Sabtu, 09 Agustus 2014

Liku-liku Mengurus Visa Amerika


Menjejak Amerika. Itulah salah satu resolusi yang kucanangkan ketika memasuki tahun 2014 yang lalu. Mau apa disana? Kapan berangkat dan bersama siapa? Pertanyaan-pertanyaan itu pada awalnya tak terlalu menggangguku karena semuanya masih serba tak pasti.

Kutanyakan adakah kemungkinan Akang, begitulah aku memanggil suamiku, mengizinkan aku pergi ke Amerika.  Kusodorkan kehadapannya  berlembar-lembar kertas bertuliskan promosi tour ke Amerika lengkap dengan itinerary, hasil mencomot dari berbagai travel agent.

Tapi nasib pelaksanaan resolusiku itu  ibarat teka-teki. Sulit ditebak, sebagaimana  ekspresi datar dengan bibir terkatup rapat yang  menghias sekujur wajah  Akang.  Tumpukan kertas itu membisu, teronggok saja di atas meja, tak ditoleh sama sekali. Ekspresi datar itu bertahan di wajahnya, tak mengiyakan, tak pula menolak, hanya diam dengan tatapan lurus kedepan.

Baiklah, aku tak risau. Siapa tau pria separuh jiwaku itu sudah punya rencana lain yang jauh lebih asyik daripada membiarkan istrinya kelayapan di negri adi daya.

Ketika di bulan  Maret aku mengajukan izin ke Kuala Lumpur, dia menatapku lalu berkata.

“ Untuk apa, Neng? Di sana tidak ada yang menarik.”

Lalu meluncurlah argumentasiku. Bahwa traveling kali ini bukan sekedar jalan-jalan. Terselip sebuah tujuan mulia, mengadakan bakti sosial memberi pelatihan bisnis dan menulis untuk para TKW di kedutaan RI, bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis, Komunitas Ibu Mengajar dan Persatuan Wanita Indonesia untuk Pendidikan.

Argumentasiku makin menyala-nyala.  Kusebutkan pula bahwa aku dan teman-teman akan bertemu dengan komunitas wanita expatriate yang tinggal di Kuala Lumpur. Kujelaskan segala manfaat yang dapat direguk bila bergaul dengan wanita-wanita berenergi positif dengan ide-ide cemerlang dan network yang luas.  
Lalu izin suamiku pun meluncur, lancar jaya.

Kini aku mengerti. Akang menghendaki perjalananku ke negeri orang hendaknya membawa misi kebaikan, bukan sekedar jalan-jalan dan bersenang-senang.

Pasal resolusiku ke Amerika seolah pupus,  selama berbulan-bulan tak pernah tercetus kembali. Hingga suatu hari di bulan Ramadhan, pertengahan Juli 2014. Aku tengah duduk di lobby kampus  pasca sarjana universitas Ibnu Khaldun bersama sahabatku Indriya. Kami menanti sebuah kuliah singkat  kajian hadist.

Agak aneh ya, emak-emak dasteran kayak aku kok ikut kuliah? Di kampus pasca sarjana pula.  Itulah untungnya bersahabat dengan mahasiswi program pasca sarjana seperti  Indriya. Aku bisa kecipratan memperoleh ilmu, meskipun cuma beberapa hari menjadi mahasiswi “jadi-jadian” mencicipi duduk di ruangan khusus yang adem,  mendengarkan kajian hadits dari dosen-dosen yang kompeten dengan bonus boleh bertanya sebanyak-banyaknya. Nikmat...!

Di lobby itu telepon seluler Indriya berbunyi. Obrolan kami pun terhenti. Dia berbicara  dengan seseorang di seberang sana. Kelihatannya   berunding tentang rencana keberangkatan ke suatu tempat. Detroit dan  Los Angeles disebut-sebut dalam pembicaraan itu. Sesaat setelah telepon di tutup, kami pun dipersilahkan masuk ruangan untuk mengikuti kuliah kajian hadits.

Baru beberapa menit duduk menyimak kuliah, Indriya berbisik.

“Mbak, ikut yuk ke USA. Kita bertemu dengan komunitas muslim disana. Sekalian menghadiri konvensi ISNA, Islamic Society of North America. Setelah itu jalan-jalan.”  Mata Indriya berbinar-binar melirikku.

“Terus, aku ngapain di sana? “ Balasku antusias.

“Mbak kan sudah lama aku tawari bergabung di InICF, Indonesia Islamic Cultural Foundation. Sekaranglah saatnya menjadi delegasi InICF menghadiri konvensi ISNA. Sebagai promotion officer.  Tugas kita membawa misi budaya Islam Indonesia. Ayoklah!” Desaknya meyakinkan aku.

Wah, menarik. Tanganku meraih ponsel, mengetikkan rangkaian kata-kata bernada persuasif, berbumbu argumentasi , diakhiri dengan sedikit rayuan manis berujung permintaan izin berangkat ke USA. Pesan itu dikirim ke ponsel milik pria separuh jiwaku yang tengah menjalankan tugas mulia mencari nafkah di Selat Malaka sana.

Beberapa menit aku menanti. Tak ada jawaban.  Bagaimana pun  jawabannya nanti, aku akan maklum. Izin yang kuharapkan memang bukan sekedar barisan kata,” Baiklah, Akang mengizinkan Neng pergi.” Tapi lebih dari itu.

Mengizinkan berarti Akang bersedia  mengikatkan diri pada kewajiban membiayai travelingku mulai dari transportasi, akomodasi, biaya makan hingga beli oleh-oleh. Cukupkah semua itu? Belum. Si Akang pun harus mengikatkan diri pada kewajiban menggantikan tugasku menjaga anak-anak kami selama aku pergi. Sungguh berat. Aku tahu itu.

Lima belas menit kemudian  kekhusyukan mendengar penjelasan hadits riwayat Buchori terkoyak oleh getaran ponsel yang menandakan sebuah pesan masuk.

Dari Akang.  Hanya satu kata saja yang dituliskan sebagai balasan atas pesanku yang terdiri dari berderet-deret kalimat.

“ Boleh.”

Satu kata yang kontan membuat hatiku melonjak-lonjak gembira tak karuan.

Kusodorkan ponselku pada Indriya hingga dia bisa membaca satu kata yang tertera di layar itu. Lalu kami berdua tersenyum-senyum serupa gadis remaja tersipu  membaca surat cinta. Tanpa sadar kami melakukan “tos lima jari” menautkan telapak tangan kami di udara. Lalu kembali tersipu menatap wajah dosen yang bengong melihat perilaku kami.

Usai kuliah, aku kembali mengulas rencana ke Amerika bersama Indriya.

“Acaranya tanggal 29 Agustus 2014, berarti kita berangkatnya tanggal 28 Agustus.”  Ujar Indriya

“ Apa? Yang benar saja. Ini sudah tanggal 15 Juli. Aku belum mengurus visa.  Dirimu sih enak, sudah dapat visa Amerika untuk 5 tahun. Lha, aku? Apa masih sempat? Apalagi tanggal 28 Juli Idhul Fitri. Wah....” Perutku tiba-tiba mules, terasa ketegangan merayapiku.

“Mudah-mudahan masih sempat. Kita harus bergerak cepat.”  Suara Indriya terdengar bersemangat.

 Mau tak mau aku pun tertular semangatnya, meskipun tetap saja cemas menggerayangi hatiku.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Langkah pertama yang harus aku lakukan adalah  mengurus visa . Banyak cerita yang melemahkan semangat kala aku bertanya bagaimana mengurus visa Amerika.

“Ribet. Teman sekantorku sudah pernah beberapa kali bolak-balik ke Amerika, eh terakhir apply visa malah ditolak. “

“Hah? Baru mau mengurus visa sekarang? Mana sempat! Aku saja butuh 1 bulan untuk mendapatkan visa Amerika.”

“Mengurus visa Amerika itu ibarat lotre, alias untung-untungan. Nasibmu ditentukan oleh petugas konsuler yang pongah itu.  Bisa saja pengajuan visa  ditolak tanpa sebab yang jelas.  “

“Setiap petugas konsuler akan mencurigai semua pemohon visa sebagai orang yang berminat menjadi imigran di Amerika. Jadi pemohon visa harus bisa meyakinkan kalau dirinya tidak bakalan menjadi imigran gelap, gelandangan atau pekerja ilegal yang mengadu nasib di sana. “

“Pertanyaannya njelimet. Aku seperti diinterogasi dan dicurigai habis-habisan.  Diperiksa persyaratan surat-surat pendukungnya. Ada satu surat yang salah tanggalnya, ya sudah deh... visaku ditolak. Sial!”

Wah, benar-benae deg-degan aku mendengar pengalaman gagal memperoleh visa Amerika . Tapi apa boleh buat, demi terlaksananya resolusi, aku  nekat saja mengajukan permohonan visa. Kalau ditolak ya sudah nasib. Resiko bila visa ditolak  adalah uang yang dibayarkan untuk biaya permohonan visa  tak dikembalikan.

Proses Pengurusan Visa USA

Mula-mula aku membuka website kedutaan Amerika di http://www.ustraveldocs.com/id_bi/id-niv-visaapply.asp . Di sini dijelaskan cara mengajukan visa non-imigran dengan bahasa Indonesia.

Aku menentukan dulu jenis visa mana yang sesuai dengan tujuan ke Amerika. Dalam hal ini aku mengajukan visa bisnis/ wisatawan jenis B-1. Lalu lanjut ke langkah berikutnya yaitu melakukan pembayaran biaya visa.

Untuk melakukan pembayaran, aku mencetak slip deposit yang link-nya terdapat pada http://www.ustraveldocs.com/id_bi/id-niv-paymentinfo.asp .  Pembayaran dapat dilakukan di Bank Permata dan Standard Chartered Bank.

Aku membawa  slip deposit ke Bank Permata. Ternyata tak semua bank Permata bisa melayani pembayaran visa Amerika, terutama di Bogor. Terpaksa aku menuju Bank Permata yang terdapat di Pondok Indah.

Untuk visa jenis B-1 biayanya adalah $160. Pembayaran dilakukan dengan rupiah sesuai dengan nilai tukar rupiah pada saat itu. Saat aku membayar visa, $160 setara dengan Rp. 1.920.000,-  Angka tersebut tercetak pada slip deposit. Pada slip deposit tertera tanggal kadaluwarsa slip, jadi pembayaran harus segera dilakukan sebelum tanggal tersebut.

Ketika selesai melakukan pembayaran, petugas bank  memberi slip pembayaran dari bank yang disatukan dengan slip deposit. Kedua slip ini harus di scan untuk dimasukkan datanya secara online, dan slip aslinya harus dibawa pada saat wawancara.

Kemudian untuk memenuhi syarat pengajuan visa, aku  membuat pas foto. Teman-temanku mengusulkan untuk berfoto di Jl. Sabang di Jakarta, tapi karena aku tak tahu tempatnya akhirnya aku berfoto di studio foto yang ada di kotaku, Bogor.  File foto  kemudian diupload secara online untuk memenuhi syarat pengajuan visa. Satu pas foto harus dibawa ketika wawancara.

Langkah berikutnya adalah mengisi formulir DS-160. Petunjuk dan panduan pengisian  terdapat pada link ini http://www.ustraveldocs.com/id_bi/id-niv-ds160info.asp  Formulir ini harus dilengkapi secara online dan halaman konfirmasi harus dicetak dan dibawa saat  datang ke kedutaan untuk wawancara.

Mengisi formulir DS-160 harus dilakukan dengan cepat, bila ada jeda selama lebih dari 20 menit maka sesi akan berakhir. Pemohon harus mengulang lagi dari awal.  Kecuali bila file permohonan sudah disimpan di komputer, maka pemohon bisa melanjutkan pengisian formulir.

Proses pengisian data ini sungguh bikin perut mules karena tegangnya. Tak lain karena tak boleh ada kesalahan dalam pengisian data dan  dilakukan dengan bahasa Inggris.

Dokumen-dokumen yang disiapkan untuk di upload adalah :
  • 1.       Kartu Keluarga
  • 2.       KTP
  • 3.       Surat Nikah
  • 4.      Surat Keterangan kerja, menyatakan bekerja di perusahaan apa, jabatan, sudah berapa lama dan gaji/ bulan dalam bahasa Inggris.
  • 5.       Atau bila sebagai pengusaha tunjukkan bukti surat2 usahanya, dan berapa asset plus omsetnya.
  • 6  Foto yang memenuhi syarat pengajuan visa Amerika seperti yang tertera pada link ini http://www.ustraveldocs.com/id_bi/id-niv-photoinfo.asp

 1
Selain dokumen-dokumen yang tersebut di atas, aku  juga menyiapkan dokumen-dokumen pendukung yaitu 


  • 1.       Supporting letter dari perusahaan atau organisasi yang berada di USA
  • 2.   Surat dari Atase Perdagangan  Kedutaan Besar Republik Indonesia karena travelingku ini untuk bertujuan menghadiri konvensi Islamic Society of North America (ISNA).
  • 3.   Surat penugasan dari organisasi yang menaungi aku dalam hal ini dari Indonesia Islamic Cultural Foundation ( InICF).
  • 4.       Bukti rekening koran/tabungan/deposito dan surat rekomendasi Bank.
  • 5.       Letter of Consent  atau surat izin dari suami.
  • 6.       Supporting letter dari perusahaan tempat suamiku bekerja
  • 7.       SIUP perusahaan tempat suamiku bekerja.

Kenyataan yang aku hadapi, tidaklah mudah untuk memenuhi semua persyaratan dokumen itu dalam waktu  singkat saat menjelang  mudik lebaran. Aku harus berkejaran dengan tenggat  waktu pengumpulan dokumen dan  mendatangi kantor pusat tempat suami bekerja, di Jakarta yang diwarnai macet di mana-mana.  Rasanya seperti menaiki roller coaster, membuat emosi naik turun.

Pikiranku terbelah-belah antara mengurusi dokumen visa, urusan anak-anak, penyelesaian pembayaran berbagai tagihan sebelum waktu mudik tiba, dan packing untuk persiapan mudik.

Setelah selesai mengisi formulir secara online, tahap berikutnya adalah menetukan jadwal wawancara.  Jadwal wawancara di kedutaan Amerika di Jakarta ditentukan tanggal 31 Juli 2014 jam 7 pagi, atau 3 hari setelah lebaran.  Masalahnya, tanggal 21 Juli aku sekeluarga berangkat ke Palembang untuk mudik lebaran dan rencana kembali tanggal 3 Agustus. Artinya aku harus ke Jakarta ditengah-tengah acara mudikku demi melakukan wawancara.

Aku kembali hunting tiket pesawat PP Palembang- Jakarta- Palembang untuk tanggal 30 dan 31 Juli 2014. Untung saja masih kebagian dengan harga cukup murah, jauh lebih murah dari tiket yang aku beli berbulan-bulan yang lalu untuk mudik lebaran.

Dokumen yang dibawa saat wawancara :


  1. 1.     Selembar surat “Appointment Confirmation” yang di print setelah menentukan jadwal wawancara. Surat ini harus di cetak  dengan printer yang berkualitas, sehingga dua barcodeyang tertera dapat terbaca jelas.
  2. 2.       Confirmation Letter yang dikirim kedutaan ke alamat email pemohon visa. Di surat ini tertera foto, data diri pemohon dan nomor konfirmasi, berikut bar code pada sisi kanan atas dan kiri bawah. Surat ini  pun harus  di print dengan printer berkualitas sehingga   barcode yang tertera dapat terbaca jelas.
  3. 3.       Photo visa 1 lembar.
  4. 4.       Paspor, bila ada paspor lama dibawa juga.
  5. 5.       KTP.
  6. 6.       Kartu Keluarga.
  7. 7.       Surat rekomendasi dari bank dengan rekening koran 3 bulan terakhir dan  deposito
  8. 8.    Surat keterangan kerja dalam bahasa Inggris yang menyatakan nama, jabatan, sudah berapa lama kerja dan penghasilan per bulan.
  9. 8.       Supporting letter dari perusahaan atau organisasi yang berada di USA.
  10. 9.   Surat dari Atase Perdagangan  Kedutaan Besar Republik Indonesia karena travelingku ini untuk bertujuan menghadiri konvensi Islamic Society of North America (ISNA).
  11. 1.  Surat penugasan dari organisasi yang menaungi aku dalam hal ini dari Indonesia Islamic Cultural Foundation ( InICF).
  12. 1.   Letter of Consent  atau surat izin dari suami.
  13. 1.   Supporting letter dari perusahaan tempat suamiku bekerja
  14. 1.   SIUP perusahaan tempat suamiku bekerja.

Hari itu, dini hari pukul 5.00 tanggal 31 Juli 2014,  aku meluncur dari Bogor menuju kedutaan Amerika dengan hati berdebar-debar. Pak Ano, supir yang mengantarku, melajukan mobil dengan kecepatan sedang membelah jalan yang sunyi. Ya, hari itu masih dalam suasana lebaran. Penduduk Jakarta sebagian besar masih mudik hingga jalan-jalan di Jakarta lengang tanpa macet.

Baik aku maupun Pak Ano belum tahu pasti lokasi kedutaan Amerika berada.  Kata orang lokasinya di Jalan Medan Merdeka Selatan no. 5, dekat Monas. Maka berputar-putarlah kami didaerah itu, tapi tak kami jumpai tulisan “ USA Embassy” di sepanjang jalan.

Pak Ano akhirnya memarkir mobilnya di parkiran Monas. Lalu dia turun untuk bertanya pada seorang anak muda  berpakaian rapi dan  mengepit map plastik.

“Wah, saya juga mau ke kedutaan Amerika.  Itu kantornya, di seberang jalan sana.Saya juga parkir mobil di sini karena  tidak boleh parkir kendaraan di dekat sana.”  Ujarnya menanggapi pertanyaan Pak Ano.

Aku lalu turun dan menghampiri anak muda berwajah oriental itu.

“Kita sama-sama ke sana ya..” Pintaku.

“ Ayo. Lewat sini.” Sahutnya ramah.

Sebentar saja aku sudah terlibat percakapan yang menarik dengan anak muda itu. Namanya Bendy. Dengan riang Bendy menceritakan pengalamannya melakukan traveling ala backpaker bersama kawan-kawan dari komunitas backpaker. Sudah berbagai negara di kunjunginya, mulai dari  Turki, Thailand, Australia, Vietnam, Singapura,Korea Selatan, Malaysia dan Jepang. Tujuan berikutnya tentu saja Amerika, tepatnya New York.

Kami menyeberang jalan hingga menemui  sebuah bangunan luas  berpagar besi tertutup fiber hitam. Gulungan kawat berduri melingkar-lingkar di  puncak pagar. Tak ada tulisan “ USA Embassy” seperti yang kubayangkan. Seorang petugas keamanan meminta kami menunggu di dekat pos di bawah jembatan di ujung sana.

Satu persatu pemohon visa lainnya berdatangan.  Ada sepasang suami-istri membawa seorang anak balita. Lalu pria-pria berjas dan beberapa wanita berpakaian formal.

Teman-teman yang akan berangkat untuk menghadiri konvensi ISNA pun berdatangan. Ada 7 orang teman yang kemudian bersama-sama berbaris di depan pintu masuk kedutaan jam 6.30.

Kami membentuk 2 barisan memanjang kebelakang. Seorang petugas keamanan memeriksa paspor dan  surat konfirmasi satu persatu.

Saat memeriksa seorang wanita di depanku, petugas keamanan yang membawa daftar nama pemohon visa terlihat bingung.

“ Wah, nama Ibu tidak ada di daftar ini.” Ujarnya.

“Tapi saya sudah dapat surat konfirmasi-nya. Ini dia” Sahut wanita itu sambil mengangsurkan surat konfirmasi.

“ Iya. Tapi entah kenapa data Ibu tidak ada di sini. Ibu tunggu saja dulu sampai petugas administrasi-nya datang jam 8 nanti. Ibu tidak bisa masuk sekarang karena nama Ibu tidak tercantum di sini. “ Tegas petugas itu.

Aku berdoa semoga saja namaku ada dalam daftar, dan ternyata memang ada.  Lega. Setelah diperiksa, sang petugas keamanan mengusapkan sebuah ketas kecil ke map dan tasku, demikian juga kepada pemohon visa yang lain. Aku tak tahu kertas apa itu.

Tak lama kami dipersilahkan masuk ke sebuah ruang yang menjadi pintu masuk area kedutaan. Seperti di bandara, terdapat conveyor belt untuk pemeriksaaan  x-ray  dilengkapi layar monitor dan  sebuah “bingkai pintu” yang merupakan metal detector.

Seorang petugas keamanan mengucapkan salam dan menjelaskan prosedur keamanan yang berlaku di kedutaan Amerika.

“Selamat pagi Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian. Selamat datang di kedutaan Amerika. Saya ingin menjelaskan prosedur keamanan yang berlaku di sini. Anda tidak diperkenankan membawa masuk  barang-barang yang dioperasikan dengan batre atau barang elektronik baik handphone, agenda digital, jam tangan digital, camera, compact disk, USB,MP3, laptop,  dan lain-lain, termasuk juga kabel laptop dan charger. Lalu tidak boleh juga membawa berbagai jenis makanan, rokok, korek api, senjata tajam termasuk juga gunting, pisau pulpen , dan  gunting kuku. Barang-barang itu harus dititipkan di sini, tapi khusus untuk makanan tidak bisa dititip. Anda bisa membuangnya di tempat sampah, atau silahkan dimakan dulu sebelum masuk.” Jelasnya panjang lebar.

“Silahkan pisahkan barang-barang yang saya sebutkan tadi, letakkan di wadah yang tersedia. Nanti kami akan memberi kartu untuk pengambilan barang. Kartu itu nanti ditukarkan dengan barang-barang milik anda  setelah proses wawancara selesai.” Lanjutnya.

Aku dan pemohon visa lainnya bergegas mengeluarkan handphone dan alat elektronik lainnya dari tas, lalu meletakkannya di wadah plastik berbentuk nampan segi empat. Kemudian tas  dan map berisi dokumen diletakkan di conveyor belt untuk pemeriksaan x-ray.  Selanjutnya aku melewati pintu metal detector.

“Ting!” Pintu itu menjerit ketika aku lewat.  Petugas keamanan menghampiriku, matanya tertumbuk pada jam tanganku.

“ Jamnya ada camera-nya, Bu? “ Tanyanya.

“ Tidak ada.” Jawabku sambil menyodorkan jam di tanganku.

Petugas itu memandang jam tangan dengan cermat, lalu aku dipersilakan masuk setelah mengambil tas, kartu penitipan ponsel dan map dokumen.

Bangunan yang aku jumpai di dalam area kedutaan berupa sebuah  shelter beratap dan bertiang  baja dengan bangku-bangku memanjang terbuat dari kayu. Bangku kayu itu di cor di atas landasan beton bercat putih. Terdapat 4 loket berjejer dengan jendela kaca yang memiliki lubang di bagian bawahnya, untuk memasukkan dokumen.

Seorang wanita  petugas kedutaan berpakaian merah menghampiriku. Dia meminta surat konfirmasi dan foto. Segera kusodorkan  pas foto dan dokumen yang dimintanya.

“Mbak, ini fotonya salah. Seharusnya ukuran 5 cm x 5 cm, bukan seperti ini.”  Wanita itu mengembalikan foto dan dokumen ke tanganku.

Ya, Tuhan. Jantung berdegup kencang. Kuamati pas foto ditanganku. Benar apa yang dikatakannya. Foto itu berukuran 4 cm x 6 cm, bukan 5 cm x 5 cm.

“Mbak harus ganti fotonya. Cari studio foto. Di jalan Sabang ada. Nanti kembali ke sini lagi.” Tegasnya.

Dia memberikan selembar surat berwarna hijau, yang menjelaskan bahwa persyaratan visa-ku harus diperbaiki. Di surat itu tertulis aku harus kembali sebelum pukul 10.30, kalau tidak ,aku  harus mengajukan penjadwalan ulang wawancara.

Aku tertegun. Panik dan gugup. Ini memang salahku, tak menghiraukan detail yang dijelaskan pada persyaratan foto. Asal comot foto yang sudah ada tanpa di check  lagi.

Dengan gontai aku melangkah keluar, petugas membukakan pintu dan sekali lagi mengingatkan bahwa aku harus cepat kembali sebelum waktu yang ditentukan.

Pintu ditutup. Aku termangu-mangu di trotoar. Tanganku meraih tas, mencari ponsel untuk menghubungi Pak Ano yang parkir jauh di lapangan Monas. Tapi tanganku mendadak dingin ketika menyadari ponselku masih dititip di ruang  petugas keamanan kedutaan.

“Aduh... harus cepat, harus cepat!” Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepalaku. Tapi jalan Sabang itu dimana? Kesana naik apa?  Kalau harus mencari Pak Ano aku takut kehilangan banyak waktu.

Sebuah taksi berhenti di pinggir jalan, seorang wanita dengan map dan tas merah turun. Pastilah wanita ini pemohon visa juga, pikirku. Secepat kilat aku berlari menghampiri taksi itu, membuka pintunya dan masuk.

“ Pak, tolong antar saya ke studio foto di Jl. Sabang. Cepat ya, Pak.” Seruku terengah-engah.

Pak sopir  mengangguk. Mobil pun melaju di jalan yang lengang. Beberapa menit kemudian kami masuk ke sebuah jalan. Beberapa studio foto berderet-deret di kiri-kanan jalan. Tapi semua tutup! Ya Tuhan...

“Ini masih pagi, Bu. Belum ada yang buka.” Pak Sopir mengedarkan pandangannya ke deretan studio foto itu.

“ Ya sudah, Pak. Saya turun di sini saja. Menunggu studio-nya buka.” Aku mengulurkan uang kepada Pak Sopir.

“ Kembaliannya?”

“ Ambil saja, Pak.” Seruku sambil turun dan menutup pintu.

“ Terimakasih.”

Taksi pun berlalu.

Aku berdiri memandang deretan toko  berpenampilan serupa, tertutup rolling door. Jalanan sepi.  Ku ayun langkah menapak trotoar sambil mengedarkan pandangan ke kiri dan kanan. Tak nampak tanda-tanda deretan studio itu akan buka.

Di dekat sebuah toko fotokopi, terlihat  gerobak bubur ayam dikerubungi pembeli.  Agak lega juga rasanya melihat ada orang-orang di sana. Setidaknya aku tak benar-benar sendiri.

Aku melangkah mendekati gerobak bubur ayam, menggabungkan diri dengan nenek-nenek,  ibu-ibu berdaster dan pria-pria berbaju kerja yang tampak tak sabar menanti giliran mendapatkan semangkok bubur.

“Pak, studio foto bukanya jam berapa ya? “ Tanyaku pada penjual bubur saat dia meracik bubur pesananku.

“ Wah, belum pada buka, Mbak. Kan masih lebaran. ” Jawabannya tenang, tapi terasa menikamku.

Deg. Kepalaku kontan nyut-nyutan. Kakiku lemas.

“Ya Tuhan, bisa gagal aku mendapat visa  Amerika kalau begini. “ Pikirku merana. Aku merutuki kecerobohanku, tidak memperhatikan detail persyaratan foto visa.

Aku mencoba menenangkan diri sambil menyuap pelan-pelan bubur ayam panas yang terhidang di mangkok putih.

 “Harusnya studio foto itu buka, kan banyak orang berfoto keluarga saat lebaran. Saat dimana seluruh anggota keluarga berkumpul...” Pikirku kalut.

Menit-menit berlalu, sudah lebih dari satu jam menunggu, dan  entah sudah berapa kali aku mondar-mandir  dari pangkal  ke ujung jalan, lalu kembali lagi persis setrikaan. Berdoa dan berharap salah satu studio foto ada yang buka. Tapi rolling door warna-warni yang membungkus studio-studio foto itu membeku, tak menampakkan tanda-tanda kehidupan.

Mataku tertumbuk pada sebuah warnet dengan tulisan “ Open” tertempel di pintunya. Hatiku terlonjak melihat iklan di etalase-nya. Secercah harapan timbul.

“Cetak foto favorit anda disini.” Begitulah kata-kata yang tertulis pada sebuah banner bergambar pemandangan kota di waktu malam dengan lampu-lampu hias dan  menara Eiffel bercahaya keemasan.

Aku melangkah masuk. Udara dingin  AC membelai tubuhku, aku baru sadar kalau sedari tadi kepanasan.

Seorang anak muda gemuk berambut keriting  berkaca mata tebal mengalihkan pandangannya dari layar komputer lalu menyapaku ramah.

“ Ada yang bisa dibantu, Mbak? “ Tanyanya.

“Di sini bisa cetak pas photo nggak?”  Harapanku melambung.

Anak muda itu menggeleng.

“Tidak bisa, Mbak. Hanya bisa mencetak dokumen biasa. Saya tidak punya kertas foto.” Jawaban langsung  mengubur harapanku.

Kuhempaskan diri di kursi berjok empuk di sudut ruangan.

“Saya numpang duduk ya. Dari tadi bingung cari studio foto yang buka.  Saya harus melengkapi persyaratan pengajuan visa Amerika.”

“Wah, visa Amerika memang ribet, Mbak. Fotonya ada aturannya. Kualitas cetak di sini tidak bagus. Mbak memang harus ke studio foto. Tapi ini kan masih suasana lebaran. Kalau tidak salah studio foto di sini bukanya besok.  Karyawan-nya pada mudik.“  Kata-kata anak muda itu makin membuatku terpuruk.

Tenggorokanku kering. Aku baru sadar sedari tadi belum minum. Kubuka kulkas berpintu kaca di dekat jendela. Sebotol teh dingin tampaknya cocok untuk mendinginkan hatiku. Setelah mereguk teh dingin sampai habis, aku membayarnya, mengucapkan terimakasih dan keluar dari tempat itu.

Seorang tukang parkir berbaju biru menatapku.  Tampaknya dia kasihan melihatku wara-wiri, terlunta-lunta tak karuan. Ketika melewatinya, dia menunjuk ke sebuah studio foto  di sisi kiri jalan.

“Studio ini kemarin buka, Mbak. Tunggu saja, mungkin sebentar lagi buka.” Ujarnya. Rupanya dia mendengar pertanyaanku pada tukang bubur ayam tadi.

Kata-katanya sedikit melegakan . Aku mengucapkan terimakasih, lalu memutuskan duduk di  teras warung yang tutup dekat studio itu. Kubenamkan perhatianku pada buku novel yang kubawa, mencoba menghilangkan resah.

Sebuah bajaj berhenti di pinggir jalan. Aku berlari menghampiri bajaj itu.

“Pak, selain di sini dimana lagi ada studio foto? Studio foto yang sudah buka jam segini?” Tanyaku pada sopir bajaj.

“Mungkin di Benhil, atau di Tanah Abang. Tapi saya nggak yakin studionya sudah buka. Ini masih lebaran, Mbak. Disinilah pusatnya studio foto.” Si Tukang bajaj memandangku prihatin.

 Aku masih berdiri di pinggir jalan memandang bajaj itu berlalu.  Rasanya ingin menangis sesegukan.  Tapi tatapan tukang ojeg diseberang sana membuatku menahan diri. Aku mengerjap-ngerjapkan mata pura-pura kelilipan debu.

Tukang parkir berbaju biru tampak bercakap-cakap dengan tukang ojeg sambil sesekali memandangku.

Tak lama si tukang ojeg menghampiriku.

“Mbak, setahu saya studio ini nanti buka. Soalnya penghuninya ada di dalam. Tunggu saja. Mungkin bukanya jam 9 . “ Katanya menenangkanku.

“Kalau jam 9 belum buka, nanti saya antar cari studio foto lain. Mungkin di Benhil atau Tanah Abang.” Lanjutnya sambil tersenyum.

“Iya, Bang.  Terimakasih. Nanti kalau studio ini buka, selesai cetak foto tolong antar saya ke kedutaan Amerika ya.” Sahutku. Rasanya senang ada yang perduli dengan nasibku.

“ Kedutaan Amerika? Siap, Mbak! “ Sahutnya sambil melempar senyum lebar.

Jam bergeser. Sudah pukul 8. 30. Studio itu masih juga belum buka. Jantungku berdentam-dentam tak karuan.  Ya Allah, aku harus bagaimana? Tak terbayangkan kesulitan yang menghadangku akibat selembar pas foto ukuran 5 cm x 5 cm.

Seorang wanita tampak termangu memandangi rolling door studio foto yang tertutup rapat. Lalu dia memandangi jam di pergelangan tangannya.

Merasa ada teman senasib, aku menghampiri wanita itu.

“ Mbak menunggu studio-nya buka ya? Saya juga. “ Sapaku.

Wanita itu tersenyum. “ Saya kerja di sini. “ Sahutnya. Kata-katanya membuat hatiku lega bukan kepalang.
Sedetik kemudian, rolling door itu berderit-derit lalu terkuak. Seorang nenek muncul, dan tersenyum.

“Sudah buka, ya?” Seruku riang. Inilah pertama kali dalam hidupku aku  merasa  bahagia melihat  sebuah rolling door abu-abu  terbuka. Rasanya ingin kupeluk erat nenek itu.

“ Jam 9 baru bisa mencetak foto. Mesinnya  baru dihidupkan, belum panas.” Ujar si nenek.

Oh, aku baru tahu kalau mesin pencetak foto harus dipanasi dulu, seperti mesin mobil.

Tepat jam 9, aku menyodorkan USB merah berisi file fotoku pada seorang editor foto bertampang unik. Pria itu sudah tua, kepalanya hampir botak. Hanya ada beberapa helai rambut putih panjang tergerai dari kulit kepalanya yang mengkilap. Sebuah tahi lalat besar bertengger di dahi kirinya. Tahi lalat itu ditumbuhi beberapa lembar uban.

“Saya harus edit fotonya supaya sesuai dengan persyaratan foto visa Amerika. Mudah-mudahan tidak perlu foto ulang lagi. “ Katanya sambil membuka program photoshop.

Aku terduduk pasrah.  “Semoga masih sempat kembali ke kedutaan sebelum pukul 10.30. “ Bisikku dalam hati.

Jam 9. 30 akhirnya pas foto itu selesai. Setelah membayar aku bergegas keluar studio. Tukang ojeg yang tadi menawari jasanya sudah menanti di pinggir jalan. Aku cepat-cepat duduk di jok motornya, melaju menuju kedutaan Amerika.

Teman-temanku berdiri di trotoar dekat kedutaan, memandang  aku yang turun dari ojeg dengan tatapan kasihan.

“Mbak, kedutaannya sudah tutup, karena masih suasana lebaran.Kami semua sudah dikabulkan visanya. Petugasnya bilang bahwa mbak dijadwal ulang untuk wawancara besok pagi jam 7. Sekarang cepat melapor ke petugas keamanan di sana.”

“ Hah??...”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Hallo Neng. Bagaimana wawancaranya?” Suara  bariton Akang di telepon terdengar  riang  di seberang sana, mengoyak pertahananku. Bulir-bulir air mata mengalir di pipiku. Aku menangis seperti  anak kecil tak kebagian mainan. Menangis menyesali kecerobohan, dan menumpahkan segala emosi yang sejak tadi tertahan.

“Lho, kenapa? Visanya ditolak?” Tanya Akang mendengar isakku.

“Bukan. Wawancaranya di jadwal ulang besok pagi. Padahal Neng kan sudah beli tiket untuk ke Palembang sore ini.” Suaraku akhirnya keluar juga meski dengan nada tercekat.

Kejelaskan dengan tersendat-sendat  permasalahan yang kulalui.  Sudah kuduga, Akang  mengomeli aku yang tak kunjung sembuh dari penyakit bernama ceroboh. Kutelan semua omelannya bulat-bulat dengan airmata berderai. Ini memang salahku. Lalu seperti biasa laki-laki belahan jiwa itu menutup omelan dengan sebuah solusi. Andai saja dia ada didekatku, tentu sudah sejak tadi kusurukkan wajah di dadanya, menumpahkan akumulasi galau dan resah yang sejak pagi bertumpuk-tumpuk menyesakkan nafas.

“Sekarang Neng kembali ke Bogor, langsung saja urus tiket ke maskapai penerbangan. Ubah jadwal  keberangkatan ke Palembang yang semestinya sore ini jadi besok sore. Pasti kena biaya lagi, tapi tak apalah. Bayar saja. Besok subuh berangkat lagi diantar Pak Ano ke kedutaan. Pastikan semua dokumen sudah benar dan tak ada yang ketinggalan. Selesai wawancara langsung ke bandara. “ Suara Akang terdengar menentramkan.

“ Iya, Sayang...” Bisikku. “ Doakan semoga besok lancar dan sukses ya.”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

1 Agustus 2014, pukul 6.30.   Aku melangkah dengan mantap memasuki kedutaan Amerika. Hari ini aku mendapat giliran pertama masuk ke dalam, setelah melewati rangkaian prosedur seperti kemarin.

Hari ini suasana hatiku lebih tenang. Aku sudah melalui hal paling konyol kemarin. Hari ini harus lebih beruntung.

“Silahkan menunggu di depan loket nomor dua.” Ucap wanita petugas kedutaan yang kemarin memintaku mencetak foto.

Beberapa menit menunggu, loket pun dibuka. Seorang wanita muda berhijab memanggilku.

“ Juliana Dewi Kartikawati? “ Tanyanya sambil mencocokkan dengan daftar pemohon visa.

“ Betul.” Jawabku sambil menyerahkan paspor dan surat konfirmasi.

“ Baik. Langsung saja masuk lewat samping ya.”  Ujarnya  sambil menyerahkan sebuah kartu yang bertanda  Group A .

Aku melangkah mantap ke arah yang ditunjuk.  Ada sebuah gerbang terbuka, lalu terdapat sebuah bangunan dengan pintu kaca yang tertutup.  Seorang wanita bermata sipit menjajari langkahku. Kami saling bertukar senyum lalu  sama-sama masuk ke ruangan itu.

 Udara  dingin AC membuat wanita itu mengigil.  Kami duduk bersebelahan  di kursi khusus pemohon visa non-imigran.

Obrolan pun mengalir. Mira, nama wanita itu. Hobinya jalan-jalan dan tampak sangat menikmati hidup. Dia lihai merancang acara jalan-jalan bersama teman-temannya.

“Mula-mula hunting tiket murah, lalu menetukan itinerary. Kalau bingung, biasanya aku ikut tour lokal di negara yang di kunjungi. “ Mira menjelaskan kiat jalan-jalannya.

Mira menceritakan pengalamannya menjelajah Jepang, ke tempat-tempat eksotis yang tidak umum dikunjungi wisatawan. Dia bergaul dengan orang lokal yang bisa berbahasa Indonesia. Jurus pintarnya itu membawanya mereguk pengalaman menyelami budaya Jepang lebih dalam sebagaimana orang Jepang asli , bukan sebagai wisatawan. Dia diajak mengunjungi resto yang digemari masyarakat lokal.  Menelusuri tempat-tempat indah yang jarang tersentuh wisatawan asing. Sungguh menarik.

Sebuah TV besar di ruangan itu menayangkan kegiatan komunitas muslim di USA. Mataku tertegun pada cerita di layar TV, sungguh menyejukkan apa yang dilakukan saudara-saudara sesama muslimku disana. Mereka menunjukkan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam. Salah satu kegiatan sosial yang dilakukan adalah menyediakan makanan bagi  orang-orang yang membutuhkan, bukan hanya bagi kaum muslim saja, tapi untuk semua yang membutuhkan.

Beberapa nara sumber angkat bicara, mereka terdiri dari Imam, atau pemimpin kaum muslim di sana, mahasiswa, pecinta seni, pekerja, pegawai dan ibu rumah tangga. Mereka membawa misi menunjukkan kepada dunia, bahwa Islam adalah penebar  kedamaian, bukan penebar teror. Hatiku makin merindukan pertemuan dengan komunitas muslim di Amerika, saudara-saudara seimanku yang tengah berjuang sebagai agen muslim terbaik.

“ Aku juga nggak percaya kalo Islam itu agama teroris.” Bisik Mira. Ucapannya itu membuatku tersenyum.

Aku memandang Mira dengan tatapan penuh terimakasih, rasanya bahagia sekali mendengar pendapat seperti itu dari mulut seorang non-muslim.

“Betul. Sepanjang hidupku sebagai muslimah, tak pernah aku temui ajaran Islam yang membolehkan  membunuh orang yang berbeda keyakinan. Teroris-teroris itu bukan muslim sejati. Pikiran mereka rusak. Mereka menungggangi Islam untuk memenuhi hawa nafsu.  Sayangnya dunia Barat terlanjur menyamakan teroris dengan Islam.” Sahutku.

Obrolan kami terhenti ketika seorang wanita berkulit hitam di loket paling ujung berseru dalam bahasa Indonesia dengan logat asing.

“ Group A, silahkan ke sini. Letakkan kartunya lalu ambil sidik jari.” Ujarnya.

Aku dan Mira beriringan menghampiri loket , meletakkan kartu di atas wadah segiempat, dan meletakkan jari pada alat scan sidik jari.  Hanya beberapa detik saja, proses ini selesai.

Kami kembali duduk, menanti dipanggil untuk diwawancarai.

Sedikit ketegangan merayapi hatiku. Apalagi kalau mengingat  sms-sms yang kuterima  tadi malam. Sms dari teman-temanku yang sudah disetujui visanya kemarin.

“Ingat, jangan gugup. Hafalkan alamat hotel tempat kita menginap. Jangan kelihatan bingung kalau dia tanya kita akan tinggal di mana nanti. “

“Jangan memulai bicara sebelum dia berkata-kata. Ikuti maunya dia. Kalau dia bicara dalam bahasa Inggris, jawab pakai bahasa Inggris. Kalau dia pakai bahasa Indonesia, jawab juga pakai bahasa Indonesia.”

“Harus tampil meyakinkan. Tunjukkan bahwa dirimu kompeten. Jelaskan dengan elegan apa yang akan kau lakukan di sana seperti seorang profesional.”

“Tak perlu menunjukkan surat-surat pendukung dan dokumen lain kalau tidak diminta. Jangan sok akrab, atau banyak omong. Jangan bicara kalau tidak ditanya.”

Oh, baiklah, teman-teman.Aku menarik nafas panjang meredakan ketegangan.

 Sebaris doa kuucapkan berulang-ulang dalam hatiku.

“Rabbisy syrahlii shadrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam millisaanii, yafqahu qaulii.”
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” QS Thaahaa : 25-28

Loket dibuka. Mata biru yang menghias wajah laki-laki  bule berambut pirang itu menarik perhatianku. Ku coba menebak-nebak suasana hati laki-laki itu dari ekspresi wajahnya. Tampaknya dia santai. Mudah-mudahan mood-nya sedang baik, hingga tak mempersulitku memperoleh visa.

“ Siapa duluan? “ Tanya Mira padaku.

“ Silahkan.” Kataku sambil mendorong dengan lembut  tubuh Mira ke depanku.

Kami berbaris dengan tertib di depan loket untuk group A.

Pertanyaan-pertanyaan  awal mengalir. Mira menjawab dengan lancar.  Aku bisa mendengar dengan jelas wawancara yang tengah berlangsung.

“ Anda bekerja dimana?”  Tanya si bule ganteng.

“ Eh... eh...” Mira tampak berpikir keras

Waduh, kelihatannya dia tegang hingga lupa nama perusahaan tempatnya bekerja. Aku ikut tegang.
Beberapa detik kemudian..

"Sukses Makmur Finance.” Ucap Mira. Lalu dia menghembuskan nafas, seolah baru saja melepaskan beban berat.

Si bule ganteng tersenyum.

“ Anda sudah pergi ke negara mana saja?” Tanyanya.

“ Australia, Jepang, Thailand,Vietnam, Belanda, Malaysia, Singapore, Korea Selatan, dan Turki.” Mira lancar mengucapkan daftar nama-nama negara seperti anak SD menyetor hafalan kali-kalian.

“ Visa anda dikabulkan.” Si bule ganteng menyodorkan kertas putih pada Mira.

Hatiku ikut bersorak. Mira menoleh dan  melemparkan senyum padaku. Cihuy!

Kini giliranku.

Aku memasang wajah ramah dan percaya diri . Kutatap mata biru si ganteng itu sambil tersenyum.

“ Nama anda siapa?’

“ Juliana Dewi Kartikawati.”

“ Anda mau apa ke Amerika?”

“Saya harus menghadiri konvensi ISNA, Islamic Society of North America di Detroit.” Jawabku mantap.

“ Apa yang anda lakukan disana?” Si bule ganteng menatapku.

“Saya sebagai promotion officer dari sebuah badan bernama Indonesia Islamic Cultural Foundation, organisasi yang bertujuan memperkenalkan budaya Islam Indonesia melalui karya-karya penulis , desainer, dan pekerja seni muslim Indonesia. Tugas saya  mendokumentasikan kegiatan konvensi itu, lalu menulis beritanya, mempromosikan di berbagai media.”

Si bule mengangguk. Tampaknya dia puas dengan jawabanku.

Matanya melirik layar komputer di sisi kanannya. Dugaanku, dia meneliti data-data  pribadi yang sudah ku isi secara online.

“ Anda punya suami?”

“ Ya. “

“ Anda punya anak?”

“ Tiga orang.”

Tentu si bule ini ingin meyakinkan diri kalau aku punya ikatan kuat dengan keluargaku di Indonesia, sehingga tak berminat menjadi imigran gelap di Amerika.

“ Kenapa suami anda tidak ikut?”

“ Ini pekerjaan saya, jadi suami tidak ikut.”

Dia menggangguk lagi. Ini pertanda baik.

“ Siapa yang akan membiayai  perjalanan anda?”

“Saya sendiri.” Kumantap-mantapkan nada bicaraku walau sedikit berbalut dusta. Aku siap menunjukkan rekening tabungan bila diminta. Rekening atas namaku yang rutin di isi ulang oleh Akang setiap bulan.

“Anda sudah pernah pergi ke negara mana saja?”

Nah, keluar juga pertanyaan yang mengingatkanku pada guru SD yang menuntut muridnya menyetor hafalan kali-kalian.

“Italia, Vatikan, Swiss, Austria, Germany, Liechtenstein, Belanda, Belgia,  France...” Aku menarik napas lalu melanjutkan.

“ Malaysia, Thailand, Vietnam, Korea Selatan, dan Saudi Arabia.” Fiuh....

“ Apa yang anda lakukan di negara-negara itu?”

“ Di Arab Saudi menunaikan ibadah haji, di negara lain saya jalan-jalan saja.”

Mata birunya sekali lagi meneliti layar komputer, lalu menatapku.

“ Baiklah. Visa anda disetujui. “



Wow, si bule  tampak meningkat kadar kegantengannya berlipat-lipat di mataku akibat kalimat terakhir yang diucapkannya .

 Alhamdulillah. Seperti Mira, aku pun disodori selembar kertas putih  bertuliskan “ Selamat. Visa A.S. Anda telah disetujui.”

Satu gerbang telah dibukaNya. Semoga perjalananku ke negeri Paman Sam ini membawa berkah dan manfaat yang besar.


Amerika, I’m coming!

7 komentar:

Shinta Ries mengatakan...

Haduh saya ikutan deg degan mba bayanginnya yang foto itu. Alhamdulillah banget ya kesabaran berbuah manis ya mba. Selamatt selamatt semoga saya bisa ikutan menjejakkan kaki di sana ^^. Amin

Dewi Sutedja mengatakan...

Terimakasih, Mbak Shinta Ries....Aamiin semoga bisa ke Amerika ya

Uniek Kaswarganti mengatakan...

fiuuuhh...ikutan adem panas euy baca ceritanya mba Dewi. Keinget saya yg org desa dari sebuah kampung kecil di Kota Semarang, berangkat urus visa Schengen ke kedutaan Jerman. Padahal sekedar pergi ke Jakarta saja saya udah takutnya setengah mati hehee... meskipun cobaannya tdk seperti yg mba alami, tetep aja saya berdebar2 gak karuan. Itu pertama kalinya saya harus pergi ke negara antah berantah utk urusan pekerjaan :)

Selamat menunaikan tugas di Amerika ya mbaaa...sukses selalu.

Dewi Sutedja mengatakan...

Terimakasi mbak Unik Kaswarganti. Terimakasih sudah baca tulisanku.

Ratna mengatakan...

Have a safe, trip, jeng ^_^

Nunung yuni a mengatakan...

waaaaaaah senangnya bisa ke Amerika mbak....Lagian mbak sudah jalan-jalan kemana -mana sih. Jadinya di acc. Selamat ya mbak..

Anonim mengatakan...

Cerita nya Sangat menarik, lucu, menyedihkan karena perjuangan... Nice banget. Saya juga buat Visa Amerika dan visa di Setujui tapi cerita mbak Sangat menarik dan buat sy tertawa LOL hehheehe