Sabtu, 04 Oktober 2014

Ajari Kami Cinta

Pak Yugen dan Bu Sri Widayati

Nama lengkapnya Gaguk Yugentoro Santoso. Pertama kali bertemu Pak Yugen - nama panggilannya, ketika aku diajak suamiku, si Akang, mengunjungi ruangan kantornya di Jakarta. Pak Yugen mampir ke ruangan  Akang. Dia memperkenalkan diri padaku, menyapa  dengan senyum simpatiknya.  Pria yang usianya sudah mendekati 60 tahun ini masih gagah dan bugar, dengan  rambut  dan kumis yang “two tone” alias dwi warna.


Kami bertiga segera terlibat obrolan santai. Dia memiliki hobi  yang sama dengan Akang, berpetualang di jalanan  dengan  kuda besi berukuran besar yang kerap disebut moge atau motor gede. Tak keliru bila kusebut dia biker sejati. Kuda besinya bukan hanya menemani acara touring antar kota antar propinsi dan  antar negara, tapi lebih dari itu. Tak perduli betapa ruwetnya jalanan di Jakarta, setiap hari dia berangkat ke kantor dengan menunggang Harley Davidson type Road King atau dengan menunggang BMW GS 1200 adventure-nya.

Keterlibatannya dalam dunia motor ditunjukkan dengan aktif selama 10 tahun menjadi ketua club motor Thunder 250 cc se Indonesia.  Selain itu dia juga aktif dalam  club  Harley Davidson. Nama dan fotonya  kerap terpampang  dalam rubrik profil di majalah-majalah komunitas motor besar.  

Tak hanya itu, Pak Yugen juga sudah memiliki jam terbang tinggi dalam dunia touring. Dia telah menjelajah berbagai pelosok Indonesia dan juga luar negeri, di Eropa dan Asia dengan motor besar. Mendengar kisah-kisah touringnya, aku jadi makin semangat sekaligus juga merasa belum ada apa-apa dibanding beliau.

Ketika menceritakan pengalaman touring di Eropa, Pak Yugen menunjukkan jaket yang dikenakannya.

“Saya beli satu lagi, oleh-oleh untuk istri saya.” ujarnya.

“Ibu tidak ikut ya? “ tanyaku.

Sepintas ekspresi di wajahnya berubah. Otot zygomatic-nya berkontraksi meningkatkan sudut mulutnya, dan otot orbicularis oculi-nya menarik pipi dan sudut matanya ke atas.  Kalau aku tak salah membaca raut wajahnya, perasaannya tengah tersentuh oleh sesuatu .  

“Istri saya baru beberapa bulan lalu menjalani operasi cangkok ginjal. Perjuangannya untuk sembuh sangat luar biasa.” ucapnya kemudian.

Lalu mengalirlah kisah yang meluncur dari bibir yang atasnya dihiasi kumis tebal itu. Bagaimana dulu sang istri sering mengkonsumsi obat-obat pelangsing, mungkin juga kurang banyak mengkonsumsi air putih hingga ginjalnya mengalami kerusakan.

“Saya tak tega melihat dia harus rutin 2 minggu sekali cuci darah.  Tapi hebatnya dia tetap mendampingi saya saat touring. Disalah satu kegiatan touring menuju Sabang, ketika tiba di Medan kami langsung ke sebuah rumah sakit besar di sana karena sudah jadwalnya dia harus cuci darah.” Pak Yugen tersenyum lalu melanjutkan bicaranya.

“Suster dan paramedis di sana tak percaya kalau dia pasien. Soalnya dia pakai jaket, sepatu booth dan terlihat segar. Apalagi ketika tahu dia di bonceng motor datang dari tempat yang jauh. Hehehe..” Pak Yugen terkekeh mengingat ekspresi kaget paramedis di rumah sakit itu, dan juga wajahku yang menatapnya  terbengong-bengong.

“Wah! Hebat sekali! Terus bagaimana, Pak? “ tanyaku antusias.

“Ya kami menghabiskan waktu 4 jam di rumah sakit itu selama dia menjalani cuci darah. Saya menunggunya sambil istirahat. Setelah itu, kami naik motor lagi melanjutkan perjalanan.”

Ceritanya membuatku takjub. Tak salah lagi, mereka sungguh-sungguh pasangan biker sejati.

“Ke Eropa, Ibu nggak ikut. Karena kami belum tahu kondisi di sana. Harus ke rumah sakit mana kalau tiba jadwalnya cuci darah. Setelah banyak berpikir dan mempertimbangkan, dia memutuskan tidak ikut. Takut merepotkan saya.” Tatapan Pak Yugen menerawang seolah mengenang saat itu sebagai kejadian yang menyedihkan.

“Tapi, saya belikan dia banyak oleh-oleh. Jaket, sepatu booth, aksesories, apa saja yang saya pikir bagus untuk dia. Biar dia senang meskipun tak bisa ikut.” Senyum di wajah Pak Yugen mengembang lagi.

Sebentar saja berbincang dengan dia, aku sudah sampai pada kesimpulan bahwa pria ini sungguh mencintai istrinya. Saat touring tanpa di dampingi istri pun, dia tetap “membawa” sang istri  bersamanya, mengingatnya di setiap tempat yang dikunjungi. Dalam hati aku ingin tahu seperti apa istrinya. Tentu dia wanita istimewa, karena Pak Yugen mencintainya dengan cara yang istimewa.

Keinginanku untuk mengenal istri pak Yugen akhirnya tercapai. Ketika touring menuju Guci Tegal tanggal 27-28 September lalu, kami bertemu.

Akang, Pak Yugen, Pak Bambang dan Andaru memang merencanakan touring bersama. Sengaja hanya dengan rombongan kecil, supaya lebih nyaman dan akrab.

Bu Yugen bernama Sri Widayati. Usianya hanya terpaut 6 bulan lebih muda dari  suaminya. Kami berbincang sebentar ketika berkumpul untuk sarapan pagi sebelum berangkat bersama-sama menuju Guci Tegal.

Ketika motor BMW GS 1200 Pak Yugen mogok di Cibuntu- Cibitung, kami harus menunggu perbaikan motor selama 4 jam.  Di sanalah kesempatanku berbagi cerita dengan  Bu Yugen.

“Baru tujuh bulan yang lalu saya menjalani operasi cangkok ginjal. Ini touring pertama saya pasca operasi.” Bu Yugen membuka kisahnya.

“Operasi cangkok ginjal itu berlangsung selama 8 jam. Dan 3 bulan pasca operasi  adalah masa kritis yang harus saya jalani. Sungguh proses panjang yang melelahkan. Di mulai dari mencari donor ginjal. Itu tak mudah. “ ucapnya.

“Ada 4 orang calon donor ginjal. Kami harus sungguh-sungguh  menseleksi mereka. Semuanya diperiksa dengan berbagai test laboratorium. Akhirnya kami memutuskan memilih donor yang termuda, usianya 30 tahun. Calon donor yang lain berusia 43 dan 42 tahun. Tapi kami pikir tentu yang usianya lebih muda kondisi ginjalnya lebih baik, dan itu diperkuat hasil pemeriksaan laboratorium.”

“Wah, hebat. Ibu bisa dapat sekaligus 4 calon donor. Padahal orang lain untuk dapat satu saja calon donor ginjal susah sekali, Bu.” Aku menatap Bu Yugen yang tersenyum.

“ Alhamdulillah. Itu kemudahan dari Tuhan.” sahutnya.

“Saya ambil keputusan menjalani cangkok ginjal dengan mengucap Bismillah.. Meskipun tau resikonya kehilangan nyawa. Salah seorang teman saya meninggal setelah menjalani cangkok ginjal karena tubuhnya menolak ginjal baru.” Tatapan Bu Yugen meredup mengenang sang teman.

“Saya tak tega pada Bapak. Saya tahu dia sangat sedih setiap saya  cuci darah. Dan cuci darah itu tidak menyembuhkan saya. Hanya memperpanjang hidup beberapa saat saja.” Bu Yugen menarik nafas panjang.
“Tiga bulan pasca operasi adalah masa-masa sulit yang berat bagi kami berdua. Bayangkan, saya hanya tergolek di tempat tidur, persis  seperti bayi yang tak bisa apa-apa. Seluruh hidup saya bergantung pada Bapak. “ Mata Bu Yugen berkaca-kaca. Tentulah bayangan masa-masa sulit itu terlintas kembali dalam benaknya.

“Dia yang mengurus saya. Dibatalkannya seluruh jadwal touring selama 3 bulan itu untuk mengurusi saya. Dia memperhatikan makanan saya, bahkan memasak sendiri untuk saya karena tak percaya pada asisten rumah tangga kami. Takut salah, katanya. Dia memberi saya obat yang harus diminum tepat waktu setiap hari. Kalau tidak akibatnya bisa fatal. Tubuh saya bisa bereaksi buruk terhadap ginjal baru ini.” Kisah bu Yugen mengaduk-aduk emosiku. Aku hanya menunduk menekuri lantai kala mencerna kisahnya.

“Saya harus memakai diapers, karna tak mampu turun dari tempat tidur untuk ke kamar mandi. Dan dia juga yang membersihkan...”

Kali ini aku terpaksa mengerjap-ngerjapkan mata supaya butiran bening yang menggenang  tak menetes. Lucu sekali kan, kalau aku sampai menangis. Repot memang kalau punya sifat cengeng, mudah tersentuh, mudah meneteskan air mata. Aku merutuki diri sendiri, berusaha menetralkan suasana hati. Kulemparkan pandangan ke arah jalan raya yang terbakar terik matahari, dan dipenuhi berbagai kendaraan.

Laki-laki yang masih gagah dan  mapan secara financial seperti Pak Yugen, tentu punya banyak pilihan dalam hidup. Bukan perkara sulit baginya menemukan perempuan muda cantik semlohai yang mau mendampinginya. Tapi, dia memilih merawat cintanya. Dia menjaga istrinya, mendampingi dan melayaninya selama tiga bulan masa krisis hingga harus kehilangan 8 kg berat badannya. Sudah dapat kubayangkan, betapa beratnya masa itu. Seluruh perhatian, tenaga dan emosi  terkuras demi sang istri.

“Lepas dari masa 3 bulan itu, ketika dia harus ke kantor, makanan saya dia pesan ke sebuah catering langganan.  Setiap hari dia telpon catering itu memesan menu untuk saya. “ Bu Yugen tersenyum.

Sementara itu, Pak Yugen  mengawasi motor yang sedang diperbaiki. Sesekali dia ikut juga mengutak-atik motornya. Tak lama dia membuka tutup bagasi motor, tangannya menggenggam sebuah botol biru berisi air beroksigen. Dia menghampiri istrinya dan mengulurkan botol itu.

“Minum.” Seyumnya mengembang, lalu tangannya menjawil pipi istrinya dengan sayang.

Sang istri tersipu, menerima botol minuman itu dan meneguk isinya.

Aku diam-diam memperhatikan mereka. Hatiku dijalari perasaan hangat. Sungguh jelas di mataku. Mereka pasangan yang saling mencintai. Aku melihat cara Pak Yugen menatap istrinya, dan juga sebaliknya.  Bahasa tubuh mereka  menterjemahkan cinta.

Lalu Bu Yugen menunjukkan botol minuman itu padaku.

“Saya disuruh Bapak minum ini, air oksigen. Katanya bagus sekali untuk kesehatan. Bapak membelikan saya  berkardus-kardus minuman ini.  Biar cepat sehat katanya. “

Aku mengangguk-angguk.

“Waktu bapak ke Eropa, saya tidak ikut. Dulu saya masih harus rutin cuci darah. Tapi, dia membawakan saya banyak sekali oleh-oleh. Jaket-jaket, sepatu-sepatu boot, dan masih banyak lagi. Padahal saya sudah punya banyak. “ Bu Yugen tergelak sambil menggelengkan kepalanya.

Wah... kisahnya sama seperti kisah yang dituturkan pak Yugen.

“Bu, kata Bapak waktu Ibu masih rutin cuci darah, Ibu tetap ikut touring ke Sabang?” Tanyaku.

“ Oh. Iya betul.” Senyum lebar Bu Yugen mengembang. “ Saya mampir di Medan untuk cuci darah, lalu lanjut jalan lagi.”

“ Kenapa Ibu masih tetap memaksakan diri touring. Kondisi kesehatan orang yang kerap cuci darah kan suka lemas, Bu? “ Rasa ingin tahuku tak terbendung.

“ Saya tak tega melihat Bapak pergi sendiri. Touring itu menempuh jarak yang jauh. Kasihan dia..”

Oh.. Cinta.

Beberapa saat kemudian, sebuah mobil putih berhenti di pinggir jalan. Seorang pria dan wanita turun. Sang Pria langsung menyalami Pak Yugen dan ikut mengutak-utik motornya. Sang wanita menyapa Bu Yugen, lalu mereka berbincang akrab.

“Ini Pipit. Dia dan suaminya juga senang touring. Kami sering touring bersama. “ Ujar Bu Yugen memperkenalkan temannnya.

Aku dan Mbak Pipit kemudian terlibat obrolan asyik. Bu Yugen tampak berbicara dengan suaminya ketika obrolan aku dan Mbak Pipit mengulas  kisah touringnya ke Nias.  Pembicaraan makin melebar, mbak Pipit menceritakan berbagai touring yang dilakukan berbarengan dengan Pak Yugen.
  
"Waktu Bu Yugen sakit, beberapa kali dia tak ikut touring. " Ujar Mbak Pipit.

Sebuah pikiran terlintas. Aku mendekatkan wajahku ke telinga Mbak Pipit.

“Bagaimana Pak Yugen kalau berangkat touring tanpa istrinya?” Bisikku.

“Wah, dia laki-laki hebat. Shalat tak pernah tinggal. Biar dia tak touring bersama istrinya, dia tak pernah macam-macam. Kalau sampai di tempat tujuan touring, mana pernah dia keluyuran. Cuma di kamar saja, istirahat. Lalu besoknya dia “ngintili” aku dan suamiku. Dia biasa minta aku memilihkan oleh-oleh.  Kalau dia memilih sendiri, selalu minta pendapatku apakah kira-kira barang itu cocok untuk istrinya. “ Mbak Pipit ikut-ikutan  mengecilkan volume suaranya. Kami berdua  bicara berbisik-bisik persis sepasang ibu-ibu rumpi..hihihi...

Kekagumanku pada pasangan suami istri itu makin menebal. Ketika perjalanan berlanjut, berkali-kali hatiku terhantam haru melihat bahasa cinta mereka.

Emosiku  teraduk-aduk melihat Pak Yugen dengan sabar membantu mengancingkan jaket dan memasangkan safety lock pada helm istrinya. Ekspresi wajahnya penuh kesabaran.

Di sebuah rumah makan di Sukamandi Subang,  kami istirahat makan siang. Rasanya tak karuan. Lelah dan kepanasan setelah melewati berkilo-kilo meter kemacetan parah di tengah sengat matahari yang garang.
Saat aku beranjak ke toilet, mataku menatap adegan paling romantis dari sepasang suami istri berusia menjelang senja ini. Laki-laki itu membungkukkan badan di hadapan istrinya yang duduk di kursi. Tangan Pak Yugen terjulur, melepaskan resleting sepatu. Lalu perlahan dia melepas sepasang  sepatu itu dari kaki sang istri.



Aku tertegun. Duuh... pemandangan itu benar-benar membuatku tersentuh. Mereka berdua seolah mengajari bagaimana mencintai, dan bagaimana merawat cinta itu hingga terus membara sepanjang usia.

Ketika kubertanya pada Bu Yugen kenapa sepatu bootnya dibukakan suami, dia menjawab,” Bapak tak tega. Jahitan di perut saya terasaperih kalau saya membungkuk atau mengangkat kaki untuk melepas sepatu. “

Masa lalu pasangan ini penuh dengan perjuangan.  Mereka dulu kenyang menelan susah.

“Bapak dulu  sopir. “ Ucap Bu Yugen.

“Kami dulu orang tak punya. Tapi kami selalu bersemangat menjalani berbagai usaha. Kami pernah berjualan cumi. “ Bu Yugen menatap wajahku yang melongok tak percaya.

“Benar lho. Lalu Bapak juga pernah jadi sopir bajaj. Usahanya terus berkembang sampai kami bisa punya bajaj 12 buah. “

“Bapak bekerja di perusahaan minyak juga merangkak dari bawah. Perjalanan panjang. Alhamdulillah bisa seperti sekarang. “ Pak Yugen yang duduk di sebelah istrinya tersenyum-senyum.

“Kalau kita berusaha terus, tidak menyerah, pasti Tuhan membukakan jalan. Saya dulu sudah susah,  masih dibebani tanggung jawab membiayai saudara-saudara, baik dari pihak istri maupun dari pihak saya. Saya membiayai adik-adik ipar dan adik-adik kandung saya sekolah. Sekarang mereka sudah berhasil. Tapi Tuhan maha adil, makin banyak saya memberi, makin banyak yang saya peroleh.” ujar Pak Yugen.

Alhamdulillah. Makin banyak yang aku pelajari dari pasangan suami istri ini.



Pagi itu, di Guci Tegal, Aku, Akang dan Bu Yugen bersiap sarapan. Pak Yugen masih berendam air panas alami di kolam renang. Istrinya membawakan nasi goreng dan lauk pauk sarapan ke tepi kolam itu. Tapi tak lama Pak Yugen bergabung, ikut  sarapan bersama kami.

Selesai sarapan, aku dan Bu Yugen berjalan ke luar area hotel untuk membeli oleh-oleh.

“Saya beruntung, punya suami yang baik.” ucap Bu Yugen.

“Bapak juga beruntung, punya istri seperti Ibu. Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, Bu.” sahutku.

Bu Yugen tersenyum mendengar perkataanku.

“Jadi istri harus sabar, harus selalu memberi semangat suami. Apalagi di masa-masa sulit. Istrilah yang harus memberi kekuatan pada suami hingga dia bangkit dari kesulitan. “

Aku dan Bu Yugen


Ungkapan  seperti itu sudah sering aku dengar, tapi kalimat yang keluar dari mulut Bu Yugen  terasa berbeda.  Kata-katanya seolah “berjiwa”. Tentu karena keindahan hatinya Pak Yugen membalas dengan hal yang sama. Mereka berdua merasa tentram dan bahagia bila berdekatan. Di kala berjauhan, hati mereka pun tetap bersama. 

Ketika istirahat terakhir sebelum berpisah  menuju rumah masing-masing, kami mampir di sebuah POM bensin di kota industri antara Purwakarta dan Cikampek. Selepas melaksanakan shalat maghrib aku duduk santai di teras. Pak Yugen yang juga duduk di sebelahku terseyum-senyum menatap istrinya yang tengah berjalan memasuki toilet.

“Ibu itu...” ujarnya dengan seulas senyum.” Kalau sudah capek jadi rewel. Hehehe...” Tawa kecil itu membuatku menelusuri raut wajahnya. Tak kujumpai setitik pun ekspresi yang menunjukkan kekesalan, atau kemarahan. Dia begitu sabar, malah menganggap kerewelan istrinya sebagai sesuatu yang lucu, sesuatu yang patut dimaklumi.

Seperti yang pernah kutuliskan, selalu ada hikmah di setiap touring yang kujalani bersama Akang. Touring kali ini membuatku makin menyelami sebuah kisah hidup yang dilakoni Pak Yugen dan istrinya. Sebuah kisah yang patut diteladani pasangan suami istri lain. Kisah yang mengajarkan makna mencintai, dicintai, dan merawat cinta hingga teruji dan tetap tumbuh sepanjang usia.




Semoga Pak Yugen dan Ibu Sri Widayati selalu sehat dan penuh semangat. Semoga akan ada kesempatan lain touring bersama lagi. Berharap Pak Yugen dan istri bisa tetap  mengajari kami, cara mencintai.



Note : Kisah  ini  menjadi kenangan manis bersama istri Pak Yugen, Ibu Sri Widayati. Beliau telah meninggal dunia tanggal 27 Oktober 2015. Innalilahi wa inna ilaihi rojiun... Semoga Ibu Sri Widayati khusnul hotimah, diampuni semua dosa dan diberi tempat yang indah di sisi Allah SWT. Aamiin..


13 komentar:

Nathalia Diana Pitaloka mengatakan...

ya Allah... mata saya jg berkaca2 bacanya... iri banget sama pasangan suami istri itu :)

Ety Abdoel mengatakan...

So sweet, teladan buat saya Mba. Terharu membacanya.

Neng Chika mengatakan...

Mantaaaaab kisahnya. Saya kenal pak Yugen dikenalin teman saya Firman biker dari Pulsarian. Katanya bosnya mau beli lampu buat motornya. Akhirnya kami bertemu. Dan kami berbicara dan saya mendengarkan kisah yg sama spt saya baca sekarang saya sangat terharu. Saat itu ibu Yugen mau operasi cangkok ginjal dan alhamdulillah setelah operasi ibu berjalan lancar. Semoga ibu dan bapak diberikan kesehatan selalu. Kapan2 kita touring bareng ya Pak dan mudah2an saya bertemu dg jodoh yg sebaik bapak amiiiiin.

Titi Alfa Khairia mengatakan...

Sungguh bahagia dianugerahi cinta seperti mereka, semoga semua orang boleh merasakan bahagianya mencintai dan dicintai

Tetty Lumbangaol mengatakan...

sebuah kisah yang mengharu biru, membuat mata saya berkaca2, berharap suatu saat nanti saya menemukan sosok seperti Pak Yugen, saling mencintai didalam kondisi apapun,, aamiin yah robbal'alamin :)

Aulia Puspita mengatakan...

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. Sy ingin mengomentari kisah ini dari sudutpandang kacamata alqur'an , krn Alqur'an merupakan pedoman serta petunjuk hidup dan kehidupan bg org2 beriman. CINTA KASIH SAYANG itu adalah Allah pemilikNya,Cinta kasinh sayang itu bersumber dari Allah SWT," dan DIA lah yg mempersatukan qolbu org2 beriman. Refrensi ! QS. AL-Anfal,8:63. Iman adalah cahaya,cahaya kekuatan Allah ( rahmad)yg diturunkan Allah kedlm jiwa, jiwa yg berada didlm qolbu! Yaitu Qolbu org2 beriman yg sllu mengingat Allah dlm keadaan berdiri, duduk , berbaring !. " Allah lah yg mmprsatukan qolbu mereka, walaupun kalian membeli dg smua kekayaan yg berada dimuka bumi ini niscaya kalian tdk akan mampu mempersatukan qolbu mereka ! @>--Sebuah Contoh ayat qouniyahnya (ayat2 Allah yg tersirat/kejadian2 dimuka bumi ini). : Prsiapan prnikahn selebritis yg menelan beaya M tetapi umurny cm 3 bln..bahkan mngkin lebih pendek dr itu Itu Artinya kasih syg itu tdk bs dbeli(diganti) dg uang ! Nah bagaimana harusnya kita ini mempunyai rasa Kasih Sayang ?? Jawabanya ada di. QS, 49 Al-Hujurot :7. , yaitu adanya perasaan INDAH didalam qolbu....

Anonim mengatakan...

Ya Allah tidak terasa air mata ini mengalir... begitu terharu membacanya. Sudah lama saya tidak bertemu bapak Yugen dan ibu. Pasangan yang sungguh luar biasa. Dan sore ini saya di kejutkan dengan berita duka. Ibu Yugen telah berpulang ke rahmatullah. Innalillahi wainna ilaihi roji'un. Semoga Allah menerima semua amal ibadah, mengampuni segala kesalahannya dan memberikan tempat terbaik disisiNya. Selamat jalan ibu...

novi prabha mengatakan...

Bunda......semoga almh ditempatkan yang terbaik oleh Allah, semoga bpk.yugen diberin kesabaran yang lebih lg ,aminnnn..kisahny mengharu biru T_T

Unknown mengatakan...

Innalilahiwainnailaihirojiun ... telah berpulang ke Rahmatullah ibu Sri Widayati selasa 27 Oktober 2015 lalu, istri Bp. Yugentoro, kisah cinta bapak dan ibu memberikan arti bagi kami semua, semoga semua amal ibadah Almarhumah di perberat dan diterima di sisi-Nya .. Amin

Maya Siswadi mengatakan...

Baru baca kisahnya. Smoga bisa menjadi pelajaran buat kita yaa

sri mulyani mengatakan...

Ah cintanya indah, laki-laki itu hebat sekali 👍

sri mulyani mengatakan...

Ah cintanya indah, laki-laki itu hebat sekali 👍

Madejulius Vinka mengatakan...

baca dari atas kyknya seru bngt kehidupannya pasangan suami istri ini, pas baca Note dibawah lngsung merinding, semangat terus Bapak,