Minggu, 13 Januari 2019

PENGARUH LINGKUNGAN SEKOLAH DAN CARA MENGATASINYA



Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting bersama Okina Fitriani
Tanya : 

Anak saya umur 10 dan 7, dua duanya laki-laki. Mereka banyak meluangkan waktu di sekolah. Sampai rumah sudah jam 4 sore. Paling hanya dua jam saja efektifnya saya berkomunikasi dengan anak-anak. 


Banyak waktu dihabiskan di sekolah. Tantangan yang saya termukan adalah setelah kami menanamkan nilai-nilai di rumah, mereka pergi ke sekolah lalu pulang ke rumah dengan nilai yang berbeda. 

Kami berharap di sekolah juga ditanamkan behavior mengenai akhlak, kedisiplinan. Kejadiannya pada anak kami yang kelas 4 SD,  kok dia lebih tertarik untuk membuat “impress” teman-temannya dibandingkan membuat “impress” guru-gurunya.

Contohnya : dulu anak kami suka berlajar, sekarang keinginannya belajar mengenai hal-hal baru sehubungan dengan akademiknya berkurang. Tapi dia ingin membuat impress teman-temannya dengan  minta dibelikan gel rambut. Karena teman-temannya pakai gel. Dia juga ingin hebat main bola, karena teman-temannya juga suka main bola. Tapi nggak ada  keinginan membuat guru-gurunya senang, denagn mendapatkan nilai-nilai bagus. 

Saya berharap sekolah bisa melakukan sesuatu sehingga anak-anak semangat menerapkan perilaku yang baik sesuai dengan yang kita inginkan. Bagaimana caranya?

Jawab : 

Pertama, anak mendapatkan nilai baik bukan untuk membuat impress guru-gurunya. Jadi kalau kita mengharapkan anak-anak kita nilainya baik supaya guru-gurunya impress,  It’s totally wrong.  

Anak mengharapkan nilainya lebih baik karena dia ingin meningkatkan kemampuannya. Dan itu dilakukan di rumah. Dengan apa? Apresiasi dari orangtuanya. Puji dia lalu arahkan.

“ Wah.. hari ini adek sudah lebih baik ya. Selanjutnya mau seperti apa nak?”

Olah raga itu penting sekali untuk kecerdasan. Anak pengen ahli main bola gak apa-apa. Motion create emostion. Biarkan dia bergerak untuk mendapatkan emosi yang lebih stabil.

Soal gel itu gampang saja. Jangan ngomel. Misalnya, “Alaaah... rambut aja tuh yang keren, nilai cuma 7!”
Anak akan kesal

Justru masalah gel ini bisa dijadikan pintu masuk diskusi. Misalnya begini :

“Nak, mau beli gel untuk apa?”
“Biar keren, Pa.”
“Terus kalau keren untungnya apa?”
“Banyak yang suka.”
“Oke. Rambut sudah keren, lalu apalagi nak yang perlu keren?”
“Prestasi.”
“Oke. Prestasi apa yang kamu mau lebih keren? Apa yang perlu kamu lakukan supaya lebih keren prestasinya? “ (Masuk ke parental coaching)

Ini namanya utilizing moment. Gunakan masalah gel itu untuk pintu masuk membicarakan goal akademis sambil menanamkan value.

Sekolah dari pagi sampai sore, kalau menurut anda itu tidak efektif, kalau anda merasa value yang anda tanamkan ke anak sudah baik, ya jangan sekolahkan anak di full day school. Anda bisa memilih home schooling.  Salah satu penggerak EP, namanya Mbak Melati, yang sekeluarga jalan-jalan keliling Indonesia dengan motorhome selama 1 tahun, bisa dilihat di youtube, sudah 3tahun  anaknya melakukan home schooling.

Jadi kalau menurut anda sekolah biasa tidak bisa memfasilitasi anak kita dengan baik, pilih home schooling.  Saya pun dulu kalau tidak menemukan sekolah yang sesuai dengan kriteria yang saya tetapkan, maka saya ajarkan anak saya sendiri di rumah.  Sekolah bagus hanya bonus. Pendidikan itu berasal dari rumah. 

Saya sudah mengalami pindah ke berbagai negara. Anak saya yang paling besar sudah mengalami pindah-pindah di enam sekolah yang berbeda di negara yang berbeda.  Tapi ya tetap baik. Di sekolah bagus hasilnya baik, disekolah jelek juga tetap baik.

Kalau menggerakkan perubahan di sekolah bagaimana? Kita yang memilih sekolah, maka kita yang bertanggung jawab atas pilihan itu. Kita bisa bekerjasama dengan sekolah.  Contohnya : luangkan waktu duduk di sekolah, lihat, perilaku apa yang menurut anda perlu diperbaiki.  Lalu kita beri masukkan.

 “Yuk kita bikin program ini yuk Pak Guru Bu Guru, agar perilaku seperti ini berkurang di sekolah. “ Siapa yang turun tangan? Orangtua murid. Mari turun tangan.  Jangan cuma mengeluh, komplain, protes sana sini.

Dulu di sekolah anak saya tidak ada yang namanya standard  handling bullies. Sekarang ada.  Yang bikin siapa? Saya. Di-approve oleh sekolah.

Kita tidak bisa hanya menyalahkan sekolah. Kita  dan sekolah bisa bekerjasama membangun behavior yang lebih baik.

Tidak ada komentar: