Laman

Senin, 02 Juli 2018

Honeymoon Ala Biker dan Boncenger di Kampung Sampireun Garut


Kampung Sampireun Garut

Dua puluh tahun jadi pasangan suami istri,  Aku dan si Akang Sutedja tentu inginnya rumah tangga kami langgeng, sakinah mawaddah warrahmah sampai kehidupan abadi di surgaNya, Aamiin..

Malam menjelang  28 Juni 2018, aku dan Akang nyantai tidur-tiduran di kamar. Kami mengenang lagi setiap mile stone perjalanan pernikahan kami. Alhamdulillah..Banyak sekali nikmat kebahagiaan yang kami rasakan.

Selalu bahagiakah? Ya ada juga bumbu lainnya dong. Kami, eh tepatnya aku, pernah baper-baper nggak jelas saat menanti Allah menitipkan amanah tamu istimewaNya. Lalu anak-anak lahir, seiring dengan karier si Akang dan rezeki  yang terus meningkat .


Kami pernah sibuk dengan urusan masing-masing. Aku dengan anak-anak,  urusan teman-teman arisan dan berbagai komunitas. Akang dengan pekerjaan dan hobbinya, motor besar dan photography.

Kami pernah tampak baik-baik saja, padahal romantisme sudah mulai jauh berkurang. Cinta kami ibarat ranting pohon yang daunnya meranggas kurang pupuk. Tapi alhamdulillah, ada yang duluan tersadar kalau kemesraan patut dipelihara, dijaga dan dibina, lalu gayung pun bersambut.

Konflik? Ya jelas pernah dong. Mana ada rumah tangga nggak pake bumbu konflik. Justru berkonflik itu adalah proses saling mengenal, saling memahami, saling belajar, dan ujungnya saling menyesuaikan untuk mendapatkan solusi terbaik sehingga kedua-duanya kembali merasa nyaman.

Berbuat salah? Ya elaaah...pernah jugalah. Kita kan bukan malaikat, Coy 😜. Hehehe...Tapi selama mau mengakui kesalahan dan meminta maaf, maka proses berbaikan jadi jauh lebih mudah.

Bertumbuh? Iya juga. Alhamdulillah aku dapat kesempatan belajar Enlightening Parenting dan Transforming Behaviour Skill dari Mbak Okina Fitriani. Ilmunya banyak sekali membantu aku dalam menghadapi berbagai problem kehidupan. Meski butuh waktu 2 tahun untuk mengajak si Akang belajar juga. Kini aku merasakan hubungan kami jadi makin solid.  Bertambah lagi kegiatan bermanfaat yang bisa kami lakukan berdua, yaitu men-share pengetahuan dan pengalaman kami di dunia Parenting bersama team sharing Enlightening Parenting.

Cemburu? Adaaa... Ini bagian paling seru ibarat  "emotional roller coaster". Racikannya terdiri dari amarah, tangis, kekonyolan, tawa, hingga kelegaan. Lengkap deh kayak  ending-nya drama Korea. 😝

Akang menghadiahkanku sebuah puisi cinta di hari ulang tahun pernikahan kami, 28 Juni 2018. 


Puisi Cinta si Akang

Rasanya bersyukur banget atas semua hikmah perjalanan rumah tangga kami. Jadi untuk makin merekatkan cinta, si Akang mengajak mesra-mesraan sambil touring dengan motor  ke Garut.
Kok ke Garut? Yaa... pengennya sih touring naik motor di Eropa sana seperti yang pernah dilakukan kawan-kawan moge si Akang. Tapi apa daya, sampai saat ini belum kesampaian. Hehehe πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
Jadi realistis saja deh. Punya waktu cuma dari Jumat sore, sampai Minggu malam. Garut tidak terlalu jauh dari Bogor. Udaranya sejuk dingin. Mirip-miriplah sedikit dengan temperatur Eropa di musim semi (maksaπŸ˜€). Enak buat peluk-pelukan gitu. Eaaaa..πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•

Mendadak cari hotel di Garut itu ternyata bikin deg-degan. Beeeww...hotel-hotel unggulan Garut terutama yang di kawasan Cipanas penuh semua! Ya ini kan musim liburan. Di Samarang Garut,  ada resort Kampung Sampireun, tersisa hanya  dua kamar saja. Ya sudah deh, kami ambil satu kamar. Nggak bisa pilih jenis kamar lainnya karena sudah penuh.

Sebenarnya si Akang sudah tahu sejak lama tentang Kampung Sampireun ini. Beberapa tahun lalu dia dan rombongan club motor besarnya pernah mampir dan hang out, ngopi-ngopi, makan pisang goreng  di tempat ini. Tapi tidak menginap. Menurut si Akang tempat ini cocok buat romantis-romatisan. Tenang, adem dan cantik pemandangannya.

Bersama si Kuning

Akhirnya hari yang dinanti tiba.  Jumat 29 Juni 2018, setelah si Akang pulang dari kantornya, kami berangkat.  

Dari  rumah di Bogor pukul 15.20. Cuaca sangat cerah.  Kami berdua melaju di atas si Kuning, kuda besi 650 cc yang lincah meliuk-liuk di celah keramaian lalu lintas.

Ketika melewati puncak, lalu lintas padat. Antrian kendaraan mengular. Tiba-tiba dibelakang kami ada mobil dengan sirine meraung-raung. Akang memberi jalan mobil itu melaju mendahului kami. Oh, ternyata mobil dinas tentara.

Si Akang cepat-cepat menambah laju si Kuning sehingga kami persis berada di belakang mobil bersirine itu. Mobil-mobil lain meminggirkan arahnya sehingga terbukalah  jalan.

“Nguiiing...nguiiing...nguiing..” Sirine menjerit-jerit. Mobil tentara melaju diikuti  si Kuning. Hihihi...πŸ˜ƒπŸ˜ƒ Alhamdulillah tidak kena macet karena  terus “menempel” di belakang mobil tentara sampai antrian kendaraan terurai.

Di daerah Ciranjang, lalu lintas padat kembali menghadang. Jalan dipenuhi pasukan pekerja pabrik yang menggunakan motor usai jam pulang kerja. Padat merayap hingga beberapa kilometer.

Singgah di Ciranjang

Akang menghentikan motornya di sebuah POM bensin di Ciranjang. Kami melakukan shalat maghrib. Setelah shalat, Akang membawa motornya untuk diisi bahan bakar. Ketika akan membuka tangki bahan bakar si Kuning, eeh...kuncinya macet.

Oalaah..ketahuan banget sudah terlalu lama nggak touring.  Sudah kelamaan tidak membuka tangki motor, kayaknya karatan. Hihihi..πŸ˜†Terpaksa Akang minggir dulu.

“Neng coba cari minyak. Minyak goreng sedikit juga nggak apa-apa.” Pinta si Akang

Aku celingukan.  Di seberang jalan kulihat ada penjual gorengan. Tapi ketika aku baru akan menyeberang si Akang berteriak.

“Neng!”

Aku menoleh. Akang menunjuk ke sebelah kiri. Oh ternyata aku tak perlu menyeberang jalan. Ada juga penjual gorengan yang mangkal di sisi jalan sebelah POM bensin.

“Bu, bolehkah saya minta sedikit minyak gorengnya. Kunci motor macet, perlu diminyaki.” Aku berkata pada si Ibu yang sedang berdiri menunggui dagangannya. Aku sodorkan uang ke arahnya.

“Oh, boleh.” Si Ibu mengambil wadah bekas minuman. Diisinya dengan sedikit minyak.

“Ini Mbak. Tidak usah bayar. Gratis.” Ucapnya sambil tersenyum. Dia tetap menolak ketika aku coba merayunya supaya mau menerima uang itu.

“Wah, terimakasih ya Bu.. Semoga  Allah melimpahkan rezeki buat Ibu.”

“Aamiin.”Si Ibu tersenyum.😊

Aku menyerahkan wadah berisi minyak itu pada Akang. Ternyata tangki motor sudah bisa dibuka. Tapi minyak itu tetap berguna untuk melumasi bagian-bagian kunci yang kesat. Alhamdulillah..

Setelah makan malam, Akang mensetting google maps, menuju Kampung Sampireun. Kami melanjutkan perjalanan.

Malam merambat. Ketika baru masuk Jalan Sukarno Hatta Bandung, google maps mengarahkan kami ke jalan yang lebih kecil, ke arah Cibaduyut. Alhamdulillah, kami tidak harus melalui jalan yang macet. Kemudian  melewati gerbang kecamatan Ibun kabupaten Bandung. Jalan makin lama makin menanjak. Udara dingin mulai menusuk. Kami terus melewati Majalaya.

Aku menatap langit malam yang terang. Kok terang? Tentu saja, karena bulan bulat sempurna bertahta di angkasa. Awan-awan putih berarak laksana kapas. Siluet gunung bersambungan dengan bukit-bukit, dan pepohonan menjadi latar belakangi sawah-sawah di kiri kanan jalan.

Tiba-tiba asap putih tebal terlihat membumbung di sisi kiri jalan. Cahaya lampu-lampu, pipa-pipa besar terjulur sepanjang sisi jalan. Rupanya kami melewati Kamojang Geothermal Power Plant. Asap putih yang terus menerus keluar melengkapi suasana dramatis perjalanan malam itu.

Si Kuning menunjukkan tajinya. Dia meliuk-liuk lincah mengikuti kelok jalan berliku   menanjak dan terus menanjak tajam. Sepi. Hening. Dingin. Temaram. Deru mesin si Kuning memecah sunyi. 

Dingin membuat jari-jari terasa kaku. Aku menyesal lupa mengenakan sarung tangan. Kupeluk  punggung laki-laki separuh jiwa.  Sepenuh hati kunikmati perjalanan di bawah siraman cahaya bulan. Apakah ini yang dinamakan romantis? Entahlah.. Ya Tuhan, alhamdulillah.  Rasanya tentram dan  damai.😍😍

Kulirik google maps, jarak ke tujuan makin dekat. Malam makin larut. Dingin terasa semakin menggigit. 

Pukul 22.30, setelah menempuh jarak 200 km, akhirnya tibalah kami di Kampung Sampireun Resort and SPA.

Resort ini terletak di  Jl. Raya Samarang Kamojang Sukakarya Samarang Garut Jawa Barat, Sukakarya, Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat 44151. 

Lobby Kampung Sampireun

Setelah check in, petugas hotel mengantar kami dan barang-barang bawaan ke kamar.

Nuansa kamar bergaya tradisional. Lha, namanya saja Kampung Sampireun, jadi bergaya etnis Sunda. Dinding geribik dengan batangan bambu. Ada TV dan perabot kayu. Tidak ada AC, tentu saja. Dinginnya alami.

Kamar Kalapalua @Kampung Sampireun
Di atas tempat tidur ada kain putih yang disampirkan sebagai hiasan. Tempat tidur terdiri dari dua single bed.


“Wah, twin bed ya? Bukan single bed. Kurang mesra dong..” Protesku.


“Iya Bu. Maaf, kami hanya punya kamar dengan twin bed ini. Kamar lain yang  ada ranjang besarnya sudah penuh.” Ujar si Mas.

Mas petugas hotel kemudian merapatkan jarak dua tempat tidur single menjadi satu.  Ya lumayanlah, jadi agak legaan juga tempat tidurnya. Bisa bobok sambil peluk-pelukan dong. CihuyπŸ˜‚πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’˜πŸ’ž

Kamar mandi dilengkapi air panas dan dingin. Di kamar ada satu set teko untuk memasak air, lengkap dengan teh, kopi, gula dan creamer. Tidak tersedia mantel kamar.

Kamar sudah termasuk sarapan pagi untuk dua orang. Lalu ada makanan ringan tradisional berupa serabi yang diantar ke kamar sebelum jam 7 pagi, minuman sekoteng diantar ke kamar sekitar jam 9 sampai 10 dan afternoon tea di resto Seruling Bambu dengan menu teh, kopi, kacang rebus,  dan singkong goreng.

Kami segera mandi. Lelah membuat kami mudah  tertidur pulas di atas kasur yang nyaman dan selimut tebal.

Kami terbangun saat waktu subuh. Usai shalat, udara dingin mendorong kami untuk bermalas-malasan di tempat tidur.

Dari kamar sebelah terdengar sudah ada aktivitas. Ada suara orang, lalu suara seseorang sedang sikat gigi.

“Suara orang lagi sikat gigi itu jelas banget, ya Neng. Artinya kita juga kalau mandi, kedengaran dong sama orang di sebelah.” Ucap Akang.

“Ya iyalah. Kan kamar mandinya bersebelahan, malah lubang anginnya nyambung.” Sahutku.

“Bangun yuk, lihat-lihat suasana.”Ajak Akang.

Aku sedang berdiri di dermaga kayu tepi danau. Akang sibuk mengutak-atik kamera ketika sorang pria menghampiri. Lha.. sama-sama kaget, kami berseru senang. Rupanya pria itu Kak Ono. Sepupunya Akang yang tinggal di Cikampek. Waah... lebih seru lagi kami tertawa-tawa ketika tahu bahwa kamar kami bersebelahan. Berarti yang tadi kedengaran sedang sikat gigi itu Kak Ono. Hahaha...πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†











Kak Ono bersama istri dan dua anaknya. Pagi itu kami ngobrol, berfoto-foto dan sarapan bersama. Alhamdulillah senang bertemu saudara. Bisa saling tukar informasi, mulai dari  tempat wisata hingga informasi tentang durian.

Lha kok durian? Itu buah kesukaan si Akang. Rencana akang ingin berburu durian di Kemrajen Banyumas. Ternyata Kak Ono malah sudah banyak pengalaman. Bukan cuma menikmati durian Bawor dan Duri Hitam yang ngetop banget, Kak Ono bahkan sudah pernah menjalankan bisnis jual durian.

Sarapan di Resto Seruling Bambu bersama Kak Ono dan Teh Ika

Sarapan di Resto Seruling Bambu Kampung Sampireun menunya lumayan. Ada cemilan tradisional seperti getuk, pisang rebus, ubi rebus. Ada salad sayuran, roti dengan aneka selai, cake, puding, serabi dan  bubur kacang hijau. Makanannya ada soto mie, bubur ayam, kupat tahu, nasi dan lauk pauk, mie goreng, dan pasta. Ada aneka sambal, dan kerupuk. Minumannya teh, kopi, air putih, jamu, dan susu.

Satu kamar dapat sarapan untuk dua orang. Kalau  tamunya lebih dari dua orang, dikenakan charge Rp. 100.000,- per orang

Setelah perut kenyang, kami merencanakan akan jalan-jalan ke Kebun Mawar Situhapa. Aku tahu tempat ini setelah melihat foto pengantin baru, mbak Vidya dan suaminya di Instagram. Menurut google maps, tempat itu cukup dekat dari Kampung Sampireun.

“Kita jalan kaki aja yuk Neng. Menurut google maps cuma 17 menit saja lho, sekalian ngebakar lemak nih.. Kita kan  sudah makan banyak.” Usul Akang sambil mengelus-elus perutnya yang kekenyangan.

Membayangkan jalan di udara dingin dan sejuk, sepertinya akan baik-baik saja, nggak bakal keringetan, maka aku setuju.

Aku dan Akang berjalan penuh semangat menuju arah yang ditunjukan Google Maps. Tapi kok lama-lama langkahku jadi berat ya? Langkah yang tadinya sejajar dengan  si Akang, lama-lama ketinggalan.

“Ayo Neng, semangat! Kok ketinggalan jalannya?”

“Ternyata jalannya menanjak terus. Berat Kaang...πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“” Keluhku. Mataku menatap jalan yang curam berkelok, setengah putus asa. Nafasku tersengal-sengal kepayahan.

Akang menghentikan langkahnya. Tak tega dia melihat istrinya ngos-ngosan. Sambil nyengir dia berbalik arah.

“Ya sudah, kita balik lagi saja yuk! Ambil motor. Jadi setelah dari Kebun Mawar Situhapa, kita jalan lagi ke tempat lain.”

“Yaa.. Coba dari tadi naik motor saja. Gaya benar kita ya! Kirain enak jalan kaki.  ”

Kami terbahak πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Balik badan, kembali menuju Kampung Sampireun.

Kebun Mawar Situhapa tak jauh letaknya dari Kampung Sampireun. Tempat ini sebenarnya adalah penginapan yang bernuansa tenang yang menyuguhkan pemandangan indah dengan hamparan bunga mawar. Lokasi terletak di Jl Raya Kamojang km 5, Samarang, Garut, Indonesia 44161. Berada pada ketinggian 1150 MDPL dengan luas tanah 5 HA. Titik lokasi  berada ditengah gunung-gunung yang ada di garut seperti Gunung Guntur, Gunung Cikuray, Gunung Papandayan dan Gunung Talaga Bodas.

Kebun Mawar Situhapa

Di pintu masuk, kami menitipkan helm pada pak Satpam. Lalu aku membeli tiket masuk di sebuah bangunan yang menjadi satu dengan toko souvenir. Harga tiket masuk Rp. 17.500/per orang.





Masuk ke area kebun, pemandangan terlihat hijau , lega dan asri. Tapi bunga-bunga tidak banyak. Tampaknya kami berkunjung bukan di saat bunga sedang bermekaran.




Terdapat restoran di sana, dan ada juga coffe shop. Lalu bangunan-bangunan kamar penginapan yang didepannya dihiasi taman bunga. Ada lapangan dengan tanaman kaktus besar-besar, dan sebuah rumah kaca untuk mengembangkan bunga Begonia.





Sebuah labirin terbentang dengan dinding terbuat dari tanaman hijau, cantik sekali untuk di foto. Untuk mengambil foto labirin ini pengunjung bisa naik lewat undakan kayu, agar bisa merekam gambar dari atas. Ada tempat pembiakan bunga, dan arena tempat bermain anak di bagian atas.

Labiryn di Kebun Mawar Situhapa

Setelah puas berfoto-foto, aku mencari-cari lewat internet objek wisata lain yang tak terlalu jauh. Melihat foto-foto yang indah, akhirnya aku menjatuhkan pilihan ke tempat wisata Situ Bagendit.

Kami sempat tersesat karena Google Mapsnya ngawur. Akhirnya balik lagi dan ketemulah lokasi Situ Bagendit yang berada di pinggir jalan. Tiket parkir Rp. 5.000 dan Tiket masuk Rp. 5.000,- per orang.

Di foto yang beredar di internet, Situ Bagendit tampak cantik sekali. Sayangnya aslinya tidaklah demikian. Aku kecewa melihat tempat ini dihiasi tumpukan sampah di sana- sini. Bahkan sampai dipinggiran danau, sampah plastik dan bungkus-bungkus makanan berceceran.

Gubuk-gubuk bambu tempat berjualan  dibangun tak beraturan. Pengunjung ramai, duduk berjejalan di warung-warung. Sebuah arena bermain dengan bangkai kereta bobrok yang sudah tidak dapat digunakan lagi terletak di tengah, seolah makin melengkapi suasana tak terawat tempat wisata ini.

Seorang laki-laki mengenakan pakaian Super Hero berdiri di tengah area itu. Dia berusaha menarik perhatian anak-anak agar mau berfoto dengan membayar sejumlah uang.

Laki-laki penjual tiket perahu angsa menawari anak-anak. Deretan rakit bambu berjejer menanti pengunjung menggunakan jasanya. Terlihat begitu semrawut!

Situ Bagendit
Aku dan Akang duduk menatap suasana danau. Kami tak betah di sini. Bahkan untuk berfoto pun malas rasanya. Akang hanya mengambil satu foto saja. Kami duduk sebentar, ngemil kue pancong dan minum air mineral.

Seorang ibu yang duduk di sebelahku berusaha mengajak aku berbincang-bincang, dia mengeluh tentang liburan anak  sekolah yang masih panjang sehingga terpaksa dia harus mengeluarkan uang ekstra untuk mengajak anaknya jalan-jalan. Tapi si Ibu bicaranya campur-campur bahasa Sunda. Aku tidak paham. Jadi aku tanggapi dengan senyuman saja. Maaf ya bu..

“Yuk kita shalat Neng.. Setelah itu jalan lagi.” Ajak Akang.

Tahu CrunchyπŸ˜‹ di Cimanuk Food Market
Kami akhirnya terdampar di tempat makan anak muda, namanya Cimanuk Food Market. Tempat itu sepi, tapi entah kenapa aku suka duduk di situ setelah menghadapi  keramaian yang semrawut di Situ Bagendit.

Makanannya murah-murah. Aku memesan bakso aci dengan ceker ayam, dan tahu crispy, dan teh tarik. Akang pesan ceker mambo, teh tarik dan susu murni.

Ternyata masakannya enakπŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹. Bakso aci dengan kuah hangat spicy cocok sekali dinikmati di udara sejuk kota Garut. Akang bilang ceker mambo-nya juga enak. Tahu krispi pun enak sekali. Akibatnya kami kekenyangan, padahal rencananya mau makan daging domba di Domba House.

“Jadi gak,Neng, kita ke Domba House? Akang sih kenyang banget.” Tanya Akang

“Besok aja deh..Neng juga kenyang.” Sahutku.

Kami kembali ke Kampung Sampireun. Setelah menikmati afternoon tea, kami membeli buah mangga dan jeruk Garut yang segar di area hotel. Kemudian kami bermalas-malasan di kamar, ngobrol mesra  sambil kemulan selimut hingga akhirnya tertidur setelah shalat Isya.

Jeruk Garut. SegarrrπŸ‘πŸ‘πŸ’š
Paginya, setelah sarapan,  kami menikmati suasana Kampung Sampireun. Leyeh-leyeh tiduran  di gazebo sambil mendengarkan gemericik air. Main-main di kolam ikan. Berfoto di Saung Abah, sebuah rumah-rumahan tradisional Sunda yang kental suasana desa. Menyusuri jalan melingkari danau. Duduk-duduk dan bercanda di bawah naungan pohon bambu yang rindang. Menikmati setiap sudut cantik tempat ini.  Memang indah dan menyejukkan hati suasana di tempat ini.






















Sebelum kembali ke Bogor, kami sempatkan mampir ke Kamojang Ecopark. Tiket masuk seharga Rp. 15.000,- per orang dengan bonus minuman teh botol.

@Pintu Gerbang Kamojang Ecopark

Tempat ini mengandalkan deretan pohon pinus, dengan undak-undakan yang berpusat di sebuah area panggung dibagian tengahnya.  Beberapa laki-laki tengah menyuguhkan  pertunjukan ular di panggung itu.




Sepintas, suasana mirip hutan wisata Punti kayu di Palembang. Bedanya, di Kamojang Ecopark udaranya sejuk, langit biru, tidak ada nyamuk, tapi fasilitas hiburannya minim.

Akang tampak bosan. Dia memilih duduk memperhatikan ular kobra di panggung, sementara aku memilih melihat-lihat suasana.




Di  bagian atas, pemandangan terlihat cantik. Ada spot untuk berfoto di ketinggian dengan latar gunung dan langit biru.  Kami sempat berfoto  di sini.

Acara touring ala biker dan boncenger yang sedang merayakan cinta ditutup dengan menikmati masakan domba Garut di resto Domba House. Kami memesan sate, tongseng, sop dan steak. Wow... kenyangnya.

Masakan di Domba House lumayan enak, meski pun menurutku tak seenak warung sate kambing langganan kami di Bogor.

Sate, Tongseng dan Sop di Domba House

Jam menunjukkan pukul 14.30 ketika si Kuning membawa kami keluar area Kampung Sampireun, menuju Bogor. Kami menikmati jalanan macet akibat salah mensetting google maps. Melewati puncak yang dingin, lalu lintas padat namun masih berjalan lancar.

Alhamdulillah tiba di rumah pukul 21.30. Meski pun lelah dan merasa kurang fit, Akang tetap harus ke Jakarta malam itu juga, karena setiap Senin pagi harus ikut meeting dan tidak boleh datang terlambat.


Aku memeluk Akang erat-erat sebelum dia berangkat.  Duhai.. berat sugguh perjuangan mujahidku tercinta, demi membahagiakan istri dan anak-anaknya.πŸ’–

“Terimakasih honeymoon-nya ya Akang sayang..😘😘😘😘😘 Semoga rumah tangga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin"

5 komentar:

  1. Cerita dan gambar yg sama sama romantis tis! :)

    BalasHapus
  2. @mutiah ohorella : terimakasih Mbak Oti

    BalasHapus
  3. Cerita nya begitu romantis dan poto2 nya yg bikin baper kita bngt Teh... Smg slalu semakin SAMAWA ya
    Terimakasih untuk cerita yg singkat tp berkesan melibatkan kami dari perjalan honeymoon teh Dewi dn akang nya
    Salam sukses slalu. Buat teteh ku yg cantik

    BalasHapus
  4. Selamat yΓ a iwed dan akang smg sll diberi kesehatan dan kebahagian bersama anak-anak

    BalasHapus
  5. mantaap menarik banget ya kampung Sampireun dijadiin tempat liburan. honeymoon ke sini seru juga tuh kayanya hehe

    BalasHapus