Senin, 14 Juli 2014

“ One Day Sweet Escape” di Highland Park Resort Bogor

Highland Park Resort Hotel Bogor

Menjalani kehidupan berumah tangga selama belasan tahun dengan segala  rutinitas dan dinamikanya kadang membuat pasangan suami-istri lupa untuk tetap menjaga  romansa diantara mereka.

Rutinitas sehari-hari, kehadiran anak-anak, dan kesibukan akibat pekerjaan lambat laun bisa memudarkan romantisme yang  subur saat awal pernikahan. 

Pentingkah menjaga romantisme dalam kehidupan rumah tangga? Menurutku, tentu saja penting.  Hidup akan  lebih menyenangkan bila seorang istri  memandang suaminya  dengan tatapan penuh cinta. Atau suami berdebar-debar menanti saat bertemu istrinya.  Pasangan  merasa ingin selalu berdekatan,  merasa nyaman bila bersama dan  merasa rindu bila berjauhan. Merasa beruntung dijodohkan Tuhan dengan pasangannya, dan selalu bersyukur menikmati kebersamaan. Komunikasi dengan pasangan dapat terjalin lancar dan harmonis bila romantisme telah terbangun.

Adakah yang tidak lagi merasakan getaran cinta terhadap pasangannya? Kalau ada, sebaiknya mulai  kembali membangun kedekatan bersama pasangan.

Sekali-sekali pergi berdua saja, menginap di tempat yang indah tanpa anak-anak bisa dijadikan salah satu alternatif untuk membangun kedekatan dengan pasangan.

Ketika aku dan suamiku melakukan kegemaran kami blusukan naik motor  ke pelosok Bogor, kami “menemukan” sebuah resort yang cantik di  jalan Raya Ciapus Curug Nangka. Ketika itu kami dalam perjalanan menuju Curug Nangka untuk hunting foto.

Waktu pertama melihat resort dan hotel itu, aku ingin sekali menginap di sana. Akhirnya  di bulan Februari 2014 kami bisa melaksanakan “one day sweet escape” menginap berdua di resort itu,  sehari saja “melarikan diri “ dari rutinitas, tanpa anak-anak.

Highland Park Resort Hotel terletak di lereng  gunung Salak di ketinggian 800 m dari permukaan laut. Kecantikan  gunung Salak   menjadi latar belakang  indah bagi resort ini.  Tempat ini dikelilingi tanah yang subur, pohon-pohon yang eksotis, trotoar, taman bunga cantik, dan suasana tenang dalam keindahan yang alami.


Aku dan si Akang
Apa uniknya resort ini dibanding tempat lain? Kamarnya itu lho.. Tak seperti  yang lain, kamar-kamar di resort ini berbentuk tenda  Mongolia.  Dari luar bentuknya bundar, berwarna putih dengan atap mengerucut.  Masuk ke dalam kamarnya, suasana romatis langsung menyergap. Dinding hingga langit-langit dilapisi kain berwarna terang, seperti tenda-tenda di acara pernikahan. Pencahayaan yang redup dari lampu-lampu cantik yang diletakkan di tengah langit-langit dan beberapa titik di dinding memancarkan aura romantisme yang kental.  Kamar dilengkapi dengan  sofa, kamar mandi, air hangat dan dingin, AC, dan TV Cable.
Suasana kamar

Fasilitas hotel ini terdiri dari kolam renang, mini golf, karaoke, tempat berkuda,sarana outbond, permainan bilyard, permainan catur, tenis meja, tempat bermain anak-anak, gazebo, bar, resto, lapangan futsal,ruang meeting,  dan lain-lain. Bagi yang tidak mau menginap di tenda, tersedia juga rumah  panggung kayu.

Di bagian belakang resort terdapat green house tempat ditanamnya bunga-bunga cantik. Berjalan berdua  menyusuri trotoar resort mengelilingi tempat itu sambil menghirup udara segar terasa menyenangkan.



Pemandangan  saat malam dengan suasana alam pegunungan, dimana langit mulai gelap dihiasi kerlap-kerlip lampu,terlihat seperti nyala lilin  bertaburan.  Sungguh sedap dipandang mata.
Suasana Malam

Duduk-duduk cantik sambil menikmati sarapan pagi dikelilingi suasana indah bermandi cahaya matahari pagi pun rasanya asyik sekali. Terasa lepas semua beban saat memandang cantiknya gunung Salak berselaput kabut tipis diatas sana.

Selain uuntuk ber-romantis-ria bersama pasangan, tempat ini cocok juga untuk liburan bersama keluarga atau  melaksanakan team building, gathering atau acara kantor.

One day sweet escape di resort ini sangat berkesan. Senangnya, karena jarak tempat ini dari rumahku sebenarnya tak terlalu jauh, tak perlu menghabiskan waktu lama untuk mencapai tempat ini, hanya sekitar 45 menit saja ditempuh dengan kendaraan.

So, bagi teman-teman yang mencari tempat indah untuk berduaan dengan suami atau istrinya, resort  ini bisa dijadikan pilihan.  Rasakan sendiri suasana romantisnya. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Peta Lokasi Menuju Highland Park Resort  Sumber foto dari internet







Minggu, 13 Juli 2014

Sumbu Kompor, Tali Sepatu Ungu dan Cemilan Ratu Mesir


Hari Sabtu yang cerah. Pagi-pagi anak-anak gadisku sudah bangun dan bersiap-siap dengan antusias untuk hadir di sekolah barunya, SMP dan SMA.  Dea, jam 6. 20 sudah langsung meluncur ke SMP 1 Bogor diantar sopir. Setelah mengantar Dea,  Pak Sopir kembali ke rumah dan mengantar aku dan Anin.  Menurut  jadwal, jam 8.30  Anin  harus hadir bersama orangtua sesuai  undangan dari pihak sekolah.

Jam 8.15 aku sudah duduk manis dalam ruangan aula sekolah Anin. Tak lama kemudian dimulailah acara sosialisasi program sekolah SMA YPHB Plus yang disampaikan kepala sekolahnya.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Udara panas menyengat, dan aku masih terjebak dalam antrian ibu-ibu dan anak-anak gadis yang berjubel di dalam ruang koperasi,  untuk mengambil seragam pramuka dan olahraga Anin.

Setelah selesai, dengan keringat bercucuran aku duduk di teras sekolah.  Terasa agak berat puasa hari ini.  Berada dalam antrian berdesakan dalam ruangan yang panas membuat tenggorokan terasa kering . Anin datang dan menyodorkan  sebuah daftar.

“ Ma, ini yang harus disiapkan untuk hari Senin, Selasa dan Rabu, di acara MOS ( Masa Orientasi Siswa). “

Daftar itu lumayan panjang, ada beras Rojolele 2 kg, minyak Bimoli 2 liter, dll. Mula-mula biasa-biasa saja, tapi saat mataku tertumbuk pada tulisan sumbu kompor , aku jadi bingung. Hari gene dimana beli sumbu kompor? Bukannya orang-orang zaman sekarang sudah beralih ke kompor gas?

Di perjalanan  menjemput Dea, HP ku berdering.

“Mama, Dea sudah dirumah. Mama kenapa lama jemputnya? Dea jadi pulang jalan kaki.”

“Lho, Mama kira Dea pulang jam 12. Jadi Mama mengurus keperluan di sekolah Teteh Anin baru jemput Dea. Kenapa Dea tidak telpon atau sms? “ Tanyaku. Dalam hati aku merasa kasihan sekali pada Dea. Siang terik begini dalam keadaan puasa, Dea jalan kaki menempuh jarak sekitar 6 km dari sekolah ke rumah, pasti dia lelah, haus dan lapar.

“ Dea gak bawa HP. Sudahlah, yang penting sudah dirumah. Sekarang mama siapkan keperluan Dea buat MOS hari senin. Dea sms ya..”  Dea menutup telponnya.

Sebuah sms masuk. Dea mengirimkan daftar barang-barang yang harus dibeli untuk hari Senin.

Daftar yang dikirimkan itu panjang dan bikin aku bingung membacanya.  Diantaranya ada tali sepatu ungu, bandana ungu, handband ungu, bungkus permen pack ungu, karton ungu. Kalau barang-barang itu masih masuk akal, tapi dalam list itu ada cemilan ratu Mesir, minuman ketua OSIS,  dan taktik Real Madrid. Aduh, apaan itu ya? Kepalaku langsung berdenyut-denyut.

 Di BB group orang tua murid SMP 1 para Ibu ramai berdiskusi memecahkan teka-teki cemilan Ratu Mesir, minuman ketua OSIS dan taktik Real Madrid.

“Cemilan Ratu Mesir itu makanan, Mam.  Snack merk Gery Piramid. “

“Taktik Real Madrid itu snack Tiktak, dibelakang bungkusnya ada gambar Real Madrid!”

“Ketua Osis-nya kan namanya Despra. Berarti minumannya yang mirip-mirip namanya. Ades kayaknya, Mam”

“Minumannya dua macam. Ada Cleo yang 600 ml juga. Kan Cleopatra itu ratu Mesir”

Aku makin galau. To do list hari ini banyak sekali. Aku harus beli baju seragam, pesan badge nama dan lokasi sekolah, lalu mulai mengumpulkan barang-barang di dua list milik Anin dan Dea.

Matahari terik menyinari Bogor, dan aku kembali berjejalan di dalam toko baju seragam  bersama Anin. Lalu kembali berjubelan di toko alat tulis. Menyusuri  trotoar padat pedagang di sepanjang jl. Pengadilan untuk menuju tempat memesan badge nama.

Selanjutnya menuju supermarket. Sayang sekali tak semua barang bisa didapat disana. Beras Rojolele tak ada yang di pack sebanyak 2 kg dan cemilan Ratu Mesir  alias Gery Piramid itu tak ada . Jadi harus cari ke supermarket lain. Sayangnya di supermarket yang berdekatan juga tidak ada.

Cemilan Ratu Mesir. Sumber foto dari internet


“ Itu produk lama, Bu. Mungkin sudah tidak di produksi lagi sekarang. Di cabang-cabang supermarket kami juga tidak ada. “ Kata seorang manager supermarket  saat kutanya tentang cemilan ratu Mesir.

Dengan langkah gontai  terseok-seok aku dan Anin membawa belanjaan ke mobil. Pak sopir membantu kami meletakkan belanjaan di bagasi mobil. Tapi perjuangan belum selesai. Kami menuju toko buku yang besar, mencari karton ungu, penghapus staedler, dan pena mekanik Fasler.

Perjalanan berlanjut ke mall berikutnya. Selepas shalat aku menyusuri toko pernak-pernik mencari tali sepatu ungu, bandana ungu, ikat rambut ungu dan headband ungu. Horeee... semuanya ada di toko ini. Agak lega rasanya. Tapi perjuangan belum selesai... Cemilan ratu Mesir, tali kur dan sumbu kompor belum didapat.

Sore makin renta, aku dan Anin tak kuasa lagi berjalan. Kaki kami sakit dan badan terasa lemas. Kami terkapar di jok mobil.

“ MOS ini bikin sengsara ya, Ma.. Besok saja kita cari barang yang lain yang belum dapat. Anin nggak sanggup lagi, Hari ini capek sekali.” Keluh Anin.

Aku melirik Anin yang merebahkan kepalanya sambil memejamkan mata.

“Kayaknya ganti saja istilahnya, MOS itu bukan Masa Orientasi Siswa. Lebih cocok  Mama Oge Sibuk.”  Sahutku. Lalu aku terlelap.

  • ·         Catatan : Oge = juga ( dalam bahasa Sunda) 










Jumat, 11 Juli 2014

Ulang Tahun dan Buka Bersama di Gading Cafe Aston Hotel and Resort Bogor



Bermula dari saling bertanya tanggal lahir, aku dan tiga temanku dari pengajian Qoonitaat akhirnya sepakat merayakan ulang tahun bersama-sama sekalian buka puasa. Paket hemat, biaya di tanggung bersama. Hehehe....

Evie yang lahir  tanggal 20 Juni, Anggie 2 Juli , Tiktik 9 Juli dan Aku 9 Juli bersama-sama mengundang teman-teman pengajian untuk buka puasa bersama di Gading Caffe Aston Hotel and Resort, Bogor.

Gading Caffe terletak di lantai 2 Hotel Aston. Ruangan luas dan nyaman di kelilingi dinding kaca hingga suasana terasa  lega . Pemilihan furniture yang cantik dan penataan ruangan yang apik membuat siapapun nyaman berada di caffe ini.

Gading Cafe Aston Hotel and Resort Bogor

Gading Cafe Aston Hotel and Resort Bogor


Selain di dalam ruangan, terdapat juga tempat duduk di  teras  dengan balkon menghadap taman hijau. Tapi kami memilih duduk di dalam ruangan.

Jam 17-an, satu persatu teman-teman datang. Kami berkeliling ruangan melihat menu yang dihidangkan, lalu mengobrol berbagi cerita sambil menunggu waktu berbuka tiba.



Menu yang dihidangkan banyak macamnya, muali dari takjil berupa kolak, kue-kue cantik, puding, salad buah dan sayuran, sop cream, soto, dan menu makanan berat seperti nasi, tumis sayuran, daging bumbu lada hitam, ayam goreng, ikan tuna dengan saus cream, aneka sambal, lalapan dan lain-lain. Sayang sekali  aku lupa men-charge batre kamera hingga tak sempat memotret menu makanan beratnya.

Ketika waktu berbuka tiba kami mulai mencicipi makanan. Ikan tuna dengan saus cream-nya enak sekali. Kue-kue cantiknya juga enak, rasanya tidak terlalu manis dan teksturnya lembut.

Minuman hangat seperti teh dan kopi tersedia untuk menghangatkan perut. Bisa juga dipesan minuman lain sesuai selera.

Pelayanan pun baik, para pelayan sigap melayani bila ada yang ingin menambah minuman dan segera membereskan piring-piring kotor diatas meja.

Sistem “All You Can Eat “ membuat para tamu bebas makan sekenyangnya.  Teman-temanku mencicipi berbagai hidangan lalu saling melontar review mereka.

“ Cobain soup creamnya tuh, enak!”

“ Oya? Pudingnya Unik lho. Cobain deh!”

“ Sambalnya mantaab...”

Aku tersenyum-senyum melihat teman-teman menikmati makanannya.



Tanpa di duga aku dan Evie  dapat kado jam tangan cantik dari Anggie. Dan Titik dapat kado dompet. Kami jadi malu karena lupa beli kado buat Anggie. Terimakasih ya, Anggie sayang... Kadonya nyusul yaa.





Hari bahagia bersama teman-teman dari Qoonitaat diakhiri dengan berdoa bersama, bersyukur atas nikmatNya, anugrah persahabatan yang indah dan momen kebersamaan yang seru.


Kamis, 10 Juli 2014

Masjid Roosniah Al- Achmad

Masjid Roosniah Al Achmad

Sejak bulan Juni 2009 aku resmi menjadi warga Bogor dan tinggal di lingkungan perumahan Bogor Nirwana Residence (BNR) . Saat itu satu-satunya tempat ibadah di lingkungan perumahan   adalah sebuah masjid kecil mungil yang terdapat di cluster Bukit Nirwana. Ukurannya yang mungil tak mampu menampung jamaah dalam jumlah banyak.

Tahun 2009  aku merayakan Idhul Fitri dan Idhul Adha di Bogor. Untuk shalat Id, warga perumahan  Bogor Nirwana Residence melaksanakannya di selasar Mall Jungle dan di pelataran ruko Nirwana Epicentrum.  Hal ini terus berlangsung hingga tahun 2010.Terasa sekali kebutuhan warga perumahan akan adanya masjid yang besar untuk menampung jamaah dalam jumlah banyak.

Akhirnya, kebutuhan akan tempat ibadah  yang memadai pun terpenuhi. Alhamdulillah,  hari Sabtu tanggal 30 Juli tahun 2011 sebuah masjid besar yang megah diresmikan oleh Ibunda pengusaha dan politikus Abu Rizal Bakrie.

Masjid itu diberi nama sesuai  nama Ibunda Abu Rizal Bakrie, yaitu Masjid Roosniah Al-Achmad.  Semoga pahala amal jariyah pendirian rumah Allah itu terus  mengalir untuk almarhumah Ibu Roosniah yang  wafat pada 20 Maret 2012.

Masjid cantik ini sekarang sering menjadi tempatku, teman-teman pengajian,   warga BNR  dan sekitarnya melaksanakan shalat, menimba ilmu agama,  dan melakukan kegiatan amal.

Misi dan visi  didirikannya masjid ini adalah untuk memberantas  tiga kebutaan, yaitu buta  terhadap pemahaman Al Qur’an, buta terhadap praktik ibadah dan buta akan ahlaqul karimah.

Berdiri kokoh diatas lahan seluas 7.000 meter persegi, masjid  berarsitektur modern berlantai dua  ini memiliki luas bangunan  1.650 meter persegi dan mampu menampung 2500 jamaah.

Di lantai pertama, terdapat ruang shalat yang luas.  Di   area  mimbar terdapat kaligrafi pada dinding yang terletak di sisi kiri dan kanan mimbar.  Ornamen ukiran bergaya modern  menghias mimbar dan pinggir atas dinding. Orname itu berwarna coklat senada dengan  tulisan kaligrafi .  Atap yang tinggi membuat ruangan terlihat megah dan  terasa lega.

Ruang Shalat lantai 1

Di sisi kiri dan kanan ruang shalat terdapat ruang serba guna. Untuk wanita, ruang serba guna terletak di bagian kiri ruang shalat . Ruang ini dilapisi karpet empuk  yang nyaman. Di ruang inilah  aku dan teman-temanku  dari majlis ta’lim Qoonitaat seringkali  membahas kajian agama Islam,  berdiskusi untuk penyelenggaraan acara  tausiyah dan kegiatan amal.
Detail ornamen pada pintu menuju ruang serbaguna

Lorong dimana terdapat ruang serbaguna

Di sebelah ruang serbaguna, terdapat tempat wudhu yang nyaman  dan toilet yang dilengkapi dengan wastafel.

Lantai dua adalah tempat shalat untuk wanita, atau bisa juga untuk jamaah pria pada saat shalat Jumat.  Di lantai dua ini terdapat void berbentuk zigzag dengan sudut 90 derajat, dipagari bahan kaca tembus pandang, hingga jamaah di atas bisa melihat ke bawah.
Ruang shalat lantai 2
Tangga

Di sisi kiri lantai dua terdapat juga Ruang Serbaguna, Ruang DKM, Ruang Rapat, Ruang Kelas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) , Ruang Guru, Ruang Bendahara dan Perpustakaan. Di bagian belakang samping masjid terdapat area parkir dan children play ground.
Children play ground

Masjid cantik ini adalah hasil rancangan arsitek Achmad Noeman dan putranya Fauzan Noeman. Kabarnya dana pembangunan masjid menelan biaya sebanyak 10 milyar rupiah.

Dari luar masjid ini tampak unik dengan bentuk kubah yang tidak umum. Kubah masjid bergaya futuristik dengan bentuk bagian luar seperti akan mekar merekah. Kesan merekah itu didapat dari perpaduan  material yang dipakai, yaitu batu bata merah berbentuk kelopak  sementara di sela-selanya terdapat kaca berwarna keemasan tersusun menumpuk bagai lempeng baja. Bagian dalam kubah tersusun dari kaca patri berwarna-warni  disambung dengan rangka berwarna emas.
Bagian dalam kubah

Kehadiran masjid ini membawa kesejukan dan kenyamanan bagi warga muslim yang tinggal di BNR dan sekitarnya. Mudah-mudahan masjid Roosniah Al-Achmad  bisa menjadi  Islamic Center yang berperan untuk membangun qualitas keimanan warga muslim, sesuai dengan visi dan misi pembangunan masjid ini.


Rabu, 09 Juli 2014

Martabak Telur Bumbu Kari


Bulan Ramadhan seperti ini emak-emak kayak aku suka pusing mencari alternatif menu yang cocok untuk buka puasa ataupun sahur. Anak-anakku tak terlalu suka makan nasi. Mereka  suka menu bervariasi. 
Karena itulah, menu martabak telur ini dijadikan pilihan untuk mengganti nasi. Selain mengenyangkan, rasanya yang kaya bumbu pun membangkitkan selera.
Martabak telur bumbu kari  hanya bisa dinikmati saat suami ada di rumah, karena masakan ini hasil kreasi aku dan suamiku. Suami yang bikin martabaknya, aku yang membuat bumbu karinya.

Ini dia resepnya :

Bahan Martabak
Tepung Terigu 500 gr
Garam 1 sdm
Margarin 1 sdm
Air 300 ml
Telur 1 butir


Bumbu dihaluskan
2 sdm ketumbar
6 buah cabai merah
12 butir bawang merah
4 siung bawang putih
2 cm jahe
2 cm kunyit
2 cm lengkuas
3 butir kemiri, sangrai
1 sdt merica bubuk

Bahan Kari
600 gr daging kambing
4 sdm minyak goreng
2 batang serai
4 lembar daun jeruk
4 sdm bumbu kari bubuk (Babas)
750 ml air
500 ml santan kental
500 gr kentang, rebus sampai lembut, tumbuk halus
4 butir kapulaga
3 butir pekak
4 cm kayu manis
Cengkih 4 butir
Garam secukupnya

Bahan Pelengkap
Irisan cabe hijau dicampur kecap asin
Acar mentimun

Cara Membuat Martabak
Campur semua bahan menjadi satu dalam wadah, uleni sampai kalis. Tutup wadah dengan lap basah, diamkan selama satu jam. Bagi adonan menjadi  10 bagian, bentuk bulat dan padatkan satu persatu. Lumuri dengan minyak, letakkan di wadah tertutup, diamkan selama 1 jam.
Panaskan minyak untuk menggoreng di kuali datar dengan api kecil. Ambil satu adonan kulit martabak, kemudian banting-banting adonan hingga menjadi tipis dan lebar. Letakkan dua butir telur di tengah adonan, lalu lipat adonan dengan rapi. Angkat dengan cepat dan hati-hati, masukkan dalam kuali dan goreng hingga matang.

Cara Membuat Kari
Panaskan minyak goreng, tumis bumbu halus, daun-daun, pekak, kayu manis, kapulaga, aduk hingga harum. Tambahkan bumbu kari Babas, kemudian aduk.  Masukkan daging kambing, aduk hingga berubah warna, tuangi air, masak hingga daging kambing empuk dan air tinggal sedikit. Masukkan santan kental, garam dan penyedap. Selanjutnya aduk-aduk supaya santan tidak pecah, hingga mendidih. Masukkan kentang yang sudah ditumbuk halus, masak hingga mendidih dan kental.
 Cara Menyajikan

Potong-potong martabak menjadi 6 bagian, letakkan di atas piring datar.  Siram dengan kari kambing. Hidangkan dengan pelengkapnya. Santap selagi hangat.

Resepku ini pernah di muat di majalah


Selasa, 08 Juli 2014

Meraih Manfaat Silaturrahmi Bersama Komunitas yang Positif

Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis

Senang punya  banyak teman adalah sesuatu yang wajar sesuai kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Akupun demikian. Sebagai muslimah aku percaya manfaat bersilaturrahmi.

Sejalan dengan kegiatanku sebagai ibu rumah tangga, aku selalu menyempatkan diri untuk bergabung dalam berbagai komunitas, baik komunitas online maupun offline. Mulai dari pengajian, persatuan wali murid, komunitas menulis, komunitas blogger,komunitas travelling, komunitas motor,komunitas lingkungan RT, dan lain-lain.

Pengalamanku bergabung dengan berbagai komunitas telah memberiku beberapa pelajaran berharga. Salah satunya, aku sekarang harus pandai-pandai memilih komunitas mana yang memberi  manfaat positif. Sebab bila salah pilih, akibatnya akan merugikan diri sendiri.

Suatu ketika, aku pernah bergabung di sebuah komunitas ibu-ibu rumah tangga. Mulanya sangat mengasyikkan berinteraksi dengan mereka. Kami sering jalan bersama, bertukar cerita tentang keluarga, anak dan keseharian. Ada kalanya kami  berbagi resep masakan dan saling mengajari keterampilan yang kami bisa. Tapi setelah lebih jauh aku mulai merasa tidak nyaman.

Kesenangan para ibu itu membicarakan keburukan orang menjadi pangkal timbulnya konflik. Di tambah lagi sebagian ibu-ibu yang lain sering menyampaikan gosip dan pergunjingan kepada orang yang bersangkutan. Akibatnya bisa ditebak, si penggosip dan orang yang digosipkan akhirnya bertengkar. Parahnya mereka terlibat perkelahian sampai beradegan gulat di tengah lapangan. Astagfirullah....

Kaget, heran dan kecewa sekali rasanya melihat prilaku para ibu yang semestinya menjadi contoh bagi anak-anaknya. Setelah itu, selesaikah masalahnya? Tidak. Pihak yang berseteru lalu masing-masing mencari dukungan dari teman-teman lain. Caranya mereka mendekati ibu-ibu lain lalu mulai menularkan “ virus” negatif menjelek-jelekkan lawannya dengan harapan memperoleh dukungan dalam berseteru.  Aku jadi ingat jurus-jurus partai politik yang menggunakan berbagai trik  untuk meraih kemenangan, hanya saja yang ada dihadapanku saat itu dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga. Mereka saling mencela, mengejek, memfitnah dan mempersulit lawannya. Tak ada lagi nikmat persahabatan. Komunitas itu akhirnya malah terpecah-pecah.

Melihat gelagat buruk itu, aku segera mengundurkan diri . Aku tak lagi menghadiri acara kumpul-kumpul, atau apapun yang memungkinkan aku berinteraksi lebih lama dengan mereka. Dikelilingi “virus-virus negatif” seperti itu sungguh membuatku tak nyaman.

Lalu aku pindah ke Bogor. Di kota ini aku menemukan banyak hal yang lebih baik. Orang-orang di Bogor lebih ramah, lebih santun dan  menyenangkan. Aku segera bergabung dalam bermacam-macam komunitas. Mulai dari komunitas wali murid di sekolah anak-anakku, pengajian di Masjid Raya Bogor, pengajian di sekitar rumah, dan perkumpulan warga clusterku.

Komunitas wali murid menjadi wadah saling berbagi informasi seputar kegiatan sekolah anak-anak. Saling memberi tahu bila ada PR, tugas atau kegiatan diluar sekolah dilakukan melalui BB group, atau saat berkumpul untuk arisan. Dalam  mengisi liburan pun komunitas ini sangat kreatif mengadakan acara jalan-jalan bersama atau mengajak anak-anak mengikuti pesantren kilat,   kursus kerajinan tangan sesuai minat anak dan kegiatan lain untuk mengasah keterampilan anak.

Pengajian baik di masjid  maupun di lingkungan rumah juga membangkitkan energi positif.  Bersama-sama belajar ilmu agama dan saling menasehati dalam kebaikan membuat aku merasa memiliki keluarga baru.  Selain itu  komunitas ini sering mengadakan kegiatan amal untuk menebar kepedulian kepada kaum dhuafa.
 Aku juga ikut bergabung dalam komunitas warga clusterku. Tetangga adalah saudara terdekat. Dalam keadaan darurat, bila aku membutuhkan pertolongan sesegera mungkin, maka orang yang paling mungkin kumintai bantuan adalah tetangga, bukan saudara-saudaraku yang tinggal nun jauh di pulau Sumatera sana. Karna itu sangat penting menjalin hubungan yang baik dan harmonis dengan tetangga. 

Warga di lingkungan clusterku datang dari berbagai latar belakang suku, ras dan agama. Tapi menjalin kebersamaan dengan mereka tetap menyenangkan.  Kami tidak membicarakan perbedaan tapi berangkat dari kesadaran bahwa kami tinggal di lingkungan yang sama, maka timbullah rasa kebersamaan. Aku senang  bisa hidup  rukun  dengan tetangga meskipun memiliki   latar belakang berbeda.

Di lingkungan cluster setiap bulan  diadakan arisan untuk ibu-ibu. Kami juga sekali-sekali  mengadakan jalan-jalan bersama, perlombaan, atau kumpul-kumpul makan bersama bila ada kesempatan khusus, misalnya berakhirnya periode arisan, merayakan hari kemerdekaan , atau menyambut tahun baru. Berbagi informasi seputar lingkungan taman dan rumah tempat tinggal kami pun aktif dilakukan melaui BB group  dengan tujuan saling menjaga dan memelihara kenyamanan lingkungan cluster kami.

Karena hobi jalan-jalan naik motor, eh..dibonceng motor, maka aku dan suamiku bergabung dalam komunitas motor besar. Di Bogor, komunitas ini sangat aktif. Anggotanya banyak dan seringkali mengadakan acara touring bersama.


Suamiku yang hobi motor merasakan banyak sekali manfaat bergabung dalam komunitas  ini. Sesama anggota komunitas sering sharing  seputar perawatan motor, info tentang suku cadang,  info lokasi touring dan lain-lain.

 Di komunitas ini aku juga punya beberapa teman. Mereka  istri-istri yang sering diajak suaminya ikut touring seperti diriku.  Kami sering janjian ikut touring bila ada event yang diselenggarakan komunitas motor. Aku merasa lebih nyaman bila  dalam rombongan touring ada sesama wanita yang ikut.

Selain komunitas off-line, aku juga bergabung dalam komunitas on-line yang sesuai dengan minatku. Karena  suka menulis dan nge-blog maka aku bergabung dalam komunitas penulis dan blogger. Jelas sekali manfaatnya karena anggota komunitas  tersebut sering membagikan ilmu, tips dan kiat-kiat jitu untuk meningkatkan kemampuan menulis atau meningkatkan performa blog.  Dari komunitas itu pun seringkali aku memperoleh info lomba atau peluang menguji kemampuan  menulis dan nge-blog. Sesekali hadir dalam acara kopdar pun makin mempererat kedekatan dengan anggota komunitas.

Aku juga suka travelling, maka bergabung dalam komunitas traveler menjadi sangat menyenangkan.  Aku bisa memperoleh info dan tips bagaimana melakukan traveling yang asyik, aman dan hemat.  Sekaligus juga aku bisa membagi pengetahuanku selama melakukan traveling kepada sesama teman di komunitas itu.

Bergabung dalam komunitas  yang positif, yang membangkitkan semangat dan energi positif menurutku  sama dengan mereguk manfaat silaturrahmi. Aku merasakan sendiri manfaat silaturrahmi sebagaimana yang terdapat dalam hadits :

 “Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia bersilaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Banyak teman, banyak saudara, membuat hidup lebih menyenangkan dan hidup yang menyenangkan membuat sehat jasmani dan rohani. Dengan silaturrahmi pintu rezeki terbuka, wawasan dan ilmu makin bertambah, kemampuan meningkat, solusi berbagai masalah pun didapat.

What a happy life!









Senin, 07 Juli 2014

Oleh-oleh dari Bogor : Talas Roll

Talas Roll Bluberry

Satu lagi kreasi makanan   yang bisa dijadikan cemilan dan oleh-oleh dari Bogor  adalah talas roll.  Talas roll sebenarnya seperti bolu gulung tapi bahan dasarnya dari  tepung talas.

Talas Roll bisa dibeli di “Rumah Talas”  produksi Gurih 7 yang berada di Jl. Padjajaran.  Outletnya yang  terletak di arah warung jambu terbakar beberapa minggu yang lalu, tapi  telah dibuka outlet yang baru di Jl. Padjajaran no. 3C dekat Sukasari 2 sebelum  mall Ekalokasari .

Di Rumah Talas, bukan hanya talas roll yang dijual, tapi juga tersedia varian lain seperti muffin talas, talas cake, brownies talas , mollen talas, dan donat talas. Selain itu di toko ini tersedia cemilan lain lain seperti banana cake, mollen banana, pie banana, cup cake, dan aneka snack.


Talas Roll tersedia dalam beberapa varian rasa yaitu mocca, coklat, greentea, orange, tiramizu, cream chese, bluberry dan strawberry.  Harganyapun bervariasi mulai dari Rp. 29.000 hingga Rp. 45.000,-


Bagi yang penasaran mencoba berbagai kreasi makanan berbahan talas Bogor, langsung saja meluncur ke Rumah Talas ya..

Minggu, 06 Juli 2014

Balada Penerimaan Peserta Didik 2014


“Dea pengen sekolah di SMP 1 Bogor, Ma!” Ucap anak keduaku  dengan riang usai pengumuman kelulusan SD dan pembagian NEM. Dea memperoleh nilai NEM 28,35.

“Ya, mudah-mudahan diterima.  Dea harus siap dengan segala kemungkinan ya. Sekolah itu kan  favourite, Nak. Semua anak-anak yang berprestasi dan terpandai di Bogor rata-rata ingin masuk ke sekolah itu. Jadi saingan Dea banyak lho. “ Sahutku tanpa bermaksud memadamkan semangatnya.

“Dea yakin bisa. Kita coba ya, Ma!” Dea tampak begitu mantap dengan pilihannya, sehingga hari itu juga aku langsung mengisi formulir pilihan sekolah. Pilihan pertama SMP 1, pilihan kedua SMP 3 dan pilihan ketiga SMP 7.

Formulir itu langsung dikumpulkan ke wali kelas Dea, karena pendaftaran dikoordinir secara kolektif dari sekolah Dea.

Beberapa hari kemudian, aku mendapat sms dari guru Dea yang memberitahukan nomor pendaftaran dan password untuk melihat proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) secara online.

Sejak hari itu, Dea betah berlama-lama memantau proses PPDB SMP 1. Hatinya riang ketika namanya sudah masuk dalam daftar “Diterima Sementara” di sekolah itu.  Dalam sehari, dia bisa login berkali-kali di website PPDB Online. Tiap kali membuka website itu dia selalu melaporkan perkembangannya.

“Ma, Dea tadinya di urutan 84, sekarangn turun di urutan 94 dari jumlah quota 256. Masih aman, Ma.. Tenaaang...!” Seru Dea.

Aku hanya terseyum-senyum saja melihat tingkahnya.

Keesokan harinya dia menunjukkan layar laptop yang tengah menampilan daftar dengan formasi yang  telah berubah.

“Waduh, Ma. Saingan Dea berat banget. Coba lihat. Ini ada yang jumlah nilainya sampai 41-an!”  Teriaknya.
Aku kaget, kok bisa sampai segitu tinggi nilainya?  Bukankah hanya 3 mata pelajaran yang diujikan di ujian nasional. Kalau semua soal dapat dijawab dengan benar, berarti nilai maksimal yang dapat dicapai adalah 30, atau masing-masing bernilai 10 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika dan IPA.

Ternyata pendaftar dengan nilai total 41-an itu selain NEM-nya tinggi, yaitu 29-an, ditambah dengan nilai prestasi yang mencapai belasan sehingga totalnya mencapai 41-an.

Jumlah pendaftar yang memiliki prestasi ternyata sangat banyak. Meskipun ada yang NEM-nya 26-an tapi  karena memiliki nilai prestasi maka  sukses mendongkrak rangking total perolehan nilai.

Posisi Dea makin turun, ke urutan 107 lalu ke 122. Aku melihat wajah Dea mulai cemas, apalagi dia melihat  beberapa teman  sekolahnya mulai tersingkir dari daftar.

Hari berlalu, masa pendaftaran mendekati penutupan. Drama yang berlangsung makin seru dan mendebarkan. Dea tampak cemas melihat posisinya makin melorot.

“Katanya sudah penutupan, tapi kok masih berubah terus posisinya? Dea sudah di urutan 144 nih, Ma. Gimana dong...” Ujarnya cemas. Mau tak mau kecemasannya pun mempengaruhi aku. Sebagai Ibu aku bisa merasakan kepanikannya.

“Dea, sabar saja. Kalau memang sekolah itu rezeki Dea, pasti Dea bisa masuk.” Aku berusaha setenang mungkin mengucapkannya, padahal cemasku pun memuncak.

Sebenarnya bagiku tak masalah kalau Dea tak sekolah di SMP 1, karena sebenarnya aku lebih suka Dea sekolah di SMP swasta Islam. Tapi melihat tekad dan keinginannya yang besar, aku jadi tak tega dan ikut terbawa perasaan galau Dea.

Pagi  itu Dea lagi-lagi menghampiriku dengan laporan terbarunya.

“ Ma, coba lihat. Ada kabar buruk. Beredar berita ada orang yang membeli jalur prestasi supaya bisa masuk sekolah pilihannya. Gawat, Ma! Yang jujur bisa tersingkir dong kalau begitu. “ Kata Dea berapi-api.

“Ya, biar saja kalau ada orang yang menempuh jalur itu, Nak. Tidak akan berkah buat dia. “ Kataku menenangkan.

“Tapi kan gak adil, Ma. Aduh, Dea menyesal. Kenapalah dulu tidak mau ikut macam-macam lomba. Jadi Dea nggak ada nilai prestasinya, hanya mengandalkan NEM saja. “ Wajah Dea tampak tegang.

“ Kita lihat saja prosesnya, sambil berdoa ya, Nak. Kalau tidak masuk juga kan bisa ke sekolah pilihan kedua. “

“Tapi Dea mau sekolah di SMP 1. Bagaimana supaya masuk, Ma?” Bibir Dea mengerucut, tampangnya terlihat rusuh.

“Satu-satunya yang bisa dilakukan cuma berdoa. Yang rajin ya shalat tahajjudnya, dan ditambah shalat dhuha. Telpon Nenek dan Kakek, minta bantu di doakan. “ Usulku.

“ Iya, Ma.” Dea pun beranjak ke kamar mandi untuk wudhu dan shalat dhuha.
---------------------

Sore itu , setelah berbelanja kebutuhan untuk buka puasa, aku melangkah masuk ke rumah. Di sofa ruang keluarga aku melihat Dea terduduk lemas, wajahnya pucat.

“Dea sakit?” Tanyaku sambil memegang dahinya. Tidak terasa panas.

“Mama, posisi Dea makin melorot. Sekarang di urutan 232. Dea takut tersingkir, Ma. “ Suara Dea terdengar lirih.

Hatiku  ikut sedih melihat kecemasan Dea.

“Sabarlah, Nak.  Memang yang berminat  menjadi siswa sekolah itu adalah mereka yang terbaik dan berprestasi. Dea harus siap terima kalau kalah bersaing, tapi juga sebelum ada keputusan akhir harus tetap yakin. Kalau itu rezeki Dea, tak akan ada yang bisa menghalangi. “ Aku berkata perlahan, mencoba menentramkan hatinya.

Selama  dua hari, posisi Dea berubah-ubah. Kadang naik menjadi 230, lalu turun kembali ke 232.  Puncak ketegangan terjadi dua hari sebelum pengumuman akhir.

“ Ya Allah, Ma...posisi Dea melorot lagi ke 244. Kawan-kawan Dea makin banyak yang tersingkir. Dea mesti bagaimana? “ Dea makin uring-uringan.

Kali ini aku tak bicara apa-apa, hanya membelai rambutnya sambil menyembunyikan kecemasanku yang  kian membuncah.

Dua hari kemudian, tanggal 5 Juli,  website itu  tak dapat diakses. Dea panik. Berkali-kali dia mencoba tapi tak bisa.

“ Harusnya jam 14 sudah ada hasil akhirnya, Ma. Dea pengen tahu hasilnya.”

“Mungkin masih di update, Nak. Nanti malam saja kita lihat lagi. Sekarang kita bikin makanan untuk buka puasa, yuk!” Ujarku. Aku pikir, kalau Dea punya kesibukan, pikirannya bisa beralih sehingga tak terus menerus merasa cemas.

Malam itu, usai  shalat tarawih, Dea langsung membuka website PPDB online. 

“Mama, sudah ada pengumumannya. Dea berhasil! Dea sekarang murid SMP 1! Horeee! Alhamdulillah...” Serunya. Wajah Dea berseri-seri. Sirnalah sudah semua ketegangan yang berhari-hari membuatnya galau.

“Syukurlah, Dea. Ingat ya, Dea harus rajin belajar. Kalau perlu lebih rajin dari teman-teman Dea. Dea tahu kan, teman-teman Dea di sekolah itu anak-anak unggulan. Kalau Dea malas belajar, Dea pasti ketinggalan jauh dari mereka.  Mama mendukung dan mendoakan, mudah-mudahan ini sekolah yang terbaik buat Dea. Dan semoga sukses ya, Nak..” Hatiku pun lega bukan kepalang.


Senangnya melihat anakku berhasil  mencapai keinginanya. Alhamdulillah..

Sabtu, 05 Juli 2014

Oleh-oleh dari Bogor : Lapis Talas Bogor

Pagi itu aku terburu-buru meluncur menuju  Jl.  Raya Padjajaran no 20E, tepatnya di kompleks ruko Bantar Kemang.  Di depan sebuah ruko berwarna ungu yang masih tutup, banyak  orang berkerumun.  Aku lalu bergabung dengan kerumunan itu, menanti jam menunjukkan pukul 7 pagi, saat toko itu buka.

Lokasi Toko Lapis Talas Bogor Sangkuriang


Begitu toko buka, kerumunan orang segera meringsek masuk toko, membentuk barisan antri.   Aku tak ketinggalan ikut antri juga.  Seorang Ibu berbaju merah yang berdiri di depanku tampak gelisah, berulangkali dia melihat jam tangannya. 

“ Aduh, keterlaluan. Masak mau beli kue saja antrinya seperti ini.  Belinya dibatasi pula, cuma boleh beli 4 buah. Aku ini mau berangkat ke Medan, kalo antrinya panjang begini takut ketinggalan pesawat. “ Si Ibu curhat .

“Kalau mau beli lebih banyak, harus bawa teman untuk membantu antri-nya, Bu. Ini saya bawa teman dua orang, soalnya mau beli 12 kue.” Kata gadis berbaju biru.

“Harusnya produksi kuenya ditambah dong, kan pelanggan jadi susah kalau antri berjubel seperti ini.” Sahut seorang pria menanggapi curhatan Ibu berbaju merah.

Aku tersenyum-senyum mendengar obrolan  mereka. Biar  pun sibuk mengomel, nyatanya mereka tetap saja tak beranjak pergi dari antrian.

Sebegitu fenomenalnya lapis talas Bogor ini, tampaknya berapapun produksinya, selalu habis diborong orang.

 Tak heran, memang rasa kue ini enak. Kalau menurut pendapatku, rasanya pas. Tekstur kue-nya lembut, tidak terlalu manis.Dan uniknya, tentu saja karena bahan bakunya dari talas Bogor, sehingga cocok sekali buat oleh-oleh.
Lapis Talas Bogor  Original

Lapis Talas Bogor Green Tea


Lapis Talas Bogor yang aku maksud adalah Lapis Talas Bogor Sangkuriang. Pemiliknya, Rizka Romadhona memulai usahanya dari bisnis rumahan bermodal Rp. 500.000,- . Ternyata bisnis rumahan itu kini menuai sukses luar biasa.

Lapis Talas Bogor Sangkuariang disajikan dalam berbagai rasa. Ada  yang original, berwarna ungu dengan toping keju. Ada yang hijau, beraroma green tea. Ada yang coklat, tiramisu, dan ada juga brownies talas original dan keju. Dari semua rasa itu, favourit-ku adalah yang original dan green tea.

 Salah satu hal yang menyebabkan kue ini laku keras adalah harganya yang  terjangkau,  antara Rp. 25.000-Rp. 28.000,-

Akhir-akhir ini banyak produk lapis Bogor merk lain yang beredar, namun sudah beberapa macam merk aku coba, tetap saja yang terasa pas nikmatnya adalah yang merk Sangkuriang.

Teman-teman yang berlibur atau jalan-jalan ke Bogor, jangan lupa beli kue ini untuk oleh-oleh ya..