Kamis, 04 Oktober 2018

MENGHILANGKAN ALERGI MENJAHIT DENGAN SELF TALK


Ilmu yang didapat dari training, kalau tak dipakai sehari-hari, bisa terlupakan, bahkan hilang tanpa kesan.  Kalau sayang ilmu, sayang dengan waktu yang sudah terpakai untuk training, sayang dengan uang yang sudah dibayar untuk biaya training, maka sering-seringlah mengamalkan ilmunya.  Mengamalkan ilmu membuat hidup lebih baik, lebih nyaman.  Ilmunya pun  nancep dalam diri kita, tidak hilang percuma.

Ilmu apa sih yang didapat dari training, yang sehari-hari dipakai oleh Emak-emak dasteran macam aku? Hehe..Salah satunya  keterampilan berdialog dengan self talk dengan menggunakan kalimat kalimat berbentuk milton model dan meta model. Hal ini aku peroleh dari training Transforming Behavior Skill-nya Mbak Okina Fitriani.

Berdialog dengan self talk sangat membantu aku mengatasi potensi baper, malas, takut, enggan, tak percaya diri dan jenis emosi tak memberdayakan lainnya. Salah satunya baru saja aku gunakan untuk mengugurkan keenggananku menjahit, akibat limiting belief “Aku tak bisa menjahit” yang sudah lama kupelihara.

Jadi ceritanya, sejak kenal pelajaran prakarya, khususnya jahit menjahit  di bangku SMP, aku banyak menemui kesulitan. Seingatku di zaman SMP dulu diajarkan berbagai macam jenis jahit tangan, misalnya tusuk jelujur, tusuk  tikam jejak, tusuk feston, tusuk flanel, tusuk silang dan lain-lain.

Bagi teman-temanku, pelajaran menjahit  itu bukan masalah. Aku mengagumi karya mereka. Jahitan tangan mereka   begitu rapi, simetris, presisi. Bagiku menjahit adalah beban. Beban yang berat karena hal itu tak ubahnya kegiatan yang membuat aku  merasa tertekan. Ketika melihat hasil karya sendiri, perutku mules-mules. Tusuk jelujur yang paling sederhana sekalipun jauh dari rapi. Ada yang panjang, ada yang pendek, mencong sana, mengot di sini. Padahal sudah beberapa kali aku ulang, hasilnya ya begitulah.

Tiap pelajaran prakarya, aku tersiksa. Merasa stress,  dan frustasi. Kelihatan juga dari perolehan nilai prakaryaku yang tak jauh dari angka 6. Itu pun karena Bu Guru kasihan. Mestinya aku pantas dapat nilai 5.

Kalau boleh memilih, aku lebih senang disuruh mengerjakan soal matematika, fisika, atau disuruh main musik, menari dan  menyanyi ketimbang menjahit.

Di SMA ketidaksukaanku pada kegiatan menjahit makin menjadi-jadi. Aku ingat, Bu Guru memberi tugas membuat rok putih  sederhana. Aku sudah tersiksa sejak awal  membuat pola, menggunting, dan puncaknya ketika disuruh menjahit, dengan tangan maupun dengan mesin.

Beberapa hari sebelum hasil karya dikumpulkan, drama  terjadi.  Kukoyak-koyak rok putih itu dengan emosi memuncak.  Marah dan kesal sekali rasanya melihat rupanya yang tak karuan. Padahal sudah kuhabiskan banyak waktu mengerjakannya. Setelah menumpahkan emosi, melihat rok yang sudah terburai tak jelas lagi bentuknya,  aku menangis.  Bingung mau bagaimana. Akhirnya pilih jalan pintas. Salah seorang teman yang kasihan padaku meminta Kakak perempuannya menjahitkan rok untukku. Dan dengan perasaan kacau balau, aku kumpulkan rok itu sebagai hasil karyaku  ke Ibu Guru prakarya. Hiks... Maafkan aku Bu Guru. Aku sudah berdusta.

Rupanya bertahun tahun kemudian, sebagai Emak-emak dasteran masih saja aku tak bisa menghindar dari kegiatan menjahit.

Si Akang sedang  menjahitkan celana panjangku 

Aku seringkali diselamatkan oleh si Akang. Ya, suamiku tersayang yang hobi fitness dan olahraga angkat beban itu ternyata pandai pula menjahit! Sering dia memotongkan celana panjangku, celana dan rok anak-anak, lalu menjahitkannya. Hasilnya rapi. Memang dia tak ahli layaknya penjahit profesional, tapi untuk urusan memperbaiki pakaian di kondisi kepepet, dia cukup jago. Hehehe...

Perkara menjahit ini pun kerap membuat aku kagum pada Tuhan. Sungguh elok Dia membuat rencana hidupku. Perempuan yang tak pandai menjahit, dijodohkanNya dengan lelaki yang bisa menjahit. Ibarat panci dengan tutupnya, pas sekali. Bukan main!πŸ˜ŽπŸ˜ƒπŸ˜ƒ

Tapi ada-ada saja kejadian yang memaksa aku  berhubungan dengan jarum dan benang jahit,  dua benda yang membuatku alergi.  

Misalnya di pagi yang heboh saat Rafif sudah akan berangkat sekolah, tiba-tiba dia teriak.

“Yaah... Mama.. Kancing baju Afif lepas! Jahitin ya Ma!”

Mau bagaimana lagi? Tak mungkin aku lari ke tukang jahit. Mana bisa minta tolong si Akang, dia sudah berangkat kerja.  Si Mbak sedang cuci pakaian di lantai atas. Ya terpaksa dengan perut mules aku lakukan tergesa-gesa.

Entah karena kondisi emosi yang tidak nyaman,  kegiatan menjahit berlangsung tegang.

“Aww!” Cepat-cepat aku menarik jariku. Ini sudah kesekian kalinya jarum jahit kecil itu menancap di ujung jari manis sebelah kiri.  Sebelumnya jempolku yang kena.

Lanjut lagi. Kutusukkan jarum lewat bagian bawah lubang kancing, tusukan selanjutnya menancap di lubang sebelahnya. Keringat bercucuran. Kuulangi beberapa kali, di bagian lubang kancing berikutnya. Setelah membuat simpul, akhirnya selesai. Aku meraih gunting. Kuangkat baju seragam Rafif, tapi.. Ya Tuhaan. Rokku ikut terangkat! Aku tanpa sadar sudah menjahitkan rokku ke baju Rafif.  Bongkar lagi!Huaaaaa!

Nyangkut di rokπŸ˜“

Akhirnya keluar jurus terakhir.

“Mbaaak... Tinggalkan dulu kerjaannya. Tolong jahitkan kancing Rafif. Saya mules!”

Itu dulu. Sebelum ikut training Transforming Behavior Skill.

Hari ini, aku  bertekad menjahit lambang-lambang dan label nama Rafif di baju seragam pramukanya yang baru.  Biasanya dulu, hal ini selalu aku serahkan ke tukang jahit di pasar Sukasari, atau pasar Bogor. 

Kali ini  aku sengaja ingin menaklukan kondisi emosi tegang, stress, dan mules yang selalu menyertai kegiatan menjahit.

Aku sadar sudah memelihara limiting belief  “Aku tidak bisa menjahit” sejak bertahun-tahun. Padahal, dalam melakukan kegiatan menjahit, tidak ada perilaku yang benar-benar baru, yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan. Menjahit itu kan kumpulan dari menggerakkan jari-jari tangan, menusukkan jarum ke kain dengan jarak tertentu, menyimpulkan benang, dan sebagainya.

Setelah kupikir-pikir, masalahku sebenarnya bukan pada skill menjahitnya. Tapi pada pengelolaan emosi saat melakukan kegiatan ini. Dulu zaman SMP dan SMA, ada target waktu, target nilai yang harus dicapai, ditambah lagi ada tekanan emosi karena membandingkan hasil karyaku dengan karya teman-temanku, ada aroma persaingan, ditambah lagi dengan keyakinan bahwa menjahit itu sulit , dan sebagainya yang semuanya membuat aku stress. Kenangan akan kondisi tidak nyaman ini ternyata terbawa sampai sekarang. Tak heran aku selalu mules kalau harus berhubungan dengan jarum jahit dan benang.

Ketika meraih benang, memasukkan ujungnya ke lubang jarum, aku sudah mulai merasa tertekan dan tak nyaman. Untuk menyelesaikan emosi ini aku mulai bicara pada diri sendiri. Berdialog dengan self talk. Perbincangan ini melibatkan 2 self talkku, Neng dan Iwed.

“Okelah Iwed.. Sekarang kondisi sudah berbeda. Kamu bukan lagi pelajar SMP atau SMA. Kamu tak perlu lagi khawatir tentang nilai. Tak ada guru yang akan menilai kerapian hasil jahitanmu. Target pun sederhana saja : menjahit lambang-lambang dan label nama di baju seragam pramuka Rafif sesuai dengan ketentuan sekolah. Tak ada target waktu harus selesai sekian menit. Santai. Simple. Kamu bisa. “ Kata si Neng.

Kata-kata yang aku ucapkan sendiri pada diri sendiri itu rasanya sudah melenyapkan sebagian besar rasa tak nyaman. Meski masih ada khawatir..

“Bagaimana kalau jariku ketusuk lagi?”Sahut Iwed.

“Kalau ketusuk resikonya apa? Mati apa nggak? Tetanus nggak? Cuma sakit sedikit aja kan ya? Resiko megang jarum itu ketusuk jarum. Wajar nggak?” Neng memberondong dengan pertanyaan berbentuk meta model.

“Iya sih.. “

“Terakhir kamu ketusuk jarum itu kenapa?”

“Karena buru-buru. Tegang harus cepat menyelesaikan jahitan. Nah sekarang bagaimana supaya nggak ketusuk jarum lagi?”

“Pelan-pelan. Lakukan dengan tumakninah. Seperti dalam shalat, tumakninah itu rileks, tidak tergesa-gesa dalam melakukan gerakan dan pikiran fokus pada apa yang dikerjakan. Mulai dengan menarik nafas yang dalam dan teratur, kemudian lakukan. “

Kata-kata si Neng itu manjur membuatku tenang. Aku meraih label nama Rafif. Melipat  pinggirannya. Meletakkan di bagian atas kantung seragam, mengira-ngira posisi yang tepat. Kusematkan jarum pentul di label nama agar posisinya tak berubah.  Lalu mulai menjahit. Aku tak tahu model jahitan apa yang aku pakai, sepertinya perpaduan antara tusuk jelujur dengan tikam jejak. Mulai dari sudut label nama, kutusukkan jarum dari bagian dalam baju, kemudian di lubang yang hampir sama jarum kutusuk kembali. Lewat bagian dalam baju, benang membentuk garis jelujur.  Selanjutnya kutusukkan ke bagian luar, hingga  dari luar yang tampak hanya titik-titik kecil simpul benang mengelilingi sisi label nama. Akhirnya selesai. Ah lega.


Ketika membalik baju, betapa kagetnya.  Ternyata lipatan baju di bagian dalam ikut terjahit!Aaaaarghhh! Emosiku terpicu lagi.Hampir saja kubanting baju seragam itu. Tapi si Neng bereaksi.

Arrrghh...😠

“Tenang... kondisi emosimu sudah bagus tadi. Mengerjakannya juga sudah tumakninah. Hanya kurang teliti saja. Apa sih resikonya melakukan kesalahan? Tak apa-apa, kan? Ini mudah. Tinggal dibongkar sedikit bagian yang kena lipatan baju bagian dalam, tak perlu seluruh jahitannya dibongkar. Bisa dilanjutkan lagi jahitannya, sebentar juga selesai.” Kata si Neng.

Baiklah. Tarik nafas. Mulai lagi. Kubongkar jahitan yang mengikat lipatan baju. Lalu mengulang lagi jahitannya. Perlahan. Hati-hati. Alhamdulillah selesai.

Kupandangi hasilnya. Memang belum rapi, tapi lumayanlah. Si Neng kembali beraksi. Dia mengucapkan kata-kata sakti yang membuat aku nyaman.

“Selanjutnya untuk memasang tanda pandu dunia, tanda pelantikan, tanda lokasi dan badge daerah, kamu hanya perlu mengulang perilaku yang sama dengan yang kamu lakukan saat menjahit label nama. Kali ini hati-hati, jangan sampai terjahit bagian dalamnya. Artinya kamu tidak perlu menusukkan jarum terlalu dalam. Mudah kan?”

Tenang, tumakninah, hati-hati, teliti, santai, nikmati prosesnya.


Alhamdulillah akhirnya selesai.  Aku tak terlalu bangga dengan hasil jahitanku. Tentu saja mengendalikan emosi dengan memberdayakan self talk tidak serta merta menjadikan aku ahli menjahit. Tapi setidaknya aku jadi mampu bersabar menjalani prosesnya.  Rasa tak nyaman, mules-mules dan tegang pun hilang.  Dan tujuanku  tercapai. 


Selesai πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Lambang-lambang  itu sudah terpasang di baju pramuka Rafif. Gugur sudah keyakinan bahwa aku tak bisa menjahit. Aku bisa. Hanya saja butuh latihan lebih banyak supaya hasilnya lebih rapi. Tinggal tergantung diri sendiri, mau atau tidak menyediakan waktu latihan menjahit  hingga mahir?

Penyemangat paling hebat sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Kalau kita punya kemampuan menasehati dan memotivasi orang lain, mengapa tak kita gunakan kemampuan itu untuk menyemangati, menasehati dan memotivasi diri kita sendiri?

4 komentar:

Rudi Martandi mengatakan...

Kalau untuk kancing saya bisa jahit sendiri dengan jahit tangan, namun kalau yang lebih kompleks seperti simbol2 seperti itu saya serahkan ke tukang jahit agar lebih rapi.

Mbak beruntung memiliki suami yang cukup telaten ya

Aprilely Ajeng Fitriana mengatakan...

Saya juga nggak suka jahit sih, kalau ada baju bolong biasanya saya biarin aja. Bukan trauma atau apa tapi, cumaaa males masukin benang ke jarum.

http://obatalamimaagkronis.com/ mengatakan...

Saya sih serahin aja ke tukang jahit. Biar rapi

dede yusup bisri mengatakan...

Saya susah lait lobang jarumnya