Selasa, 04 September 2018

Ragu Ingin Keliling Indonesia Sekeluarga? Gunakan 14 Jurus Silat Lidah



Keluarga Kusmajadi

Bahagianya punya sahabat yang unik banget.. tiada duanya💕💕💕. Kami sama-sama penggerak Enlightening Parenting, sama-sama belajar dari CikGu Okina Fitriani. Sengaja aku ingin memperkenalkan sahabatku, karena aku dan teman-teman semua bisa belajar sangat banyaaak dari dia.

Namanya Melati M Puteri. Sebenarnya sebelum kami dekat, aku sudah beberapa kali bertemu dia di Kuala Lumpur. Pernah juga bertemu saat Mbak Mel ikut jadi peserta  training Transforming Behavior Skill untuk alumni Enlightening Parenting. Kesan pertama melihat dia biasa saja, kalem, sepertinya orangnya pendiam. Barulah waktu kami sama-sama jadi fasilitator training di Jogja, aku dan Mbak Mel punya kesempatan banyak buat ngobrol.

Kami sekamar di hotel tempat penyelenggaraan training saat itu. Naah.. barulah ketahuan aslinya. Ternyata orangnya asyik banget. Dan jelas  nggak pendiam karena kami bisa ngobrol berjam-jam sampai mata tak sanggup melek lagi. Obrolannya bergizi,  menambah ilmu, menambah wawasan, menambah kebijaksanaan.

Salah satu yang bikin aku terkagum-kagum adalah kepandaiannya menemukan unsur humor atau hal-hal lucu yang bisa kami tertawakan bahkan pada kejadian  tidak nyaman sekalipun.  Kok bisa ya? Karena itulah bergaul dengan Mbak Mel tak pernah berasa ada susahnya. Peta mentalnya luas, jadi enak kalau minta pendapatnya.  Aku bisa dapat makna  memberdayakan dari sebuah peristiwa tidak menyenangkan.

Dibalik tampang  kalem itu ternyata dia ekpresif banget.  Aku yakin baru detik ini dia tahu, kalau ekspresi wajahnya itu aku jadikan anchor untuk menghilangkan kondisi emosi yang negatif.  Kesal? Bete? Hadirkan saja visualisasi ekpresi wajah Mbak Mel saat menceritakan hal lucu. Lalu Jreeeng... Aku happy lagi! Hahaha.. Terimakasih Mbak Mel!

Keunikan Mbak Melati M. Puteri  dan suaminya Mas Dodi Kusmajadi yang bikin aku tercengang kagum adalah keputusan mereka untuk melaksanakan jalan-jalan selama 1 tahun sekeluarga dengan mobil. 

Keliling Indonesia sekeluarga dengan mobil selama 1 tahun! Hebat sekali!  Apa yang dicari keluarga ini selama perjalanan itu? Tentang ini sudah diceritakan Mbak Melati di Muslimah Diary yang tayang di Kompas TV hari Minggu  2 September 2018  lalu.

Keluarga Kusmajadi

Pertama kali mendengar gagasan itu, aku bertanya-tanya. Kok bisa mengambil keputusan itu? Kok berani?  Pendidikan anak-anak bagaimana? Bagaimana dengan pekerjaan? Biayanya  gede banget kan.. dan pikiran-pikiran lain yang kalau aku sendiri rasanya tak akan berani mengambil keputusan sehebat apa yang  dilakukan Mbak Mel dan Mas Dodi yang akrab dipanggil “Abah”.

Dan.. mereka benar-benar berangkat. Tanggal 3 September 2018 hari Senin sekitar jam 13.30, aku melepas keberangkatan keluarga ini menggunakan mobil yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan keluarga Kusmajadi selama perjalanan.

Ide untuk melaksanakan perjalanan ini datang dari Mbak Melati. Tapi untuk sampai pada keputusan menjalankan ide ini, tentulah banyak keraguan dan  pergulatan pikiran di benaknya hingga akhirnya bisa berkata dengan mantap “ Oke. Bismillah, kami akan melakukannya!”

Bagaimana sih proses menyingkirkan keraguan Mbak Melati? Bagaimana cara berpikirnya, mengingat keputusan ini termasuk tindakan  out of the box, lain dari yang lain, berbeda dengan orang pada umumnya.

Aku beruntung Mbak Melati mau berbagi kiatnya. Mbak Melati mampu mematahkan keraguan dan mengambil keputusan penting, membuat sejarah baru  dalam hidup keluarganya, menggunakan sebuah teknik  yang dikenal dalam dunia Neuro-Linguistic Programming (NLP). Teknik ini  digagas oleh Robert Dilt, seorang pengembang, penulis, pelatih, dan konsultan di bidang NLP . Robert Dilt mengembangkan berbagai teknik  yang disebut sebagai Systemic NLP yang salah satunya disebut Sleight of Mouth (SOM).

Sleight of Mouth yang kalau dibahasa Indonesiakan  istilahnya  Silat Lidah ini sungguh powerful. Teknik ini merupakan perpaduan pola bahasa Meta Model (pola bahasa gagasan John Grinder dan Richard Bandler hasil memodel ahli terapis Fritz Perls dan Viginia Satir) dan pola bahasa Milton Model ( pola bahasa yang digagas John Grinder dan Richard Bandler hasil memodel Milton H Erickson, yang digelari Bapak Hypnosis Modern) .

Kenapa begitu powerful? Karena demikian sistemik, Sleight of Mouth ini mampu mematahkan keyakinan sekaligus menanamkan belief baru yang memberdayakan, sesuai dengan tujuan penggunanya.

Kok bisa-bisanya Emak-emak macam Mbak Mel dan aku nemu teknik SOM? Alhamdulillah kami diajari  CikGu Okina Fitriani yang tak ragu berfoya-foya menumpahkan ilmunya yang bermanfaat.
Nah, balik lagi ke SOM. Teknik ini pernah digunakan suamiku, si Akang,  untuk mengatasi  emosiku. Emosi tak memberdayakan itu sudah berlangsung berbulan-bulan akibat ingin dipuji suami, dan ternyata bisa reda dengan 14 jurus silat lidah.

Bagaimana dengan Mbak Melati dan keraguannya menjalankan ide jalan-jalan sekeluarga keliling Indonesia selama 1 tahun?

Belief atau keyakinan yang menghalangi Mbak Melati untuk melaksanakan niat keliling Indonesia adalah :

“KELUARGAKU AKAN SENGSARA KALAU ABAH BERHENTI BEKERJA DAN KELILING INDONESIA”

Yang dilakukan Mbak Melati adalah memborbardir dirinya sendiri dengan  berbagai pertanyaan berbentuk meta model dan pernyataan berbentuk milton model dengan struktur  14 Jurus Silat lidah  / 14 Sleight of Mouth. Tujuannya :  mematahkan keyakinan tersebut, dan menanamkan keyakinan baru yang memberdayakan.  Prosesnya sebagai berikut :

1.       Meta Frame : Menantang latar belakang belief.
Kamu ngomong begitu karena kamu peduli akan masa depan keluargamu kan?”

2.       Reality Strategi : Menanyakan asal mula diperolehnya belief itu.
“Darimana kamu tahu kalau keluargamu akan sengsara kalau Abah berhenti bekerja dan keliling Indonesia?”

3.       Model of the World : Ubah referensi.
“Apakah dengan terus bekerja di TVOne dan tinggal di Malaysia adalah satu-satunya cara menjamin masa depan keluarga?”

4.       Apply to Self : Membalikkan faktor akibat dan membalikkan faktor penyebab.
“Alangkah monotonnya hidup ini dan kapan kita bisa berkarya di tanah air, kalau terus-terusan tinggal dan bekerja di negeri orang?”

5.       Change Context : Evaluasi implikasi yang lebih luas (Chunk Up)
“Jadi berhenti bekerja dan berkeliling Indoensia pasti bikin sengsara ya? “

6.       Hierarchy of Value : Cari kriteria yang lebih penting.
“Mana yang lebih penting; memberi pengalaman berharga pada keluarga tentang keindahan negeri kita dan kearifan lokal masyarakatnya, juga belajar bersama melalui perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik, daripada diam di negeri orang yang tanpa tantangan dan menjalani hari yang begitu-begitu saja?”

7.       Consequence : Tunjukkan konsekuensi
“Jika stay dan bekerja di negri orang itu satu-satunya cara menjamin masa depan, hati-hati dengan cara berpikir sempit dan menuhankan materi. Padahal rezeki tiap makhluk dari mulai lahir hingga mati dijamin oleh Allah SWT.”

8.       Metaphore : Gunakan analogi.
“Negeri ini menunggu kita menjelajahi setiap sudutnya. Setiap ceruk dananu dan lembah, setiap puncak gunung, memanggil-manggil kita untuk mengunjunginya. Seperti buku, negri ini berisi pengetahuan tentang alam dan hidup. Tinggal kita mau membukanya atau tidak”

9.       Another Outcome : Tawarkan belief lain.
“Berhenti bekerja dan keliling Indoensia adalah cara kita mengenal negeri ini, mengambil hikmah dari kearifan lokal dan belajar menjadi manusia yang lebih baik melalui perjalanan. Perjalanan ini juga jadi sarana belajar yang baik bagi anak-anak, baik dari segi pengetahuan juga life skill, mumpung mereka sedang homescholling.”

10.   Redefine : Mendefinisikan kembali
“Insya Allah kita nggak akan sengsara. Selain memiliki modal usaha, kita juga akan mengumpulkan data dan informasi sepanjang jalan selama perjalanan, yang juga berharga untuk menentukan jenis dan tempat usaha sepulangnya kita dari berkelana nanti.”

11.   Chunk Down :Cari elemen spesifik.
“Yang disebut sengsara itu apa? Kalau bisa menimati tempat-tempat indah dan bertemu langsung dengan masyarakat tradisional yang gaya hidupnya masih selaras dengan alam dan fitrah manusianya, apakah itu yang disebut sengsara?”

12.   Chunk Up : Jadikan abstrak.
“Dengan keliling Indonesia, kita akan menjadi kaya”

13.   Counter Example ;Mencari perkecualian.
“Kalau berhenti kerja dan melakukan perjalanan itu sengsara, berarti keluarga-keluarga pengelana yang keliling dunia itu sengsara juga dong?”

14.   Intent : Pertanyakan intensinya.
“Apakah kamu ragu kita bisa mengeksekusi rencana dengan baik? Insya Allah kita siapkan semuanya dengan baik mulai sekarang, termasuk rencana setelah selesai berkelana nanti.”

Bayangkan anda membaca tulisan ini sambil meng-assosiasikan diri sebagai Mbak Mel, yang punya keyakinan tak memberdayakan. Lalu baca langkah-langkah 14 jurus silat lidah dengan penghayatan penuh, dihirup pelan-pelan pertanyaan demi pertanyaan, kalimat demi kalimat, sambil diresapi.  Apa yang terjadi? Apa yang anda rasakan?

Keliling Indonesia sekeluarga selama satu tahun?? Siapa takut?! Berangkaaaat!!!🙌🙌🙌🙌

Penasaran ingin lihat interior dalam mobil keluarga Kusmajadi ? lihat di video ini 👇






Berangkaaat...👇





6 komentar:

Yayah_R mengatakan...

Wow...impian saya ini Mbak. Bisa keliling Indonesia sekeluarga 😍😍😍. Saya si udah yakin, tapi suami yang belum. Sepertinya 14 jurus silat lidahnya bisa nih dipakai untuk meyakinkan suami.

Juliana Dewi K mengatakan...

@Yayah_R : ayo Mbak... praktekkan ke suami👍👍👍

risalahlangit.com mengatakan...

Keren, ini!

Semoga bisa menginspirasi setiap keluarga untuk menjadi sekelompok driver yang mematahkan kejumudan sekelompok passenger, untuk hidup lebih baik, dengan aksi sekecil apapun tapi berdampak!

Reyne Raea mengatakan...

Saya liat ini di IGnya, keren banget emang yaaa...
Impian banget nih bisa keliling Indonesia bersama keluarga :)

Unknown mengatakan...

hati hati begal di daerah sumatera selatan ... semoga lancar sampai tujuan

Viedyana mengatakan...

Big decision banget neh....keren-keren...Semoga lancar hingga misi selesai...semangat mbak Mel...semangat mbak iwed #eh..
salam kenal