Sabtu, 21 Juni 2014

Sehat dan Langsing dengan Kimchi


Senja hampir memeluk malam ketika aku, suamiku dan Mr. Danny duduk menikmati secangkir kopi di Paul Basset Coffee di kawasan Dong Daemun, Seoul, Korea Selatan. Hawa dingin 5 derajat Celcius membuat hembusan nafas kami beruap. Suamiku berbincang dengan Mr. Danny yang orang asli Korea tapi fasih sekali bahasa Indonesianya. Perbincangan mereka tentang perekonomian Korea Selatan yang maju pesat  tidak membangkitkan minatku. Aku lebih tertarik mengamati orang yang lalu lalang keluar masuk mall. Mereka anak muda yang berdandan modis meskipun tetap dengan mantel dan jaket tebal. Setelah setengah hari keluyuran di mall lalu duduk di caffe ini sambil mengamati, barulah aku sadar. Dari sekian banyak pengunjung mall, ternyata jarang sekali  yang bertubuh gemuk. Kalaupun ada beberapa orang yang gemuk, mereka itu kalau tidak bule, ya Melayu dengan kulit sawo matang.

“ Mr. Danny, kenapa orang Korea langsing-langsing? “ Tanyaku penasaran. “ Oya? Seperti saya juga kan? “. Tukas Mr. Danny sambil terkekeh. Diseruputnya capuccino sebelum menjawab pertanyaanku. “ Itu karena pola makan kami  sehat. Kami gemar makan sayuran. Kimchi.” Ucapnya bangga.

Kimchi adalah menu  tradisional Korea berupa asinan sayur yang difermentasi. Bumbunya berwarna merah dan rasanya pedas-asam-asin. Agak mirip asinan sayuran Bogor, hanya saja rasa manis pada kimchi tidak menonjol. Selama aku berlibur di Korea, setiap kali makan  di resto manapun, selalu ada menu kimchi yang dihidangkan.

“ Jadi kimchi yang selalu ada di  menu makan kita selama beberapa hari di sini  bisa membuat langsing? Waah... kalau begitu aku mau belajar bikin kimchi. Siapa tau aku juga bisa langsing kalo setiap hari makan kimchi .” Kataku malu-malu. “ Nanti ya, kita ke Kimchi  Culinary School.” Sahutnya. “ Disana orang bisa belajar membuat kimchi. Dan nanti akan dijelaskan semua hal tentang kimchi.”

Mr. Danny benar-benar menepati janjinya. Keesokan paginya aku sudah berada di sebuah ruangan  bersama sekitar 20 orang lainnya di Kimchi Culinary School. Di atas meja di depan para peserta kursus membuat kimchi, tersedia  piring lebar dengan satu bonggol sawi  yang sudah terlebih dulu direndam air garam . Lalu ada  bumbu halus berwarna merah. Seorang wanita Korea menjelaskan asal-usul Kimchi, lalu Mr. Danny menterjemahkannya.

Di Korea, hanya ada waktu –waktu tertentu  dimana tersedia sayuran segar. Di musim dingin tak ada sayuran yang tumbuh. Kimchi dibuat untuk menjamin ketersediaan sayuran sepanjang tahun di Korea. Dalam hati aku bersyukur, tinggal di Indonesia yang beriklim tropis dan selalu ada sayuran segar setiap hari.

Ada sekitar 200 jenis kimchi, tapi sayuran yang paling umum dibuat kimchi adalah sawi putih, lobak, dan timun. Menurut asal katanya, kimchi berarti “ sayuran yang  direndam”. Cara pembuatan kimchi tidaklah rumit. Mula-mula sayuran, misalnya sawi putih, dicuci bersih hingga helai-helai daun terdalamnya dengan air mengalir.  Lalu sawi ditaburi garam hingga ke sela-sela daunnya dan direndam dalam air garam selama 6 jam. Kemudian sawi dicuci lagi  untuk mengilangkan garamnya. Selanjutnya, sawi  diolesi merata  dengan bumbu halus yang terbuat dari bubuk cabai merah, jahe, gula, bawang putih,  lobak, daun bawang , sedikit garam dan saus ikan. Sawi yang sudah dibumbui dilipat lalu dimasukkan ke dalam tempayan tertutup dan dibiarkan selama beberapa hari hinggga terjadi proses fermentasi. Setelah didiamkan selama minimal  2 x 24 jam,  kimchi siap dikonsumsi. Pada zaman dahulu, rakyat Korea menyimpan tempayan besar berisi kimchi di dalam tanah sehingga awet untuk persediaan sayuran di musim dingin hingga datangnya musim semi tahun berikutnya.

Lalu, apa istimewa-nya kimchi ini? Karena di buat dari sayuran,  kimchi kaya serat namun rendah kalori. Kimchi juga kaya vitamin A, B1, B2, zat besi,  antioksidan, kalsium dan asam laktat  yang baik untuk pencernaan serta daya tahan tubuh.  Bakteri Lactobacillus yang berperan dalam proses fermentasi pada kimchi menghasilkan asam laktat dalam jumlah lebih tinggi dibandingkan kandungan asam laktat pada yogurt. Selain itu, manfaat yang tak kalah penting adalah   mencegah pertumbuhan kanker  terutama kanker payudara,  dan menurunkan kolesterol .  Pernah ada penelitian pada ayam yang terjangkit virus flu burung. Ayam tersebut kembali sehat setelah diberi makan kimchi.


Kalau menyimak manfaat yang terdapat dalam kimchi, pantas saja orang-orang Korea sebagian besar bertubuh langsing dan sehat. Rata-rata orang Korea menghabiskan 40 pon kimchi dalam setahun. Jarang ada orang Korea yang tahan tidak mengkonsumsi kimchi untuk waktu yang lama. Contohnya, Mr. Danny. Dia tetap mengkonsumsi kimchi buatan istrinya  selama 15 tahun tinggal di Indonesia. Mengkonsumsi kimchi telah menjadi tradisi yang sulit dipisahkan dari orang Korea. Kimchi merupakan salah satu dari 5 makanan tersehat di dunia, selain  minyak zaitun, yogurt, kedelai dan lentils (sejenis kedelai) menurut versi Health Magazine. Mau sehat dan langsing? Makan kimchi yuk!


Romantisme Nami Island

“ A couple who travel together, grow together” 

Demikianlah sebuah kutipan yang di tulis oleh A. Fuadi dalam bukunya “ Rantau 1 Muara”.  Seperti juga hal yang aku yakini bersama suamiku, si Akang,  saat kami melakukan travelling berdua.  Melalui travelling kami  bisa mengembangkan hobi. Aku hobi menulis, dan suamiku hobi photography. Dengan mengunjungi tempat-tempat wisata yang indah, aku bisa memperoleh ide menulis, dan suami bisa menyalurkan hobi memotret landscape maupun foto untuk dokumentasi pribadi.

Perjalanan yang  kami lakukan di bulan November 2013 adalah mengunjungi  Korea Selatan saat musim gugur tengah berlangsung. Mengapa ke Korea Selatan? Tak lepas dari kenyataan bahwa Indonesia sekarang ini tengah dilanda “demam Korea”. Masyarakat Indonesia telah terjangkiti oleh  budaya musik  pop Korea, produk –produk Korea seperti kosmetika,masakan, barang elektronik sampai banjirnya film drama Korea yang begitu di gemari di Indonesia. Kemajuan yang telah dicapai Korea Selatan membuat kami penasaran, bagaimana sebenarnya negara yang dulu miskin dan tertinggal di banding Indonesia, namun kini telah maju menyalip perkembangan perekonomian Indonesia.

Perjalanan menuju Korea Selatan  memakan waktu lebih kurang tujuh jam dengan menggunakan pesawat. Setibanya di bandara Incheon, suhu dingin bertemperatur 7 derajat Celcius segera menyambut. Saat menghembuskan nafas akan terbentuk uap putih akibat perbedaan  temperatur yang mencolok antara gas karbondioksida yang dihembuskan  dengan temperatur udara.

Kabut tipis menyelimuti kota Incheon menimbulkan kesan keheningan yang syahdu. Dari balik kaca jendela bus yang berembun aku memandang suasana Incheon. Saat itu masih jam 8.30 waktu setempat. Waktu di Korea Selatan lebih cepat 2 jam dibandingkan di Jakarta. Deretan bangunan berbentuk segi empat terlihat disepanjang jalan. Aku tak tahu pasti apakah itu kantor, toko atau rumah makan karena tulisan pada bangunan-bangunan itu semuanya menggunakan aksara Korea berbentuk bulat dan kotak. Bangunan-bangunan itu tutup, belum terlihat  ada aktivitas, mungkin karena masih pagi.

Kami langsung menuju ke pulau Nami. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam,  akhirnya bus berhenti di suatu tempat. Kami turun dari bus sambil membawa peralatan photography, lalu tempat pertama yang dituju adalah : toilet! Ya, tak ayal lagi, udara yang begitu dingin membuat kami lebih sering buang air kecil. Setelah memperoleh tiket, kami berjalan menuju sebuah dermaga yang sudah dipadati oleh wisatawan lainnya. Disana kami  menunggu kapal datang untuk menyeberangkan kami ke pulau Nami.

Kapal ferry yang membawa kami ke pulau Nami terdiri dari 2 lantai. Ada ruangan yang berbentuk bundar dengan tempat duduk yang melingkar mengikuti bentuk ruangan. Tapi aku dan suamiku tidak memilih duduk di dalam ruangan karna kami ingin menikmati pemandangan di luar. Di sekeliling kapal dipasang bendera-bendera dari berbagai negara, misalnya Malaysia, Singapura, Jepang, Philiphina,dll. Ada juga bendera merah putih disana.
Kapal Penyeberangan ke Nami Island

Hanya butuh 5 menit saja untuk tiba di pulau Nami . Begitu turun dari kapal ada sebentuk gapura bertuliskan aksara Korea. Suasana musim gugur di pulau Nami segera menyambut.

Aku dan Akang berjalan berdampingan menikmati suasana. Meski banyak orang di sana, tapi  terasa hening. Suasananya menentramkan. Aura romantisme pulau ini demikian kental.  Dalam hati aku bersyukur bisa datang ke sini bersama si Akang.


Sebuah  areal terbuka seperti lapangan yang sangat indah telah mempesona mataku.  Bumi tempat kaki berpijak dipenuhi oleh guguran daun-daun berwarna merah, coklat, hijau kekuningan dan kuning. Daun-daun yang masih berada di ranting pepohonanpun berwarna-warni. Ada pohon yang  tak lagi berdaun karena seluruh daun telah gugur ke tanah. Suasana yang demikian terlihat sangat indah.



Pulau Nami ditumbuhi pohon-pohon chestnut, murbai ,poplar, cemara, bunga-bungaan dan lain-lain. Di Pulau ini juga banyak terlihat tupai, kelinci, burung unta ,  bebek, dan burung merak yang hidup bebas.

Sebenarnya Nami Island hanyalah pulau kecil yang luasnya 430.000 meter persegi, dan diameternya sekitar 4 Km. Menurut sejarahnya “Nami’ adalah nama seorang jendral berusia 28 tahun yang sangat setia kepada Kaisar Sejo,Kaisar ke tujuh dalam dinasti Joseon.Tapi karena fitnah keji, sang Jendral dibunuh oleh orang suruhan Kaisar. Setelah dibunuh, sang Kaisar baru mengetahui bahwa Jendral Nami bukanlah pengkhianat dan koruptor sebagaimana informasi yang diperolehnya. Atas penyesalan dan permintaan maafnya, Sang Kaisar menghadiahkan pulau kecil ini kepada keluarga Jendral Nami.

Aku berjalan sambil memperhatikan deretan restoran dan coffe shop di pinggir jalan. Sekelompok wisatawan duduk-duduk menikmati minuman panas dibangku-bangku kayu yang nyaman. Mereka terdiri dari anak-anak muda dari berbagai ras. Ada yang berambut pirang  dan bermata biru, tapi ada juga yang berwajah melayu dan oriental.

Hawa dingin membuat kami kelaparan. Apalagi saat itu memang sudah waktunya makan siang.  Kami menuju sebuah restoran yang kabarnya cukup terkenal dengan menu andalannya di Pulau Nami ini. Namanya resto Seomhyanggi.  Di resto ini kami menikmati menu istimewa : iga ayam bakar yang lezat. Ceritanya ada disini

Setelah  menikmati makan siang  kami melanjutkan jalan-jalan menikmati suasana indah di Nami Island sambil berfoto-foto. Saat itu  mataku tertumbuk pada gambar kubah berwarna hijau bertuliskan “Musolla” yang tertempel di pintu Nami Library. Kami berdua berseru senang. Bagi muslim seperti kami, melihat ada tempat untuk shalat di negeri orang ibarat menemukan oase di padang pasir. Kami pun memasuki bangunan itu lalu melaksanakan shalat.

Lega rasanya  telah melaksanakan shalat.  Shalat terasa istimewa karena dilakukan di belahan bumi yang berbeda dari tempat kami biasanya.  Belahan bumi dimana muslim adalah kaum minoritas.  Ada semacam sensasi rasa yang sulit kuungkapkan, seolah ada energi baru yang menggetarkan jiwa.  Suasana hening, syahdu dan dingin, rasanya makin mendekatkan kami pada Sang Pencipta.  

Nami Library di mana musholla berada  adalah perpustakaan anak-anak yang ditata sangat cantik dengan rak buku menjulang sampai ke langit-langit. Buku-buku berwarna-warni dipajang di rak itu. Di dekat rak buku terdapat terowongan dan jembatan kecil untuk anak-anak bermain. Selain itu, ada panggung untuk menggelar pertunjukan boneka. Panggung itu terletak di ruangan yang bergambar gajah-gajah berwarna cerah. Sudah dapat dibayangkan, anak-anak pasti akan senang sekali berada disini!

Sesi pemotretan berlanjut. Rasanya ingin merekam setiap detik, setiap sudut dan suasana pulau indah ini.  Aku dan Akang bergerak kian kemari, berseru-seru senang ketika menangkap  pemandangan yang patut diabadikan. 

Di pulau ini terdapat deretan pohon cemara yang telah menjadi sangat populer sejak dijadikan setting film drama Korea “ Winter Sonata”. Sepertinya sudah menjadi keharusan untuk berfoto di lokasi itu bila berkunjung ke Nami Island.

 “Foto di sini, Kang! Eh di sana juga. Terus ke sebelah sana ya... waaah... cantik semuanyaa!” Seruku kegirangan.

“Sst, jangan norak, Neng. “ Bisik Akang. Tangannya sibuk mensetting kamera.

“Biarlah, Kang. Sekarang saatnya norak-norak bergembira!” Teriakku.

Di satu titik dimana terdapat patung seorang Ibu yang menyusui anaknya, aku bergaya lagi. Entah berapa kali jepretan camera si Akang melukis gambarku. Syukurlah si Akang senang-senang saja meladeni istrinya yang kena penyakit narsis tingkat kronis.

Seorang nenek  berwajah oriental dengan sweater hijau melemparkan senyumnya melihat kelakuanku. Dia berdiri mengawasi aku seperti menunggu.

“Kang, nenek itu kenapa ya memperhatikan Neng terus? Memangnya ada yang aneh?” Tanyaku.
“Bukannya aneh, Neng.  Sudah selesai belum sesi fotonya. Si Nenek ini pengen gantian berfoto disitu! Masak nggak ngerti sih?”

“Oalaah...hehehe...kenapa dia nggak bilang, ya?” Sahutku cengengesan. Cepat-cepat aku menepi dari dekat patung besar itu.

“Memangnya Neng bakal mengerti kalau dia bilang? Memangnya Neng bisa bahasa dia? Sepertinya dia  orang Jepang.” Akang mengangsurkan tangannya memberi isyarat pada nenek itu.

 Eh,ternyata benar . Dia langsung mengambil posisi di tempat aku berdiri tadi. Seorang anak muda   menjepret camera poketnya mengambil gambar si Nenek.

Hehehe, maaf ya, Nek...

Hari beranjak sore. Aku dan Akang melepas lelah duduk dibawah pohon. Ransel berisi camera dan lensa-lensa yang beratnya 11 kg itu kami letakkan di tanah yang berlapis guguran daun-daun kuning.

Duduk  berdua di bawah pohon berdaun warna-warni, di tengah udara dingin, dan keheningan alam, lalu diam tanpa kata. Tak perlulah berkata, karena alam telah mengungkapkan berjuta rasa.


Angin bertiup mengantarkan hawa dingin menusuk, lalu sebuah daun merah lepas dari tangkainya, melenggok gemulai, turun ke bumi  dengan gerak perlahan.

Aku memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam. Jemariku dalam genggaman Akang. Hangat.
Bagaimanalah aku mengungkapkan rasanya, ya. Pantas saja pulau Nami dijadikan setting drama Korea yang bertema cinta dan romantis habis itu.

Maka,kukatakan padamu, Kawan! Bagi yang berencana mengunjungi Korea Selatan dan Nami Island di musim gugur, datanglah bersama suami atau istri ! Lalu  bersiaplah jatuh cinta lagi, pada orang yang sama....

Kamis, 19 Juni 2014

Keamanan ala Polisi Gang Nam Style

sumber foto : www. kaskus.co.id

Keamanan di suatu negara merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan saat akan berwisata. Umumnya orang tidak akan menjatuhkan pilihan berwisata ke suatu tempat bila keamanan di tempat tersebut tidak terjamin. Karena  itulah, sebelum memutuskan mengunjungi Korea Selatan di bulan November 2013 lalu, aku dan suami sempat mencari-cari informasi tentang  kondisi keamanan di negara itu.  Berita-berita yang beredar mengenai hubungan Korea Selatan dan Korea Utara, sempat menimbulkan kekhawatiran. Kedua negara itu memang telah sepakat mengakhiri perang Korea tahun 1950-1953. Namun, hingga saat ini, secara teknis kedua negara itu berada dalam kondisi perang. Sejak itu hingga 2013, Korea Utara seringkali melontarkan ancaman dengan pernyataan-pernyataan  provokatif misalnya pernyataan bahwa Korea Utara sedang  memasuki “masa perang” dengan Korea Selatan, serta ancaman untuk menutup zona industri dengan Korea Selatan. Namun  sejauh ini pemerintah Korea Selatan tidak menggubris ancaman tersebut karena yakin   Korea Utara beresiko kalah bila nekat berperang. Selain pemberitaan mengenai panasnya hubungan Korea Selatan dan Korea Utara, banyak juga beredar berita yang menyebutkan bahwa Korea Selatan aman dikunjungi turis asing.  

Kenapa memilih Korea Selatan? Demam Korea  yang melanda dunia adalah alasan yang  mendorong kami  berkunjung ke negara ini. Kami begitu penasaran, ingin mengetahui lebih jauh tentang  keistimewaan  Korea Selatan hingga bisa demikian populernya.  Dengan budaya K-Pop, serial drama, film, fashion, kuliner, keindahan alam, inovasi bidang teknologi dan industri, serta segala elemen yang dimilikinya, Korea Selatan sukses menyalip negara-negara Asia dalam mencapai kemajuan di bidang perekonomian. Kemampuan negara ini untuk mensinergikan semua potensi yang dimilikinya sungguh mengagumkan. Tanpa disangka, bahkan  dalam hal mempromosikan keamanan dan kenyamanan di negaranya, pemerintah Korea Selatan bisa demikian kreatif. Lalu bagaimanakah kiat pemerintah Korea Selatan dalam menjaga keamanan dan kenyamanan para turis yang membuat kami terkagum-kagum itu?

Hari telah beranjak senja, matahari di langit Seoul  menebarkan cahaya kemerahan yang memanjakan mata berkat keindahannya. Angin dingin musim gugur   berhembus membelai daun merah, coklat dan kuning yang menghias batang-batang pohon di sepanjang jalan. Dingin  yang 1 derajat celcius  menerjang  wajah dan merayap  ke sela-sela mantel tebalku, untunglah jurus 3 lapis pakaian ini cukup manjur melawan gigitan dingin.  Guguran daun warna-warni sebagian telah menghias trotoar bagaikan permadani cantik yang terbentang menyambut jejak langkah kami. Aku dan suamiku, Akang, begitulah panggilan kesayangannya, mengayun langkah menyusuri trotoar menuju sebuah museum di Seoul.  Aku menoleh memperhatikan iring-iringan rombongan tour dibelakang kami. Jarak mereka masih cukup jauh sebelum menjajari langkah kami. 

Akang  memasang tripod, mensetting kameranya, memilih angle yang tepat, lalu mulai menjepret lukisan alam Seoul berhiaskan langit kemerahan. Tas ransel berisi lensa-lensa yang tidak digunakan diletakkannya di bawah pohon di pinggir jalan. Kami berdua kemudian terlena, bergerak kesana kemari membidik segala sesuatu yang menarik.  Kadangkala kamera mengarah ke jalan raya yang tidak terlalu ramai, menyorot  anak-anak muda bergaya modis yang lalu lalang, kemudian beralih ke deretan bangunan di pinggir jalan.  Kamera Akang   dengan lincahnya terarah kian kemari mencari objek foto yang unik. Seringkali jepretan kameranya diwarnai kehadiran seorang wanita berjilbab dan bermantel putih tebal, tersenyum narsis dengan berbagai gaya, dari gaya anggun sampai norak. Wanita itu aku, tentu saja. Hehe..


Beberapa saat berlalu, tanpa kami sadari cahaya kemerahan di langit telah hampir padam, menyisakan sedikit saja semburat merah  seperti nyala lilin di tengah gelap.

Aku berseru kaget. “ Kang, kita ketinggalan rombongan! Aduh..kemana ya mereka?”.

Kami celingukan mencari-cari rombongan yang tadi berjalan beriringan, tapi tak tampak rupa mereka.  Akang buru-buru melipat tripod dan menyerahkannya padaku. Agak panik  dia menghampiri pohon chesnut tempat kami meletakkan ransel hitam berisi lensa-lensanya . Hatiku cemas. Aduh! Bagaimana kalau ransel itu hilang diambil orang? Tapi kecemasan itu sirna,  ransel itu masih berada di tempat semula, terduduk manis di bawah batang pohon chestnut. Aaahh.....Seoul ternyata aman . Terbayang  kalau kami meninggalkan ransel berisi lensa itu di pinggir jalan di Jakarta, pasti sebentar saja sudah lenyap disambar orang.  Akang segera memasukkan kamera  ke ransel hitam itu  lalu menyandangnya di punggung.

Setengah berlari kami kembali menyusuri trotoar. Lampu-lampu jalan telah menyala mengusir gelap yang  mulai menggantung di langit Seoul.

 “ Coba ingat-ingat lagi, tadi tujuan kita mau ke museum apa ya? “ Tanya Akang.
“Waduh... apa ya.” Sahutku bingung. “ Namanya pakai bahasa Korea,  Cheong-cheong apa gitu. Kalau tidak salah kata Mr. Danny letaknya di seberang Blue House. Lha...Blue House-nya di mana ya?”

Kami berdua  terus bergerak  sambil mengawasi kiri kanan jalan berharap melihat rombongan tour ataupun Mr. Danny, tour leader kami. Inilah akibatnya kalau kelewat narsis, terlalu asyik berfoto-foto hingga terpisah dari rombongan. Beberapa saat kemudian langkah kami terhenti, aku sibuk mengatur napas  sambil celingukan.

Seorang pemuda berkulit putih berpostur tinggi-langsing atletis dengan setelan jas rapi, dan topi baret hitam berjalan mendekat. Dia memakai kacamata hitam bertengger indah disangga tulang hidungnya yang bangir. Tak dilepasnya kacamata hitam itu meski langit sudah agak gelap.  Mau tidak mau penampilannya yang keren itu membuatku bertanya-tanya, apakah dia salah satu bintang film drama Korea ya? Siapa tahu aku begitu beruntung bisa bertemu  bintang film  Korea di sini. Tapi kok dia sendirian, harusnya bintang film itukan ditemani bodyguardnya?

“Can I help you, Ma’am?” Tanyanya saat dia berdiri tepat di depan hidungku.  Aiih... Si Keren ini bicara padaku. Pakai bahasa Inggris, bukan  Korea!  Aku bengong, memandang suamiku yang sama bengongnya.
“Oh..eh...Can you show us the way to the Blue House?  Kami terpisah dari rombongan. Tour leader kami tadi mengajak kami ke sebuah museum, tapi aku lupa nama museum itu. Yang aku tahu, letaknya di depan Blue House." Ucapku dalam bahasa Inggris. 

“Oh, itu pasti museum Presiden Korea, Cheongwadae Sarangchae. Mari saya tunjukkan. Ikuti saya ya.” Si Keren itu berjalan mendahului kami.  Beberapa saat kemudian dia mengangsurkan tangan kirinya, mempersilahkan kami masuk ke sebuah areal gedung megah berwarna putih. “ Inilah museum Presiden Korea. Dan ...” Tangan kanan si Keren dengan gaya menunjuk ke sebuah bangunan beratap biru di seberang jalan “Yang itu adalah Blue House.”

Aku dan Akang terseyum lega, dan mengucapkan terimakasih lalu melesat berlari ke arah gedung museum. Ketika aku menoleh, si Keren masih berdiri di tempatnya, tersenyum dan melambaikan tangan . Aku baru tersadar, aduuh... kenapa tadi tidak minta foto bareng si Keren itu ya? Lumayan kan  buat kenang-kenangan.
Di pintu masuk gedung Mr. Danny berdiri memandang kami dengan wajah lega. Tampaknya dia  agak cemas karena mengira kami tersesat. Setelah meminta maaf, aku menjelaskan bahwa kami dibantu  seorang pemuda keren yang menunjukkan jalan.

“Oh ya. Dia itu polisi wisatawan. Polisi Gangnam Style, begitulah sebutannya.”
Keterangan Mr. Danny itu kontan membuat aku takjub. “Gangnam Style itu kan lagu   yang dipopulerkan rapper Psy via YouTube dan sempat menjadi hits di segala penjuru dunia. Lalu Polisi  Gangnam Style itu maksudnya apa?” Tanyaku.

“ Itu salah satu cara unik Korea Selatan dalam mempromosikan keamanan bagi turis asing yang berkunjung  ke sini. Jadi, rapper Psy diberi kehormatan oleh pemerintah untuk merancang busana bagi polisi wisatawan. Hasilnya seperti yang terlihat tadi, polisi wisatawan berseragam jas biru dengan kemeja abu-abu, celana berwarna gelap, baret hitam dan kacamata hitam. Karena itulah satuan polisi itu dijuluki polisi Gangnam Style. Tugas mereka adalah membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi  wisatawan asing bila menemui kesulitan di tempat-tempat wisata. Misalnya, bila ada turis yang merasa ditipu sopir taksi atau penjual makanan  di pinggir jalan. Atau seperti kalian tadi, bingung ketika akan menuju  suatu tempat. Mereka telah dipersiapkan mampu berbahasa Inggris, Mandarin dan Jepang sehingga mudah berinteraksi dengan wisatawan.” Jelas Mr. Danny.

“ Lalu apa bedanya dengan polisi yang lain?” Tanya Akang.

“Polisi Gangnam Style ini hanya menyelesaikan masalah para wisatawan saja. Mereka tidak diperlengkapi dengan senjata. Kalau masalahnya sudah melebar ke kasus kriminalitas seperti pencurian, perampokan dan sebagainya maka itu menjadi wewenang polisi biasa.” Mr. Danny mengakhiri penjelasannya dengan mempersilakan kami masuk ke ruang museum.

Hari itu, aku mencatat satu hal lagi tentang keistimewaan Korea Selatan dibanding negara lain, terutama Indonesia. Sebenarnya kebudayaan Korea Selatan tidaklah terlalu istimewa dibanding budaya Indonesia yang menurutku lebih beragam dan unik. Hanya saja, Korea Selatan  sangat pandai memberi kemasan menarik pada setiap potensi yang mereka miliki. Pemerintahnya demikian jeli mempromosikan keamanan dan kenyamanan Seoul dengan cara memanfaatkan Gangnam Style yang  hits beberapa waktu lalu sebagai  kemasan yang menarik. Kapan ya Indonesia bisa cerdas mempromosikan potensi wisatanya seperti Korea Selatan? 


Minggu, 18 Mei 2014

Si Hati Mutiara dari Pasar Bogor


Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya, bahkan kejadian paling konyol sekalipun bukannya terjadi tanpa suatu maksud. Seperti juga kejadian yang kualami. Sejak mulai belajar merintis usaha kuliner, aku jadi sering ke pasar tradisional di Bogor untuk membeli ikan segar dan bahan-bahan lainnya.

Terburu-buru mengejar waktu karena setelah ini aku harus mengurus segala keperluan anak-anak yang akan berangkat ke sekolah, usai shalat subuh aku bergegas ke pasar tradisional Bogor. Setelah memarkir mobil yang terpaksa agak jauh karena ramainya , akupun menyusuri lorong-lorong pasar. Di tengah lorong pasar, seorang anak laki-laki dekil menghampiriku dan menawarkan jasanya mengangkat belanjaanku. Aku mengganguk setuju, dia tersenyum dan segera mengikutiku.

Jumat, 07 Maret 2014

Sosial Media Antar Komunitas



Akhir-akhir ini banyak sekali berbagai komunitas bermunculan. Komunitas- komunitas tersebut dibangun berdasarkan kesaaman minat dan kebutuhan.  Kesamaan minat yang mendorong terbentuknya komunitas itu misalnya saja minat di bidang menulis, memasak, kuliner, berbisnis, bersepeda, bermotor, olahraga, photography, traveling, pendidikan anak, pembinaan keluarga, dan lain-lain. Misalnya saja komunitas untuk para peminat kegiatan menulis   contohnya Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN), Komunitas Penulis Muda (KPM),  Komunitas Penulis Perempuan, Komunitas Penulis Cerpen, dan masih banyak lagi.

Manfaat yang diperoleh dengan bergabung dalam berbagai komunitas adalah seluruh manfaat silaturrahmi. Anggota komunitas dapat bertambah teman, ilmu, keterampilan dan pengetahuannya  dari sharing teman-teman dalam komunitas tersebut. Tak jarang bergabung dalam komunitas dapat membuka pintu rezeki dengan  meluasnya network.

Sebagai contoh, aku sendiri sudah merasakan manfaat bergabung dalam suatu komunitas. Sejak bergabung dalam komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis, minat menulisku yang sempat “ tertidur” kembali bangkit dengan suntikan semangat,  motivasi dan bimbingan para anggota komunitas yang merupakan para penulis produktif. Selain itu, para anggota juga kerap membagikan tips  mengirimkan tulisan ke berbagai media, berbagi  info lomba menulis,  bahkan memberikan kursus menulis gratis maupun berbayar untuk mengasah kemampuan para anggota terutama penulis pemula. Aku sudah melihat beberapa penulis pemula telah berhasil menerbitkan buku dan mengukuhkan profesinya sebagai penulis berkat bergabung dalam komunitas ini.

Satu komunitas bisa mendatangkan berkah yang besar, apalagi bila macam-macam komunitas tersebut saling bersinergi.  Bagaimana bila komunitas penulis bersinergi dengan komunitas penerbit. Komunitas foto model berkoordinasi dengan komunitas disainer dan komunitas photographer. Atau komunitas pengrajin  bersinergi dengan komunitas pedagang online.  Sudah dapat dibayangkan yang akan terjadi adalah saling menguntungkan sekaligus terbukanya peluang menghasilkan income bagi berbagai komunitas tersebut.

Berlandaskan pemikiran inilah maka CariCommunity, sebuah media sosial baru yang berbasis Web, menyediakan layanan media sosial yang berbeda dengan sosial media yang telah ada seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain.

Kalau Facebook dan Twitter berfokus pada  individu, maka CariCommunity.com dirancang untuk menjadi wadah bagi berbagai komunitas  seantero dunia melakukan interaksi dan berkoordinasi.  Media sosial ini bermaksud mendorong bersinerginya berbagai komunitas untuk mendatangkan berbagai keuntungan termasuk keuntungan finansial.

CariCommunity.com mudah diakses, dan “ramah” bagi pengguna komputer pemula karena tidak mempunyai fitur-fitur yang rumit. Terdapat fasilitas Message Board, Kalender Kegiatan, Profil Anggota yang semuanya dirancang untuk memfasilitasi kegiatan komunitas.

Bergabung dalam CariCommunity.com dapat memperluas network ke jaringan internasional.  Fasilitas dalam CariCommunity.com dapat menjadi jembatan penghubung  antar komunitas lokal dengan komunitas sejenis di seluruh dunia dalam membentuk komunitas lintas negara.

Tertarik ingin makin meningkatkan manfaat mensinergikan berbagai komunitas? Langsung saja klik CariCommunity.com



Senin, 27 Januari 2014

Sehari Melihat Dunia Baru

Cantik, modis, dan ramah. Itulah kesan pertamaku  berkenalan dengan  Indriya R Dani  saat  kami sama-sama  menghadiri pengajian majlis ta’lim Qoonitaat di lingkungan rumahku. Dari awal dia sudah menarik perhatian. Sosoknya   “eye catching” mengenakan busana muslimah berwarna cerah  dengan hijab pashmina  bermotif cantik dipadu aksesoris gelang, jam dan cincin yang unik. Pesonanya makin “bling-bling” saat aku tau dia suka menulis dan sudah menerbitkan 23 buku. Wow... segera saja aku kepingin mengenalnya lebih dekat.

Seiring berjalannya waktu dengan berbagai kegiatan di pengajian, aku makin merasa nyaman bersahabat dengannya. Dia seorang penulis, Ibu dari 3 anak, vokalis Saqina Voice, akrab dengan dunia seni dan  fashion, dan saat ini masih berstatus mahasiswi. Tak dapat kubayangkan bagaimana dia bisa mengatur waktunya untuk begitu banyak kegiatan.

Ada satu hal lagi membuat Indriya tampak “cetar” di mataku. Dia rajin shalat Tahajjud, shalat Dhuha, puasa Senin-Kamis dan menjaga wudhunya. Kala dini hari ketika aku terlelap di alam mimpi, dia sering mengirimkan pesan BB, mengingatkan dan mengajakku Tahajjud. Apa yang dilakukannya mau tak mau membuatku bercermin, malu juga rasanya melihat  diri sendiri yang masih suka bolong-bolong  shalat Tahajjud, shalat Dhuha dan jarang melakukan puasa.  Duuh...

Mengobrol dengannya selalu asyik. Itu karena kami memiliki kesamaan minat dibidang menulis, traveling dan seni. Dia banyak bercerita tentang dunianya. Dunia yang  bersentuhan dengan para pekerja seni, fashion, penerbitan buku,  dan nara sumber buku-bukunya yang terdiri dari orang-orang ternama.

Beberapa kali dia pernah mengajakku ikut melihat dari dekat dunia yang digelutinya. Tapi sayangnya kesibukan kami sering tak sejalan. Akhirnya hari  Jum’at 24 Januri 2014  lalu aku bisa jalan-jalan  menemani Indriya menuntaskan berbagai urusannya di kota kembang Bandung.

Kemacetan Bogor telah menghadangku sejak  sepanjang jalan Dreded menuju keluar kompleks Bogor Nirwana Residence, kemudian terurai di jalan Pahlawan. Namun antrian kendaraan yang padat  kembali memperlambat  lajuku di sepanjang jalan Sukasari dan Padjajaran menuju ke rumah Indriya. Jam telah menunjukkan pukul 7.21 WIB ketika aku tiba di rumahnya.

Indriya menebar senyum, dia tampak cantik dengan baju gamis warna pink fanta, dilapis jaket jeans dan padanan hijab pashmina bermotif cerah, jam tangan berwarna senada dan gelang. Satu hal yang seakan menjadi ciri khasnya adalah mengenakan hiasan di hijabnya. Hiasan itu terbuat dari helai  bulu ayam berwarna pink fanta senada dengan baju.    Dia memperkenalkan aku pada Teh Manda, managernya di SABA production. Kami lalu melakukan shalat Dhuha.

Ketika duduk menikmati secangkir coklat  di ruang tamunya, terdengar suara kokok ayam.  Kulemparkan pandanganku ke luar, ke kandang berwarna putih yang tampak baru. “ Itu ayam kate hadiah ulang tahun perkawinan dari suamiku.” Seru Indriya. Aku teringat dia pernah cerita tentang sepasang ayam hadiah ulang tahun perkawinan yang ke-18 dari suaminya. Aku tertawa. Menurutku hal itu unik sekali. Bertambah lagi kesamaan kami, karena seperti suami Indriya, suamiku pun suka  memelihara ayam. Bedanya, Indriya  senang dihadiahi ayam. Sedangkan aku tidak. Hehe..



Jam 8  kami berangkat. Sepanjang perjalanan itu kami banyak berbincang seputar dunia tulis- menulis.  Obrolan kemudian beranjak ke  naskah buku yang tengah dikerjakannya. Indriya tengah menjalani proses penulisan buku tentang gaya hidup “ Muslimah Kosmopolitan”. Dua kosa kata itu menggelitik rasa ingin tahuku.  Dengan penuh semangat Indriya menjelaskan bahwa muslimah saat ini menghadapi berbagai pilihan dalam hidupnya. Contoh kecilnya saja, dalam hal perawatan kecantikan. Saat ini ada banyak sekali pilihan cara merawat kecantikan mulai dari cara tradisional, penggunaan teknologi canggih, berbagai bahan kimia hasil penemuan dibidang kosmetik, hingga suntikan botoks. Di sinilah seorang muslimah harus ekstra hati-hati menentukan pilihannya.  Dari sekian banyak pilihan itu dia harus  pandai memilih bahan-bahan yang halal dan cara perawatan kecantikan yang sesuai dengan fikih atau hukum Islam.

Dalam bukunya, Indriya membahas berbagai hal seputar aktivitas muslimah sehari-hari dalam hal minat, opini maupun interaksi sosialnya. Singkatnya muslimah kosmopolitan adalah muslimah yang berwawasan global, mengikuti gaya hidup masa kini tapi tetap berpegang teguh pada hukum Islam. Sangat menarik! Sepertinya aku melihat muslimah kosmopolitan sejati pada diri Indriya R Dani.

Berkunjung ke Sekolah Perempuan

Teh Manda, Indriya, aku dan Indari Mastuti di markas Sekolah Perempuan

Agenda pertama yang kami lakukan ketika tiba di Bandung adalah bertemu dengan Indari Mastuti, pendiri komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN), Ibu-ibu Doyan Bisnis (IIDB) dan Sekolah Perempuan. Aku mengenal Indari ketika bertemu di acara kopi darat IIDN di Bogor bulan Desember 2013 lalu. Sosoknya yang energik seolah menularkan virus positif dibidang menulis dan pemberdayaan wanita. Dia telah menjadi tokoh inspiratif  yang mendorongku untuk giat  menebar manfaat bagi sesama.

Indari mengajak kami makan siang dengan menu ikan pecot masakan ibu mertuanya. Lalu kami melaksanakan shalat Dzuhur dirangkai shalat Ashar  jama’ takdim.

Seperti yang sudah aku duga, mempertemukan Indari dan Indriya ibarat mendekatkan dua kutub energi yang meletup-letup. Penuh semangat, ide dan kreativitas. Aku tersenyum-senyum sendiri menyaksikan dua wanita hebat itu saling bertukar informasi dan menyerap ilmu. Sayang sekali, waktu yang sangat terbatas terpaksa menghentikan obrolan menarik itu. Mudah-mudahan di lain waktu kami bisa bersama lagi.

Penerbit Rosda
Indriya dan Direktur Penerbit Rosda, Pak Zamzami Djahuri

Acara selanjutnya adalah menghadiri meeting dengan direktur penerbit Rosda di kawasan Jl. Ibu Inggit Garnasih. Kami dipersilakan masuk ke ruang meeting di lantai dua kantor penerbit.

Pak Zamzami Djahuri, sang direktur penerbit menyambut kami dengan ramah. Indriya didampingi Teh manda kemudian mempresentasikan bukunya dengan sangat meyakinkan. Dalam meeting juga dibahas mengenai berbagai aspek, misalnya isi buku, tata letak atau lay out, fotografi, alih bahasa dan nara sumber. Pak Zamzami tampak sangat tertarik dan ingin segera mencetak buku itu. Tampaknya para pembaca hanya tinggal menunggu terbitnya karya Indriya nanti di bulan Februari 2014.

 Di akhir meeting ada kejutan kecil buat Indriya. Salah satu teman sekolahnya yang sudah 23 tahun tidak berjumpa ternyata bekerja di penerbit Rosda. Mereka  bertemu, bertukar kabar dan berfoto bersama. Senangnya..

Butik Rya Baraba


Dalam bukunya, Indriya juga  membahas tentang fashion. Beberapa desainer busana muslim akan menampilkan karya mereka di buku itu. Salah satunya adalah Mbak Rya Baraba. Karena itulah kami lalu meluncur ke kawasan Buah Batu, mengunjungi butiknya.

Butik cantik dan eksklusif itu terletak di Jl. Buah Batu nomor 59. Begitu masuk kami disambut aura cozy ruangan dan keramahan para mbak-mbak pramuniaganya. Berbagai busana muslim bergaya glamor, eksklusif, feminin dan modern tampak dipajang disana. Setelah melihat-lihat sebentar, kami dipersilakan naik ke lantai dua untuk bertemu dengan Mbak Rya.

Seorang wanita cantik dan modis menyambut kami dengan ramah. Dialah Mbak Rya. Kami kemudian  duduk mengobrol lesehan di atas karpet empuk.



Mbak Rya berbagi cerita awal mula usahanya dibidang fashion. Dia datang dari keluarga berkecukupan. Suaminya adalah pengusaha sukses dibidang properti. Ternyata sang suami tidak mendukung ketika Mbak Rya menyatakan keinginannya berwira usaha di bidang fashion. Menurut suaminya, berjualan makanan atau pakaian itu yang merupakan kebutuhan paling dasar itu tidak keren. Tapi jiwa enterpreneur dalam diri Mbak Rya tidak serta merta padam. Dia tetap membuka usahanya di Bandung hingga menjadi besar seperti sekarang.

“ Bagaimana pendapat suami Mbak Rya sekarang, setelah melihat berbagai pencapaian Mbak selama ini?” Tanyaku.

“ Ya, biasa saja. Dia  tidak pernah memuji saya.” Jawabnya sambil tersenyum lebar.

“ Ah, pasti sebenarnya dia bangga, Mbak. Hanya karena ego-nya saja dia tidak mengakui.” Sahutku yang langsung disambutnya dengan tawa berderai.

Perbincangan kami makin menarik ketika membahas kemungkinan besar Indonesia akan menjadi pusat fashion muslim dunia, mengingat Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar dan  memiliki  desainer-desainer hebat yang sangat kreatif. Busana muslim Indonesia saat ini  semakin dilirik oleh negara-negara tetangga. Misalnya saja Malaysia.  Banyak warga negara Malaysia membanjiri Bandung untuk berbelanja fashion, baik untuk dipakai sendiri maupun untuk dijual kembali di negaranya. Hal ini sangat membanggakan para desainer Indonesia.  

Di akhir perbincangan kami, Mbak Rya berseru “ Nah, sekarang kalian semua boleh pilih pashmina mana saja yang kalian mau, berikut ciputnya. Gratis! Ayo silahkan pilih.”
Bersama  Mbak Rya Baraba.

“Cihuiii...!” Kontan aku, Indriya dan Teh Manda bersorak-sorak gembira. 

Kemudian kami sibuk memilih di antara pashmina-pashimina cantik yang terpajang di dinding butik. Setelah pusing memilih, akhirnya kami masing-masing memboyong ciput, pashmina dan jepit rambut cantik dengan wajah sumringah. Terimakasih Mbak Rya...





Ghaida’s Gallery

Matahari telah tenggelam ke peraduannya ketika kami tiba di kawasan Geger Kalong Girang. Di tengah udara dingin, kami langsung masuk masjid untuk menunaikan shalat Maghrib dirangkai shalat Isya jama’ takdim.  Rasanya nyaman beristirahat sejenak di masjid sambil mendengar tausiyah.

Kawasan disekitar pesantren Darut Tauhid terlihat ramai. Toko-toko dan warung makan di sepanjang jalan buka. Entah mengapa ada sekelumit kawasan itu yang mengingatkan aku akan suasana di Madinah, meskipun sebenarnya jauh berbeda. Mungkin karena suasana yang “hidup” dan aura Islami di sana.

Setelah berjalan beberapa saat, di ujung sebuah gang, kami mendapati sebuah bangunan yang menurut keterangan adalah tempat tinggal Ghaida Tsurayya, desainer muda, putri dari Aak Gym dan Teh Ninih Mutmainah. Kami  mengucapkan salam kepada seorang wanita muda yang menggendong anak balita laki-laki. Dia kemudian  mempersilakan kami masuk, sementara dia memanggil Ghaida.

Tak lama kemudian, Ghaida muncul dengan menggendong seorang  balita laki-laki yang terlelap dalam pelukannya. Kami sempat bingung karna balita ini sangat mirip dengan yang satunya lagi. Ternyata putra Ghaida itu kembar. Sementara anak pertamanya perempuan.

Ghaida mewarisi garis-garis wajah ibundanya, Teh Ninih. Gerak-gerik, suara lembut dan keramahannya pun mengingatkan aku pada Teh Ninih.
Bersama Ghaida Tsurayya

 Di usia muda, Ghaida telah membuktikan dirinya sebagai desainer busana muslim untuk  segmen anak muda dengan karya-karya yang apik. Desainnya sebagian besar bergaya feminin dengan warna-warna pastel yang lembut.

Setelah berbincang sebentar, Ghaida menyerahkan busana muslim hasil rancangannya untuk dibawa. Busana itu akan dikenakan oleh model muslimah dalam sesi pemotretan untuk melengkapi buku karya Indriya.

Hari telah beranjak malam ketika kami pamit pulang. Sebelum berangkat ke Bogor, kami menikmati makan malam di kawasan itu. Aku  dan Teh Manda memilih Mie Ramen bakso, sementara Indriya memilih bakso, nasi dan ayam goreng.


Di sela acara makan malam, seorang teman Indriya menyapa. Gadis muda itu seorang mualaf asal pulau bangka yang tengah menjadi santri di Darut Tauhid. Aku selalu menyimpan kekaguman pada para mualaf yang sungguh-sungguh menjalankan syariat Islam seperti gadis muda ini. Keimanannya  berqualitas karena dia tergerak sendiri mencari hidayah dan kebenaran Islam, berbeda dengan seseorang yang telah menjadi muslim karena dilahirkan dari keluarga muslim.

Malam makin larut, kamipun beranjak pulang, kembali ke Bogor.

Seharian bersama Indriya membuatku  mendapat pengalaman baru. Aku seolah dibawa melihat dunia baru yang berbeda dengan kegiatanku selama ini.  Ternyata dunia menulis itu bisa menjadi  sangat luas dan menarik. Seorang penulis bisa berhubungan dengan berbagai profesi, mulai dari desainer, artis, photographer, akademisi, dan lain-lain tergantung dengan bidang yang akan ditulisnya.  Hari ini juga aku  mendapat gambaran proses penulisan buku. Dan yang paling asyik, kami dapat pashmina gratis dari desainer beken. Yihaaa...

Rabu, 25 Desember 2013

Waspadai Ulah Pembajak Account Facebook


Sebuah pesan singkat di inbox facebook muncul dari account seorang kakak tingkatku. Pesan itu menanyakan aku sedang ada di mana.  Segera ku jawab kalau aku sedang di rumah. Lalu muncul lagi pesan darinya, ingin meminta bantuanku. Ketika aku tanyakan ingin meminta bantuan apa, dia menjawab ingin meminta tolong pinjam uang untuk mentransfer adiknya karena uang di tabungannya sedang kosong. Dia menulis pesan lagi kalau uang yang ada pada dia adalah uang cash yang tidak bisa dikirimkan. Dia berjanji jam 8 malam ini akan segera mengembalikan uang pinjamannya, dan kalau aku setuju meminjamkan dia akan kirim nomor rekening adiknya.

Rasa kantukku siang itu langsung hilang. Aku merasa ada yang aneh. Aku kembali mengamati pesan-pesan di inbox itu. Dia menulis namaku dengan huruf kecil, lalu kata-kata yang lainnya ditulis menjadi singkatan-singkatan. Misalnya kata “kakak” ditulisnya “kk”; “nanti” menjadi “nnt” dan sebagainya. Lalu susunan katanya tumpang tindih bernada mendesak. Kuamati lagi pesan-pesan terdahulu yang pernah masuk ke inbox-ku, di mana si Kakak menulis namaku dengan huruf besar dan gaya yang santai. Terasa ada perpedaan dari cara penulisan maupun gaya dalam berkata antara pesan yang baru masuk dengan pesan sebelumnya. Aku percaya setiap orang punya gaya masing-masing dalam bertutur kata dan menulis. Sebuah kecurigaan muncul di benakku. Kelihatannya pesan ini ditulis oleh orang yang berbeda. Ada kemungkinan facebook kakak tingkatku ini dibajak oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Pesan-pesan di inbox itu tidak lagi kurespon. Aku segera menghubungi kawan-kawanku mencari info nomor telepon kakak tingkat pemilik account facebook itu. Ternyata tidak mudah, beberapa teman yang aku telepon tidak punya nomor teleponnya. Lalu aku tanyakan ke kakak-kakak tingkat lewat inbox facebook. Akhirnya dapat juga nomor teleponnya. Sayang sekali, beberapa kali aku hubungi, telpon selularnya tidak diangkat. Lalu ada seorang kakak tingkat memberiku nomor yang lain. Ketika aku hubungi, yang mengangkat telepon seorang wanita, dia istri kakak tingkatku. Kepadanya aku sampaikan kemungkinan account facebook suaminya telah di bajak oleh orang yang tak bertanggung jawab.

Keesokan paginya, sebuah sms masuk ke nomorku. Sms itu berisi konfirmasi kakak tingkatku yang menyatakan memang benar account facebooknya telah dibajak orang. Lalu ada info bahwa salah seorang temannya sudah mentrasfer Rp . 3.000.000,- ke account si pembajak.  Waduh...

Belajar dari pengalaman ini, sebaiknya kita lebih hati-hati bila menerima pesan yang mencurigakan baik itu lewat sms, BBM, ataupun facebook. Bisa saja pesan itu ditulis oleh orang yang ingin memanfaatkan keadaan. Bayangkan saja seandainya android, BB, atau telepon selular kita di curi orang. Lalu pencurinya memanfaatkannya untuk mengeruk keuntungan dengan cara pura-pura pinjam uang kepada saudara, teman, dan relasi kita yang datanya tersimpan di phone book, BB kontak maupun account facebook kita. Nama baik kita bisa rusak karna prilaku sang pencuri, dan  akan timbul kerugian yang dialami oleh korban penipuannya.

Bila menerima pesan tertulis yang mencurigakan, apalagi dengan dalih pinjam uang atau meminta transfer uang, sebaiknya kita langsung saja menghubungi orang yang bersangkutan via telepon atau tatap muka bila memungkinkan, untuk konfirmasi. Kejahatan saat ini sudah makin beragam. Sudah saatnya kita tingkatkan kewaspadaan. Semoga bermanfaat.


Minggu, 27 Oktober 2013

KEGIATAN-KEGIATAN ASYIK BERSAMA SUAMI

Seiring dengan usia pernikahan kami yang  memasuki tahun ke 16,  aku dan suami merasakan hubungan kami semakin nyaman. Kami semakin saling memahami dan mendukung. Merasa tentram bila bersama, merasa rindu bila berjauhan,  dan merasa saling melengkapi satu sama lain. Begitu banyak nikmat dan karunia yang patut disyukuri sepanjang perjalanan kami mengarungi hidup bersama. Satu hal penting yang sama-sama selalu kami jaga adalah menjalin kemesraan. Ritme pekerjaan suami yang selama 2 minggu bekerja jauh di Selat Malaka dan 2 minggu libur di rumah justru  membuat kami bisa memanfaatkan waktu bersama menjadi lebih berkualitas.

Saat suami libur, kami sering melakukan kegiatan berdua. Bagaimana dengan anak-anak? Tentu saja selalu ada waktu buat mereka, tetapi seiring pertumbuhan anak-anak yang makin besar, mereka kini memiliki kegiatan masing-masing. Seringkali mereka tidak mau diajak pergi bersama-sama kami karena punya acara sendiri dengan kawan-kawannya. Ya, anak-anakku sudah memasuki masa senang bersosialisasi dengan teman-teman.

Hal yang paling kami suka adalah merancang kegiatan berdua.  Kegiatan yang sebenarnya sederhana saja, kegiatan biasa yang umum dilakukan orang-orang, misalnya nonton film di bioskop, jalan-jalan atau kegiatan yang bisa dilakukan di rumah saja. Intinya tidak perlu terlalu pusing memikirkan kegiatan ini-itu, yang penting bisa dilakukan berdua dan merasa senang untuk melakukannya.

Nah, apabila teman-teman pernah merasakan suasana yang membosankan dengan pasangan dan ingin mendapatkan kembali kemesraan seperti awal pernikahan, beberapa kegiatan yang kami lakukan di bawah ini mungkin bisa dicoba.

Minggu, 13 Oktober 2013

Menjadi Ibu Rumah Tangga, why not?


Menjadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja  pada awalnya bukanlah hal yang membanggakan bagiku. Terlebih lagi bila bertemu orang-orang  yang masih memandang rendah profesi ibu rumah tangga. Beberapa orang yang kutemui mengganggap ibu rumah tangga itu orang-orang yang kurang wawasan, tak tahu perkembangan teknologi, tidak produktif, suka ngerumpi, kerjanya hanya menghambur-hamburkan uang suami, dan sederet pendapat negatif lainnya. Beberapa tahun yang lalu saat aku masih ikut kursus bahasa Inggris, seorang teman bertanya dengan heran waktu aku bilang kalau aku adalah ibu rumah tangga. “ Lho, ibu rumah tangga kok disini? Apa pentingnya belajar bahasa Inggris buat ibu rumah tangga?” Astaga...pertanyaannya kok sadis begitu. Di lain waktu aku bertemu dengan salah seorang kawan kuliahku. Dengan sifatnya yang ceplas-ceplos dia berkata. “ Maaf ya, aku dulu mengenal kamu itu orang yang berpotensi, banyak bisanya. Tapi aku kaget lho kalau ternyata sekarang kamu hanya jadi ibu rumah tangga, jauh dari apa yang aku bayangkan. “  Jleeb!!. Kebayang kan tertohoknya perasaanku?