Sabtu, 16 Agustus 2014

Mak Erot dan Pantai Sawarna

Kegiatan menyenangkan yang menjadi hobi aku dan si Akang, suamiku, adalah touring dengan motor ke tempat-tempat yang indah. Kadang kami melakukannya bersama rombongan teman-teman, tapi lebih sering kegiatan ini kami lakukan berdua saja.

Bulan Mei 2013, sepulang dari touring ke Kuningan Jawa Barat, kami istirahat seharian di rumah. Sorenya kami packing lagi, menyiapkan semua kebutuhan anak-anak selama ditinggal touring,  dan besok paginya  kembali meluncur menggilas  aspal jalanan menuju Pantai Sawarna.



Untuk touring kali ini, kami memilih menggunakan  motor SYM, Joymax  dengan kapasitas mesin 250 cc.  Motor ini nyaman, dengan backrest atau  sandaran yang empuk buat boncenger seperti aku. Jok-nya yang lembut mampu menopang bokong dengan nyaman senyaman duduk di mobil.  Terdapat bagasi di bawah jok motor yang lumayan luas, cukuplah untuk menampung barang-barang bawaan kami untuk touring selama 2 hari.  Riding position-nya nyaman, dan akselerasi lumayan bagus. Begitulah pendapat si Akang tentang motor ini.

Pantai Sawarna terletak di kecamatan Bayah, kabupaten Lebak, Propinsi Banten.  Dengan modal petunjuk GPS, kami menelusuri jalan dari Bogor melewati Cicurug Sukabumi- Parung Kuda- Cikidang- Pelabuhan Ratu- Cisolok hingga Sawarna.

Senang sekali  melewati jalan-jalan di wilayah Jawa Barat karena  pemandangan  hijau dan cantik sepanjang jalan yang kami lalui.

Meskipun jalur yang dilalui motor tak selalu mulus, tapi tetap  nyaman. Tiba di wilayah Pelabuhan Ratu, pemandangan berganti menjadi pantai-pantai yang cantik.

Ada pengalaman unik  dan konyol yang kami alami saat melintasi Jalan Raya Cisolok- Pelabuhan Ratu.  Di satu tempat,  terlihat bangku-bangku kayu di pinggir jalan di mana beberapa lelaki duduk -duduk, sementara motor-motor mereka di parkir disisi jalan. Tampaknya mereka tukang ojeg yang menanti pelanggan. Sebuah papan bertuliskan " Mak Erot" terpampang di batang pohon yang menaungi bangku-bangku itu.

Saat kami melintas, para lelaki itu kontan berdiri memberi isyarat menunjuk-nunjuk menawarkan jasa mereka. Aku heran. Apaan sih? Kami kan sudah bawa kendaraan, buat apa lagi  menawarkan ojeg. Begitu pikirku.

Sambil berlalu, aku berusaha mengingat-ingat tentang Mak Erot. Kalau tidak salah aku pernah membaca berita tentangnya. Menurut berita yang kubaca,  dia adalah wanita tua yang memiliki keahlian memperbesar (maaf) perkakas  vital pria dengan obat-obatan herbal dan mantra.  Apa maksud orang-orang tadi ya?

Kami terus melaju di atas motor. Tak lama kemudian   seorang laki-laki berbaju kaus putih  dengan motor bebek berusaha menyusul.

“Om, mau ke Mak Erot ya? Saya antar ya, Om. Ikuti saya ya.” Ujarnya sambil berusaha mensejajari  motor bebeknya dengan motor kami.

“Oh, tidak. Kami tidak ke Mak Erot!” Ujar si Akang.

Si Kaus putih pun berlalu.

Kami kontan tergelak-gelak. Wah,  rupanya tukang-tukang ojeg tadi menawarkan diri sebagai penunjuk jalan menuju tempat praktek Mak Erot. 

“Tin! Tin!”  Klakson motor menyalak di belakang kami. Seorang lelaki berbaju hijau pupus berusaha mendekat.

“Mas, ayok saya antar ke Mak Erot. Lewat sini, Mas. Ikuti ya!” Ujarnya.

Apa-apaan sih ? Kok langsung menuduh kami mau ke Mak Erot. Ampun!

“Tidak! Tidak !” Seru Akang.

Cuzzz! Akang langsung tancap gas meninggalkan si Baju Hijau yang kecewa.

“Kasihan deh, masak Akang dikira mau berobat ke Mak Erot. Penghinaan itu. Hahaha!” Godaku.

Si Akang  menggerutu kesal. Perjalanan terus berlanjut.

“Wow...! “ Teriakku sambil menunjuk pantai cantik di sisi kiri jalan.

Akang memperlambat laju motornya, kemudian berhenti di tepi jalan memberi kesempatan aku mengambil foto pemandangan pantai cantik itu.

Tapi, lagi-lagi  seseorang bermotor bebek kembali mendekati kami. Kali ini laki-laki berbaju coklat dengan senyum lebar di wajahnya.  

Saat menjajari kami dia berkata “ Mas, mau...”

Sebelum kali-laki itu  sempat bicara lebih jauh, sudah kusemprot duluan.

“Apa?! Mau menawari ke Mak Erot? Eh, dengar ya. Kami tidak berminat ke Mak Erot. Suamiku baik-baik saja, tak perlu ke Mak Erot. Bilang ya sama kawan-kawannya, jangan menawar-nawari lagi. Capek deh! Sudah dikejar-kejar 3 orang. Kami mau ke pantai Sawarna, tauk?! “Teriakku sengit.

Si baju coklat cengengesan merasa tak enak hati. Ciut juga nyalinya melihat aku mengganas bagaikan singa betina . Tanpa banyak bicara dia berbalik arah, terbirit-birit menginjak pedal gas dan melesat menjauhi kami.

“Nah, bagus! Pulang sana!” Teriakku.

Akang terpingkal-pingkal. Ketika tawanya reda dia menggodaku .” Jadi Neng yakin nih, Akang tak perlu ke Mak Erot?”

Sebagai jawaban, aku mendaratkan cubitan kecil di pinggangnya.

“ Ayo jalan!” Seruku.

Kami akhirnya menuju ke sebuah ruas jalan yang kondisi aspalnya mulai rusak.  Jalan agak menanjak dan aku menangkap keanehan pada alat  GPS. Alat itu sepertinya tidak meng-update petunjuk jalan.

Kami berhenti di sebuah pertigaan.  Akang kembali men-setting GPS. Benar saja, kami salah jalan. Akang memutar motor,  bermaksud berbalik arah memasuki jalan yang lebih kecil. Tapi sebuah lubang tak terlihat olehnya. Motor tiba-tiba oleng hampir rebah ke jalan. Secara refleks aku meloncat, terjatuh ke tepi jalan dengan tangan menahan berat tubuhku.  Aku bersyukur memakai sarung tangan hingga telapak tanganku terlindung dari  kerikil jalan. Aku langsung berdiri, sementara Akang memandangku cemas.

“ Luka nggak, Neng? “ Tanyanya.

“Enggak. Untung saja refleks Neng  bagus. Hehehe..” Aku tertawa lirih  berusaha menepis rasa cemas Akang.

Perjalanan berlanjut. Sepi sekali sepanjang jalan itu. Hanya sesekali ada motor yang lewat.

“ Lapar ya, Neng? “ Tanya Akang.

“ Iya sih. Tapi mau makan dimana? “ Sahutku.

Sebuah warung kecil tampak di sisi kiri jalan seolah merupakan jawaban atas pertanyaanku. Warung itu berbentuk gubuk yang disangga tiang-tiang kayu dan berdiri diatas tebing.
Akang memarkir motor. Kami pun masuk ke warung itu.

“ Jangan berharap bisa makan enak di sini ya, Neng.  Paling-paling menunya cuma ada mie instan.” Bisik Akang.

“ Iya. Neng mengerti kok. Yang penting kita istirahat dulu.”



Satu hal yang aku pelajari selama touring bersama Akang adalah sangat penting untuk bersikap fleksibel, pengertian, menerima kondisi yang ada sepanjang perjalanan. Tidak merepotkan, tidak manja, bawel atau banyak menuntut.  Seorang boncenger sekaligus partner dalam perjalanan touring harus mampu menjadi teman yang menyenangkan bagi sang rider. Aku selalu berusaha menjaga mood Akang tak terganggu oleh tingkahku.

Seperti saat ini misalnya, mana boleh aku menuntut harus istirahat di resto yang keren, yang makanannya enak. Mana ada tempat seperti itu di pelosok jalanan sepi begini.  Tak ubahnya resep dalam menjalani kehidupan, kunci dari nikmatnya melakukan touring adalah  “ being flexible and grateful for  everything “.

Semangkuk mie instan panas mengepul dan secangkir white coffee, dinikmati berdua  di sebuah gubuk sederhana  berlatar jurang hijau dengan  hembusan angin sepoi-sepoi. Tak ada kata yang pantas diucapkan  selain “ Alhamdulillah. ...”

Kami merasa segar kembali setelah beristirahat sebentar di gubuk itu. Aku menyempatkan berbincang-bincang dengan ibu pemilik warung, menanyakan jalan menuju pantai Sawarna.

“Jalannya jelek, Neng. Masih sekitar satu jam lagi dari sini.” Ujar si  ibu warung.

Apa yang dikatakan ibu tadi benar adanya. Jalan menuju pantai Sawarna bertabur batu-batu yang terkelupas dari aspal yang rusak. Kami bersyukur telah memilih motor yang tepat untuk touring kali ini. Seandainya memakai motor dengan kapasitas mesin lebih besar, misalnya 1500 cc dengan ukuran ban yang lebih lebar, sudah dapat dipastikan kami tak akan bisa melewati jalan ini.

Perjalanan menempuh jalan bertabur batu itu terasa lama, tapi akhirnya kami tiba di sebuah tempat yang menjadi jalan masuk menuju pantai Sawarna.

Tak kukira kami harus menghadapi jalur yang mendebarkan hati. Untuk mencapai pantai Sawarna, motor  harus melewati  jembatan gantung yang berdiri melintang di atas sungai berair keruh.

 Melintasi Jembatan Kalpanax

Konstruksi jembatan dengan kabel gantung vertikal terpasang pada kabel suspensi utama yang membentang membentuk kurva membuat jembatan  bergoyang-goyang bila dilewati.  

Titian  atau dek jembatan  terbuat dari kayu yang lebarnya hanya cukup dilalui satu motor saja. Sekali lagi kami bersyukur memakai motor Joymax. Seandainya memakai motor yang lebih besar, pasti tak akan muat melewati jembatan ini.

Akang dengan motornya menanti di pangkal jembatan. Pelan-pelan aku berjalan meniti dek kayu itu. Goyangan jembatan  membuat ngeri merayapi hatiku. Aku terus berjalan hingga mencapai ujung jembatan, lalu menarik nafas lega.

Masih dengan berdebar-debar aku menanti Akang di ujung jembatan. Perlahan Akang mengendarai motornya, berusaha tenang menjaga keseimbangan diterpa goyangan jembatan. Syukurlah, meski ngeri-ngeri sedap, motor bisa lewat dengan selamat. Fiuuh...

Mau tahu apa nama jembatan gantung itu? Namanya jembatan Kalpanax. Aku tergelak-gelak mendengar penjelasan tukang parkir di sana. Entah kenapa jembatan itu diberi nama  serupa  merk obat panu.

Akhirnya... kami tiba di tempat tujuan.

Akang memarkir motornya di dekat sebuah warung di tepi pantai.  Kami memasuki warung itu.
Seorang bapak  setengah baya tersenyum menyambut kami.  Dia mempersilahkan kami  duduk dan beristirahat di atas bale-bale.

“ Mau pesan makanan, Pak? “ Tanyanya. “ Ada ikan segar. Baru saja dapat dari nelayan . Kalau Bapak dan Ibu  mau bisa kami masakkan untuk makan siang. “

Kata-kata bapak itu seketika membuat kami terlonjak girang.

“ Mau! Ikannya bisa dibakar kan? “ tanyaku antusias.

“Bisa, Bu.  Ini silahkan dipilih, mau ikan yang mana.” Si Bapak menyodorkan sebuah wadah berisi ikan-ikan segar bermacam jenis.

Kami memilih  ikan yang besar-besar. Atas rekomendasi si Bapak, pilihan kami jatuh pada ikan serepet dan ikan selayang, karena menurutnya kedua jenis ikan itu yang paling lezat.

“ Tunggu ya, Bu. Kami siapkan dulu.” Si Bapak menyerahkan dua ikann besar itu kepada istrinya.
Aku dan Akang berbaring santai di bale-bale menikmati hembusan angin laut. Kami sempat tertidur sebentar ketika akhirnya si Bapak pelan-pelan membangunkan kami.

“ Makanannya sudah siap, Bu.” Ujarnya.

Ikan Selayang dan Ikan Serepet Bakar


Di atas meja sudah terhidang ikan serepet dan ikan selayang bakar, nasi panas, lalapan dan sambal.
Aku dan Akang makan dengan lahap. Duh, nikmatnya... Alhamdulillah. Benar apa yang dikatakan si Bapak. Dua jenis ikan itu sangat lezat rasanya. Daging ikan yang masih segar itu terasa gurih, kenyal tapi empuk dengan bumbu yang pas.  Tak menunggu lama, ikan-ikan lezat itu habis kami santap.

Waktu si Bapak menyebutkan harga yang harus dibayar, rasanya kami tak percaya. Dua ikan besar-besar berikut nasi, lalapan dan sambal yang nikmat tiada tara itu  hanya seharga Rp. 80.000,-. Kalau dibandingkan dengan makan di resto pinggir laut yang berada di kawasan Pelabuhan Ratu, harga yang kami bayar ini jauh lebih murah.  Di Pelabuhan Ratu dengan menu yang sama bisa-bisa kami harus membayar sejumlah  Rp. 150.000- Rp.200.000,-.

Kami lalu melaksanakan shalat  zuhur dan ashar  di jamak di musholla tak jauh dari warung makan. Musholla itu kecil, sehingga kami bergantian melaksanakan shalat.  Rasanya lega sekali setelah bersujud mensyukuri segala nikmatNya.

Hari beranjak sore. Kami menikmati pantai  Sawarna yang cantik. Seperti biasa aku yang narsis berat memaksa Akang tak henti-henti mengambil fotoku berlatar pantai yang indah.

Kawasan wisata pantai Sawarna berada di desa pesisir, laksana perhiasan cantik  yang  menghadap Samudera Hindia. Panjang pantai mencapai 65 km dihiasi batu-batu karang artistik. Pantai-pantai dalam kawasan Sawarna   terdiri dari pantai Pasir Putih, Laguna Pari, Karang Taraje dan Tanjung Layar. Selain wisata pantai, ada juga Goa Lalay atau Goa Kelelawar yang terbentuk dari retakan batu gamping, dimana di dalam  Goa ini terdapat sungai bawah tanah. Sayangnya kami tak punya cukup waktu untuk menjelajahi semua tempat itu.

Rasanya nyaman, duduk berdua di bawah rindangnya pohon besar sambil memandang lepas ke lautan. Pantai Sawarna  bersih dan sepi. Kami serasa berada di pantai milik sendiri.  Laut yang tengah surut menyisakan air laut bening terperangkap di antara karang. Ikan-ikan kecil tampak jelas berenang-renang di cerukan air  bening itu.

Nun jauh disana, pasir putih tampak mengkilap memantulkan cahaya matahari. Vegetasi hijau alami tumbuh  meliuk-liuk menyusuri pinggang pantai.




Betah rasanya berlama-lama memandangi panorama pantai Sawarna. Rasanya ingin tetap duduk di sana menanti matahari tenggelam. Sayang sekali, hari mulai mendung,  kami harus segera pergi mencari penginapan.

Ada banyak penginapan sederhana di sekitar pantai. Tak ada aliran listrik di sana. Listrik hanya dinyalakan saat malam dengan tenaga genset.  Kami melihat-lihat  kamar di beberapa penginapan. Kondisinya sederhana, tanpa ranjang. Kasur diletakkan di lantai, tanpa AC, hanya ada kipas angin.

Ada yang agak lumayan kondisi kamarnya, tapi Akang memutuskan tak jadi menyewa kamar itu. Penginapan itu penuh anak-anak  ABG yang berisik, tertawa-tawa dan bermain gitar.

“Mana bisa istirahat dengan nyaman kalau begini, Neng. Akang yakin, nanti malam anak-anak muda ini akan semakin berisik, nyanyi-nyanyi sampai pagi.” Bisik Akang.

Aku nyengir. Kami akhirnya memutuskan tidak bermalam di kawasan pantai Sawarna. Kami harus cepat-cepat kembali ke arah Pelabuhan Ratu karena di sana banyak hotel yang lebih layak kondisinya.

“Kita sudah capek seharian naik motor. Sudah sewajarnya kita mencari tempat istirahat yang nyaman, supaya tubuh kembali segar untuk perjalanan pulang besok.“ Ujar Akang .

Hari beranjak sore ketika kami  meninggalkan kawasan pantai Sawarna. Meskipun rasanya belum puas,  awan mendung yang menggulung dari arah samudra Hindia  memaksa kami segera pergi. Suatu hari nanti rasanya ingin kembali ke kawasan pantai ini untuk menuntaskan rasa penasaranku. Sepertinya asyik, menjelajah Goa  Lalay yang  eksotis itu.  Semoga ada kesempatan...










14 komentar:

Lina W. Sasmita mengatakan...

Eh kabarnya sekarang Mak Erot sudah meninggal ya mbak?

Nunung yuni a mengatakan...

qiqiqiqi...lucu banget mak ceritanya dikira mau ke mak Erot.

Dewi Sutedja mengatakan...

@Lina W. Sasmita: uya betul beliau sudah meninggal sehingga pengobatan itu dilanjutkan oleh anaknya. Tapi merk dagang " Mak Erot" tetap dipertahankan. Sudah ngetop sih katanya...hehehe

Dewi Sutedja mengatakan...

@Nuning Yuni iya, Mak... bikin sebel. heheheh

Nurul Wachdiyyah mengatakan...

asik bangeeeeeetttt! jalan2 berdua, naik motor pula. kerasa anginnya, mau berhenti2 juga gak ribet ya.

Tanti Amelia mengatakan...

serasa membaca fiksi ini.. kocak mendebarkan romantis... ending yang keren.. udahlaaah.. kirim mbak ke majalah!!!

Dewi Sutedja mengatakan...

@Nurul Wachdiyyah iya asyiik...tiap ada pemandangan bagus berhenti dulu buat foto2. hehehe...

Dewi Sutedja mengatakan...

@Tanti Amelia: aiiih... senangnya kalo ada yg suka tulisanku. Terimakasih sudah mampir ke sini ya

Bang Gaper mengatakan...

Menariiikkkkk ...

Dewi Sutedja mengatakan...

@Bang Gaper: thank you...

dWi mengatakan...

Maaaaaaaak.....
lah kok Mak Erot hihihihihi :p

Dewi Sutedja mengatakan...

dWi :hihihi...Mak Erot ngetop banget ternyata...

Cicha mengatakan...

Wah cerita touringnya seru banget.

Aku baru ini tau ternyata berseni banget ya touring itu, makanya yang pada suka touring suka kangen touring sampe jauh-jauh banget jaraknya. Padahal kalau dipikir2, kan mereka mobil ada, kenapa sih milihnya naik motor bikin susah haha. Ternyata emang seru dan berseni sekali ya, pantes pada nagih :)

Riski Fitriasari mengatakan...

Ceritanya seru.. kata temen aku jangan menginap di pantai itu, katanya masih banyak yg suka nyuri gitu, semoga aja ga bener ya..