Senin, 18 Desember 2017

A Parent’s Diary- Anakku Tamu Istimewa


Mengasuh anak  jaman now  tak bisa lagi hanya dengan mencontek cara-cara pengasuhan jaman old. Tantangan pengasuhan saat ini sudah demikian hebatnya, sungguh sangat berbeda kondisinya dibanding jaman dulu.

Orangtua sekarang butuh ilmu parenting yang aplikatif, bukan cuma teori yang hanya mengendap di kepala tanpa tahu cara mempraktekkannya. Ibaratnya, ketika  berhadapan dengan kondisi genting misalnya anak berada dalam kondisi emosi marah, bingung, cemas, kecewa, takut, bahkan histeris atau tantrum, orangtua sudah tahu langkah apa yang harus dilakukan.  Tak ada  lagi bingung, atau ketularan emosi negatif anak sehingga akhirnya orangtua malah melakukan tindakan yang tidak memberdayakan.

Dengan teknik dan metode terstruktur, mencerahkan, mudah dipahami dan dipraktekkan oleh orangtua dengan latar belakang pendidikan apa pun, kegiatan pengasuhan anak bukan menjadi sebuah beban tetapi  menjadi sesuatu yang menyenangkan baik bagi orangtua maupun  anak. Hal inilah yang menjadi ciri Enlightening Parenting yang dikembangkan oleh Okina Fitriani, seorang Psikolog dan Master di bidang human resources yang mendalami bidang psikologi: Neuro-Linguistic Programming dan Brain Development.

Enlightening Parenting  (EP) adalah konsep, prinsip dan metode pengasuhan yang disarikan dari Al-Qur’an, Hadist, Sirah, dan Psikologi Perkembangan berbasis riset maupun penanganan kasus-kasus dengan dibantu teknik-teknik Neuro Linguistic Programming (NLP) sebagai sarana pendukung. Enlightening Parenting tidak hanya sesuai bagi keluarga muslim tetapi juga bagi keluarga dari berbagai latar belakang agama karena nilai-nilai yang dijadikan dasar merupakan kebenaran universal. Terbukti pula bahwa peserta training Enlightening Parenting tidak hanya keluarga muslim, bahkan juga pasangan- pasangan dari berbagai bangsa seperti Arab, Amerika latin, Filipina, India dan lain-lain.

Teori-teori, teknik dan metode Enlightening Parenting sudah teruji dan terbukti mudah diterapkan dalam pengasuhan anak. Para alumni kelas training Enlightening Parenting seringkali membagi pengalaman sukses mereka menerapkan materi EP  di group alumni. Demikian banyaknya pengalaman-pengalaman sukses tersebut, sehingga menggerakkan dua orang alumni, Gita Djambek dan Juliana Dewi, untuk mengumpulkan kisah-kisah itu dalam sebuah buku.

Dengan semangat menebarkan ilmu dan inspirasi kepada para orangtua, lahirlah buku A Parent’s Diary- Anakku Tamu Istimewa, yang disebut dengan buku PD.

Dalam buku PD,  dua puluh satu orang ibu dan ayah berbagi  kisah nyata menerapkan materi EP untuk mengatasi berbagai permasalahan anak di kehidupan sehari-hari. Kisah mereka disampaikan dengan gaya bertutur ringan, mudah dicerna, enak dibaca, mencerahkan, mudah dimengerti, mudah ditiru dan diterapkan oleh orangtua mana pun.

Kisah nyata apa sajakah yang dituangkan dalam 6 Bab buku PD? Mari kita intip teaser-nya satu persatu.

BAB 1 : “ MENGATASI PERTENGKARAN ANAK”



“Kenapa ya, anak-anakku suka bertengkat? Pusing saya kalau menyaksikan anak-anak bertengkar. Ketika anak-anak bertengkar saya jadi ikut emosi.”
Kita mungkin akrab dengan kalimat-kalimat di atas. Mungkin dari pengalaman sendiri ataupun keluhan teman-teman.

Ternyata, situasi bertengkar justru bisa dimanfaatkan untk menanamkan nilai-nilai kebaikan. Kondisi emosi yang sedang tinggi justru membuat nilai-nilai baik itu tertanam dalam dan terikat kuat ke dalam diri anak. Hal ini tertuang dalam dua kisah persembahan Juliana Dewi dan Gita Djambek  : “ Cara Asyik Menangani Pertengkaran Anak ABG “ dan “Kenali Emosinya, Selesaikan Emosinya”


BAB 2 : AYAH, PAHLAWANKU, DAN CINTA PERTAMAKU.

Bila  seorang ayah  sudah terlanjur dicap “galak” atau “pemarah” oleh anak hingga hubungan kedekatan dengan anak rusak, apa yang akan dilakukan?
Ayah bisa saja memilih membiarkan keadaan itu berlangsung berlarut-larut, lalu menuai akibatnya di kemudian hari.

Kalau ayah memilih membangun kembali kedekatan dengan anak, bagaimanakah memulainya? Bagaimana pula melarang anak dengan kata “jangan” tanpa menjadi bumerang?

Dua kisah para Ayah, “Bapak Bukan Rahwana” (Sutedja Saputra) dan “Aku, Tukang Parkir Bagi Anakku” (Aryo Fajar Syaifulloh )   menggambarkan peran ayah yang memberdayakan akan membekas dalam kognitif, kestabilan emosi,  kepercayaan diri  anak , dan mendorong terbangunnya kedekatan dengan anak.

Bab 3 : BAHAGIA TANPA DRAMA, BEBAS DARI CEMAS DENGAN BRIEFING DAN BERMAIN PERAN.


Bagi anak-anak, pergi ke dokter, supermarket, arisan keluarga,  melakukan perjalanan jarak jauh, melakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah dilakukan, bahkan menelan butiran obat sekalipun, sama menegangkannya seperti orang dewasa yang harus tampil di depan Gubernur.

Ingin anak tertib berkegiatan tanpa drama menangis, marah ataupun tantrum? Resepnya: lakukan briefing dan role playing.




Bagaimana cara melakukan briefing? Di kegiatan apa saja briefing bisa dilakukan? Langkah-langkah sederhana, kreatif  dan aplikatif dituangkan para ibu  dalam kisah-kisah “Briefing Membuat Belanja Bebas Drama”(Eka Mardila), “Kekuatan Briefing yang Luar Biasa”(Cherish Idea Anissa Istanto), “Jangan Mendadak Jompo”(Ratna Kumalasari), “Satu Jam Saja”(Gita Lovusa), dan “Cemas pun Lepas dengan Briefing dan Role Playing”(Yuni Kurniah).

Bab 4 : MENANAMKAN NILAI-NILAI HIDUP.

Memberi landasan nilai-nilai (values) dan keyakinan-keyakinan (beliefs) yang diperlukan sesuai dengan visi dan misi keluarga merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh para orangtua. Nilai-nilai dan keyakinan ini kelak akan menjadi filter ketika anak memasuki masa remaja dan dewasa sehingga tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal buruk dari lingkungannya.


Masalahnya, seringkali orangtua rancu antara menasehati  dengan mengomel. Meskipun maksud hati ingin menasehati untuk menanamkan nilai kebaikan, namun karena tak sadar telah ketularan emosi negatif, yang  dilakukan orangtua justru mengomeli anak.

Ketika anak melakukan kesalahan pun, banyak orangtua (lagi-lagi) memilih meluapkan emosi dengan mengomel.

"Abis gimana lagi? Gemas Aku! Biar anak tahu kesalahannya. Lagi pula puas rasanya kalau sudah ngomel." Hal ini sering diungkapkan para orangtua untuk membenarkan tindakannya.



Tindakan mengomel itu ada resikonya. Para orangtua tentu   tahu bahwa anak adalah tamu istimewa yang diundang untuk hadir dalam kehidupan  atas izin Tuhan. Lalu pantaskah  tamu istimewa itu diomeli?

Menanamkan kebaikan ada caranya, menegur pun  ada adabnya.  Kisah-kisah mencerahkan para ibu dan ayah   tersaji dalam tulisan-tulisan “ Tega(s)”(Gita Djambek), “Buah Mangga Pembuka Hati”(Vica Adriani), “Komunikasi Tanpa Otot dan Tanpa Melotot”(Novi Arryadi),  dan “Menegur Apik Tanpa Intrik”(Juliana Dewi).

  
Bab 5 : BERUBAH ITU MENGUBAH.


Banyak orangtua di luar sana  menginginkan perubahan pada diri anaknya. Ingin anaknya lebih begini, lebih begitu, tetapi lupa bahwa apa pun yang terjadi pada anak-anaknya saat ini adalah hasil dari pengasuhan yang dilakukannya.


Langkah awal membimbing anak  berubah ke arah yang  positif adalah orangtuanya dulu yang harus berubah. Hanya orang  bahagia yang bisa membahagiakan orang lain. Hanya orang yang tercerahkan dapat mencerahkan orang lain.



Para Ibu membagi pengalaman mereka merubah diri sendiri untuk mendorong perubahan positif  anak-anak mereka di artikel “Perubahanku Kenyamanan Anakku”(Iranty Purnamasari), “ Aku Berproses Bersama Anakku Saat Mendampingi Masuk SD”(Andayani Muktiasari), “ Perubahan Kecil yang Mengubah”(Azizah Sugiri), “ Perubahan Frame Membuat Saya Menjadi Detektif Kebaikan”(Nur Muthia Melani,  dan “Kantuk dan Malas pun Bisa Mendadak Hilang” (Eti Mutia).

Bab 6 : MENYELESAIKAN EMOSI ANAK

Pangkal dari segala sumber kekacauan dalam berkomunikasi dengan anak adalah ketidak mampuan orangtua mengatasi emosi.  Menyelesaikan emosi diri sendiri menjadi sangat penting, karena disaat emosi  turun, pikiran logis  mampu bekerja menemukan solusi.


Setelah emosi diri sendiri selesai, kecakapan yang juga  sangat penting dimiliki orangtua adalah kemampuan membimbing anak  menyelesaikan masalah emosinya dan menemukan solusi permasalahannya sendiri.

Berbagai teknik simple disajikan para ibu untuk menyelesaikan emosi anak dalam menghadapi masalah yang beragam.


 Teknik reframing diuraikan Gita Djambek dalam tulisan “Emosi Selesai Karena Bingkai”.  Di tulisan Juliana Dewi  “ Anak Trauma Pada Guru? Ini Solusinya!” terdapat berbagai teknik menyelesaikan emosi, mulai dari reframing, sub-modality remap,  sub modality editting, hingga mild trauma healing. Orang awam yang belum pernah belajar NLP- pun tetap bisa melakukan teknik-teknik ini karena mudah ditiru dan dilakukan.



Gita Djambek  menuliskan kiatnya menerapkan metode anchor untuk membantu anaknya yang tak berani tampil di depan banyak orang. Ingin tahu bagaimana anchor bisa membuang nervous?  Simak artikel “Nervous? Di Anchor Aja”


Sri Malahayati  menceritakan langkah-langkahnya menerapkan 5 pilar komunikasi, membantu anaknya, Keisya (8 tahun), menghilangkan rasa takut pada sosok kuntilanak. Menggunakan sub modality remap  yang melibatkan editting secara visual-auditory dan kinestetik, hanya butuh 15 menit saja untuk membuat Keisya terbebas dari rasa takutnya. Kisah lengkapnya ada di artikel “My Scary Enemy Turns Cute”.


Bagaimana membangkitkan kembali semangat anak kala kenyataan tak sesuai dengan harapannya? Di kisah “Ketika Kenyataan Tidak Sesuai Harapan” Chita Harahap membagikan pengalamannya menerapkan parental coaching. Selain untuk menyelesaikan emosi anak, metode ini pun bisa digunakan untuk membimbing anak menemukan solusi masalahnya sendiri.


Pandhora menulis “Hipnosis, Tak Seseram Beritanya”. Kisah ini menguraikan bagaimana dia menerapkan relaksasi dengan hipnosis untuk membantu anaknya tenang dalam menjalani operasi hernia.


Hardini Swastiana mengisahkan pengalamannya dalam tulisan “Adithya dan Dokter”. Dia menerapkan pola bahasa hipnotik, seperti teknik komunikasi ilusi pilihan,three yes set. Kemudian membangun persepsi dan pilihan-pilihan,serta  role playing untuk membuat Adithya tidak lagi takut ke dokter.


Kisah menarik “Godzilla VS Cungpret” karya  Gita Djambek menggambarkan bagaimana dia membantu anaknya, Aya, melepaskan diri dari emosi karena ejekan temannya. Dengan teknik sub-modality editting, proses mengubah emosi negatif  menjadi emosi yang memberdayakan dapat dilakukan hanya dalam hitungan menit.


Dibagian akhir, tulisan Novi Wilkinson “ Mendidik Anak Tanpa Suara Melengking” membeberkan bagaimana Novi  menerapkan teknik menyuruh efektif dengan pola bahasa hipnotik. Teknik ini membuat anak mau melakukan apa yang menjadi tujuan orangtua tanpa merasa diperintah atau disuruh.


A Parent’s Diary adalah bagian dari kesadaran para orangtua untuk menjaga fitrah baik anak. Mulai dari membangun kembali tujuan, mengoptimalkan strategi pengasuhan, hingga membenahi kesalahan yang dulu pernah dilakukan.

Sejatinya anak adalah  tamu istimewa yang hadir dalam kehidupan atas izin Tuhan. Maka sudah selayaknya tugas orangtua adalah memperlakukann sang tamu istimewa dengan perlakuan istimewa pula. Kelak kinerja orangtua akan dinilai dalam pengadilan tertinggi yang akan dipimpin langsung oleh Yang Maha Memberi Tugas.


Sudahkah kita berusaha melaksanakan tugas ini sebaik mungkin?

Untuk membeli buku PD simak infonya di flyer berikut :


11 komentar:

agus_vertical mengatakan...

Itu harga buku anakku tamu istimewaku apa sudah termasuk ongkos kirim...bagus sekali

agus_vertical mengatakan...

Setelah saya baca yg dblog...ternyata memang penanganan/pengasuhan anak jaman sekarang itu berbeda dengan 5 atau 10 thn yg lalu...perubahannya drastis

Kania Meilawati mengatakan...

Salam. Apakah kisah di PD sama dengan kisah yang ada di buku EP dari penerbit serambi? Terimakasih.

Juliana Dewi K mengatakan...

Tantangan pengasuhannya juga sudah jauh berbeda 😊

Juliana Dewi K mengatakan...

Buku EP itu buku induknya,Mbak Kania. Teori2 ada di buku EP. Sedangkan isi buku PD adalah praktek pelaksaan dari teori yg ada di buku EP. Kisah2nya beda dengan buku EP.

Juliana Dewi K mengatakan...

Belum termasuk ongkos kirim, Mas Agus

April Hamsa mengatakan...

Buku duet mbak ya?
Waaah menarik sekali kyknya bukunya.
Anak2ku suka bertengkar tapi lbh ke rebutan mainan sih haha, msh relevan kyknya ya :D

"Langkah awal membimbing anak berubah ke arah yang positif adalah orangtuanya dulu yang harus berubah." ---> suka banget

moga sukses ya mbak :)

Nathalia DP mengatakan...

Makasih teasernya, bagus bgt isi bukunya... Ikutan po ah :)

Fanny f nila mengatakan...

Aghhhhh aku butuh buku iniii :D. Skr ini udh mulai ngalamin masalah2 ama anak yg udh mulai gedean. Pertanyaan banyak, dan makin kritis, juga mereka lbh pintar krn g mau diksh alasan yg ga masuk akal, plus makin dimarahin, malah makin menjadi -_-.

Jd tinggal wa k no itu ya mba.. Siiiip, aku mau ikutan PO nya. Truatama akau jg penasarab cara membuat anak ga takut lg ama hal2 semacam hantu

Mayuf mengatakan...

Nice info nya mba :D

Bercara mengatakan...

Info sanngat menarik