? Ketika  merekam anchor, kita dengan sengaja (atau bisa juga tanpa sengaja) merekatkan atau menempelkan kondisi emosi tertentu  yang kita inginkan (dalam hal ini kondisi mencintai)  ke dalam melodi lagu dan visualisasi gambar.  Sehingga ketika lagu itu diperdengarkan, atau ketika video itu diputar, bahkan ketika di putar di dalam benak sekalipun, kondisi emosi mencintai  yang kuat itu akan hadir menggantikan kondisi emosi negatif.

Apakah harus  begitu cara membuat anchor? Tentu saja tidak. Anchor tidak harus berupa video, atau lagu.

Salah satu guruku,  Mas Teddi Prasetya Yuliawan, menulis di bukunya “ The Art of Enjoying Life :
“Secara teknis, anchor dapat dikatakan sebagai representasi internal atau eksternal yang memicu representasi yang lain. Maka stimulus dalam anchor tidaklah harus sesuatu yang sifatnya eksternal (misalnya musik, sentuhan), melainkan juga ingatan kita sendiri yang kemudian memicu ingatan yang lain.”

 Lebih fleksibel bila kita membuat anchor yang mudah di akses kapan pun kita mau.  Bisa direkam dalam gerakan, atau di salah satu titik pada tubuh kita yang nantinya berfungsi sebagai tombol anchor.

Kalau memilih anchor berupa lagu atau video, memang agak repot juga ketika kita ingin mengaktifkan anchor harus cari handphone dulu, atau laptop, atau MP3 player.  Maka jalan keluarnya, ya kita rekam saja video atau lagu itu di kepala, jadi kapanpun butuh, tinggal dimainkan dalam benak.

 Jadi ketika suami tampak menyebalkan, bikin emosi naik, ingin ngomel, luangkan saja  waktu beberapa menit  untuk menikmati musik dan video yang diputar di kepala.  Benamkan diri dengan sungguh-sungguh dalam setiap kejadian manis yang pernah dilewati, sehingga mata berkaca-kaca dan  diri sendiri berkata,” Sebelmu  itu kecil… tak sebanding dengan kebaikan-kebaikan dia yang banyak itu, cinta, pengorbanannya dalam membahagiakanmu, dan peristiwa-peristiwa indah penuh berkah yang sudah dilalui bersama. Lalu apa yang membuat dia tak layak mendapatkan perlakuan termanismu?”

 Setelah itu nikmatilah rasa cinta yang membuncah-buncah . Pandanglah wajah suami lekat-lekat. Rasakan.  Ada  hangat di dalam dada, kan? Dalam kondisi seperti itu, mana bisa marah-marah. Yang ada malah ingin peluk-peluk suami, nempel teruuuus...💖💕💕💕


Tak yakin bisa mengatasi emosi dengan anchor? Aku tantang Anda untuk mencoba!




4 komentar:

Adi Stia Utama S mengatakan...

cinta, kapan terakhir jatuh cinta ya? hehehe

Juliana Dewi K mengatakan...

@Adi Stia Utama S: wah, saya nggak tau kapan Mas Adi jatuh cinta 😁

geografi.org mengatakan...

Semoga cintanya terus terjaga bu :D

Tira Soekardi mengatakan...

iya cinta perlu dipupukd an dijaga ya