Laman

Senin, 16 Februari 2009

Diet oh Diet...

Sepulang dari tanah suci Desember 2008 yang lalu, berat badanku naik 4 kg! Bagaimana tidak naik, di tanah suci makan terasa enak terus, baik masakan khas Arab, maupun masakan Indonesia, semua di lahap.


Aku mulai merasa risih sendiri karena badan jadi terasa berat, dan yang pasti baju-baju jadi sempit. Apalagi suami sudah protes, meskipun dengan cara bercanda. Padahal dia sendiri juga berat badannya naik.


Akhirnya dengan semangat dan tekad yang bulat, terinspirasi dari seorang gadis cantik asal Turkey yang kecantikannya memabukkan hati yang aku temui di Masjidil Haram, mulailah aku dengan program penurunan berat badan ala diriku sendiri. He..he...Meskipun sudah pasti hasilnya tak mungkin menyaingi kelangsingan apalagi kecantikan si gadis Turkey itu, tapi setidaknya aku ingin memulai hidup sehat, untuk diriku sendiri.


Bulan Januari 2009, aku mulai program dietku. Aku berpantang makan nasi, karena aku merasa cepat sekali jadi gemuk karena konsumsi Karbohidrat. Makan pagiku adalah segelas jus sayuran organik ditambah susu kedelai dan jus apel. Makan siang menunya semangkuk sayuran dan sepotong lauk. Misalnya hari itu si Mbak masak sayur bayam dan ayam goreng, maka itulah menu makan siangku, tanpa nasi. Sorenya aku minum lagi jus+susu+sayuran organik. Disela-sela waktu makan aku banyak minum air putih.



Produk makanan kesehatan Melilea


Aku ingin berbagi pengalaman pada pengunjung blog ini, tentang sayuran organik yang sudah aku konsumsi sejak sekitar 8 bulan yang lalu. Mulanya aku mengkonsumsi makanan kesehatan ini karena aku sadar bahwa aku kurang mengkonsumsi sayur-sayuran. Berhubung produk ini menawarkan cara yang praktis menkonsumsi sayuran, maka aku mencobanya. Sayuran organik ini namanya Melilea Greenfield Organik, sudah dalam bentuk bubuk warna hijau, dan tinggal diambil satu sendok takar dan dicampur ke dalam shaker berisi air 350 cc kemudian di kocok, siap di diminum. Supaya rasanya agak lumayan enak, aku tambahkan susu kedelai 2 sendok dan 1 sendok takar jus apel dari produk yang sama. Sejak mengkonsumsi produk ini, aku merasa daya tahan tubuh terhadap penyakit menjadi lebih kuat. Tak pernah lagi aku kena flu dan batuk sejak rajin mengkonsumsi produk ini. Bukti yang nyata adalah waktu di tanah suci, daya tahan tubuhku tetap terjaga di tengah iklim Arab Saudi yang extrim. Produk ini sungguh membantu program dietku, karena aku tak merasa lapar,lemas atau kurang bertenaga meskipun tidak mengkonsumsi nasi atau karbohidrat yang lain.


Kembali ke program dietku, dua minggu kemudian, angka di timbangan turun 2 kg. Tapi itu belum kembali ke berat semula, masih 2 kg lagi yang harus diturunkan. Untuk mencapai berat ideal, aku harus menurunkan 3 kg lagi dari berat semula. Jadi perjuangan masih harus terus berlanjut!


Aku kemudian memutuskan untuk aktif berolahraga. Olahraga kesukaanku adalah senam aerobic dan body languange yang sudah berbulan-bulan tak kulakukan.

Kini aku mulai lagi. Setiap hari dari jam 8 sampai jam 9 pagi aku pasti hadir di sanggar senam langgananku. Semangatku rasanya sampai di ubun-ubun!


Dua minggu selanjutnya, aku mulai memperoleh hasilnya. Beratku sudah kembali ke berat semula, tapi masih harus menurunkan 3 kg lagi untuk mencapai berat ideal. Pokoknya aku akan terus berusaha menjaga pola hidup sehat. Sekarang rasanya tubuh lebih ringan dan bugar. Metabolisme lancar dan rasanya lebih fit. Maju terus pantang mundur!

Sabtu, 14 Februari 2009

Sop Buntut Maemun


-->
Dalam beberapa kali kesempatan mengunjungi Bogor, yang tak pernah terlewatkan adalah mencicipi kuliner yang ada di sana. Salah satu sahabat, Pak Micky, yang tinggal di Bogor merekomendasikan sop buntut Maemun.

Hari itu, mendekati jam makan siang, kami meluncur menuju lokasi dimana sop itu dijual. Sebuah warung kecil di pinggir jalan yang tampaknya tidak telalu ramai. Sementara suami dan anak-anak menunggu di mobil, aku turun dan masuk ke warung itu. Dengan yakin, aku memesan 5 porsi sop buntut. Tapi apa yang terjadi?

“ Maaf, Neng. Sop-nya sudah habis.” Kata sang penjual. Aku memandang sekeliling. Tidak banyak orang disana, tapi sopnya kok sudah habis? Sang penjual tampaknya mengerti,” Sudah dipesan semua, Neng. Sebentar lagi ada orang yang akan datang mengambil pesanan sop buntutnya.” Begitu katanya.

Dengan kecewa, aku beranjak pergi. Tapi sang penjual berkata,” Coba cari di cabang kami. Mudah-mudahan disana masih ada.”

Setelah mengucapkan terimakasih, aku kembali ke mobil. Kamipun meluncur ke lokasi yang merupakan cabang sop buntut Maemun. Pak Micky yang menjadi guide kami hari itu menunjukkan lokasinya.Ketika tiba, aku menilai bahwa lokasi cabangnya ini malah lebih nyaman.

Syukurlah, ternyata sop buntutnya masih ada. Jadilah kami hari itu menikmati sop yang sedap sekali.

Pada saat aku memesan sop, aku bisa melihat bahwa sop buntut itu dimasak dengan cara yang unik. Buntut tersebut di bungkus dengan daun yang tampaknya seperti daun kelapa. Jadi kelihatan seperti bungkus ketupat. Ketika ada yang memesan, barulah daun itu di gunting, dan buntutnya di hidangkan di mangkuk dilengkapi dengan wortel, tomat dan kuahnya yang panas.



Daging yang melekat pada buntut terasa lembut, bumbunya pun pas sekali. Anak-anakku suka. Mereka makan dengan lahap.

Tapi ada satu tips buat menyantap sop ini. Makanlah pada saat masih panas, sebab kalau sudah dingin rasanya jadi kurang lezat.

Mau Pindah

Bulan Agustus 2008 yang, suamiku menerima tawaran untuk bekerja di perusahaan lain yang menawarkan fasilitas dan gaji yang lebih baik. Segera setelah menandatangani kontrak kerja, dia mengundurkan diri dari perusahaan yang lama.

Bulan Juli 2008, dia mulai bekerja di perusahaan yang baru. Syukurlah, dia merasa betah dengan suasana kerjanya. Hanya saja perusahaan mengharuskan kami untuk bertempat tinggal di kawasan Jabodetabek. Hal itu tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Kami yang selama ini sudah betah tinggal di Palembang, terpaksa harus meninggalkan kota ini. Lalu mulailah usaha kami mencari rumah yang cocok untuk tempat tinggal.

Mula-mula kami mencari lokasi. Kami survey ke beberapa tempat seperti BSD dan Bintaro. Kami sudah pernah tinggal di Bintaro sektor IX tahun 2005 yang lalu, jadi sedikit banyak kami sudah tau bahwa Bintaro adalah daerah yang cukup nyaman. Kemudian survey dilanjutkan ke BSD dan sekitarnya. Setelah melihat-lihat, ada beberapa perumahan cantik yang menarik hati kami. Tapi kami belum menjatuhkan pilihan.

Ketika survey dilakukan di Bogor, aku langsung jatuh cinta. Ya, aku suka suasana Bogor yang sejuk dan asri, sehingga aku tekadkan untuk mencari rumah di Bogor saja.

Mencari rumah yang cocok bukan perkara mudah. Banyak yang harus dipertimbangkan, baik lokasi, kondisi rumah, fasilitas, lingkungan dan tentu saja harga. Kami mengumpulkan iklan-iklan rumah yang di jual di Bogor lewat internet. Kemudian kami telepon sales atau pemiliknya untuk janji bertemu dan melihat sendiri kondisi rumahnya.Butuh waktu 3 episode buat kami bolak-balik Palembang- Bogor untuk mencari rumah. Sungguh melelahkan.

Syukurlah setelah proses yang lumayan memakan waktu, tenaga dan biaya, kami menemukan rumah yang cocok. Letaknya di perumahan Bogor Nirwana Residence. Rencana selanjutnya adalah transaksi pembelian yang mudah-mudahan akan bisa terlaksana minggu depan. Itu berarti sekali lagi kami harus ke Bogor, selain untuk bertransaksi, sekaligus untuk mencari sekolah yang cocok buat anak-anak.

Semoga semuanya lancar.

Jumat, 13 Februari 2009

Dan Akupun Berjilbab...


Episode ketika aku membuka lembaran baru hidupku dengan memakai jilbab dan busana muslimah takkan pernah terlupakan. Sebenarnya ketika pertama kali mengetahui perintah memakai jilbab dalam Al Qur’an, hatiku sempat bergetar. Kala itu aku masih duduk di bangku SMA kelas 2.Tapi getaran itu segera mereda, dan mengendap jauh dalam hatiku. Aku terlalu mencintai kegiatan seni, terutama menari yang hampir mustahil dilakukan dengan mengenakan busana muslim. Selama bertahun-tahun getaran itu timbul tenggelam seirama dengan keimananku yang naik turun

Pada tahun 1992, aku sudah menjadi mahasiswi jurusan Teknik Sipil tahun ke-dua. Selain kuliah, kegiatanku menari semakin menjadi-jadi. Aku ikut beberapa sanggar tari dan juga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bidang tari di kampusku. Setiap kali menari dari satu pesta ke pesta pernikahan yang lain, aku mendapat honor yang sangat lumayan untuk ukuran mahasiswi pada masa itu. Tekadku makin kuat untuk terus menekuni hobby ini, bahkan kalau bisa sampai menari ke luar negeri.

Mulai Menulis Blog Baru

Sudah lama sebenarnya aku ingin menulis blog yang versi bahasa Indonesia,berhubung banyak pengunjung blog My Life My Story yang gak ngerti bahasa Inggris, tapi aku bingung memulainya.

Sahabatku, Hendro Darsono sudah berkali-kali menyarankan untuk membuat blog lagi. Lalu suamiku yang tampaknya cuek-cuek dengan urusanku ngeblog, malah sudah buat blog sendiri. Akhirnya aku jadi terpacu juga buat menulis di blog ini. Semoga blog ini bermanfaat bagi teman-teman pengunjung, dan teman-teman sesama blogger.