Kamis, 17 November 2016

Pengalaman Menjalani Katerisasi Jantung

Katerisasi jantung? Duh… sebelumnya tak pernah terbayangkan akan mengalami tindakan medis ini.  Membayangkannya saja sudah ngilu, tapi ya harus dijalani demi mengetahui bagaimana sesungguhnya kondisi kesehatan jantung dan pembuluh darahku.

Ruang Cath-Lab di  RS BMC 

Ceritanya, tanggal 20 Oktober 2016 lalu aku menjalani Medical Check Up (MCU)  lengkap di salah satu Medical Center di Jakarta. Kegiatan ini rutin kulakukan 2 tahun sekali untuk mengetahui kondisi kesehatan.


Pemeriksaan meliputi mata, THT termasuk audiometri, gigi, pemeriksaan fisik, darah, urine,ultrasonografi, radiologi, dan  elektrokardiografi yang dilakukan dengan treadmill.

Saat melakukan exercise di treadmill, berjalan lancar. Petugas sempat menanyakan apakah aku sudah kelelahan, atau ingin berhenti. Aku merasa baik-baik saja, dan meneruskan exercise sampai selesai.

 Ketika grafik hasil treadmill di cetak,  dokter yang memeriksa hasil itu memanggilku ke ruangannya.

“Bu, hasil uji treadmill menunjukkan positive ischaemic respon.” Ujar Pak Dokter.

Aku yang tak mengerti jadi bengong mendengar istilah itu. Rasanya  terlalu canggih di telingaku.

“Artinya apa, Dok?”

“Tampaknya ada sumbatan di pembuluh darah Ibu. Saya sarankan ibu konsultasi ke dokter jantung dan pembuluh darah. Nanti saya buatkan surat pengantar untuk MSCT coroner ya.”

Aku mengangguk. Rasanya seram mendengar kata coroner. Jadi ingat almarhum Papiku yang dulu  menderita jantung coroner. Ya Allah…

Saat itu aku langsung memohon ampun padaNya. Aku tak pernah merasakan keluhan apa-apa selama ini. Merasa baik-baik saja, tapi kalau kenyataannya demikian artinya aku tanpa sadar selama ini sudah lalai menjaga kesehatan. Apakah ini yang sering disebut orang bahwa penyakit jantung ibarat silent killer. Tak ada gejala tapi ternyata….

Hasil MCU untuk pemeriksaan jantung


Sampai di rumah, aku banyak merenung. Memandangi wajah anak-anakku ,jadi sedih. Dengan kondisi pembuluh darah jantung yang ada sumbatannya, bisakah aku tetap menjaga dan merawat anak-anak dengan baik?  Betapa ingin aku terus mendidik dan menjaga mereka, menyaksikan mereka tumbuh dewasa, menjadi generasi gemilang, melahirkan cucu-cucuku, calon penghuni surga.

Melihat suami juga jadi sedih.

“Kalau Neng meninggal duluan, jaga anak-anak ya Kang. Jangan disia-siakan. “ Ucapku pada suatu malam, saat ngobrol mesra sebelum tidur.

Ucapan itu tak dijawab.  Akang hanya merengkuh aku dalam pelukannya. Erat sekali. Wah, jadi drama ini. Hehehe…

 Dengan berbekal hasil MCU, aku mendatangi salah satu dokter jantung  ternama di Bogor, dr Hendro Darmawan SpJP.

Dokter Hendro Darmawan SpJp

Ketika melihat hasil MCU, dia berkata.
“Kalau dari grafik hasil MCU ini, memang tampaknya postif ada sumbatan. Ini malah durasinya 9 menit. Cukup lama. Saya sarankan langsung di katerisasi saja. Kalau hanya di scan, nanti masih harus ada tindakan lagi untuk mengatasi sumbatannya. Malah keluar biaya lagi. Tapi dengan katerisasi, bisa terlihat jelas kondisi sesungguhnya pembuluh darah Ibu.  Bila ternyata ada sumbatan yang sudah diatas 70 persen, harus dipasangkan ring, untuk mencegah sumbatan makin parah. Nah, itu langsung bisa dilakukan saat itu juga, jadi tidak kerja dua kali.” Dokter Hendro menjelaskan.

Aku terdiam pasrah.

“Ibu sudah tahu apa itu katerisasi jantung?” Tanyanya.

Aku menggeleng.

“Katerisasi  adalah suatu prosedur invasif  minimal dibidang kedokteran Jantung dan Pembuluh darah (kardiovaskular) dengan cara memasukkan sebuah pipa plastik berukuran sangat halus. Pipa plastik ini disebut pipa kateter.  Nah, pipa ini dimasukkan ke dalam pembuluh darah mulai dari pembuluh darah perifer hingga masuk ke pembuluh darah jantung.” Dokter Hendro menjelaskan sambil menatap wajahku.

Lututku lemas. Hiks…

“Tindakan katerisasi jantung dilaksanakan di ruang katerisasi yang dikenal dengan istilah Catheterization Laboratory disingkat dengan Cath-Lab. Tindakan  kardiovaskular yang dapat dilakukan di Cath-Lab dibagi dalam dua kelompok. Yaitu diagnostic kardiovaskular invasive dan tindakan intervensi kardiovascular invasif. “ Lanjut dokter Hendro.

Aku menyimak penjelasannya dengan khusyuk meskipun ada istilah-istilah yang tak kupahami.

Dokter Hendro menjelaskan lebih detail.
“ Diagnostik Kardiovaskular Invasif meliputi :
1.    Angiografi Koroner, yaitu tindakan menegakkan diagnosis adanya sumbatan pembuluh darah jantung yang meliputi anatomi, lokasi sumbatan, panjang sumbatan, dan presentasi parahnya sumbatan.


Ilustrasi Katerisasi Jantung

2.    Penyadapan ruang jantung, yaitu tindakan penegakan diagnosis adanya kelainan rongga-rongga jantung dan pembuluh darah besar sekitarnya, meliputi kelainan anatomi, adanya kebocoran katup dan sekat jantung maupun pengukuran tekanan dan saturasi oksigen ruang jantung.
3.    Arteriografi Vaskular, merupakan tindakan menegakkan diagnostic adanya kelainan seluruh pembuluh darah arteri  manusia diluar jantung, meliputi pembuluh darah arteri otak, pembuluh darah arteri leher, tungkai atas dan bawah, maupun pembuluh arteri ginjal dan hati.
4.    Venografi Vascular, merupakan tindakan menegakkan diagnostic adanya kelainan seluruh pembuluh darah vena, meliputi pembuluh darah vena leher, tungkai atas dan bawah.”


Dokter Hendro berhenti sejenak, kemudian melanjutkan penjelasannya.
“ Untuk tindakan Intervensi kardiovaskular Invasif, meliputi :
1.   Pemasangan ring/stent  pembuluh darah jantung (Percutaneous Coronary Intervension / PCI) baik secara emergensi yang disebut primary PCI maupun terjadwal atau disebut elective PCI.


Ilustrasi Pemasangan Ring pada pembuluh darah jantung

2. Pemasangan Pacu Jantung (Cardiac Pacemaker) baik secara temporer maupun permanen.
3.    Pemasangan Koil Jantung pada konsidi fistula coroner.
4.    Penarikan cairan dari selaput rongga jantung (Pericardiocentesis)
5.  Pemasangan alat pada rongga jantung seperti Ballon Mitral valvuloplasty (BMV) Atrial Septal Occluder (ASO), Ampaltzer Muscular VSD Occluder (AMVO), Left Atrial Appendage Closure (LAA closure) dan lain-lain.

Kalau pada kasus yang Ibu alami, seandainya nanti ditemukan penyumbatan yang lebih dari 70 persen, maka akan dilaksanakan tindakan pemasangan ring.”

Aku menarik nafas panjang, berusaha menyingkirkan rasa ngilu di dada,  mendengar semua penjelasan dokter.

“Jangan khawatir, Bu. Saya menyarankan katerisasi karena untuk saat ini cath-lab merupakan pemeriksaan gold standard untuk menegakkan diagnostic kelainan sistem pembuluh darah. Keunggulannya adalah, tindakan intervensi invasive bersifat invasive minimal, artinya tidak memerlukan tindakan irisan bedah terbuka, tidak memerlukan bius total, hanya bius local saja. Fase  penyembuhan (recovery) lebih cepat. Durasi tindakan juga cepat,  5 menit untuk tindakan, ditambah persiapan dan lain-lain paling lama total 20 menit saja. Perawatan juga relative singkat, bila dibandingkan dengan operasi jantung terbuka. Kalau tidak pasang ring, hanya katerisasi, Ibu tidak perlu dirawat inap. Cukup one day care saja “ Dokter Hendro berusaha menenangkan aku.

Fiuuh….

Langkah selanjutnya, aku berusaha mencari informasi. Menurut dokter Hendro, fasilitas Cath-Lab di Bogor ada di Rumah Sakit Bogor Medical Center (BMC). Aku lalu mencari informasi lebih banyak sebagai pembanding. Akhirnya Setelah telpon sana-sini membandingkan biaya, jarak rumah sakit dari rumah dan lain-lain, pilihanku jatuh pada RS BMC. Kenapa? Pertama karena lebih dekat dari rumah, dan biayanya juga lebih murah.  Biaya katerisasi jantung di dua rumah sakit pembanding adalah Rp. 13 juta dan Rp. 15 juta, sementara di RS BMC biayanya Rp. 9,5 juta. Selain itu, alat di rumah sakit BMC tergolong baru. Layanan katerisasi jantung di RS BMC ada sejak bulan Maret 2016. 


RS Bogor Medical Center

Rabu, 16 November 2016. Jam 10 pagi aku melangkah sendirian memasuki ruang dokter jantung di RS BMC.  Dokter Rifnaldi SpJP (K) menyambutku ramah. Kusodori surat pengantar dari dr. Hendro Darmawan. Dokter Rifnaldi kemudian mengatur prosedur untuk melakukan tindakan medis. Dia menelpon Cath-Lab, dan memastikan bahwa katerisasi jantung akan dilaksanakan jam 13. 00.


“Saya sudah puasa sejak jam 6, Dok. Saya kira tindakannya akan dilakukan jam 10-an. “

Dokter Rifnaldi tersenyum.
“Wah, kasihan juga Ibu jadi kelamaan puasanya. Kita lakukan jam 13. Nggak apa-apa ya Bu.” Ujarnya.

Aku segera mengurus administrasi. Untuk biaya katerisasi jantung di rumah sakit BMC bisa dilihat di foto berikut ini.  Aku harus membayar DP sejumlah Rp. 4,5 juta, dan selebihnya dibayar nanti setelah tindakan selesai dilakukan.

Biaya Katerisasi Jantung di RS BMC 


Waktu menunjukkan pukul 12.30.  Usai menunaikan shalat zuhur, seorang suster mengantarku ke ruang ICU. Di sebuah bilik yang dibatasi gorden, aku diminta mengganti baju . Dibantu suster, aku melepaskan semua pakaian dan mengenakan pampers, serta baju operasi.

Aku berbaring ditempat tidur. Seorang perawat pria kemudian masuk dan memasang infus di tangan kiriku.


Ternyata jadwalnya agak mundur sedikit. Menjelang jam 14, perawat pria itu kembali lagi mendorong kursi roda. Aku dibawa ke ruang Cath-Lab.

“Bu, ruangannya dingin. Nanti saya selimuti ya biar Ibu tidak kedinginan. Maaf ya, Bu. Ruang operasi memang harus dalam kondisi dingin supaya alat-alatnya tidak rusak.” Ujarnya ramah.

Aku tersenyum.

Suster dan dua orang perawat pria berbaju biru tua membantu aku naik ke meja, tepatnya tempat tidur operasi. Aku memandang seluruh ruangan bercat putih bersih itu. Di sisi kiriku terdapat dua layar  seperti layar computer. Satu layar lagi ada di belakangnya, tampaknya seperti alat pemantau detak jantung . Di atas kepalaku terdapat  mesin, semacam robot   yang bisa  bergerak ke kiri dan kanan. Robot itu terhubung dengan mesin yang semuanya berwarna putih.

Di sudut kiri, aku melihat sebuah ruangan dibatasi kaca tembus pandang. Di ruang itu terdapat komputer-komputer yang fungsinya  memantau hasil operasi. Dokter Hendro Darmawan hadir juga, hanya saja dia berada di ruang pemantauan, tidak ikut melakukan tindakan medis.

Beginilah suasana di ruang operasi  :

Suasana saat katerisasi jantung, sumber gambar dari website RS BMC

Suara musik yang memperdengarkan lagu-lagu pop mengalir dalam ruangan.

“Halo Ibu, kenalkan saya perawat Dedi, itu perawat Anjar, perawat Sonya, dokter Rifnaldi dan Itu Bu Ade. “ Ucap salah satu perawat pria. Meski mulut dan hidungnya tertutup masker, aku bisa melihat dia terseyum dari bentuk mata yang menyipit.

“Ibu mau pesan lagu apa? “ Tanyanya.

Aku tertawa.

“Lagunya Afgan ada nggak?”

“Yaah.. sayang. Afgannya nggak ada Bu.”  Sahutnya.

Kemudian, para perawat memasang alat-alat. Di pergelangan kaki kiri dipasang alat pemantau tekanan darah. Di paha kanan dan dada kiri kanan dipasangi kabel  untuk mengetahui detak jantung. Di hidungku dipasang pipa oksigen.

“Santai ya Bu… Jangan tegang.” Ujar sang perawat.

Kemudian selimut tebal dan selimut putih dibentangkan diatas tubuhku. Pada bagian tangan dan paha kiri dibentangkan kain berwarna biru tua yang sudah ada lubang untuk membatasi area tempat akan dilakukan operasi.

“Bu. Kami akan lakukan di tangan kanan Ibu ya. Semoga lancar sehingga tidak perlu melakukannya di pembuluh darah paha. Tapi ini untuk siap-siap saja, saya perlu mensterilkan juga area di pangkal paha Ibu. “ Ucap sang perawat.

Ketegangan terasa  memenuhi udara ketika dokter mengatakan
“Sebentar lagi kita mulai ya. Mari kita berdoa dulu supaya semua berjalan lancar dan sukses.”

Kupejamkan mata, dengan sungguh-sungguh aku berdoa menyebut namaNya, memohon semoga hasilnya baik-baik saja.

“Kita mulai ya, Bu. “

Dokter Rifnaldi menyuntik tangan kananku. Sesaat aku merasakan nyeri dan pegal menjalari tangan kanan. Nyeri itu cukup membuat aku meringis.

Kemudian yang kulihat adalah pisau bedah, darah, dan pipa yang tampak seperti kabel plastik panjang masuk ke arteriku. Dadaku terasa sesak. Aku menolah ke kiri berusaha menetralisir rasa tak nyaman. Lalu gelap.

Aku merasa berada di ruang hampa. Telingaku menangkap suara-suara.  Intensitasnya makin keras tapi aku tidak  mengerti suara apa itu.  Beberapa  detik aku membatin.

“Ada apa ini? Aku dimana? Kok nggak enak rasanya.”

Ketika mataku terbuka, aku melihat wajah-wajah tertutup masker. Dan teriakan-teriakan  panik itu membuat  refleksku bekerja.  Aku berusaha bangkit! Untung saja tangan dokter menahan tubuhku. Kalau sampai bangkit bisa gagal katerisasinya. Mataku terpejam lagi, rasanya ngantuk.

“Ibu ! Ibu! Bangun! Jangan tidur! “

“Ibu Juliana! Ibu Juliana!”

“Bangun Bu!”

Sebuah tangan menepuk-nepuk pipiku. Membantu kesadaranku pulih kembali.

“Namanya siapa, Bu?”

“Juliana Dewi” Jawabku lirih.

Serentak lima orang dalam ruangan itu berseru lega.

“Ini Vasovagal nih..” Ujar Dokter.

“Apa Dok? Gagal? Gagal apanya?” Tanyaku cemas.

“Bukan Bu, maksud saya vasovagal. Refleks vasovagal ini merupakan respon yang berefek pada jantung yang dapat mengakibatkan jantung menjadi lebih lambat dalam mempompa darah sehingga tekanan darah ikut turun dan aliran darah yang sampai ke otak akan berkurang. Hal tersebut akan mengakibatkan otak kekurangan oksigen dan pasien bisa mengalami pingsan dan juga kebingungan. Ibu tadi sempat tak sadar.”

“Bu, sempat hilang detak jantungnya beberapa detik.”

Alhamdulillah… Masya Allah…Betapa lemahnya aku dihadapanMu.

“Bisa jadi hipoglikemik, cepat kasih minum teh manis! Dia sudah puasa sejak jam 6 pagi tadi. Kelamaan puasanya.” Ujar dokter.

Perawat kemudian memberiku minum teh manis hangat dengan pipet. Rasanya nikmat sekali. Aku semakin tenang.

“Bu, jantung kanan Ibu bagus. Sekarang kita periksa jantung kiri ya.” Ucap Bu Ade.

Robot diatas kepalaku bergerak. Tak berapa lama, Bu Ade berkata lagi.
“Ibu, semua bagus. Jantung kanan bagus, jantung kiri bagus, tidak ada sumbatan di pembuluh darah. Selamat ya Bu…”

Oh leganyaaa… Terimakasih Ya Allah.

“Jadi tidak perlu dipasang ring ya, Dokter?” Tanyaku.

Dokter Rifnaldi terbahak.

“Pasang aja Bu.  Ring berlian. Tuh!  Di jari tangan Ibu.” Candanya ceria.

“Hahaha… terimakasih Dokter. Terimakasih semuanya.”


Operasi selesai hanya beberapa menit saja, tapi rasanya lamaaa sekali. Aku kembali dibawa ke ruang observasi di Intesive Care Unit (ICU).


“Bu, istirahat ya. Kira-kira 4 jam. Nanti jam 18 kita lihat lagi, mudah-mudahan luka akibat arteri yang dibuka sudah tertutup. Tapi tolong usahakan  jangan banyak aktivitas dengan tangan kanan, jangan ditekuk, jangan ditekan, takut darahnya muncrat. Selamat ya Bu. Hasil pemeriksaan katerisasi jantung Ibu bagus semuanya. Tidak ada masalah. Jadi saya tidak akan memberi Ibu obat apapun ya. Ibu sehat.” Dokter Hendro Darmawan tersenyum.

Aku mengucapkan terimakasih, lalu dokter pergi meninggalkan ruang ICU.

Hasil Katerisasi Jantung

Terus terang saja, lama berada dalam ruang ICU sungguh tak nyaman.  Suasana suram, mencekam diwarnai bunyi nafas berat dua pasien yang dirawat di sana, erangan mereka yang silih berganti, bunyi “nit..nit..nit..” Alat-alat pemantau jantung dan paru-paru serta aura kesedihan. Aku menguatkan diriku dengan berkata

“Hai Iwed, apapun yang terjadi di tempat ini tidak akan mempengaruhi emosimu. Kau baik-baik saja.Kau baik-baik saja.” Alhamdulillah setelah itu rasanya tenang.

Aku tiba-tiba merasa kelaparan. Suster mengantarkan segelas teh manis panas dan beberapa potong roti. Langsung tandas kuhabiskan seperti orang yang berminggu-minggu tak makan.

Jam 18.00. Suster datang dan memeriksa tangan kananku. Darah masih mengalir, menetes diselimut. Melihat hal itu tiba-tiba pandanganku gelap, tubuhku lemas sekali.  Beberapa detik aku memejamkan mata, mencoba menetralisir rasa tak nyaman.

Tangan kananku pasca katerisasi jantung. Telapaknya tampak menghitam karena aliran darah tertahan balutan perban yang kencang untuk menahan arteri agar kembali merapat .

“Darahnya masih mengalir. Sabar ya Bu. Kita tunggu lagi.”

Suster kemudian menyuapi aku makan malam, rasanya nikmat sekali, padahal menunya sederhana saja, nasi+ sayur bayam dan telur.

Akang datang jam 19.00. Rasanya senang sekali melihat dia muncul dari balik gorden.  Tangannya yang hangat membelai-belai dahiku, menetramkan hati. Akang menelpon ayahnya, mengabarkan kondisiku.

Tak henti kuhadiahi dia dengan senyuman, lega sekali rasanya. Alhamdulillah semoga aku selalu sehat, supaya bisa menjaga, merawat suami dan anak-anakku. Menua bersama si Akang, dan menyaksikan anak-anakku tumbuh dewasa, menjadi generasi gemilang, sesuai harapan kami..

Jam 22.00  barulah luka ditanganku tak lagi berdarah.   Aku kemudian menyelesaikan administrasi, membayar sisa biaya tindakan medis yang total seluruhnya Rp.10.383.000,-. Biaya itu antara lain biaya tindakan katerisasi jantung sejumlah Rp. 9.500.000,- ditambah biaya dokter, ruang observasi dan lain-lain. 

 Aku tiba di rumah pukul  22.30, disambut Rafif yang sedang masak. Senangnya melihat senyum anak bungsuku yang kelaparan tengah malam. Hehehe… Alhamdulillah…

Sebuah paket bunga cantik diantar oleh kurir tepat jam 23.00 WIB. Dari sahabat-sahabatku tersayang, CikGu Okina Fitriani, Mbak Dini, Mbak Arie, Mbak Chita dan Mbak Mita. Jadi terharu... hiks..hiks... Terimakasih sahabat-sahabat kesayanganku..



Dibalik peristiwa ada hikmah yang besar. Semoga pengalaman menjalani katerisasi jantung ini tak terulang lagi. Syaratnya, aku harus konsisten menjaga pola hidup sehat,  makan makanan sehat dan olahraga. Insya Allah,  kulakukan  karena rasa syukurku atas nikmatNya, dan cintaku pada keluarga. Bismillah…



14 komentar:

winny widyawati mengatakan...

Alhamdulillah. Selamat ya mb Iwed semoga sehat terus, bisa berbakti kpd Allah di dlm keluarga dan utk orang banyak aamiin

Juliana Dewi K mengatakan...

@winny widyawati : Aamiin.. terimakasih doanya Mbak Winny sayang

mutia ohorella mengatakan...

Alhamdulillah... Saat yang menegangkan itu sdh lewat. Saya bacanya deg degan lho,Mbak. Semoga mbak selalu sehat dan Allah kabulkan niat dan cita citanya. Amiin ya Rabb...

kornelius ginting mengatakan...

Syukurlah katerisasinya berjalan lancar.

Tapi kenapa bisa timbul penyumbatan ya mba sehingga perlu dilakukan katerisasi.

Untungnya rutin melakukan medical check up.

Sehingga terdeksi lebih awal.

Semoga kedepan tidak lagi ada keluhan mengenai kesehatannya.

chiho yuki mengatakan...

Sampai banyak yang aku skip bacanya...
Ngeri...hahaha keluarga juga blm pernah ada yg ngalami itu.

Syukurlah berjalan lancar ya :)

Juliana Dewi K mengatakan...

@mutia ohorella : Aamiin.. Terimakasih Mbak Oti sayang

Juliana Dewi K mengatakan...

@kornelius ginting : Sepertinya alat yang dipakai waktu medical check up salah mendeteksi :-(

Juliana Dewi K mengatakan...

@chiho yuki : Terimakasih sudah baca ;-)

Astrid Prasetya mengatakan...

Alhamdulillah ya Mba Iwed, semua baik-baik saja.. mudah-mudahan terkabul juga doanya, menua dengan sehat bersama Akang... aamiinn

Sekenhom mengatakan...

nafas seperti ketahan sejak operasi dimulai. subhanallah, kesehatan bener2 berharga mba. baca ini saya jd tau istilah2 nya. jaga kesehatan selalu ya mba.

Fredy Kareejan mengatakan...

klo di rs tsb pasang ring brp rupiah mbak? Thx

Ehen Nakih mengatakan...

Aku nangis baca nya mba...aku juga mau kateterisasi...dr hasil tradmill kurang oksigen ke jantung....semoga hasil nya baik juga seperti mba.. Amin

heru soehardjan mengatakan...

Alhamdulillah hasilnya bagus.. tulisan yg bagus, informatif yg sangat detail. Tks bu

Juliana Dewi K mengatakan...

@Fredy Kareejan : Coba dilihat lagi di postingan saya. Di salah satu fotonya ada foto tabel biaya pemasangan ring di RS BMC