Selasa, 10 Oktober 2017

Aksi Jando Beraes


Kenanganku akan masa lalu saat masih remaja dengan empat orang adik perempuan tak lepas dari kenangan tentang  almarhum Papi dan si Jando Beraes.

Siapakah Jando Beraes itu? Tak lain itulah julukan yang kami berikan pada sebuah mobil sedan tua bobrok keluaran tahun 1970 . Mobil itu milik Papiku.  Jando beraes dalam bahasa Palembang artinya janda berdandan. Mobil tua ini diibaratkan  seorang janda tua yang berusaha keras berdandan, namun seberapa keras usaha untuk melawan usia tetap saja harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah digerogoti penyakit tua. Sering mogok mesinnya, pintu kadang-kadang sulit dibuka, engkol untuk membuka kaca jendela macet, karat yang mulai menghiasi bagian body di sana-sini,dan lain-lain.

 Papi hanya tersenyum kalau kutanya kenapa tidak beli mobil yang lebih bagus. Pertanyaan retoris yang tak perlu dijawab. Tentu saja, karena aku sendiri sudah mengerti bahwa inilah mobil yang mampu dibeli Papiku, seorang pegawai negri jujur yang memegang teguh prinsip idealismenya,  dengan beban satu orang istri  dan 5 orang anak perempuan yang semuanya sekolah.

Hubungan  kami dengan si Jando Beraes ini pasang surut, sering kuibaratkan “ benci tapi terpaksa rindu”.  Yah... terpaksa rindu, karena inilah satu-satunya kendaraan yang kami miliki saat itu.

Waktu itu selepas shalat subuh kami sekeluarga berangkat dari Palembang menuju rumah nenek di Lampung. Jalanan masih sepi. Papi yang duduk dibelakang kemudi serius menekuri jalan lintas Sumatera. Mami duduk di depan, sementara aku dan keempat adikku berdesakan  di bangku belakang. Hebat sekali, 5 orang anak perempuan bisa muat di bangku belakang sedan tua itu. Tak anehlah, karena kami dulu bertubuh kecil kurus.

Hari beranjak siang, aku dan adik-adikku terangguk-angguk di bangku belakang. Mata kami terpejam dibuai kantuk. Sesekali tubuh kami condong ke kiri atau ke kanan seirama tikungan yang dilewati.

Tiba-tiba aku terbangun. Jando beraes tak bergerak.

“ Waduh, mogok.” Ujar Papi sambil beranjak turun dari mobil lalu membuka kap mesin.

Aku ikut turun. Kami di tengah jalan. Di belakang kami pasar yang padat pengunjung. Jando Beraes yang ngambek di tengah jalan jelas mengganggu lau lintas.

Cepat-cepat aku bangunkan adik-adikku. Satu persatu mereka turun dengan wajah mengantuk. Kami pun bersiap mendorong mobil ke pinggir.

Beberapa pria yang berdiri di pinggir jalan terusik hatinya melihat 5  anak perempuan mendorong mobil bobrok.

“ Sudah, Dik. Duduk saja di sana. Biar kami yang dorong. “ Ujar salah seorang lelaki.

“ Terimakasih, Pak!” Ucapku, antara berterimakasih dan malu.

Kami berlima duduk berjejer dipinggir jalan.  Mami duduk agak jauh dari kami, sementara Papi mengambil air untuk mengisi radioator.

Apa yang terjadi pada Jando Beraes?

“ Mesinnya terlalu panas. Sepertinya radiator bocor. Kita harus menunggu sampai mesinnya dingin.” Kata Papi.

Olalaa... Jadi tak ada yang dapat kami lakukan selain menunggu hati si Jando Beraes kembali dingin. Ternyata dia gampang emosi . Terbukti dalam perjalanan mudik itu total 4 kali si Jando ngambek. Sehingga kami harus rela 4 kali duduk menunggui mesinnya dingin. Oh...kejaam!

Jando Beraes kadangkala tak memandang tempat dan waktu untuk ngambek. Dia berlaku semaunya saja. Pernah waktu itu dia mogok persis di pusat kota Palembang. Di depan mesjid Agung yang ramainya bukan kepalang.  Sambil mendorong mobil aku berdoa semoga saja tak ada teman-temanku yang melihat aksiku. Jando Beraes, teganya dikau!

Namun adakalanya Jando Beraes berbaik hati. Aku bahkan tak menyangka dia bisa begitu perkasa. Seperti  hari itu..

Sinar keemasan matahari pagi di bulan April 1997  menghamburkan kehangatan di penjuru bumi.   Dari balik deretan pohon karet, matahari mengintip malu-malu laksana gadis muda yang diam-diam menebar pesonanya.

Aku  duduk  pasrah di  jok Jando Beraes.  Di belakang kemudi, Papiku terlihat serius menyusuri jalan lintas Sumatera menuju arah Jambi. Sesekali setir mobil  dibelokkannya dengan gerakan zig-zag hingga    sedan tua itu  meliuk-liuk menghindari lubang menganga di aspal .

Kupandangi Papi dengan perasaan bercampur-aduk. Sebenarnya hatiku tak tega membiarkan Papi mengantarku. Belum terbayangkan  bagaimana dan di mana sebenarnya lokasi yang di tuju itu. Yang aku  tahu hanyalah bahwa aku harus datang untuk wawancara penerimaan karyawan, sehubungan dengan surat lamaran pekerjaan yang pernah  kukirimkan.

Kemarin sore, seseorang menelpon, menanyakan apakah aku sudah bekerja atau belum. Lalu dia menanyakan apakah benar aku pernah mengirim surat lamaran pekerjaan ke sebuah perusahaan Jepang bernama Penta Ocean. “ Ya, benar.” Jawabku. Padahal sebenarnya aku tidak ingat pernah mengirim surat lamaran ke perusahaan itu. Sudah ratusan surat lamaran disebarkan kemana-mana untuk menggenapkan usaha mencari pekerjaan setelah menjalani wisuda sebagai sarjana teknik sipil beberapa bulan yang lalu.

“Kamu besok siang di tunggu di  kantor Penta Ocean di Grissik. Besok pagi kamu berangkat dari Palembang lewat jalan lintas Sumatera ke arah Jambi. Nanti cari Desa Peninggalan, kecamatan Tungkal Jaya, Musi Banyu Asin. Letaknya di pinggir jalan sekitar 3 jam perjalanan dari Palembang. Di desa Peninggalan itu ada mess karyawan Penta Ocean. Tanya saja disana, bagaimana caranya menuju kantor Penta Ocean. Besok temui Mr. Tsano untuk wawancara. “

Grissik? Desa Peninggalan? Nama-nama tempat itu terasa asing, bagaikan negri antah berantah. Belum pernah aku dengar  atau lihat lokasinya di peta sebelumnya. Maklumlah aku benci pelajaran geografi,  menggambar peta, apalagi  ujian peta buta.Nilai-nilaiku untuk pelajaran itu lumayan jeblok dibandingkan nilai Matematika dan IPA.  

Bagi  seorang pencari kerja seperti aku, tawaran untuk interview selalu terasa menarik, meskipun lokasinya belum jelas di mana. Papiku dengan semangat langsung menawarkan diri untuk mengantarku, tentu bersama jando Beraes. Meskipun hal ini terasa menambah beban moral di pundakku, aku tak punya pilihan lain.

Aku, anak pertama yang menjadi tumpuan harapan kedua orangtua tentulah mengerti akan tanggung jawabku, melihat beberapa tahun ke depan Papi yang seorang pegawai negeri akan pensiun sementara ke-empat adikku masih sekolah dan kuliah.

Aku melemparkan pandangan ke sisi jalan yang ditumbuhi pohon-pohon dan semak.  Sesekali terlihat beberapa rumah panggung kayu berdiri di atas rawa dan perkampungan penduduk.  Selebihnya hutan Sumatera yang senyap. Perasaanku campur aduk antara harap-harap cemas dan penasaran. Berharap bisa memperoleh pekerjaan hingga memenuhi harapan kedua orang tua dan adik-adikku. Cemas pada jando beraes. Semoga  hari ini dia berbaik hati, tidak mogok dan bertingkah akibat penyakit tuanya.  Penasaran karena aku ingin segera mengetahui perusahaan macam apa yang telah memintaku hadir hari ini.

Sekitar 3 jam perjalanan sudah kami lalui, ketika mataku akhirnya menangkap sebuah papan bertuliskan “ Mess Karyawan Penta Ocean” berdiri tegak di depan dua buah rumah bercat putih. Dua rumah itu bersebelahan tetapi berada dalam satu pagar. Papi memarkir Jando Beraes di halaman rumah itu.

Aku menghampiri pintu rumah yang terbuka. Seorang ibu setengah baya sedang duduk  sambil memangku baskom berisi kacang panjang. Kepalanya tertunduk menekuni pekerjaannya memotong-motong kacang panjang, sementara lagu   dangdut Melayu meratap-ratap pedih terdengar dari sebuah radio-tape butut yang teronggok di meja. Aku mengucapkan salam. Ibu itu agak terkejut melihat kedatanganku. Dia segera menghampiri setelah mengecilkan volume radionya.

“Waalaikum salam. Adik mau cari siapa ya?” Tanyanya.

“ Saya dari Palembang, Bu. Kemarin saya ditelpon disuruh datang ke kantor Penta Ocean untuk bertemu Mr. Tsano. Kalau ke kantor  lewat mana ya, Bu?’’.

“ Wah, sayang sekali. Baru saja tadi mobil yang mengantar makan siang karyawan berangkat ke kantor. Mestinya Adik ikut mobil tadi. Tapi kalau mau pergi sendiri ke sana bisa juga.” Mata si Ibu tertumbuk pada mobil bobrok yang terparkir di halaman. Dari ekspersi wajahnya, aku tahu si Ibu meragukan kemampuan Jando Beraes.

 “Hati-hati ya, Dik. Semoga tidak hujan. Jalan kesana belum di aspal. Kalau hujan turun, jalan tanah merah itu tak  bisa  dilalui mobil yang tidak dilengkapi double gardan. Jalannya jadi berlumpur dan licin. Banyak terjadi kecelakaan di jalan itu, mobil terjungkal karena tak sanggup melalui  tanah licin berlumpur saat hujan. “

Hatiku dilanda  kekhawatiran , namun aku tidak bisa mundur lagi. Setelah memperoleh penjelasan dari si Ibu, aku dan Papi berpamitan dan mengucapkan terimakasih.

Sebelum masuk mobil, kubelai kap Jando Beraes. “ Tolong bantu aku.” Bisikku. “ Ini hari yang penting.”

Sejurus kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju kantor yang dimaksud.  Sekitar 3 km dari  mess Peninggalan, Jando Beraes berbelok masuk ke sebuah jalan tanah lebar yang membelah belantara Sumatera. Jalan  itu mengepulkan debu tebal tanah merah ketika roda mobil melewatinya. Hatiku tak henti-henti melantunkan doa,  mengusir segenap gundah dan rasa bercampur aduk di dada.
 Jalan tanah itu kadangkala menanjak,  menurun serta berliku. Dikiri-kanan jalan terbentang hutan belantara. Sesekali terlihat kawananan monyet bergelantungan di pohon. Seekor rusa kecil berlari menyeberang jalan lalu menghilang di balik semak. Lalu ular berukuran lumayan panjang tampak melintas cepat di hadapan kami.

Beberapa saat kemudian mulai tampak bangunan-bangunan semi permanen,  dikelilingi pagar kawat di sisi kiri-kanan jalan. Gundukan pasir dan koral tertumpuk di pinggir jalan.   Sebuah kompleks mess karyawan  yang luas dijaga petugas keamanan terlihat di depan mataku, hingga akhirnya kami tiba di sebuah areal luas terbuka berbatas pagar kawat yang kokoh. Setelah melapor pada petugas keamanan di pos penjagaan, kami dipersilahkan melewati gerbang.

Mataku segera menangkap berbagai aktivitas di sana. Di bawah teriknya matahari yang terasa membakar kulit, tampak alat berat seperti crane, loader, excavator dan roller tengah beroperasi di beberapa titik. Gundukan tanah galian, pasir, koral dan batu pecah (split)  terlihat dimana-mana.

Beberapa kelompok pekerja kasar tengah melakukan pekerjaan diawasi  mandornya. Container-container bercat merah tampak berderet di sisi kanan.  Sebuah bangunan batching plant dengan mobil pengaduk semen tengah beroperasi di sudut sana.  Aku menebarkan pandangan ke penjuru tempat itu.  Terpesona. Tak menyangka di tengah hutan belantara Sumatera ada tempat seperti ini. Apakah yang sedang di kerjakan orang-orang ini? Akan dibangun apakah tempat ini? Tentu aku akan dapat banyak pengalaman hebat bila bisa bergabung di sini.

Aku turun dari mobil, meninggalkan Papiku yang menunggu di dekat pos satpam.  Aku berjalan menuju sebuah bangunan bercat putih berbentuk segi empat memanjang. Seorang pria setengah baya berpakaian seragam dari bahan Japan drill berwarna cream dengan logo Penta Ocean di dadanya, mengenakan sepatu boot  hijau, dan helm putih tiba-tiba muncul di pintu.

“ Permisi, Pak. Saya diminta datang ke kantor Penta Ocean untuk bertemu Mr. Tsano. Apakah ini benar tempatnya? “ Tanyaku.

“ Oh, ya benar. Silahkan masuk, Dik. Mari saya antar. “ Tangan si Bapak meraih gagang pintu dan mendorongnya hingga terbuka. Udara sejuk dari pendingin udara merayap keluar membelai wajahku, sungguh berbeda suhu di luar dengan di dalam ruangan. Aku melangkah masuk.

Mataku menyapu  ruangan luas memanjang dengan deretan meja kerja tersusun  berbaris-baris, lengkap dengan karyawan-karyawati yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya.  Jendela-jendela kaca terpasang di dinding menampilkan pemandangan lapangan di luar.  Seperangkat peralatan  radio komunikasi SSB terdengar mendesis-desis di sudut ruangan. Deretan meja yang lebih besar  tersusun sepanjang dinding. Di belakang meja-meja besar itu duduk pria-pria bermata sipit dan berkulit putih. Beberapa diantara mereka tengah terlibat pembicaraan dalam bahasa yang tidak kumengerti. Kedengarannya bahasa Jepang.

Kehadiranku disitu menarik perhatian beberapa orang . Mereka memandangku dengan rasa ingin tahu. Aku membalas tatapan mereka dengan melemparkan senyum paling manis.

Aku dipersilakan menemui Mr. Tsano, seorang Jepang berusia sekitar 30-an dengan wajah datar tanpa ekspresi dan Mr. Tasaki yang kutaksir usianya sekitar 40-an dengan wajah yang lebih ramah.

Setelah perkenalan seperlunya dan menjelaskan proyek corridor block gas yang tengah dikerjakan, dua orang Jepang itu silih berganti menanyaiku dengan  pertanyaan seputar pengetahuan yang berhubungan dengan latar belakang pendidikanku.

Setelah  aku selesai mengerjakan beberapa soal hitungan yang diberikan, mereka  menjelaskan apa-apa saja yang menjadi tugasku bila aku diterima bekerja berikut jumlah gaji yang menggiurkan.

Harapanku melambung tinggi saat mereka menyebutkan jumlah gaji  dan fasilitas yang akan aku terima bila bekerja di perusahaan ini. Jumlahnya beberapa kali lipat dari gaji pegawai negri lulusan sarjana saat itu.

Mereka menanyakan persetujuanku, apakah tidak keberatan menerima gaji sejumlah itu.

“Aku setuju!” Sergahku cepat. Manalah mungkin aku menolak tawaran bagus ini. Tak apalah bekerja di tengah hutan jauh dari rumah, aku yakin di sini pasti akan mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman yang berharga.

Mr. Tasaki tersenyum. “ Masalahnya, kapan  bisa mulai bekerja?”

Serasa tak percaya aku mendengarnya berkata seperti itu. Alhamdulillah... Semudah ini jalannya.
Hari itu aku tidak bisa mulai bekerja. Seorang karyawan mengatakan kepada Mr. Tasaki bahwa kamar untukku sedang dipersiapkan. Aku diminta mulai bekerja minggu depan.

Setelah menyatakan setuju, aku pamit pulang.

“Sayonara. Sampai jumpa minggu depan!” Ujar Mr. Tasaki sambil tersenyum dan membungkuk memberi hormat ala Jepang.

Foto kenangan saat bekerja di Penta Ocean
Bersama rekan kerja di Penta Ocean

“ Sampai jumpa. Terimakasih.” Sahutku sambil membungkuk juga.

Keluar dari kantor itu, rasanya aku ingin berteriak gembira. Senang tak terkira rasanya akan segera bekerja di perusahaan itu. Semua yang ada disana tampak begitu hebat dan menakjubkan di mataku. Tak sabar menunggu minggu depan!

Kegembiraanku langsung surut dengan cepat tatkala aku melihat ke atas.  Awan mendung telah bergantung di sana.  Aku berlari kencang menghampiri pos satpam tempat Papi menungguku.

“ Papi, ayo cepat kita pulang. Bahaya kalau hujan!” Teriakku.

Tanpa banyak bicara, Papi menginjak pedal gas Jando Beraes. Jalan tanah yang kami lalui masih sekitar 4,5 km lagi. Hatiku berdebar melihat warna kelabu yang makin menebal di langit.

Debu tanah merah berhamburan. Jando Beraes beraksi, berlari dengan kekuatan penuh menyusuri jalan membelah hutan. Aku memandang ke belakang. Astaga! Di kejauhan terlihat hujan sudah mulai turun. Aku memejamkan mata sambil berdoa,” Ya Allah... tolonglah kami.”

“Jando Beraes, berbaik hatilah padaku. Jangan mogok dan teruslah berlari kencang. Kalau terjebak hujan kita semua bakal susah.” Bisikku.

Di tikungan si Jando melesat mengeluarkan bunyi berdecit-decit. Tubuhku condong ke kiri dan ke kanan mengikuti alur jalan menikung.  Sedikit lagi... Ya Tuhan! Aroma tanah kering tersiram hujan telah menyelinap di indra penciumanku. Itu artinya hujan deras mengejar di belakang kami.

“ Cepat! Cepat!” Teriakku tanpa sadar.

Papi menginjak pedal gas makin dalam.  Jando Beraes mengamuk, melesat bagai panah. Untung saja tak ada kendaraan lain yang melintas sehingga si Jando bebas berzig-zag sesukanya.

“ Aaaaahhhh! “Aku dan Papi memekik tanpa sadar ketika akhirnya hujan deras menerjang kami. Tapi itu teriakan lega. Tepat di saat roda Jando Beraes menyentuh aspal jalan lintas Sumatera, hujan berhasil menyusul kami. Alhamdulillah...

Sensasi kebut-kebutan  bermandi debu tanah merah dan kejaran hujan setelah diterima bekerja bukanlah pengalaman yang sering ketemui. Sangat berkesan.  Akan ku kenang seperti aku mengenang almarhum Papiku, yang selalu mendukung dengan penuh cinta.  

Terimakasih Jando Beraes, ternyata dirimu bisa juga berbaik hati di saat yang tepat, di  salah satu hari yang penting dalam hidupku.   Hari yang menjadi awal terbentangnya pintu rezeki, untuk membantu kedua orangtuaku, untuk mendukung empat orang adikku yang masih utuh biaya sekolah hingga mereka meraih bahagia. Hari itu pun menjadi awal skenario indah menemukan jodohku.  Aku akan mengenangmu Jando Beraes, menggambarkanmu sebagai bagian  kisah hidupku, di sini.


Tidak ada komentar: