Rabu, 18 April 2018

Cara Jitu Mengugurkan Keyakinan yang Tidak Memberdayakan dengan Meta Model


Kalau kita punya keyakinan yang tidak memberdayakan terhadap diri sendiri, terhadap anak, suami atau orang lain, jangan di pelihara ya.. Mending pelihara kucing atau ayam  J

Keyakinan-keyakinan yang tidak memberdayakan sering disebut limiting beliefs atau mental block. Keyakinan ini jika disematkan kepada diri sendiri akan menghambat kita bertumbuh menjadi lebih baik.  Jika disematkan pada orang lain menjadi label negatif yang selain tidak baik bagi orang tersebut, juga mengganggu emosi kita sendiri saat menghadapi orang tersebut.


Contohnya apa sih limiting belief itu? Kalau ada yang bilang begini,

“Aku itu pemalas.”

“Anakku  yang bungsu itu lemot.”

“Suamiku nggak pernah mendengarkan aku.”

“Aku nggak bisa bicara di depan orang banyak.”

Limiting belief atau label buruk yang kita sematkan pada diri sendiri maupun orang lain membuat kita  tidak punya respon yang luas, sehingga merugikan diri  atau orang-orang terdekat yang kita beri label itu. Kok bisa merugikan?

Contohnya pengalamanku sendiri. Dulu, aku pernah diberi label pemalas oleh Mamiku. Karena Mami bilang aku pemalas, sedangkan Mami adalah orang yang mengasuh aku sejak lahir hingga dewasa, dan aku anggap Mami adalah orang yang paling kenal diriku, maka aku percaya bahwa aku memang pemalas.

 Suatu ketika aku pernah ditawari ikut mengerjakan sebuah proyek bersama teman-teman.

“Ini proyek pakai deadline lho! Jadi harus rajin dikerjakan.” Ujar temanku.

Aku yang tadinya semangat ingin ikut, tiba-tiba merasa tak sanggup. Dalam hati aku berkata,

“Lha, harus rajin dikerjakan? Aku kan pemalas. Mana bisa? Nanti aku bakal keteteran mengejar deadline. Mending dari awal saja aku nggak usah ikutan.”

Karena pemikiran itu, akhirnya aku memutuskan tak jadi ikut mengerjakan proyek. Padahal setelah proyek itu berjalan, aku banyak punya waktu luang. Seandainya aku jadi ikut, pasti bisa mengerjakan pekerjaan itu. Akhirnya, teman-temanku yang mengerjakan proyek  memperoleh keberhasilan, sementara aku cuma gigit jari. Menyesal.

Apakah aku harus marah pada Mamiku? Ya nggaklah. Mami kan dulu belum pernah belajar ilmu parenting sehingga dia tidak mengerti kalau melabel anak itu efeknya tidak baik.

Di kelas Enlightening Parentingnya Mbak Okina, aku dibantu melepaskan label pemalas dengan menggunakan meta model chunk down.

Apa itu meta model ? Meta model atau pertanyaan klarifikasi  adalah bentuk serangkaian pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh informasi lebih lengkap, sehingga berguna untuk memodel dunia lebih luas.  Sedangkan chunk down artinya mencacah informasi sehingga tampak detailnya. Manfaat mencacah informasi adalah untuk membangkitkan kesadaran,  dan mengembalikan persepsi ke realita yang sesungguhnya.

Okina : “Mbak Iwed, bagaimana tepatnya Mbak Iwed merasa bahwa Mbak Iwed itu pemalas? Apakah 30 hari sebulan, 7 hari seminggu, 24 jam sehari Mbak Iwed selalu malas?

Iwed : “Iya nggak juga. Tapi aku suka kadang malas mengerjakan suatu pekerjaan.”

Okina : “Biasanya kalau malas mengerjakan sesuatu itu dalam keadaan apa?

Iwed : “Kalau capek, atau sedang nggak enak badan.”

Okina : “Mbak Iwed pernah merasa rajin, nggak?

Iwed : “ Pernah.”

Okina : “Coba ceritakan apa saja kegiatan Mbak Iwed dalam satu hari.”

Iwed : “Aku bangun subuh, shalat, menyiapkan sarapan anak dan suami, mengantar anak ke sekolah, menulis, masak, jemput anak dan antar  mereka les, antar anak pulang ke rumah, menemani mereka, menemani suami, lalu tidur.”

Okina : “Lha pekerjaan sebanyak itu dikerjakan tiap hari, kira-kira itu pekerjaannya orang pemalas apa bukan?”

Iwed : (Cengengesan).

Okina : “Saat Mbak Iwed mengerjakan pekerjaan-pekerjaan itu apa yang dirasakan?”

Iwed : “Semangat. Karena cinta sama anak dan suami.”

Okina : “Artinya Mbak Iwed bisa rajin kan? Bagaimana caranya supaya bisa rajin terus?”

Iwed : “Menjaga semangat, menjaga cinta pada keluarga, dan juga menjaga fitalitas dan  kesehatan badan.”

Okina  :“Jadi Mbak Iwed itu pemalas apa bukan?”

Iwed  :“Hehehe... bukan.”

Maka gugurlah limiting belief  itu.

Contoh lain cara menggugurkan limiting belief pernah aku lakukan terhadap Rafif yang melabel Bapaknya sebagai “tukang marah”. Hal ini terjadi karena pada saat marah, si Bapak nada bicaranya tinggi,suaranya keras, ekspresi wajah menyeramkan, sehingga heboh dan tertanam kuat  di ingatan Rafif.

Berhubung Bapaknya Rafif sudah berkomitmen untuk berubah, berupaya menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya, maka aku merasa perlu membantu Rafif menggugurkan limiting belief atau label negatif yang terlanjur disematkannya. Tujuanku, dengan menggugurkan limiting belief , proses membangun kembali kedekatan yang diupayakan si Bapak pada Rafif bisa berjalan lebih  lancar.

Rafif : “Bapak itu tukang marah.”

Mama : “Rafif yakin Bapak tukang marah? Memangnya dalam 30 hari sebulan, setiap hari, setiap saat Bapak itu selalu marah?”

Rafif : “Ya enggak sih...”

Mama : “Coba, dalam sehari saja. Dalam 24 jam. Berapa kali dan berapa lama Bapak marah, Fif?”

Rafif : “Yaa.. nggak tiap hari sih..”

Mama : “Nah, di hari saat Bapak marah, berapa lama sih Bapak marahnya? Berapa jam atau berapa menit?”

Rafif : “Ya.. kira-kira 10 menitlah.”

Mama : “Sepuluh menit dalam 24 jam ya?”

Rafif : “Ya kira-kiranya segitu.”

Mama : “Oke. Yuk kita hitung presentasinya ya. Dalam 24 jam itu kan Bapak tidur kira-kira 7 jam. Jadi sisanya  17 jam. 10 menit dibagi 17 jam ya. Supaya enak kita jadikan menit semua. 10 menit dibagi 1020 menit itu sama dengan 0.98 %. Presentasi Bapak marah adalah 0.98 %. Artinya presentasi Bapak nggak marah adalah 99.02%. Benar nggak, Fif?”

Rafif : “Iya.”

Mama : “Nah,faktanya Bapak marah cuma 0.98% sedangkan tidak marah 99.02%. Lha kok bisa Rafif bilang Bapak itu tukang marah? Jadi sebenarnya, Bapak itu tukang marah apa bukan?”

Rafif : Cengengesan, lalu menggelengkan kepala.

Maka gugurlah sudah keyakinan Rafif kalau Bapaknya tukang marah. Alhamdulillah.. sekarang Rafif kalau ditanya kapan terakhir melihat Bapaknya marah, dia sudah tak ingat lagi. J

Jumat, 13 April 2018

TIPS MENYIKAPI SUAMI SUKA MARAH DAN MEMUKUL ANAK


Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting
Nara Sumber : Sutedja Eddy Saputra dan Okina Fitriani

Punya suami yang suka marah dan memukul anak? Bagaimana menyikapi dan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal yang demikian?

Mari simak  poin-poin yang dirangkum dari sesi tanya jawab materi PERAN AYAH dalam Training Enlightening Parenting di Surabaya 7-8 April 2018, bersama nara sumber Sutedja Eddy Saputra dan Okina Fitriani.


Tanya : Suami saya dididik dengan keras oleh orangtuanya dengan hukuman fisik . Salah satunya, pernah kepalanya dibenturkan ke tembok oleh orangtuanya. Ketika menikah, kami sering mengalami perbedaan pendapat dalam hal  cara mendidik anak. Suami saya bersikeras bahwa  anak harus dikerasi.  Saat dia marah dan melakukan hukuman fisik pada anak, saya langsung meng-interupsi, karena saya tak tega pada anak. “Jangan, jangan di pukul!” Begitu saya katakan pada suami. Padahal saya tahu, tidak boleh berbeda pendapat di hadapan anak. Saya sudah memberi tahu suami, tetapi di lain waktu masih saja suami berkeras harus mendisiplinkan anak dengan hukuman fisik. Bagaimana  cara mengatasi hal ini ?

Jawab (Sutedja Eddy Saputra ) : Ini masalahnya sangat simple sebenarnya. Seharusnya suami ikut belajar parenting  di ruangan ini hari ini. Kalau dia tidak mau belajar, maka tugas istri melakukan persuasi agar suami mau. Memang banyak usaha yang harus dilakukan istri. Ini kasusnya mirip dengan pengalaman saya dulu. Istri saya butuh waktu 2 tahun melakukan upaya persuasi sampai akhirnya saya bersedia belajar parenting, lalu menyadari kesalahan saya.

 Selain itu, hal ini terjadi karena belum punya visi misi keluarga yang dibuat dan disepakati bersama. Sama persis dengan pengalaman saya dulu.  Saya belum belajar parenting, tidak punya visi misi keluarga, sehingga saya maunya mendidik anak dengan cara saya yang keras, sementara istri sudah tahu bagaimana cara mendidik anak dengan benar.

Kalau sudah ada visi-misi keluarga, artinya sudah ada aturan bagaimana ayah memainkan perannya , bagaimana ibu menjalankan perannya.  Apa saja  kesepakatan  yang harus dijalankan dalam pengasuhan anak.

Lalu, karena istri yang sudah belajar parenting lebih dulu, maka istri harus memberi contoh untuk berubah. “Ini lho contoh mendidik anak dengan cara yang lebih baik. “

Apa bedanya mendidik dengan dan tanpa kekerasan?

Dulu ketika saya mendidik anak dengan keras, anak itu melakukan perlawanan. Mereka tidak langsung nurut. Saya harus marah dulu, harus memukul dulu, baru mereka melakukan apa yang saya inginkan. Tapi ketika saya tidak ada, maka pelanggaran kembali terjadi. Intinya, mereka  hanya takut pada saya, bukan taat pada aturan.

Sebaliknya, ketika anak dididik dengan kasih sayang, ketika orangtua dan anak membuat objektif bersama-sama, ternyata mereka bisa jauh lebih berkomitmen. Sehingga mendidik anak menjadi lebih mudah. Mendisiplinkan anak ternyata tidak harus dengan cara kekerasan.

Mbak Okina dan suaminya,  Mas Ronny,  sangat berhati-hati dalam memilih kata sehingga sangat jarang berkata keras pada anak.  Tapi saya lihat sendiri bagaimana hasilnya, karena saya pernah beberapa kali berkesempatan bersama keluarga mereka. Diingatkan dengan kata-kata lemah lembut saja,  anaknya sudah mengerti.

Beberapa waktu lalu saat di sebuah sharing session, ada seorang ibu yang bertanya. Anaknya yang masih di usia SD, memukuli teman-temannya.  Ternyata, ayah sang anak adalah seorang t*****a yang mendidik anaknya dengan kekerasan, dengan maksud supaya anaknya disiplin.  Padahal, sang ayah menerima pendidikan disiplin yang keras itu setelah menjadi t*****a di usia yang sekurang-kurangnya 18 tahun, usia di mana dia sudah siap  menerima  kedisiplinan dalam pendidikan yang  keras seperti itu.  Sedangkan anaknya kan masih  jauh dibawah itu . Tidak bisa disamakan, mendidik anak-anak  usia 7-8 tahun dengan mendidik  t*****a yang usianya sudah 18 tahun. Inilah pentingnya  orangtua paham ilmu parenting sehingga bisa mendidik anak dengan benar.

Jawab (Okina Fitriani) : Saya tambahkan sedikit ya. Sebenarnya suami yang suka memukul, suami yang perkataan atau ucapannya jelek, bicaranya bad word,   itu  karena tangki cintanya kosong.  Maka tugas siapa mengisi tangki cinta sang suami? Apa sang istri mesti bilang begini,

“Sana! Balik ke orangtuamu sana! Aku nggak mau dekat-dekat kamu! Karena kamu suka memukul anakku!”

Ya tidak begitu. Ada hal-hal yang bisa dilakukan secara simultan sebagai berikut :

1. Istri harus menegur suami dengan baik.  Di sisi lain, tambahkan limpahan cinta  pada suami. Tugas istrilah mengisi tangki cinta suaminya. Suami seperti itu justru harus disayang-sayang. Banyak puji suami, layani jauh lebih baik, beri sentuhan jauh lebih banyak, lihat perbedaan sikapnya. Diharapkan  kalau tangki cinta suami sudah meluber-luber, tangannya jadi penuh cinta, mulutnya jadi penuh cinta, matanya juga jadi penuh cinta.

Bagaimana saat sedang kesal pada suami, tapi istri bisa memperlakukan suami dengan penuh cinta? Bisa dicoba dengan Anchor Cinta seperti pengalaman Mbak Iwed dalam tulisannya “ANCHOR CINTA” di  link ini http://www.julianadewi.com/2017/10/anchor-cinta.html

2. Jika suami  masih tetap memukul anak, laporkan suami pada walinya.  

3. Selanjutnya, katakan dengan tegas pada suami jika tetap memukul anak, dia akan dilaporkan ke polisi.  Jangan lakukan ancaman kosong, artinya bila perilaku memukul tetap berlanjut, istri harus benar-benar melaporkan suami ke polisi. 




Selasa, 10 April 2018

LONG DISTANCE RELATIONSHIP DAN RAHASIA MENGAJAK SUAMI AKTIF BERMAIN DENGAN ANAK



Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting
Nara Sumber : Okina Fitriani dan Ronny Gunarto

 Seorang istri menjalani Long Distance Relationship (LDR) dengan suaminya  karena suami bekerja  jauh dari tempat tinggalnya. Sang istri  mengeluh tentang cara mengajak suami aktif bermain dengan anak saat suami berada di rumah.

Berikut ini  tips dari Mas Ronny Gunarto dan Mbak Okina Fitriani yang disarikan dari materi “KOMUNIKASI SUAMI ISTRI “ yang disampaikan dalam  Enlightening Parenting Training,  Surabaya 7-8 April 2018.


Tanya : Saya  dan suami  menjalani LDR. Kami punya anak usia 3 tahun. Saat suami jauh, selalu saya yang menghubungi dia dengan video call supaya bisa ngobrol dengan anak. Lalu ketika suami pulang, dia kurang aktif bermain dengan anak.  Bagaimana sebaiknya, apakah saya harus ikut suami, atau biarlah seperti ini keadaannya, dan apakah meski LDR hubungan kami bisa tetap baik juga?

Jawab (Ronny Gunarto ) : LDR memang lebih challenging daripada hubungan biasa. Sebaiknya LDR itu memiliki target. Misalnya sepasang suami istri sepakat untuk hidup berjauhan selama sekian tahun atau sekian bulan, atau berapa lama pun.  Tapi dengan target bahwa suatu hari mereka akan menetap dan berkumpul sebagai satu keluarga.  Kemudian, suami istri harus membicarakan dan punya kesepakatan tentang peran  suami ketika hadir ditengah-tengah keluarga. Misalnya saja bila suami bekerja di oil and gas yang jadwalnya 28 hari bekerja dan 28 hari libur. Nah saat libur selama 28 hari itu, jangan sampai suami  maunya hanya tidur-tiduran saja di rumah, tidak menjalankan perannya sebagai ayah.  Suami-istri harus punya rencana. Kapan akan berkumpul kembali, dan ketika suami ada di rumah, apa saja kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan sang suami ketika dia berperan sebagai seorang ayah.  Buatlah peran ayah yang maksimum disaat-saat bersama untuk mengganti intensitas waktu saat jauh dari anak.

Saya sharing sedikit pengalaman. Saya pernah LDR  selama 8 bulan. Terkadang LDR itu malah bagus lho. Jadi ketika saya LDR karena bekerja di Saudi Arabia,  saat pulang, saya melihat anak saya kok lebih baik ya? Lebih sopan, lebih menghargai, lebih ceria, dan lain-lain.  Ternyata mungkin ketika saya ada, saya kurang memberi efek yang lebih baik.Setelah berbincang dengan istri, saya paham dan saya mendukung pola pengasuhan yang sudah dirintis oleh istri saya, dan saya bersedia untuk mengambil peran bersama-sama istri meneruskan pola asuh yang  baik itu.

Jawab (Okina Fitriani ) : Betul apa yang dikatakan Mas Ronny. Kadang LDR itu adalah kesempatan   istri untuk membuktikan pada suami bahwa sang istri sudah melakukan hal yang benar. 

Siapa sih di dunia ini yang mau dikasih “ kue” yang gak enak? Kalau suami pulang, lalu dilapori “Itu lho, anakmu itu lho, nakal! Anakmu begini, anakmu begitu.” Sambil mukanya cemberut-cemberut. Mengeluh terus soal anak. Itu sama saja memberi suami kue yang nggak enak.  Kira-kira mau nggak suami? Ya mana maulah. Kalau istri terus-terusan mengeluh, jangan-jangan untuk pulang ke rumah saja suami jadi malas. Karena merasa bahwa “Ah, sebentar lagi bakal dapat kue yang nggak enak.”

Maka tugas istri menjadikan kue itu enak banget. Biar suami ngiler. Biar suami ngences-ngences. Coba kalau istri bilang,” Asyik banget lho main sama anak-anak.Wiiih...seruuuu!” Apalagi kalau dilihatnya anak berperilaku baik, maka suami akan berpikir “Aku kok nggak diajak main?” Lalu malah suami yang ingin,  lalu berkata pada anak-anak. “Yuk main sama Ayah yuuk!” Begitu triknya.

Trik selanjutya.  Misalnya ada istri yang mengeluh. “ Suami saya kok nggak mau berperan dalam pengasuhan saat berada di rumah.”

Saat suami jauh, sepakati dulu rencana-rencana yang akan dilakukan suami ketika  nanti bersama anak. Saat dia datang, dia pasti lelah karena perjalanan yang jauh misalnya. Caranya kasih dulu, baru minta. Dalam ilmu persuasi namanya pacing, pacing, pacing, lalu leading.

Kasih dulu. Penuhi dulu tangki cintanya.  Suami disenang-senangin dulu, kasih makan , kasih minum, dipijitin dulu, dielus-elus dulu, facial-facial,  suruh bobok  manis dulu. Sudah segar, baru ajak main  dengan anak.  Jangan terbalik, minta-minta baru kasih. Yang benar itu kasih, kasih, kasih dulu  baru minta.

Kuncinya adalah rendah hati. Menjadi istri itu rendah hati. Mungkin istri ilmunya banyak. Mungkin istri lebih paham tentang ilmu parenting daripada suami. Tapi nggak usah kepinteran. Jangan  bicara  begini pada suami,

“Begini lho tak kasih tau. Kamu Salah! Teori parentingnya itu begini!”

Atau

“Tu kaan.. Kalau kamu nggak ada, anakmu malah jadi sopan kaan?”

Jangan lakukan hal itu.  Rendah hatilah sebagai istri. Harusnya yang dilakukan istri adalah berterimakasih. Katakan pada suami seperti ini,

“Terimakasih lho sudah memberi ruang kepadaku untuk mengevaluasi apa yang keliru pada anak-anak. Ini sudah mulai kubangun, sudah ada hasilnya. Tinggal kita teruskan yuk, kita sama-sama..”

Jangan lupa mengapresiasi apa pun peran ayah yang sudah dilakukan suami. Pria itu  kalau  makin dihargai akan juga  makin menghargai istrinya.