Sabtu, 26 November 2016

Ajari Kami Merajut Mimpi untuk Indonesia


Rezeki bukan hanya berupa materi. Pertemuan dengan seseorang yang menularkan ilmu mencerahkan serta membuka peluang berbuat kebaikan, itu pun salah satu bentuk rezeki dari Allah SWT. Aku tak pernah  bosan mensyukuri rezekiNya, di mana aku menemukan sosok yang berperan sebagai  guru, mentor, trainer, coach dalam kehidupan, juga sebagai role model,  sahabat  setia  yang rela mendengarkan masalah dan curhat tak penting sekali pun.  Seseorang yang berperan besar dalam merubah hidupku menjadi lebih baik dan berkualitas.

Masih kuingat beberapa tahun lalu, ketika duduk termangu takjub di sudut ruangan sebuah apartemen di Kuala Lumpur.  Yang membuatku terpana adalah kata demi kata bermuatan ilmu yang keluar dari mulut wanita mungil  itu. Intonasinya mendayu.  Kadang  rendah, kadang tinggi.  Sesekali mengejutkan, menukik, menusuk tapi tak menyakiti, namun membangkitkan kesadaran.


Mendengar  mutiara-mutiara katanya, yang bisa kulakukan hanya mengangguk-ngangguk, terpelongok, sementara pikiranku sibuk berseru-seru.

“Lha itu benar, kok selama ini aku nggak kepikiran ya? Kok bisa aku salah tapi nggak sadar ya? Menarik sekali!! Ini jawaban semua permasalahanku!”

Hanya 20 menit saja berada di ruangan itu,  tapi aku sudah dibuat jatuh cinta dengan ilmu  yang judulnya  bikin jidatku berkerut. Neuro Linguistic Programming.  Ah, sungguh asing di telingaku. Ibu rumah tangga yang biasa berurusan dengan rutinitas emak-emak dasteran, tiba-tiba disodori istilah Milton Model dan  Meta Model. Herannya, demikian piawainya wanita cantik itu menyampaikan materi, bahkan otak  emak dasteran di dalam tempurung kepalaku  mampu  memahami manfaat ilmu ini.

Okina Fitriani

Wanita itu bernama Okina Fitriani. Kesan mendalam di pertemuan pertama membuatku tak menyia-nyiakan kesempatan menimba ilmu darinya di sebuah training parenting di Jakarta.

Ketika dia menyampaikan materi tentang 10 kesalahan dalam pengasuhan anak, aku seperti tertampar. Pantas saja selama ini komunikasiku dengan anak-anak kurang  berjalan baik, ternyata tanpa sadar aku sudah melakukan sebagian besar kesalahan dalam mendidik anak-anakku. Ya Tuhan..

Selanjutnya, dia menjelaskan  bagaimana otak bekerja, bagaimana persepsi terbentuk, lalu menimbulkan emosi, dan  emosi mendorong manusia untuk merespon sebuah peristiwa . Kemudian, dengan luwesnya dia mengajari teknik-teknik menyelesaikan emosi, sehingga aku menjadi tahu bagaimana  caranya  tetap tenang dan berdaya meski menyaksikan kamar anak-anak berantakan, anak menangis, anak membantah, dan berbagai peristiwa yang biasanya membuat aku “meledak”.  Bukan main terpesonanya aku.

Teknik menyelesaikan emosi ala Mbak Okina benar-benar mencerahkan.  Bukan hanya untuk pengasuhan anak, tapi juga untuk memperbaiki kualitas hidup. Bisa kukatakan bahwa ilmu ini sudah mengubah hidupku.

Dulu sebelum aku memperoleh pelajaran ini, betapa mudah aku terpengaruh emosi negatif. Pengaruh-pengaruh buruk membuat hidupku tak nyaman. Bahkan tak jarang mendorong aku berlaku bodoh.

Contohnya, ada teman curhat mengadukan kesedihannya. Aku yang seharusnya membantu dia mencari solusi, malah ikut menangis. Ketika  malam aku  jadi susah tidur, memikirkan perasaan teman. Sementara solusinya tidak ada. Emosi negatif membuat logika tak berjalan.

Lalu, ketika  beberapa orang berkongsi menjadi haters-ku di media sosial, seringkali aku memikirkan mengapa mereka bisa membenciku.

Dulu aku juga mudah terpengaruh berita-berita yang menebar kebencian.  Tiap kali membaca postingan berita buruk, hatiku galau dan emosiku meledak-ledak.

Ilmu itu mencerahkan. Berbekal  teknik menyelesaikan emosi, aku bisa menjaga diri dari ketularan emosi negatif. Ketika ada orang menangis menceritakan permasalahannya, dengan metode disosiasi aku bisa menganalisa kejadian dan membantu orang untuk menemukan solusi tanpa ikut tersedu-sedu.

Tentang haters, aku teringat kata-kata Mbak Okina. “We are the master of our mind. Kita nggak bisa ngatur mulut orang lain. Maka yang diatur adalah pikiran kita sendiri. Pilih makna yang memberdayakan. Reframe to empower.”

Berbekal ilmu, haters yang menyerangku bisa kuubah menjadi berkah.  Mereka menjadi sumber inspirasiku  menulis artikel “9 Cara Bijak Menghadapi Haters di Media Sosial.” Artikel ini menjadi salah satu postingan “nge-hits”. Masuk dalam 10 postingan terpopuler di website-ku yang mendongkrak jumlah pengunjung website. Secara tidak langsung hal ini membuka pintu rezekiku lewat tawaran review dan placement artikel yang berbuah rupiah. Sungguh manis.

Tentang berita atau artikel yang tak jelas? Aku pakai meta model, metode yang pertama kali membuatku terpesona pada Mbak Okina Fitriani di pertemuan pertama kami. Meta model gunanya untuk mengklarifikasi, sekaligus menyelesaikan emosi.  Untuk contohnya aku ambil artikel yang tidak berbau SARA.  Misalnya artikel yang berjudul “"Pasangan yang Bahagia Justru Nggak Suka Pamer Kemesraan di Medsos.".

Nah, artikel ini ramai dikomentari orang, bahkan ada yang perang komentar. Ada yang merasa tersinggung, marah-marah di kolom komentar. Ada yang bersyukur karna tidak pernah memposting foto bersama pasangan. Banyak yang menshare tulisan ini karena setuju dengan pendapat sang penulis. 

Bagaimana dengan aku yang sering memposting foto mesra bersama suamiku, si Akang. Haruskah aku tersinggung? Mudah saja.  Aku tinggal membuat percakapan dalam kepalaku dengan bentuk meta model.   Seperti ini :
“Pasangan yang bahagia justru nggak suka pamer kemesraan di medsos, itu kata siapa?
Ada datanya nggak? Ada samplenya nggak? Ada penelitiannya nggak? Surveynya mana? Nggak ada dasarnya kan? Itu murni pendapat subjektif penulisnya kan? Kesimpulannya: Nggak usah dipikirin. Beres! Jadi, terpicu emosi, mengomentari dan menshare artikel yang tidak ada dasarnya bukanlah tindakan cerdas.”

Ah, ringannya hati ini. Ilmu yang ditularkan wanita cantik itu super keren.  Masih banyak lagi manfaat kupetik dari ilmu parenting dan transforming behavior skill yang diajarkan Mbak Okina.

The Secret of Enlightening Parenting


Hubunganku dengan Mbak Okina Fitriani kian dekat setelah kami bersama belasan alumni kelas parenting-nya menulis sebuah buku. Buku itu kemudian dicetak ulang penerbit Gramedia dengan logo national best seller. Royalti buku digunakan seluruhnya untuk membiayai kebutuhan sekolah anak-anak dhuafa. Bertambah lagi kebahagiaanku.
 
Kiri-kanan : Ilmia Lasmita, Juliana Dewi, Chita Harahap, Okina Fitriani, Arie Kusuma Dewi dan Hardini Swastiana

Buku terjual laris, permintaan training pun berdatangan. Dengan semangat berbuat kebaikan,  Mbak Okina,  Mbak Arie, Mbak Chita, Mbak Dini, Mbak Mita dan aku bekerja sama menginspirasi melalui training.

Training pun makin berkembang, bukan saja di selenggarakan di Jakarta, kami juga pernah beberapa kali melaksanakannya di Jogjakarta dibantu Mbak Rina, di Bangkok- Thailand bersama Mbak Inggit, dan di bulan Januari yang akan datang akan dilaksanakan di Pekanbaru. Kami juga pernah menyelenggarakan training untuk remaja, dan para guru. Betapa bahagia melihat para remaja generasi muda dan para guru tercerahkan.

Sebagian sisa dari biaya pelaksanaan training  dimasukkan  ke kas Indonesia Membangun Rakyat (IMR). IMR adalah sebuah komunitas yang didirikan Mbak Okina untuk membantu kaum dhuafa. Kegiatan IMR antara lain merenovasi rumah para dhuafa, membiayai pengobatan, pendidikan, dan membantu kebutuhan masyarakat miskin. Hingga saat ini sudah lebih dari 40 rumah telah direnovasi  oleh IMR mulai dari Aceh hingga Nusa Tengara Barat.

Aku senang bergabung dalam komunitas ini, karena bisa dipastikan sumbangan yang disampaikan tepat sasaran,  dapat dipertanggung jawabkan karena anggota komunitas ini adalah orang-orang yang  saling mengenal dan terpercaya.


Beberapa Kegiatan IMR


Aku bisa bilang begitu karena aku sendiri pernah beberapa kali menjadi “person in charge” yang bertugas menyerahkan bantuan IMR kepada kaum dhuafa di Bogor. Sebagai PIC, aku harus datang langsung ke lokasi, meyakinkan bahwa bantuan ini tepat sasaran dan meyakinkan bahwa bantuan sesuai dengan kebutuhan.  Kemudian aku juga harus membuat laporan penyerahan sumbangan dengan foto-foto dan kwitansi, sebagai bukti bahwa penyerahan bantuan dilakukan dengan bersih dan jujur. Sungguh pengalaman menarik dan membahagiakan!

Mbak Okina tak pernah pelit berbagi ilmu serta tak bosan memotivasi aku dan sahabat-sahabatku untuk terus meningkat dan bermanfaat.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak menebar manfaat bagi sesama. Aku ingin kalian bukan cuma mengurusi penyelenggaraan training. Kalian harus meningkat.  Harus bisa membawakan materi, menjadi coach, fasilitator dan kelak menjadi trainer seperti aku.” Ucapnya suatu hari.

Terus terang, mendengar ucapannya hatiku ciut. Aku tak yakin bisa melakukannya. Tanpa sadar aku sudah memelihara keyakinan yang tak memberdayakan. Aku merasa bukan siapa-siapa, cuma seorang ibu rumah tangga.
 
Saat berkunjung ke kediaman Mbak Okina di Kuala Lumpur

Mbak Okina sungguh-sungguh dengan ucapannya. Untuk mempersiapkan kami, dia meluangkan waktu  memberikan ilmu. Gratis!  Aku dan sahabat-sahabatku terbang ke Kuala Lumpur dan kami belajar padanya selama beberapa hari dari pagi sampai dini hari. Kesempatan berkumpul bersama membuat hubungan kami kian akrab. Aku bisa berkenalan dengan keluarganya. Di situ aku melihat betapa Mbak Oki sudah menerapkan ilmu yang diajarkannya pada anak-anak, suami, dan client-nya.

Aku melihat sosoknya sebagai teladan. Ia menerapkan prinsip-prinsip pengasuhan, dan teknik-teknik self-improvement secara konsisten dan kongruen. Yang diucapkan sama dengan yang dilakukan. Yang diucapkan, bukanlah sekedar teori, tapi sudah teruji. Makin teballah kekagumanku padanya.

Aku ingat, menjelang pertama kali harus berbicara menyampaikan materi di depan peserta training, aku gugup luar biasa. Wajahku tegang, lutut lemas dan perut mulas .Otak  tak mampu berpikir. Rupanya keteganganku tertangkap ketajaman indera Mbak Oki.

Malam sebelum tampil, Mbak Oki memberikan terapi. Dengan metode hypnosis dia membawa aku dalam kondisi rileks sempurna.  Mbak Oki membangkitkan kembali kondisi emosi saat aku sukses berbicara di forum. Memori yang tersimpan saat aku sukses ujian sarjana dan memperoleh nilai “A” secara gilang-gemilang dihadirkan lagi. Kemudian dikuatkan  dan terus dikuatkan hingga mencapai titik maksimum. Terapi itu berhasil  membuat diriku tenang.

Aku  bertanya pada Mbak Okina.

“Mbak Oki, peserta training itu kan hebat-hebat.  Banyak psikolog dan kaum intelektual. Mulai yang usianya lebih senior dari Mbak Oki hingga ada yang pendidikannya sudah S3. Apakah Mbak Oki nggak  takut kalah ilmu dari mereka?”

Mbak Okina tertawa. Lalu berkata,

"Yang namanya ilmu itu bisa saling belajar.  Dalam bidang ilmu lain saya belajar dari beliau semua. Dalam ilmu parenting saya mendalami berbagai sumber, pengalaman dan dipraktekkan, jadi mereka juga bisa dapat pengetahuan baru dari saya. "

Kata-kata Mbak Okina langsung menginspirasiku. Tak ada alasan aku merasa gentar berbicara menyampaikan materi training di depan para peserta. Kalau pun ada professor yang menjadi peserta training, dalam hal ilmu parenting aku lebih dulu belajar dibanding mereka.
 
Sesi "Pola Bahasa Persuasif " di  Training Enlightening Parenting 24-25 September 2016

Siapakah yang punya kesempatan paling besar berhubungan dengan anak-anak dan proses pengasuhan kalau bukan ibu rumah tangga? Bukankah pekerjaan ibu rumah tangga adalah menerapkan ilmu parenting dalam mengasuh anak-anaknya? Jadi tak ada alasan nyali ciut saat berhadapan dengan peserta training.  Toh, materi yang disampaikan adalah apa yang sudah aku lakukan, sehingga bisa dipertanggung jawabkan. Pemikiran ini menumbuhkan rasa percaya diriku.

Sejak itu, aku tak mengalami hambatan berarti saat berbicara di depan orang banyak. Aku bersyukur, sudah ada peningkatan. Kalau pun masih ada yang perlu diperbaiki dalam hal teknik penyampaian, intonasi saat berbicara, ekspresi dan bahasa tubuh, aku yakin semua bisa dipelajari dan disempurnakan seiring makin banyaknya latihan dan “jam terbang”.
 
Sharing di Doha-Qatar

Sharing EP team di Lapas Wanita Tangerang

Sharing di Yangon-Myanmar


Selain training, Mbak Oki menggerakkan para alumni menyebarkan ilmu parenting lewat sharing-sharing dalam program Enlightening Parenting Goes to Community. Kami menuju pelosok-pelosok daerah. Dari Delangu  Jawa Tengah, pelosok Jogjakarta,  Bandung, hingga Cilebut kabupaten Bogor. Gerakan alumni bahkan  merambah juga ke Doha- Qatar, Yangon-Myanmar dan Kuala Lumpur-Malaysia. Alumni bergerak menebar ilmu ke sekolah-sekolah, komunitas ibu-ibu muda, komunitas orang tua murid, hingga lembaga pemasyarakatan wanita.

Satu pesan Mbak Oki yang kerap ditekankan pada kami adalah tidak harus menunggu sempurna untuk berguna. Sebagai seorang manusia, Mbak Oki pun menyadari beliau juga memiliki kekurangan dan kemungkinan berbuat salah. Hal ini disampaikan dengan sangat halus pada kami, murid-muridnya, agar tidak mengidolakan dia. Namun dipersilakan untuk memodel perilaku baik dan pencapaian positifnya. Bahkan dia bersedia membimbing kami dengan kesabarannya.

Suatu hari saat leyeh-leyeh bersama Mbak Oki, dia mengungkapkan mimpinya.



“Aku pikir, timbulnya berbagai masalah di negeri ini seperti korupsi, buruknya akhlak para pemimpin dan public figure berawal dari kesalahan pengasuhan. Akar permasalahan adalah prinsip pengasuhan yang tidak dilaksanakan dengan baik oleh sebagian orangtua zaman dulu. Artinya, bila kita bisa memperbaiki pengasuhan pada generasi penerus, suatu saat Indonesia bisa menjadi negara yang bermartabat. “

Aku ikut tercenung mendengar buah pikirannya. Sungguh masuk akal, pikirku. Mbak Oki melanjutkan bicaranya.

“Kita ini kan punya training untuk orangtua, remaja, guru atau educator. Kita juga punya training Transforming Behaviour Skill untuk semua orang. Ada juga training untuk para karyawan dan pekerja. Tanpa disadari, kita sudah bergerak menyentuh semua aspek. Kalau semua ini digerakkan lebih luas, bisa dibayangkan bagaimana nanti wajah Indonesia. Pemimpin-pemimpinnya bakal luar biasa!”

 Mbak Oki menebar pandangannya  jauh ke depan, seperti memvisualisasikan mimpinya .

“Anak Indonesia dibesarkan oleh orangtuanya sesuai fitrah, lalu mereka dididik guru yang kreatif dan memaksimalkan potensi. Remaja-remajanya tangguh, bisa mengelola diri sendiri dan self-motivated. Masyarakatnya berwawasan 5 pilar komunikasi, sehingga otak mereka jernih. Tidak ada media nyebelin yang bisa memanas-manasi, dan memprovokasi masyarakat. Tidak ada pemimpin dzolim lagi, karena para pemimpin perusahaan dan pemerintahan menjadi transformer semua. Tidak ada orang miskin karena program bantuan dilaksanakan dengan bersih dan jujur. Inilah perwujudan mimpi kita untuk Indonesia. Meskipun masih miniatur, semoga ada pemimpin yang tergerak menjadikan semua ini berskala nasional.  Betapa indahnya wajah Indonesia yang demikian itu.”


Ajak aku ikut, Mbak Oki! Ajari aku dan sahabat-sahabat! Izinkan emak-emak dasteran ini turut serta bersama-sama merajut mimpi indah untuk Indonesia. Sekecil apa pun perananku, aku ingin turut serta dalam gerakan mewujudkan generasi gemilang. Mulai dari keluarga sendiri, ditularkan kepada keluarga lain, dan masyarakat yang lebih luas.  Mari bergandengan tangan, melangkah bersama, merajut mimpi mewujudkan Indonesia yang bermartabat. Indonesia yang terdepan karena akhlak mulia para pemimpin dan rakyatnya. Bismillah…



#ALUMNI_SEKOLAHPEREMPUAN

9 komentar:

Agustina Purwantini mengatakan...

waahh seru bin keren, mau dong aku ikut merajut mimpi untuk Indonesia...caranya?

Retha Thoifur mengatakan...

kereeeen mbak iwet...... boleh jadi emak dasteran tapi isi kepala intelektual ya mbaak....hehee... semangaaattt....

munasyaroh mengatakan...

Inspiratif bnget.... Semoga suatu saat bisa bertemu beliau

uche nugrahawati mengatakan...

Kerennnn mba iwet... akupun ingin d seperti mba iwet... menjadi bagian yg merajut mimpi utk indonesia.... menambah ilmu dulu.. ikut tranining EP biar sering2 ketemu mbak2 yg inspiring.. semangaatt

Juliana Dewi K mengatakan...

@Agustina Purwantini : Ayo terapkan pola pengasuhan anak dengan menjaga fitrah baik anak, Mbak. Bisa dibaca di buku kami The Secret of Enlightening Parenting. Lalu bergerak dengan menebarkan ilmunya kepada yang lain. Bisa juga dengan ikut training The Secret of Enlightening Parenting. infonya ada di http://www.julianadewi.com/2016/08/training-secret-of-enlightening.html


@Retha Thoifur : Terimakasih Mbak Retha sayang... :-)

@munasyaroh : Aamiin...

@uche nugrahawati : Hayuk mbak kita sama-sama merajut mimpi untuk Indonesia :-)

ida mengatakan...

Mbak Iwed sayang, semoga diberi kekuatan dan kesabaran dalam proses merajut mimpi ... Indonesia gemilang!

enny ridha alin mengatakan...

Bahagianya bila hidup kita bisa bermanfaat buat orang lain, gimana caranya bergabung, mbak?

Witri Prasetyo Aji mengatakan...

keren, bahagia itu yang mengatur kita sendiri
dari para haters, mari menggali hal2 positif... :)

Juliana Dewi K mengatakan...

CikGu @Ida : Aamiin terimakasih doanya

@enny ridha alin : Ayo terapkan pola pengasuhan anak dengan menjaga fitrah baik anak, Mbak. Bisa dibaca di buku kami The Secret of Enlightening Parenting. Lalu bergerak dengan menebarkan ilmunya kepada yang lain. Bisa juga dengan ikut training The Secret of Enlightening Parenting. infonya ada di http://www.julianadewi.com/2016/08/training-secret-of-enlightening.html

@Witri Prasetyo Ali : Siiip... mari memlih untuk bahagia dan berdaya.