Tampilkan postingan dengan label Komunikasi Suami Istri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunikasi Suami Istri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2022

APA BEDANYA "MENCINTAI SUAMI" DENGAN " MENCINTAI SUAMI KARENA ALLAH"

MENGANALISA HAMBATAN DENGAN NEURO LOGICAL LEVEL

 

Banyak pertanyaan para emak yang rajin japri dengan pertanyaan serupa

“Mbak Iwed, bagaimana sih kok bisa tahan dan sabar menghadapi Akang yang dulu Rahwana? Pernah nggak terpikir untuk bercerai saja?”

 

OOO.. ya pernaah, Gaess πŸ˜‚.  


Duluuu.. meskipun aku konsisten berupaya membangun kemesraan, beban emosinya terasa berat menghadapi  perilaku Akang.   Akang dulu khatam melakukan 4 pelanggaran alias kesalahan dalam komunikasi suami istri semacam critism ( mengkritik/ mencela), contempt  (merendahkan/ menghina), defensiveness ( ngeles) dan stonewalling (menolak berkomunikasi/ mengabaikan), +marah-marah+ memukul anak+sombong + gak mesra lagi. Lengkap ya Gaess.. wkwkwkwkwkwkπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚…

 


Dulu aku nggak ngerti, kenapa kok berat sekali rasanya, meski saat itu aku sudah punya skill mengelola emosi.

 

Lalu  di 2014, Mbak Okina Fitriani ngajarin aku tentang Neuro Logical Level,sebuah model yang dikembangkan oleh Robert Dilts berdasarkan tingkatan neurologis yang digagas oleh antroplog bernama Gregory Bateson.

 

Neuro Logical Level (NLL) ini sebenarnya adalah stuktur cara berpikir manusia. NLL ini banyak gunanya, salah satunya untuk menganalisa hambatan ketika menuju sebuah tujuan.

 

Model NLL itu aslinya berbentuk hirarki, tapi  aku lebih nyaman menggunakan gambar yang seperti ini.


 


Goal atau tujuanku  bunyinya begini : 


Melakukan kemesraan (memeluk, membelai, mencium, memandang dengan sayang,  menyentuh, berkata dengan nada rendah dan sejenisnya) pada suami  setiap hari setiap ada kesempatan selama menjadi istrinya.

 

Goal inilah yang aku analisa dengan menggunakan NLL, sehingga ketahuan apa yang menghambat , sekaligus menemukan jawaban pertanyaan,”Kenapa terasa berat?”

Lalu setelah hambatannya diluruskan, aku bisa sangat nyaman melaksanakan goal itu. 

 

Analisa Goal di Level Environment

 

Di level lingkungan. Aku  melihat lingkungan tempat aku  melakukan goal itu adalah lingkungan yang sungguh mendukung. Di rumah, di kamar,bahkan juga di luar rumah. Tidak ada larangan melakukan kemesraan semacam bergandengan tangan dan merangkul pasangan halal meski di tempat umum kan ya? Di level ini  aman, tidak ada hambatan.


Analisa Goal di Level Behavior


Goal ini berada di level Behavior karena kemesraan itu memang berbentuk perilaku. Ye kan?

Melakukan kemesraan ini ya gampang .Tinggal melakukan gerakan menyentuh, memeluk, mencium dan sebagainya. Gampil sekutil laah..aku sehat dan tidak ada hambatan melakukan berbagai gerakan. Tapiii… meski gampil, Kok beraaat rasanya ya?

 

Nah… Kalau terasa ada hambatan, aku harus nge check level-level di atas level Behavior ini. Karena, level diatas atasnya itu mempengaruhi level yang di bawahnya.

 

Analisa Goal di Level  Capability/Skill:

 

Untuk terlaksananya goal ini, apa sih  capability atau skill yang aku butuhkan? Menghadapi suami  dengan perilaku “challenging” model si Akang  jelas  aku membutuhkan keterampilan mengelola emosi.  Kalau dihitung-hitung, sudah lengkap sih. Aku sudah bisa senyum 20 detik, self distance, anchor, perceptual position, reframing, self coaching ( berdialog dengan self talk lengkap dengan  metamodel  untuk mengugurkan belief ), editting sub modalities, dan forgiveness. Mestinya aman ya? 

 

Tapi kenyataannya menggunakan skill mengelola emosi untuk menghadapi perilaku Akang ibarat berhadapan dengan rasa pusing kepala, terus aku minum obat pereda nyeri. Hilang rasa pusingnya, lalu muncul pusing lagi, minum obat lagi hingga reda, pusing lagi, minum obat lagi. Begitu saja terus. WakakakakπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚… 


Kalau dibiarkan bisa keracunan obat kan ya?Oke..  berarti aku harus terus menganalisa di level-level yang lebih tinggi untuk tahu ada hambatan apa sebenarnya.

 

Analisa Goal di  Level Value/ Belief


Aku punya keyakinan apa sih yang mendukung melaksanakan goal ini? Ada gak keyakinan yang menghalangi aku melakukan kemesraan? Itu dua pertanyaan yang aku ajukan ke diri sendiri. Ternyata di level ini aku hanya menemukan keyakinan-keyakinan yang mendukung. Keyakinan semacam,” Istri itu ya memang harus mesra ke suaminya.” “ Mesra ke suami itu perbuatan halal dan di ridhoi Allah” dan sejenisnya.  Cucok meyong πŸ˜

 

Analisa Goal di  Level Identity

 

Bagaimana aku menggambarkan diriku  dalam rangka melaksanakan goal itu? Jawabnnya seperti ini : Aku ini istri yang setia. Aku adalah orang  yang konsisten. Aku adalah orang yang suka romantisme dalam percintaan. Identitas-identas ini jelas mendukung terlaksananya goal. Ye kan?

 

Lalu salahnya dimana? Kok belui ketemu hambatannya, Gaess??

 

Analisa Goal di  Level Spiritual.

 

Di level ini aku tanyakan pada diri sendiri . Untuk apa aku lakukan goal itu? Untuk siapa? Kalau aku sudah tidak ada di dunia ini aku ingin dikenang sebagai apa?

Nah.. di level ini baru deh terjadi kehebohan luar biasa di dalam kepalaku. Ketika aku jawab bahwa aku melakukan semua ini untuk si Akang. Terjadilah dialog seperti ini :


 




Jlebbb….Ya Allah…. Akibat self talk yang demikian, berhari-hari aku melamun. Kacau rasanya. Ditambah lagi terus menghadapi Akang yang (dulu) mirip Rahwana, makin galau aku.

 

Di puncak rasa lelah secara psikis. Aku sampai bertanya-tanya sama diri sendiri.

 

“Aku itu sebenarnya cinta apa nggak sih dengan si Akang ini. Kok ya gini balasannya 

atas segala upaya aku mesra-mesra? Kayaknya  benar aku gak cinta lagi. Apa aku pisah aja ya. Ya Allah bagaimana ini?.”

 

Dalam lamunan, aku membayangkan Tuhan berkata,”

 

“Hai Iwed, kamu dulu minta-minta jodoh padaKu. Kamu shalat istikharah minta dipilihkan yang terbaik menurutKu. Sudah  Aku kabulkan doamu,lho. Sudah aku kasih jodoh untukmu. Terus sekarang bilang gak cinta?  "


"Walau hatimu sakit, kecewa, sedih, capek, merasa gak cinta atau apalah, tetap saja  selama kamu masih berstatus istrinya, kalau kau ingin disentuh, ingin memeluk, ingin mesra-mesra, Aku hanya ridho kalau kamu lakukan kepada manusia yang namanya  Sutedja Eddy Saputra ini. Bahkan kalau rasanya gak cinta, tapi kamu tetap bilang “I love You” padanya, kamu dapat pahala dan ridhoKu. Karena perbuatan itu sesuai dengan syariah, dan  apa yang Kuperintahkan. Sekarang Aku  uji dirimu dengan  perilaku suamimu yang demikian. Kamu mau tetap taat apa nggak??”

 

Sudah dapat jawaban dari kegalauan selama ini.

 

Dulu, istilah “Mencintai karena Allah hanyalah sebuah jargon, yang aku tak paham maknanya, tak pula paham  cara menjalaninya . 

 

Ketika di level spiritual sudah diganti dengan “berharap ridhoNya”, aku jadi paham, apa bedanya “mencintai suami” dengan “ mencintai suami karena Allah”

 

Bedanya bisa didengar dari self talk.

 

Ketika dulu aku memeluk Akang penuh antusias  berharap Akang membalas, self talkku bunyinya begini,” Aku cinta padamu.. Aku cintaa Akang..” Akang  berdiri diam saja  tak membalas pelukanku, ekspresinya dingin lempeng macam patung es. Terus dia melenggang pergi masuk mobil meninggalkan sekeping hati  seorang istri yang pediiiih,Esmeralda. Self-talk ribut berkeluh kesah,”Aku ini dianggap apa? Kok tega sih nggak membalas pelukanku? Sakitnya aduuuh sakitnyaa. ” Lalu aku sibuk menyelesaikan emosi pakai macam-macam teknik. Berat, sodara-sodara.. Besoknya begitu lagi berulang-ulang.

 

Setelah diganti di  di level spiritual  dengan “berharap ridhoNya” kejadiannya begini :

 

Aku peluk Akang. Dia bilang, “ Duuh.. cepetan. Nanti Akang telat ke kantor.”

 

Eh.. nggak ngefek ke emosiku πŸ˜€. Self talk-self talk yang biasanya protes dengan sikap Akang, pada mingkem semua😷.  

 

Aku terus memeluk dengan nyaman sambil bilang.”Hati-hati ya sayang, Semoga kerjaan Akang lancar dan dimudahkan Allah. Aamiin” Terus cium pipi kiri kanan. Akang melenggang masuk mobil. Aku senyuuum sampai mobilnya menghilang di tikungan. Hatiku tetap nyamaan senyaman pagi yang cerah. 


Kenapa? 

 

Karena self talkku  yang dominan bilang begini,” Tuhan..Tuhanku..lihatlah! Aku melakukan perbuatan yang Engkau ridhoi. Ini perbuatan yang Engkau ridhoi kan?. “ Efek berkata seperti itu membuat hatiku  terasa melonjak-lonjak penuh semangat. Rasanya ringaan sekali, karena aku tahu semua tindakan dan ucapan baikku,  dicatat Malaikat yang tak pernah lalai mencatat amal manusia.  Tidak masalah, apakah Akang menanggapi dengan dingin atau apa pun, karena balasan Akang bukan  menjadi tujuanku. 

 

Rasa ringan, nyaman dan tenang ini jauh berbeda dibanding sebelumnya. Mungkin begini rasanya menjadi jiwa yang tenang karena self talk yang memberdayakan. 

 

Kembali ke NLL tadi. Ketika semua level telah menjadi selaras, maka upaya menjalankan goal itu menjadi  wuss..wuss…wusss…ringaaan, kawan.

 

Mungkin karena aku konsisten berlaku mesra bertahun-tahun lamanya,  atau mungkin juga karena Tuhan kasihan padaKu.  Dia kemudian  menggerakkan hati  Akang untuk membalas kemesraan-kemesraan itu. Ciee…cieeπŸ’–… wkwkwkwkwkπŸ˜‚..

 

Ibarat membangun Menara, kalau dulu menaranya roboh  melulu karena niat atau pondasinya salah, kini Menara itu tak lagi hancur. Ia tumbuh makin kuat makin tinggi, makin menjulang membawa harapanku, Insya Allah kelak  akan mencapai surgaNya. Aamiin.. 

 

 

Sabtu, 19 Juni 2021

KADO ULANG TAHUN IBU MERTUA

 Hari ini, 16 Juni 2021, Ibu mertuaku ulang tahun. Dari 2 minggu lalu dia sudah pesan kado ulang tahun. 

Ini benar-benar langka. Gak pernah dalam sejarah hidup, Ibu minta kado ulang tahun. Baru sekali ini. Dulu sering aku tanya, "Ibu mau kado apa? Perfume? Tas? Baju? Atau apa?" Tak pernah dia minta apapun. 




Nah.. sekali ini, secara khusus dia mau kado istimewa. Kadonya : Ibu mau si Akang Sutedja, menyanyikan lagu judulnya Kasih Ibu, yg duluuuu tahun 1960an dinyanyikan oleh Alfian, penyanyi ngetop idola Ibu, di masa itu.


Mendengar permintaan itu, Akang bilang,

"Neng, ini belum pernah terjadi, baru sekali ini seumur hidup, Ibu minta kado. Penting banget ini, jangan sampai gak terpenuhi permintaannya." 
Serius dia😁😁

Lalu kami berdua browsing Youtube, mencari lagu yang dimaksud. Eh, ada. Langsung deh kami dengarkan.

Minggu, 28 Maret 2021

INGIN DIKENANG SEBAGAI ISTRI YANG BAGAIMANAKAH KITA ?

Di kelas-kelas training mapun sharing Enlightening Parenting, setelah  si Akang menyampaikan materi Peran Ayah,biasanya ramai yang bertanya, 

“Mbak Iwed bagaimana kok bisa tahan dan terus konsisten menghadapi suami yang Rahwana? Kok nggak minta cerai saja? “

 


Suami Rahwana? Hehehe.. Si Akang sendiri yang menjuluki dirinya yang dulu  sebagai Rahwana.  Rahwana adalah tokoh antagonis dalam kisah Ramayana.Silakan di browsing sendiri ya bagaimana profil Rahwana.

 

Jumat, 05 Maret 2021

Taat pada Suami, Susah atau Mudah?

 Perkara taat pada suami aku sudah  tahu dasar hukumnya dalam Islam sejak sebelum menikah, bahkan sebelum kenal si Akang.



Ada banyak  dasar hukum  yang menjelaskan kedudukan suami, baik dalam Al Quran maupun hadits. Salah satu hadits yang saat itu membuat aku melongo takjub adalah Hadits riwayat Turmudzi :1159 


“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya “

Hanya saja sujud kepada selain Allah itu dilarang, tapi dari hadits ini aku belajar betapa pentingnya  istri patuh dan taat pada suami. Kedudukan hak seorang suami  terhadap istri adalah setelah hak Allah dan Rasulnya. Bahkan hak seorang suami berada diatas hak kedua orangtua.

 Jadi kesimpulannya, taat dan patuh pada suami itu adalah tanggung jawab terpenting seorang istri. Tentu saja taat dan patuhnya dengan syarat tertentu ya. Artinya seorang istri harus taat dan patuh pada suami selama perintah suami tidak mengandung maksiat dan tidak bertentangan dengan syariat.

 Terus pelaksanaanya bagaimana?

Apakah mudah melakukan taat pada suami?

Kamis, 05 Desember 2019

Honeymoon atau Durenmoon?


BOGOR- BATURRADEN - KEMRAJEN - MUNTILAN

Sejak beberapa bulan lalu si Akang Sutedja E Saputra merencanakan jalan-jalan berduaan saja. Katanya biar makin lengket cintanya, padahal sebenarnya sih ada duren dibalik ayamπŸ€ͺ🀣🀣🀣

Maksudnya ini jalan-jalan spesial untuk memuaskan kesukaannya akan durian dan ayam bekisar. 


Jadi daripada disebut honeymoon, ini lebih cocok disebut durenmoon atau ayammoon🀣🀣🀣

Kamis, 21 November 2019

Membangun Kedekatan Suami Istri

Membangun kedekatan merupakan salah satu kunci dari keberhasilan proses komunikasi. 

Kalau kita mengajak, atau mengajukan ide, atau menawarkan sesuatu pada seseorang lalu dia menolak, artinya ada kedekatan yang kurang terbangun antara kita dengan partner komunikasi. 

Supaya ide bisa diterima, lakukan dulu membangun kedekatan.

Dengan pasangan yang mungkin sudah bertahun-tahun bersama dalam pernikahan, tetap saja kita perlu membangun kedekatan. 

Jumat, 23 Agustus 2019

PELESIRAN MESRA DI BATAM DAN BINTAN



Kali ini si Akang ada kerjaan di Batam dan dia  mengajak bininya ikut. Hihihi...πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Ngapain ikut suami kerja? Ya kalau diajak suami nggak boleh nolak kan ya.. Dengan kehadiran istri, dia merasa lebih nyaman. Dan aku juga tidak akan ikut ke lokasi Shipyard tempat dia bekerja. Aku hanya menemani dia di hotel dan saat sudah selesai kerjaannya. (Ini sebenarnya percakapan self talkku. . πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚)

Aku berangkat ke Batam dari Palembang. Karena dari Kamis 15 Agustus aku ada di Palembang untuk menengok Mami dan mertuaku. Tepat di hari kemerdekaan, 17 Agustus 2019,  tiba di bandara Hang Nadim Batam pukul 13.00. Dengan taksi aku langsung menuju hotel Harmoni di kawasan Sungai Jodoh, Nagoya. Ternyata hotelnya terletak di pusat kota Batam. Di mana di sekeliling hotel terdapat beberapa tempat makan yang terjangkau dengan jalan kaki.

Akang berangkat dari Bogor dan tiba di hotel sore hari.  Hari ini kami habiskan dengan santai-santai di hotel.

Hari Minggu 18 Agustus 2019, usai akang mengunjungi Shipyard, kami makan siang menikmati sop ikan khas Batam yang sudah dari dulu ngehits.

Akang memilih menu sop ikan, aku memilih sop ikan dicampur sea food.  Sop ikan dan sea food ini enak, segar. Cocok sekali dengan selera kami yang suka makan makanan berkuah, panas dan gurih. Potongan daging ikan, dimasak dengan kuah  dicampur bumbu, potongan tomat hijau dan sayur. Semakin mantap rasanya setelah aku campurkan irisan cabe rawit hijau. Hmmm...yummmy.


Lalu ada siput gong gong. Siput ini direbus, kemudian disajikan di piring lengkap dengan sambal untuk cocolannya. Rasanya kenyal-kenyal, lumayan enak. Meskipun menurutku siput ini lebih enak kalau dibuat jadi  keripik.


Yang juga enak adalah menu ayam goreng bawang. Tampaknya menu ini juga khas Batam, karena ayam goreng bawang ini disajikan juga di menu sarapan di hotel. Ayamnya dipotong-potong kecil, digoreng dengan bumbu spicy, lalu disajikan dengan bawang putih yang digoreng lengkap dengan kulitnya. Aku tak cuma mencicipi ayam yang dagingnya lembut spicy, tapi bawang putih goreng itu ternyata enak juga. πŸ˜‹


Sore itu aku dan Akang menghabiskan waktu ngegym di hotel.



“Nanti malam kan kita mau makan duren, Neng. Jadi sekarang kita bakar lemak dan kalori dulu. Supaya gak kegendutan.” Begitu saran si Akang.

Malamnya kami kelayapan keluar hotel. Ngapain lagi kalau bukan mencari durian. Si akang penggemar berat buah berduri itu.  Kabarnya, durian import dari Malaysia sampai juga ke Batam. Maka kami terdampar di kawasan Tanjung Batu. Di sana ada kios Durian Datuk yang menyediakan durian-durian import dari Malaysia.

Sebenarnya kami datang ke tempat ini bukan di waktu yang tepat. Saat itu jam 7.30 malam, sedangkan kiriman durian biasanya datang jam 9 malam. Sehingga saat itu kami hanya kebagian “sisa” saja. Tapi Alhamdulillah.. masih ada durian  jenis Teik Kah, Udang Merah daaan.... Musang King.







Durian udang merah dagingnya berwarna sedikit orange. Rasanya manis. Teik Kah lebih enak, manis dan ada pahitnya. Bagiku, paling juara rasanya adalah Musang King. Manisnya ngejreng, daging buah berwarna kuning glowing cantik, pahitnya ada sedikit saja, daging buah tebaal, bijinya tipis kempet. Tapi bagi si Akang, dia lebih suka makan Teik Kah yang rasa pahitnya agak lebih kuat dari Musang King. Sayang sekali, durian jenis Duri Hitam, yang paling digemari Akang, tidak tersedia.

Hari ini ditutup dengan bobok cantik kekenyangan makan durian.

Si Akang, belahan jiwa yang baik hati  terlihat gantengnya meningkat berlipat-lipat di mataku.  Bagaimana tidak, dia mengajak aku jalan-jalan ke Pulau Bintan.  Yeayyy....

Kerjaan gimana kerjaan? Hehehe... pas banget ini rezeki istri shalehah.  Ada beberapa hambatan di lapangan sehingga kerjaannya belum  bisa dimulai, baru bisa dimulai esok harinya.

Maka, kami memesan mobil sewaan untuk jalan-jalan satu hari di Pulau Bintan.  Akang pesan di nomor ini : Tanjung Uban Rental ( Pak Adi ) 082284812724.

Sewa mobil + sopir+ bensin+ parkir seharian Rp. 550.000,- Jenis mobil yang kami sewa Proton Exora. Kami baru tahu kalau harganya bisa ditawar sebenarnya. Tapi ya nggak tega juga nawarnya. Hehe..πŸ˜ƒπŸ˜ƒ


Pagi-pagi kami bangun dengan semangat 45. Sepertinya masih terpengaruh suasana 17 Agustusan. Usai sarapan, sekitar jam 7 pagi akang memesan taksi online untuk menuju ke Pelabuhan Telaga Punggur. Atas petunjuk seorang teman, kami disarankan naik speedboat menuju Pelabuhan Tanjung Uban Pulau Bintan. Dia tidak menyarankan naik kapal Roro/ ferry karena membutuhkan waktu menyeberang yang lebih lama yaitu 1 jam. Dengan speedboat hanya butuh 15 menit saja menyeberang dari Telaga Punggur ke Tanjung Uban.

Setelah membayar taksi online sejumlah Rp. 95.000 untuk perjalanan sekitar 35 menit dari hotel, kami turun di Pelabuhan Telaga Punggur.

Suasana sepi, tapi counter-counter tiket sudah buka. Kami memilih counter tiket untuk menuju ke Tanjung Uban. Harga tiketnya Rp. 53.000 per orang. Setelah dapat tiket, dengan langkah cepat kami berjalan menuju dermaga.

Speedboat sudah menanti di dermaga. Tak menunggu lama, kapal kecil itu segera membawa kami menuju Tanjung Uban. Perjalanan singkat  dengan pemandangan laut dan langit  biru, angin kencang  menerjang jilbabku lewat  jendela kapal , mengingatkan aku saat bulan Juli lalu ketika menyeberangi laut menuju  Venezia Italy yang juga dilakukan dengan speedboat. Ah..senangnya. Kini kami jalan-jalan lagi.


Pelabuhan Tanjung Uban juga tidak terlihat ramai. Setelah kapal bersandar, kami cepat-cepat berjalan menuju parkiran mobil. Akang menelpon driver, dan segera disambut. Nama drivernya Pak Adi. Lelaki usia  30an tahun itu terseyum ramah menyambut kami.



“Kita langsung ke objek wisata Gurun Telaga Biru ya Pak.” Usul Pak Adi. Kami berdua manut saja.

Dari pelabuhan Tanjung Uban, kami menempuh jarak sekitar 17 km. Selama berkendara, melewati  hamparan semak dan tanah kering di sisi jalan,Pak Adi bercerita tentang pualu Bintan dan bagaimana dia bertemu istrinya yang orang Palembang, hingga menikah dan menetap di pulau ini. Menurut Pak Adi sebagian besar tanah di pulau ini milik Salim group. Termasuk juga wilayah objek wisata yang sedang kami tuju.

 GURUN TELAGA BIRU DESA BUSUNG

Gurun pasir Telaga Biru desa Busung  terletak di Kecamatan Tanjung Uban, Kabupaten Bintan, Propinsi Kepulauan Riau. Dari Pelabuhan Tanjung Uban butuh waktu sekitar 20 menit perjalanan. Sedangkan dari bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjung Pinang maupun Pelabuhan Tanjung Pinang membutuhkan waktu tempuh sekitar 45 menit dengan mobil.

Tempat ini sebelumnya adalah area penambangan pasir bauksit yang kini sudah mengeras seperti karang. Penambangan sudah lama dihentikan sejak Orde Baru masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Puluhan tahun terbengkalai, cekungan bekas galian kemudian terisi air, membentuk telaga dengan air yang hijau kebiruan, bening dan tenang.

Terdapat pula gundukan-gundukan pasir mengeras berwarna cream dengan butiran berkilau seluas 6000 hektar, tampak seperti gurun di Timur Tengah. Tempat ini menjadi sangat cantik ketika diabadikan dalam foto.

Masuk ke area ini tidak ada biaya retribusi, hanya perlu membayar uang parkir Rp. 2000,- untuk motor dan Rp. 5.000 untuk mobil.

Matahari bersinar terang, namun arah datang cahaya matahari seolah mendukung kami menghasilkan foto-foto cantik.

Terdapat telaga biru di bagian depan area, namun Pak Adi membawa kami ke telaga biru yang lebih jauh, melewati gurun pasir.

Serombongan turis asing berbahasa China berbondong-bondong turun dari bus, kemudian menyerbu gurun dan telaga biru. Aku tersenyum-senyum melihat seorang gadis melepas pakaian luarnya, rupanya dia sudah siap bergaya dengan baju senam, lalu berpose dengan pose yoga di atas titian telaga biru. Temannya sibuk memotret sang gadis dari berbagai posisi. Hahaha... keren. Niat banget.

Pak Adi memotret  kami di tiap spot cantik, baik di gurun maupun di telaga biru. Hasilnya bisa dilihat di sini.





“Neng, ini tempatnya memang cantik ya. Tak perlu photographer profesional, driver mobil sewaan saja dengan sedikit arahan sudah bisa menghasilkan foto dengan komposisi cantik begini.” Ujar Akang puas melihat hasil jepretan Pak Adi.

Panas terik matahari membuat kami haus. Setelah berfoto dan menikmati suasana, kami duduk di tenda-tenda warung menyeruput air kelapa muda yang menyegarkan. Warung-warung itu juga menjual durian. Tapi kami tidak membeli karena Pak Adi bilang lebih baik beli di tempat yang khusus menjual buah durian.

“Jangan khawatir, Pak. Nanti kita mampir makan durian di perjalanan kita  ini. Banyak juga tempat makan durian di pinggir jalan. “ Ujar pak Adi.

LAGOI BAY 

Pak Adi kemudian membawa kami ke Lagoi Bay. Berada pada kawasan seluas 1.300 hektar, Lagoi Bay adalah ‘jantung Pulau Bintan’. 


Di area ini terdapat banyak tempat makan  dan hotel-hotel mahal.  Ada juga kebun binatang dan Treasure Bay Lagoi, yaitu kolam renang terbesar di Asia Tenggara. Luasnya mencapai 6,3 hektar, dan memiliki panjang 800 meter. Luas  permukaannya bahkan setara dengan 50 kolam renang untuk ukuran olimpiade. Daya tamping airnya sampai 115 juta kubik, dengan kedalaman terjauh adalah 2,5 meter.



Sayangnya untuk kali ini kami  memutuskan tidak mengunjungi Treasure Bay, karena waktu yang sempit dan tidak bawa pakaian renang. Mungkin nanti kalau ada kesempatan lagi, ingin rasanya menginap dan menikmati suasana Treasure  Bay.


Kami hanya mengunjungi Lagoi Bay saja. Di sini terdapat Lantern Park, taman lampion yang buka pada malam hari. Tapi sayangnya taman ini sedang tutup, karena renovasi.

Di Lagoi Bay, pantainya landai . Akang menatap hamparan laut dan pantai tanpa selera.


“Akang lebih suka pegunungan Neng.” Ucapnya.

“Nanti kita ke pantai yang bagus, Pak. Namanya Pantai Trikora. Jauh lebih bangus dari tempat ini.” Ucap Pak Adi.

 MAKAN DURIAN LOKAL BINTAN 

Dari Lagoi Bay, Pak Adi membawa kami makan durian. Duriannya jenis lokal. 


Salah seorang teman yang tinggal di Batam meminta aku mencoba durian daun kalau berkunjung ke Bintan. Katanya enak. 

Durian daun ukurannya kecil, durinya langsing dan rapat. Buahnya pun kecil-kecil. Rasanya bagaimana? Hehehe... kurang enak menurutku dan akang. 

Ini masalah selera. Aku yang sudah mencicip durian import seperti Musang King jadi punya standard yang tinggi untuk ukuran kelezatan durian. Dan Durian daun ini  menurutku ada di bawah standard enak. 


Kami mencicipi durian lokal juga. Lumayanlah.. manis dan cukup enak  meski tidak seenak durian import.

PONDOK TELUK BAKAU BAY VIEW

Siang makin menjelang. Pak Adi membawa kami ke resto Seafood di kawasan pantai Trikora. Nama tempatnya “Pondok Makan Teluk Bakau Bay View”.


Berharap bisa menyantap ikan bakar, Akang jadi kecewa karena ikan tidak tersedia.  Akhirnya kami memesan cumi lada hitam, Ayam goreng bawang, siput gong gong, dan tumis kangkung. Kenyaang..

PANTAI TRIKORA 3


Setelah shalat zuhur dan ashar dijamak, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Trikora 3.  Naah... ini baru pantainya cuantiiik.



Pantai Trikora terletak di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Pulau Bintan.  Nama Trikora berasal dari nama “three corral”, yang diberikan oleh wisatawan asing yang kala itu berkunjung ke pantai ini. Demikian menurut cerita masyarakat sekitar.

Versi lainnya  mengaitkan bahwa Trikora berhubungan dengan Tri Komando Rakyat. Dimana pada saat pemerintahan Presiden Soekarno, tengah hangat beredar isu tentang “Ganyang Malaysia”, dan pantai ini merupakan basis pertahanan wilayah terluar Indonesia pada masa itu.

Terdapat pantai Trikora 1, Trikora 2, Trikora 3 dan 4. Pak Adi membawa kami ke pantai Trikora 3, yang menurutnya paling indah.





Dan memang benar apa yang dikatakan Pak Adi. Pantai Trikora terbentang sepanjang 25 kilometer. Di Trikora 3, bentang pantainya bervariasi, dari pantai yang landai hingga bagian yang dihiasi batu-batu granit besar, baik di pinggir pantai maupun agak ke tengah  lautan. Dari pantai ini pun terlihat tanjung, yaitu bagian pantai yang mejorok ke lautan. Sehingga bentnag pantai Trikora 3 terlihat cantik sekali.

Airnya biru tenang, bening. Angin bertiup semilir. Di tepi pantai berderet gazebo kayu untuk duduk-duduk bersantai menikmati suasana.

Aku dan Akang tak melewatkan kesempatan ini. Kami menikmati suasana lalu berfoto-foto mengabadikan kecantikan pantai ini. Kecantikan pantai Trikora mirip dengan pantai-pantai berbatu seperti pantai Parai di Pulau Bangka dan pantai-pantai di Pulau Belitung.

DURIAN SI KUNING


Sebenarnya aku ingin lebih lama berada di tempat ini, tapi Akang masih ingin makan durian.  Ya Allah... si Akang bukan main gemarnya makan durian. 😁😁 

Kami mampir lagi ke kedai durian pinggir jalan. Alhamdulillah kami beruntung bisa mencicipi durian Si Kuning. Durian tembaga yang tampilannya cukup menggiurkan. Buahnya kuning glowing mirip tampilan  Musangking. Rasanya enak juga, meski masih kalah dengan Musang King.

 OTAK OTAK DEKAT JEMBATAN 

Mbak Melati, salah satu sahabatku, merekomendasikan makan otak-otak pulau Bintan yang katanya dijual dekat jembatan. Kampi pun mencari lokasi makanan ini. Alhamdulillah ketemu.. Yeayy...


Otak-otak Bintan terbuat dari ikan, dan ada juga dari cumi.  Adonan ikan atau cumi dicampur bumbu warna merah, lalu dibungkus dengan daun kelapa, lalu dibakar. 



Rasanya enaaak... dan harganya murah. Otak-otak ikan dijual @Rp. 1.000,- dan otak-otak cumi @Rp. 2000,- . Agak jauh dari jembatan bahkan kami menemukan otak-otak yang lebih enak dan lebih tebal ukurannya. Otak-otak ini terbuat dari ikan dicampur cumi dan harganya Rp 1000,-. Jangan lupa mencicipi makanan ini kalau ke pulau Bintan dan Batam ya..


Menjelang pukul 4 sore, aku dan Akang diantar kembali ke pelabuhan Tanjung Uban. Sepanjang jalan rasanya hatiku hangat, tangan kami saling bergenggaman, nyaman sekali, berasa kayak penganten baruπŸ˜šπŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜ πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ . Tampaknya kena pengaruh suasana tempat-tempat indah yang baru saja kami kunjungi. 

Sesekali akang mencium tanganku. Romantis?? Bukaan.. Soalnya tanganku bau durian. Hahahaha...πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Alhamdulilah.. hari yang indah.