Kamis, 10 Juli 2014

Masjid Roosniah Al- Achmad

Masjid Roosniah Al Achmad

Sejak bulan Juni 2009 aku resmi menjadi warga Bogor dan tinggal di lingkungan perumahan Bogor Nirwana Residence (BNR) . Saat itu satu-satunya tempat ibadah di lingkungan perumahan   adalah sebuah masjid kecil mungil yang terdapat di cluster Bukit Nirwana. Ukurannya yang mungil tak mampu menampung jamaah dalam jumlah banyak.

Tahun 2009  aku merayakan Idhul Fitri dan Idhul Adha di Bogor. Untuk shalat Id, warga perumahan  Bogor Nirwana Residence melaksanakannya di selasar Mall Jungle dan di pelataran ruko Nirwana Epicentrum.  Hal ini terus berlangsung hingga tahun 2010.Terasa sekali kebutuhan warga perumahan akan adanya masjid yang besar untuk menampung jamaah dalam jumlah banyak.

Akhirnya, kebutuhan akan tempat ibadah  yang memadai pun terpenuhi. Alhamdulillah,  hari Sabtu tanggal 30 Juli tahun 2011 sebuah masjid besar yang megah diresmikan oleh Ibunda pengusaha dan politikus Abu Rizal Bakrie.

Masjid itu diberi nama sesuai  nama Ibunda Abu Rizal Bakrie, yaitu Masjid Roosniah Al-Achmad.  Semoga pahala amal jariyah pendirian rumah Allah itu terus  mengalir untuk almarhumah Ibu Roosniah yang  wafat pada 20 Maret 2012.

Masjid cantik ini sekarang sering menjadi tempatku, teman-teman pengajian,   warga BNR  dan sekitarnya melaksanakan shalat, menimba ilmu agama,  dan melakukan kegiatan amal.

Misi dan visi  didirikannya masjid ini adalah untuk memberantas  tiga kebutaan, yaitu buta  terhadap pemahaman Al Qur’an, buta terhadap praktik ibadah dan buta akan ahlaqul karimah.

Berdiri kokoh diatas lahan seluas 7.000 meter persegi, masjid  berarsitektur modern berlantai dua  ini memiliki luas bangunan  1.650 meter persegi dan mampu menampung 2500 jamaah.

Di lantai pertama, terdapat ruang shalat yang luas.  Di   area  mimbar terdapat kaligrafi pada dinding yang terletak di sisi kiri dan kanan mimbar.  Ornamen ukiran bergaya modern  menghias mimbar dan pinggir atas dinding. Orname itu berwarna coklat senada dengan  tulisan kaligrafi .  Atap yang tinggi membuat ruangan terlihat megah dan  terasa lega.

Ruang Shalat lantai 1

Di sisi kiri dan kanan ruang shalat terdapat ruang serba guna. Untuk wanita, ruang serba guna terletak di bagian kiri ruang shalat . Ruang ini dilapisi karpet empuk  yang nyaman. Di ruang inilah  aku dan teman-temanku  dari majlis ta’lim Qoonitaat seringkali  membahas kajian agama Islam,  berdiskusi untuk penyelenggaraan acara  tausiyah dan kegiatan amal.
Detail ornamen pada pintu menuju ruang serbaguna

Lorong dimana terdapat ruang serbaguna

Di sebelah ruang serbaguna, terdapat tempat wudhu yang nyaman  dan toilet yang dilengkapi dengan wastafel.

Lantai dua adalah tempat shalat untuk wanita, atau bisa juga untuk jamaah pria pada saat shalat Jumat.  Di lantai dua ini terdapat void berbentuk zigzag dengan sudut 90 derajat, dipagari bahan kaca tembus pandang, hingga jamaah di atas bisa melihat ke bawah.
Ruang shalat lantai 2
Tangga

Di sisi kiri lantai dua terdapat juga Ruang Serbaguna, Ruang DKM, Ruang Rapat, Ruang Kelas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) , Ruang Guru, Ruang Bendahara dan Perpustakaan. Di bagian belakang samping masjid terdapat area parkir dan children play ground.
Children play ground

Masjid cantik ini adalah hasil rancangan arsitek Achmad Noeman dan putranya Fauzan Noeman. Kabarnya dana pembangunan masjid menelan biaya sebanyak 10 milyar rupiah.

Dari luar masjid ini tampak unik dengan bentuk kubah yang tidak umum. Kubah masjid bergaya futuristik dengan bentuk bagian luar seperti akan mekar merekah. Kesan merekah itu didapat dari perpaduan  material yang dipakai, yaitu batu bata merah berbentuk kelopak  sementara di sela-selanya terdapat kaca berwarna keemasan tersusun menumpuk bagai lempeng baja. Bagian dalam kubah tersusun dari kaca patri berwarna-warni  disambung dengan rangka berwarna emas.
Bagian dalam kubah

Kehadiran masjid ini membawa kesejukan dan kenyamanan bagi warga muslim yang tinggal di BNR dan sekitarnya. Mudah-mudahan masjid Roosniah Al-Achmad  bisa menjadi  Islamic Center yang berperan untuk membangun qualitas keimanan warga muslim, sesuai dengan visi dan misi pembangunan masjid ini.


Rabu, 09 Juli 2014

Martabak Telur Bumbu Kari


Bulan Ramadhan seperti ini emak-emak kayak aku suka pusing mencari alternatif menu yang cocok untuk buka puasa ataupun sahur. Anak-anakku tak terlalu suka makan nasi. Mereka  suka menu bervariasi. 
Karena itulah, menu martabak telur ini dijadikan pilihan untuk mengganti nasi. Selain mengenyangkan, rasanya yang kaya bumbu pun membangkitkan selera.
Martabak telur bumbu kari  hanya bisa dinikmati saat suami ada di rumah, karena masakan ini hasil kreasi aku dan suamiku. Suami yang bikin martabaknya, aku yang membuat bumbu karinya.

Ini dia resepnya :

Bahan Martabak
Tepung Terigu 500 gr
Garam 1 sdm
Margarin 1 sdm
Air 300 ml
Telur 1 butir


Bumbu dihaluskan
2 sdm ketumbar
6 buah cabai merah
12 butir bawang merah
4 siung bawang putih
2 cm jahe
2 cm kunyit
2 cm lengkuas
3 butir kemiri, sangrai
1 sdt merica bubuk

Bahan Kari
600 gr daging kambing
4 sdm minyak goreng
2 batang serai
4 lembar daun jeruk
4 sdm bumbu kari bubuk (Babas)
750 ml air
500 ml santan kental
500 gr kentang, rebus sampai lembut, tumbuk halus
4 butir kapulaga
3 butir pekak
4 cm kayu manis
Cengkih 4 butir
Garam secukupnya

Bahan Pelengkap
Irisan cabe hijau dicampur kecap asin
Acar mentimun

Cara Membuat Martabak
Campur semua bahan menjadi satu dalam wadah, uleni sampai kalis. Tutup wadah dengan lap basah, diamkan selama satu jam. Bagi adonan menjadi  10 bagian, bentuk bulat dan padatkan satu persatu. Lumuri dengan minyak, letakkan di wadah tertutup, diamkan selama 1 jam.
Panaskan minyak untuk menggoreng di kuali datar dengan api kecil. Ambil satu adonan kulit martabak, kemudian banting-banting adonan hingga menjadi tipis dan lebar. Letakkan dua butir telur di tengah adonan, lalu lipat adonan dengan rapi. Angkat dengan cepat dan hati-hati, masukkan dalam kuali dan goreng hingga matang.

Cara Membuat Kari
Panaskan minyak goreng, tumis bumbu halus, daun-daun, pekak, kayu manis, kapulaga, aduk hingga harum. Tambahkan bumbu kari Babas, kemudian aduk.  Masukkan daging kambing, aduk hingga berubah warna, tuangi air, masak hingga daging kambing empuk dan air tinggal sedikit. Masukkan santan kental, garam dan penyedap. Selanjutnya aduk-aduk supaya santan tidak pecah, hingga mendidih. Masukkan kentang yang sudah ditumbuk halus, masak hingga mendidih dan kental.
 Cara Menyajikan

Potong-potong martabak menjadi 6 bagian, letakkan di atas piring datar.  Siram dengan kari kambing. Hidangkan dengan pelengkapnya. Santap selagi hangat.

Resepku ini pernah di muat di majalah


Selasa, 08 Juli 2014

Meraih Manfaat Silaturrahmi Bersama Komunitas yang Positif

Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis

Senang punya  banyak teman adalah sesuatu yang wajar sesuai kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Akupun demikian. Sebagai muslimah aku percaya manfaat bersilaturrahmi.

Sejalan dengan kegiatanku sebagai ibu rumah tangga, aku selalu menyempatkan diri untuk bergabung dalam berbagai komunitas, baik komunitas online maupun offline. Mulai dari pengajian, persatuan wali murid, komunitas menulis, komunitas blogger,komunitas travelling, komunitas motor,komunitas lingkungan RT, dan lain-lain.

Pengalamanku bergabung dengan berbagai komunitas telah memberiku beberapa pelajaran berharga. Salah satunya, aku sekarang harus pandai-pandai memilih komunitas mana yang memberi  manfaat positif. Sebab bila salah pilih, akibatnya akan merugikan diri sendiri.

Suatu ketika, aku pernah bergabung di sebuah komunitas ibu-ibu rumah tangga. Mulanya sangat mengasyikkan berinteraksi dengan mereka. Kami sering jalan bersama, bertukar cerita tentang keluarga, anak dan keseharian. Ada kalanya kami  berbagi resep masakan dan saling mengajari keterampilan yang kami bisa. Tapi setelah lebih jauh aku mulai merasa tidak nyaman.

Kesenangan para ibu itu membicarakan keburukan orang menjadi pangkal timbulnya konflik. Di tambah lagi sebagian ibu-ibu yang lain sering menyampaikan gosip dan pergunjingan kepada orang yang bersangkutan. Akibatnya bisa ditebak, si penggosip dan orang yang digosipkan akhirnya bertengkar. Parahnya mereka terlibat perkelahian sampai beradegan gulat di tengah lapangan. Astagfirullah....

Kaget, heran dan kecewa sekali rasanya melihat prilaku para ibu yang semestinya menjadi contoh bagi anak-anaknya. Setelah itu, selesaikah masalahnya? Tidak. Pihak yang berseteru lalu masing-masing mencari dukungan dari teman-teman lain. Caranya mereka mendekati ibu-ibu lain lalu mulai menularkan “ virus” negatif menjelek-jelekkan lawannya dengan harapan memperoleh dukungan dalam berseteru.  Aku jadi ingat jurus-jurus partai politik yang menggunakan berbagai trik  untuk meraih kemenangan, hanya saja yang ada dihadapanku saat itu dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga. Mereka saling mencela, mengejek, memfitnah dan mempersulit lawannya. Tak ada lagi nikmat persahabatan. Komunitas itu akhirnya malah terpecah-pecah.

Melihat gelagat buruk itu, aku segera mengundurkan diri . Aku tak lagi menghadiri acara kumpul-kumpul, atau apapun yang memungkinkan aku berinteraksi lebih lama dengan mereka. Dikelilingi “virus-virus negatif” seperti itu sungguh membuatku tak nyaman.

Lalu aku pindah ke Bogor. Di kota ini aku menemukan banyak hal yang lebih baik. Orang-orang di Bogor lebih ramah, lebih santun dan  menyenangkan. Aku segera bergabung dalam bermacam-macam komunitas. Mulai dari komunitas wali murid di sekolah anak-anakku, pengajian di Masjid Raya Bogor, pengajian di sekitar rumah, dan perkumpulan warga clusterku.

Komunitas wali murid menjadi wadah saling berbagi informasi seputar kegiatan sekolah anak-anak. Saling memberi tahu bila ada PR, tugas atau kegiatan diluar sekolah dilakukan melalui BB group, atau saat berkumpul untuk arisan. Dalam  mengisi liburan pun komunitas ini sangat kreatif mengadakan acara jalan-jalan bersama atau mengajak anak-anak mengikuti pesantren kilat,   kursus kerajinan tangan sesuai minat anak dan kegiatan lain untuk mengasah keterampilan anak.

Pengajian baik di masjid  maupun di lingkungan rumah juga membangkitkan energi positif.  Bersama-sama belajar ilmu agama dan saling menasehati dalam kebaikan membuat aku merasa memiliki keluarga baru.  Selain itu  komunitas ini sering mengadakan kegiatan amal untuk menebar kepedulian kepada kaum dhuafa.
 Aku juga ikut bergabung dalam komunitas warga clusterku. Tetangga adalah saudara terdekat. Dalam keadaan darurat, bila aku membutuhkan pertolongan sesegera mungkin, maka orang yang paling mungkin kumintai bantuan adalah tetangga, bukan saudara-saudaraku yang tinggal nun jauh di pulau Sumatera sana. Karna itu sangat penting menjalin hubungan yang baik dan harmonis dengan tetangga. 

Warga di lingkungan clusterku datang dari berbagai latar belakang suku, ras dan agama. Tapi menjalin kebersamaan dengan mereka tetap menyenangkan.  Kami tidak membicarakan perbedaan tapi berangkat dari kesadaran bahwa kami tinggal di lingkungan yang sama, maka timbullah rasa kebersamaan. Aku senang  bisa hidup  rukun  dengan tetangga meskipun memiliki   latar belakang berbeda.

Di lingkungan cluster setiap bulan  diadakan arisan untuk ibu-ibu. Kami juga sekali-sekali  mengadakan jalan-jalan bersama, perlombaan, atau kumpul-kumpul makan bersama bila ada kesempatan khusus, misalnya berakhirnya periode arisan, merayakan hari kemerdekaan , atau menyambut tahun baru. Berbagi informasi seputar lingkungan taman dan rumah tempat tinggal kami pun aktif dilakukan melaui BB group  dengan tujuan saling menjaga dan memelihara kenyamanan lingkungan cluster kami.

Karena hobi jalan-jalan naik motor, eh..dibonceng motor, maka aku dan suamiku bergabung dalam komunitas motor besar. Di Bogor, komunitas ini sangat aktif. Anggotanya banyak dan seringkali mengadakan acara touring bersama.


Suamiku yang hobi motor merasakan banyak sekali manfaat bergabung dalam komunitas  ini. Sesama anggota komunitas sering sharing  seputar perawatan motor, info tentang suku cadang,  info lokasi touring dan lain-lain.

 Di komunitas ini aku juga punya beberapa teman. Mereka  istri-istri yang sering diajak suaminya ikut touring seperti diriku.  Kami sering janjian ikut touring bila ada event yang diselenggarakan komunitas motor. Aku merasa lebih nyaman bila  dalam rombongan touring ada sesama wanita yang ikut.

Selain komunitas off-line, aku juga bergabung dalam komunitas on-line yang sesuai dengan minatku. Karena  suka menulis dan nge-blog maka aku bergabung dalam komunitas penulis dan blogger. Jelas sekali manfaatnya karena anggota komunitas  tersebut sering membagikan ilmu, tips dan kiat-kiat jitu untuk meningkatkan kemampuan menulis atau meningkatkan performa blog.  Dari komunitas itu pun seringkali aku memperoleh info lomba atau peluang menguji kemampuan  menulis dan nge-blog. Sesekali hadir dalam acara kopdar pun makin mempererat kedekatan dengan anggota komunitas.

Aku juga suka travelling, maka bergabung dalam komunitas traveler menjadi sangat menyenangkan.  Aku bisa memperoleh info dan tips bagaimana melakukan traveling yang asyik, aman dan hemat.  Sekaligus juga aku bisa membagi pengetahuanku selama melakukan traveling kepada sesama teman di komunitas itu.

Bergabung dalam komunitas  yang positif, yang membangkitkan semangat dan energi positif menurutku  sama dengan mereguk manfaat silaturrahmi. Aku merasakan sendiri manfaat silaturrahmi sebagaimana yang terdapat dalam hadits :

 “Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia bersilaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Banyak teman, banyak saudara, membuat hidup lebih menyenangkan dan hidup yang menyenangkan membuat sehat jasmani dan rohani. Dengan silaturrahmi pintu rezeki terbuka, wawasan dan ilmu makin bertambah, kemampuan meningkat, solusi berbagai masalah pun didapat.

What a happy life!









Senin, 07 Juli 2014

Oleh-oleh dari Bogor : Talas Roll

Talas Roll Bluberry

Satu lagi kreasi makanan   yang bisa dijadikan cemilan dan oleh-oleh dari Bogor  adalah talas roll.  Talas roll sebenarnya seperti bolu gulung tapi bahan dasarnya dari  tepung talas.

Talas Roll bisa dibeli di “Rumah Talas”  produksi Gurih 7 yang berada di Jl. Padjajaran.  Outletnya yang  terletak di arah warung jambu terbakar beberapa minggu yang lalu, tapi  telah dibuka outlet yang baru di Jl. Padjajaran no. 3C dekat Sukasari 2 sebelum  mall Ekalokasari .

Di Rumah Talas, bukan hanya talas roll yang dijual, tapi juga tersedia varian lain seperti muffin talas, talas cake, brownies talas , mollen talas, dan donat talas. Selain itu di toko ini tersedia cemilan lain lain seperti banana cake, mollen banana, pie banana, cup cake, dan aneka snack.


Talas Roll tersedia dalam beberapa varian rasa yaitu mocca, coklat, greentea, orange, tiramizu, cream chese, bluberry dan strawberry.  Harganyapun bervariasi mulai dari Rp. 29.000 hingga Rp. 45.000,-


Bagi yang penasaran mencoba berbagai kreasi makanan berbahan talas Bogor, langsung saja meluncur ke Rumah Talas ya..

Minggu, 06 Juli 2014

Balada Penerimaan Peserta Didik 2014


“Dea pengen sekolah di SMP 1 Bogor, Ma!” Ucap anak keduaku  dengan riang usai pengumuman kelulusan SD dan pembagian NEM. Dea memperoleh nilai NEM 28,35.

“Ya, mudah-mudahan diterima.  Dea harus siap dengan segala kemungkinan ya. Sekolah itu kan  favourite, Nak. Semua anak-anak yang berprestasi dan terpandai di Bogor rata-rata ingin masuk ke sekolah itu. Jadi saingan Dea banyak lho. “ Sahutku tanpa bermaksud memadamkan semangatnya.

“Dea yakin bisa. Kita coba ya, Ma!” Dea tampak begitu mantap dengan pilihannya, sehingga hari itu juga aku langsung mengisi formulir pilihan sekolah. Pilihan pertama SMP 1, pilihan kedua SMP 3 dan pilihan ketiga SMP 7.

Formulir itu langsung dikumpulkan ke wali kelas Dea, karena pendaftaran dikoordinir secara kolektif dari sekolah Dea.

Beberapa hari kemudian, aku mendapat sms dari guru Dea yang memberitahukan nomor pendaftaran dan password untuk melihat proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) secara online.

Sejak hari itu, Dea betah berlama-lama memantau proses PPDB SMP 1. Hatinya riang ketika namanya sudah masuk dalam daftar “Diterima Sementara” di sekolah itu.  Dalam sehari, dia bisa login berkali-kali di website PPDB Online. Tiap kali membuka website itu dia selalu melaporkan perkembangannya.

“Ma, Dea tadinya di urutan 84, sekarangn turun di urutan 94 dari jumlah quota 256. Masih aman, Ma.. Tenaaang...!” Seru Dea.

Aku hanya terseyum-senyum saja melihat tingkahnya.

Keesokan harinya dia menunjukkan layar laptop yang tengah menampilan daftar dengan formasi yang  telah berubah.

“Waduh, Ma. Saingan Dea berat banget. Coba lihat. Ini ada yang jumlah nilainya sampai 41-an!”  Teriaknya.
Aku kaget, kok bisa sampai segitu tinggi nilainya?  Bukankah hanya 3 mata pelajaran yang diujikan di ujian nasional. Kalau semua soal dapat dijawab dengan benar, berarti nilai maksimal yang dapat dicapai adalah 30, atau masing-masing bernilai 10 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika dan IPA.

Ternyata pendaftar dengan nilai total 41-an itu selain NEM-nya tinggi, yaitu 29-an, ditambah dengan nilai prestasi yang mencapai belasan sehingga totalnya mencapai 41-an.

Jumlah pendaftar yang memiliki prestasi ternyata sangat banyak. Meskipun ada yang NEM-nya 26-an tapi  karena memiliki nilai prestasi maka  sukses mendongkrak rangking total perolehan nilai.

Posisi Dea makin turun, ke urutan 107 lalu ke 122. Aku melihat wajah Dea mulai cemas, apalagi dia melihat  beberapa teman  sekolahnya mulai tersingkir dari daftar.

Hari berlalu, masa pendaftaran mendekati penutupan. Drama yang berlangsung makin seru dan mendebarkan. Dea tampak cemas melihat posisinya makin melorot.

“Katanya sudah penutupan, tapi kok masih berubah terus posisinya? Dea sudah di urutan 144 nih, Ma. Gimana dong...” Ujarnya cemas. Mau tak mau kecemasannya pun mempengaruhi aku. Sebagai Ibu aku bisa merasakan kepanikannya.

“Dea, sabar saja. Kalau memang sekolah itu rezeki Dea, pasti Dea bisa masuk.” Aku berusaha setenang mungkin mengucapkannya, padahal cemasku pun memuncak.

Sebenarnya bagiku tak masalah kalau Dea tak sekolah di SMP 1, karena sebenarnya aku lebih suka Dea sekolah di SMP swasta Islam. Tapi melihat tekad dan keinginannya yang besar, aku jadi tak tega dan ikut terbawa perasaan galau Dea.

Pagi  itu Dea lagi-lagi menghampiriku dengan laporan terbarunya.

“ Ma, coba lihat. Ada kabar buruk. Beredar berita ada orang yang membeli jalur prestasi supaya bisa masuk sekolah pilihannya. Gawat, Ma! Yang jujur bisa tersingkir dong kalau begitu. “ Kata Dea berapi-api.

“Ya, biar saja kalau ada orang yang menempuh jalur itu, Nak. Tidak akan berkah buat dia. “ Kataku menenangkan.

“Tapi kan gak adil, Ma. Aduh, Dea menyesal. Kenapalah dulu tidak mau ikut macam-macam lomba. Jadi Dea nggak ada nilai prestasinya, hanya mengandalkan NEM saja. “ Wajah Dea tampak tegang.

“ Kita lihat saja prosesnya, sambil berdoa ya, Nak. Kalau tidak masuk juga kan bisa ke sekolah pilihan kedua. “

“Tapi Dea mau sekolah di SMP 1. Bagaimana supaya masuk, Ma?” Bibir Dea mengerucut, tampangnya terlihat rusuh.

“Satu-satunya yang bisa dilakukan cuma berdoa. Yang rajin ya shalat tahajjudnya, dan ditambah shalat dhuha. Telpon Nenek dan Kakek, minta bantu di doakan. “ Usulku.

“ Iya, Ma.” Dea pun beranjak ke kamar mandi untuk wudhu dan shalat dhuha.
---------------------

Sore itu , setelah berbelanja kebutuhan untuk buka puasa, aku melangkah masuk ke rumah. Di sofa ruang keluarga aku melihat Dea terduduk lemas, wajahnya pucat.

“Dea sakit?” Tanyaku sambil memegang dahinya. Tidak terasa panas.

“Mama, posisi Dea makin melorot. Sekarang di urutan 232. Dea takut tersingkir, Ma. “ Suara Dea terdengar lirih.

Hatiku  ikut sedih melihat kecemasan Dea.

“Sabarlah, Nak.  Memang yang berminat  menjadi siswa sekolah itu adalah mereka yang terbaik dan berprestasi. Dea harus siap terima kalau kalah bersaing, tapi juga sebelum ada keputusan akhir harus tetap yakin. Kalau itu rezeki Dea, tak akan ada yang bisa menghalangi. “ Aku berkata perlahan, mencoba menentramkan hatinya.

Selama  dua hari, posisi Dea berubah-ubah. Kadang naik menjadi 230, lalu turun kembali ke 232.  Puncak ketegangan terjadi dua hari sebelum pengumuman akhir.

“ Ya Allah, Ma...posisi Dea melorot lagi ke 244. Kawan-kawan Dea makin banyak yang tersingkir. Dea mesti bagaimana? “ Dea makin uring-uringan.

Kali ini aku tak bicara apa-apa, hanya membelai rambutnya sambil menyembunyikan kecemasanku yang  kian membuncah.

Dua hari kemudian, tanggal 5 Juli,  website itu  tak dapat diakses. Dea panik. Berkali-kali dia mencoba tapi tak bisa.

“ Harusnya jam 14 sudah ada hasil akhirnya, Ma. Dea pengen tahu hasilnya.”

“Mungkin masih di update, Nak. Nanti malam saja kita lihat lagi. Sekarang kita bikin makanan untuk buka puasa, yuk!” Ujarku. Aku pikir, kalau Dea punya kesibukan, pikirannya bisa beralih sehingga tak terus menerus merasa cemas.

Malam itu, usai  shalat tarawih, Dea langsung membuka website PPDB online. 

“Mama, sudah ada pengumumannya. Dea berhasil! Dea sekarang murid SMP 1! Horeee! Alhamdulillah...” Serunya. Wajah Dea berseri-seri. Sirnalah sudah semua ketegangan yang berhari-hari membuatnya galau.

“Syukurlah, Dea. Ingat ya, Dea harus rajin belajar. Kalau perlu lebih rajin dari teman-teman Dea. Dea tahu kan, teman-teman Dea di sekolah itu anak-anak unggulan. Kalau Dea malas belajar, Dea pasti ketinggalan jauh dari mereka.  Mama mendukung dan mendoakan, mudah-mudahan ini sekolah yang terbaik buat Dea. Dan semoga sukses ya, Nak..” Hatiku pun lega bukan kepalang.


Senangnya melihat anakku berhasil  mencapai keinginanya. Alhamdulillah..

Sabtu, 05 Juli 2014

Oleh-oleh dari Bogor : Lapis Talas Bogor

Pagi itu aku terburu-buru meluncur menuju  Jl.  Raya Padjajaran no 20E, tepatnya di kompleks ruko Bantar Kemang.  Di depan sebuah ruko berwarna ungu yang masih tutup, banyak  orang berkerumun.  Aku lalu bergabung dengan kerumunan itu, menanti jam menunjukkan pukul 7 pagi, saat toko itu buka.

Lokasi Toko Lapis Talas Bogor Sangkuriang


Begitu toko buka, kerumunan orang segera meringsek masuk toko, membentuk barisan antri.   Aku tak ketinggalan ikut antri juga.  Seorang Ibu berbaju merah yang berdiri di depanku tampak gelisah, berulangkali dia melihat jam tangannya. 

“ Aduh, keterlaluan. Masak mau beli kue saja antrinya seperti ini.  Belinya dibatasi pula, cuma boleh beli 4 buah. Aku ini mau berangkat ke Medan, kalo antrinya panjang begini takut ketinggalan pesawat. “ Si Ibu curhat .

“Kalau mau beli lebih banyak, harus bawa teman untuk membantu antri-nya, Bu. Ini saya bawa teman dua orang, soalnya mau beli 12 kue.” Kata gadis berbaju biru.

“Harusnya produksi kuenya ditambah dong, kan pelanggan jadi susah kalau antri berjubel seperti ini.” Sahut seorang pria menanggapi curhatan Ibu berbaju merah.

Aku tersenyum-senyum mendengar obrolan  mereka. Biar  pun sibuk mengomel, nyatanya mereka tetap saja tak beranjak pergi dari antrian.

Sebegitu fenomenalnya lapis talas Bogor ini, tampaknya berapapun produksinya, selalu habis diborong orang.

 Tak heran, memang rasa kue ini enak. Kalau menurut pendapatku, rasanya pas. Tekstur kue-nya lembut, tidak terlalu manis.Dan uniknya, tentu saja karena bahan bakunya dari talas Bogor, sehingga cocok sekali buat oleh-oleh.
Lapis Talas Bogor  Original

Lapis Talas Bogor Green Tea


Lapis Talas Bogor yang aku maksud adalah Lapis Talas Bogor Sangkuriang. Pemiliknya, Rizka Romadhona memulai usahanya dari bisnis rumahan bermodal Rp. 500.000,- . Ternyata bisnis rumahan itu kini menuai sukses luar biasa.

Lapis Talas Bogor Sangkuariang disajikan dalam berbagai rasa. Ada  yang original, berwarna ungu dengan toping keju. Ada yang hijau, beraroma green tea. Ada yang coklat, tiramisu, dan ada juga brownies talas original dan keju. Dari semua rasa itu, favourit-ku adalah yang original dan green tea.

 Salah satu hal yang menyebabkan kue ini laku keras adalah harganya yang  terjangkau,  antara Rp. 25.000-Rp. 28.000,-

Akhir-akhir ini banyak produk lapis Bogor merk lain yang beredar, namun sudah beberapa macam merk aku coba, tetap saja yang terasa pas nikmatnya adalah yang merk Sangkuriang.

Teman-teman yang berlibur atau jalan-jalan ke Bogor, jangan lupa beli kue ini untuk oleh-oleh ya..


Jumat, 04 Juli 2014

Info Tempat Makan di Bogor : Padjajaran Tom Yum


Menyandang peran sebagai kota wisata, Bogor didukung   keragaman kulinernya. Sangat banyak tempat makan yang tersebar di Bogor, dari kelas emperan, warung tenda hingga rumah makan yang besar.

Banyak rumah makan yang menawarkan menu Sunda, tapi bila ingin rasa yang berbeda misalnya menu masakan Thailand yang menggoda, rumah makan Padjajaran Tomyam bisa menjadi salah satu alternatif. Aku dan keluarga menikmati makan malam di resto ini   beberapa waktu yang lalu.

Suasana cozy langsung menyambut ketika kami memasuki ruangan resto yang terletak  di Jl. Pajajaran Indah Raya No. 9, Bogor, dekat perumahan Villa Duta.  Kami disambut pelayan yang tersenyum dan menanyakan ada berapa orang yang akan makan. Kemudian aku memilih tempat duduk yang nyaman di sudut ruangan.

Makanan yang tertera di daftar menu ditulis menggunakan bahasa Inggris. Misalnya  deep fried enoki, deep fried spring roll with salty egg, smoked chicken mayonaise, dll.


 Ada cukup banyak pilihan makanan di daftar menu. Malam itu kami memilih  deep fried enoki (jamur enoki goreng tepung), wrap chicken in pandan leaves (ayam goreng daun pandan), deep-fried duck with oyster sauce (bebek goreng saus tiram), tom yum talay ( tom yum seafood), deep-fried fish ( Ikan gurame goreng garing), dan pineapple fried rice ( nasi goreng nanas). Untuk minuman kami memilih jus melon, air mineral, dan  teh panas.

Deep-fried Enoki
Tak terlalu lama, pesanan pun datang. Mula-mula deep fried enoki atau jamur goreng tepung. Rasanya lumayan enak, garing dan renyah. Lebih enak bila jamur ini dimakan dengan cocolan sambel yang rasanya asam pedas.
Tom Yum Talay

Lalu tom yum talay, atau tom yum seafood. Berbeda dengan tom yum yang aku nikmati di Thailand, tom yum talay ini rasanya mirip kari. Sepertinya ditambahkan santan ke dalam kuahnya hingga terasa berlemak. Isinya ada cumi, potongan daging ikan, kerang hijau, dan udang. Bumbu-bumbunya diiris tipis, sehingga harus hati-hati saat memakannya, kalau tidak bisa tergigit lengkuas atau jahe.  Kalau dibandingkan, aku lebih suka tom yum yang aku nikmati di Thailand. Terasa lebih segar, tanpa lemak dari santan.

Wrap Chicken Pandan Leaves

Wrap chicken pandan leaves atau ayam goreng bungkus daun  pandannya enak. Daging ayamnya lembut, berpadu bumbu dan aroma pandan yang wangi, sukses membangkitkan selera.

Deep-fried Fish

Deep-fried fish yang kami pilih adalah ikan gurame. Menu ini terasa standard saja. Sama seperti ikan goreng garing yang sering dijumpai pada rumah makan masakan Sunda.

Pineapple Fried Rice

Pineapple fried rice (nasi goreng  nanas) sesuai namanya,  nasi goreng disajikan unik dalam buah nanas yang dijadikan wadah. Warna nasinya kuning, bertabur potongan nanas dengan toping biji jambu mete goreng. Pelengkapnya adalah 2 potong udang goreng berbalut tepung. Rasa nasinya kurang spicy, yang menonjol adalah rasa nanasnya.

Deep-fried duck with Oyster Sauce

Yang paling enak dalam menu pilihan kami malam itu adalah deep-fried duck with oyster sauce atau bebek goreng saus tiram.  Bebek goreng itu di sajikan dengan jamur dan irisan kailan. Rasanya gurih, daging bebeknya lembut dan bumbunya pas.
Dessert


Menu-menu pilihan itu membuat kami kekenyangan. Setelah beberapa saat, ketika meja selesai dibersihkan oleh pelayan, dessert pun disajikan dalam mangkuk kecil berwarna putih. Kuahnya dari santan, terasa manis dan segar  dengan potongan es batu. Yang istimewa dari dessert itu adalah isinya. Bentuknya seperti sagu mutiara berwarna merah, tapi rasanya  tak sama. Butiran merah itu renyah, cita rasanya seperti pepaya tapi terasa "kres-kres" unik.

Bagaimana dengan harga?  Aku yang datang bersama suami dan tiga anakku membayar sekitar lima ratus ribuan untuk menu makanan dan minuman yang kami pesan.


Secara keseluruhan, resto ini nyaman. Pelayanannya pun cukup baik.  Mungkin kami akan datang ke sini lagi ke sini di lain waktu, untuk mencoba menu-menu lainnya.

Kamis, 03 Juli 2014

Menjadi Ibu Rumah Tangga, Why Not?


Menjadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja  pada awalnya bukanlah hal yang membanggakan bagiku. Terlebih lagi bila bertemu orang-orang  yang masih memandang rendah profesi ibu rumah tangga. Beberapa orang yang kutemui mengganggap ibu rumah tangga adalah orang-orang yang kurang wawasan, tak tahu perkembangan teknologi, tidak produktif, suka ngerumpi, kerjanya hanya menghambur-hamburkan uang suami, dan sederet pendapat negatif lainnya.

 Beberapa tahun yang lalu saat aku masih ikut kursus bahasa Inggris, seorang teman bertanya dengan heran waktu aku bilang kalau aku adalah ibu rumah tangga. “ Lho, ibu rumah tangga kok disini? Apa pentingnya belajar bahasa Inggris buat ibu rumah tangga?” Astaga...pertanyaannya kok sadis begitu.

Di lain waktu aku bertemu dengan salah seorang kawan kuliahku. Dengan sifatnya yang ceplas-ceplos dia berkata. “ Maaf ya, aku dulu mengenal kamu itu orang yang berpotensi, banyak bisanya. Tapi aku kaget lho kalau ternyata sekarang kamu hanya jadi ibu rumah tangga, jauh dari apa yang aku bayangkan. “  Jleeb!!. Kebayang kan tertohoknya perasaanku?

Menjadi ibu rumah tangga adalah suatu pilihan. Meskipun bukan pilihan yang populer. Kalau anak-anak kecil ditanya mau jadi apa mereka kelak kalau dewasa, jawabannya beragam. Dari jadi dokter, arsitek, artis, pramugari, pilot, dan berbagai profesi lainnya. Sangat jarang ada anak yang menjawab ingin jadi ibu rumah tangga. Padahal tidak dapat disangkal, ibu rumah tangga adalah profesi yang mulia. Seorang ibu rumah tangga bertanggung jawab mengurusi suami dan anak-anaknya. Memberikan dukungan terhadap karier suami, mengurus keperluannya, memberikan rasa nyaman dan mendoakan suami adalah hal-hal yang dilakukan ibu rumah tangga dalam perannya sebagai istri.

Sebagai ibu , dia harus mendampingi anak-anak dalam proses pertumbuhan,perkembangan dan pendidikan akhlak. Profesi  Ibu rumah tangga itu multitasking. Dia dituntut untuk mampu menjadi manager keuangan dalam keluarganya, menjadi guru privat yang mendampingi anak-anaknya belajar, menjadi koki keluarga, konsultan tempat curhat bagi suami dan anak-anak, dan bahkan jadi sopir pribadi yang wara-wiri mengantar jemput anak-anak sekolah dan les.

Pergaulanku dengan beragam komunitas  dan pertemuan dengan teman-teman lamaku membuatku kini merasa bersyukur menjadi ibu rumah tangga. Beberapa temanku yang berprofesi sebagai wanita karier mengeluh karena mereka merasa memiliki beban ganda, sudah bekerja tapi harus juga melaksanakan kewajiban sebagai istri dan ibu. Kadangkala mereka iri karena melihat aku bisa punya “me time” yang lebih banyak. Bisa ke salon, jalan-jalan, santai sambil baca buku, nge-gym, main musik,dll.  Padahal dulu aku yang merasa iri pada teman-teman yang berkarier. Sebenarnya harus disadari kalau semua pilihan itu ada konsekwensinya.

Sekarang ini tinggal menjalani saja apapun yang menjadi pilihan kita dengan sebaik-baiknya. Kalau memilih menjadi ibu rumah tangga pun bukan berarti tak ada hal lain yang dapat dilakukan. Ibu rumah tangga memiliki waktu yang lebih fleksible dibanding wanita yang bekerja. Banyak kesempatan menggali potensi diri untuk menjadikan diri lebih berkualitas. Setiap orang pasti punya potensi yang dapat dikembangkan.Misalnya dengan menekuni hobi memasak, membuat kerajinan tangan, melukis, menyanyi, main musik, menulis, dan lain-lain. Selain itu ibu rumah tangga pun bisa menambah pengetahuan dengan banyak membaca, bergabung dalam komunitas tertentu sesuai minatnya, misalnya komunitas memasak, komunitas menulis, majelis taklim atau pengajian, dll.

Aku sendiri merasa bersyukur. Justru pada saat menjadi ibu rumah tangga inilah aku punya waktu untuk mengembangkan hobby bermain musik. Seminggu sekali aku ikut les piano di sebuah studio musik. Bukan piano klasik, tapi aku ambil kelas hobby yang “fun”. Artinya aku bisa minta belajar musik apapun yang aku mau, bisa pop, jazz, bahkan dangdut. Tujuannnya memang untuk kesenangan pribadi saja. Aku main piano dirumah buat suami dan anak-anakku. Sekali-sekali bila berkumpul dengan teman-teman aku juga bisa mengiringi mereka menyanyi.

Selain itu aku ikut komunitas pengajian yang anggotanya ibu-ibu rumah tangga dengan keistimewaan masing-masing. Ada yang pebisnis, ada yang penulis dan penyair, ada yang pandai berorganisasi, ada yang luas pengetahuannya, ada yang fashion stylist, ada yang sudah menjalani kehidupan yang berliku sehingga banyak memberikan nasehat-nasehat berdasarkan pengalaman hidupnya. Sungguh menarik bisa menjalin silaturrahmi dengan mereka, bisa menambah saudara, dan  menambah ilmu pengetahuan. Selain mengadakan pengajian, komunitas inipun kerap kali mengadakan kegiatan sosial bagi masyarakat di lingkungan sekitar.

Sejak berkenalan dengan salah seorang ibu rumah tangga yang hobby menulis di komunitas pengajian, aku kembali menekuni dunia tulis menulis yang sempat bertahun-tahun vakum. Dengan menulis, aku bisa menyampaikan apa yang ada dalam fikiranku dan membaginya melalui media sosial, blog maupun media cetak.

Singkat kata, banyak hal postitif yang bisa dilakukan seorang ibu rumah tangga selain rutinitas mengurus suami dan anak-anak. Hal-hal positif inilah yang bisa menepis anggapan orang-orang yang menganggap rendah   profesi ibu rumah.


Menjadi ibu rumah tangga meskipun pada awalnya karena permintaan suami, tapi kini aku jalani dengan ikhlas dan rasa syukur. Sekarang tinggal berusaha menjadi ibu rumah tangga yang lebih berkualitas, supaya lebih banyak  manfaat yang bisa  aku berikan kepada orang-orang terdekatku dan masyarakat yang lebih luas.

Rabu, 02 Juli 2014

Cara Membuat Passport Anak via Online


Dulu waktu pertama bikin passport  sendiri, rasanya repot banget. Kudu datang pagi-pagi, ambil nomor  antrian, ambil formulir, menyerahkan formulir, antri lagi untuk foto dan interview, lalu datang lagi untuk ambil passport. Total 3 kali wara-wiri.
Tapi sekarang sudah makin mudah. Seperti tempo hari waktu aku mengurus pembuatan passport untuk anak-anak secara on-line. Lebih simple dan cepat, hanya butuh dua kali datang ke kantor imigrasi. Sekali bersama anak-anak dan sekali lagi sendiri, untuk ambil passport yang sudah selesai.
Untuk mengurus passport anak secara on-line yang perlu kita lakukan adalah menyiapkan dokumen-dokumen sebagai berikut :
  1. 1.       Siapkan dokumen-dokumen berikut ini. Scan lalu resize ukurannya menjadi 200 atau 300 KB, karena file yang nanti di upload tak boleh lebih dari 1000KB. Simpan file dalam format JPEG.

a.       Kartu Keluarga
b.      Akta Kelahiran Anak
c.       KTP Ayah dan Ibu
d.      Passport lama anak ( Kalau ada)
e.   Passpot Ayah dan Ibu
  1. 2.       Ukur tinggi badan anak dalam cm.

Langkah selanjutnya adalah masuk ke website imigrasi di  http://ipass.imigrasi.go.id:8080/xpasinet/faces/InetMenu.jsp  Langkah selanjutnya sebagai berikut :
  • 1.       Pilih  “ Pra Permohonan Proposal”
  • 2.       Pilih jenis permohonan, apakah untuk membuat pasport baru, pasport penggantian, perubahan dan sebagainya.
  • 3.       Isi nomor passport lama, tapi bagian ini jangan diisi bila belum pernah punya passport sebelumnya.
  • 4.       Pilih jenis passport, yang 48 H atau 48 halaman.
  • 5.       Tak perlu mengisi “ No rekomendasi Depnaker” karena ini untuk TKI
  • 6.       Selanjutnya isilah data-data yang diminta, misalnya nama lengkap, jenis kelamin, tanggal lahir, tempat lahir, dll
  • 7.     Jangan sampai salah menulis alamat e-mail, karena  pihak imigrasi akan mengirimkan konfirmasi ke email. Jika anda mengurus passport anak lebih dari seorang, maka alamat email anak masing-masing harus berbeda. Misalnya aku  mengurus passport untuk anakku Anin, Dea dan Rafif. Maka alamat emailnya adalah alamat email Anin, Dea dan Rafif. Tidak boleh sama.  Kesimpulannya satu alamat email untuk satu pemohon passport.
  • 8.       Untuk nomor identitas anak, masukan Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang terdapat pada kartu keluarga
  • 9.       Untuk “tempat ID dikeluarkan “ isikan  di kota mana kartu keluarga anda diterbitkan
  • 10.   Untuk “tanggal ID dikeluarkan” isi dengan tanggal kartu keluarga dikeluarkan
  • 11.   Untuk “ ID berlaku sampai dengan” isi dengan tanggal kartu keluarga anda dikeluarkan, tapi tahunnya tambah 5 tahun.

Setelah semua di isi dengan benar, klik lanjut.

Selanjutnya upload file dokumen kartu keluarga, akta kelahiran dll sesuai poin yang diminta. Satu orang anak minimal upload 3 dokumen, jika kurang dari itu proses tidak dapat berlanjut.

Lanjutkan proses sampai  memilih tanggal diadakannya pemotretan dan wawancara hingga notifikasi dikirim ke email anda.

Tahap selanjutnya buka email pemohon passport, lalu download PDF dan print untuk melakukan pembayaran ke Bank BNI.

Print itu berupa surat dari Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Direktorat Jendral Imigrasi. Judul suratnya : Tanda Terima Pra Permohonan.  Disitu tertera biaya pengurusan passport totalnya Rp. 255.000,-
Bawa surat itu ke bank BNI dan lakukan pembayaran di teller bank. Ada biaya tambahan untuk administrasi sebesar Rp. 5000,-

Selanjutnya siapkan dokumen-dokumen asli dan kelengkapannya yang akan dibawa ke kantor imigrasi sesuai tanggal yang ditetapkan. Dokumen-dokumennya sebagai berikut :
1.       Kartu Keluarga
2.       Akta Kelahiran anak
3.       KTP Ayah dan Ibu
4.       Surat Nikah
5.       Passport Ayah dan Ibu
6.       Materai 6000 sebanyak jumlah anak yang mengurus passport
7.       Kwitansi bukti pembayaran dari bank BNI
8.       Pena warna hitam
9.       Foto copy point 1-5 masing-masing satu untuk tiap anak.

Di hari yang sudah ditetapkan, orangtua datang bersama anak-anak ke kantor imigrasi . Beberapa peraturan dan larangan yang berlaku di kantor imigrasi adalah harus berpakaian rapi dan sopan, tidak boleh memakai pakaian minim, tidak boleh memakai sendal, tidak boleh merokok,  dan tidak boleh memotret.

Tiba disana langsung menuju bagian informasi.  Isi formulir “Persetujuan Orang tua “ dengan pena warna hitam, yang kemudian dibubuhi materai dan ditanda tangani Ayah dan Ibu pemohon passport. Petugas imigrasi akan memeriksa  foto copy kelengkapan persyaratan,kwitansi  bank BNI dan mengelompokkannya dalam map berwarna kuning. Tulis nama dan alamat lengkap pada map tersebut. Petugas imigrasi akan meminta pemohon menyimpan dokumen-dokumen asli untuk ditunjukkan pada saat wawancara.

Kemudian map-map kuning berisi fotocopy dokumen diserahkan ke loket. Pemohon menunggu namanya di panggil.

Setelah dipanggil, petugas imigrasi  menyerahkan surat untuk pengambilan pasport dan meminta pemohon  mengambil nomor antrian untuk berfoto dan wawancara.

Proses selanjutnya adalah  pemotretan untuk passport. Pemohon diharapkan memakai pakaian sopan, tidak berwarna putih,  tidak memakai kaos oblong  atau baju  yang terbuka.

Setelah wawancara dan verifikasi data dengan dokumen asli, selesailah sudah.  Tinggal datang sekali lagi di tanggal yang tertulis pada surat pengambilan passport untuk mengambil passport yang telah selesai.
Semoga bermanfaat...






Selasa, 01 Juli 2014

PERJALANAN MENUJU EROPA






Tibalah hari yang aku tunggu-tunggu. Hari Selasa 5 April 2011, aku diantar suami dan anak-anak ke bandara Soekarno-Hatta. Sepanjang perjalanan tak lepas dari bersyukur dan berdoa semoga semuanya lancar. Saat tiba di bandara, sebelum turun dari mobil, aku peluk dan cium anak-anak dan suami lalu turun dengan gembira.

Aku dan peserta tour lainnya berkumpul di terminal 2D/E di dekat resto Hoka-hoka Bento jam 16.30.Disana sang tour leader sudah menunggu. Dia memperkenalkan diri, lalu sibuk mengurus bagasi peserta tour, dan membagikan pasport dan visa serta tiket boarding pass pada seluruh peserta tour yang berjumlah 37 orang. Dia memberikan penjelasan singkat dan meminta kami untuk benar-benar menjaga dokumen penting seperti visa-passport dan tiket pesawat karena kalau sampai hilang berarti bencana besar buat yang bersangkutan.

Untuk memudahkan, aku memakai tas pinggang kecil yang bisa memuat uang (mata uang yang dibawa Euro, dan Swiss Franc), dokumen penting, kartu kredit dan camera pocket. Jadi dokumen yang selama perjalanan mesti diperiksa petugas bandara dan imigrasi bisa dengan mudah dikeluarkan dan disimpan kembali tanpa harus “hilang “ dari pengawasanku. Tas itu tidak aku lepaskan selama perjalanan, mengingat aku termasuk orang yang ceroboh dan pelupa.

Setelah semua beres, kami dipimpin sang tour leader menuju gerbang ke berangkatan. Sebelumnya kami melewati pemeriksaan imigrasi. Saat pemeriksaan, dilarang membawa minuman, jadi aku yang suka membawa air mineral harus meneguk habis air itu sebelum masuk pemeriksaan imigrasi.

Kami akan berangkat menuju Roma Italy, tapi akan transit sebanyak 2 kali yaitu di Singapore dan di Istanbul-Turki.Jam keberangkatan kami dengan pesawat Turkish Airlines dengan nomor keberangkatan TK 67 adalah pukul 19.15 WIB. Pesawat yang membawa kami berjenis Air Bus A330-200. Satu hal yang aku lupa adalah aku dan Mariska tak sempat makan malam. Makan siangpun aku tak sempat karena fikiran sudah tidak fokus lagi. Akibatnya kami kelaparan. Di ruang tunggu tidak ada makanan apalagi minuman. Yah, terpaksa deh kami menahan lapar.

Tepat pukul 19.15 WIB kami berangkat. Sejak berangkat, aku dan Mariska sudah menunggu-nunggu kapan para pramugari-pramugara akan membagikan makanan. Perut sudah keroncongan. Beberapa saat kemudian seorang pramugara mendorong kereta berisi minuman dan makanan. Hatiku bersorak. Tapi, yaaaah…. Ternyata kami cuma dapat sepotong roti imut-imut kecil mungil nan mini yang sekali lewat tenggorokan maka selesailah sudah. Hiks..hiks…agak mendingan aku bisa minum teh hangat untuk memenangkan perut yang keroncongan.

Tiba di Singapore jam 21 WIB. Kami transit selama satu jam, di Bandara Changi. Rasa lapar dan haus masih merongrong. Tapi aku duduk saja dengan pasrah selama lebih kurang satu jam. Ketika kembali harus berangkat, saat aku sudah berada di tengah-tengah antrian menuju pesawat, mataku menangkap sebuah tulisan di sudut ruangan. Tulisan itu berbunyi “ Free Drinking Water” lengkap dengan keran air minum dibawah tulisan itu. Hah?? Kenapa gak dari tadi kelihatan tulisan itu? Oalaaah… aku tadi duduk membelakangi keran air itu! Yaaah…. Tidak mungkin lagi berlari untuk minum karena petugas bandara sudah meminta dokumenku dan mempersilahkan masuk pesawat. Huaaaa…. Bukan rezeki namanya…

Saat berada di dalam pesawat yang membawa ke Istanbul-Turki, mataku sudah sulit terpejam. Lapar dan haus. Untuk mengisi waktu aku memilih menonton film dari layar TV mungil yang ada didepanku. Ada banyak pilihan film, setelah memilih-milih aku putuskan menonton “ I Think I Love my Wife”. Bukan hanya film, dari layar kecil itu masing-masing penumpang bisa memilih apakah mau mendengar musik, main game, membaca berbagai info pariwisata di Turki, atau melihat pemandangan di depan pesawat yang sedang terbang. Rupanya di bagian depan pesawat dipasangi camera yang menangkap gambar sehingga setiap penumpang bisa melihat awan, dan pemandangan dari atas. Sayangnya saat itu langit gelap, jadi tak terlihat apa-apa.

Setelah bosan nonton, sementara perutku sudah perih menjerit-jerit, aku memperhatikan sekelilingku. Para penumpang banyak yang tertidur. Termasuk juga Mariska yang terlelap disampingku. Jam di pergelangan tangan Mariska menunjukan pukul 24 WIB, ketika akhirnya aku lihat para pramugara-pramugari mendorong kereta makanan menyusuri lorong-lorong antar penumpang. Aku bangunkan Mariska. “ Bangun..bangun.. Makan!” Bisikku. Mariska kontan bangun. Ha..ha…

Saat makanan dibagikan, rasanya lega sekali. Dengan penuh rasa ingin tau, kami perhatikan menu yang disediakan. Kelihatannya masakan Turki. Makanan ini disediakan oleh Turkish Do &Co Catering Service. Menunya roti dan cake kacang, pure kentang, ikan salmon steam, salad udang, acar timun, roti+keju putih lembut. Bagaikan musafir kelaparan dan kehausan ditengah padang pasir, meskipun rasa masakannya asing di mulut, kami lahap habis semua hidangan itu. Minumanpun beberapa kali kami minta ditambah.

Setelah makan, aku dan Mariska malah tidak bisa tidur. Kami lalu mengobrol ini itu, saat obrolan sudah habis, kami mulai memperhatikan pramugara ganteng yang wara-wiri terus. “ Hayo.. coba perhatikan, mirip siapa dia itu?” kataku. “ Kayaknya familiar ya wajahnya..dagunya yang belah itu …” Kata Mariska. Kami berpandang-pandangan lalu sama-sama berseru “ Jhon Travolta!!” ha..ha… Sejak itu kami memanggil sang pramugara dengan “si Jhon”.

Entah berapa jam lamanya kami bengong saja, sampai tiba waktunya si Jhon dan kawan-kawan datang lagi dengan kereta makanannya. Aku tidak tahu ini makan pagi, makan siang, makan sore atau makan malam, karena langit diluar gelap terus. Menunya kali ini Omelet tebal, kentang steam dengan minyak zaitun, daun… apa ya? Kami menyebutnya daun khas Turki (sok tahu..), buah zaitun, potongan buah, slice beef dengan keju tebal dan salted butter, roti, selai strawberry dan butter. Heran, rasanya kami baru makan, tapi kok lapar lagi.. saking semangatnya makan, Mariska sampai membuat minyak zaitun muncrat dan mengenai Bapak yang duduk didepannya. Segera saja dia minta maaf sama si Bapak, sambil nyengir-nyengir kuda. Qiqiqqiqiqi…

Masalah rasa, entahlah… kami tak yakin apakah rasa masakannya enak, tidak enak, aneh atau asing. Ada yang terasa hambar, asin, dan aneh. Aneh. misalnya saja, buah zaitun yang diberi entah bumbu apa sehingga rasanya asin-pahit-asam. Sulit menggambarkan rasanya, kira-kira begitu. Tapi kami berubah jadi makhluk pemangsa makanan, mungkin karena terbayang kelaparan yang baru saja kami alami, sehingga habislah semuanya… masuk ke perut dengan sukses. Pokoknya dari kelaparan kami berubah jadi kekenyanngan.Ha..ha..

Saat langit terlihat terang, jam ditangan Mariska menunjukan pukul 10 WIB, kami tiba di bandara Attaturk di Istanbul-Turki. Rupanya saat itu pukul 6 pagi waktu setempat. Keluar dari pesawat kami terkaget-kaget karena disambut udara dingin menusuk tulang. Terasa sekali perbedaaan suhu yang drastis, dari dalam pesawat yang berpenghangat dan suhu si luar yang dingin menusuk.

Kami dengan tertib turun dan kembali naik bus yang mengantar kami ke ruangan bandara. Di pintu menuju ruang dalam bandara terpampang tulisan “ HAGEL DINIZ” yang artinya Selamat Datang.

Acara selanjutnya adalah, kami menghabiskan waktu selama 3 jam berkeliaran di bandara Attaturk. Selain jalan-jalan di shopping arcade-nya dengan stand-stand besar dan kecil serta toko yang besar seperti DUTY FREE dan lain-lain, berfoto-ria,melihat-lihat barang-barang yang dijual disana misalnya perfume dan makanan, kami juga wara-wiri ke toilet, lalu beli minuman, dan melihat-lihat orang-orang dari berbagai suku bangsa berkeliaran disana. Salah satu stand menarik minat Mariska, yaitu: Turkish Ice Cream.Seorang anak muda dengan pakaian khas Turki lengkap dengan topinya berdiri menunggu pembeli di stand itu. Mariska lalu memesan satu scoop ice cream. Dengan senyum ramahnya sang anak muda memberikan sebuah cone pada Mariska. Lalu dengan gaya dia mengambil sebatang besi yang berfungsi sebagai sendok pengambil ice cream. Dia menyodorkan besi dengan ice cream diujungnya ke cone ditangan Mariska. Tapi tiba2 syuuut….syuuut…. dia memutar-mutar batang besi itu,tak jadi meletakkan ice cream di cone-nya. Mariska bengong. Si anak muda kembali menyodorkan ice cream, tapi sebelum menyentuh cone, lagi-lagi dia memutar-mutar batang besi itu dengan senyum iseng… halaaah… tinggallah Mariska nyengir-nyengir sebal dengan cone kosong ditangannya. Setelah “puas”, si anak muda akhirnya benar-benar meletakkan ice cream itu di cone, dan Mariska tersenyum lebar, melenggang pergi dengan ice cream hijau-coklat-putih ditangannya. Benar-benar iseng si penjual ice cream ini, soalnya lagi sepi pembeli..ha..ha…

Pukul 9 waktu setempat, kami berangkat lagi dengan pesawat Turkish Airlines berjenis Air Bus A 320 dengan nomor penerbangan TK 1861 tujuan Roma Italy.

Di penerbangan ini kami tak sempat merasa lapar. Berbagai acara makan tak pernah kami lewati. Jadi apa yang kami lakukan adalah makan, tidur, ke toilet, nonton, mendengarkan musik, menikmati pemandangan dari jendela pesawat, dan sesekali memindahkan posisi duduk karena bokong yang terasa pegal karena duduk terus.

Menu makanan di pesawat ini banyak macamnya. Penumpang bisa memilih mana yang diinginkan, misalnya saja untuk breakfast :
Yoghurt with muesli, white cheese (yang rasanya asin-pahit), kasar cheese(keju yang teksturnya kenyal),marrinated black and green olive ( buah zaitun yang rasanya asin-asam), scrambled eggs, cheese borek/sauteed mushroom, grilled tomato and green pepper, ovenfresh bread, butterand jam.

Lalu untuk minumannya ada teh dan kopi panas. Tapi bisa juga memilih minuman lain misalnya : whisky, gin, vodka, raki, Turkish and International wines, beers, tubong/Efes Pilsen (yang ini gak mungkin kami pilih, soalnya beralkohol). Lalu ada pilihan jus misalnya orange, sourcherry, tomato dan apple. Pilihan soft drink misalnya coca cola, sprite, maden suyu, ayran, ice tea, dan mineral water.

Perjalanan ini total sekitar 16 jam sejak dari Jakarta hingga Roma termasuk transitnya. Akhirnya setelah mati gaya mencapai puncaknya, kamipun tiba dengan selamat di bandara Leonardo da Vinci atau Fiumicino di kota Roma Italy. Alhamdulillah…