Laman

Sabtu, 22 Agustus 2009

Tradisi Makan Bersama “Cucurak”




-->
Senang juga aku sudah dapet banyak teman-teman baru di Bogor. Mereka adalah Ibu-ibu yang anaknya satu sekolah dengan Rafif di TK Islam ibnu Hajar.

Rata-rata mereka ramah, seperti layaknya orang Sunda. Meski ada juga beberapa orang yang kurang bersahabat. Tapi biasalah, bagiku dimana-mana sama saja, seperti juga di Palembang, ada yang baik, ada yang kurang baik. Yang penting aku sudah mulai menikmati bergaul dan berteman, karena banyak hal bisa didapatkan dari teman. Bisa berbagi informasi, curhat dan juga saling membantu.
Tanggal 18 Agustus yang lalu, untuk menambah kuatnya tali silaturahmi antar orang tua murid, sekalian juga untuk merayakan hari merdeka dan datangnya bulan Ramadhan, orang tua murid TK Ibnu Hajar mengadakan tradisi “Cucurak” atau makan bersama. Uniknya acara ini adalah “berbagi dalam kebersamaan”. Jadi setiap orang diharapkan membawa nasi atau makanan pokok untuk dirinya sendiri, dan juga membawa lauk dalam jumlah lebih banyak untuk di bagi kepada teman-teman.

Sehari sebelumnya aku sudah memikirkan akan membawa lauk apa. Beberapa ibu menyarankan aku membawa masakan khas Palembang. Tapi aku ragu, karena tidak semua orang bisa menerima masakan Palembang seperti Tempoyak atau brengkes. Ketika aku jelaskan apa itu tempoyak ( durian yang difermentasi sehingga rasanya asam, dan biasanya dicampurkan ke sambal atau dipakai sebagai salah satu bumbu pepesan), aku bisa melihat ekspresi keheranan dari wajah mereka. “Rasanya bagaimana?” tanya mereka. Aku cuma tertawa. Masalah rasa itu subjektif. Tentu saja rasanya lezat menurut mereka yang suka, tapi bisa jadi rasanya aneh buat yang tidak terbiasa memakannya.

Aku memutuskan masak makanan yang bisa dimakan siapapun juga.Akhirnya jadilah aku membawa orak-arik teri kacang dan tempe.

Hari itu cukup meriah. Ibu-ibu sejak pagi sudah sibuk memperbincangkan menu yang mereka bawa. Ada yang saling intip bawaan masing-masing. Ada yang sibuk menanyakan resep masakan, ada pula yang sibuk bertanya-tanya mau beli lauk dimana, karena tak sempat masak.

Jam 10, Ibu-ibu semua berkumpul di halaman dalam sekolah. Ada 3 saung atau gazebo, tapi hanya 2 yang bisa dipakai karena sudah dilapisi dengan karpet. Aku dan beberapa ibu-ibu langsung mengambil tempat di salah satu saung dan mulai menggelar makanan. Beberapa ibu duduk disaung yang lain, dan selebihnya menggelar tikar.

Melihat masakan yang di bawa, terlihat beraneka ragam dan sungguh mengundang selera. Ada yang bawa tumis cumi asin dan cabai, sayur asem, orak arik oncom, pepes tahu, mie schotel, semur jengkol, sambel, lalapan, tempe goreng, dan lain-lain. Sebenarnya tidak terlalu istimewa, tetapi karena makannya di tempat yang sejuk dan terbuka dan juga dilakukan beramai-ramai jadi terasa lebih asyik dan nikmat.


Aku senang melihat teman-teman makan dengan lahapnya, sambil bercanda dan bercerita. Riuh rendah suara tawa dan desis kepedasan dari mulut mereka terasa menambah seru acara ini. Kalau saja aku tidak sedang diet, pasti aku makan lebih banyak lagi, seperti salah satu ibu yang sedang hamil. Melihat dia makan rasanya nikmaaat sekali.


Aku tertawa geli, waktu aku bertanya pada salah seorang ibu apa resepnya membuat orak-arik oncom yang sedap itu, si ibu cuma cengengesan. Akhirnya setelah beberapa saat, dia mengaku kalau itu bukan masakannya, tapi masakan mertuanya. Yaaah.... gak jadi dapet resepnya dong..

Hari itu aku dapat pengalaman baru, yang unik dan mengasyikkan. Selain nikmat, acara ini membuat keakraban dan persaudaraan lebih terjalin.

Senin, 17 Agustus 2009

Aktivitas Pagi di Club House



-->
Pagi yang cerah di hari ulang tahun kemerdekaan. Anin, Dea dan Rafif semangat ingin berenang, lalu aku menunggui mereka di club house.

Duduk di dekat kolam renang di bagian yang terlindung dari sinar matahari, aku asyik memprehatikan tingkal polah orang-orang yang hadir disini.

Sekelompok anak-anak dan pengasuhnya asyik bermain di kolam anak. Tapi tidak cuma anak-anak, orang dewasapun cukup ramai berenang di kolam yang besar.

Hari ini, seperti saat-saat sebelumnya kalau hari libur, club house cukup ramai dikunjungi warga cluster Tirta Nirwana, ataupun dari cluster lain dilingkungan Bogor Nirwana Residence. Mereka terdiri dari berbagai etnis seperti Melayu, Jawa, Tionghoa, Sunda, India, dan Arab.

Duduk di sofa rotan di sebelahku, seorang ibu menggendong bayinya. Dia tersenyum bahagia melihat suami dan dua anaknya yang lain bercanda dan tertawa gembira di kolam anak.

Di kolam besar, seorang nenek sedang berenang melintasi kolam, melakukan aktivitas berenang rutinnya, 30 kali bolak-balik sepanjang kolam. Nenek ini hebat sekali, setiap kali kami ke tempat ini, dia sudah ada lebih dulu.

Seorang wanita cantik dan langsing berjalan hilir mudik sepanjang areal kolam dengan camera fotonya. Beberapa kali dia memotret anak-anak yang tertawa-tawa di kolam anak, lalu mengarahkan lensanya ke tempat lain. Tampaknya disini dia menemukan banyak objek foto yang menarik.

Sekelompok wanita tua dan muda riuh bercanda dan bercerita sambil membasuh tubuh mereka di bawah pancuran air di tepi kolam. Sementara tak jauh dari situ, di bawah rindangnya pohon-pohon di tepi sungai buatan, seorang bapak sedang melakukan geraka-gerakan senam, menggerakkan tangannya ke depan dan ke belakang dengan penuh semangat.

Anak-anakku asyik berendam di kolam anak sambil main bola. Aku geli melihat Rafif yang ternyata sudah dapat teman. Dia tertawa dan ngobrol dengan dua orang bapak sambil duduk di pinggir kolam. Si bungsu itu memang gampang sekali berteman. Dia berani dan ramah.

Seorang babby sitter tampak sedang menyuapi seorang balita di areal play ground. Tapi sayangnya si kecil dengan rok merahnya itu sama sekali tak tertarik dengan makanannya. Baginya slider dan ayunan itu lebih membangkitkan minatnya. Meskipun sang baby sitter sudah merayunya berkali-kali, tapi si kecil tetap menutup mulutnya rapat-rapat sambil bolak-balik naik tangga dan kemudian meluncur di slider.

Tak lama kemudian terdengar jeritan seorang anak. Si kecil itu menangis di gendongan ibunya karena tak mau berhenti berenang, sementara sang ibu sudah tak sabar menunggui. Dia menangis meronta-ronta ketika sang ibu mengganti baju renangnya dengan baju kaos. Tapi kemudian tangisnya perlahan terhenti ketika sang ayah merengkuhnya dalam pelukannya yang kokoh. Si kecil itu lalu tertidur dalam pelukan hangat ayahnya. Hatiku ikut-ikutan hangat menyaksikan kejadian kecil itu.

Hari ini kutemui bahwa duduk-duduk dan memperhatikan orang-orang disekelilingku ternyata bisa juga menjadi kegiatan yang menarik.