-->
Tak terasa, tanggal 28 Juni 2009 yang lalu aku dan suami sudah menikah selama 11 tahun. Cepat sekali waktu berlalu, begitu banyak hal yang patut disyukuri, nikmat rezeki, kesehatan, anak-anak yang lucu, dan kebersamaan yang indah, sungguh membahagiakan.
Kali ini, kami yang masih sibuk karena baru saja pindahan ke Bogor, tetap ingin melakukan sesuatu untuk membuat ulang tahun perkawinan ini meninggalkan kesan. Rencananya, ingin makan bersama anak-anak dan pembantu di tempat yang nyaman. Suami mengusulkan tempat makan di Cibubur yang katanya nyaman, di pinggir danau. “Idealnya makan disana siang hari atau sore, sehingga bisa kelihatan danaunya.” Begitu kata suamiku.
Rencana yang sudah tersusun, terpaksa ditunda beberapa kali karena lemari yang dipesan untuk rumah baru kami harus di cat ulang oleh sang tukang kayu. Kami terpaksa tidak bisa meninggalkan rumah karena si tukang mengecat ulang di rumah kami. Akhirnya, hanya tersisa waktu malam tanggal 28 Juni. Apa boleh buat, daripada tidak jadi, maka kami pergi juga.
Selesai shalat maghrib, kami berangkat. Aku, suamiku, Anin, Dea, Rafif, si mbak Susan, dan Bude Sum, semua ikut. Perjalanan dari Bogor ke Cibubur lewat tol yang biasanya cuma 30 menit, ternyata molor sampe 1,5 jam! Maceeet!! Entah apa yang terjadi, di jalan tol itu macetnya minta ampun. Antrian panjang kendaraan didepan kami berlanjut sampai akhirnya kami keluar di Cibubur. Jam sudah menunjukan pukul 20.30 ketika kami sampai di rumah makan yang dimaksud.
Taman Laut Seafood Restaurant. Begitulah nama tempatnya. Begitu kami tiba, langsung disambut oleh pelayan dan disiapkan tempat. Fiuh... untung gak datang lebih lambat, kalo terlambat sedikit saja terpaksa kami harus mengantri. Semua tempat sudah terisi, full! Seperti yang sudah dikatakan suamiku, danau buatan yang terletak di sebelah restaurant itu tak terlihat cantiknya karena malam sudah gelap.
Menanti Mr. Crab
Kami langsung memesan makanan. Kepiting saus padang, tumis kangkung, kepiting goreng dan sapo tahu. Si mbak berdua itu kebingungan menetukan pilihan menu, akhirnya setelah lama berfikir, mereka serempak bilang,” Gado-gado aja deh!” weleh...weleh... perjalanan macet 1,5 jam menahan lapar, ke restaurant seafood kok malah pesan gado-gado. Akhirnya, selain gado-gado mereka mau juga mencoba makan kepitingnya.
Ketiga anakku terlihat malas-malasan. Cuma Anin yang semangat makan kepiting yang dijulukinya Mr. Crab, kayak tokoh di film Sponge Bob Square-pants. Rafif yang mengantuk sama sekali tak mau makan. Dea juga hanya makan yogurt.
Masakan disini enak. Kepiting saus padang pas bumbunya. Sebenarnya yang hobi makan kepiting itu suamiku, aku tidak terlalu suka, karena repot mengupas kulit kepiting yang keras. Kata suamiku, justru di situ seninya, repot, belepotan, tapi enaaak.
Setelah acara makan selesai, kami kembali ke Bogor. Jalan di tol berbeda 180 derajat dari pada saat kami menuju Cibubur. Lengang dan lancaaar. Kami melihat antrian panjang kendaraan macet masih berlangsung di arah yang berlawanan. Dan benar saja, dari Cibubur sampai di Bogor cuma 30 menit saja!
Hendro Darsono adalah salah satu temanku dari SMA3 Palembang yang cerdas dan tekun. Meskipun cuma sempat 1 tahun sekelas dengan dia, di kelas 1, tapi aku mengenalnya sebagai anak yang baik, pendiam, cerdas dan berprestasi. Tidak banyak yang aku ketahui tentang dia, karena dia sangat tertutup. Ada beberapa teman wanita yang menaruh hati pada Hendro, tapi kelihatannya Hendro tak menanggapi. Tak pernah aku melihat letupan emosi dari Hendro, dia selalu tampak tenang dan kalem.
Waktu itu, dia tidak pernah ikut pelajaran praktek olahraga. Aku yang tidak tau kondisinya, sempat juga “iri” karena disaat kami semua harus lari keliling lapangan, berpanas-panas, capek dan berkeringat,dia cuma duduk saja di kelas.Dari teman-teman yang lain aku cuma tau bahwa dia kurang sehat, ada masalah dengan tulangnya sehingga dia tidak boleh melakukan aktivitas yang berat.
Pada saat kami duduk di kelas 3, aku dan Hendro di utus sekolah untuk ikut pemilihan murid teladan tingkat SMA. Jujur saja, saat itu aku merasa tak pantas, berbeda dengan Hendro yang menurutku memang cocok jadi murid teladan. Tapi karena desakan guruku waktu itu, akhirnya aku bersedia. Aku masih ngat bagaimana kami bersama-sama datang ke tempat test dan wawancara di sekolah lain. Dia kelihatan sehat dan siap, meskipun akhirnya kami berdua gagal menjadi siswa teladan, tapi aku tahu Hendro memperoleh nilai yang cukup tinggi sebagai kandidat siwa teladan.
Setelah tamat SMA, aku tahu Hendro diterima tanpa test di Universitas Sriwijaya, fakultas Ekonomi. Tapi kemudian dia mengundurkan diri, karena tubuhnya tak kuat bila harus menjalani masa perkuliahan yang melelahkan.
Bertahun-tahun kemudian, aku dapat kabar lagi bahwa dia ternyata sudah menyelesaikan pendidikan S1 Ekonomi lewat jalur Universitas Terbuka.
Akhir tahun 2007, aku dapat kabar bahwa Hendro sudah menerbitkan beberapa buku. Aku langsung tertarik untuk menghubungi Hendro, karena ingin menimba ilmu dari dia. Maka setelah dapat nomor ponselnya, aku coba hubungi dia.
Suara di seberang sana masih seperti dulu, tenang, hati-hati dan terkontrol. Dia masih Hendro yang dulu. Dia cerita bahwa meskipun dia hanya di rumah saja, tapi banyak sekali kegiatan yang dilakukannya. Dia mengajar anak-anak SMP, SMA, bahkan tamatan S1 dan S2 juga banyak yang belajar darinya. Hendro yang cerdas dan tekun, itulah dia. Selain itu dia bertanya tentang kegiatanku. Dengan malu-malu aku bilang bahwa aku ibu rumah tangga. “Wah, gak kreatif dong. Mau gak aku ajari bikin blog? Bisa buat cari dollar lho... cocok buat ibu rumah tangga sepertimu, gak perlu meninggalkan rumah, tapi bisa juga menghasilkan uang.” Begitu katanya. Lalu dia menjelaskan bagaimana blog bisa dipakai buat mengais dollar. “ Dewi kan sudah bisa bahasa Inggris, dan bisa menulis. Artinya sudah ada modalnya, kalo mau datang saja ke rumahku.”
Hari selanjutnya aku bertemu Prima Maya Sari, sahabatku di SMA. Ketika aku ceritakan tawaran Hendro itu, Prima langsung semangat, dia juga mengajak Indrawati, teman kami juga untuk ikut bergabung belajar bersama Hendro.
Di awal tahun 2008, Aku, Prima dan Indrawati rajin menyambangi rumah Hendro. Ada 10 kali pertemuan untuk belajar berbagai hal tentang internet dan terutama blog. Setiap petunjuknya aku ikuti sampai aku bisa membuat blog dan bahkan bisa juga mengikuti jejaknya mengais dollar, meskipun belum sebanyak yang dihasilkannya tapi aku sudah membuktikan bahwa hal ini bisa aku lakukan.
Aku sering juga berkomunikasi lewat telepon, e-mail dan sms, menanyakan berbagai hal. Dia juga sering mengirimiku tips-tips tentang blog dan menjaring job dan juga software yang mendukung blog.
Hingga suatu hari, setelah beberapa lama tidak ada kabarnya, dia mengirimi aku sms. “ I’m somewhere, waiting for a miracle..” begitu bunyi sms-nya. Aku langsung merasa tak enak, aku langsung mencoba menghubungi ponselnya, tapi tak ada jawaban. Berkali-kali tak diangkatnya. Akhirnya aku kesal juga. Aku kirimi dia sms bernada marah. Barulah dia jawab, bahwa dia dalam kesulitan besar. Tak lama kemudian, ponselku berdering, dari Hendro. “ Hallo, ...” lalu diam. Aku segera merasakan gelombang kesedihan yang dahsyat di seberang sana. Terbata-bata dia bercerita bahwa dia baru saja menjalani operasi besar yang menghabiskan tabungannya, dengan harapan setelah ini dia akan bisa berjalan lagi, tapi... hasilnya malah sangat menyakitkan dan dia saat ini lumpuh total, dari pinggang ke bawah, dia tak dapat merasakan sentuhan, dan tak dapat mengontrol buang air besar maupun kecil. Dunia bagaikan runtuh bagi Hendro.. Air mataku mengalir, tapi aku tak ingin dia tau aku menangis. Aku berusaha menguatkannya, memberikan harapan bahwa Tuhan bisa menyembuhkan semua penyakit. Aku ingatkan dia agar tak berhenti berusaha mencari jalan kesembuhan.
Keesokan harinya aku datangi dia di rumah sakit. Dia terbaring, pucat, sedih dan lesu. Tak banyak yan dibicarakannya, aku ajak ibunya keluar ruangan dan kami bertangis-tangisan. Ya Allah... betapa berat cobaan hidup Hendro Darsono.
Hari-hari berlalu, dukungan dan bantuan teman-teman mengalir. Ada yang memberikan dana ada juga yang memberikan obat alternatif dan supplemen kesehatan. Beberapa kali aku main ke rumahnya,emosinya up and down. Terkadang dia terlihat bersemangat dan ingin terus menjalani theraphy, tapi kadangkala dia terlihat lesu dan banyak diam.
Pada kesempatan aku dan suami berangkat menunaikan ibadah haji di akhir tahun 2008, aku berdoa buat kesembuhannya, di depan Ka’bah, juga di tempat-tempat lain di tanah suci. Aku mohon kesembuhan dan secercah kebahagiaan buat sahabatku Hendro.
Sehari menjelang kepindahanku ke Bogor, aku sempatkan mengunjungi dia, dan memberi sovenir untuk kenang-kenangan. Aku yang di temani Prima, dan seorang teman SD-ku bisa melihat dengan jelas betapa pucat dan lesunya sahabatku itu. Dia bilang sudah dua minggu tidak aktif mengurus blog-blognya. Lalu dia banyak diam. Aku dan Prima hanya ngobrol dengan ibunda Hendro yang menjelaskan bahwa Hendro demam lagi. Hanya sebentar aku bertemu dengannya, karena masih banyak hal lain yang harus aku urus untuk kepindahan ke Bogor. Itulah saat terakhir aku bertemu Hendro.
Pagi ini, 30 Juni 2009, ponselku berdering. Nama Hendro Darsono terlihat dilayar ponselku. Aku sempat senang, karena mengira dia yang menelepon, ternyata suara isak ibundanya yang mengabarkan Hendro Darsono sudah berpulang ke Rahmatullah. Tak dapat kutahan derai air mataku, sempat terbersit kenapa Tuhan tak mengabulkan doaku dan memberi kesembuhan bagi Hendro... Tapi aku tersadar bahwa Tuhan tau apa yang terbaik buat hambaNya. Selamat jalan, sahabatku. Semoga ilmu yang telah kau ajarkan pada aku dan murid-muridmu yang lain akan menjadi amal jariah dan pahala yang tak terputus buatmu. Semoga Allah Swt mengampuni dosamu dan memberimu tempat yang lapang di surga. Amiin....


| I Would Be a Good Spouse 70% of the Time |
| I'm caring, patient, giving, and romantic. I'm willing to work for a marriage. More than anything, I'm not about to let your ego ruin a relationship. I'm humble and unselfish. And that's the key to being a good spouse. Click here to know whether You Be a Good Wife or Husband |


Bicara tentang selera makan anak-anak kadang-kadang bikin pusing. Seharusnya mereka makan sesuai dengan tuntunan 4 sehat 5 sempurna, seperti nasi, sayur, lauk-pauk, buah-buahan dan susu. Tapi untuk menerapkan pola menu sehat itu tidak gampang, terutama untuk kedua gadis kecilku, Anin dan Dea. Mereka tidak suka makan sayur. Lain halnya dengan Rafif, yang suka semua jenis makanan, sehingga aku juga di buat pusing dengan selera makannya yang luar biasa.
Makanan kesukaan Anin dan Dea adalah mie ayam. Dea, yang setiap hari membawa makanan ke sekolah hampir setiap hari meminta bekal mie ayam. Aku sudah pernah mencoba membuat sendiri mie ayam untuk Dea, tapi rasanya tidak sukses, tidak selezat mie ayam favorite Dea dan Anin, yaitu Mie Ayam French yang salah satu outletnya ada di lantai dasar Palembang Trade Center.
Hari Minggu tanggal 3 Mei yang lalu, kembali anak-anakku mengajak makan mie ayam di French Bakery and Bakmi. Jadilah aku dan keluarga beserta satu orang keponakanku, Rifqi, menikmati mie ayam yang enak itu.
Rafif, yang sebelumnya sudah makan nasi, ternyata sanggup melahap habis satu porsi mie ayam dengan bakso. Sebenarnya aku khawatir dia bisa bertambah gemuk, tapi sulit sekali membatasi selera makannya. Anin, Dea dan Rifqipun sangat menikmati makanan favorite mereka itu.
Sebenarnya menu di French Bakery and Bakmi ini lumayan banyak, ada kue dan roti, pempek, tekwan , model, nasi goreng, dan menu oriental. Tapi menu andalannya adalah mie ayam yang sudah lumayan terkenal sejak dulu. Rasa dan bumbunya yang pas dimulut membuat mie ayam French menjadi menu kesukaan anak-anakku.







Welcome Back, My Laptop
Ah.. senangnya. Akhirnya Laptop kesayanganku yang tempo hari di rusak anak kesayanganku sudah selesai diperbaiki. Meskipun bayarnya mahal, hiks..hiks.., tapi rasanya semangat menulisku telah pulih kembali.
Tempo hari, rusaknya lumayan parah, keyboardnya sampai rontok-rontok dan tidak bisa menyala sama sekali. Aku sendiri heran, apa sebenarnya yang dilakukan Rafif pada laptopku ini, sampai rusaknya parah begitu
Selama sang laptop di perbaiki, aku sempat pakai laptop yang satu lagi, tapi herannya tak bisa membangkitkan gairah menulisku. Entah kenapa tak ada satupun ide menulis yang bisa kuwujudkan, padahal laptop pengganti itu lebih canggih.
Semoga hari-hari kedepan, aku jadi tambah semangat menulis di kedua blogku yang sempat terbengkalai selama ini.
Terimakasih buat suamiku tercinta, karena kebaikan hatinya, aku bisa kembali akrab dengan laptop kesayanganku.





