Minggu, 04 Oktober 2015

Piknik Ala Biker dan Boncenger


“Kayaknya sudah mulai nggak bahagia nih.” Ucap suamiku, si Akang, sambil melemparkan pandangannya ke langit-langit kamar.

Aku yang berbaring di sisinya langsung terbahak.

“Jadi, kita mau kemana?” Sahutku.

Aku sudah paham adatnya bila  lama tak piknik. Bagi kami, piknik itu penting. Selain untuk menaikkan kadar kebahagiaan, juga untuk melepaskan kepenatan.

Akang bekerja selama dua minggu di pinggir pantai Selat Malaka. Tanggung jawabnya menjaga eksplorasi minyak dan gas berjalan lancar bukanlah pekerjaan mudah. Piknik bagi Akang  merupakan sarana  menjernihkan pikiran, meningkatkan produktivitas dan semangat kerja.

Sedangkan bagi emak-emak dasteran sepertiku, piknik tak ubahnya kesempatan melihat dunia di luar urusan anak, rumah, arisan, belanja, dan  aktivitas ibu rumah tangga lainnya yang kugeluti setiap hari. Dari kegiatan piknik aku dapat ide menulis, dan memperoleh pelajaran tentang berbagai hikmah kehidupan.

Lalu piknik macam apa yang kami lakukan? Tentu saja piknik ala biker dan boncenger!


Kalau sensasi kurang piknik sudah mencekik, kami  menyiapkan perjalanan. Kami mengatur urusan anak-anak dan rumah agar aman dan lancar saat ditinggal. Packing, menyusun barang bawaan  di bagasi motor, mengenakan peralatan safety driving, dan wuzzz... Berangkaaat!!

Tujuan piknik  tergantung hasil diskusi, dan lamanya waktu yang tersedia. Dari rumah di Bogor, kami pernah ke Jogja, pantai-pantai di Banten, Kuningan-Cirebon, Dieng, Guci Tegal, Bromo, Situbondo,Palembang dan lain-lain.

Pantai Malingping

Palembang

Kuningan


Tujuan piknik tak selalu berjarak jauh. Kadang  hanya liburan di Bogor, misalnya  ke Curug Nangka di Ciapus,  sarapan pagi makan bubur ayam di Cianjur,  menikmati malam  romantis di resto kawasan Puncak, atau blusukan ke kampung-kampung di pelosok Bogor.

Curug Nangka


Piknik bagiku merupakan nutrisi jiwa. Yang paling “drama” adalah pengalaman emosional ketika melihat keindahan alam ciptaan Tuhan atau peristiwa menyentuh yang kujumpai saat jalan-jalan.

Malu juga mengakui kalau aku cengeng, tapi memang demikianlah adanya. Sensasi rasa saat melihat keindahan karyaNya secara langsung sering membuat air mataku mengalir, dan hatiku memuja kebesaranNya.

Ketika itu, kami melewati jalan  tinggi di atas tebing di daerah Bayah, Banten saat  senja hampir memeluk malam. Di bawah sana, jurang hijau menghampar berbatas  putihnya pasir pantai. Laut biru dihiasi  perahu-perahu berlayar putih.  Barisan bukit hijau bertaut gunung menjadi latar  indah sementara kilau keemasan matahari senja menyempurnakan lukisan alam. Indahnya, Masya Allah...Aku terkesima dengan mata basah.


Dieng Plateau

Di lain waktu, air mataku menetes mendengar adzan maghrib berkumandang dalam keheningan alam dan  udara dingin mengigit di  kawasan wisata Dieng Plateau. Kala itu aku dan Akang meliuk-liuk di atas motor menyusuri jalan mulus sepi menanjak menuju penginapan. Pemandangan spektakuler negeri di atas awan dengan bulan bulat bertahta di langit  menguras emosiku.  Puncaknya aku merasa begitu dekat denganNya. Bersyukur dan meyakini kekuasaanNya. Perasaan itu sangat indah, sangat nyaman, sangat berkesan,  membuat aku  ingin  merasakannya lagi, dan lagi.

Aku dan Akang adalah team. Selama perjalanan piknik, kami harus kompak. Apa pun yang terjadi aku harus pandai-pandai memahami dan mendukung Akang.

Kadang-kadang aku bertugas membaca GPS dan menunjukkan arah perjalanan, sehingga Akang bisa lebih fokus mengendarai motor. Sebagai boncenger yang duduk manis di jok belakang, aku harus menjadi partner perjalanan yang menyenangkan. Sabar, tidak rewel, tidak manja,  tidak suka mengeluh. Hal ini penting untuk menjaga mood Akang.


Terperosok ke lumpur

Piknik kami tak selalu indah berbunga-bunga. Ada kalanya hal yang tak diinginkan terjadi. Motor pernah terjebak lumpur saat touring menuju Palembang. Yang kulakukan saat itu adalah tetap tenang dan mengupayakan datangnya bala bantuan. Pantang bagiku mengomel atau protes karena meluapkan emosi seperti itu hanya akan memperkeruh keadaan.

Memperbaiki knalpot 

Motor  kami pernah menghantam batu besar hingga knalpot terganggu dalam perjalanan kembali ke Bogor. Yang kulakukan adalah duduk tenang tak mengeluh, menunggui Akang dan montir motor membereskan knalpot di tengah  udara panas menyengat.

Pelajaran selanjutnya dalam piknik ala biker  adalah harus pandai bersyukur, dan  fleksibel menerima keadaan. Misalnya saat kami kelaparan menyusuri pelosok jalan sepi menuju pantai Sawarna. Saat itu aku tak bisa menuntut Akang mengajakku makan di resto  keren dengan hidangan lezat. Di pelosok desa itu yang ada hanya warung kecil dengan menu mie instan dicampur telur. Tapi kalau hati senang dan bersyukur, semangkuk mie instan panas mengepul dan secangkir white coffe ala warung kampung  rasa nikmatnya selangit!

Istirahat di warung kampung

Lelah yang parah pernah memaksa  kami  tidur  di emperan pom bensin sekitar pukul 3.00 dini hari. Saat itu kami menuju pantai Pangandaran. Kami terjebak   macet luar biasa sehingga  menguras kondisi fisik. Aku kasihan pada Akang yang harus menahan beban menegakkan motor berbobot 400-an kg, ditambah berat bagasi, dan berat tubuhku. Aku tak tega memintanya  mencari hotel, karena wajah lelah Akang terlihat jelas. Lelaki belahan jiwa itu memarkir motornya, kemudian merebahkan tubuh. Aku pun berbaring di sisinya. Tidur sejenak beralaskan lengan si Akang dalam kondisi penat di  teras pom bensin rasanya nikmat saja tuh... hahaha...Justru hal itu menjadi pengalaman tak terlupakan. Dua jam  tertidur, ketika bangun untuk shalat subuh kami sudah merasa segar lagi untuk melanjutkan perjalanan.


Banjir

Terjebak banjir? Pernah dong. Kala itu kami dalam perjalanan pulang dari Dieng Plateau. Tiba-tiba banjir mengepung di jalan Raya Garut- Bandung km 24, tak mungkin lagi kami berbalik arah. Mesin motor padam, tak ada orang yang membantu  karena kendaraan mereka pun sama saja nasibnya. Mogok. Tak ada pilihan, meski Akang tak tega, akulah yang turun dari motor.  Terjun di genangan air  banjir mendorong motor berbobot ratusan kilogram itu sungguh membuatku tersengal-sengal. Untunglah akhinya ada dua anak yang membantu mendorong motor hingga mencapai sisi jalan yang bebas banjir.

Piknik  seringkali mengajarkan hikmah kehidupan. Aku belajar bagaimana menjaga cinta dan keharmonisan rumah tangga dari pasangan biker senior yang menjadi teman touring kami.  Aku mendapat pelajaran dari kisah-kisah hidup para penduduk di tempat tujuan touring,  misalnya saja dari penduduk di kaki gunung Bromo dan lain sebagainya.




Bromo

Dari piknik, aku belajar  bersyukur, fleksibel menerima berbagai kondisi, mengelola emosi dengan tepat, membangun romantisme, kedekatan, kerja sama dan kekompakan dengan Akang. Aku  belajar banyak hal tentang kehidupan,  dan  mendapat bonus nutrisi jiwa  saat memandang keindahan alam ciptaanNya. Aku dan Akang merasa memperoleh energi baru setelah melakukan piknik.

Jadi, masih adakah  yang bilang piknik itu tak penting?
#ALUMNI_SEKOLAHPEREMPUAN
#sekolahperempuan

27 komentar:

kartina ika sari mengatakan...

wahh seru banget petualangannya mbak...puas rasanya ya piknik model begini

Juliana Dewi mengatakan...

@kartina ika sari : Alhamdulillah... :-)

Een Endah mengatakan...

keren euy

nani djabar mengatakan...

Hmm...seruuu :)

Nurul Fitri Fatkhani mengatakan...

Tidur berdua di pom bensin? so sweet..hi..hi...

suria riza mengatakan...

kerennnn jalan-jalannya sampe jauh2 ga pegel ya mbak? tapi aku pengen..semoga bisa merasakan jalan-jalan touring gitu juga suatu saat nanti :")

Efi Fitriyyah mengatakan...

Duh kebayang kalau aku yang kecil mungil ini bantu dorong motor seberat 400 kg itu dari kubangan lumpur. Ga ada tenaga kali ya, mbak :) Tapi asik nih pemandangannya Cakeeep

aktivitasedomita mengatakan...

Wiiih...romantis. Pengen ah kayak gitu, tapi motornya itu loh yang nggak kuat belinya. hihihi...

Maya Siswadi mengatakan...

Piknik itu penting bangeeetttt

Juliana Dewi mengatakan...

@Een Endah : uhuuy :-)

Juliana Dewi mengatakan...

@nani djabar : yeaaay...seruu

Juliana Dewi mengatakan...

@Nurul Fitri Fatkhani : hihihihi...nyicip jadi gelandangan :-)

Juliana Dewi mengatakan...

@suria riza : Aamiin...

Juliana Dewi mengatakan...

@Efi Fittiyyah : untung ada yg bantu, kalo nggak ya susah juga...hehehe..

Juliana Dewi mengatakan...

@aktivitasedomita : hehehe... Mari menabung

Juliana Dewi mengatakan...

@Maya Siswadi : setujuuuu...!!!

Afifah Mazaya mengatakan...

Pengalaman-pengalaman nggak mengenakkan, kayak terjebak banjir, itu yang bikin perjalanan seru. Kereeen.

Juliana Dewi mengatakan...

@Afifah Mazaya : waktu mengalaminya rasanya pengen nangis, tapi ketika sudah melewatinya malah ngakak kalau dingat lagi. Hehehe..gak kapok deh...

Pengobatan Luka Bakar mengatakan...

seru ya mbak, piknik emang sangat penting sekali :)

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Gileeee seru banget pikniknya hahahaha! Ampuuun ... aku angkat tangan, dah, sama ibu biker. :))

Dedew mengatakan...

kereeen pisan mbaaa, hanimun teruuus hehe....hihihi...seru ya menejelajah sampai jauuh..

noerazhka mengatakan...

duh, asik banget sih pikniknya touring pake moge gitu, mba .. :D

Murtiyarini, Arin mengatakan...

terimakasih partisipasinya. maaf pengumuman diundur tgl 20 oktober. goodluck

Murtiyarini, Arin mengatakan...

terimakasih partisipasinya. maaf pengumuman diundur tgl 20 oktober. goodluck

evrinasp mengatakan...

kerenlah si akang teteh mah, kuat bener piknik motoran begitu

Fahmi (catperku.com) mengatakan...

Waaah! Seru banget touring pake motor :D

Nefertite Fatriyanti mengatakan...

Kebayang serunya berbagai pengalaman itu ya mba. Kalau mba Iwed bisa bikin buku harian, bisa jadi novel tuh mba, hehehe