Minggu, 10 Februari 2019

MENJADI ORANG YANG FLEKSIBEL BUKANLAH BERGANTI- GANTI TOPENG



Di kelas komunikasi Suami Istri -Enlightening Parenting,Jakarta 2 Februari lalu, salah seorang peserta bertanya tentang kiat menghadapi berbagai situasi dan kondisi sehubungan dengan perannya yang berbeda-beda di berbagai komunitas. Mbak Okina Fitriani, Mas Ronny Gunarto dan Akang Sutedja E Saputra membagikan tips, landasan ilmu,   dan sharing pengalaman mereka untuk menjawab pertanyaan ini.

Nara Sumberr dan panitia Kelas Komunikasi Suami Istri- Enlightening Parenting
Kelas Komunikasi Suami Istri Enlightening Parenting, Jakarta 2 Februari 2019, Amaris Hotel Tebet

Tanya :

Bagaimana cara  berinteraksi dalam lingkungan yang berbeda-beda.
Misalnya, kalau di rumah saya kan seorang suami, juga seorang ayah bagi anak-anak, dan juga seorang menantu. Sedangkan di tempat kerja saya harus berperan sebagai leader.  

Kemudian di komunitas sosial, lingkungan teman-teman lama, teman-teman sekolah saya, mereka itu kan tahu benar siapa saya.  Masing-masing peran itu ritmenya berbeda-beda.

Akhirnya saya merasa  harus memasang “topeng” yang berbeda-beda. Masalahnya, kadang-kadang di kantor, rekan kerja suka bertanya hal-hal yang remeh pada saya. Sehingga saya berpikir, kok hal yang seperti ini ditanyakan ke saya? Nah, masalah harus pasang-pasang topeng ini  membuat saya cukup stress. Bagaimana menyikapinya?

Jawab :

 Okina Fitriani :

Respon kita tergantung makna yang kita pilih. Anda menjadi stress karena memilih makna “memakai topeng”.

Orang yang paling efisien, orang yang paling berhasil, adalah orang yang paling fleksibel.  Orang  yang fleksibel maksudnya apa? Yaitu orang yang mampu me-manage state yang berbeda-beda.

Kalau anda baca buku Tonny Robbins, bagaimana menjadi orang yang powerful, kita harus bisa punya state yang berbeda dalam berbagai situasi dan kondisi.

Nah, kalau anda maknai, “Aku ini pakai topeng.” Maka respon emosi anda  tidak memberdayakan.

Tapi coba kalau anda maknai, “Aku ini orang yang paling efektif dan fleksibel.”State emosi anda akan berdaya.

Ya memang harus beda. Contohnya, kalau ada atasan di kantor ngomong sama anak buahnya,

“Haii.. bikinin  aku dong... simulasi..” Dengan nada manja-manja minta alem. Yaaah... ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚itu namanya gatel๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜œ

Tapi kalau di rumah dia ngomong sama istrinya,” Ma, bikinin kopi dong..” Dengan nada manja dan tatapan mesra. Ini cocok๐Ÿ‘Œ๐Ÿ‘๐Ÿ‘.

Padahal sama saja kan kondisinya : minta sesuatu, tapi harusnya dilakukan dengan state yang berbeda.

Contoh lainnya, seorang pria di rumah ditanyai istrinya,

” Sayang, hari ini teh-nya mau manis atau kurang manis?” (Padahal istrinya sudah tahu kegemaran suami).

Suami menjawab dengan lembut,

”Mau yang kurang manis, sayang..”

Tapi kalau di kantor, sebagai atasan, dia ditanya oleh office boy, 

“Pak, hari ini teh-nya mau pakai gula 1 sendok atau 2 sendok?”

Pantas  kalau dengan tegas  dia menanggapi,

”Tujuh tahun lho kamu sudah membuatkan saya teh manis tiap pagi. Masak nggak hafal kesukaan saya?”

Coba bayangkan kalau si pria menanggapi pertanyaan office boy dengan state yang sama dengan ketika menanggapi pertanyaan istrinya,

”Mau yang satu sendok, sayang..”

Wk..wk..wk..wkk...๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜œ Gak cocoook.

Jadi bukan plin-plan. Kita memang harus berganti gaya di mana-mana, tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi.

Contoh lain. Anda sedang memimpin rapat penting di kantor. Anda mengarahkan anak buah dengan tegas dan  serius. Di tengah rapat, tiba-tiba  ada kabar dari satu unit kerja  bahwa ada musibah kebakaran. Maka anda harus berubah state, menanggapi dengan  wajah penuh empati. Bertanya kepada lembut, menghibur korban. 

Lalu saat pulang ke rumah, bertemu anak.  Maka berubah lagi state-nya, anda  bersikap playful pada anak. Ada haditsnya kan..

Suami bersikap berwibawa, disegani dan bisa diandalkan di luar rumah, baik itu ketika bekerja atau bermuamalah. Tetapi di dalam rumahnya, seorang suami ramah, akrab dan bermain-main dengan istri dan anak-anaknya. 

Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Perhatikan riwayat berikut,

ุนู† ุซุงุจุช ุจู† ุนุจูŠุฏ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ู‚ุงู„ : ู…َุง ุฑَุฃَูŠْุชُ ุฃَุญَุฏًุง ุฃَุฌَู„َّ ุฅِุฐَุง ุฌَู„َุณَ ู…َุนَ ุงู„ْู‚َูˆْู…ِ ، ูˆَู„ุงَ ุฃَูْูƒَู‡َ ูِูŠ ุจَูŠْุชِู‡ِ ، ู…ِู†ْ ุฒَูŠْุฏِ ุจْู†ِ ุซَุงุจِุช
Dari Tsabit bin Ubaid,  “Aku belum pernah melihat seorang yang demikian berwibawa saat duduk bersama kawan-kawan namun demikian akrab dan kocak saat berada di rumah melebihi Zaid bin Tsabit”

Nada suara pun berbeda, intonasi dan ekspresi wajah harus manis dan menyenangkan.

“Hallo sayang...๐Ÿ’•๐Ÿ’– Mau main apa? Main bola?  Main lego? Yuk main sama Papa..๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ’ž”

Coba bayangkan kalau anda itu bicara seperti itu pada boss anda. ๐Ÿ˜ต๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ณ

Nah. Segala stimulus itu netral. Tergantung bagaimana kita memberi makna.  

Jadi, ganti frame anda. Bahwa menjadi orang yang fleksibel bukanlah berganti-ganti topeng. Orang yang paling fleksibel adalah orang yang paling berhasil. 

Di training Enlightening Parenting diajarkan bagaimana memanage state dengan beragam teknik. Salah satunya dengan anchor. Kalau anda sudah mahir, anda bisa berganti-ganti state dalam hitungan detik.


Ronny Gunarto :

Memang benar apa yang dikatakan istri saya. Saya misalnya, ketika sedang meeting dengan Vice President atau atasan saya.  Tiba-tiba istri menelepon dan menceritakan sesuatu yang sangat berbeda dengan urusan kantor. Yang saya lalukan ya “switch/beralih” saja. State saya berubah, intonasi saya berubah,padahal beberapa detik sebelumnya saya presentasi dengan intonasi yang keras. Itu sebenarnya sesuatu yang sangat mudah dilakukan.

Dalam konteks komunikasi suami istri, ada hal penting yang ingin saya ingatkan. Banyak orang ketika bersikap kepada orang lain, baik itu tetangga, kenalan, rekan kerja, bahkan orang yang baru kenal, bersikap sangat baik, sopan, lembut, senyum.  Tapi, ketika berhadapan dengan istri, atau suami bersikap “jutek”๐Ÿ˜’๐Ÿ˜ .

Padahal, pasangan  adalah orang yang sangat penting dalam kehidupan kita. Mengapa cara kita berkomunikasi dengan dia  lebih buruk dibandingkan dengan orang lain?

Coba saja, kalau bertanya pada orang yang tidak kita kenal, ketika dijawabnya, lalu kita balas dengan sopan, lembut, senyum๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜„,

“ Terimakasih, Pak. Terimakasih, Bu..”

Tapi pada pasangan kita yang setiap hari memenuhi kebutuhan kita, apakah kita sopan, lembut tersenyum dan mengucapkan terimakasih?

Inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau sangat baik dengan keluarga, istri dan anak-anak beliau. Beliau bersabda,

๏บงَ๏ปดْ๏บฎُ๏ป›ُ๏ปขْ ๏บงَ๏ปดْ๏บฎُ๏ป›ُ๏ปขْ ๏ปทَ๏ปซْ๏ป ِ๏ปชِ ๏ปญَ๏บƒَ๏ปงَ๏บŽ ๏บงَ๏ปดْ๏บฎُ๏ป›ُ๏ปขْ ๏ปทَ๏ปซْ๏ป ِ๏ปฒ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku”.

Di riwayat yang lain,

ูˆَุฎِูŠَุงุฑُูƒُู…ْ ุฎِูŠَุงุฑُูƒُู…ْ ู„ِู†ِุณَุงุฆِู‡ِู…ْ ุฎُู„ُู‚ًุง

“dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya”

Jadi, mari kita tanamkan, bahwa ketika istri atau anak kita membutuhkan,  prioritaskan mereka untuk memperoleh state kita yang terbaik.

Sutedja E Saputra :

Saya ingin menambahkan pengalaman saya sehubungan dengan apa yang disebutkan sebagai “memakai topeng” tadi.

Suatu hari saya meeting dengan rekan-rekan lama. Kami dulu pernah bekerja di satu perusahaan yang sama, tapi sekarang masing-masing di perusahaan yang berbeda. Setelah meeting, saya masih ngobrol-ngobrol dengan rekan-rekan saya. Saya ingat, di kantor itu, ada salah seorang alumni training Enlightening Parenting. Maka saya telepon dia saya ajak bergabung dan ngobrol juga. Ketika dia datang, saya perkenalkan pada rekan-rekan saya.

Salah satu rekan lama, dengan suara  lantang dan  logat Batak yang sangat kental, langsung berkomentar.

“Kenal dimana kau dengan Sutedja ini? “

Alumni itu menjelaskan   bahwa dia kenal ketika ikut training Enlightening Parenting.

“Pak Sutedja ngasih materi waktu training Enlightening Parenting, Pak.” Jawabnya.

“Kok kau percaya sama Sutedja ini๐Ÿ˜?  Kau tau gak,  aku kenal sama dia ini  sejak tahun 1997. Kalau ngomong kencang sekali dia.  Kerjanya marah-marah dan mukulin orang saja✊๐Ÿ˜ˆ!”

Apakah saya marah ketika rekan saya bicara begitu?  Bisa saja saya malu,  di depan alumni training kan pantesnya  jaga wibawa. Tapi saya tidak marah. Saya berkata pada alumni itu,

“Apa yang dikatakan Bapak ini benar. Saya dulu seperti itu. Tapi sejak 2016 saya berubah.”

“Iya, Pak. Saya tau. Hal ini juga sudah Bapak disampaikan saat training.”

Apakah saya malu? Tidak. Di facebook itu kan banyak kawan-kawan kecil saya yang tau benar kelakukan saya dulu yang bandel luar biasa. Tukang  maling buah tetangga, tukang berantem mukulin anak orang,  tukang ngadu ayam. Lalu sekarang facebook saya penuh dengan kegiatan-kegiatan parenting. Saat bertemu teman-teman bertanya.

“Apa betul kau berubah begitu?”

Ya saya jawab bahwa saya berusaha menjadi lebih baik saja.

Jadi bukan pasang topeng. Kalau kita memang sudah punya komitmen untuk menjadi lebih baik,  toh itu yang kita lakukan.

Seringkali saya bicara dengan nada tegas dan keras saat memberi arahan dalam meeting di kantor, sedetik kemudian bicara lembut ketika istri menelepon, lalu senyum-senyum baca WA dari anak-anak.  

Fleksibel, berganti-ganti state sesuai kondisi dan situasi, itu skill yang bisa dilatih, untuk menjadi orang yang efektif dan efisien.


Kamis, 31 Januari 2019

PARA ISTRI MARI LURUSKAN NIAT



Beberapa bulan yang lalu, salah seorang ibu yang hadir di sharing session Enlightening Parenting, meminta waktu untuk curhat usai acara. Ibu muda ini menanyakan kiat-kiat membangun kemesraan dengan suami, sambil curhat tentang rumah tangganya yang tengah dilanda masalah.

“Oh, jadi begitu ya Bu, supaya suami mesra. Kalau saya melakukan langkah-langkah membangun kemesraan itu, dijamin gak,Bu, suami saya akan setia pada saya, tidak menjalin hubungan dengan wanita lain?”

Kata-kata itu diajukan dengan nada sedih setengah putus asa dan mata berkaca-kaca. Aku terdiam sejenak mencerna pertanyaannya.

“Bu, aku tidak bisa menjamin. Aku ini bukan siapa-siapa. Bahkan di dalam Al Qur an juga tidak ada ayat yang menyebutkan kalau istri bersikap mesra maka suami akan setia. Tidak ada. “

Jawaban itu membuat si ibu kecewa. Wajah cantiknya menunduk.

“Bu, saya ingin tanya. Apakah tujuan ibu mau berbaik-baik pada suami, mau membangun kemesraan dengan suami, supaya suami tidak melirik wanita lain?”

“Iya.”

“Bu, tujuan yang hasilnya bergantung pada orang lain adalah tujuan yang paling besar kemungkinannya membuat frustasi, membuat kecewa. Kita tidak bisa mengatur orang, meski itu suami sendiri. Mau nggak aku sarankan cara untuk terhindar dari kecewa, atau frustasi?”

Si Ibu mengangguk.Aku kemudian menceritakan pengalamanku padanya, tentang berbuat sesuatu dengan tujuan berharap pada suami.

“Bu, aku pernah, berbulan-bulan mengaduk-aduk bahan bakso di dapur, ingin sekali membuat bakso yang enak dengan resep sendiri. Tujuannya supaya suami suka bakso buatanku, lalu memuji. Akhirnya aku dapat resep yang pas. Resep itu aku posting di web, lalu menjadi viral di internet. Ratusan orang memuji resep itu karena hasilnya enak. Tapi ketika menyajikan bakso itu pada suami, tidak ada tanggapan sama sekali. Mukanya lempeeng saja. Tidak bicara apa-apa. Tidak ada pujian seperti yang diharapkan. Aku kecewa, marah, kesal, merasa sia-sia. Tapi sahabatku, Mbak Okina Fitriani mengingatkan.

“Mbak Iwed. Mari kita luruskan niat. Letakkan makna baru dalam niatnya Mbak Iwed untuk melayani suami dan anak-anak. Lakukan karena Allah SWT semata. Jangan demi pujian, demi cinta, atau yang lain. Lakukan semua kebaikan untuk suami, anak-anak, atau siapa pun semata-mata karena mengharap ridho Allah. Jadi, bila hasilnya tidak memperoleh pujian atau penghargaan dari makhlukNya, Mbak Iwed tidak akan kecewa. Yang penting Allah mencatatkan semua amal baikmu. Nanti, di kehidupan abadi, semua tidak ada yang sia-sia. Allah menilai usaha Mbak Iwed, bukan hasil.”

Begitu katanya.

"Nah, kembali lagi ke masalah membangun kemesraan supaya suami setia. Ini juga sama. Ada kata-kata bijak dari Ali Bin Abi Thalib yang menyebutkan,

“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.”

Ada perintah dalam Al Quran surat Al Insyirah (94) ayat 8 menyebutkan “ dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

Maka kembali lagi, sebagai istri, mari luruskan niat. Supaya tidak kecewa, tidak frustasi, mari sandarkan harapan kepada Zat yang tidak pernah ingkar akan janjiNya. Allah tidak pernah lalai mencatat kebaikan hambanya walau sebiji zarah sekalipun, akan dibalas dengan pahala disisiNya.

Ibu muda tersenyum. Wajahnya terlihat lebih cerah. Semoga apa yang aku sampaikan membuka pikirannya. Aamiin

Pesanku untuk para istri, apa pun kebaikan yang dilakukan, baik itu melayani suami, bermesra-mesra, berkata lembut, menuruti perintah suami selama tidak melanggar syariatNya, lakukanlah dengan niat hanya untuk mengharap ridho Allah semata.

Bukan supaya suami makin cinta, supaya suami makin mesra, supaya suami setia dan lain-lain.

Istri sudah berupaya berbuat baik, lalu ternyata suami tidak makin cinta, tidak mesra, tidak makin baik, tidak setia.
Dipandang di level dunia, upaya para istri berbuat kebaikan itu tampaknya sia-sia saja.

Tapi bila istri meletakkan harapan di level yang paling tinggi, level akhirat, maka semua upaya istri itu di mata Allah SWT tidak ada yang sia-sia. Allah tidak lalai mencatat, dan kelak istri akan mendapat balasan kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.

Bila upaya istri dibalas suami dengan kebaikan juga, dengan kemesraan, dengan kesetiaan, maka itu hanyalah bonus semata. Biasanya, hasil tidak mengkhianati upaya.๐Ÿ˜

Sebenarnya tidak ada ruginya sama sekali berbuat baik pada suami kan ya? Mau dibalas suami atau tidak, istri tetap dapat pahalaNya.

Lagi pula, kalau ada suami yang menyia-nyiakan istri yang baik lagi shalihah, sebenarnya yang rugi siapa?
Jadi tunggu apa lagi? Yuk para istri benahi niat. Berbuat kebaikan pada suami untuk mendapat ridhoNya. Semangaaat !!!...๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ❤️❤️❤️❤️

Rabu, 30 Januari 2019

KECOPETAN, SIAL ATAU NIKMAT?


Sabtu 26 Januari 2019 lalu, aku bermaksud berangkat ke Bekasi untuk menyampaikan materi di Sharing Session Enlightening Parenting bertema Mengelola Emosi “ Menjadi Orang Tua Bebas Stress” untuk komunitas orangtua murid sebuah sekolah.

Kabarnya Bekasi itu macet, maka untuk terhindar dari macet aku memutuskan berangkat naik kereta dari Bogor.

Sebelum jam 7 aku sudah siap. Cukup lama menanti datangnya taksi online, akhirnya datang juga. Di dalam taksi aku membaca –baca lagi point-point materi lewat HP. Setelah selesai, HP aku letakkan di bagian depan ransel supaya mudah dijangkau saat memerlukan. Taksi online mengantarkan aku ke depan Lapas Paledang, aku turun dengan menenteng tas ransel. Ransel itu besar dan berat, berisi laptop dan lain-lain. 

Minggu, 13 Januari 2019

MEMBANGUN IMUNITAS ANAK TERHADAP PENGARUH BURUK LINGKUNGAN




Tanya : 

Saya sekolahkan anak saya di Islamic School dengan harapan dia mendapatkan cultur Islami. Tapi dia dapat cara nembak cewek, dan hal-hal seperti itu. Apakah saya harus mengisolasi anak di rumah supaya tidak terpengaruh hal-hal buruk? Bagaimana membuat imunitas anak ini, supaya kalau saya lepas di hutan, di mana-mana pun, dia bisa tetap baik?

Jawab : 

PENGARUH LINGKUNGAN SEKOLAH DAN CARA MENGATASINYA



Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting bersama Okina Fitriani
Tanya : 

Anak saya umur 10 dan 7, dua duanya laki-laki. Mereka banyak meluangkan waktu di sekolah. Sampai rumah sudah jam 4 sore. Paling hanya dua jam saja efektifnya saya berkomunikasi dengan anak-anak. 

CARA MEMBERI TAHU ANAK KRITERIA MEMILIH JODOH



Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting bersama Okina Fitriani

Tanya :
 Bagaimana cara memberitahu anak kriteria memilih pasangan?

Jawab :

PERAN GURU BAGI MURIDNYA


Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting bersama Okina Fitriani

Tanya : 

Saya seorang guru. Bagaimana peran yang harus saya jalankan untuk mendidik anak-anak murid saya. Apakah peran saya mirip peran ayah bagi murid-murid saya?

Jawab : 

MENGATASI ANAK BALITA SUKA MEMUKUL

Mengatasi Anak Balita Suka Memukul

Seri Tanya Jawab Enlightening Parenting bersama Okina Fitriani

Tanya : Anak saya usia dua tahun suka memukul. Bagaimana mengatasinya?

Jawab : Anak usia dini suka memukul ada tiga kemungkinan penyebabnya.
  • 1.       Meniru perilaku orangtuanya.
  • 2.       Anak berkebutuhan khusus. ( hal ini harus ditegakkan dengan diagnosis)
  • 3.       Ada masalah sensori.

Minggu, 06 Januari 2019

CARA LENGKAP DAN TERSTRUKTUR MENANGANI BULLYING




Mbak Okina Fitriani, Psikolog, founder Enlightening Parenting, menemui banyak sekali pertanyaan mengenai cara penganganan bullying, baik di kelas training, maupun forum-forum parenting  yang dikelolanya.

Demikian bermacamnya anjuran untuk menangani hal ini, membuat para orangtua bingung, mana yang tepat untuk dilakukan.

Berikut ini penjabaran Mbak Okina Fitriani yang secara lengkap dan terstruktur menjawab pertanyaan mengenai langkah-langkah penanganan bullying.

Mari dimulai dengan memahami dulu tentang bully. Bully dalam bahasa Indonesia disebut perundungan, tetapi dalam artikel ini digunakan kata buli saja agar singkat. 

Buli secara umum terbagi menjadi 3 kategori
  • Verbal : yaitu ucapan yang menyakitkan, meledek, memanggil dengan julukan, menghina, mengancam,
  • Mental : Mengabaikan, mengucilkan, menyebarkan berita yang membuat seseorang dimusuhi, mengerdilkan :D, dll
  • Fisik : Memukul, menendang, mencubit, dll.
Bully dilakukan secara SADAR. Artinya jika tindakan mendorong itu dilakukan oleh anak usia 2 tahun yang masih dalam tahap latihan sensori atau dilakukan oleh ABK (anak berkebutuhan khusus) yang belum paham kekuatan menyentuh dan mendorong, maka JANGAN dengan mudah kita mengatakan kepada yang mendorong maupun yang didorong “Ih.. kamu dibuli lhoo” “Ih ini anak kecil-kecil sudah jadi pembuli” . Dalam hal ini justru si pembuli sesungguhnya adalah yang berkomentar itu.

Di banyak keluarga justru pembuli pertama anak-anak adalah orang tuanya sendiri, kadang verbal dengan labelling( memberi “cap” atau label misalnya anak pemalas, lemot, ngamukan, anak rewel, dll) atau menghardik.  Kadang Mental dengan mengabaikan.  Sering juga fisik, bahkan ada yang paket lengkap 3 kategori sekaligus. Tentu orangtua sebagai sosok dewasa sudah pasti SADAR ketika melakukannya.

Anak yang sudah dibuli terlebih dahulu di rumah sangat besar kecenderungannya untuk jadi pelaku maupun korban bullies di sekolah. Penelitian Renae D. Duncan (1999) dari Murray State University menyimpulkan 69% anak yang dibuli di sekolah, adalah anak yang mendapatkan kekerasan di rumah. Tidak mengherankan memang, karena anak-anak yang sering dilabel, dikritisi, dihardik atau disakiti di rumah akan datang ke sekolah dengan penampakan 2 jenis, yaitu tidak percaya diri atau wajah tambeng dan penuh dendam. 

Inilah yang kemudian berkembang menjadi korban maupun pelaku buli. Pembuli mengenali sasaran yang bisa dibuli. Pembuli pilih-pilih dan melakukan coba-coba dulu. Anak yang berjalan dengan tegak dan pandangan yang penuh percaya tetapi tidak sombong, jarang dijadikan sasaran pembuli.

Anehnya, orangtua yang membuli anak di rumah sangat tidak terima ketika anak diperlakukan sama di sekolah bukan? Seolah lupa bahwa sumbernya berasal dari rumah.

Maka, LANGKAH PERTAMA untuk mencegah dan mengatasi buli adalah, Perlakukan anak-anak kita dengan respectful di rumah. Dengan memperlakukan mereka dengan respectful sesungguhnya juga sekaligus sedang mendapat contoh akhlaq yang baik dan akan tumbuh menjadi anak yang santun dan percaya diri. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW

“Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka.” (riwayat Ibnu Majah).

LANGKAH KEDUA, pelajari aturan di lingkungan tempat anak berinteraksi. Untuk memperjelas, kita umpamakan saja sekolah. Tanyakan apakah ada aturan yang jelas tentang handling bullies . Jika tidak punya sampaikan kepada sekolah bahwa anda akan membuat standar penanganan buli, sosialisasikan pada pihak sekolah dan lebih baik lagi jika disepakati sebagai aturan sekolah. Lebih bermanfaat daripada sekedar kesal karena sekolah tidak punya aturan penanganan buli bukan?

LANGKAH KETIGA, Briefing dan Role Playing. Beri anak penjelasan mengenai hal-hal berikut ini

1. Definisi perilaku buli seperti yang sudah disebutkan di atas, supaya anak juga tidak epes me’er, ditowel dikit merasa dibuli, disenggol dikit buli, dipanggil dengan nada tinggi dikit buli. Orangtua juga tidak perlu reaktif supaya anak juga tidak baperan.

2. Beritahu tahap-tahap menyikapi buli (saya attach video Rangga saat diminta menceritakan kembali materi briefing dan alhamdulillah tidak pernah dibuli oleh siapapun):

  • Abaikan (Ignore) : Jika masih tahap coba-coba, biasanya berbentuk verbal seperti kata Ciee.. ciee… , memasangkan dengan si fulan, ledekan ringan dan sejenisnya, ajarkan anak untuk mengabaikan dengan wajah tetap percaya diri dan tersenyum. Pembuli suka dengan reaksi berlebihan, wajar merengut, mata berkaca-kaca dan tangisan.
  • Tegur dengan Tegas (Stand Up) : Katakan dengan tegas, STOP it! Hentikan! Dengan tatapan yang mantap. Ini dilakukan jika setelah diabaikan perilaku yang sama masih berulang. Jika sudah berupa kontak fisik, tangkap tangannya, tekan ke bawah sambil menegur dengan tegas. Jika kategori mental ajarkan anak berani melakukan klarifikasi. Pada tahap 2 ini ditutup dengan laporan kepada Guru dan ortu.
  • Laporkan kepada Guru. Ajarkan anak untuk mencatat setiap laporan. tanggal berapa dan nama guru yang dilapori. Biarkan pihak sekolah melakukan tugasnya untuk menegur.
  • Orangtua menemui pihak sekolah. Jika hingga laporan ke 3 masih berulang maka temui pihak sekolah untuk difasilitasi berdiskusi bersama orangtua pembuli. Jika pembuli juga melakukan hal yang sama kepada anak lain, upayakan laporan bersama agar sekolah dan orangtua pembuli melakukan tindakan kuratif nyata seperti skorsing atau konseling keluarga
  • Jika masuk ke level kriminal, seperti pengeroyokan, laporkan kepada polisi.
3. Latih anak menghadapi berbagai situasi ini secara role playing di rumah, karena sikap dan kebiasaan tidak terbentuk melalui nasehat tetapi melalui latihan.

LANGKAH KEEMPAT. Sebarkan kasih sayang. “Siapa yang menyayangi, dia akan disayangi”. Jangan pernah mengajarkan anak untuk membalas pembuli, tetapi justru menyapa dengan ramah, menanyakan kabar, sesekali berbagi bekal tetapi bukan dengan niat menyuap atau nyogok. Berbagi kepada semuanya, baik yang bersikap baik maupun yang tidak. Latih anak untuk memuji efektif temannya yang bersikap baik. Menjadi detektif kebaikan. Sesekali undang teman-teman anak untuk bermain di rumah termasuk yang suka membuli dan perlakukan mereka dengan kasih sayang. Pada umumnya pelaku buli ini kering kasih sayang. Tidak ada orang yang imun pada kasih sayang, karena kasih sayang itu fitrah. Jika dihidupkan dan disirami, maka mekarlah ia.

So, Handling Bullies? insyaaAllah mudah…

“Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangimu”.


Tulisan-tulisan Mbak Okina Fitriani lebih lengkap bisa dibaca di www.okinafitriani.com