Kamis, 21 November 2019

Membangun Kedekatan Suami Istri

Membangun kedekatan merupakan salah satu kunci dari keberhasilan proses komunikasi. 

Kalau kita mengajak, atau mengajukan ide, atau menawarkan sesuatu pada seseorang lalu dia menolak, artinya ada kedekatan yang kurang terbangun antara kita dengan partner komunikasi. 

Supaya ide bisa diterima, lakukan dulu membangun kedekatan.

Dengan pasangan yang mungkin sudah bertahun-tahun bersama dalam pernikahan, tetap saja kita perlu membangun kedekatan. 


Apalagi kalau kita melihat ada yg harus dibenahi pada diri pasangan. Misalnya, pasangan ogah diajak ikut training parenting, padahal pengetahuannya tentang parenting minim, apalagi aplikasinya dalam mengasuh anak jauh dari prinsip pengasuhan yg tepat. 

Atau kalau ingin pasangan yang cuek bebek bertransformasi jadi mesra kiyut kiyut, ya sama saja. Kuncinya bangun kedekatan, lalu arahkan😁😁.

Kenapa harus membangun kedekatan? Apa untungnya?

Lha, kalau kedekatan terbangun dengan baik, apa saja tujuan atau keinginan kita kemungkinan besar akan disetujui oleh pasangan. Enak kaan?

Mau enak? Usaha dulu, Rudolfo..🤣🤣


Dasar filosofi membangun kedekatan adalah:
  •  Kita menyukai orang yang menyukai kita
  •  Kita menyukai orang yang mirip dengan kita
  • Kita merasa nyaman berada di dekat orang yang pemikirannya sejalan dengan kita.

Jadi.. dalam Neuro Linguistic Programming yg kita pelajari di Traning TBS, kiat membangun kedekatan bisa dengan pacing, matching, mirorring. Intinya menyamakan dengan partner komunikasi.

Masalahnya..menyama-nyamakan ini butuh upaya, Sist, Bro.. butuh ilmu juga supaya muluss😁😁

Misalnya saja, pas aku dan akang mudik ke Palembang kemarin. 


Mudiknya bertujuan menengok mertuaku yang sedang dirawat di rumah sakit. 

Eh.. di rumah sakit kami ketemu Om-nya si Akang. Dia bilang mau ngasih kami ayam kalkun. Si Akang kesenangan, di otaknya sudah terbayang kari kalkun yang sedap bukan kepalang. 

"Neng, ayam kalkunnya dimasak kari ya.."Kata Akang.

Aku nyengir saja. Padahal self talkku ribut. 

"Jadi aku kudu masak? Abis ini pasti diajak belanja bumbu ke pasar becek nih.. bukannya mudik ini buat ngobrol-ngobrol sama mertua dan orangtua? Ealaah.. masih juga balik balik ke dapur, masak kalkun."

Self talk yang model begini, bikin perasaan terbebani.

Untung ada self talk yg memberdayakan.

"Lha, masak kalkun kan pake panci presto, apa susahnya? Tinggal ditungguin aja, sambil santai-santai satu jam kelar, abis itu baru dikeluarkan dari panci presto dikasih santan dan daun kari. Dimasak lagi paling cuma beberapa menit, sudah selesai. "

Self talk ini bikin lega. Dengan membayangkan detail proses "Masak Kalkun" yang tadinya kerasa berat, setelah diurai satu satu detail kerjaannya ternyata cuma ringan saja. 

Karena lega, aku jadi bisa sama frequensi senangnya sama si Akang. Sama sama senang membayangkan kari kalkun. Karena state-nya senang, maka meski berpanas-panas blusukan ke pasar tradisional yang becek, beli bumbu masakan pun dijalani dengan senyuman😄. 

Beli bumbù di pasar tradisional Lemabang,Palembang

Aku rasa karena muka senyum-senyum inilah, state yang sama dan selaras membuat si Akang gak lepas menggandeng tanganku. Ini apalaah... di pasar becek aja gandengan😜😜

Kelar beli bumbu, kami kembali ke parkiran mobil. Matahari kota Palembang di jam 10 pagi sudah terasa membakar. Celingak celinguk nyari iparku kok gak ada ya. Masalahnya dia yang bawa kunci mobil. Kami jadi gak bisa masuk mobil.

Karena kepanasan, aku berlari ke toko terdekat. Eh.. ternyata toko perhiasan. Muncul deh minat melihat-lihat cincin yang bling bling itu. Mataku langsung tertuju pada salah satu yang tampaknya cocok di jari tengahku. Eh beneran..aku suka melihat cincin itu melingkar di jariku. Sambil senyum-senyum aku tunjukkan ke Akang. 

"Bagus ya?"

Akang mengangguk. Senyum. Lalu dibayarnyalah cincin itu.
😍😍😍 


Alhamdulillah.. modalnya nyama-nyamain state saja, keinginan terpenuhi🤣🤣🤣

Setelah itu, masak kalkun pun jadi terasa ringaan saja. Dan tentu hasilnya enak. Satu kuali besar langsung ludes dimakan Akang dan keponakan-keponakan. 

Paha kalkun masak kari😋

"Hari Minggu pagi, sebelum balik ke Bogor, temenin Akang ke pasar burung ya Neng. Akang pengen napak tilas. Dulu waktu akang kecil senang sekali ke pasar burung lihat-lihat ayam dan burung. Kebiasaan akang dulu, setiap main ke pasar burung, selalu makan model gandum. Nanti kita makan juga ya.. terus kita makan mie ayam Sari Rasa . Itu mie kesenangan Akang dulu. Rasanya khas" 

Jreng..jreng..

Mendengar kata pasar burung, terbayanglah suasana carut marut, dimana orang-orang berkumpul berjejalan di pinggir jalan. Panas terik, tentu tak ada AC di pasar model begini. Macam-macam hewan peliharaan tumplek blek di sana. Ayam, burung, kucing, kelinci, anjing, kura-kura, ikan dan lain lain. 

Self Talk ribut dong.. saling debat.

"Ngapain ke sana? Sudahlah panas, sumpek, bau, kotor pulak. Gak ada manfaatnya!"

"Nggak ada manfaat menurut siapa? Itu kan menurutmu. Bagi si Akang banyaklah manfaat mengenang kembali masa kecilnya. Lagi pula ini ajang latihan lho.. katanya mau membangun kedekatan🙄🙄. Masalah bau kotor dan lain-lain itu beresin aja pake teknik sub modality editting. Pake anchor juga bisa. Mau latihan gaak??"

Self talk yang terakhir menang😁😁

Baeqlaah... mari ke pasar burung💃💃💃

Kami janjian bertemu di jalan Beringin Janggut Palembang. Kami tak pergi sama sama karena sebelumnya aku menemui Mami dulu. 

Sesuai janji, Akang menunggu di depan sebuah Bank . Dari jauh aku melihat Akang celingak celinguk mencari sosok istrinya🤣. Begitu melihat tampangku, dia terseyum lebar. Dalam hati aku geli. Apalaah ini... janjian ketemu kayak ABG💖, tapi  kok di pasar burung🤣🤣🤣


Persis seperti bayanganku. Suasana pasar carut marut amburadul. Padat, kumuh, penuh hewan dan manusia. Jangan tanya baunya ya.. sudah pasti semerbak😜😜😜

Bagaimana suasana seperti ini bisa membuat aku senang? Ya gak bisa, Esmeralda...😜 tapi ada resepnya.

Aku lihat muka Akang, semangat dan berseri-seri. State-nya senang. Emosi kan menular ya.. maka aku sengaja ketularan emosi Akang, berusaha menyamakan state dengan akang.

Aku bayangkan jadi anak kecil  yang suka lihat binatang. Lho.. aku waktu kecil juga suka kok lihat hewan. Nah.. tinggal dipanggil lagi saja memori waktu jadi anak kecil. 

Cara termudah ketularan emosi adalah menyamakan fisiologi. Kayak muka Akang itu lho.. senyum... cengar.. cengir...😁😁😁. Tinggal menarik sudut bibir ke atas, tunggu 20 detik. Lalu... Senangnya...senangnyaaa🤣🤣


Akang menunjuk ke sana sini.

"Itu tempat Akang dulu nongkrong lihatin burung. " 

"Itu dia tempat jual ikan. Akang dulu suka beli ikan di sana."

Lalu tibalah saatnya...

"Naah...ini dia model gandumnya Neng.. Yuk kita makan kayak Akang dulu!"

Aku melihat gerobak itu. Letaknya amigos (agak minggir got sedikit). Disekitarnya, orang-orang berkerumun. Ada yang berdiri, ada yang duduk ngedeprok di undakan pelataran toko. Didepan mereka bermacam-macam ayam digelar. Ayam bangkok, ayam hutan,  ayam kampung dan lain-lain. Ayam-ayam ini tentu saja masih membawa sifat aslinya, buang hajat sembarangan😅. Dan itu tak jauh dari gerobak model gandum. Oalaah...jijay bajay kan ya😩😩..



Aku lihat wajah Akang. Dengan raut berseri-seri dia memesan dua piring model ikan dicampur model gandum. Tak ada canggungnya. Kurasa dia sekarang ini sedang dalam state ketika dia kecil🙆. Dengan riang dia mengajak Mamang penjual model gandum ngobrol. 


Sebentar... Aku setel dulu state-ku. Pakai apa ya biar nyaman? Oh ya.. piring model gandum yang disodorkan Akang itu mengepul asap beraroma sedap. Jadi fokuskan saja pada aroma dan visual piring berisi model ikan dan gandum. 

Aku ingat.. bau masakan ini duluu.. waktu aku kecil hingga kuliah, aku juga suka jajan model yang bau dan rasanya seperti ini. Dulu aku suka artinya sekarang juga bisa suka. Hanya ada aku, piring model ikan gandum, dan kenangan jajan di masa kecil. Fokus.. fokus...lalu suasana sekeliling terasa kabur.  

Ahh.. Alhamdulillah... bisa makan dengan nyaman.

Akang tersenyum melihat aku makan sesuap demi sesuap model ikan gandum. Sementara model di piringnya sendiri sudah sejak tadi ludes.

Dia senang tak mendapati raut cemberut, bersungut-sungut atau ekspresi jijay di wajah istrinya. Sepenuhnya moment ke pasar burung ini terasa menyenangkan baginya,persis seperti dulu, bahkan lebih membahagiakan sekarang karena ditemani belahan jiwa.💕


Kudu begini ya usaha menyama-nyamakan state, pacing, matching dengan suami. Berat gak, Sist? Hahaha..🤣🤣. Ya gak beratlah 💪💪kalau niatnya membangun kedekatan untuk membahagiakan suami, ada balasan pahalanya, Insya Allah. 

Kalo suami merasa nyaman, merasa dekat dengan istrinya , apa mau istrinya akan dituruti. Enak kaan..Tapi ingat yaa.. keinginan istri harus yang baik sesuai syariat. Mau?? Yuk usaha dulu bangun kedekatan❤❤❤

1 komentar:

Nuy mengatakan...

salam kenal mba, gimana caranya membangun ke dekatan dengan suami yg hobi nya main gadget, main game. Apakah kita kudu ikutan jg?