Selasa, 08 Maret 2016

Tujuh Cara Menikmati Hujan

Hujan merupakan peristiwa alam yang menjadi bagian dari siklus air. Butir-butir air yang turun ke permukaan bumi bagi sebagian orang bisa menjadi bencana, tapi bagi sebagian lainnya merupakan karunia. Selalu ada dua sisi yang berlawanan.


Bagiku hujan adalah peristiwa yang mampu membangkitkan rasa sendu, syahdu, sedih maupun nyaman sekaligus. Hujan selalu membawa aku pada kenangan-kenangan masa lalu yang menyertainya.

 Tahukah, kawan? Ada banyak cara menikmati hujan. Aku sudah mencoba berbagai cara menikmati romantisnya  derai bening hujan yang berjatuhan menyerbu bumi. Apa sajakah? Ini dia.


Mandi Hujan

Di masa kecil, aku sering berlari-lari  menyambut turunnya rahmat Tuhan berupa curahan air dari langit bersama anak-anak kampung di sekitar rumah kakekku di Bandar Lampung. Ketika itu derai air yang tercurah dari langit adalah peristiwa istimewa yang patut dirayakan. Mandi hujan, teriakan riang, tawa dan candaku bersama  teman-teman masa kecil  begitu lepas tanpa beban. Menengadah ke langit dan merasakan air menggelitik seluruh raut wajah sungguh menyenangkan.  


Dodi, Dani, dan Rudi, kawan kecilku, akan tengkurap di genangan air lalu mulai mengerakkan  tubuh mereka menggelosor ke sana kemari tanpa peduli baju menjadi kotor. Eka, sepupu Dodi yang bertubuh subur meraup air dan menyiramkan di tubuh dan wajahku. Aku berteriak dan membalasnya. Lalu kami tertawa terbahak lepas.  Indahnya hidup tanpa beban.


Sayangnya hal ini tak pernah berlangsung lama. Mami dan Uni, begitulah aku memanggil ibu dan nenekku,  segera berteriak memanggil, menyuruhku pulang. Aku tak kuasa menolak. Kemudian mereka mengomeli aku, mengeringkan tubuhku dan membaluri dengan minyak kelapa dicampur bawang merah. Selanjutnya, aku hanya bisa menatap pedih aksi kawan-kawanku yang masih terbenam dalam keriangan hujan, dari balik jendela ruang tamu. Keesokan harinya aku demam. Selalu begitu. 

Berkumpul Bersama Keluarga


Cara menikmati hujan yang lebih damai adalah berkumpul di kamar, uyel-uyelan di tempat tidur bersama Mami, alm. Papi dan adik-adikku.  Hujan deras disertai petir dan geledek sekali pun tak membuat hatiku ciut karena aku bisa “nyungsep” dalam pelukan Papi yang hangat. Sedih bila mengenang saat itu, karena Papi kini sudah berada dalam pelukan Penciptanya.. Semoga Papi bahagia di sana, Aamiin..

Mendengarkan Musik atau Lagu

Ketika menginjak remaja, aku sering menikmati suasana hujan sambil mendengarkan lagu lama yang romantis  “You’re my everything “ –nya Santa Esmeralda sambil membayangkan seperti apa jodoh dan cinta sejatiku kelak. Ah, dasar ABG.  J

Tidur


Bunyi rintik hujan yang ritmis dan suasana yang sejuk dingin mendatangkan rasa kantuk, seolah bunyi dan suasana hujan merupakan cara alam menghipnotisku untuk naik ketempat tidur, menarik selimut kemudian  tenggelam dalam damainya tidur yang nyenyak.

Menikmati Minuman Hangat dan Cemilan


Cara menikmati hujan yang standar juga sudah pernah aku lakukan. Memandang keluar jendela, mengawasi rintik hujan yang membasahi tanaman sambil minum white coffee. Ngemil makanan kecil lalu  membiarkan lamunan melayang jauh. Biasanya ide-ide menulis pun berdatangan karena suasana yang mendukung.

Menanggung Rindu

Setelah bertemu jodoh, tentu berbeda lagi cara menikmati hujan. Di awal masa pernikahan, kami masih tinggal terpisah  karena aku dan Akang bekerja di perusahaan yang berbeda. Kami mengerjakan proyek pembangunan Asamera Corridor Block Gas di tengah hutan Sumatera. Tempat tinggalku di mess perusahaan yang terletak di pinggir jalan lintas Sumatera, sementara Akang tinggal di mess perusahaannya yang berada di tengah hutan. Akang biasanya datang ke mess-ku dengan mengendarai motor, menjemputku. Lalu kami melewati malam romantis di sebuah penginapan di Simpang Tungkal. Pagi-pagi akang mengantar aku ke mess dan dia kembali ke kantornya.


Hujan adalah peristiwa yang sangat menyedihkan bagi kami saat itu. Turunnya derai hujan menghapus kesempatan kami bertemu. Tumpahan air dari langit  membuat jalan tanah merah  yang terbentang dari mess Akang di tengah hutan  menuju jalan raya berubah menjadi  becek, lengket,  licin dan bonyok melebihi bumbu pecel atau gado-gado. Kondisi jalan seperti itu tak bisa dilalui  motor atau mobil biasa. Hanya jenis mobil yang dilengkapi double gardan yang bisa terus melewati jalan. Itu pun masih beresiko mengalami terbalik karena licinnya jalan. Dan Akang tak punya mobil seperti itu.

 Jadi,ya begitulah. Bila hujan turun,  ada sepasang hati pengantin baru yang pedih dan pilu menatap hujan, tersiksa rindu tanpa daya menuntaskannya. Hehehe...

Meluncur di atas Motor saat Touring

Pernah mencoba berhujan-hujan naik motor dengan suami/ istri? Dari semua cara menikmati hujan, yang  paling terasa romantis dan  spektakuler adalah yang satu ini.
 Aku dan si Akang meluncur di atas motor melaju membelah tirai hujan menuju tempat tujuan touring.  Tubuhku terbalut pakaian berlapis jas hujan. Sepatu karet sempurna melindungi dan  menghangatkan kaki sementara kepala terlindung full face helm. Hatiku terasa melayang dibuai gerak  motor bermesin  besar yang melaju  tak kencang.



Aku terduduk nyaman diboncengan pria separuh jiwa, menerjang rintik  yang derasnya tak tanggung-tanggung. Meski bulir air  menghujam ke arah wajah tapi butir-butir dingin itu tak mampu menyentuhku. Butiran bening   silih berganti  pecah di lapis transparan penutup helm, kemudian mengalir dan tumpah ke bawah. Bunyi rintik yang mengetuk-ngetuk helm, dan sepatu karetku terdengar seperti ritme yang menentramkan jiwa. Aku merasa “masuk” ke dalam hujan, menikmatinya secara maksimal  tanpa tersiksa dingin. Terpaan air dari genangan yang tergilas roda mobil dari arah yang berlawanan pun tak menggangguku, malah rasanya seperti kejutan-kejutan yang menyenangkan. Sungguh aku sangat menikmati touring dalam suasana hujan.

Aku tersenyum-senyum menatap hujan. Seandainya saat kecil dulu aku punya jas hujan, helm dan sepatu karet, tentu aku bisa selalu bergabung bersuka ria bersama anak-anak kampung teman masa kecilku. Menikmati setiap tetes hujan dengan keriangan tiada tara.  Aku tak akan terserang demam, meskipun dengan segala perlengkapan ini   penampilanku paling aneh sendiri.


Tiap kali meluncur dalam derai hujan, ada perasaan hangat yang mengaliri hatiku.  Menatap gulungan awan kelabu  tebal, hatiku bersyukur atas segala romantisme yang tercipta dari peristiwa alam  ini.



Bagaimana caramu menikmati hujan, kawan?

27 komentar:

Afifah Mazaya mengatakan...

Kalau hujannya malam, rasanya indah banget. Tidur makin nyaman. Kalau hujannya pagi atau setelahnya, justru aku merasa rugi kalau tidur. Suaranya nggak kedengaran lagi. Aku masih melakukan aktivitas biasa, tapi energi seolah bertambah. :)

Dwina Yusuf mengatakan...

Aku paling takut kl hujan malam. Pasti ga bakal bisa tidur, krn takut terjadi apa2 kl terlelap. Parno aja kl hujan malam.

Ratna Amalia mengatakan...

Paling enak menikmati hujan sambil....tidur. Gimana atuh, Da saya mah tukang tidur @_@

Ratna Amalia mengatakan...

Paling enak menikmati hujan sambil....tidur. Gimana atuh, Da saya mah tukang tidur @_@

Juliana Dewi mengatakan...

@Afifah Mazaya : hehehe.. samaa kita

Juliana Dewi mengatakan...

@Dwina Yusuf : benar juga ya. Saat Hujan deras sering dimanfaatkan orang untuk aksi kejahatan.

Juliana Dewi mengatakan...

@Ratna Amalia ; ooo ternyata kota sama ya. Tuti. Tukang tidur. Qiqiqiqiq

Ika Puspitasari mengatakan...

Saya paling seneng menikmati hujan di depan jendela, sambil minum secangkir kopi dan mendengarkan lagu sendu. Tapi beberapa cara tadi yang paling sering sih...kruntelan sama anak-anak dan tidur..hehe

mutia ohorella mengatakan...

Saya termasuk Pluviophile, pecinta hujan... Suka sendu dan banyak yang di rindu kalau dengar rintiknya. Suara air sisa hujan kala sepi pun punya nikmat tersendiri. Jeleknya kalau dulu, jadi malas berangkat kuliah! :)

Nyi Penengah Dewanti mengatakan...

ujan-ujanan touringnya nyenengin. hahhaha sweet banget bareng separuh jiwa😘. aku kalo ujan paling nikmatin suaranya ehhh trus ketiduran. hehhehe. salam kenal kak.

Lee Via Han mengatakan...

Aku nikmati hujan bisa baper mak hihi, bisa"kalau mau nemuin aku cari dipojokan sambil diem hahaha

Xoxo,
www.leeviahan.com

Juliana Dewi mengatakan...

@Ika Puspitasari : hahaha...kruntelan hujan2 emang paling nyaman

Juliana Dewi mengatakan...

@Mutia Ohorella : wah keren itu istilahnya, Pluviophile...

Juliana Dewi mengatakan...

@Nyi Penengah Dewanti : hehe.. salam kenal juga

Juliana Dewi mengatakan...

@Lee Via Han : ooo kalo cari dirimu pas hujan pasti di pojokan ya..hehehe..

ahliah citra mengatakan...

Aku mah siap2 menyambut banjir, Mba. Wkwkwwkk... nasib

Juliana Dewi mengatakan...

@ahliah citra : semoga gak banjir.. Aamiin

Nur Islah mengatakan...

Hujan paling enak makan pisang goreng sama teh hangat...abis itu bobo, jadi gembul deh hehehe

Retno mengatakan...

Aku suka melihat hujan dari jendela dan menghirup aroma tanah kering yang baru tersiram hujan... tfs mbak...romantis sekali pengalamannya...

Efi Fitriyyah mengatakan...

Dulu waktu kecil kalau hujan-hujanan, aku bakal dimarahhin ortu hehehe. Nah kalau lagi hujan paling enak tuh diem di kamar, denger musik yang melow (halah) lalu nyeduh teh atau kopi dan menikmati cemilan.:D

anis suci mengatakan...

Mba keren banget cara menikmati hujannya...

sudah pernah coba di Bogor mba?

Juliana Dewi mengatakan...

@Nur Islah : bagi dong pisang gorengnya :-)

Juliana Dewi mengatakan...

@Retno : aroma tanah kering itu khas sekali ya

Juliana Dewi mengatakan...

@Efi Fitriyyah : ngirup teh panas saat hujan, nikmat banget ya

Juliana Dewi mengatakan...

@anis suci : ya aku kan tinggalnya di Bogor

Juliana Dewi mengatakan...

@Nur Islah : bagi dong pisang gorengnya :-)

Nonton film Bluray mengatakan...

Klo hujan sambil merenung di samping jendela enak banget kali yaa ? :)

Download/Watch 10 Cloverfield Lane (2016)