Senin, 27 Januari 2014

Sehari Melihat Dunia Baru

Cantik, modis, dan ramah. Itulah kesan pertamaku  berkenalan dengan  Indriya R Dani  saat  kami sama-sama  menghadiri pengajian majlis ta’lim Qoonitaat di lingkungan rumahku. Dari awal dia sudah menarik perhatian. Sosoknya   “eye catching” mengenakan busana muslimah berwarna cerah  dengan hijab pashmina  bermotif cantik dipadu aksesoris gelang, jam dan cincin yang unik. Pesonanya makin “bling-bling” saat aku tau dia suka menulis dan sudah menerbitkan 23 buku. Wow... segera saja aku kepingin mengenalnya lebih dekat.

Seiring berjalannya waktu dengan berbagai kegiatan di pengajian, aku makin merasa nyaman bersahabat dengannya. Dia seorang penulis, Ibu dari 3 anak, vokalis Saqina Voice, akrab dengan dunia seni dan  fashion, dan saat ini masih berstatus mahasiswi. Tak dapat kubayangkan bagaimana dia bisa mengatur waktunya untuk begitu banyak kegiatan.

Ada satu hal lagi membuat Indriya tampak “cetar” di mataku. Dia rajin shalat Tahajjud, shalat Dhuha, puasa Senin-Kamis dan menjaga wudhunya. Kala dini hari ketika aku terlelap di alam mimpi, dia sering mengirimkan pesan BB, mengingatkan dan mengajakku Tahajjud. Apa yang dilakukannya mau tak mau membuatku bercermin, malu juga rasanya melihat  diri sendiri yang masih suka bolong-bolong  shalat Tahajjud, shalat Dhuha dan jarang melakukan puasa.  Duuh...

Mengobrol dengannya selalu asyik. Itu karena kami memiliki kesamaan minat dibidang menulis, traveling dan seni. Dia banyak bercerita tentang dunianya. Dunia yang  bersentuhan dengan para pekerja seni, fashion, penerbitan buku,  dan nara sumber buku-bukunya yang terdiri dari orang-orang ternama.

Beberapa kali dia pernah mengajakku ikut melihat dari dekat dunia yang digelutinya. Tapi sayangnya kesibukan kami sering tak sejalan. Akhirnya hari  Jum’at 24 Januri 2014  lalu aku bisa jalan-jalan  menemani Indriya menuntaskan berbagai urusannya di kota kembang Bandung.

Kemacetan Bogor telah menghadangku sejak  sepanjang jalan Dreded menuju keluar kompleks Bogor Nirwana Residence, kemudian terurai di jalan Pahlawan. Namun antrian kendaraan yang padat  kembali memperlambat  lajuku di sepanjang jalan Sukasari dan Padjajaran menuju ke rumah Indriya. Jam telah menunjukkan pukul 7.21 WIB ketika aku tiba di rumahnya.

Indriya menebar senyum, dia tampak cantik dengan baju gamis warna pink fanta, dilapis jaket jeans dan padanan hijab pashmina bermotif cerah, jam tangan berwarna senada dan gelang. Satu hal yang seakan menjadi ciri khasnya adalah mengenakan hiasan di hijabnya. Hiasan itu terbuat dari helai  bulu ayam berwarna pink fanta senada dengan baju.    Dia memperkenalkan aku pada Teh Manda, managernya di SABA production. Kami lalu melakukan shalat Dhuha.

Ketika duduk menikmati secangkir coklat  di ruang tamunya, terdengar suara kokok ayam.  Kulemparkan pandanganku ke luar, ke kandang berwarna putih yang tampak baru. “ Itu ayam kate hadiah ulang tahun perkawinan dari suamiku.” Seru Indriya. Aku teringat dia pernah cerita tentang sepasang ayam hadiah ulang tahun perkawinan yang ke-18 dari suaminya. Aku tertawa. Menurutku hal itu unik sekali. Bertambah lagi kesamaan kami, karena seperti suami Indriya, suamiku pun suka  memelihara ayam. Bedanya, Indriya  senang dihadiahi ayam. Sedangkan aku tidak. Hehe..



Jam 8  kami berangkat. Sepanjang perjalanan itu kami banyak berbincang seputar dunia tulis- menulis.  Obrolan kemudian beranjak ke  naskah buku yang tengah dikerjakannya. Indriya tengah menjalani proses penulisan buku tentang gaya hidup “ Muslimah Kosmopolitan”. Dua kosa kata itu menggelitik rasa ingin tahuku.  Dengan penuh semangat Indriya menjelaskan bahwa muslimah saat ini menghadapi berbagai pilihan dalam hidupnya. Contoh kecilnya saja, dalam hal perawatan kecantikan. Saat ini ada banyak sekali pilihan cara merawat kecantikan mulai dari cara tradisional, penggunaan teknologi canggih, berbagai bahan kimia hasil penemuan dibidang kosmetik, hingga suntikan botoks. Di sinilah seorang muslimah harus ekstra hati-hati menentukan pilihannya.  Dari sekian banyak pilihan itu dia harus  pandai memilih bahan-bahan yang halal dan cara perawatan kecantikan yang sesuai dengan fikih atau hukum Islam.

Dalam bukunya, Indriya membahas berbagai hal seputar aktivitas muslimah sehari-hari dalam hal minat, opini maupun interaksi sosialnya. Singkatnya muslimah kosmopolitan adalah muslimah yang berwawasan global, mengikuti gaya hidup masa kini tapi tetap berpegang teguh pada hukum Islam. Sangat menarik! Sepertinya aku melihat muslimah kosmopolitan sejati pada diri Indriya R Dani.

Berkunjung ke Sekolah Perempuan

Teh Manda, Indriya, aku dan Indari Mastuti di markas Sekolah Perempuan

Agenda pertama yang kami lakukan ketika tiba di Bandung adalah bertemu dengan Indari Mastuti, pendiri komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN), Ibu-ibu Doyan Bisnis (IIDB) dan Sekolah Perempuan. Aku mengenal Indari ketika bertemu di acara kopi darat IIDN di Bogor bulan Desember 2013 lalu. Sosoknya yang energik seolah menularkan virus positif dibidang menulis dan pemberdayaan wanita. Dia telah menjadi tokoh inspiratif  yang mendorongku untuk giat  menebar manfaat bagi sesama.

Indari mengajak kami makan siang dengan menu ikan pecot masakan ibu mertuanya. Lalu kami melaksanakan shalat Dzuhur dirangkai shalat Ashar  jama’ takdim.

Seperti yang sudah aku duga, mempertemukan Indari dan Indriya ibarat mendekatkan dua kutub energi yang meletup-letup. Penuh semangat, ide dan kreativitas. Aku tersenyum-senyum sendiri menyaksikan dua wanita hebat itu saling bertukar informasi dan menyerap ilmu. Sayang sekali, waktu yang sangat terbatas terpaksa menghentikan obrolan menarik itu. Mudah-mudahan di lain waktu kami bisa bersama lagi.

Penerbit Rosda
Indriya dan Direktur Penerbit Rosda, Pak Zamzami Djahuri

Acara selanjutnya adalah menghadiri meeting dengan direktur penerbit Rosda di kawasan Jl. Ibu Inggit Garnasih. Kami dipersilakan masuk ke ruang meeting di lantai dua kantor penerbit.

Pak Zamzami Djahuri, sang direktur penerbit menyambut kami dengan ramah. Indriya didampingi Teh manda kemudian mempresentasikan bukunya dengan sangat meyakinkan. Dalam meeting juga dibahas mengenai berbagai aspek, misalnya isi buku, tata letak atau lay out, fotografi, alih bahasa dan nara sumber. Pak Zamzami tampak sangat tertarik dan ingin segera mencetak buku itu. Tampaknya para pembaca hanya tinggal menunggu terbitnya karya Indriya nanti di bulan Februari 2014.

 Di akhir meeting ada kejutan kecil buat Indriya. Salah satu teman sekolahnya yang sudah 23 tahun tidak berjumpa ternyata bekerja di penerbit Rosda. Mereka  bertemu, bertukar kabar dan berfoto bersama. Senangnya..

Butik Rya Baraba


Dalam bukunya, Indriya juga  membahas tentang fashion. Beberapa desainer busana muslim akan menampilkan karya mereka di buku itu. Salah satunya adalah Mbak Rya Baraba. Karena itulah kami lalu meluncur ke kawasan Buah Batu, mengunjungi butiknya.

Butik cantik dan eksklusif itu terletak di Jl. Buah Batu nomor 59. Begitu masuk kami disambut aura cozy ruangan dan keramahan para mbak-mbak pramuniaganya. Berbagai busana muslim bergaya glamor, eksklusif, feminin dan modern tampak dipajang disana. Setelah melihat-lihat sebentar, kami dipersilakan naik ke lantai dua untuk bertemu dengan Mbak Rya.

Seorang wanita cantik dan modis menyambut kami dengan ramah. Dialah Mbak Rya. Kami kemudian  duduk mengobrol lesehan di atas karpet empuk.



Mbak Rya berbagi cerita awal mula usahanya dibidang fashion. Dia datang dari keluarga berkecukupan. Suaminya adalah pengusaha sukses dibidang properti. Ternyata sang suami tidak mendukung ketika Mbak Rya menyatakan keinginannya berwira usaha di bidang fashion. Menurut suaminya, berjualan makanan atau pakaian itu yang merupakan kebutuhan paling dasar itu tidak keren. Tapi jiwa enterpreneur dalam diri Mbak Rya tidak serta merta padam. Dia tetap membuka usahanya di Bandung hingga menjadi besar seperti sekarang.

“ Bagaimana pendapat suami Mbak Rya sekarang, setelah melihat berbagai pencapaian Mbak selama ini?” Tanyaku.

“ Ya, biasa saja. Dia  tidak pernah memuji saya.” Jawabnya sambil tersenyum lebar.

“ Ah, pasti sebenarnya dia bangga, Mbak. Hanya karena ego-nya saja dia tidak mengakui.” Sahutku yang langsung disambutnya dengan tawa berderai.

Perbincangan kami makin menarik ketika membahas kemungkinan besar Indonesia akan menjadi pusat fashion muslim dunia, mengingat Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar dan  memiliki  desainer-desainer hebat yang sangat kreatif. Busana muslim Indonesia saat ini  semakin dilirik oleh negara-negara tetangga. Misalnya saja Malaysia.  Banyak warga negara Malaysia membanjiri Bandung untuk berbelanja fashion, baik untuk dipakai sendiri maupun untuk dijual kembali di negaranya. Hal ini sangat membanggakan para desainer Indonesia.  

Di akhir perbincangan kami, Mbak Rya berseru “ Nah, sekarang kalian semua boleh pilih pashmina mana saja yang kalian mau, berikut ciputnya. Gratis! Ayo silahkan pilih.”
Bersama  Mbak Rya Baraba.

“Cihuiii...!” Kontan aku, Indriya dan Teh Manda bersorak-sorak gembira. 

Kemudian kami sibuk memilih di antara pashmina-pashimina cantik yang terpajang di dinding butik. Setelah pusing memilih, akhirnya kami masing-masing memboyong ciput, pashmina dan jepit rambut cantik dengan wajah sumringah. Terimakasih Mbak Rya...





Ghaida’s Gallery

Matahari telah tenggelam ke peraduannya ketika kami tiba di kawasan Geger Kalong Girang. Di tengah udara dingin, kami langsung masuk masjid untuk menunaikan shalat Maghrib dirangkai shalat Isya jama’ takdim.  Rasanya nyaman beristirahat sejenak di masjid sambil mendengar tausiyah.

Kawasan disekitar pesantren Darut Tauhid terlihat ramai. Toko-toko dan warung makan di sepanjang jalan buka. Entah mengapa ada sekelumit kawasan itu yang mengingatkan aku akan suasana di Madinah, meskipun sebenarnya jauh berbeda. Mungkin karena suasana yang “hidup” dan aura Islami di sana.

Setelah berjalan beberapa saat, di ujung sebuah gang, kami mendapati sebuah bangunan yang menurut keterangan adalah tempat tinggal Ghaida Tsurayya, desainer muda, putri dari Aak Gym dan Teh Ninih Mutmainah. Kami  mengucapkan salam kepada seorang wanita muda yang menggendong anak balita laki-laki. Dia kemudian  mempersilakan kami masuk, sementara dia memanggil Ghaida.

Tak lama kemudian, Ghaida muncul dengan menggendong seorang  balita laki-laki yang terlelap dalam pelukannya. Kami sempat bingung karna balita ini sangat mirip dengan yang satunya lagi. Ternyata putra Ghaida itu kembar. Sementara anak pertamanya perempuan.

Ghaida mewarisi garis-garis wajah ibundanya, Teh Ninih. Gerak-gerik, suara lembut dan keramahannya pun mengingatkan aku pada Teh Ninih.
Bersama Ghaida Tsurayya

 Di usia muda, Ghaida telah membuktikan dirinya sebagai desainer busana muslim untuk  segmen anak muda dengan karya-karya yang apik. Desainnya sebagian besar bergaya feminin dengan warna-warna pastel yang lembut.

Setelah berbincang sebentar, Ghaida menyerahkan busana muslim hasil rancangannya untuk dibawa. Busana itu akan dikenakan oleh model muslimah dalam sesi pemotretan untuk melengkapi buku karya Indriya.

Hari telah beranjak malam ketika kami pamit pulang. Sebelum berangkat ke Bogor, kami menikmati makan malam di kawasan itu. Aku  dan Teh Manda memilih Mie Ramen bakso, sementara Indriya memilih bakso, nasi dan ayam goreng.


Di sela acara makan malam, seorang teman Indriya menyapa. Gadis muda itu seorang mualaf asal pulau bangka yang tengah menjadi santri di Darut Tauhid. Aku selalu menyimpan kekaguman pada para mualaf yang sungguh-sungguh menjalankan syariat Islam seperti gadis muda ini. Keimanannya  berqualitas karena dia tergerak sendiri mencari hidayah dan kebenaran Islam, berbeda dengan seseorang yang telah menjadi muslim karena dilahirkan dari keluarga muslim.

Malam makin larut, kamipun beranjak pulang, kembali ke Bogor.

Seharian bersama Indriya membuatku  mendapat pengalaman baru. Aku seolah dibawa melihat dunia baru yang berbeda dengan kegiatanku selama ini.  Ternyata dunia menulis itu bisa menjadi  sangat luas dan menarik. Seorang penulis bisa berhubungan dengan berbagai profesi, mulai dari desainer, artis, photographer, akademisi, dan lain-lain tergantung dengan bidang yang akan ditulisnya.  Hari ini juga aku  mendapat gambaran proses penulisan buku. Dan yang paling asyik, kami dapat pashmina gratis dari desainer beken. Yihaaa...

2 komentar:

Agustian Yanuar mengatakan...

Keren Mbak Pengalamannya. Kalo bisa punya temen-temen yang hebat pastinya akan ketularan hebat juga :)

Dewi Sutedja mengatakan...

Aamiin....