Sabtu, 01 November 2014

Samgyetang, Sup Sehat ala Korea Selatan



Matahari di Seoul menampakkan sinar keemasan, mengintip dari balik awan putih  laksana bulu domba yang menghias langit biru cerah. Aku memandang langit dari bawah  pohon chestnut berdaun kuning kecoklatan. Daun-daun di pohon itu sudah agak jarang karena sebagian besar telah gugur ke tanah. Pemandangan cantik  dahan-dahan yang hampir gundul berbentuk artistik  dengan latar langit biru cerah berhias awan putih dan sinar keemasan itu menghangatkan hatiku. 

Ketika angin dingin musim gugur menerpa wajah, kupejamkan mata meresapi sensasinya. Saat  kubuka mataku, beberapa helai daun chesnut kuning kecokelatan bergerak turun perlahan menari-nari   gemulai terhisap gravitasi bumi, hingga jatuh ke tanah, bergabung dengan daun-daun kering lainnya. Kakiku menjejak trotoar berlapis guguran dedaunan laksana  karpet cantik kuning kecokelatan. Romantisme musim gugur  yang ditimbulkan luruhnya daun itu sungguh menggetarkan. Suasana seperti ini sangat mendukung untuk merasa jatuh cinta lagi. Kalau saja di sana tak banyak orang, rasanya ingin memeluk suamiku dan berterimakasih padanya karena telah membawaku ke tempat indah ini.

Aku membalikkan badan, dan mendapati suamiku tengah memandangiku. Akang, begitulah aku memanggilnya.  




“Ngapain sih, bengong begitu? Cepat, yuk! Kita sudah ketinggalan, nih!” Serunya.   Kami berada di jalan kecil dekat Sejong Performing Arts Center sebelum Gyeongbokgung,  menuju ke sebuah restaurant.

Siang ini, tour leader kami,  Mr. Danny,  berjanji mengajak  makan siang bersama dengan menu istimewa, sup ayam ginseng atau samgyetang . Sebenarnya sup ini biasa dimakan orang Korea  pada tiga hari istimewa, yaitu tiga hari terpanas di musim panas : chobok  yang jatuh pada  13 Juli, jungbok -23 Juli, dan malbok -12 Agustus. 

Meskipun saat ini musim gugur, tapi rasa ingin tahuku tentang cita rasa samgyetang membuatku sedikit memaksa Mr. Danny untuk memilih menu ini di acara makan siang kali ini. 


Kami berjalan bergandengan tangan menyusuri “karpet” kuning kecoklatan. Ketika angin bertiup menghantarkan hawa dingin menusuk, kugamit lengan hangat Akang lebih erat.  

Beberapa anak muda berjalan melewati kami sambil mengobrol dalam bahasa Korea yang tak kumengerti.  Sekelompok orang bertampang Melayu tengah berdiri di pinggir jalan, tampaknya mereka menunggu bus  datang menjemput. Pasangan muda berwajah oriental mendorong kereta bayi berjalan santai sambil berbincang-bincang. Saat melewati kami, aku menyempatkan melongok ke kereta bayi mereka. Wajah bayi  lucu berbingkai topi merah dengan pipi  chubby sangat menggemaskan. Tubuhnya dibalut selimut tebal yang melindungi dari hawa dingin. Aku tersenyum pada sang ibu,  dan dia membalas senyumku. Hari yang indah...

Kami masuk ke sebuah restaurant  dengan jendela-jendela kaca lebar terpasang  di sepanjang dindingnya . Menurut Mr. Danny, aksara Korea yang terpampang di depan restaurant ini berbunyi “ Goryeo”.  

Kami duduk mengelilingi sebuah meja kayu cokelat muda, dengan kursi-kursi  berwarna gelap bergaya minimalis dan  alas duduk berwarna putih. Tak lama kemudian beberapa pelayan meletakkan macam-macam kimchi di meja kami. Sepertinya, selama kami berada di Korea Selatan, tak ada sehari pun terlewat tanpa kehadiran kimchi dalam menu makan kami. 

Beberapa menit kemudian,  pelayan mendorong troley berisi hidangan andalan rumah makan ini.  Sebuah mangkuk putih besar diletakkan di depanku. Mangkuk besar itu berisi satu ayam muda utuh, dengan kuah bening panas  bertabur daun bawang, mengepulkan asap beraroma ginseng.

Samgyetang, Sup Ayam Ginseng yang sehat dan kaya manfaat

Aku tertegun memandang hidangan di hadapanku.  Porsinya besar sekali! Semangkuk besar ini haruskah kuhabiskan sendiri? Belum apa-apa rasanya sudah tak sanggup! 

Dengan sendok, ku ambil sedikit daging ayam beserta  kuahnya. Ternyata dagingnya sangat lembut , tidak berlemak dan tidak berotot. Rasanya  minimalis. Hambar, seperti sup kurang bumbu. Tidak terasa asin dan gurih. 

Dengan sendok, ku belah perut ayam muda itu. Di dalamnya ternyata ada nasi putih yang  lembut seperti bubur tetapi bulir-bulirnya yang panjang  masih utuh. Lalu ada buah berwarna  merah kecoklatan sebesar sebuku jari kelingking. Karena rasa ingin tahu, aku mencicipinya. Rasanya manis seperti kurma.  Aku bertanya pada Mr. Danny, buah itu ternyata memang kurma Korea yang disebut bekchu. Agak  terbeda dengan kurma yang biasa kunikmati saat bulan Ramadhan di tanah air, ataupun Kurma yang kunikmati di Mekkah dan Madinah, bekchu ini ukurannya lebih kecil, rasa manisnya juga tidak begitu kuat.



Di dalam perut ayam itu juga terdapat akar ginseng, yang rasanya agak wangur sedikit pahit.  Selain itu  ada juga bawang putih,  gamcho (akar manis), hwanggi (akar kuning) dan buah ginkgo.  

“Ayo makan, Neng.  Jangan pikirkan rasanya. Pikirkan saja manfaatnya.” Bisik Akang ketika melihat aku  menyantap samgyetang tanpa selera.

“ Memangnya manfaat sup ini apa?” Tanyaku. 

“Yaaah... masak nggak tahu. Judulnya saja sup ayam ginseng. Ya jelas  mengandung khasiat ginseng, dong. Belum lagi ditambah bumbu-bumbu lain yang juga banyak manfaatnya buat kesehatan.”  
“Ah, sok tau. Coba jelaskan  kalau Akang memang benar tahu apa manfaat sup ini. Hayoo...” Tantangku.

“Eiits... Nggak ada yang gratis ya.  Janji dulu, nanti malam pijitin Akang sampai tertidur, baru nanti dijelaskan apa manfaat sup ini. “ Senyum lebar Akang tiba-tiba  tampak menyebalkan.

“Oh, begitu ya. Sama istri sendiri saja nggak mau kasih info gratis.  Awas ya!” Ujarku sengit. 

“ Ya, iyalah. Neng itu maunya yang gratis melulu sih! Semua hal itu harus ada usaha dulu dong. Ayo sekarang makan sup-nya. Habiskan! Neng nanti perlu tenaga yang kuat untuk pijitin Akang.“ Tegasnya sambil memandang mangkuk sup dihadapanku. Senyum kemenangan terlukis di wajahnya ketika melihatku dengan berat hati kembali menyuap potongan daging ayam lembut dengan kuah sup hambar dan sedikit pahit itu. 

Ternyata bukan aku saja yang tidak antusias makan sup ayam ginseng . Mbak Fahira, Mbak Alma, Mbak Merry, Mbak Rani dan beberapa peserta tour yang duduk satu meja  denganku pun tak mampu menghabiskan porsi makan siang  kali ini.  

Dari ekspresi wajah mereka yang agak tertekuk-tekuk, bibir manyun, dan dahi berkerut sudah tergambar jelas bahwa rasa samgyetang tidak cocok dengan selera makan mereka. 

Satu-satunya yang mampu menghabiskan menu makan siang kali ini tak lain adalah Akang. Mbak Merry dan kawan-kawan sampai bertepuk tangan melihat mangkuk di hadapan Akang hanya tersisa tulang-tulang ayam dan sedikit kuah sup.

 “ Wah... hebat! Mas Sutedja bisa habis makannya.  Suka rasa ginseng ya, Mas?” Tanya Mbak Merry.

“Hehehe... Bukan suka rasa ginseng-nya, tapi suka manfaatnya buat kesehatan.” Sergah Akang sambil cengengesan. 

Aku gemas sekali melihat lagaknya, ingin rasanya mencubit pinggangnya. Sok banget sih!

Malam ini sepertinya aku harus menerima nasib,  berubah jadi tukang pijat demi informasi manfaat sup ayam ginseng bagi kesehatan. 

Malam telah merambat datang. Di kamar hotel, dengan mata setengah terpejam menikmati pijatanku, Akang mulai menjelaskan manfaat samgyetang.

“ Neng, dengar ya.. Sup ayam ginseng itu mengandung manfaat dari ginseng. Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa ginseng berkhasiat sebagai anti oksidan yang menangkal radikal bebas, anti kanker,anti tumor, anti mutasi gen dan menjaga sistem imun tubuh. Ginseng juga berperan menghambat penuaan dini atau anti aging. Yang membuat sup ayam ginseng itu sangat cocok dikonsumsi di musim panas di saat tubuh banyak berkeringat adalah manfaatnya yang mampu mengurangi kelelahan dan meningkatkan stamina tubuh.  Selain itu ginseng juga mampu menurunkan stress, dan mengandung manfaat yang baik bagi penderita diabetes.”

Beberapa menit berlalu tanpa suara, tampaknya Akang tertidur. Kucubit pinggangnya dengan gemas.

 “ Aww! Apa-apaan sih! Disuruh pijat malah mencubit.” Protesnya. Aku tertawa geli.

“Lanjutkan penjelasannya dong, dilarang tidur sebelum selesai.” Tukasku.

“ Itu tadi baru dari ginsengnya ya, nah bumbu-bumbu lain yang dimasukkan ke dalam samgyetang itu juga semuanya bermanfaat. Misalnya saja bekchu atau kurma Korea yang mengandung asam lemak, vitamin B1, B2, C, Kalium, Mangan, Kalsium dan Fosfor. Kurma bagus untuk mencegah penuaan dini, mencegah hipertensi, keringat berlebihan dan sesak napas. Akar manis atau gamcho gunanya untuk meredakan batuk dan mengatasi penyakit maag. Buah gingkgo manfaatnya untuk  mengatasia ashtma, batuk, demam, demensia, menyehatkan otak dan organ seks.  Lalu ada juga akar kuning atau hwanggi yang manfaatnya sebagai anti malaria, anti kanker, mengobati cacar, hepatitits dan meningkatkan stamina tubuh. Ayo pijatnya yang enak dong! Di dekat tulang belikat Akang itu coba dipijat, rasanya pegal.” Ujarnya.

“Ih bawel ya! Cepat jelaskan lagi manfaat samgyetang.”Ujung jariku menekan belikatnya dengan kekuatan penuh.

“Aduh! Pelan-pelan dong...” Mata Akang kembali setengah terpejam. 

“ Manfaat samgyetang itu jadi makin hebat karena daging ayam  muda adalah sumber protein rendah lemak yang mengandung vitamin B dan Niacin yang berperan mencegah kanker.  Ayam juga sebagai sumber Fosfor untuk menjaga kesehatan gigi dan tulang , selain itu  bermanfaat juga untuk kesehatan ginjal, hati dan sistem syaraf pusat.  Selain bahan-bahan yang disebutkan tadi, ada juga nasi yang dimasukkan ke dalam ayam. Kalau nasi kan sudah jelas manfaatnya, sebagai sumber karbohidrat kompleks yang digunakan tubuh untuk energi. Bumbu yang lain misalnya daun bawang juga mengandung manfaat yang baik, yaitu menurunkan kolesterol,  sebagai anti virus dan anti alergi. Yang terakhir itu bawang putih. Manfaatnya juga sangat bagus  yaitu sebagai anti bakteri, anti virus dan anti jamur. Bawang putih juga bisa menurunkan kolesterol dan tekanan darah, mencegah kanker perut dan kanker usus besar, mengobati sariawan dan gangguan pencernaan.  Jadi manfaat samgyetang itu adalah gabungan dari manfaat bahan baku dan bumbu-bumbunya. Banyak sekali manfaatnya, kan? Makanya, rugi kalau sup tadi tidak dihabiskan.“

“ Sudah? “ Tanyaku.

“ Penjelasannya sudah selesai, tapi sesuai perjanjian, pijatnya baru selesai kalau Akang sudah tertidur ya.” Matanya terpejam. 

Tiba-tiba aku merasa aneh. Kok dia bisa tahu sedetail itu tentang manfaat samgyetang.

“Akang tahu dari mana informasi tentang manfaat samgyetang? Tadi tanya sama Mr. Danny ya? “ Tanyaku penasaran.

“Ya, nggaklah.Tadi waktu kita tiba di hotel, Neng kan langsung ke kamar. Akang duduk dulu di lobby, browsing internet. Hehehehe....” 

“Lho, tadi katanya Akang kebelet mau ke toilet yang di lobby hotel, jadi Neng disuruh langsung ke kamar. Ternyata tadi itu hanya pura-pura ya? Lalu  waktu kita makan siang tadi, Akang sebenarnya sama sekali belum tahu manfaat samgyetang? Iiih... Akang curang! Sebal banget deh! “

“Bukan curang, Neng. Itu namanya siasat laki-laki cerdas. Modal browsing sebentar, bisa dipijat sampe ngorok. Makanya Neng jatuh cinta sama Akang karena Akang cerdas kan? .. Hahaha..” 

Cengiran lebar di wajahnya berubah menjadi tawa berderai. Senang bukan kepalang dia telah berhasil mengakali aku. Aku tak mampu lagi menahan diri. Kuserang dia dengan cubitan-cubitan kecil bertubi-tubi di perut, pinggang, lengan dan pahanya. Akang berteriak-teriak kegelian hingga terjungkal jatuh ke lantai.

“ Ampuuun, ampun  Neng...! Hahahahaha.....”


Sabtu, 25 Oktober 2014

9 Kegiatan Asyik Perekat Kemesraan Suami Istri

Seiring dengan usia pernikahan  yang  memasuki tahun ke 17,  aku dan suami merasakan hubungan kami semakin nyaman. Kami semakin saling memahami dan mendukung. Merasa tentram bila bersama, merasa rindu bila berjauhan,  dan merasa saling melengkapi satu sama lain. Begitu banyak nikmat dan karunia yang patut disyukuri sepanjang perjalanan mengarungi hidup bersama. 

Satu hal penting yang sama-sama selalu kami jaga adalah menjalin kemesraan. Ritme pekerjaan suami yang selama 2 minggu bekerja jauh di Selat Malaka dan 2 minggu libur di rumah justru  membuat kami bisa memanfaatkan waktu bersama menjadi lebih berkualitas.

Saat suami libur, kami sering melakukan kegiatan berdua. Bagaimana dengan anak-anak? Tentu saja selalu ada waktu buat mereka, tetapi seiring pertumbuhan anak-anak yang makin besar, mereka kini memiliki kegiatan masing-masing. Seringkali mereka tidak mau diajak pergi bersama-sama kami karena punya acara sendiri dengan kawan-kawannya. Ya, anak-anakku sudah memasuki masa senang bersosialisasi dengan teman-teman.

Hal yang paling disukai adalah merancang kegiatan berdua.  Kegiatan yang sebenarnya sederhana saja, kegiatan biasa yang umum dilakukan orang-orang, misalnya nonton film di bioskop, jalan-jalan atau kegiatan yang bisa dilakukan di rumah saja. Intinya tidak perlu terlalu pusing memikirkan kegiatan ini-itu, yang penting bisa dilakukan berdua dan merasa senang  melakukannya.

Nah, apabila teman-teman pernah merasakan suasana yang membosankan dengan pasangan dan ingin mendapatkan kembali kemesraan seperti awal pernikahan, beberapa kegiatan yang kami lakukan di bawah ini mungkin bisa dicoba.

Selasa, 21 Oktober 2014

Terapi Rehabilitasi Medik yang Manjur Mengatasi Nyeri Pinggang


Nyeri pinggang atau pinggul sepertinya bukan penyakit berat atau hanya penyakit ringan dan cukup familiar karena sering kita dengar ya? Banyak orang yang mengeluhkan penyakit ini tapi tak banyak yang menganggapnya sebagai hal yang serius.  Orang menganggap remeh keluhan ini karena seringkali  sembuh  sendiri secara alami tanpa melakukan tindakan apapun. Tapi bagaimana kalau rasa nyeri tersebut tak kunjung pulih  atau bahkan menjadi semakin parah dan mengundang keluhan lain?

Bermula  kira-kira empat hari sebelum lebaran Idhul Fitri 2014. Suamiku, si Akang, melatih otot perutnya dengan melakukan gerakan sit up. Namun keesokan harinya dia merasakan nyeri di pinggulnya. Rasa nyeri itu bertahan terus meski sudah beberapa kali dipijat.

Di pertengahan September 2014, ketika dia bekerja di lapangan, nyeri itu mulai terasa mengganggu. Akang bekerja di sebuah perusahaan minyak dan gas yang beroperasi di pulau Padang yang masuk ke dalam wilayah kabupaten Meranti di propinsi Riau.  Karena rasa nyeri di pinggulnya semakin menjadi  membuat Akang terpaksa mengkonsumsi  obat pereda nyeri agar sakitnya tak mengganggu aktivitas bekerja. Ternyata obat itu malah mengundang masalah baru. Salah satu kandungan dalam obat tersebut  meningkatkan asam lambung hingga Akang mengalami diare selama 3 hari.

Sakit  pinggul itu kini tak dapat dianggap enteng . Atas rekomendasi seorang teman, saat kembali ke Bogor, Akang berangkat sendiri ke Jogjakarta untuk menjalani terapi pijat  tradisional. Selama dua hari satu malam di Jogja, dia menjalani terapi pijat sebanyak 3 kali.

Pulang ke Bogor, kondisinya sudah membaik. Terapi pijat itu tampaknya berhasil. Akang tidak lagi merasakan sakit di pinggulnya, maka dengan antusias si Akang mengajakku touring ke daerah wisata Guci di kabupaten Tegal bersama beberapa orang teman sekantornya.

Selama di perjalanan dari Bogor ke Guci hingga kembali  ke  rumah, kondisinya baik-baik saja. Tapi keesokan paginya, ketika bangun tidur, rasa nyeri itu kembali hadir, bahkan terasa lebih parah dari sebelumnya. Dalam kondisi nyeri pinggul, Akang tetap bekerja di kantor Jakarta selama dua hari dan kemudian berangkat kembali bekerja ke lapangan yang total waktu perjalanannya mencapai 10 jam dengan menggunakan tranportasi darat, udara dan laut.

Semakin hari rasa nyerinya semakin parah. Akibatnya si Akang berjalan pincang dan  tak bisa melakukan gerakan rukuk dalam shalat dengan sempurna, lututnya harus ditekuk dengan tetap menahan rasa nyeri.  Dokter di lapangan merekomendasikan untuk melakukan  MRI ( Magnetic Resonance Imaging) di sebuah rumah sakit besar di Pekanbaru untuk memastikan penyebab nyeri itu. Sebenarnya sekitar 3 minggu sebelum terapi pijat di Jogja, Akang sempat melakukan rontgen di salah satu rumah sakit yang berada dekat dengan kantornya di Jakarta, hasilnya disebutkan tulang belakang dan tulang pelvixnya mengalami "sablaksasi" atau pergeseran posisi tulang belakang dan terjadi kekakuan otot.

Ternyata pemeriksaan MRI ini tak bisa berjalan mulus akibat phobia yang di derita Akang.  Dalam pemeriksaan MRI, dia diharuskan berbaring tenang selama 1 jam dalam sebuah alat yang mempunyai lorong yang sempit, sangat pas buat badan Akang yang tidak kecil. Nah, disitulah letak permasalahannya! Akang yang phobia terhadap ruang sempit menjadi panik dan selalu bergerak untuk menghilangkan kepanikannya. Akibatnya ya gagal deh MRI-nya! Dia hanya bisa bertahan 10 menit saja di dalam alat tersebut.

Petugas medis rumah sakit itu sudah mengupayakan berbagai cara, tapi tetap tak berhasil. Satu-satunya cara adalah dengan membius pasien, tapi tidak bisa dilakukan hari itu karena untuk pembiusan harus  melalui prosedur yang menghadirkan dokter ahli anestesi dan sebagainya. Akhirnya Akang hanya menjalani  pemeriksaan CT scan saja atas saran dari dokter perusahaannya.

Setelah menerima hasil CT scan dari rumah sakit tersebut, dokter di lapangan memutuskan Akang harus lebih cepat pulang untuk menjalani proses pengobatan selanjutnya, namun Akang menolak dengan alasan ada beberapa pekerjaan penting yang harus diselesaikan lebih dulu, Akang memilih untuk bertahan di lapangan dengan tetap menahan rasa nyeri di pinggulnya. Akhirnya, setelah 4 hari kemudian pekerjaan tersebut selesai dan Akang pulang satu hari lebih awal dari jadwal pulang normalnya. Atas rekomendasi beberapa orang teman, Akang dirujuk berobat ke RS Advent Bandung untuk berkonsultasi dengan dokter ahli rehabilitas medik.

Dokter itu tampaknya sangat populer dalam dunia rehabilitasi medik. Bila ingin berobat jalan, pasien harus super sabar menanti giliran dalam antrian yang panjangnya tak tanggung-tanggung. Orang yang akan menjadi pasien dokter tersebut harus menunggu antrian selama 4-5 bulan untuk bisa mendapat penanganan dari sang dokter.

Atas pertimbangan  keadaan Akang yang  butuh penanganan segera, maka dokter perusahaan menyarankan untuk rawat inap buat Akang di rumah sakit. Hal ini terpaksa dilakukan karena tindakan medis  akan  berlangsung beberapa kali dalam sehari selain waktu antri yang sangat lama bila harus menjalani berobat jalan. Tak mungkin kami yang tinggal di Bogor bolak-balik Bandung- Bogor untuk menjalani pengobatan.

Hari Rabu, 15 Oktober 2014, aku dan Akang berangkat dari Bogor jam 5 subuh.  Dengan kendaraan pribadi kami melaju ke Bandung via tol Purbaleunyi. Siapa yang nyetir? Tetap  saja si Akang. Hehehe... Padahal aku sudah menawarkan diri untuk jadi sopir, tapi dia tak mau.

“Kalau Neng yang nyetir, bisa kesiangan sampai di Bandungnya. Neng kan nyetir kayak keong...hanya berani sampai kecepetan 90 km/jam saja” seloroh si Akang.

Aku akhirnya setuju, dengan perjanjian bila nyeri pinggulnya mengganggu,  Akang harus rela aku yang menggantikan posisinya sebagai sopir.

Alhamdulillah perjalanan lancar meski agak macet di beberapa titik jalan tol, setelah istirahat dan sarapan di rest area jalan tol Purbaleunyi, kami sampai di RS Advent Bandung pada jam 9.30. Rumah sakit itu berada dekat   kawasan pertokoan Cihampelas, tepatnya di Jl. Cihampelas no 161 Bandung.

Aku kasihan melihat Akang yang meringis-ringis menahan sakit ketika turun dari mobil, jalannya terpincang-pincang. Tapi dasar bandel,  dia menolak untuk duduk di kursi roda ketika di tawari oleh petugas rumah sakit.

Proses administrasi pendaftaran berjalan lancar, karena sebelumnya sudah didaftarkan via telepon. Tak lama kemudian kami berdua sudah berada di hadapan dokter yang dimaksud. Namanya dr. Alvin L. Rantung, Sp. RM.

Ramah dan penuh senyum. Itulah kesan pertama bertemu dokter itu. Akang menceritakan bagaimana nyeri di pinggul yang dideritanya. Kemudian dia menyerahkan hasil rontgen dan CT scan sebagai dasar untuk melakukan analisa dan tindakan medis selanjutnya.

Dokter itu memasang hasil rontgen dan CT scan di sebuah layar putih dengan lampu yang membuat gambar siluet rangkaian tulang belakang  itu  terpampang jelas. Dengan lugas, dia menerangkan beberapa lokasi disposisi (perubahan letak) tulang yang terjadi pada Akang.

Kolumna Vertebra atau rangkaian tulang belakang adalah sebuah struktur  lentur yang terbentuk dari sejumlah tulang yang disebut vertebra atau ruas tulang belakang. Diantara tiap dua ruas tulang terdapat bantalan tulang rawan. Seluruhnya terdapat 33 ruas tulang.  Ada 24 ruas tulang yang terpisah, dan 19 ruas lainnya bergabung membentuk 2 tulang. Rangkaian tulang belakang terdiri dari 7 vertebra servical atau ruas tulang leher, 12 vertebra thorakal atau ruas tulang punggung, 5 vertebra lumbal atau ruas tulang pinggang, 5 vertebra  sacrum atau ruas tulang kelangkang,  dan 4 vertebra koksigeus atau ruas tulang tungging.

Secara medis, penyakit yang di derita Akang disebut Spondylosis thoracalis-lumbalis- unco vertebralis.  Spondylo berasal dari bahasa Yunani yang berarti tulang belakang. Spondylosis  dapat diartikan perubahan pada tulang belakang dengan ciri bertambahnya degenerasi discusi invertebralis yang diikuti perubahan pada tulang dan jaringan lunak.  Spondylosis pada Akang terjadi di servical (ruas tulang leher), thoracalis (ruas tulang punggung), lumbalis (ruas tulang pinggang) dan unco-vertebralis C5-6 kiri yang menyebabkan penyempitan ringan pada neuralis.  

Dokter menunjukkan pada ruas ke tiga tulang Akang yang terdapat sedikit pengapuran akibat dari ketidak seimbangan kekuatan otot kanan dan kirinya, dan posisinya agak bergeser. Akibat bergesernya tulang ini syaraf dan otot pun terpengaruh. Hal ini yang menyebabkan nyeri pada pinggang, jalan menjadi pincang dan tak mampu melakukan gerakan rukuk dengan sempurna.

Dokter ramah itu kemudian menjelaskan bahwa sebaiknya bila mengalami nyeri tidak boleh sembarangan dipijat, apalagi bila tukang pijatnya tidak mengerti anatomi tubuh. Dia menceritakan beberapa kasus yang pernah ditanganinya. Ada seorang bapak yang makin parah nyeri-nya setelah dipijat, bahkan ada salah satu pasiennya  menjadi lumpuh setelah dipijat.

“Dok, apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit ini? Apakah kesukaan suami melakukan olahraga angkat beban berpengaruh juga? “ tanyaku.

“Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya nyeri pinggang ini. Bisa karena perubahan degeneratif, penuaan, mengangkat beban yang berat terus menerus, obesitas, duduk dalam jangka waktu yang lama, stress dalam aktivitas pekerjaan, kebiasaan postur yang jelek dan tipe tubuh. Saya tidak bisa memastikan dari semua itu, mana yang menyebabkan timbulnya penyakit ini pada Pak Sutedja. “ jelas dokter Alvin.

“Kalau dibiarkan, apa yang terjadi, Dok?” tanyaku.

“Akibatnya akan makin parah. Bisa mengakibatkan nyeri yang mengganggu, keterbatasan gerak ke segala arah, spasme otot, hingga gangguan fungsi seksual. “

Dokter Alvin terkekeh melihat ekspresi ngeri di wajahku.

“Tidak apa-apa, kok. Kasus Pak Sutedja ini tidak terlalu parah. Meskipun ini merupakan akumulasi selama bertahun-tahun, tapi masih bisa dikembalikan posisi tulangnya dengan terapi fisik. “ ucapnya menenangkan.
Setelah konsultasi, dokter menyusun jadwal tindakan yang akan dilakukan. Hari itu Akang akan menjalani fisiotheraphy dan sebuah paket rehabilitasi medik yang disebut “ West Wing IV “.

Aku dan Akang kemudian istirahat di ruang perawatan di lantai 4 rumah sakit. Tak lama datanglah seorang anak muda, petugas fisiotheraphy yang membawa sebuah kursi roda.

“Mari, Pak. Kita ke ruang fisiotheraphy. Silahkan duduk di sini. “ katanya sambil tersenyum.

“Tidak perlu, dik. Saya masih bisa jalan. “ Si Akang tetap teguh dengan pendiriannya meski anak muda itu sedikit memaksa. Akhirnya kursi roda itu tak jadi dipakai.

Sekitar satu setengah jam kemudian, Akang kembali ke kamar. Jalannya masih terpincang-pincang.

“Rasanya bagaimana, Kang? “ tanyaku.

“Biasa saja. Lumayan enak dipijat. Tapi sakitnya masih tetap. “Akang bersungut sambil mengunyah makan siangnya.

Hari beranjak petang, sekitar jam tiga sore dokter Alvin muncul di pintu dengan seulas senyum lebar.

“Ayo kita mulai, Pak.“ katanya setelah menanyakan keadaan Akang.

Akang diminta duduk di ranjang. Dokter itu mengambil posisi dibelakang Akang. Tangannya memegang kepala dan dagu Akang. Dia kemudian mengarahkan kepala Akang ke samping kiri dan kemudian ke kanan dengan kekuatan terukur. Aku menatap mereka dengan sedikit ngeri. Pikiranku melayang pada adegan film action dimana sang jagoan mematahkan leher lawannya dengan gerakan serupa itu. Hiks...





“Wah, kalau dilakukan oleh orang yang tidak punya ilmunya bisa fatal ya, dok.” tanyaku.

“Betul. Leher bisa patah.“ senyum dokter Alvin terus mengembang.

Selanjutnya dia berfokus pada tulang leher. Dengan menekan pundak dan menarik kepala Akang ke belakang, dia melakukan dengan hati-hati dan kekuatan terukur. Beberapa saat kemudian, dia memintaku mengambil foto kepala Akang dari samping.  Sebelum dilakukan tindakan, posisi kepala Akang seolah terjulur ke depan, tapi sekarang sudah kembali tegak. Aku mulai terkesima.




Selanjutnya giliran kedua lengan Akang. Dia menarik lengan ke belakang, kemudian kesamping seperti melakukan peregangan otot, selanjutnya lengan dilipat dengan bertumpu pada kepala Akang. Setelah beberapa menit dia meminta Akang  menautkan kedua jemari di punggungnya. Dengan posisi tangan kanan diatas, kemudian bergantian tangan kiri yang di atas.



Akang berseru senang.

“Wah... Berhasil! “ wajah Akang berseri-seri sementara aku melongok tak mengerti.

“ Apanya yang berhasil? “ tanyaku.

“Biasanya kalau Akang melakukan peregangan menautkan jari seperti tadi, jari-jari Akang tak pernah bisa bersentuhan. Sekarang kok tiba-tiba bisa!”

Aku menatap dokter Alvin dengan takjub. Dokter itu tersenyum lebar.

“Itu tandanya posisi tulang sudah simetris.” jelasnya.


Sekarang Akang berbaring tengkurap. Dokter kemudian berfokus pada tulang pinggang Akang. Adegan selanjutnya, Dokter Alvin menekan, menekuk, mendorong, menarik, pinggul dan pinggang bahkan “melipat-lipat” kaki Akang. Akibatnya heboh,   Akang berteriak-teriak kesakitan.

Aku memandang mereka dengan ngeri sekaligus geli.  Hatiku berdebar-debar menanti hasil dari rangkaian adegan menyakitkan itu sambil memotret.

Lalu selesai sudah. Dokter Alvin meminta Akang berdiri.

“Masih nyeri?” Tanyanya.

“Tidak lagi, dok.” Sahut Akang. Wajahnya tampak bengong setengah tak percaya.

“Coba jalan. “ pinta Dokter itu.

“Wah, nggak pincang lagi!” Kali ini aku berseru. Akang tersenyum-senyum senang, lalu dia melakukan gerakan rukuk.

“Bisaa!” Serunya senang bercampur takjub.

“ Alhamdulillah....”

Dua puluh menit saja. Ya, tak lebih dari dua puluh menit adegan seram tekuk menekuk itu dijalani Akang, kini dia sumringah. Seperti sulap saja.

Alhamdulillah... Memang Tuhan sudah menciptakan manusia dengan keahliannya masing-masing, dan Dokter Alvin merupakan jalan yang dipilihkan Allah SWT untuk kesembuhan Akang.

“Jadi, saya sudah sembuh, dok?”Akang bertanya seolah tak percaya.

Dokter Alvin terkekeh-kekeh memandang kami berdua.

“Ya. Dengan kuasa Tuhan.“ ucapnya bijak.

“Nanti malam boleh jalan-jalan ya, dok? “ Akang bertanya di tengah tawa girangnya.

“Ya, boleh. Jalan saja sana. Kan sudah sehat. Makan malam di Ciwalk sambil belanja. Hehehe... “ lanjutnya kemudian.


Kami mengucapkan terimakasih pada dokter ramah itu.

“Tidak perlu lama-lama disini. Besok sekali lagi terapi dengan saya, lalu ada dua sesi fisiotherapi. Kemudia hari jumat sekali lagi fisioterapi setelah itu boleh pulang. “ ujar dokter Alvin menutup pertemuan hari itu.
Malamnya aku dan Akang seolah merayakan kebahagiaan. Suster-suster rumah sakit bengong melihat kami berdua melenggang melewati mereka.

“Lho, pada mau kemana ini? “ Seru salah satu suster. Suster yang lain bengong melihat pasiennya  jalan-jalan.

“Kami jalan-jalan dulu ya... sudah dapat izin dokter. “ seruku riang sebelum pintu lift tertutup.

Esok harinya, setelah menjalani satu sesi fisiotherapi, dokter Alvin datang lagi. Dia menanyakan kondisi Akang.

“Sudah enak, Dok. Meski masih ada sedikit ngilu di pinggul.”

“Ya, itu sisa peradangan, bisa diatasi dengan obat. “ ujar dokter Alvin.

Lalu dokter Alvin melakukan lagi terapi fisik yang berfokus pada kaki Akang. Dia melakukan semacam gerakan peregangan.

“Gerakan ini boleh dilakukan sendiri ya, untuk menjaga kelenturan. “

“Dokter, apa pantangan yang tak boleh dilakukan supaya nyeri  tak terulang lagi ?” tanyaku.

“Ya, untuk sementara jangan dulu mengangkat beban yang berat-berat. Istirahat dulu beberapa saat. “

“Itu saja, dok?”

“Iya.”

“Berarti boleh touring lagi, dok?” tanya Akang antusias.

“Hahaha....” Dokter Alvin tertawa sambil mengangguk-angguk “Setelah istirahat beberapa minggu ya.” sambungnya.

Kami berulang kali mengucapkan terimakasih pada dokter Alvin. Aku menatap pria ramah  bertubuh tinggi dan langsing itu. Sungguh apa yang dilakukannya membutuhkan kondisi fisik yang prima. Dalam hati aku berharap dia selalu dalam kondisi sehat dan kuat sehingga lebih banyak lagi pasien yang terbantu mencapai kesembuhan dengan keahliannya.

Malam itu, kami kembali jalan-jalan menikmati suasana di Bandung, kali ini kawasan Paris Van Java menjadi pilihan. Rasanya senang sekali berjalan kaki  bersisian, dan bergandengan tangan . Romantis itu sederhana. Hehehe...

“Kesehatan itu baru terasa sangat berharga disaat-saat seperti ini ya, Neng. Nikmat Allah begitu besar. Kita selama ini tak menyadari bahwa kemampuan berjalan kaki dengan normal seperti ini, hal remeh yang biasa kita lakukan, ternyata merupakan  nikmat yang tak terhingga. Kalau tak pernah mengalami berjalan pincang dan merasakan nyeri, kita tak pernah sadar untuk terus bersyukur.” ucap Akang.

Aku meresapi kata-katanya sambil menelusuri suasana malam melewati deretan caffe-caffe cantik dan pertokoan gemerlap  berhias lampu-lampu indah.

Aku tersenyum, lalu  menggamit lengan Akang. Rasanya nyaman sekali melihat dia bisa beraktivitas tanpa meringis-ringis lagi menahan rasa nyerinya. Aku bersyukur untuk jalan kesembuhan yang telah dibukakanNya. Alhamdulillah....