Minggu, 04 Oktober 2015

Piknik Ala Biker dan Boncenger


“Kayaknya sudah mulai nggak bahagia nih.” Ucap suamiku, si Akang, sambil melemparkan pandangannya ke langit-langit kamar.

Aku yang berbaring di sisinya langsung terbahak.

“Jadi, kita mau kemana?” Sahutku.

Aku sudah paham adatnya bila  lama tak piknik. Bagi kami, piknik itu penting. Selain untuk menaikkan kadar kebahagiaan, juga untuk melepaskan kepenatan.

Akang bekerja selama dua minggu di pinggir pantai Selat Malaka. Tanggung jawabnya menjaga eksplorasi minyak dan gas berjalan lancar bukanlah pekerjaan mudah. Piknik bagi Akang  merupakan sarana  menjernihkan pikiran, meningkatkan produktivitas dan semangat kerja.

Sedangkan bagi emak-emak dasteran sepertiku, piknik tak ubahnya kesempatan melihat dunia di luar urusan anak, rumah, arisan, belanja, dan  aktivitas ibu rumah tangga lainnya yang kugeluti setiap hari. Dari kegiatan piknik aku dapat ide menulis, dan memperoleh pelajaran tentang berbagai hikmah kehidupan.

Lalu piknik macam apa yang kami lakukan? Tentu saja piknik ala biker dan boncenger!

Rabu, 30 September 2015

Malam Mingguan di Nicole’s Kitchen and Lounge


Setelah beberapa kali rencana touring gagal melulu karena beberapa urusan, akhirnya aku dan suamiku, si Akang, mulai merasa kurang piknik. Ah, sungguh tak enak rasanya.

 Sabtu sore itu 19 September 2015, setelah bangun dari istirahat siang,  Akang tiba-tiba dapat ide.

“Kita panaskan motor ke Puncak, yuk! Menikmati malam mingguan di Nicole’s Kitchen and Lounge .” Ajaknya.

“Ayok! Setuju!” Langsung saja aku menyambut tawarannya dengan antusias.

Usai shalat maghrib kami berdua meluncur di atas motor 650 cc melintasi jalan-jalan Bogor yang penuh angkot. Kami menuju ke arah puncak.

Senin, 28 September 2015

Pentingnya Kartu Nama

“Minta kartu namanya dong, Mbak.” Ucap pria itu setelah beberapa lama berbincang mengenai dunia kepenulisan.

Aku terdiam.

“Belum punya, Pak.” Jawabku sambil cengengesan. Ah, sebuah kesempatan pun terlewat.

“Kenapa tidak terpikir untuk membuat kartu nama ya? Padahal pria itu pemilik usaha penerbitan. Padahal tampaknya dia tertarik dengan kegiatan traveling yang aku lakukan. Siapa tahu  ini peluang  menerbitkan tulisanku.  Aduh, satu kesempatan lewat deh gara-gara tak punya kartu nama...”Sesalku dalam hati.


Jumat, 18 September 2015

Di Balik Layar Lapak Pelangi untuk Fashion Spread Majalah Oase-Sahira

Bergabung di komunitas Lapak Pelangi yang unik dan positif membuat aku mengenal dunia-dunia baru yang sebelumnya tak pernah kusentuh. Sejak awal komunitas ini unik, karena terdiri dari ibu-ibu dengan latar belakang  beragam. Ada yang berprofesi sebagai designer pakaian, penulis, pengrajin kain, pengrajin tas, pengrajin sepatu, hijab stylist, blogger,  host TV, pemilik penerbitan, crafter, dan lain-lain. Semua berkumpul di sini dalam satu benang merah,  semangat menjaga silaturahmi, bersinergi, berkarya dan berkegiatan untuk urusan dunia dan akhirat.

Majalah Oase-Sahira edisi Agustus 2015

Kali ini majalah bulanan Oase-Sahira berkenan menampilkan  karya beberapa anggota Lapak Pelangi untuk  fashion spread edisi bulan Oktober 2015. Menurutku majalah muslim ini cukup unik.  Majalah  ini diterbitkan oleh  PT Halimun Media Citra (HMC) yang  setiap edisi  tampil dalam dua sisi. Sisi pertama majalah Oase dengan motto “Inspirasi Keluarga Muslim yang Sehat dan Cerdas”. Sementara sisi lainnya disebut  majalah Sahira, dengan tema bahasan sebagian besar ditujukan untuk  muslimah.

Minggu, 13 September 2015

Kisah Inspiratif Sahabat Lamaku, Yosi Matsu


Aku  mengobrol seru dengan Patriani, Santi, Devi Arianto dan Dedi Agustian, membongkar-bongkar kembali kenangan lama yang konyolnya kerap  membuat kami terbahak.  Mereka semua adalah teman lamaku, lebih dari dua puluhan tahun lalu kami adalah siswa SMP 19 Palembang.  Pertemuan ini tak direncanakan sebelumnya, tiba-tiba saja aku ditelpon untuk datang ke rumah Patriani, karena Dedi yang datang dari  di Palembang mampir ke rumah Patriani. Jadilah reuni dadakan ini terlaksana.

Aku, Patriani, Santi, Dedi dan Devi


“Yus mau datang ke sini. Sekarang sedang dalam perjalanan!”Seru Patriani setelah menutup pembicaraan di ponselnya.

Kontan ucapan Patri membuat kami bersemangat. Sebelum pertemuan ini, aku sudah pernah bertemu Dedi, Devi, Santi dan Patriani. Tapi dengan Yus, bisa dikatakan pertemuan terakhir dengannya berjarak lebih dua puluhan tahun lalu. Rindu sekali  aku pada teman lamaku itu.

Ingatanku terlempar ke masa lalu,ketika kami masih berseragam putih biru.  Aku sekelas dengan Patri, Devi, dan Dedi, sementara Santi dan Yus berada di kelas yang berbeda. Meski berbeda kelas, aku sering juga menyambangi teman-teman di kelas lain.

Seingatku Yus, atau lengkapnya Yusaidin Mahfi,  adalah anak laki-laki kecil keriting dengan cara bicara yang unik. Aku dulu tak mengerti mengapa kalau Yus bicara, suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Lalu bila bicara padanya, kami teman-temannya, harus menggerakkan bibir  perlahan hingga dia bisa menangkap maksud pembicaraan.

Kamis, 10 September 2015

Mengunjungi Indonesia International Islamic Fashion Festival and Product 2015

Sejak kenal dengan Indriya R Dani, sudah berkali-kali dia mengajakku ke berbagai event Islamic Fashion Festival.  Sebenarnya sejak dulu aku ingin melihat dunia yang diakrabi sahabatku itu, tapi selalu tak terwujud. Hari Rabu 9 September 2015, untuk pertama kalinya aku  menghadiri event fashion bertajuk” Indonesia International Islamic Fashion and Products”. Bagiku ini pengalaman baru yang menarik.


Minggu, 06 September 2015

Mengunjungi Konvensi ISNA ke-51 di Detroit Michigan






Bahana adzan  mendayu-dayu di ruangan luas itu membenamkan perasaanku dalam lautan haru. Bukan karena merdunya. Lantunan adzan ini tak jauh beda dari jutaan adzan yang pernah kudengar. Kumandang suaranya tidaklah  istimewa melebihi merdu suara muadzin masjidil Haram dan  masjid Nabawi di tanah suci. Tapi akibatnya mampu menggetarkan hati, dan  membuat indra penglihatanku  pudar     berkabut  air mata.

Jumat, 04 September 2015

Lezatnya Pizza Papalis di Detroit

Saat berkunjung ke Italia tahun 2011,  aku sengaja mencicipi makanan khas Italia yang sudah mendunia. Pizza. Saat itu aku mencicipi seperempat bagian  pizza dari pizza berukuran sangat lebar.  Seperempat bagian pizza itu membuat perut kekenyangan hingga aku tak sanggup menghabiskan makanan itu. Sisanya kuhabiskan untuk sarapan esok paginya. Bagaimana rasanya? Cukup enak. Pizza asli Italia menurutku  tak terlalu jauh beda rasanya dengan pizza yang dijual di tanah air.


Minggu, 30 Agustus 2015

The Secret of Enlightening Parenting

Tunggu kehadiran bukuku bersama teman-teman dan Mbak Okina Fitriani beredar di toko buku Gramedia September 2015 ya..

Apa pendapat 7 tokoh dari berbagai bidang tentang buku ini? Saksikan teasernya..

Kamis, 20 Agustus 2015

Jalan-jalan di Kota Tua Inns'bruck Austria



 Inns’bruck adalah ibu kota  negara federal Tyrol, Austria.  Nama Inns’bruck berarti jembatan di atas sungai. Dunia mengenal Inns’bruck sebagai kota tempat diselenggarakan olimpiade musim dingin tahun 1964, 1976 dan 2012. 


Musim semi tahun 2011 aku dan sahabatku, Mariska, berkesempatan mengunjungi kota ini. Sayang aku tak bisa melihat  bagaimana ekspresi wajahku sendiri saat menyaksikan lanskap Inns’bruck. Sepertinya aku terpelongok dengan mulut menganga. Masya Allah, indah sekali!

Selasa, 18 Agustus 2015

Menikmati Keindahan Buochs Switzerland


Aku tak akan melupakan Buochs, sebuah wilayah seluas 9.9 Km2 yang terletak di antara Beckenried dan Stans, Switzerland. Aku singgah di tempat ini saat musim semi, bulan April tahun 2011. Meski hanya dua hari satu malam menginap di  tempat ini, tapi keindahannya sangat berkesan. Bagaimana tidak, udaranya bersih, suhu dingin sejuk, suasana tenang, pemandangan indah oleh tanaman hijau, pegunungan dan danau. Atmosfir tempat ini  khas pemandangan negri empat musim.

Ketika pagi menjelang di tepi danau Lucerne



Rabu, 12 Agustus 2015

Jalan-jalan ke Schaffhausen Rhein Falls Switzerland

Musim semi bulan April  2011, Eropa tengah memancarkan kecantikan terindahnya.   Aku dan sahabatku, Mariska, tak menyia-nyiakan kesempatan menikmati pemandangan di Schaffhausen Rhine Falls.

Cantiknya aliran air deras yang berbuih putih di Sungai Rhein
Schaffhausen Rhine Fall adalah air terjun yang terdapat di sungai Rhein. Dengan lebar 150 meter, tinggi 23 meter dan kedalaman 13 meter, air terjun ini merupakan yang terbesar di Eropa dan diperkirakan berusia 15.000 tahun.

Sabtu, 08 Agustus 2015

Little Saigon, Sekelumit Vietnam di Negeri Paman Sam


Tahun 2013 lalu aku bersama teman-teman SMA jalan-jalan ke Saigon atau Ho Chi Minh City, Vietnam.  Tak kukira di tahun 2014 aku bisa kembali menikmati suasana Vietnam. Mendengar orang-orang bermata sipit dan bertubuh mungil bicara dalam bahasa Vietnam, melihat wanita tua bertopi caping (la non) yang berbentuk kerucut, pria-pria tua duduk bermain kartu tradisional Tien Len,  menelusuri toko-toko  yang dipenuhi rambutan, nangka, jambu air, pisang, manggis dan buah-buahan tropis lainnya seperti di pasar malam Ben Tanh.  Suasana tempat ini persis seperti  kenanganku akan Vietnam, tapi nyatanya aku tak berada di Vietnam!

Pertokoan di Bolsa Avenue Westminster

Little Saigon, begitulah orang menyebut area seluas 4 mil persegi  yang berada di jantung  Orange County, California, USA.  Di tempat ini berdiam 282.000 orang yang merupakan   populasi orang Vietnam terbesar di dunia, di luar Vietnam.

Asian Garden Mall

Jumat, 07 Agustus 2015

Nikmatnya Shalat di Masjid Al Rahman Orange County, California



Berkesempatan mengunjungi Orange County, sebuah wilayah di California Amerika Serikat tahun 2014 lalu, aku tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati shalat di masjid  Al Rahman yang terletak di kawasan Islamic Society of Orange County, tepatnya di  1 Al-Rahman Plaza, Garden Grove, CA 92844, United States.


Islamic Society of Orange County (ISOC) berdiri tahun 1976, dan saat ini merupakan pusat komunitas muslim terbesar di kawasan California Selatan dan juga merupakan salah satu  yang terbesar di USA. Menepati kawasan seluas 5.2 Hektar, ISOC dilengkapi dengan fasilitas masjid yang disebut Masjid Al Rahman.

Selasa, 28 Juli 2015

Wisata Kuliner di Resto Pempek Wawa


Palembang dan pempek. Dua kata itu sudah demikian akrab, seolah saling memberi makna meneguhkan eksistensi sebuah kota dengan ciri khas kuliner lezat  yang tak terpisahkan.

Aku tinggal di Palembang sejak 1985 hingga 2009. Dalam rentang waktu 24 tahun  hingga sekarang tak pernah  bosan aku  menikmati pempek, seperti juga warga Palembang yang sangat menggemari makanan ini.

Seingatku, meski resto dan warung pempek “bertaburan” banyaknya di kota Palembang, jarang ada yang bangkrut. Masing-masing sudah memiliki penggemar dan pangsa pasar tersendiri.  Bahkan akhir-akhir ini makin banyak resto pempek  bermunculan.

Aku dan suamiku, si Akang, gemar mencicipi pempek dari berbagai merk yang ada di Palembang. Kami sering membandingkan rasa dan kualitas pempek dengan cara safari kuliner dari resto ke resto, dari warung ke warung. Meskipun dibuat dari bahan yang sama, komposisi dan racikan tiap merk pempek tentu menghasilkan cita rasa dan kualitas berbeda.

Dari hasil membanding-bandingkan rasa berbagai merk pempek, kami membuat klasifikasi sendiri. Ada pempek  premium, pempek super, pempek standar dan pempek dibawah standar.

Pempek premium harganya mahal, di atas rata-rata harga pempek di Palembang, tapi kualitasnya memang juara. Pempek ini tampaknya dibuat dengan komposisi daging ikan yang banyak, dengan campuran sagu yang  jumlahnya sedikit. Pempek jenis ini penggemarnya terbatas pada konsumen yang mengutamakan kualitas, dan tak bermasalah dengan harga.

Pempek super lebih ideal karena harga lebih bersahabat sementara rasanya enak . Jenis pempek inilah yang paling kugemari. Hehe..

Kemudian  pempek kualitas standar. Standard yang kumaksud di sini adalah standar cita rasa Palembang ya. Jadi meski kualitasnya standar, rasa masih lebih enak daripada pempek yang dijual di luar Palembang. Meski rasanya dibawah kualitas super, masalah harga kadangkala sama dengan yang super.
 
Yang terakhir adalah pempek yang dibawah standar.  Pempek ini menurut kami cita rasanya kalah dalam percaturan dunia pempek Palembang. Bisa karena berbau amis,  terlalu kenyal, atau tak terasa gurih ikan akibat terlalu banyak kandungan sagu dibandingkan daging ikannya. Harganya pun murah. Bahkan ada yang sangat murah.

Berbagai varian Pempek Wawa

Senin, 27 Juli 2015

Kuliner Soto Babat dan Teh Susu Depan Pasar Cinde Palembang


Delapan tahun lalu saat masih tinggal di Palembang, tepatnya tahun 2007, aku dan  si Akang, pernah diajak   tetangga kami, Pak Yusfik dan istrinya, menikmati kuliner soto babat di sebuah warung makan sederhana. 

Mulanya aku heran mengapa  mereka menganggap tempat makan sederhana itu sebagai sesuatu yang istimewa  hingga  mengajak kami ke sana. Warung itu menempati sebuah ruko di jalan Jendral Sudirman, berseberangan dengan pasar Cinde.  Suasana bergaya seadanya,cenderung suram dan “jadul”, bahkan tidak ada papan namanya.

Meja-meja kayu dengan kursi plastik berbeda-beda warna. Ada yang putih dekil, merah pudar dan hijau lusuh seakan membawaku pada suasana warung makan masa lalu.

“Kami ingin mengajak kalian bernostalgia. Dulu kami sering makan di sini. Sotonya enak. Dan rasanya tetap tak berubah seiring waktu. “ Ujar Pak Yusfik disambut senyum manis istrinya. Pasangan setengah baya itu ramah dan baik hati.

Kami memesan soto  babat campur daging dan nasi putih.

“Saya pesankan minuman istimewa ya. Es teh susu di sini  enak lho. “ Pak Yusfik berkata setengah promosi.

Aku dan Akang  mengangguk.


Sabtu, 25 Juli 2015

Martabak HAR, Kuliner Khas Palembang

Mudik ke Palembang tak pernah kulewati tanpa wisata kuliner menikmati makanan khasnya. Kuliner  Palembang  sangat banyak jenisnya, bukan hanya pempek, lenggang, model, tekwan, celimpungan, mie celor, burgo, laksan, pindang dan jenis makanan dengan bahan dasar ikan, tapi ada juga martabak telur yang sangat tersohor di kota ini. Namanya martabak HAR.


HAR adalah singkatan dari Haji Abdul Rozak, seorang saudagar keturunan India yang menikah dengan wanita Palembang. Haji Abdul Rozak adalah  sang pencipta kuliner unik ini.

Rabu, 22 Juli 2015

Nyaris “Married by Accident” Sebuah Pelajaran tentang Tanggung Jawab


Istilah "Married by Accident" atau menikah karena kecelakaan seringkali berkonotasi negatif. Pergaulan bebas di kalangan anak muda  mengakibatkan   kehamilan  tak direncanakan kerap membuat para pelakunya memasuki gerbang  pernikahan dengan terpaksa.  Tapi bukan itu yang akan aku ceritakan di sini. Kisah ini adalah pengalaman inspiratif tentang Married by Accident dalam arti sesungguhnya. Kisah ini tentang sebuah pelajaran bertanggung jawab yang ditunjukkan oleh dua lelaki bijaksana.

Ketika itu  aku masih menjadi mahasiswi jurusan Teknik Sipil Universitas Sriwijaya. Masa indah penuh semangat merancang masa depan aku lalui bersama teman-teman satu angkatan yang sebagian besar laki-laki.

Mahasiswi termasuk makhluk langka di jurusan teknik kecuali di Teknik Kimia. Di jurusan Teknik Sipil angkatan 1991, hanya ada 17 mahasiswi di tengah  53 mahasiswa. Berada di lingkungan yang didominasi kaum lelaki justru membuat  aku dan 16 teman mahasiswi merasa nyaman. Para mahasiswa seangkatan rata-rata baik dan mau membantu kesulitan rekan mahasiswi. Bahkan kadang-kadang kami merasa dimanja. Bila  mengalami kesulitan dalam memahami mata kuliah atau pengerjaan tugas, teman-teman pria baik seangkatan maupun kakak-kakak tingkat rela membantu.

Mahasiswa Fakultas Teknik Sipil Universitas Sriwijaya angkatan 1991.

Selasa, 14 Juli 2015

Ngabuburit Bareng Ibu Wali Kota Bogor

Salah satu rangkaian acara Bogor Urban Hijab Expo (BUHE) 2015 yang diselenggarakan oleh Bulandua dan Hijaber Mom Community Bogor adalah acara ngabuburit bareng Ibu Wali Kota Bogor, Ibu Yane Ardian,SE.

Aku menerima undangan menghadiri acara itu dari Teh Vina Lucky Karim, founder komunitas Pelangi. Sebelumnya beberapa kali aku diajak mengenal lebih dekat Ibu Yane lewat komunitas  pengajian, sayangnya  belum sempat menghadiri karena bersamaan waktunya dengan acara lain.

Kebetulan ada waktu, siang itu 11 Juli 2015, aku memacu  mobil menembus kemacetan lalu lintas Bogor menuju Hotel Salak, tempat  diselenggarakan acara tersebut.

Aku bersama Teh Vina dan Mbak Lisa Sumber Foto koleksi :  Mbak Lisa Yuwanti

Senin, 13 Juli 2015

Berbagi Kebaikan ala Motor Besar Club Bogor



Bulan Ramadhan di mana Allah menjanjikan balasan kebaikan yang berlimpah kepada umatNya telah menjadi dasar  kaum muslim untuk menggiatkan aktivitas amal lebih “ekstra” dari bulan-bulan lainnya.


Demikian juga dengan komunitas motor besar yang tergabung dalam Motor Besar Club (MBC)  Bogor. Setiap tahun di bulan Ramadhan ada agenda bakti sosial yang rutin dilaksanakan.