Jumat, 13 April 2018

TIPS MENYIKAPI SUAMI SUKA MARAH DAN MEMUKUL ANAK


Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting
Nara Sumber : Sutedja Eddy Saputra dan Okina Fitriani

Punya suami yang suka marah dan memukul anak? Bagaimana menyikapi dan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal yang demikian?

Mari simak  poin-poin yang dirangkum dari sesi tanya jawab materi PERAN AYAH dalam Training Enlightening Parenting di Surabaya 7-8 April 2018, bersama nara sumber Sutedja Eddy Saputra dan Okina Fitriani.


Tanya : Suami saya dididik dengan keras oleh orangtuanya dengan hukuman fisik . Salah satunya, pernah kepalanya dibenturkan ke tembok oleh orangtuanya. Ketika menikah, kami sering mengalami perbedaan pendapat dalam hal  cara mendidik anak. Suami saya bersikeras bahwa  anak harus dikerasi.  Saat dia marah dan melakukan hukuman fisik pada anak, saya langsung meng-interupsi, karena saya tak tega pada anak. “Jangan, jangan di pukul!” Begitu saya katakan pada suami. Padahal saya tahu, tidak boleh berbeda pendapat di hadapan anak. Saya sudah memberi tahu suami, tetapi di lain waktu masih saja suami berkeras harus mendisiplinkan anak dengan hukuman fisik. Bagaimana  cara mengatasi hal ini ?

Jawab (Sutedja Eddy Saputra ) : Ini masalahnya sangat simple sebenarnya. Seharusnya suami ikut belajar parenting  di ruangan ini hari ini. Kalau dia tidak mau belajar, maka tugas istri melakukan persuasi agar suami mau. Memang banyak usaha yang harus dilakukan istri. Ini kasusnya mirip dengan pengalaman saya dulu. Istri saya butuh waktu 2 tahun melakukan upaya persuasi sampai akhirnya saya bersedia belajar parenting, lalu menyadari kesalahan saya.

 Selain itu, hal ini terjadi karena belum punya visi misi keluarga yang dibuat dan disepakati bersama. Sama persis dengan pengalaman saya dulu.  Saya belum belajar parenting, tidak punya visi misi keluarga, sehingga saya maunya mendidik anak dengan cara saya yang keras, sementara istri sudah tahu bagaimana cara mendidik anak dengan benar.

Kalau sudah ada visi-misi keluarga, artinya sudah ada aturan bagaimana ayah memainkan perannya , bagaimana ibu menjalankan perannya.  Apa saja  kesepakatan  yang harus dijalankan dalam pengasuhan anak.

Lalu, karena istri yang sudah belajar parenting lebih dulu, maka istri harus memberi contoh untuk berubah. “Ini lho contoh mendidik anak dengan cara yang lebih baik. “

Apa bedanya mendidik dengan dan tanpa kekerasan?

Dulu ketika saya mendidik anak dengan keras, anak itu melakukan perlawanan. Mereka tidak langsung nurut. Saya harus marah dulu, harus memukul dulu, baru mereka melakukan apa yang saya inginkan. Tapi ketika saya tidak ada, maka pelanggaran kembali terjadi. Intinya, mereka  hanya takut pada saya, bukan taat pada aturan.

Sebaliknya, ketika anak dididik dengan kasih sayang, ketika orangtua dan anak membuat objektif bersama-sama, ternyata mereka bisa jauh lebih berkomitmen. Sehingga mendidik anak menjadi lebih mudah. Mendisiplinkan anak ternyata tidak harus dengan cara kekerasan.

Mbak Okina dan suaminya,  Mas Ronny,  sangat berhati-hati dalam memilih kata sehingga sangat jarang berkata keras pada anak.  Tapi saya lihat sendiri bagaimana hasilnya, karena saya pernah beberapa kali berkesempatan bersama keluarga mereka. Diingatkan dengan kata-kata lemah lembut saja,  anaknya sudah mengerti.

Beberapa waktu lalu saat di sebuah sharing session, ada seorang ibu yang bertanya. Anaknya yang masih di usia SD, memukuli teman-temannya.  Ternyata, ayah sang anak adalah seorang t*****a yang mendidik anaknya dengan kekerasan, dengan maksud supaya anaknya disiplin.  Padahal, sang ayah menerima pendidikan disiplin yang keras itu setelah menjadi t*****a di usia yang sekurang-kurangnya 18 tahun, usia di mana dia sudah siap  menerima  kedisiplinan dalam pendidikan yang  keras seperti itu.  Sedangkan anaknya kan masih  jauh dibawah itu . Tidak bisa disamakan, mendidik anak-anak  usia 7-8 tahun dengan mendidik  t*****a yang usianya sudah 18 tahun. Inilah pentingnya  orangtua paham ilmu parenting sehingga bisa mendidik anak dengan benar.

Jawab (Okina Fitriani) : Saya tambahkan sedikit ya. Sebenarnya suami yang suka memukul, suami yang perkataan atau ucapannya jelek, bicaranya bad word,   itu  karena tangki cintanya kosong.  Maka tugas siapa mengisi tangki cinta sang suami? Apa sang istri mesti bilang begini,

“Sana! Balik ke orangtuamu sana! Aku nggak mau dekat-dekat kamu! Karena kamu suka memukul anakku!”

Ya tidak begitu. Ada hal-hal yang bisa dilakukan secara simultan sebagai berikut :

1. Istri harus menegur suami dengan baik.  Di sisi lain, tambahkan limpahan cinta  pada suami. Tugas istrilah mengisi tangki cinta suaminya. Suami seperti itu justru harus disayang-sayang. Banyak puji suami, layani jauh lebih baik, beri sentuhan jauh lebih banyak, lihat perbedaan sikapnya. Diharapkan  kalau tangki cinta suami sudah meluber-luber, tangannya jadi penuh cinta, mulutnya jadi penuh cinta, matanya juga jadi penuh cinta.

Bagaimana saat sedang kesal pada suami, tapi istri bisa memperlakukan suami dengan penuh cinta? Bisa dicoba dengan Anchor Cinta seperti pengalaman Mbak Iwed dalam tulisannya “ANCHOR CINTA” di  link ini http://www.julianadewi.com/2017/10/anchor-cinta.html

2. Jika suami  masih tetap memukul anak, laporkan suami pada walinya.  

3. Selanjutnya, katakan dengan tegas pada suami jika tetap memukul anak, dia akan dilaporkan ke polisi.  Jangan lakukan ancaman kosong, artinya bila perilaku memukul tetap berlanjut, istri harus benar-benar melaporkan suami ke polisi. 




1 komentar:

Bunda Erysha (yenisovia.com) mengatakan...

Baca judulnya saja saya udah ngeri. Walau begitu cerita ini nyata dan banyak sekali kasusnya seorang ayah menggunakan kekerasan dalan mendidik anak-anaknya bahkan ibu juga suka ikutan begitu. Saya pun termasuk anak yang dibesarkan dengan pukulan oleh ayah dan ibu saya. Sepertinya saya pun menyadari kalau saya memiliki inner child yang bermasalah jadinya. Walau begitu, saya harus menyembuhkan itu karena saya tidak mau anak saya menjadi korbannya dan itu akan menjadi lingkaran setan pada akhirnya. Allhamdulillah sejauh ini jika saya marah pada anak, tidak sampai membentaknya apalagi memukulnya. Aduh jng smpe ya ��