Jumat, 19 Februari 2016

Touring dari Bogor ke Bangka

Saat mengetahui tujuan touring  kali ini adalah Pulau Bangka, aku sangat bersemangat. Pulau yang terkenal dengan keindahan pantai-pantainya ini punya tempat tersendiri di hatiku. Kalau dibuat rating pantai terindah yang pernah aku kunjungi, pantai di Pulau Bangka masih menempati peringkat pertama. Mungkin karena belum begitu banyak jumlah pantai yang pernah kusinggahi. Aku belum merambah ke Indonesia bagian Timur, seperti Papua dengan Raja Ampatnya, atau pantai-pantai di Sulawesi, Kalimantan, Lombok dan  Maluku yang konon memiliki pantai  super cantik.



Aku sudah pernah dua kali mengunjungi Pulau Bangka. Tahun 1994 saat melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN)  kala  menjadi mahasiswi Teknik Sipil Universitas Sriwijaya. Lalu tahun 2006 saat berlibur bersama keluarga.

“Kita akan bergabung bersama rombongan, Neng. Jumlah seluruhnya 10 motor. Teman-teman ada yang mengajak istri mereka. Ibu-ibu rencananya akan naik pesawat dari Jakarta ke Pulau Bangka. Jadi mereka nanti bergabung dengan suami-suaminya di Pulau Bangka. Neng mau ikut mereka atau mau naik motor bersama Akang dari Bogor?” Tanya suamiku.

“Ikut Akang sajalah.” Sahutku mantap. Tak tega hatiku membiarkan Akang naik motor sendirian menempuh jarak jauh.

“Yakin mau ikut Akang saja? Kita dari Bogor pergi sendiri lho.. Nanti sampai di Palembang baru bergabung dengan 9 motor lainnya.” Ujar Akang.

Mendengar ucapannya hatiku makin mantap ingin ikut mendampingi Akang bermotor dari Bogor.
“Yakin. Insya Allah, Kang.”

Perjalanan ke Palembang

Setelah mengurus keperluan anak-anak, berpesan pada  Mbak-mbak, sopir dan tukang kebun tentang berbagai hal yang harus dilakukan selama ditinggal touring, kami pun berkemas.

Perjalanan dimulai. Kamis 15 Oktober 2015 pukul 5.00 WIB usai shalat subuh, aku dan Akang  mengucap doa, lalu kami meluncur di jalan bersama si Kuning,  motor Kawasaki Versys berkapasitas 650 cc. Sengaja kami memilih motor type adventure ini karena cocok untuk segala kondisi jalan.


Dari Bogor kami melewati Dramaga, Leuwiliang, Jasinga, dan  perkebunan sawit Cikasungka di Cigudeg. Pukul 6.54 WIB, si Kuning “ minum” sampai kenyang di sebuah SPBU  di  Rangkasbitung. Aku dan Akang menyempatkan sarapan roti gandum yang kami bawa dari rumah. Walau bagaimana, sarapan itu penting supaya kondisi tubuh tetap fit. 



Kemudian kami melewati Pandeglang, Serang dan Cilegon.  Suasana jalan masih sepi, kami tidak menemui antrian kendaraan dan  aspal yang kami lalui relatif bagus. Hanya ada beberapa titik jalan yang sedang diperbaiki,serta sebuah jembatan yang sedang direnovasi.  Pukul 8.37 WIB, kami tiba di Merak.




 Setelah membayar ongkos kapal sejumlah Rp. 107.000,- kami naik  ke kapal ferry. Rasanya senang sejauh ini perjalanan lancar tanpa hambatan. Tak lama kemudian kapal berangkat menyeberangi lautan menuju Pulau Sumatera.

Dengan membayar tiket seharga Rp. 10.000,- kami masuk ke ruang penumpang eksekutif kapal ferry yang cukup nyaman. Tersedia sofa-sofa yang meski modelnya jadul tapi lumayan empuk. Aku dan Akang bisa istirahat  sambil mendengar live musik yang dimainkan beberapa anak muda.


“Ibu-ibu dan Bapak-bapak sekalian. Perkenankanlah kami menghibur anda semua dengan lantunan lagu-lagu kami. Bila  ada diantara Bapak atau Ibu yang ingin menyanyi, kami persilakan. Atau bila ada yang ingin meminta lagu, boleh disampaikan pada kami. Mudah-mudahan kami bisa memenuhi permintaan Bapak dan Ibu sekalian. “ Celoteh sang vokalis mengawali aksinya.


Aku melepas sepatu boot dan decker yang melindungi lutut. Kurebahkan kepala di lengan sofa, di sebelah Akang, sementara jemari Akang yang hangat mencubit-cubit lembut pipiku. Rasanya nyaman. Ingin tidur sebentar, tapi tak bisa. Aku cukup puas bisa meluruskan pinggang melepas penat setelah lebih kurang tiga setengah jam duduk di jok motor.

 Lantunan live musik cukup enak didengar. Mulai lagu jadul sampai lagu kekinian fasih dinyanyikan sang vokalis.

Ruang eksekutif tak penuh. Banyak sofa-sofa yang masih kosong. Dalam hati aku heran. Dengan tarif Rp. 10.000,- per orang,  dan  jumlah penumpang di ruang eksekutif yang hanya beberapa saja, bagaimana para pemain musik ini memperoleh bayaran. Rasanya tak sebanding.

Keherananku kemudian terjawab.

“Bapak Ibu sekalian, berhubung kami di sini free lance,  jadi kami sangat mengharapkan sumbangsih dari Bapak Ibu di sini. Sebentar lagi akan kami bagikan amplop. Boleh diisi seikhlasnya, berapa pun yang diberikan kami sangat berterima kasih. Lumayanlah buat kami makan hari ini. “  Tutur sang vokalis terdengar memelas.

Oh begitu rupanya. Jadi para pemusik ini memperoleh penghasilan langsung dari tips yang diberikan penumpang. Aku menyelipkan uang ke dalam amplop putih yang dibagikan, lalu kukembalikan pada sang pemusik. Anak muda itu mengucapkan terimakasih.

Ketika melirik ke sudut ruangan, aku tersenyum melihat seorang lelaki  mendengkur. Amplop putih  terjatuh di bawah sofanya, tak ada isi. Seorang wanita paruh baya hanya melengos tak acuh ketika disodori amplop. Lalu ada  seorang Bapak maju ke depan, langsung memberikan selembar uang seratus ribuan ke tangan sang vokalis.

Aku berharap semoga pendapatan para pemusik ini cukup bagus, meski ada beberapa penumpang yang tak peduli.


Pukul 11.10 WIB, kami turun dari kapal ferry, menjejakkan roda motor di aspal Pulau Sumatera, tepatnya di pelabuhan Bakauheni. Matahari terasa menyengat. Sesaat kemudian, Akang membelokkan motor ke kanan, menyusuri jalan lintas Timur Sumatera.

Berbeda suasananya dengan pulau Jawa yang dihiasi jalan berkelok, bukit, jurang, dan pepohonan hijau, jalan di Sumatera lebih banyak lurus, dan agak gersang.


Jam menunjukkan pukul 11.26. Kami memutuskan mampir ke rumah makan Padang Tiga Saudara. Saat touring menuju Palembang tahun lalu, kami juga istirahat di tempat ini. Di jalan lintas Timur Sumatera, agak sulit menemukan rumah makan yang cukup layak. Kebanyakan hanya warung-warung kecil yang kurang bersih. Rumah makan Tiga Saudara menurutku cukup layak, bersih dan nyaman.


Aku dan Akang makan secukupnya. Kami tak berani makan sampai kenyang, karena perut yang kekenyangan akan membuat mata mengantuk.  Naik motor sambil mengantuk sama saja mengundang bahaya. Saat berkendara motor jarak jauh, tidak boleh makan terlalu kenyang tapi juga tak boleh berkendara dengan perut kosong. Dan satu hal lagi, tidak boleh dehidrasi. Di jalan harus tetap minum, apalagi di tengah cuaca panas musim kemarau seperti ini.

Kemudian kami melaksanakan shalat Dzuhur dan Ashar di musholla yang terletak di sisi rumah makan. Sayang sekali musholla itu kurang terawat, kotor berdebu. Setelah shalat rasanya lega dan nyaman. Kami  melanjutkan perjalanan pukul 12.25.

Menyusuri aspal panas di tengah terik matahari musim kemarau, kami meluncur di jalan yang relatif sepi. Akang memacu si Kuning dengan kecepatan bervariasi dari 80-135 Km per jam.  Melewati Mataram Baru dan Way Jepara kemudian Menggala. Di sini kami menemukan segmen jalan yang aspalnya mengelupas, sehingga batu-batu menyembul di permukaan. Kemudian perjalanan lancar melewati Sukadana, pabrik gula pasir,  Tulang Bawang, dan Mesuji.


Ketika mencapai batas propinsi Sumatera Selatan, jam menunjukan pukul 15. 56.WIB. Pemandangan  berganti kelabu. Kabut asap mulai mengepung. Ternyata keluhan teman-temanku yang tinggal di wilayah Sumatera Selatan kini juga kurasakan. Aku dan Akang terpaksa bertahan menembus kabut asap yang menyesakkan dada dan membuat mata perih.

Pukul 17.12 aku meminta Akang mampir ke sebuah mini market di wilayah Ogan Komering Ilir untuk istirahat sebentar. Aku membeli minuman isotonik lalu duduk santai di teras mini market, meluruskan kaki yang terasa pegal.

Seorang anak muda pelayan mini market dengan antusias memperhatikan si Kuning. Dia mengamati stang, body dan roda si Kuning dengan seksama. Tiba-tiba dia berseru padaku.

“ Mbak ini kenapa ya?” Tanyanya. Tangannya menunjuk ke arah roda belakang si Kuning.

Aku menghampirinya, lalu melihat ke bagian yang dimaksud. Kulihat fender atau spark board belakang rusak karena menggesek roda.

Aku berteriak memanggil Akang, memberi tahu keadaan itu

“Alhamdulillah ya Neng, kita tergerak mampir di sini. Jadi bisa ketahuan ada  spark board yang rusak . Kalau tadi kita jalan terus, roda belakang bisa ikut rusak juga karena terus bergesekan dengan spark board. “ Ucap Akang.

Akang kemudian melepaskan spark board  sambil mengucapkan terimakasih pada pelayan mini market.
“Pak, kami numpang berfoto ya di sini.” Seru dua pelayan wanita.


Aku tersenyum-senyum menyaksikan sang pelayan pria mengambil foto  dua gadis muda rekannya  bergaya di sisi si Kuning.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Palembang. Ketika matahari telah  tenggelam, pukul 19.00 WIB suasana kota Palembang tampak berbeda dari biasanya.  Lampu-lampu jalan di kota ini  bersinar suram terkepung asap, memendarkan cahaya redup yang mengantarkan kami seolah berada di kota yang asing.  Ah, sungguh memprihatinkan kondisi kota ini. Sudah berbulan-bulan masyarakat menderita akibat kabut asap, seperti juga rakyat di Riau dan Kalimantan.  Kungkungan kabut asap bahkan juga sudah merambah ke Malaysia dan Singapore.

Kapankah pemerintah serius mengantisipasi bencana yang rutin terjadi setiap tahun di negeri ini? Jawaban pertanyaan itu seolah mengawang-ngawang di langit malam. Tak jelas.

Pukul 19.15 akhirnya aku dan Akang sampai di rumah di Palembang. Bisa sejenak bertemu saudara-saudara-saudara,  mertua dan adikku rasanya senang sekali. Kami makan nasi minyak, dan pempek Palembang yang lezatnya maknyoss..

Malam itu kami tidur nyenyak setelah menempuh perjalanan sejauh 663 Km yang ditempuh dalam waktu 14 jam perjalanan.

Menuju Bangka

Adzan subuh membangunkan kami. Tubuh rasanya bugar kembali setelah tidur nyenyak semalaman. Usai shalat subuh, aku dan Akang bersiap-siap. Pukul 6.00 kami telah sampai di  meeting point, di Hotel Swarna Dwipa, tempat teman-teman berkumpul. Mereka adalah rombongan dari Jakarta yang lebih dahulu sampai di Palembang.


Motor-motor besar berjenis BMW GS 1200, Honda Gold Wing 1800 dan Kawasaki Versys berjejer di halaman hotel. Satu persatu pemilik motor keluar dari pintu hotel membawa barang perlengkapan mereka. Kami saling menyapa.  Sebelum berangkat kami berfoto di depan hotel. Uniknya berfoto bersama sepuluh pria itu membuat aku merasa seperti perawan di sarang penyamun. Hahaha... tentu karena aku perempuan sendirian.


Setelah persiapan usai, rombongan bergerak menuju SPBU, mengisi bahan bakar motor hingga penuh. Kemudian,  kami dipandu rekan dari club motor besar Palembang  berbaur di jalanan macet kota Palembang memenuju arah Tanjung Api-api. Sang rekan melepas kepergian kami di simpang bandara.



Jalan menuju Tanjung Api-api menyuguhkan petualangan dramatis. Bagaimana tidak, kungkungan kabut asap membuat suasana terkesan berselimut misteri. Jarak pandang menyempit. Sekeliling tampak pudar, pohon-pohon terlihat seperti siluet menyeramkan. Bukan cuma mata yg pedih, hati pun ikut pedih melihat sepanjang jalan banyak lahan kering  gosong bekas terbakar. Debu berhamburan. Suasana sekeliling sepi. Gubuk-gubuk kayu dekil berdiri suram. Onggokan batok kelapa menggunung di sisi jalan. Aku seperti berada di negeri antah berantah, ganjil dan asing.

Jalan rusak yang lurus terasa sangat panjang, tak habis-habisnya menyuguhkan goncangan. Aku terpental-pental di jok belakang. Ingatlah kawan, jangan sekali-kali melamun meski kau hanya duduk di boncengan.   Tetaplah fokus pada kondisi jalan yang dilalui. Jangan seperti aku, tenggelam dalam suasana muram yang mengaliri udara.

Melamun di jok belakang alamat sial.  Sebuah hentakan keras akibat lubang jalan membuat tangan kiriku refleks menggenggam begel atau pegangan belakang pada motor. Tapi malangnya  otot leher kiriku tertarik. Akibatnya? Awww! Nyeri menjalar.

Aku tak berkata sepatah pun, tak ingin mengganggu konsentrasi Akang. Kunikmati nyeri mengigit di otot leherku sambil merutuki diri sendiri.

Di sebuah warung  gubuk pinggir jalan,kami berhenti, menanti teman yang ketinggalan. Aku  membeli sebotol air mineral. Sedihnya, botol minuman itu  berselimut debu tebal,seperti botol pusaka yang bertahun-tahun tak dibersihkan. Aku mengunakan tisu basah untuk membersihkan debunya.



“ Pak, pelabuhan Tanjung Api-api masih jauh kah? “ Tanya Akang pada laki-laki pemilik warung.

“ Idak jauh dari sini. Sekitar limo belas menit. Kagek belok ke kiri yo Pak. Ada tulisannyo kok.” Sahut sang pemilik warung dengan logat Palembang yang kental.

Hatiku agak lega mendengar penjelasannya. Setidaknya tak terlalu lama lagi aku terguncang-guncang melewati jalan rusak.

Pukul 9.20 WIB. Gedung pelabuhan Tanjung Api-api terlihat seperti tenggelam dalam kabut. Warna gedung itu tak jelas, antara biru atau abu-abu.


Motor-motor yang lebih kecil tampak berbaris di depan portal pelabuhan. Kami pun masuk antrian.

Kemudian kami membeli tiket kapal.  Harga tiket penumpang dewasa Rp. 38.300,- per orang. Sedangkan untuk motor dengan kapasitas mesin di atas 500 CC sejumlah Rp. 187.450,- per unit.


Untuk urusan pembelian tiket ini aku harus berdiri di depan loket bermenit-menit lamanya, karena petugasnya salah menghitung. Jadi harus ganti tiket lagi, dan semua itu dilakukan sang petugas dengan cara manual, alias ditulis tangan. Tak ada komputer di sini. Ya tentulah lama menulis 11 tiket dengan cara manual. Hehehe...

Urusan antri ini butuh waktu lama. Kapal yang berangkat pukul 11.00 sudah penuh, tak mampu lagi menampung motor-motor kami.

Akibatnya kami harus menunggu kapal berikutnya yang berangkat jam 13.00. Sayang sekali fasilitas pelabuhan Tanjung Api-api tak memadai. Ternyata mencapai Bangka tak mudah. Jangan bandingkan pelabuhan Tanjung Api-api dengan pelabuhan Merak yang kapalnya banyak. Di sini jumlah kapal dan muatannya terbatas. Sudah bisa dibayangkan bagaimana jadinya saat musim mudik lebaran tiba. Hari biasa seperti ini saja keteteran melayani penyeberangan, bagaimana bila jumlah penumpang membludak?

Si Akang dan teman-teman duduk mengobrol sambil minum kopi di satu-satunya kantin pelabuhan. Aku yang perempuan sendirian memilih duduk di kursi ruang tunggu, menyimak berita-berita dari internet lewat ponselku.

Akhirnya, tiba juga saat naik ke kapal. Kami besiap di barisan terdepan. Salah seorang petugas pelabuhan mendekati. Dia berbisik-bisik pada ketua rombongan, yang kemudian merogoh kantungnya mengeluarkan selembar seratus ribuan.


Ah, masih ada pungli di sini.  Bahkan tak cuma sekali. Ketika menyusun parkir motor di dek kapal, kembali petugas meminta uang, Rp.100.000,-. Mau bilang apa? Inilah kenyataan yang terjadi.

Kapal bergerak meninggalkan pelabuhan Tanjung Api-api pukul 13 lebih.  Kami  mengisi waktu selama lebih kurang 3,5 jam berlayar dengan ngobrol, bercanda, shalat zuhur berikut ashar di musholla kapal dan berusaha memejamkan mata untuk tidur sebentar.

Pukul 16.27, kapal merapat di pelabuhan Tanjung Kalian, Bangka. Alhamdulillah. Rasanya senang sekali kembali menapak  pulau ini.



Kami disambut dengan ramah oleh teman-teman dari club motor besar Bangka, salah satunya seorang bule asal Belanda. Pukul 16.52  perjalanan berlanjut.




Kami melintasi Muntok. Ah, tempat ini tak terlalu banyak berubah sejak terakhir aku berada di sini tahun 1994 silam. Jalannya masih mulus, sepi.  Rombongan bergerak dengan kecepatan tinggi melintas jalan  menuju arah Bakit, Kabupaten Bangka Barat.


Sore beranjak malam. Aku duduk diboncengan Akang, menikmati perjalanan.  Hampir tak ada kendaraan lain yang melintas sepanjang jalan.  Sungguh sepi. Kondisi ini menyebabkan rombongan makin memacu kecepatan.



Aku bergidik melihat speedometer si Kuning. Rasanya ini perjalanan paling ngebut yang pernah kurasakan. Meski Akang sudah memacu motornya sedemikian rupa, tetap saja teman-temannya melaju lebih cepat. Kapasitas motor BMW  1200 cc dengan akselerasi mengagumkan tentu tak sebanding dengan si Kuning yang hanya 650 cc. 

Nyeri di otot leher kiriku terasa mengganggu. Lelah dan lapar mendera. Tapi aku tak sudi mengeluh. Kami melintasi beberapa perkampungan, masuk ke jalan-jalan kecil. Rasanya lama sekali hingga akhirnya kami tiba di rumah makan Pondok Laut, pukul 18.21.


Jarak dari Tanjung Kalian ke tempat ini adalah 105 Km. Perkiraan lama waktu tempuh yang 2 jam 18 menit ternyata hanya kami tempuh selama 1 jam 29 menit saja.  Pantas rasanya seperti melayang.

Rumah makan itu sederhana. Bangunannya semacam gubuk dari kayu dengan atap rumbia. Tapi bangunan itu dibuat menjorok ke laut. Kami bisa melihat hempasan ombak dibawah gubuk, lalu memandang laut  dan merasakan terpaan angin laut.

Di tempat ini kami bertemu dengan rombongan para istri. Diantaranya Bu Yugen, Mbak Pipit, Widi dan dua orang lagi yang sudah menunggu sejak sore hari.







Alhamdulillah... akhirnya perut terisi dengan nasi hangat, ikan, udang,cumi bakar dan kepiting. Yummy....
Total jarak tempuh yang telah dicapai sejak dari Bogor, Palembang, hingga ke rumah makan Pondok Laut kemudian ke hotel di wilayah Belinyu tempat kami menginap adalah 966,7 Km.

  Nantikan petualangan kami di Pulau Bangka selanjutnya ya..

21 komentar:

Ila Rizky mengatakan...

motornya sangar2, mba Dewi :D
keren bisa tembus dari bogor sampai ke pulau sebrang

Juliana Dewi mengatakan...

@Ila Rizky : terimakasih sudah mampir ke sini :-)

Ika Puspitasari mengatakan...

Seru-seru cerita touringnya mb Iwed...
tahun ini mau touring kemana lagi nih? ditunggu cerita serunya lagi... :)

Juliana Dewi mengatakan...

@Ika Puspitasaru : pengen ke Sumatera Barat, Mbak.. Insya Allah

astin mengatakan...

Perjalanannya seru sekali ya, Mbak. Dari Bogor Jawa Barat ke Sulawesi trus ke Bangka. Enggak kebayang debu yang menempel di wajah dan kepenatannya. Hihiii,

rita asmaraningsih mengatakan...

Wah...seru banget ya Mba pengalamannya.. Touring rame2 naik motor gede ke pulau Bangka.. Aku juga dah pernah ke Bangka, pantainya memang cantik2 ya Mba..

Jalan-jalan Rita mengatakan...

Di pulau Bangka memang terkenal dengan pantai2nya yang indah.. Namanya juga pulau ya Mba tentunya dikelilingi pantai ya, hehe.. Pengalaman touring yang seru nih kayaknya ..

Juliana Dewi mengatakan...

@astin : dari Bogor ke Sumatera Selatan, Mbak, bukan Sulawesi
:-)

Juliana Dewi mengatakan...

@rita asmaraningsih : betul... Semoga kelestarian alam Bangka tetap terjaga

Juliana Dewi mengatakan...

@Jalan-jalan Rita :hehe.. alhamdulillah seru. ..

Ria Rochma mengatakan...

Udah lama ngga pergi jauh pakai motor. Duh, ngga kebayang gimana pegelnya punggung dan panggul di perjalanan sejauh itu. Semangat yang hebat!

Ratna Dewi mengatakan...

Wiiihh seru banget. Aku ngeces liat seafoodnya mbak, udang sama kepitingnya gede-gede banget.

Forester mengatakan...

wuih petualangannya keren Mbak ..

Salam,
Panduan Wisata Indonesia

Juliana Dewi mengatakan...

@Ria Rochma : hehehe..kalo pegel istirahat dulu :-)

Juliana Dewi mengatakan...

@Ratna Dewi : masih segar, fresh from the sea ;-)

Juliana Dewi mengatakan...

@Forester : terimakasih

Nefertite Fatriyanti mengatakan...

Membayangkan sebuah perjalanan yang panjang dan penuh petualangan, aiih, amazing pastinya.
Dibukukan mba, kan sudah touring sampai kemana-mana. Bisa jadi panduan utnuk yang suka tour.

Adi Mangunkusumo mengatakan...

seru sekali perjalananya ke bangka mbak dewi, saya juga suka piknik naik motor heee

salam satu aspal

Ani Berta mengatakan...

Biker cantik ini :D

isi saku mengatakan...

Jiaahh... ini mah Traveller tangguh. Udah enak ditawarin naek pesawat malah milih nyang 'membumi'. Keren banget, Mbak. Keknya boleh juga ngikutin pelesiran gaya susah tapi puas ala Mbak Juliana Dewi. Tapi Koq ke Bangka nya cuma ke Muntok aja, Babel masih punya banyak tempat uniq lagi lho.
Ditunggu cerita Touring laennya ya, Mbak. Request pake seru banget.

Unknown mengatakan...

mantab mbak. salut lebih memeilih bareng si akang on road daripada naik burung besi. iri deh sama kalian :)