Minggu, 13 September 2015

Kisah Inspiratif Sahabat Lamaku, Yosi Matsu


Aku  mengobrol seru dengan Patriani, Santi, Devi Arianto dan Dedi Agustian, membongkar-bongkar kembali kenangan lama yang konyolnya kerap  membuat kami terbahak.  Mereka semua adalah teman lamaku, lebih dari dua puluhan tahun lalu kami adalah siswa SMP 19 Palembang.  Pertemuan ini tak direncanakan sebelumnya, tiba-tiba saja aku ditelpon untuk datang ke rumah Patriani, karena Dedi yang datang dari  di Palembang mampir ke rumah Patriani. Jadilah reuni dadakan ini terlaksana.

Aku, Patriani, Santi, Dedi dan Devi


“Yus mau datang ke sini. Sekarang sedang dalam perjalanan!”Seru Patriani setelah menutup pembicaraan di ponselnya.

Kontan ucapan Patri membuat kami bersemangat. Sebelum pertemuan ini, aku sudah pernah bertemu Dedi, Devi, Santi dan Patriani. Tapi dengan Yus, bisa dikatakan pertemuan terakhir dengannya berjarak lebih dua puluhan tahun lalu. Rindu sekali  aku pada teman lamaku itu.

Ingatanku terlempar ke masa lalu,ketika kami masih berseragam putih biru.  Aku sekelas dengan Patri, Devi, dan Dedi, sementara Santi dan Yus berada di kelas yang berbeda. Meski berbeda kelas, aku sering juga menyambangi teman-teman di kelas lain.

Seingatku Yus, atau lengkapnya Yusaidin Mahfi,  adalah anak laki-laki kecil keriting dengan cara bicara yang unik. Aku dulu tak mengerti mengapa kalau Yus bicara, suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Lalu bila bicara padanya, kami teman-temannya, harus menggerakkan bibir  perlahan hingga dia bisa menangkap maksud pembicaraan.


Salah seorang temanku, Sri Andriani mengatakan kalau Yus penderita tuna rungu. Dia tak mampu mendengar. Selain itu, Yus adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara, sementara ayah dan ibunya telah meninggal. Simpatiku pada Yus makin menebal saat mengetahui keadaannya itu.

Suatu hari, aku tengah berjalan berdua dengan salah satu primadona sekolahku. Si cantik itu menangkap bayangan Yus di pintu kelas.  Dia melambai memanggil Yus, dan Yus pun mendekati kami dengan wajah riang.

“Yus, kau pekak.” Ujar si Cantik. Kata-katanya sungguh membuat aku tersentak kaget.

“Duh, kok tega melontarkan ejekan seperti itu.” Batinku.

Yus melongo. “Apa?” Tanyanya.

Si Cantik  mengulangi kata-katanya perlahan dengan gerak bibir mengucapkan kata “p-e-k-ak”. Dalam bahasa Palembang pekak  adalah  tak bisa mendengar atau tuli.

Perasaanku tak karuan, ingin rasanya marah pada si Cantik. Dan ingin rasanya mengatakan pada Yus supaya tak mengacuhkan ejekan si Cantik.

Aku menatap Yus. Kukira dia akan marah, atau terluka, lalu sedih. Tapi sudut-sudut bibir anak lelaki keriting itu naik membentuk senyum. Dia membelalakkan matanya dengan jenaka, kedua tangannya terangkat, jemarinya bergerak-gerak seperti orang ingin mencubit dengan gemas.

Si cantik berteriak lalu lari melesat. Yus tertawa mengejarnya. Aku berdiri  di teras kelas, menatap takjub dua anak  berseragam putih biru berkejar-kejaran di halaman sekolah sambil tertawa-tawa riang.

Lama aku merenungi makna kejadian itu. Aku tahu ada sesuatu yang istimewa pada diri Yus. Bukan karena dia tuna rungu. Tapi lebih dari itu. Di usia sangat muda, dia telah menerima takdir yang digariskan Tuhan dengan penuh keikhlasan. Itu terlihat dari sikapnya menghadapi ejekan teman.  Kalau aku yang berada di posisi Yus, pasti hatiku terluka oleh tingkah  si Cantik. Aku akan berlari membenamkan wajah di telapak tangan dan menangis tersedu di sudut kelas. Yus berbeda,  dia menanggapinya dengan santai dan kocak. Menurutku, dia punya hati yang lapang, seluas samudra.

Yus sering mengalami kesulitan menerima materi pelajaran dari guru, sebab dia sulit menangkap gerak bibir guru saat menyampaikan pelajaran di kelas.

Ada dua anak yang menjadi “the haters”. Mereka sering sekali mengejek   ketidakmampuan Yus mendengar dan kesulitannya membaca gerak bibir guru.

“Terima sajalah, kau pasti tak naik kelas, Yus!” Ejek mereka.

Untung Yus punya teman  baik, Nila Manggareni yang biasa dipanggil Momoy. Dialah yang selalu mengajari Yus memahami rumus-rumus yang diajari para guru, hingga Yus bisa mengejar ketinggalan pelajarannya.

Suatu hari setelah kenaikan kelas, Yus melihat dua orang the haters masih duduk di kelas yang lama sementara Yus sudah pindah  kelas . Lalu dengan lugunya Yus menghampir the haters  sambil bertanya.

“Lho, kenapa kalian berdua masih di kelas ini? “

Dua anak itu hanya diam dan menjauh, tampaknya mereka malu. Barulah Yus sadar kalau mereka tak naik kelas!

Satu hal lagi yang aku ingat, dalam hal seni menggambar, Yus juaranya.  Tuhan menganugerahkan jiwa seni yang tinggi pada anak lelaki kecil keriting itu. Aku kerap terkagum-kagum pada hasil karyanya. Seringkali yang digambar Yus hanya objek sederhana , misalnya sebatang pohon. Tapi tarikan garis dari pensil di tangan Yus menciptakan detail yang sangat halus, mirip objek aslinya.

Tamat SMP, Yus berhasil masuk ke SMA Negeri 3 Palembang. Dia kembali satu sekolah dengan aku, Patri, dan Devi, meskipun kami tak sekelas.  Sementara itu kemampuan Yus memahami gerak bibir makin berkembang. Dia  bisa mengikuti pelajaran di SMA, bahkan sempat masuk ranking 5 di kelasnya.

 “Yus datang!” Teriak Devi dari luar rumah.

Dedi bersembunyi di balik pintu. Patri bergegas menyongsong Yus yang melangkah masuk dengan wajah sumringah. Kami berteriak-teriak kesenangan. Patri,   aku  dan Santi menyalami Yus dengan riang. Tak lama kemudian Dedi mengejutkan Yus, lalu mereka berpelukan erat melepas rindu di tengah tawa berderai.

Dedi dan Yosi

Senangnya bisa berjumpa kawan lama! Alhamdulillah...

Media sosial  facebooklah yang telah berjasa menyambungkan kembali tali silaturrahmi aku dan Yus beberapa tahun lalu. Suatu hari aku mendapatkan permintaan pertemanan dari seseorang bernama Yosi Matsu. Ketika kuperhatikan fotonya, aku ingat sosok Yus, tapi namanya kok berbeda. Ternyata Yus kini lebih dikenal dengan nama Yosi Matsu. Lebih mudah diingat, begitulah alasan mengapa dia memakai nama itu.

Anak kecil keriting itu kini tak kecil dan tak  keriting lagi. Tidak jauh-jauh dari bakat seninya, kawan kecilku  sudah menjelma menjadi pelukis yang melukis dengan cahaya, alias fotografer.  Aku terkesan melihat foto-foto karyanya yang menampilkan artis-artis ternama.

Pertemuan ini sungguh membahagiakan. Aku  ingin berbincang-bincang dengan Yus, untuk mengetahui perjalanan hidup yang telah  menempanya menjadi Yosi Matsu, sang fotografer.

Yosi, aku, Dedi, Devi, Patriani dan Santi

Sosok Yus secara fisik telah jauh berbeda. Tapi dia masih tetap  Yus yang dulu, yang lucu, kocak, hangat penuh persahabatan.

Kami berbincang penuh canda  di ruang duduk sambil makan pempek, otak-otak,lapis talas bogor dan asinan bogor.


“Ingatkah Yus, zaman SMP dulu aku  minta kau buatkan kartu valentine merah jambu. Yang kertasnya wangi. Kau bikin kartu itu bagus bukan kepalang. Aku puas sekali dengan hasilnya. Kau tahu, kepada siapa kartu itu aku berikan?” Tanya Devi pada Yus.

Yus menggeleng.

Devi menunjuk Santi yang sedang makan pempek.

“Itu dia orangnya. Tapi sayang, cinta monyetku ditolaknya. Hahaha...” Ujar Devi. Pecahlah tawa kami. Santi pun tak dapat menahan geli.

“Sungguh sial, sudahlah ditolak Santi, aku kena lemparan batu di kepala hingga berdarah-darah. Yang melemparku itu cowok yang naksir Santi. Dia cemburu karna aku mendekati Santi. “ Sambung Devi dengan senyum lebar. Oalaaah... Nasibmu Dev! Haha...

Sesaat sebelum menikmati pindang dan brengkes patin

Obrolan kami berlanjut sambil menikmati pindang patin dan brengkes patin hasil masakan Patriani. Hidangan lezat ala Palembang itu mau tak mau membawa kami menyusuri masa lalu. Dalam pertemuan kali ini, bisa dikatakan Yus  alias Yosi, adalah bintangnya. Betapa kami semua merasa senang akan kehadirannya. Terutama aku yang sudah menantikan kisah perjalanan hidupnya.

Dahulu, hidup tidaklah mudah bagi Yosi. Di usia 9 tahun dia kehilangan kemampuan mendengar karena penyakit tifus, lalu di usia 10 tahun kedua orang tuanya meninggal. Dia diasuh oleh kakak-kakaknya di Palembang.

Setamat SMA dia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Rupa & Design Indonesia (STISI) Bandung. Yosi mengambil jurusan Desain  Komunikasi Visual. Di masa kuliah inilah dia memperoleh ilmu fotografi. Sambil kuliah, Yosi  memulai kariernya sebagai fotografer  dengan memanfaatkan kamera analog 35-mm pemberian pamannya.  Pelanggannya tak lain adalah teman-teman kuliahnya.

Setamat kuliah Yosi melamar kesana kemari untuk menjadi seorang desainer grafis.  Sayang sekali, dia menerima penolakan demi penolakan, alasannya hanya  karena Yosi tak mampu mendengar.

Terlalu naif bila mengatakan kekurangan pendengaran Yosi jadi masalah. Kenyataannya, hal ini menjadi ujian kesabaran yang berat dalam hal memperoleh kesempatan bekerja. Dia tak habis pikir mengapa orang-orang hanya memandang kekurangannya, padahal dia berani adu kemampuan  di bidang desain grafis.  Sekian banyak penolakan yang diterimanya memaksa Yosi beralih fokus pada keahliannya di bidang fotografi.

Dia melamar ke berbagai studio foto untuk menjadi fotografer. Tapi lagi-lagi berbagai penolakan  harus dihadapinya oleh sebab yang sama. Kali ini Yosi tak menyerah. Dia terus berusaha mencari pekerjaan hingga tahun 2006, dia diterima bekerja di Arifin Yosodharmo Foto Studio.

Yosi, aku dan Patriani

Bekerja di studio foto ini membuka peluang Yosi mempelajari fotografi digital. Lebih kurang dua tahun kemudian Yosi memutuskan mengundurkan diri dari studio itu untuk memulai karier sebagai fotografer lepas. Dia kembali melamar ke berbagai studio foto. Namun sejarah kembali terulang. Berkali-kali dia menerima penolakan.

Yosi menghadapi kenyataan pahit itu dengan tabah. Dia terus berjuang menegakkan diri. Bersama salah seorang teman, dia membuka usaha foto studio di daerah Cimanggu Bogor dengan sistem  kemitraan bagi hasil.

“Studionya sepi, gak laku. Kami merugi, lalu tutup.“ Ucap Yosi  mengenang masa-masa sulit hidupnya.

Silaturrahmi membawa berkah. Hal ini sudah dibuktikan oleh Yosi. Satu kelebihan  Yosi adalah kemampuannya bersosialisasi. Yosi berkepribadian hangat dan merupakan teman yang menyenangkan.  Tahun 2007 dia berkenalan dengan Selvy Lei, seorang makeup artist profesional. Selvy memperkenalkan Yosi pada klien- klien baru, termasuk juga beberapa selebritis.

Kemudian Yosi membuka usaha dengan menyewa ruang kecil di sebuah bangunan komersial di Jalan Margonda Raya, Depok tahun 2009. Modal usaha didapat dengan meminjam uang kakak perempuannya, Srimulyani.

Pintu rezeki pun terkuak, makin lama makin lebar. Yosi mulai memperoleh pelanggan. Dia memotret bayi, anak-anak, remaja, dewasa hingga mengabadikan moment bahagia  keluarga. Hal ini dilakukan di studionya maupun di tempat lain, in-door atau out-door, sesuai permintaan kliennya.



Foto-foto hasil karya Yosi

Kemampuan Yosi pun makin berkembang, hasil karyanya telah menarik beberapa selebritis untuk memakai jasanya. 

“Aku memotret Krisdayati dan Raul Lemos.” Ujar Yosi. “ Aku tak perduli dengan masalah pribadi mereka di masa lalu yang cukup heboh dengan pasangan masing-masing. Aku menjalankan tugasku  mengabadikan kebahagiaan mereka dengan kemampuan terbaikku. “

“Setiap orang yang difoto tentu ingin mengabadikan kebahagiaan agar bisa  dikenang di masa yang akan datang. Tugasku adalah menangkap moment bahagia itu dan melukiskannya dengan cahaya, menempatkan dalam frame yang indah, hingga siapapun mampu merasakan kebahagiaan itu kala menatap foto karyaku. “ Sambung Yosi.

Kesulitan, hambatan dan cobaan hidup yang dulu menghadangnya kini telah berbuah manis. Yosi telah membuktikan kemampuannya di bidang fotografi. Bersama  “YOSIMATSU STUDIO” Yosi  makin  mengembangkan sayap. Bukan hanya Krisdayati dan suaminya, tapi sederet nama artis lainnya telah menjadi pelanggan Yosi. Misalnya Dorce Gamalama, Natalie Sarah dan lain-lain.  Beberapa kedutaan,  antara lain Kedutaan Finlandia, dan kedutaan Brazil pun menjadi kliennya. Yosi juga pernah mengabadikan moment bahagia pernikahan anak duta besar Papua Nugini.  Aku ikut senang dan bangga akan kesuksesannya.

Salah satu klien Yosi, artis Dorce

Pernikahan putri angkat Dorce

Patriani dan Devi tampak sangat berminat untuk membuat foto keluarga di studio Yosi yang beralamat di Jl. Margonda Raya no. 1A Depok, no contact Wa +62 818878004 ; pin 73f8cf63. Foto-foto hasil karya Yosi Matsu bisa dilihat di instagram @yosimatsu    

Hari ini aku kembali mendapat pelajaran. Selalu ada  hikmah dalam setiap pertemuan, terutama pertemuan dengan teman-teman lama. Kawan kecilku, Yus alias Yosi si  keriting lucu,   memberiku inspirasi. Bahwa kekurangan fisik bukan hambatan,  bahwa penolakan bukan alasan untuk berhenti melangkah, bahwa silaturrahmi sungguh membawa berkah, dan Tuhan pasti akan memberi ganjaran atas kerja keras yang disertai  kesungguhan. Alhamdulillah...

13 komentar:

Ida Tahmidah mengatakan...

Wah ceritanya inspiratif...:) tks sudah berbagi.....:)

Winny Widyawati mengatakan...

Senangnya bisa ketemu teman lama yang inspiratif pula ya

Winda Carmelita mengatakan...

Terharu banget, dibalik ketidaksempurnaannya Mas Yus ternyata lebih dari sempurnya ya Mbak :)

Ririe Khayan mengatakan...

Kemampuan Mas Yosi untuk melukis dengan cahaya, terlihat "hiudp",

Salut dengan perjuangan beliau hingga menjadi fotografer yg handal spt sekarang. Oh iya, ternyata sakit thypus bisa sampai menyebabkan kehilangan pendengaran ya?

Salam sukses buat Mas Yosi, semoga semangatnya menular secara viral:)

Ratna Rathie mengatakan...

Turut bangga ama perjuangannya. Selalu ada kelebihan lain di balik keterbatasan fisik

Donna Imelda mengatakan...

beneran euy, kisahnya inspiratif banget ya. Aku iri dengan kegigihannya. Dan aku juga salut dengan persahabatan kalian. Semoga abadi yaaa

Juliana Dewi mengatakan...

Terimakasih @Ida Tahmidah, @Winny Widyawati @Winda Carmelita @Ratna Rathie Syukur Alhamdulillah bila kisah sahabatku ini bisa menjadi inspirasi. :-)


Juliana Dewi mengatakan...

@Ririe Khayan :Aamiin... oke nanti salamnya disampaikan :-)

Juliana Dewi mengatakan...

@Donna Imelda :Aamiin... Terimakasih Mbak Donna

yuni zuhri mengatakan...

Kisah yosi sungguh menginspirasi ya mba

Juliana Dewi mengatakan...

@yuni zuhri : iya Mbak Yuni.. Terimakasih sudah mampir :)

Dewi Rieka mengatakan...

terharuu, mas yosi keren bangeeet...barakallah...

Mirsa Megawati mengatakan...

Subhanalloh...masih diberi kesempatan berkumpul dengan sahabat