Rabu, 24 September 2014

Jatuh Cinta Lagi Meski Sudah Menikah, Why not?

Merasa bosan dengan kehidupan berumah tangga? Wajar saja. Hal ini bisa terjadi bila selalu menjalani aktivitas rutin berulang selama bertahun-tahun tanpa banyak variasi. Tapi rasa bosan itu tidak boleh dibiarkan, harus ada usaha yang sungguh-sungguh untuk membuat kehidupan rumah tangga lebih menggairahkan.


Salah satu cara yang jitu adalah jatuh cinta lagi. Kenapa? Semua yang pernah merasakan jatuh cinta tentu tak menyangkal bahwa perasaan jatuh cinta itu  menyenangkan dan menggairahkan.  Hati berdebar-debar menjelang waktu bertemu si dia. Diam-diam mengawasi gerak-geriknya untuk mengetahui lebih banyak hal tentang dia. Gelisah menunggu telepon atau pesan dari dia. Berdandan secantik-cantik atau seganteng-gantengnya untuk membuat dia terkesan. Membeli atau masak sendiri makanan istimewa untuknya dengan bumbu cinta.  Menulis pesan romantis untuk mengungkapkan cinta pada dia. Merencanakan saat-saat romatis berdua. Rela menemani aktivitas si dia demi kebersamaan. Betapa menyenangkan!

Tentu  jatuh cinta lagi boleh dilakukan oleh orang yang sudah menikah selama sang  object jatuh cinta adalah pasangan syah-nya, istri atau suami sendiri, bukan orang lain. Di sinilah point pentingnya. Orang yang paling berhak menikmati cinta adalah pasangan syah yang diridhoi Tuhan.
Lalu bagaimana cara membangkitkan rasa jatuh cinta lagi?

Sebut saja Deti. Di tahun kedua pernikahannya dengan  Putra, mereka sudah dikaruniai seorang anak. Aktivitas sehari-hari berjalan rutin dan seluruh perhatian seolah tercurah pada si kecil saja. Tak ada lagi waktu Deti berduaan dengan Putra. Masalah komunikasi pun tersendat. Putra yang dulunya  sangat romantis, perhatian dan mesra sekarang cuek. Bila Deti mengajak berbincang masalah pernak-pernik rumah tangga, Putra tak terlalu menanggapi, karena menurutnya itu bukan masalah besar. Akibatnya hubungan mereka menjadi hambar. Deti merasa tak nyaman dengan perubahan sikap suaminya. Tak ada lagi kata-kata mesra “ I love you” yang dulu sering sekali diucapkan Putra.

Sebenarnya apa yang terjadi? Betulkan cinta Putra pada Deti  pudar?

Putra sesungguhnya berada dalam  zona nyaman. Dulu sebelum punya istri, dia harus berusaha keras memikat hati Deti, gadis incarannya. Salah satunya dengan memberi perhatian dan bersikap romantis supaya Deti terpikat dan mantap memilih dia menjadi suami. Ketika sudah berumah tangga, Putra merasa tak perlu berupaya lagi. Toh gadis idamannya sudah ada disisinya, sudah dalam genggamannya. Putra tak lagi disibukkan dengan upaya mencari pendamping hidup,karena itu dia lebih fokus pada hal-hal lain seperti pekerjaan dan hobinya.

Di sisi lain, Deti membutuhkan perhatian yang konsisten. Dia rindu pada romantisme seperti yang  pernah dirasakan saat jatuh cinta pada Putra. Dia ingin dipuji, dimanja, sedikit dicemburui, dipandangi dengan mesra, dan diperhatikan bahkan untuk hal-hal kecil.

Beberapa kali Deti mengeluh pada Putra, mempertanyakan mengapa sikapnya berubah. Tapi Putra merasa tak ada yang salah, dia merasa telah melakukan yang terbaik dengan  menunjukkan tanggung jawabnya terhadap Deti dan si kecil. Lagi-lagi komunikasi tersendat.

Deti mulai resah. Akan terus seperti inikah rumah tangganya? Dia berharap rumah tangga yang langgeng  hingga akhir masa. Tapi bila  tanpa romantisme , Deti  tak yakin mampu  menjalaninya dengan bahagia.

Lalu sebuah ide muncul. Romantisme yang diidam-idamkannya bisa tumbuh lagi dan terjaga selama dia memelihara rasa jatuh cinta. Meminta dan menuntut suaminya bersikap romantis hanya menghasilkan  perdebatan demi perdebatan yang melelahkan hati. Karena itu, Deti berinisiatif melakukan tindakan nyata.

Setiap suaminya pulang kerja dan akan berangkat kerja, Deti menghujaninya dengan ciuman dan pelukan mesra seolah saat itu adalah  pertemuan terakhir. Dia tak perduli dengan tatapan heran Putra. Setiap malam sebelum tidur, saat si kecil sudah terlelap, Deti mengajak Putra berbincang ringan sambil mendekapnya. Ketika adzan subuh berkumandang, Deti membangunkan Putra dengan bisikan sayang, sambil membelai lembut suaminya.

Tidak hanya itu, saat berdua di rumah seringkali Deti memeluk Putra. Ketika Putra sibuk dengan gadgetnya, Deti membelai pundak suaminya dan menatap wajah Putra dengan tatapan sayang, seolah-olah berkata, “ Hallo sayang, aku ada disini bersamamu,  dan kau boleh sibuk dengan gadgetmu. “

Sesekali Deti menulis surat cinta lalu diselipkannya di tas kerja Putra. Lalu  saat Putra berada di kantor, Deti mengirimi pesan sms atau BBM mesra memberi semangat Putra untuk bekerja dan berprestasi di kantornya.

Bagaimana reaksi Putra? Mula-mula dia merasa aneh dan risih dengan prilaku Deti. Tapi dengan berjalannya waktu, usaha  Deti terus menerus menggempurnya dengan kemesraan membuat  Putra merasa nyaman. Dia mulai merindukan prilaku manis Deti bila sesekali Deti lupa melakukannya. Bila kemesraan Deti surut, Putra merasa ada yang salah. Maka dia akan bertanya, lalu komunikasi berjalan baik.

Sebenarnya apa yang dilakukan Deti adalah sebuah bentuk bahasa cinta. Bahasa yang disampaikan dengan tindakan, bukan dengan kata-kata. Semua tindakan itu sebenarnya berbunyi “ Sayang, aku memperlakukanmu seperti ini karena aku ingin diperlakukan seperti ini. “

Di awal, ketika Deti mulai menggaungkan bahasa cintanya, dia menahan perasaan kesal akibat reaksi Putra yang merasa risih, atau aneh. Deti menahan ego-nya, menekan gengsi dan harga dirinya di hadapan Putra demi memperoleh apa yang diinginkannya. Deti sadar, bila menginginkan sesuatu maka dia harus berkorban. Tidak ada yang salah, toh Putra adalah pasangan halal yang diberikan Tuhan padanya.  Deti terus memberikan pelukan, belaian, ucapan manis, tatapan mesra dan ungkapan cintanya pada Putra,  sehingga dalam prosesnya dia memperoleh apa yang diinginkannya.Putra pun membalas perlakuan manis Deti dengan hal yang sama.

Usaha Deti menunjukkan cintanya tak tanggung-tanggung. Dia rela mengikuti hobbi Putra demi terus  menjalin kebersamaan di waktu senggang mereka. Saat anak-anak Deti dan Putra makin bertambah, kemesraan mereka tetap terjaga.

Terus menerus menunjukkan kemesraan dan perilaku manis membuat pasangan ini selalu merasa dalam kondisi jatuh cinta. Hal itu terus berlangsung hingga sekarang usia pernikahan mereka sudah mencapai belasan tahun. Deti dan Putra berharap mereka akan terus bersama menjalani kehidupan rumah tangga yang menggairahkan. Semoga hal ini bisa menjadi inspirasi bagi pasangan suami-istri lainnya.


15 komentar:

Nunu mengatakan...

Yuk membangun cinta #eh

Juliana Dewi Kartikawati mengatakan...

@Nunu : hayuuk... Mari jatuh cinta lagi.

Agustinadian Susanti mengatakan...

wow so sweet...

Haya Nufus mengatakan...

Untuk memulai 'meromantiskan diri' dalam kondisi seperti cerita di atas benar2 harus mengesampingkan ego ya mak.... Demi jatuh cinta lagi ^^d
Mari.... jatuh cinta lagi berkali-kali :D
Salam

Juliana Dewi Kartikawati mengatakan...

@Haya Nufus : iya memang butuh perjuangan. Harus mwnekan gengsi dan harga diri. Kesannya seperti mengemis cinta. Tapi mengemis cinta pada jodoh kiriman Tuhan, apa salahnya? Hehe...mari jatuh cinta lagi!

Juliana Dewi Kartikawati mengatakan...

@Agustina Susanti : sweet just like candy..hehe

HM Zwan mengatakan...

mari menanam jatuh cinta,eh hehe

Juliana Dewi Kartikawati mengatakan...

@HM Zwan:Menanam jatuh cinta menuai bahagia..uhuy..hehe

ummi aleeya mengatakan...

waduuuh koq ya malah jadi sedih gini..

Juliana Dewi Kartikawati mengatakan...

@ummi aleeya: lho..kenapa sedih Ummi?

tursinah mengatakan...

Malu kadang bingung untuk memulainy

Ardiyanti Maysarah mengatakan...

tak semudah yang dikatakan....apa yang disampaikan hanya bersifat sementara jg.karena semua tergantung dari sifat dan watak masing-2

Intan Ifadella mengatakan...

Sangat menginspirasi (y)
Perlu dicoba :D

iin aan mengatakan...

Hajar ajaa hayuuuk

Riana Wulandari mengatakan...

mauu