Selasa, 12 September 2017

TOURING KE LEMBANG, MENIKMATI SEKELUMIT EROPA DI FARMHOUSE


Kantuk hampir saja mengantar ke alam mimpi ketika  derit pintu kamar yang terkuak menarikku kembali ke alam sadar. Dengan kelopak mata berat,  kutangkap bayangan laki-laki separuh jiwa itu masuk kamar dengan langkah gontai.  Kulirik jam.  Pukul 23.10. Ah... Kasihan sekali  Akang, begitulah aku memanggil suamiku,  baru sampai rumah hampir tengah malam begini. Sebuah proyek penting menyita waktunya, ditambah  kemacetan parah di Jakarta memaksa ia pulang lebih larut. Akang menghempaskan tubuh lelahnya di kasur. Lengannya terjulur meraih dan memelukku.

“Neng, besok kita harus berangkat touring. Kalau Akang di atas motor,  segala penat dan ketegangan rasanya lepas. Akang benar-benar butuh refreshing supaya di hari berikutnya punya energi baru untuk menghadapi pekerjaan.”Bisiknya dengan mata setengah terpejam.


“Ya, sayang. Besok kita berangkat. “Balasku. Kusurukkan wajah di dadanya. Akang mengecup keningku. Detik berikutnya kami terlelap.


πŸ’–πŸ’–
 



Jerit kokok ayam-ayam jantan peliharaan Akang membelalakkan kelopak mataku. Azan subuh berkumandang. Usai melaksanakan shalat, aku menyiapkan sarapan sambil memberi beberapa instruksi pada si Mbak.

“Makanan untuk anak-anak ada di sini ya. Tanya dulu mereka mau makan apa, nanti kamu siapkan sesuai pesanan mereka. “

Si Mbak mengganguk. Kemudian aku menyerahkan daftar kegiatan yang harus dilakukan Mbak agar semua aktivitas anak-anak tetap lancar. Aku tak ingin anak-anak terlantar karena Mama dan Bapaknya pergi touring.

“Tas touring ada di mana Neng? “ Tanya Akang.

Yah.. beginilah  kalau touring dadakan. Biasanya kami sudah menyiapkan segala keperluan sejak sehari sebelum berangkat, tak seperti hari ini.  Rencana berangkat sehabis shalat subuh, eh jam 6.00 malah masih sibuk cari-cari tas. Setelah bongkar sana-sini, akhirnya dengan cengiran lebar, Akang menunjukkan tas yang dicarinya. Teronggok di dalam koper di atas lemari dinding kamar.

“Kalau ternyata ada di situ, kira-kira yang menyimpan tas itu tempo hari Neng atau Akang ya?” Ucapku, setengah sewot. Aku sempat panik, karena dituduh Akang lupa tempat menyimpan tas.

“Hahaha... Maaf ya sayaaang.” Tawa lebar Akang menyurutkan kesalku.

Selanjutnya kami berdebat masalah barang bawaan. Seingatku hal ini selalu terjadi saat kami packing.

“Kan sudah ada jaket touring, Neng. Buat apa lagi bawa mantel?”Protes Akang ketika melihat seonggok mantel merah di atas tumpukan pakaian.

“Neng harus bawa mantel merah ini. Mantel ini hangat, dan modelnya Neng suka. Terus kalau difoto, warnanya cerah.” Sebelum Akang melancarkan balasan, aku segera menutup argumentasi dengan jurus mutakhir.

“Sayang, Neng kan cewek. Jadi harap maklum kalau barang bawaan Neng lebih banyak. Selama nggak kebanyakan barang  dan masih muat di tas, boleh yaa?”

Akang pasrah. Disumpalkannya mantel merah tebal  itu kedalam tas. Ah..lega.

Aku baru saja selesai menarik resleiting jaket touring ketika kepala Akang menyembul di pintu kamar. Wajahnya murka.

“Inilah kelakuan kucing-kucing liar kurang ajar itu. Neng sering kasih mereka makan, tapi lihatlah! Ini jas hujan Akang dikencinginya! “

“Sudah Neng basuh dengan air dan sabun lho, Kang...” Sahutku.

“Masih bau! “Seru Akang. Seandainya kucing-kucing liar itu, si  Belang,  si Culun dan si Cross ada di sana, habislah mereka diomeli Akang. Tapi karena batang hidung mereka tak tampak, maka aku yang menjadi sasaran kekesalan Akang.

Untung  aku tak terpengaruh. Dengan reframing, aku bisa maklum.  Tentu wajar buat orang yang sedang butuh refreshing seperti Akang, menjadi gusar akibat jas hujan kesayangannya dikencingi kucing. Supaya tak ketularan emosi, dengan modal sub-modality, aku memvisualisasikan sebuah drama di kepalaku.


Drama itu bersetting di hari akhir, hari pembalasan. Ketika itu malaikat menyeretku ke depan pintu neraka. Tiba-tiba, ucluk-ucluk muncul Si Culun, Cross,  dan Belang. Mereka mengeong-ngeong berdiri berjejer menghadang di gerbang .Dengan suara cempreng yang nyaring, si Culun berkata,” Ya Allah  ya Tuhanku.. Janganlah Engkau masukkan emak-emak dasteran ini ke neraka. Amalnya mungkin tak banyak, tapi dia rajin memberi kami makan. Memang sih, kami iseng mengencingi jas hujan suaminya. Meski demikian, tak kapok juga dia. Masih saja dia beri kami makan. Karena itu, kasihanilah dia Ya Allah..” Lalu ketiga kucing itu memasang wajah imut-imut menggemaskan. Mengeong-ngeong manja minta dikasihani . Tuhan pun tak tega. Maka aku tak jadi dimasukkan ke neraka.
πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
Drama karanganku itu membuat aku tertawa  geli sendiri. Aku berdoa, semoga Allah tak menurunkan  hujan selama perjalanan pergi dan pulang touring, sehingga Akang tak perlu mengenakan jas hujan bau itu. Aku berjanji, setelah pulang touring,  akan kurendam jas kesayangan Akang dengan deterjen paling wangi, kemudian membilasnya dengan berliter-liter larutan pewangi supaya najis dan  bau kencing kucing sirna.


Jam 7 kami akhirnya  berangkat, meluncur diatas kuda besi, Kawasaki Versys  650 cc menuju Lembang. Ketika melewati puncak, udara sejuk membuatku merasa segar. Kuhirup dalam-dalam udara pagi dengan satu tarikan nafas yang panjang. Ah..nikmatnya!



Di Cianjur kami mampir menikmati bubur ayam langganan.  Kemudian perjalanan berlanjut menyusuri bentang alam yang indah. Perjalanan dihiasi jalan berkelok, menanjak dan menurun, lembah, jurang, sawah, sungai, ladang, dan bukit-bukit hijau yang cantik.  Lamunanku melayang kian kemari terbuai indahnya pemandangan.

Cuaca cerah menaungi langit. Tak kulihat sedikit pun awan mendung  bergantung. Langit bersih dengan awan putih dan kemilau matahari  menjadikan perjalanan sangat menyenangkan.



Kami tengah menyusuri jalan kecil yang makin menanjak dan berliku-liku, ketika tiba-tiba masuk ke sebuah jalan besar yang cukup ramai. Aku melirik jam, pukul 10.57 WIB. Sebuah baliho  terpampang di pinggir jalan. Di situ tertulis promosi kuliner Lembang. Wah... ternyata kami sudah sampai di Lembang! Cepat sekali rasanya. Hehehe... Alhamdulillah..

“Neng, kita menginap di mana ya?” Tanya Akang.

Inilah seni touring dadakan. Kami bahkan belum sempat browsing mencari hotel. Nekad saja, langsung berangkat. Akang menghentikan motornya di pinggir jalan. Dia menekuri ponsel di tangan, mencari info hotel.


“Neng ingin ke Farm House kan? Kalau begitu kita cari hotel yang dekat Farmhouse  saja ya? “ Tanya Akang.

Aku mengangguk. Akang men-setting GPS menuju sebuah hotel yang berada di sekitar lokasi Farmhouse. Kemudian kami menyusuri jalan mengikuti arah yang ditunjukkan GPS.

Alhamdulillah, akhirnya kami dapat hotel.  Jam menunjukkan pukul 11.30, ketika aku menghempaskan tubuh di atas ranjang empuk.

“Akang shalat Jumat dulu ya, Neng. Habis ini kita jalan-jalan. “ Akang beranjak meninggalkanku. Dia bersama petugas hotel berjalan kaki menuju masjid.

 πŸ’–πŸ’–

SEKELUMIT EROPA DI FARMHOUSE SUSU LEMBANG



Jam 13.50, setelah memarkir motor di seberang lokasi Farmhouse, kami berjalan kaki memasuki area tempat wisata itu.


“SELAMAT DATANG. Pengunjung Farmhouse diwajibkan membeli voucher susu murni atau untuk pembayaran makanan di resto Rp. 25.000/orang.”

Demikian yang tertulis pada sebuah papan di pintu masuk. Aku  membeli dua buah voucher yang langsung kami tukarkan dengan susu murni di stand penukaran voucher. Kami baru sadar kalau ternyata haus sekali. Aku pilih susu rasa  strawberry, akang pilih susu murni. Sebentar saja susu sapi itu sudah habis diseruput. Segarnya...




Farmhouse Susu Lembang adalah tempat wisata yang tengah hitz dikalangan traveller. Lokasinya terletak di Jalan Raya Lembang No.108, Gudangkahuripan, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Konsep tempat wisata ini adalah perpaduan peternakan dan perkebunan  ala Eropa.

Suasana Lembang yang sejuk sedikit banyak menyumbang kemiripan dengan suasana musim semi di Eropa.

Sebuah tiang penunjuk arah berwarna merah tegak di sudut dekat sebuah kolam.  Kami memilih arah ke Petting Zoo,  dan rumah Hobbit. 

Petting Zoo adalah kebun binatang mini yang isinya beberapa jenis unggas seperti burung, ayam, dan angsa. Aku tak terlalu tertarik pada kandang-kandang unggas ini.  Lha, di rumah, tepatnya di taman samping sudah banyak ayam hutan dan pelung peliharaan Akang yang dirawat tukang kebun kami.




Di sebelah Petting Zoo terdapat Rumah Sosis yang menjajakan berbagai jenis sosis dan makanan ringan.Aku terpesona melihat sosis Super Jumbo yang panjang sekali ditata di freezer. Rasanya ingin kubeli, tapi ketika ingat bahwa kami naik motor, aku membatalkan niatku.  Betapa repotnya  mengemas sosis itu di box motor. Tidak muat! Hehehe..




Setelah membeli sebungkus besar kripik singkong untuk cemilan, aku dan Akang meneruskan penjelajahan  di Farmhouse.



Aiih... ada domba-domba putih ginuk-ginuk yang lucu dan menggemaskan! Mereka jinak sekali, bahkan berani mendekat minta diberi makan wortel oleh para pengunjung. Ketika kusentuh bulu domba itu terasa empuk dan hangat. Bulu-bulu mereka sudah dirapikan, sehingga tidak gimbal. Jadi gemas rasanya ingin mencubit-cubit domba lucu itu. Binatang imut itu dipakaikan “pampers” yang diikatkan ditubuhnya, supaya kotoran tak mengotori area tempat mereka berkumpul. Pengunjung bisa membeli wortel-wortel mini untuk diberikan ke domba. Harganya Rp. 10.000,- per ikat atau Rp. 15.000 per kantong.


Disebelah tempat domba, ada rumah kelinci yang kandangnya cantik sekali. Kandangnya pun dibuat bergaya Eropa.

Aku melihat orang-orang berbaris rapi menghadap sebuah bangunan. Ada apa ini? Rupanya mereka mengantri untuk berfoto di depan Rumah Hobbit. Ingat film The Lord of the Rings? Nah, Rumah Hobbit ini adalah tiruan rumahnya Frodo dalam film  yang aslinya bersetting di Selandia Baru.   Aku dan Akang pun ikut berbaris di antrian itu supaya bisa berfoto dengan latar belakang Rumah Hobbit  dengan bentuk pintu yang bulat hijau dan atap yang rendah.



 Ada kandang sapi dengan anak-anak sapi berbulu hitam-putih yang lucu-lucu.  Ada juga kandang-kandang iguana, sugar glider dan anak-anak landak.



Banyak sudut-sudut cantik yang instagrammable di tempat ini. Bangunan-bangunan dibuat bergaya Eropa tepatnya seperti bangunan di Belanda. Aku pernah berkunjung ke Belanda, dan memang terasa ada kemiripan dengan suasana di sana.


Hamparan tanaman hijau berbunga-bunga mirip suasana di taman bunga Keukenhof, meskipun tetap saja ada bedanya terutama dari jenis bunga yang ditanam. Di Keukenhof bunga sebagian besar berjenis tulip berbeda dengan bunga-bunga yang ditanam di Farmhouse.




Bentuk bangunan mirip dengan bangunan-bangunan yang terdapat di desa nelayan Volendam. Ada juga tiruan kincir angin yang makin mengentalkan suasana Holland  ditempat ini.



Di sini terdapat  deretan toko-toko makanan, souvenir, resto, cafe dan tempat duduk untuk bersantai menikmati suasana. Terdapat air terjun buatan,  jalan dan dinding-dinding dari batu alam, tanaman hias cantik yang tertata rapi, caffe yang dinaungi atap berbentuk payung, bangku-bangku kayu,  tiang-tiang artistik dengan tanaman hias, dan pohon-pohon yang rindang. Sangat menyenangkan menghabiskan waktu di tempat ini.










Pengunjung bisa  menyewa baju ala gadis Belanda dengan sewa Rp. 50.000,- per jam, kemudian mereka difoto dengan pakaian Noni Belanda itu sebagai kenang-kenangan.

“Neng mau nggak pakai baju Noni Belanda?” Tanya Akang.

Aku menggeleng.  “Malas ah. Sayang waktunya dipakai buat antri dan berdandan. Enakan jalan-jalan menikmati suasana. “ Sahutku.










Kami kembali jalan-jalan menikmati suasana sambil berfoto-foto, hingga tiba saat shalat Ashar. Aku dan Akang melaksanakan shalat di Musholla luas yang terdapat di lantai atas, diapit  toko roti dan caffe.

Jalan-jalan ke Farmhouse sungguh menyenangkan. Aku sebenarnya ingin menikmati Eropa bersama Akang, karena dulu saat ke Eropa aku  bersama sahabatku. Sayangnya dengan kesibukan Akang yang demikian padat ini, entah kapan kami bisa punya waktu agak lapang untuk jalan-jalan ke luar lagi. Jadi touring ke Farmhouse ini lumayan bisa mengobati keinginan itu. Hehehe... By the way, aku salut dengan arsitek yang merancang Farmhouse.  Bisa dikatakan dia berhasil memindahkan sekelumit Eropa ke Lembang.


Setelah shalat kami memutuskan keluar dari Farmhouse untuk mencari makan siang yang sudah kesorean. Setelah menikmati sate dan tongseng, aku kembali mensetting GPS mencari jalan menuju Floating Market.  Nantikan kisah touring kami selanjutnya ya...

14 komentar:

Farida mengatakan...

Ih keren banget ya tempatnya :)

Yelli Sustarina mengatakan...

Seru banget tempatnya ya Mbak, apa lagi kalau perginya bareng suami gitu, makin romantis aja jadinya.

Ehem.., doakan aku supaya bisa kayak mbak juga nanti setelah menikah ya. Salam kenal mbak :)

Juliana Dewi K mengatakan...

@Farida : iya..pengen ke sini lagi😊

Juliana Dewi K mengatakan...

@Yelli Sustarina : Aamiin..semoga diijabah. salam kenal juga😊

andre mengatakan...

iia tuh, tempatnya keren

dian nafi mengatakan...

waaaah keren. great note! pengeeeen

phadli antonio mengatakan...

Kalau ke farmhouse hari libur minta ampun juga ya. fotonya keren keren nih

Villa Putih mengatakan...

ulasanya menghibur banget bikin betah baca slm kenal

Surnata Os mengatakan...

Salam safety riding Mbak dan Akang.. mbak and Akang pernah lewat jalur bojong sawit purwajarta nggak? ... soalnya pernah papasan deh dengan Versys 650 nya terus boncengan gitu kaya Mbak sama si Akang nya.

Surnata Os mengatakan...

Purwakarta maksud saya..
Jadi inget dulu saya sering touring tandem bareng istri.. sekarang istri sdh menetap di kota Banjar.. jadi saya solo touring terus Cikarang - banjar tiap bulan.

Juliana Dewi K mengatakan...

@dian nafi : hayuk touring juga ke Lembang

Juliana Dewi K mengatakan...

@phadli antonio : kami ke sana hari Jumat, sengaja biar gak terlalu rame

Juliana Dewi K mengatakan...

@Villa Putih : salam kenal juga

Juliana Dewi K mengatakan...

Surnata Os : hehe.. iya kami pernah lewat bojong sawit purwakarta :-)