Minggu, 13 Juli 2014

Sumbu Kompor, Tali Sepatu Ungu dan Cemilan Ratu Mesir


Hari Sabtu yang cerah. Pagi-pagi anak-anak gadisku sudah bangun dan bersiap-siap dengan antusias untuk hadir di sekolah barunya, SMP dan SMA.  Dea, jam 6. 20 sudah langsung meluncur ke SMP 1 Bogor diantar sopir. Setelah mengantar Dea,  Pak Sopir kembali ke rumah dan mengantar aku dan Anin.  Menurut  jadwal, jam 8.30  Anin  harus hadir bersama orangtua sesuai  undangan dari pihak sekolah.

Jam 8.15 aku sudah duduk manis dalam ruangan aula sekolah Anin. Tak lama kemudian dimulailah acara sosialisasi program sekolah SMA YPHB Plus yang disampaikan kepala sekolahnya.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Udara panas menyengat, dan aku masih terjebak dalam antrian ibu-ibu dan anak-anak gadis yang berjubel di dalam ruang koperasi,  untuk mengambil seragam pramuka dan olahraga Anin.

Setelah selesai, dengan keringat bercucuran aku duduk di teras sekolah.  Terasa agak berat puasa hari ini.  Berada dalam antrian berdesakan dalam ruangan yang panas membuat tenggorokan terasa kering . Anin datang dan menyodorkan  sebuah daftar.

“ Ma, ini yang harus disiapkan untuk hari Senin, Selasa dan Rabu, di acara MOS ( Masa Orientasi Siswa). “

Daftar itu lumayan panjang, ada beras Rojolele 2 kg, minyak Bimoli 2 liter, dll. Mula-mula biasa-biasa saja, tapi saat mataku tertumbuk pada tulisan sumbu kompor , aku jadi bingung. Hari gene dimana beli sumbu kompor? Bukannya orang-orang zaman sekarang sudah beralih ke kompor gas?

Di perjalanan  menjemput Dea, HP ku berdering.

“Mama, Dea sudah dirumah. Mama kenapa lama jemputnya? Dea jadi pulang jalan kaki.”

“Lho, Mama kira Dea pulang jam 12. Jadi Mama mengurus keperluan di sekolah Teteh Anin baru jemput Dea. Kenapa Dea tidak telpon atau sms? “ Tanyaku. Dalam hati aku merasa kasihan sekali pada Dea. Siang terik begini dalam keadaan puasa, Dea jalan kaki menempuh jarak sekitar 6 km dari sekolah ke rumah, pasti dia lelah, haus dan lapar.

“ Dea gak bawa HP. Sudahlah, yang penting sudah dirumah. Sekarang mama siapkan keperluan Dea buat MOS hari senin. Dea sms ya..”  Dea menutup telponnya.

Sebuah sms masuk. Dea mengirimkan daftar barang-barang yang harus dibeli untuk hari Senin.

Daftar yang dikirimkan itu panjang dan bikin aku bingung membacanya.  Diantaranya ada tali sepatu ungu, bandana ungu, handband ungu, bungkus permen pack ungu, karton ungu. Kalau barang-barang itu masih masuk akal, tapi dalam list itu ada cemilan ratu Mesir, minuman ketua OSIS,  dan taktik Real Madrid. Aduh, apaan itu ya? Kepalaku langsung berdenyut-denyut.

 Di BB group orang tua murid SMP 1 para Ibu ramai berdiskusi memecahkan teka-teki cemilan Ratu Mesir, minuman ketua OSIS dan taktik Real Madrid.

“Cemilan Ratu Mesir itu makanan, Mam.  Snack merk Gery Piramid. “

“Taktik Real Madrid itu snack Tiktak, dibelakang bungkusnya ada gambar Real Madrid!”

“Ketua Osis-nya kan namanya Despra. Berarti minumannya yang mirip-mirip namanya. Ades kayaknya, Mam”

“Minumannya dua macam. Ada Cleo yang 600 ml juga. Kan Cleopatra itu ratu Mesir”

Aku makin galau. To do list hari ini banyak sekali. Aku harus beli baju seragam, pesan badge nama dan lokasi sekolah, lalu mulai mengumpulkan barang-barang di dua list milik Anin dan Dea.

Matahari terik menyinari Bogor, dan aku kembali berjejalan di dalam toko baju seragam  bersama Anin. Lalu kembali berjubelan di toko alat tulis. Menyusuri  trotoar padat pedagang di sepanjang jl. Pengadilan untuk menuju tempat memesan badge nama.

Selanjutnya menuju supermarket. Sayang sekali tak semua barang bisa didapat disana. Beras Rojolele tak ada yang di pack sebanyak 2 kg dan cemilan Ratu Mesir  alias Gery Piramid itu tak ada . Jadi harus cari ke supermarket lain. Sayangnya di supermarket yang berdekatan juga tidak ada.

Cemilan Ratu Mesir. Sumber foto dari internet


“ Itu produk lama, Bu. Mungkin sudah tidak di produksi lagi sekarang. Di cabang-cabang supermarket kami juga tidak ada. “ Kata seorang manager supermarket  saat kutanya tentang cemilan ratu Mesir.

Dengan langkah gontai  terseok-seok aku dan Anin membawa belanjaan ke mobil. Pak sopir membantu kami meletakkan belanjaan di bagasi mobil. Tapi perjuangan belum selesai. Kami menuju toko buku yang besar, mencari karton ungu, penghapus staedler, dan pena mekanik Fasler.

Perjalanan berlanjut ke mall berikutnya. Selepas shalat aku menyusuri toko pernak-pernik mencari tali sepatu ungu, bandana ungu, ikat rambut ungu dan headband ungu. Horeee... semuanya ada di toko ini. Agak lega rasanya. Tapi perjuangan belum selesai... Cemilan ratu Mesir, tali kur dan sumbu kompor belum didapat.

Sore makin renta, aku dan Anin tak kuasa lagi berjalan. Kaki kami sakit dan badan terasa lemas. Kami terkapar di jok mobil.

“ MOS ini bikin sengsara ya, Ma.. Besok saja kita cari barang yang lain yang belum dapat. Anin nggak sanggup lagi, Hari ini capek sekali.” Keluh Anin.

Aku melirik Anin yang merebahkan kepalanya sambil memejamkan mata.

“Kayaknya ganti saja istilahnya, MOS itu bukan Masa Orientasi Siswa. Lebih cocok  Mama Oge Sibuk.”  Sahutku. Lalu aku terlelap.

  • ·         Catatan : Oge = juga ( dalam bahasa Sunda) 










2 komentar:

rahmi mengatakan...

anaknya yang MOS, emak2nya ikutan pusing ya hehehe

Dewi Sutedja mengatakan...

@Rahmi.. iya ampuuun dah...hehehe