Rabu, 30 September 2015

Malam Mingguan di Nicole’s Kitchen and Lounge


Setelah beberapa kali rencana touring gagal melulu karena beberapa urusan, akhirnya aku dan suamiku, si Akang, mulai merasa kurang piknik. Ah, sungguh tak enak rasanya.

 Sabtu sore itu 19 September 2015, setelah bangun dari istirahat siang,  Akang tiba-tiba dapat ide.

“Kita panaskan motor ke Puncak, yuk! Menikmati malam mingguan di Nicole’s Kitchen and Lounge .” Ajaknya.

“Ayok! Setuju!” Langsung saja aku menyambut tawarannya dengan antusias.

Usai shalat maghrib kami berdua meluncur di atas motor 650 cc melintasi jalan-jalan Bogor yang penuh angkot. Kami menuju ke arah puncak.


“Kalau macetnya sangat parah,  kita balik lagi saja ya,Neng. Tapi kalau nggak terlalu macet kita teruskan perjalanan ke Puncak.” Ujar Akang saat melihat antrian kendaraan yang padat di pasar Ciawi.

Meski lalu lintas padat, kami masih bisa mencari celah –celah di antara bus dan mobil pribadi. Selepas pasar Ciawi, wuzz!!...kami melaju dengan lancar hingga bertemu sekitar dua titik antrian kendaraan sebelum Puncak Pass.

Lewat dari Puncak Pass jalan lebih lengang. Udara dingin menelusup celah-celah jaket kulitku. Aku mengeratkan pelukan ke punggung Akang.

Satu setengah jam perjalanan, kami tiba di Jl. Raya Cipanas Hanjawar, di sisi kiri kami melihat “Kampoeng Brasco”, sebuah factory outlet yang besar. Akang segera membelokkan motornya memasuki tempat itu. Nicole’s Kitchen and Lounge berada satu area dengan Kampoeng Brasco.

Setelah parkir motor di basement, kami berjalan kaki memasuki bangunan resto cantik itu. Dari depan, tampak bangunan terdiri dari dua lantai. Di bagian bawah terdapat Nicole’s Kitchen, sementara Nicole’s Lounge terletak di lantai atas.


Nicole’s Kitchen tampak sepi. Aku dan Akang  memasuki lift menuju Nicole’s Lounge. Resto itu, seolah menyambut kami dengan kemeriahan. Hentakan  musik “nge-beat” terdengar nyaman di telinga mengalunkan “Locked out of Heaven”-nya Bruno Mars versi vocalist Nicole’s Lounge. Suara anak muda itu lumayan bagus, dan musik yang dimainkan pun tak memekakkan telinga karena kualitas sound system yang cukup baik.

Aku mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Tempat itu didisain dengan cantik. Lampu-lampu menyala dengan sinar kekuningan, berkesan hangat, cocok untuk suasana malam di  Puncak yang berhawa dingin.



Unsur-unsur interior berpadu harmonis saling mendukung. Langit-langit dengan rangka   kayu bercat putih,  tanaman artificial menyerupai pepohonan, furniture berupa kursi-kursi dan meja  putih dengan disain simple dan apik. Semua  ditata serasi di ruangan maupun di teras yang terbuka.


Gazebo-gazebo beratap putih berjejer di balkon sementara sofa-sofa cantik dilengkapi meja kecil berwarna coklat  membuat betah pengunjung resto menghabiskan waktu di tempat ini.





Di sudut, terdapat sebuah  ruang terpisah dari ruang utama resto. Tempat itu sedap dipandang mata, dengan aksesoris  selaras. Langit-langit dan dinding kaca,lampu kristal, tanaman artificial berwarna putih, serta  sofa  berjok merah  yang berada tepat di tengah ruangan.


Aku dan Akang memilih duduk di  ruang utama resto. Seorang pelayan menyodorkan daftar menu.  Makanan yang tersedia di sini antara lain soup dan salad, cemilan, pasta, pizza, sandwich, burger, hidangan penutup berupa beberapa jenis pudding, masakan Nusantara dan Asia.






Karena tak terlalu lapar, aku memilih menu yang “ringan”. Creamy mushroom zuppa soup dan Green tea latte. Akang memesan Mushroom Arancini, Chicken Tikka Masala, dan Vanilla Latte.


Sementara menunggu telingaku terus dimanjakan dengan lagu-lagu baru maupun lagu dari zaman masa remajaku.

Melodi pembuka  mengantarkan nada-nada manis sebuah  intro lagu yang dulu begitu kukenal.

“Cantik... 
Ingin rasa hati berbisik...
untuk melepas keresahan..
dirimu..” 

Alunan suara sang vocalist membuat aku senang campur geregetan.


“Aaah....” Seruku, lalu menutup muka dengan dua telapak tangan.  Ya, lagu ini bagusnya diberi judul lagu tutup muka! Hahaha... karena lagu “Cantik” milik Kahitna itu mampu membawaku ke masa lalu. Ke zaman kuliah, saat-saat indah merangkai masa depan. Saat-saat tebar pesona. Hahaha...

Aku   tersenyum-senyum sendiri, lalu mulai ikut menyanyikan lirik-lirik manis lagu karangan Yovie Widianto . Akang memandangku dengan ekspresi wajah yang lucu, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tak lama kemudian, pelayan yang ramah mengantarkan  pesanan kami. Aku memandang 3 macam menu makanan dan dua jenis minuman dengan antusias.


 Creamy mushroom zuppa soup yang panas sangat cocok untuk mengusir hawa dingin udara puncak. Aku segera merobek pastry yang membungkus masakan dari Eropa itu dengan sendok, dan mencicipi soup panas kental berwarna putih. Rasanya enak,  creamnya pas tidak terlalu kuat, aroma dan rasa jamurnya juga lezat.

Kemudian aku mencicipi menu pesanan Akang,Chicken Tikka Masala. Masakan ini sebenarnya tidak jelas darimana asalnya. Ada yang yang menyebutkan menu ini berasal dari restoran India di Inggris, tepatnya dari orang-orang  Bangladesh yang menjalankan bisnis resto masakan India di Inggris.


Menurut resep aslinya, Chicken Tikka Masala adalah potongan ayam yang direndam dalam rempah-rempah dan yogurt  kemudian dipanggang dalam oven tandoor.Kemudian ayam disajikan bersama saus rempah-rempah yang disebut saus masala.

Chicken Tikka Masala di Nicole’s Lounge ini dan disajikan bersama  roti prata dan mint raita.  Roti prata adalah pancake ala Pakistan, sementara mint raita adalah saus yogurt yang dicampur daun mint.


Saus masala rasanya seperti kari yang “spicy”. Enak. Cara menikmatinya, dengan meletakkan potongan daging ayam berbalut saus masala di atas roti prata, lalu lipat dan  celup ujungnya dalam  mint raita. Hmm....Maknyoss.


Menu yang satu lagi, Mushroom Arancini adalah bola-bola yang terbuat dari  adonan nasi dicampur jamur, dibalut tepung roti lalu digoreng. Menu ini berasal dari Sisilia di abad 10 selama pemerintahan Arab. Masakan ini menurutku biasa saja rasanya.

Bagaimana minumannya? Green tea latte dan vanilla latte lumayan enak. Tapi kalau dua macam minuman itu  dibandingkan, lebih enak vanilla Latte.

Kemeriahan malam minggu masih kami nikmati selama beberapa saat. Ketika malam makin merambat, Akang mengajakku pulang. Aku terpaksa menuruti ajakannya, padahal rasanya masih betah menikmati suasana romantis di tempat itu.

Untuk makanan dan minuman yang kami pesan, Akang membayar tagihan sejumlah Rp. 213.000,-
Mahal? Relatif ya. Sebandinglah dengan rasa masakan yang enak, pelayana yang ramah dan cepat, serta susasana cozy, cantik dan nyaman di resto itu.

Rasanya aku ingin lagi datang ke tempat ini, tapi tidak di malam hari. Pasti di siang atau sore hari tempat ini juga asyik untuk bersantap bersama anak-anak. Hanya saja, mungkin di week day. Sudah terbayang kalau berkunjung saat week end dan bawa mobil, macetnya mana tahaaan...  :)








7 komentar:

Prima mengatakan...

Tempatnya cantik banget mbak, dingin2 makan sup pasti anget banget yaaa. Bookmark aahh kalau bisa jalan2 ke Puncak

Juliana Dewi mengatakan...

@Prima : Siiipp.... :-)

Lidya Fitrian mengatakan...

wah asyik ya makan sambil denger live musik, ada laguny aKahitna pula :) gak duduk di Gazebo mbak? kalo aku jadi pingin tidur

Tetty Hermawati mengatakan...

deket nih di puncak.. yihiiii

Lastboy mengatakan...

Wihh mushroom zuppa soup nya sedap nih kayaknya, ulasan menarik, bisa jadi referensi :)

Fahmi (catperku.com) mengatakan...

pengen coba kesini juga aah~

murtiyarini mengatakan...

Penting dicoba ini..kudu nyuri waktu diluar weekend