Rabu, 23 Desember 2015

Ulukuteuk Leunca Buat Mami


“Mami ingin ulukuteuk leunca. Nanti titipkan sama Lia dan  Tian ya. Jangan lupa. “ Begitu pesan Linda adikku sebelum dia menutup  telepon di ujung sana.

Mami dan Alm. Papiku

Aku langsung tersengat panik. Waktu cuma tersisa sedikit sebelum Lia, adik bungsuku, dan suaminya, Tian, berangkat ke bandara. Lia dan Tian menghabiskan waktu beberapa hari  di Bogor untuk jalan-jalan. Mereka menginap di rumahku. Sekarang mereka berdua sedang mengemas barang-barang  bersiap pulang ke Palembang.


Aku berlari seperti dikejar setan mengambil kunci mobil dan melesat ke tukang sayur di luar cluster. Hatiku berdoa semoga saja bahan-bahan untuk masak ulukuteuk leunca masih lengkap tersedia.

“Cepat, Mang. Buru-buru nih! “ Seruku panik pada si Mamang sayur yang dengan santainya menghitung belanjaanku.

Kusodorkan sejumlah uang.  Mamang sayur masih saja santai mengorek-ngorek dompetnya mencari uang kembalian. Aku bergegas lari ke mobil mencangking plastik belanjaanku.

“Teteh, ini kembaliannya!” Teriak si Mamang.

“Besok saja!” Teriakku sambil menginjak gas mobil melaju pulang.

Sampai rumah aku buru-buru memanggil si Mbak untuk membantu menyiapkan bumbu ulukutek leunca. Bawang merah, bawang putih, kencur, dan tak lupa sedikit saja cabe merah karena mami tak suka pedas. Sambil memasak pikiranku melayang pada sosok wanita mungil yang menanti bingkisan masakanku di Palembang sana.

Hubunganku dengan Mami tak selalu mulus. Ada masanya kami berkonflik, ada masa gencatan senjata, lalu kembali lagi aman damai terkendali. Setiap fase yang kulewati bersama Mami mengandung hikmah dan berkah tak terhingga.

Mami adalah ibu rumah tangga sejati. Setiap hari Mami ada di rumah.  Dia mendampingi Papi,  menjaga dan merawat 5 anak perempuannya.

Mami, Papi dan anak-anaknya. Saat adik  bungsuku belum lahir

Mami suka mode. Dia  modis dan pandai bergaya. Mami suka sekali mendandani kelima anaknya. Hanya saja aku dan mami tidak satu selera dalam berpakaian. Sebelum ke luar rumah, Mami menilai penampilanku. Kalau dinilainya jelek, maka aku harus rela ganti baju sesuai arahannya. Kalau tidak, kupingku akan panas dihujani omelan pedasnya.Hahhaha...



Mami diantara 5 anaknya.

Mami senang membuat makanan enak. Ada saja kreasi masakannya. Daya tarik masakan Mami sering membuat rumahku menjadi ajang berkumpul orang-orang. Baik itu teman-temanku, teman adik-adik, ataupun teman-teman Papi.

Mami murah hati. Sejak kecil aku  melihat Mami gemar sedekah, mudah tersentuh hati melihat orang-orang yang kurang beruntung. Bahkan di saat tak punya uang, Mami masih berusaha memberi apa yang dimilikinya untuk membantu orang.

Sejak dulu aku menyadari, Mami selalu berusaha memberi yang terbaik untukku. Kadang aku merasa diistimewakan dibanding adik-adikku, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.

“Sstt, ada hati dan ampela ayam. Makanlah.” Bisik Mami saat dia menghidangkan ayam goreng di atas meja.
Hati dan ampela ayam khusus disisihkan Mami untuk anak sulungnya, aku.

Dengan usaha yang tak mudah, Mami pernah memindahkan aku dari sebuah sekolah dasar negeri ke sekolah dasar terbaik di kota Bandar Lampung. Sekolah itu semacam sekolah unggulan.

Saat itu aku naik ke kelas 4. Mulanya aku tak mengerti alasan Mami memindahkan sekolahku. Kukira hanya untuk bergaya-gaya demi gengsi. Sekolah unggulan itu dipenuhi anak-anak orang kaya  berpenampilan keren, diantar jemput mobil, berprilaku sopan bermartabat.

Setelah menjalani pendidikan di sana aku baru mengerti. Kualitas guru-guru  sekolah ini memang istimewa. Cara mengajar, penegakan disiplin dan suasana belajar  mendukung aku menyerap pelajaran dengan jauh lebih baik. Aku masuk dalam 10 besar murid dengan nilai terbaik dalam satu angkatan, yang terdiri dari 237 siswa,  tepatnya di urutan 7. Sayang sekali hanya sampai kelas 5 aku sekolah di Bandar Lampung, karena kenaikan kelas 6 kami sekeluarga pindah ke Palembang mengikuti Papi yang pindah tugas.

Aku memulai lagi menyesuaikan diri dengan sekolah di Palembang, meski perbandingannya ibarat langit dan bumi. Pola belajar dan pengetahuan yang kudapat dari sekolah unggulan di Bandar Lampung sangat berguna. Aku segera melesat mengalahkan jawara-jawara di sekolah baru, lulus dengan nilai NEM tertinggi. Sementara itu bakatku  di bidang seni pun berkembang melalui kegiatan nyanyi, tari, dan bermusik. Mami dan Papi sangat senang melihat prestasiku.

Demikian juga saat SMP, aku kembali menjadi juara umum dengan nilai tertinggi. Lalu masuk SMA negeri di kelas unggulan. Prestasi belajar dan bidang seni pun  mengukuhkan aku menjadi anak kebanggaan Mami dan Papi.

Aku menyadari, begitu banyak harapan indah yang dititipkan Mami di pundakku. Dalam bayangannya, Mami mengharapkan aku menjadi wanita karier, pandai di bidang akademis sekaligus berprestasi di bidang seni.

Aku sudah bisa mengumpulkan uang dari hasil menyanyi dan menari kala menjalani kuliah di  fakultas Teknik  sebuah Universitas Negeri. Lalu  kesadaran menyergapku,  aku tak mampu melawan fitrah untuk patuh pada perintahNya. Aku memutuskan mengenakan hijab, tahun 1992.

Selembar kain sederhana  penutup kepala telah merubah banyak hal. Selembar kain itu membuat aku meninggalkan kegiatan di bidang seni, sekaligus menutup pundi-pundi penghasilanku dari kegiatan menyanyi dan menari. Kain sederhana itu    membuat score penampilanku di mata Mami tersungkur tajam. Dari anak gadis   modis kebanggaannya berubah menjadi gadis berpenampilan kampungan. Mami kecewa. Sangat kecewa.

Aku mengerti kekhawatiran Mami. Dia takut aku tak dapat pekerjaan yang layak, tak dapat rezeki yang banyak,  tak dapat jodoh yang  baik sesuai harapannya, oleh sebab penampilan kampunganku itu.

Lalu dimulailah konflik terbesarku dengan Mami. Aku hanya bisa terdiam dengan perasaan hancur melihat Mami  menangis memintaku membuka hijab. Sungguh aku tak bermaksud mengecewakan Mami. Aku sangat merindukan senyum bangga di wajahnya seperti senyumnya kala aku memperlihatkan raport dengan nilai cemerlang.

Enam bulan Mami tak menegurku. Cuma doa yang kubisikkan untuk Mami setiap kali memandang air mata yang jatuh di pipinya. Doa berisi harapan bahwa konflik ini akan berujung kebahagiaan untuk  Mami.

Waktu berlalu. Doaku terjawab.  Satu persatu kekhawatiran Mami tak terbukti. Kuliahku selesai dengan baik. Selembar hijab ternyata tak menghalangiku memperoleh pekerjaan di sebuah perusahaan asing. Rezekiku mengalir deras,  disusul  pernikahanku dengan jodoh yang direstui Mami. Hubunganku dengan Mami kembali manis.

Gelombang kembali menggoyang ketika si Akang, suamiku,  memintaku berhenti bekerja. Aku tak kuasa menolak atas nama hirarki kekuasaan seorang suami yang demikian  tinggi terhadap istrinya.  Dalam Islam, istri harus patuh pada suami selama perintahnya tak bertentangan dengan syariah.

Aku berhenti bekerja. Sekali lagi aku  membuat Mami kecewa  dengan mengubur harapannya melihat aku menjadi wanita karier yang sukses.

“Mami berharap kamu bisa membantu membiayai adik-adik. Suatu hari nanti, Mami ingin naik haji. Kalau mengharapkan naik haji dari gaji Papi yang pegawai negeri , atau dari uang pensiunan Papi,  tak mungkin terjadi.” Ucapan Mami meninggalkan getir di hatiku.

Maafkan anak sulungmu telah  gagal jadi wanita karier  yang sukses, Mamiku...

Allah Maha Kaya.  KepadaNyalah kuserahkan semua harapan untuk kebahagiaan Mami dan Papi.

Allah merancang  skenario kehidupan, lengkap dengan alur cerita yang indah. Tak sia-sia aku mendedikasikan diri menjadi ibu rumah tangga, mendukung penuh karier si Akang. Pria belahan jiwaku pun  mengerti akan kegundahan dan kegetiran menyangkut harapan Mami.

Sejak aku berhenti bekerja, Akang mengambil alih tugas membiayai adikku kuliah. Pintu rezeki kian terbuka, hingga tahun 2006 kami bisa mempersembahkan hadiah termanis untuk Mami dan Papi,  membiayai mereka menunaikan ibadah haji.

Sejak itu hubunganku dengan Mami selalu manis. Aku mensyukuri setiap alur kehidupan yang kulalui. Aku pun tahu Mami telah melihat  hikmah dari berbagai peristiwa dalam hidup kami.  Jarak yang kini membentang antara Bogor dan Palembang membuat aku kangen Mami, berikut  hal-hal unik yang melekat pada dirinya. Aku kangen masakannya, aku kangen omelannya, komentar bawelnya dan  cerita-cerita kesehariannya.

Aroma sedap ulukuteuk leunca menguar dari kuali di hadapanku. Oncom, leunca, cabe hijau, genjer, daun kemangi, berbaur dengan wangi kencur dan bawang. Masakan ini kuolah dengan penuh cinta, buat wanita istimewa yang di telapak kakinya terdapat surga.

Ulukutek Leunca

Mamiku.  Semua kebaikan yang terjadi dalam hidupku tak lepas dari doa, upaya dan bimbingannya. Semoga Mami selalu sehat, meski Papi sudah mendahului menghadapNya di tahun 2011.


Aku dan Mami

Harapanku, di sisa hidupnya, Mami sehat, diliputi kebahagiaan dan keberkahan.  Semoga Allah mengabulkan pintaku. Aamiin...

10 komentar:

Leyla Hana Menulis mengatakan...

Subhanallah.. Si akangnya super sekali mau membiayai kuliah adik2 mak Iwed. Barokallah mak, mami pasti senang sekarang.

Juliana Dewi mengatakan...

Alhamdulillah Mbak @Leyla Hana Menulis. Semua berjalan sesuai skenario Allah.

Anggarani Ahliah Citra mengatakan...

Mami kereeen... gaya dan menginspirasi. Iya ya kadang hubungan ibu dan anak tuh, duh warna warni pokoknya

Nensinur. Sastra. mengatakan...

Keren tulisannya ya teteh. ulukuteuknya sampai kecium ke sini. :)

Vhoy Syazwana mengatakan...

Inspiratif Mak cerita hidupnya.
Btw, sy baru tau nama masakan itu. Kayaknya enak ya. Di tempat sy ga ada oncom hickz

Juliana Dewi mengatakan...

@Anggarani Alhliah Citra : hehhe... Mami pasti senyum-senyum kalo baca komentar Mbak Anggarani :-)

Juliana Dewi mengatakan...

@Nensinur.Sastra : ulukuteuk memang maknyoss

Juliana Dewi mengatakan...

@Vhoy Syazwana : wah.. Gak da di tempatnya ya, Mbak. Kalo main ke Bogor, jangan lupa cicip ulukuteuk leunca ya. Cocok dimakan dengan nasi panas, ikan asin, dan sambel

Enni kurniasih mengatakan...

Resepnya nggak sekalian ditulis, mbak..Tanggung lihat photonya doank..:D

Salam buat mami-nya..:)

Juliana Dewi mengatakan...

Eni kurniasih : wah.. Iya ya.. Nanti deh aku buat postingan resep ulukutek leunca. Hehe