Selasa, 21 Oktober 2014

Terapi Rehabilitasi Medik yang Manjur Mengatasi Nyeri Pinggang


Nyeri pinggang atau pinggul sepertinya bukan penyakit berat atau hanya penyakit ringan dan cukup familiar karena sering kita dengar ya? Banyak orang yang mengeluhkan penyakit ini tapi tak banyak yang menganggapnya sebagai hal yang serius.  Orang menganggap remeh keluhan ini karena seringkali  sembuh  sendiri secara alami tanpa melakukan tindakan apapun. Tapi bagaimana kalau rasa nyeri tersebut tak kunjung pulih  atau bahkan menjadi semakin parah dan mengundang keluhan lain?

Bermula  kira-kira empat hari sebelum lebaran Idhul Fitri 2014. Suamiku, si Akang, melatih otot perutnya dengan melakukan gerakan sit up. Namun keesokan harinya dia merasakan nyeri di pinggulnya. Rasa nyeri itu bertahan terus meski sudah beberapa kali dipijat.

Di pertengahan September 2014, ketika dia bekerja di lapangan, nyeri itu mulai terasa mengganggu. Akang bekerja di sebuah perusahaan minyak dan gas yang beroperasi di pulau Padang yang masuk ke dalam wilayah kabupaten Meranti di propinsi Riau.  Karena rasa nyeri di pinggulnya semakin menjadi  membuat Akang terpaksa mengkonsumsi  obat pereda nyeri agar sakitnya tak mengganggu aktivitas bekerja. Ternyata obat itu malah mengundang masalah baru. Salah satu kandungan dalam obat tersebut  meningkatkan asam lambung hingga Akang mengalami diare selama 3 hari.

Sakit  pinggul itu kini tak dapat dianggap enteng . Atas rekomendasi seorang teman, saat kembali ke Bogor, Akang berangkat sendiri ke Jogjakarta untuk menjalani terapi pijat  tradisional. Selama dua hari satu malam di Jogja, dia menjalani terapi pijat sebanyak 3 kali.

Pulang ke Bogor, kondisinya sudah membaik. Terapi pijat itu tampaknya berhasil. Akang tidak lagi merasakan sakit di pinggulnya, maka dengan antusias si Akang mengajakku touring ke daerah wisata Guci di kabupaten Tegal bersama beberapa orang teman sekantornya.

Selama di perjalanan dari Bogor ke Guci hingga kembali  ke  rumah, kondisinya baik-baik saja. Tapi keesokan paginya, ketika bangun tidur, rasa nyeri itu kembali hadir, bahkan terasa lebih parah dari sebelumnya. Dalam kondisi nyeri pinggul, Akang tetap bekerja di kantor Jakarta selama dua hari dan kemudian berangkat kembali bekerja ke lapangan yang total waktu perjalanannya mencapai 10 jam dengan menggunakan tranportasi darat, udara dan laut.

Semakin hari rasa nyerinya semakin parah. Akibatnya si Akang berjalan pincang dan  tak bisa melakukan gerakan rukuk dalam shalat dengan sempurna, lututnya harus ditekuk dengan tetap menahan rasa nyeri.  Dokter di lapangan merekomendasikan untuk melakukan  MRI ( Magnetic Resonance Imaging) di sebuah rumah sakit besar di Pekanbaru untuk memastikan penyebab nyeri itu. Sebenarnya sekitar 3 minggu sebelum terapi pijat di Jogja, Akang sempat melakukan rontgen di salah satu rumah sakit yang berada dekat dengan kantornya di Jakarta, hasilnya disebutkan tulang belakang dan tulang pelvixnya mengalami "sablaksasi" atau pergeseran posisi tulang belakang dan terjadi kekakuan otot.

Ternyata pemeriksaan MRI ini tak bisa berjalan mulus akibat phobia yang di derita Akang.  Dalam pemeriksaan MRI, dia diharuskan berbaring tenang selama 1 jam dalam sebuah alat yang mempunyai lorong yang sempit, sangat pas buat badan Akang yang tidak kecil. Nah, disitulah letak permasalahannya! Akang yang phobia terhadap ruang sempit menjadi panik dan selalu bergerak untuk menghilangkan kepanikannya. Akibatnya ya gagal deh MRI-nya! Dia hanya bisa bertahan 10 menit saja di dalam alat tersebut.

Petugas medis rumah sakit itu sudah mengupayakan berbagai cara, tapi tetap tak berhasil. Satu-satunya cara adalah dengan membius pasien, tapi tidak bisa dilakukan hari itu karena untuk pembiusan harus  melalui prosedur yang menghadirkan dokter ahli anestesi dan sebagainya. Akhirnya Akang hanya menjalani  pemeriksaan CT scan saja atas saran dari dokter perusahaannya.

Setelah menerima hasil CT scan dari rumah sakit tersebut, dokter di lapangan memutuskan Akang harus lebih cepat pulang untuk menjalani proses pengobatan selanjutnya, namun Akang menolak dengan alasan ada beberapa pekerjaan penting yang harus diselesaikan lebih dulu, Akang memilih untuk bertahan di lapangan dengan tetap menahan rasa nyeri di pinggulnya. Akhirnya, setelah 4 hari kemudian pekerjaan tersebut selesai dan Akang pulang satu hari lebih awal dari jadwal pulang normalnya. Atas rekomendasi beberapa orang teman, Akang dirujuk berobat ke RS Advent Bandung untuk berkonsultasi dengan dokter ahli rehabilitas medik.

Dokter itu tampaknya sangat populer dalam dunia rehabilitasi medik. Bila ingin berobat jalan, pasien harus super sabar menanti giliran dalam antrian yang panjangnya tak tanggung-tanggung. Orang yang akan menjadi pasien dokter tersebut harus menunggu antrian selama 4-5 bulan untuk bisa mendapat penanganan dari sang dokter.

Atas pertimbangan  keadaan Akang yang  butuh penanganan segera, maka dokter perusahaan menyarankan untuk rawat inap buat Akang di rumah sakit. Hal ini terpaksa dilakukan karena tindakan medis  akan  berlangsung beberapa kali dalam sehari selain waktu antri yang sangat lama bila harus menjalani berobat jalan. Tak mungkin kami yang tinggal di Bogor bolak-balik Bandung- Bogor untuk menjalani pengobatan.

Hari Rabu, 15 Oktober 2014, aku dan Akang berangkat dari Bogor jam 5 subuh.  Dengan kendaraan pribadi kami melaju ke Bandung via tol Purbaleunyi. Siapa yang nyetir? Tetap  saja si Akang. Hehehe... Padahal aku sudah menawarkan diri untuk jadi sopir, tapi dia tak mau.

“Kalau Neng yang nyetir, bisa kesiangan sampai di Bandungnya. Neng kan nyetir kayak keong...hanya berani sampai kecepetan 90 km/jam saja” seloroh si Akang.

Aku akhirnya setuju, dengan perjanjian bila nyeri pinggulnya mengganggu,  Akang harus rela aku yang menggantikan posisinya sebagai sopir.

Alhamdulillah perjalanan lancar meski agak macet di beberapa titik jalan tol, setelah istirahat dan sarapan di rest area jalan tol Purbaleunyi, kami sampai di RS Advent Bandung pada jam 9.30. Rumah sakit itu berada dekat   kawasan pertokoan Cihampelas, tepatnya di Jl. Cihampelas no 161 Bandung.

Aku kasihan melihat Akang yang meringis-ringis menahan sakit ketika turun dari mobil, jalannya terpincang-pincang. Tapi dasar bandel,  dia menolak untuk duduk di kursi roda ketika di tawari oleh petugas rumah sakit.

Proses administrasi pendaftaran berjalan lancar, karena sebelumnya sudah didaftarkan via telepon. Tak lama kemudian kami berdua sudah berada di hadapan dokter yang dimaksud. Namanya dr. Alvin L. Rantung, Sp. RM.

Ramah dan penuh senyum. Itulah kesan pertama bertemu dokter itu. Akang menceritakan bagaimana nyeri di pinggul yang dideritanya. Kemudian dia menyerahkan hasil rontgen dan CT scan sebagai dasar untuk melakukan analisa dan tindakan medis selanjutnya.

Dokter itu memasang hasil rontgen dan CT scan di sebuah layar putih dengan lampu yang membuat gambar siluet rangkaian tulang belakang  itu  terpampang jelas. Dengan lugas, dia menerangkan beberapa lokasi disposisi (perubahan letak) tulang yang terjadi pada Akang.

Kolumna Vertebra atau rangkaian tulang belakang adalah sebuah struktur  lentur yang terbentuk dari sejumlah tulang yang disebut vertebra atau ruas tulang belakang. Diantara tiap dua ruas tulang terdapat bantalan tulang rawan. Seluruhnya terdapat 33 ruas tulang.  Ada 24 ruas tulang yang terpisah, dan 19 ruas lainnya bergabung membentuk 2 tulang. Rangkaian tulang belakang terdiri dari 7 vertebra servical atau ruas tulang leher, 12 vertebra thorakal atau ruas tulang punggung, 5 vertebra lumbal atau ruas tulang pinggang, 5 vertebra  sacrum atau ruas tulang kelangkang,  dan 4 vertebra koksigeus atau ruas tulang tungging.

Secara medis, penyakit yang di derita Akang disebut Spondylosis thoracalis-lumbalis- unco vertebralis.  Spondylo berasal dari bahasa Yunani yang berarti tulang belakang. Spondylosis  dapat diartikan perubahan pada tulang belakang dengan ciri bertambahnya degenerasi discusi invertebralis yang diikuti perubahan pada tulang dan jaringan lunak.  Spondylosis pada Akang terjadi di servical (ruas tulang leher), thoracalis (ruas tulang punggung), lumbalis (ruas tulang pinggang) dan unco-vertebralis C5-6 kiri yang menyebabkan penyempitan ringan pada neuralis.  

Dokter menunjukkan pada ruas ke tiga tulang Akang yang terdapat sedikit pengapuran akibat dari ketidak seimbangan kekuatan otot kanan dan kirinya, dan posisinya agak bergeser. Akibat bergesernya tulang ini syaraf dan otot pun terpengaruh. Hal ini yang menyebabkan nyeri pada pinggang, jalan menjadi pincang dan tak mampu melakukan gerakan rukuk dengan sempurna.

Dokter ramah itu kemudian menjelaskan bahwa sebaiknya bila mengalami nyeri tidak boleh sembarangan dipijat, apalagi bila tukang pijatnya tidak mengerti anatomi tubuh. Dia menceritakan beberapa kasus yang pernah ditanganinya. Ada seorang bapak yang makin parah nyeri-nya setelah dipijat, bahkan ada salah satu pasiennya  menjadi lumpuh setelah dipijat.

“Dok, apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit ini? Apakah kesukaan suami melakukan olahraga angkat beban berpengaruh juga? “ tanyaku.

“Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya nyeri pinggang ini. Bisa karena perubahan degeneratif, penuaan, mengangkat beban yang berat terus menerus, obesitas, duduk dalam jangka waktu yang lama, stress dalam aktivitas pekerjaan, kebiasaan postur yang jelek dan tipe tubuh. Saya tidak bisa memastikan dari semua itu, mana yang menyebabkan timbulnya penyakit ini pada Pak Sutedja. “ jelas dokter Alvin.

“Kalau dibiarkan, apa yang terjadi, Dok?” tanyaku.

“Akibatnya akan makin parah. Bisa mengakibatkan nyeri yang mengganggu, keterbatasan gerak ke segala arah, spasme otot, hingga gangguan fungsi seksual. “

Dokter Alvin terkekeh melihat ekspresi ngeri di wajahku.

“Tidak apa-apa, kok. Kasus Pak Sutedja ini tidak terlalu parah. Meskipun ini merupakan akumulasi selama bertahun-tahun, tapi masih bisa dikembalikan posisi tulangnya dengan terapi fisik. “ ucapnya menenangkan.
Setelah konsultasi, dokter menyusun jadwal tindakan yang akan dilakukan. Hari itu Akang akan menjalani fisiotheraphy dan sebuah paket rehabilitasi medik yang disebut “ West Wing IV “.

Aku dan Akang kemudian istirahat di ruang perawatan di lantai 4 rumah sakit. Tak lama datanglah seorang anak muda, petugas fisiotheraphy yang membawa sebuah kursi roda.

“Mari, Pak. Kita ke ruang fisiotheraphy. Silahkan duduk di sini. “ katanya sambil tersenyum.

“Tidak perlu, dik. Saya masih bisa jalan. “ Si Akang tetap teguh dengan pendiriannya meski anak muda itu sedikit memaksa. Akhirnya kursi roda itu tak jadi dipakai.

Sekitar satu setengah jam kemudian, Akang kembali ke kamar. Jalannya masih terpincang-pincang.

“Rasanya bagaimana, Kang? “ tanyaku.

“Biasa saja. Lumayan enak dipijat. Tapi sakitnya masih tetap. “Akang bersungut sambil mengunyah makan siangnya.

Hari beranjak petang, sekitar jam tiga sore dokter Alvin muncul di pintu dengan seulas senyum lebar.

“Ayo kita mulai, Pak.“ katanya setelah menanyakan keadaan Akang.

Akang diminta duduk di ranjang. Dokter itu mengambil posisi dibelakang Akang. Tangannya memegang kepala dan dagu Akang. Dia kemudian mengarahkan kepala Akang ke samping kiri dan kemudian ke kanan dengan kekuatan terukur. Aku menatap mereka dengan sedikit ngeri. Pikiranku melayang pada adegan film action dimana sang jagoan mematahkan leher lawannya dengan gerakan serupa itu. Hiks...





“Wah, kalau dilakukan oleh orang yang tidak punya ilmunya bisa fatal ya, dok.” tanyaku.

“Betul. Leher bisa patah.“ senyum dokter Alvin terus mengembang.

Selanjutnya dia berfokus pada tulang leher. Dengan menekan pundak dan menarik kepala Akang ke belakang, dia melakukan dengan hati-hati dan kekuatan terukur. Beberapa saat kemudian, dia memintaku mengambil foto kepala Akang dari samping.  Sebelum dilakukan tindakan, posisi kepala Akang seolah terjulur ke depan, tapi sekarang sudah kembali tegak. Aku mulai terkesima.




Selanjutnya giliran kedua lengan Akang. Dia menarik lengan ke belakang, kemudian kesamping seperti melakukan peregangan otot, selanjutnya lengan dilipat dengan bertumpu pada kepala Akang. Setelah beberapa menit dia meminta Akang  menautkan kedua jemari di punggungnya. Dengan posisi tangan kanan diatas, kemudian bergantian tangan kiri yang di atas.



Akang berseru senang.

“Wah... Berhasil! “ wajah Akang berseri-seri sementara aku melongok tak mengerti.

“ Apanya yang berhasil? “ tanyaku.

“Biasanya kalau Akang melakukan peregangan menautkan jari seperti tadi, jari-jari Akang tak pernah bisa bersentuhan. Sekarang kok tiba-tiba bisa!”

Aku menatap dokter Alvin dengan takjub. Dokter itu tersenyum lebar.

“Itu tandanya posisi tulang sudah simetris.” jelasnya.


Sekarang Akang berbaring tengkurap. Dokter kemudian berfokus pada tulang pinggang Akang. Adegan selanjutnya, Dokter Alvin menekan, menekuk, mendorong, menarik, pinggul dan pinggang bahkan “melipat-lipat” kaki Akang. Akibatnya heboh,   Akang berteriak-teriak kesakitan.

Aku memandang mereka dengan ngeri sekaligus geli.  Hatiku berdebar-debar menanti hasil dari rangkaian adegan menyakitkan itu sambil memotret.

Lalu selesai sudah. Dokter Alvin meminta Akang berdiri.

“Masih nyeri?” Tanyanya.

“Tidak lagi, dok.” Sahut Akang. Wajahnya tampak bengong setengah tak percaya.

“Coba jalan. “ pinta Dokter itu.

“Wah, nggak pincang lagi!” Kali ini aku berseru. Akang tersenyum-senyum senang, lalu dia melakukan gerakan rukuk.

“Bisaa!” Serunya senang bercampur takjub.

“ Alhamdulillah....”

Dua puluh menit saja. Ya, tak lebih dari dua puluh menit adegan seram tekuk menekuk itu dijalani Akang, kini dia sumringah. Seperti sulap saja.

Alhamdulillah... Memang Tuhan sudah menciptakan manusia dengan keahliannya masing-masing, dan Dokter Alvin merupakan jalan yang dipilihkan Allah SWT untuk kesembuhan Akang.

“Jadi, saya sudah sembuh, dok?”Akang bertanya seolah tak percaya.

Dokter Alvin terkekeh-kekeh memandang kami berdua.

“Ya. Dengan kuasa Tuhan.“ ucapnya bijak.

“Nanti malam boleh jalan-jalan ya, dok? “ Akang bertanya di tengah tawa girangnya.

“Ya, boleh. Jalan saja sana. Kan sudah sehat. Makan malam di Ciwalk sambil belanja. Hehehe... “ lanjutnya kemudian.


Kami mengucapkan terimakasih pada dokter ramah itu.

“Tidak perlu lama-lama disini. Besok sekali lagi terapi dengan saya, lalu ada dua sesi fisiotherapi. Kemudia hari jumat sekali lagi fisioterapi setelah itu boleh pulang. “ ujar dokter Alvin menutup pertemuan hari itu.
Malamnya aku dan Akang seolah merayakan kebahagiaan. Suster-suster rumah sakit bengong melihat kami berdua melenggang melewati mereka.

“Lho, pada mau kemana ini? “ Seru salah satu suster. Suster yang lain bengong melihat pasiennya  jalan-jalan.

“Kami jalan-jalan dulu ya... sudah dapat izin dokter. “ seruku riang sebelum pintu lift tertutup.

Esok harinya, setelah menjalani satu sesi fisiotherapi, dokter Alvin datang lagi. Dia menanyakan kondisi Akang.

“Sudah enak, Dok. Meski masih ada sedikit ngilu di pinggul.”

“Ya, itu sisa peradangan, bisa diatasi dengan obat. “ ujar dokter Alvin.

Lalu dokter Alvin melakukan lagi terapi fisik yang berfokus pada kaki Akang. Dia melakukan semacam gerakan peregangan.

“Gerakan ini boleh dilakukan sendiri ya, untuk menjaga kelenturan. “

“Dokter, apa pantangan yang tak boleh dilakukan supaya nyeri  tak terulang lagi ?” tanyaku.

“Ya, untuk sementara jangan dulu mengangkat beban yang berat-berat. Istirahat dulu beberapa saat. “

“Itu saja, dok?”

“Iya.”

“Berarti boleh touring lagi, dok?” tanya Akang antusias.

“Hahaha....” Dokter Alvin tertawa sambil mengangguk-angguk “Setelah istirahat beberapa minggu ya.” sambungnya.

Kami berulang kali mengucapkan terimakasih pada dokter Alvin. Aku menatap pria ramah  bertubuh tinggi dan langsing itu. Sungguh apa yang dilakukannya membutuhkan kondisi fisik yang prima. Dalam hati aku berharap dia selalu dalam kondisi sehat dan kuat sehingga lebih banyak lagi pasien yang terbantu mencapai kesembuhan dengan keahliannya.

Malam itu, kami kembali jalan-jalan menikmati suasana di Bandung, kali ini kawasan Paris Van Java menjadi pilihan. Rasanya senang sekali berjalan kaki  bersisian, dan bergandengan tangan . Romantis itu sederhana. Hehehe...

“Kesehatan itu baru terasa sangat berharga disaat-saat seperti ini ya, Neng. Nikmat Allah begitu besar. Kita selama ini tak menyadari bahwa kemampuan berjalan kaki dengan normal seperti ini, hal remeh yang biasa kita lakukan, ternyata merupakan  nikmat yang tak terhingga. Kalau tak pernah mengalami berjalan pincang dan merasakan nyeri, kita tak pernah sadar untuk terus bersyukur.” ucap Akang.

Aku meresapi kata-katanya sambil menelusuri suasana malam melewati deretan caffe-caffe cantik dan pertokoan gemerlap  berhias lampu-lampu indah.

Aku tersenyum, lalu  menggamit lengan Akang. Rasanya nyaman sekali melihat dia bisa beraktivitas tanpa meringis-ringis lagi menahan rasa nyerinya. Aku bersyukur untuk jalan kesembuhan yang telah dibukakanNya. Alhamdulillah....

10 komentar:

dina mengatakan...

aduh jadi ngilu liatnya, tapi enak ya ke badan kalo bener penangannannya.

ludina mengatakan...

wah sakit pinggang atau keseleo jangan dianggap remeh ya, bisa fatal kalo tidak tertangani dengan baik

Tri Wahyuni Zuhri mengatakan...

Wah.. bisa jadi rekomendasi nih mba dokter ini. Tapi antrinya panjang ya. Semoga semakin membaik ya mba suaminya.

Ririn Sjafriani mengatakan...

informasinya bermanfaat, mbak. Salam sehat untuk keluarga ^_^

Don kenedi mengatakan...

Buk.. Tolong kirimkan No Hp Dokternya...
Saya juga mengalami sakit pinggang, sudah 1 tahun lebih belum juga sembuh2.
Tolong bantuannya Buk... Terima kasih.

Ari Prastyo mengatakan...

Boleh saya minta alamat dan nomer telepon /handphone dokternya? saya mengalami sakit punggung yang sudah bertahun tahun, terima kasih sebelumnya. Email saya arieprastyo@gmail.com

Amy Utami mengatakan...

waahhh... referensi bagus mba... cuma antri yaa... saya suka sakit pinggang juga gara-gara pernah jatuh duduk 3 x

Mega Ifle mengatakan...

Dokter Alvin sangat saya rekomendasikan. Awalnya sy sakit syaraf kejepit, pijit sana sini krng lbh 3tahun. Dpt info dr saudara yg di amerika, utk berobat ke RS. ADVENT Bandung. Waiting list nya bs smp 4 -5bulan. Singkat cerita, akgirnya sy di handle Dr. Alvin. 2 tulang blakang saya remuk, otot2 spasme. Ga bs jalan. Ga bs napas. Ga bs ngomog. Stlh di "tekak tekuk" Dokter, 2 hari berturut2, sy bisa jalan sendiri. Dan skrng tinggal recovery tulang yg remuk nya. Terimakasih Dr. ALVIN RANTUNG.

Unknown mengatakan...

Bisa minta alamat/ no telfon dr alfin mbak? Trims e mail. rdgoni94@yahoo.com

Roma Dhoni mengatakan...

Bisa minta alamat/ no telfon dr alfin mbak? Trims e mail. rdgoni94@yahoo.com