Jumat, 13 Januari 2017

Ketika Anak Mendadak Menyerah


Pagi itu, aku, si emak dasteran, sedang bersenandung riang di dapur, membolak-balik tempe mendoan di kuali berminyak panas mendesis-desis.

Tiba-tiba aku teringat Anin. Seharusnya dia sudah turun dari kamarnya di lantai dua untuk sarapan. Jam delapan pagi ini dia akan ikut try out di tempat bimbingan belajarnya. Khawatir Anin lupa, aku berlari meninggalkan kuali tempe mendoan, menuju kamarnya di lantai atas.

Kukuakkan pintu kamar hingga terlihat  anak gadis sulungku  sedang duduk di lantai. Di hadapannya berserakan kertas-kertas, buku, dan alat tulis. Sejak tadi malam kulihat dia menekuri tumpukan kertas dan buku-buku. Tapi pagi ini ada yang aneh.


“Anin, kok belum siap-siap berangkat, Nak? Try out-nya jam 8 kan? “ Tanyaku.

Anin menangkupkan kedua telapak tangan di wajahnya. Sedetik kemudian dengan suara tertahan dia menjawab.

“Enggak, Ma. Anin nggak mau ikutan try out. “ Lalu bulir-bulir air mata mulai mengalir di pipinya. Dua tangannya sibuk menghapus air mata, dadanya naik turun menahan gejolak rasa.

“Lho, kenapa, Nak? “ Aku bengong menatapnya.

“Anin nggak bisa. Anin nggak bisa ngerjain soal-soal ini. Sudah dari tadi malam belajar, tapi tetap nggak bisa. Anin nggak usah ikut try out.” Ujarnya sambil terisak-isak. Ditepisnya tumpukan kertas soal ujian hingga makin berantakan di  lantai .

“Kalau Anin nggak bisa mengerjakan soal-soal ini ya nggak apa-apa. Yang penting ikut saja dulu try out-nya.” Aku beringsut ke lantai, duduk di sampingnya.

“Nggak mau! Nanti Anin nggak masuk 10 besar lagi!” Nafas Anin naik turun, air matanya kian deras.

“Ya, nggak apa-apa nggak masuk 10 besar. “ Sahutku membujuk.

Anin menggelengkan kepala keras-keras. Tiba-tiba dia bangkit dan berlari ke kamar mandi. Ditutupnya daun pintu hingga berdebam, lalu  terdengar bunyi pintu dikunci.

Aku bingung harus bagaimana. Apakah ada yang salah dengan tindakanku, hingga Anin bersikap seperti ini? Sementara itu bayangan tempe yang sedang digoreng muncul di kepalaku.

 “Wah, jangan-jangan gosong nih..”

Aku lari ke dapur.  Untung tempenya tidak gosong. Aku menitipkan tempe itu pada Dea, anak gadis nomor dua yang sedang menikmati sarapan di meja makan.

“Dea, Mama minta tolong jagain tempe goreng ini ya.  Kalau sudah agak garing, tolong diangkat dan matikan apinya. Mama mau bicara sama Teteh Anin. “

Dea mengangguk.

Pikiranku kembali sibuk mencari-cari solusi mengatasi sikap Anin. Sudah dua kali Anin menyodori pengumuman hasil try out di bimbingan belajarnya. Pertama kali dia menduduki ranking 8 . Kedua kalinya, dia juga menduduki rangking 8, tapi nilainya meningkat.

Seingatku, aku memujinya dengan bahasa non verbal. Kupasang wajah riang gembira, senyum paling lebar, mata mengerjap-ngerjap, dua jari jempol kujulurkan ke hadapannya.

“Duh, salah apa ya aku? Apa gara-gara ekspresi lebay itu, Anin jadi beranggapan dia harus masuk 10 besar tiap kali ikut try out. . " Batinku.

Aku naik ke lantai atas. Anin masih mengunci diri di kamar mandi. Perlahan terdengar isaknya. Aku berdiri di depan pintu kamar mandi, menimbang-nimbang kata-kata  paling tepat untuk diucapkan.

“Anin, siapa yang membuat aturan bahwa Anin harus masuk 10 besar tiap kali try out?” Aku bicara dengan nada lembut.

Tak terdengar jawabannya.
“Mama tidak mengharuskan Anin masuk 10 besar, lho. Jadi siapa yang menetapkan aturan harus masuk 10 besar, Nak?”

Masih saja Anin tak menjawab. Rencananya aku akan menerapkan teknik parental coaching untuk membantu Anin menemukan sendiri solusinya, tapi kalau Anin tak menjawab, bagaimana bisa? Aku bahkan tak bisa menggunakan ketajaman indera untuk melihat gestur, ekpresi wajah dan bahasa tubuh Anin, karena terhalang pintu kamar mandi.

“Oke. Seandainya yang membuat aturan itu Anin sendiri, maka Anin tentu bisa mengubah aturannya, kan? You are the master of your mind, Nak. Kalau Anin membuat aturan yang efeknya malah membuat Anin merasa terbebani, artinya ada yang salah.”

Aku merasa bicara pada daun pintu, diam membisu. Anin adalah alasan terbesarku untuk belajar ilmu parenting. Aku banyak menemui kesulitan dalam menjalin komunikasi yang baik  dengan anak sulung  ini. Sebelum menerapkan teknik-teknik Enlightening Parenting yang diajarkan Mbak Okina Fitriani, begitu banyak drama terjadi di rumah ini. Terbayang dulu, pola komunikasiku dengan Anin adalah teriak balas teriak. Aku dengan nafsu besarku, nafsu ingin dituruti, sementara Anin sangat reaktif dengan bentakanku.

Keadaan membaik setelah aku belajar menyelesaikan emosi dengan teknik-teknik yang diajarkan dalam training The Secret of Enlightening Parenting. Aku  menggunakan ketajaman indera untuk mengenali reaksi Anin terhadap tindakanku. Dari beberapa kejadian, aku mengamati bahwa Anin sangat terpengaruh pada vocal atau nada atau intonasi bicaraku. Dia juga sangat terpengaruh  dengan bahasa non verbal, yaitu gestur. Kalau aku bicara dengan nada tinggi dan ekpresi wajah rusuh, dia akan menyambut dengan reaksi yang sama, bahkan seringkali lebih heboh. Tapi ketika aku bicara dengan nada rendah, agak lambat, dengan penekanan-penekanan di kata-kata tertentu, ekspresi wajah penuh keyakinan, reaksi Anin jauh lebih baik. Dia lebih bisa menerima pendapatku.

Aku termangu, menatap pintu kamar mandi. Sunyi. Usahaku belum ada kemajuan. Prinsip fleksibel dalam bertindak harus diterapkan. Kalau tak bisa dengan parental coaching, aku harus ganti cara.

Sepertinya re-framing lebih cocok untuk menyelesaikan emosi Anin. Re-framing adalah mengganti makna yang dilekatkan pada sebuah peristiwa dengan makna yang lebih memberdayakan, atau makna yang membuat reaksi terhadap  peristiwa itu menjadi lebih baik.  

Anin memaknai try out sebagai ajang untuk adu kepintaran, adu kemampuan memperoleh nilai tertinggi. Maka ketika dia merasa tak bisa mengerjakan bentuk-bentuk soal yang baru, timbul rasa takut, cemas dan putus asa, bahwa dia akan gagal meraih peringkat tinggi. Rasa tak nyaman itulah yang membuat Anin enggan menjalani try out. Tapi makna baru apa yang harus kuletakkan pada peristiwa ini sehingga reaksi Anin menjadi lebih baik?  Aku tak punya data apa-apa.

“Anin, Mama lihat dari semalam Anin sudah belajar. Yakin saja Anin bisa, Nak.”Dengan nada lembut namun setengah putus asa aku berujar.

“Anin nggak bisa, Ma. Ini kan materinya belum diajarin!” Sahut Anin.

Ahaaa… akhirnya, aku melihat peluang untuk meletakkan makna baru.

“Oh, begitu. Tempat bimbingan belajar Anin itu  sudah punya program. Tidak mungkin mereka asal-asalan saja memberikan try out atau uji coba. Mereka sengaja memberi ujian dulu pada siswanya sebelum materi dijelaskan. Mereka ingin melihat kemampuan siswa sebelum diajari. Nah, nanti setelah para guru bimbingan belajar menjelaskan trik-trik mengerjakan soal-soal itu, mereka akan memberikan try out lagi. Hasil try out hari ini akan menjadi patokan awal, dan hasil try out selanjutnya akan menunjukkan sejauh mana pencapaian siswa. Kalau Anin nggak ikut sekarang, bagaimana mereka bisa mengukur kemajuan Anin? Try out itu untuk latihan, Nak.Untuk mengukur kemajuan Anin, bukan ajang adu kepintaran” Sahutku penuh keyakinan.

Sejenak masih tak ada suara. Aku berdiri dengan sabar, menghadap pintu kamar mandi.

“Ya oke-lah, Anin ikut try out.” Suara Anin yang samar itu membuat hatiku girang. Alhamdulillah..

“Sebelum  berangkat, sarapan dulu ya, sayang. Mama tunggu di ruang makan ya. Mama yang akan antar Anin. “

Anin akhirnya turun. Matanya masih sembab, tapi wajahnya sudah lebih cerah.

Di mobil, aku berniat mengajaknya bicara lagi. Installing belief yang memberdayakan adalah hal  penting yang harus kulakukan pada Anin. Kuatur nada suara dan intonasiku sebaik mungkin, agar nyaman didengar Anin. Dia mungkin tak bisa melihat jelas wajahku, karena aku tengah menyetir mobil. Tapi kuupayakan gestur gerak tangan, dan bahasa tubuh mendukung ucapanku.

“Anin, Mama senang lihat Anin sudah belajar. Mari kita luruskan niat. Anin ikut bimbingan belajar kan untuk menguasai materi pelajaran dan trik-trik mengerjakan soal untuk ujian masuk kuliah, bukan untuk masuk 10 besar tiap kali try out. Kalau  pun Anin sudah belajar dengan sungguh-sungguh, sudah berdoa, sudah rajin ikut bimbingan belajar, lalu nanti ketika ikut ujian masuk kuliah ternyata Anin tidak lulus, Mama dan Bapak tidak akan marah.” Intonasi bicaraku sengaja aku kuatkan pada anak kalimat yang terakhir. Lalu aku lanjut bicara.

“Kuliah di universitas negri seperti  keinginan Anin boleh saja menjadi target, tapi tujuan utama yang harus Anin niatkan adalah tempat kuliah terbaik yang ditentukan oleh Allah  Yang Maha Besar, sayang. Allah lah yang tahu  tempat mana yang terbaik nantinya untuk Anin. Dia sudah punya rencana. Bisa saja rencana Allah sejalan dengan rencana Anin, tapi bila tidak sejalan, yakinlah bahwa Dia selalu memilihkan yang paling baik buat Anin. Jangan takut tidak lulus kalau Anin sudah maksimal berupaya. Nah, karena otak membutuhkan kondisi emosi yang optimal untuk bisa bekerja menerima pelajaran dengan baik, maka lakukanlah belajar dengan riang, senang, tanpa beban.”

“Satu hal lagi, Nak. Kata yang kita ucapkan pada diri sendiri sangat powerful. Kalau Anin bilang pada diri sendiri; ‘Aduh, capek banget, harus belajar terus, les terus, banyak tugas, bla..bla..bla..’ maka efeknya tubuh dan perasaan Anin akan lemas tidak bersemangat dan timbul emosi kesal, tidak memberdayakan. Tapi coba Anin rasakan sendiri, kalau Anin katakan seperti ini.”

“Ya Allah, lelah ini adalah upayaku memantaskan diri  mendapatkan tempat belajar terbaik menurutMu. Maka kuatkanlah aku.”

Anin mengangguk-angguk. Dalam hati aku berharap kata-kataku tersimpan dalam benaknya.

Sesaat sebelum Anin turun dari mobil, aku membelai tangannya.

“Nak, lain kali, kalau Anin merasakan emosi tidak nyaman, cepat-cepatlah beri tahu Mama. Kita selesaikan emosinya sama-sama. Mama bantu re-framing ya.”

Anin mengangguk sambil terseyum. Dia turun, melangkah ringan masuk ke ruang bimbingan belajar.

9 komentar:

Rach Alida Bahaweres mengatakan...

Mba, pas anak remaja kadang butuh waktu untuk menyendiri dan kadang tak ingin diganggu. Padahal ya orangtua kan pasti ingin membantu anaknya :)

novanovili mengatakan...

keren.... banyak belajar dari mba...
bagaimana membuat anak tenang.. memberi pengertian dan pemahaman...

tanpa crewet....bla..bla... kamu harus ikut..nanti klo nggak..kamu gak lulus...nyinyir gitu...

tapi mba..sabar..dan bijak...

Inna Riana mengatakan...

harus belajar sabar sama mba iwed. siap2 ngadepin anaku yg mau abege nanti

Amanda ratih pratiwi mengatakan...

Beruntung Anin punya mama papa seperti mbak, dulu orangtuaku nggak kayak gini, mereka menasehati ada tapinya, itu yang aku sebalkan!
gapapa nilai kamu jelek tapi alangkah lbh baik kalau nilai kamu bagus, itu nasehat bukan namanya -_-'

Lusi mengatakan...

Masya Allah jadi motivated lagi saya karena sekarang sedang mendampingi si bungsu di masa2 kritis masuk PT. Beda dg si kakak yg mulus tanpa kendala, si bungsu ini banyak liku2nya. Saya takut dia merasa kalah dg si kakak sebelum berjuang. Semoga bisa mendapat celah utk masuk ke hatinya utk terus menjadi penyangga semangatnya.

Akarui Cha mengatakan...

Keren. Mudah mudahan saat anakku mulai remaja, aku bisa begini.

Melina Sekarsari mengatakan...

Daaan, aku merasa sangat beruntung membaca tulisan ini. Nggak tahu kenapa, kok tiba-tiba jari bergerak klik blog-nya Mbak Juliana ini. Salam kenal ya, Mbak. Tentunya Allah yang menggerakkan, ya. Anak-anakku masih kecil, usia 9 dan 7 tahun. Belum menemukan masa mereka lelah belajar seperti Teh Anin. Jadi penasaran juga nih sama Enlightening Parenting-nya Mbak Oki.

Demia KamiL mengatakan...

Dulu sempet ngerasa kaya gini juga, pas masih jaman-jamanya kerja dari pagi sampe sore, di lanjut kuliah sampe malem, kaya ada rasa jenuh karena setiap hari mengulang rutinitas, tapi alhamdulillahnya disaat kaya gitu ga pernah sakit. Terima kasih ilmunya Mbak, salam kenal, jadi bekal aku kalo nanti punya anak nih hehehe,

Irfa Hudaya mengatakan...

Terima kasih sudah berbagi ilmu mb, saya juga lagi mendampingi dua anak yang sudah remaja. Salam kenal.