Selasa, 05 Juni 2018

Kisah Dumdum dan Rasamaha


Keberadaan kucing-kucing liar yang berkeliaran di lingkungan cluster tempat tinggal kami rupanya menyentuh hati anak-anakku, Anin dan Dea. Seingatku, sejak kami pindah ke Bogor tahun 2009, Anin dan Dea sering membelikan makanan kucing untuk diberikan pada kucing-kucing liar yang  menghampiri teras taman samping rumah kami.

Silih berganti kucing-kucing liar datang. Satu persatu mereka diberi nama oleh Anin, Dea dan Rafif. Dulu ada yang namanya si Cross, Mopi, Culun, Belang, Koneng dan lain-lain. Satu persatu mereka menghilang. Ada yang mati kecemplung kolam ikan di taman cluster, ada yang mati di trotoar jalan  karena sudah tua, ada juga yang menghilang tak pernah muncul lagi. Kemungkinan kucing-kucing itu ditangkap, ditertibkan dan dibuang  oleh satpam cluster.

Lalu datang lagi  kucing liar lainnya, misalnya  si Cungkring kucing jantan.  Dulunya Cungkring kurus kering, sekarang jadi lebih montok karena dapat asupan makanan dari Anin dan Dea. Ada juga  kucing betina yang sering sekali hamil, Rasamaha namanya.

Rasamaha mulanya datang mengendap-endap di teras samping. Perutnya buncit. Tatapan matanya waspada. Mengeong-ngeong. Bila didekati, dia lari. Anin meletakkan makanan di teras, lalu masuk ke dalam rumah. Rasamaha mengintai dari kejauhan.  Pelan-pelan dia datang lagi. Sambil celingak-celinguk waspada, kucing betina bunting itu makan. Mungkin kucing itu pernah dipukul atau diperlakukan kasar sehingga  trauma pada manusia.

Kadang-kadang Rasamaha datang dalam kondisi perut yang kempes. Entah dimana dia melahirkan anak-anaknya. Lalu datang lagi dengan perut buncit. Dan kali ini berbeda, dia tak lagi takut pada aku, Anin atau pun Dea.

Rupanya kebiasaan kami memberi makan, tak pernah memukul, menghardik dan memarahi kucing-kucing itu berpengaruh juga pada trauma Rasamaha. Kelihatannya dia sembuh. Bahkan dengan manja dia    menggesek-gesekkan tubuhnya ke kaki kami. Mengeong minta makan. Bila didekati dia berbaring terlentang di lantai, minta dibelai-belai. Digendong pun dia pasrah, tidak memberontak. Tatapan matanya tidak lagi curiga. Kelihatannya dia percaya bahwa kami tak akan menyakitinya.

Nah, masalahnya, Rasamaha sudah demikian yakin bahwa kami bukanlah monster.  Maka dia memutuskan membawa bayi-bayinya ke rumah kami.

Suatu hari aku mendengar ada suara anak kucing di garasi. Aku cari-cari. Kaget sekali ketika melihat seekor anak kucing yang masih merah baru lahir ada di atas sepatu si Akang. Waduh.. kalau Akang tahu sepatunya jadi tempat tidur bayi kucing, sudah pasti dia murka.😠

Aku bingung. Kubawa anak kucing itu keluar garasi. Kuletakkan di bawah rimbun tanaman hias.  Beberapa saat kemudian, suara anak kucing terdengar lagi. Dari teras samping. Dan kali ini bukan cuma satu. Tapi empat! Waduuuh...

Rasamaha menjilati anak-anaknya. Mereka terbaring di lantai teras. Tatapan mata Rasamaha seolah berkata,” Tolonglah kami..”😑

Maka Dea dan Anin pun heboh. Mereka sibuk mencari kotak kardus dan kain untuk alas tempat tidur kucing-kucing itu. Gembira sekali mereka dapat 4 bayi kucing. Sementara aku pusing. Apa yang harus kukatakan pada si Akang? Dia tak suka kucing. Dan ini tak main-main.  Ada 5 ekor kucing minta perlindungan di teras samping.

Aku pandangi dua anak gadisku, Anin dan Dea.

“Tolonglah Ma... Biarkan kami merawat anak-anak kucing ini. Jangan dibuang. Nanti kami berdua yang mengurus mereka. Tinggal di teras kita juga nggak apa-apa. Kan nggak masuk rumah..” Anin berargumen.

“Bapak nggak suka kucing. Dari dulu juga dia nggak pernah setuju kita pelihara kucing. Mama harus bilang apa, lha ini 5 ekor lho sama induknya.”

“Bilang aja sama Bapak, kucingnya cuma di luar rumah kok.. Nggak menganggu. “Dea bersungut-sungut.

Sekali lagi kupandangi Anin dan Dea. Anak gadis usia 18  dan 15 tahun itu membelai-belai Rasamaha dan bayi-bayinya dengan penuh kasih sayang. Hatiku terasa hangat.

Aku ingat salah satu materi Enlightening Parenting, yaitu tahapan perkembangan anak . Bukankah anak perempuan di atas 12 tahun sangat baik diberi tanggung jawab memelihara binatang? Ini baik untuk melatih anak menjalankan fitrahnya  sebagai wanita, menjadi ibu yang menjaga, merawat dan memelihara anak-anaknya. Nah, kucing ini bisa menjadi sarana  untuk melatih anak bertanggung jawab dan menyalurkan naluri kasih sayangnya. Lagi pula kucing kan binatang kesayangan Nabi Muhammad SAW. Aku yakin ini bisa menjadi alasan yang kuat supaya si Akang mengizinkan kucing-kucing itu tetap di teras rumah kami.

Alhamdulillah, meski agak alot negosiasinya, si Akang akhirnya setuju kucing-kucing itu tinggal di teras samping rumah. Dengan persyaratan bahwa Anin dan Dea bertanggung jawab mengurusi, bukan cuma memberi makan tapi juga membersihkan kotorannya.



Lalu mulailah hari-hari kami diwarnai aksi kocak dan menggemaskan 4 anak kucing : Blueband,  Dumdum, Orange Peel,  dan Tummi. Mereka tidur di kotak kardus bersama induknya, Rasamaha. Setiap hari taman samping kami menjadi ajang bermain mereka. Empat ekor kucing berlarian riang gembira di atas rumpt hijau, bergulatan, gigit-gigitan, dan bercanda. Adakalanya empat anak kucing itu menyusu dengan nyaman. Rasamaha pun tampak sangat menikmati dan sayang sekali pada anak-anaknya.


Suatu hari Dea mengadu.

“Ma, si Blueband matanya belekan. Dia gak nafsu makan, cuma diam saja di dalam kotak. Yang lain main-main, dia diam saja. Dea takut dia mati, Ma.. Ayok kita bawa ke dokter hewan. Cepetan Ma.. “ Rengek Dea.

Kulihat wajah Dea cemas. Dia tak berhenti merengek minta ke dokter hewan.


Sore itu, Dea meletakkan Blueband di kotak kecil bekas sepatu beralaskan kain bekas. Digendongnya kotak itu, dan si Blueband pun diam pasrah. Dea sabar menanti giliran dipanggil dokter. Aku tersenyum geli ketika Dea  berbisik,

“Ma, orang lain bawa binatang peliharaan keren-keren ya. Ada anjing Siberian Husky, besar, ganteng, gagah, keren. Ibu itu, yang disana, bawa kucing Persia, gondrong, putih bersih,cakep banget. Lha kita bawa kucing kampung. Belekan pulak..hihihihi..😁😁. Tapi Dea sayang sama si Blueband. “ Ucap Dea.

Aku mengangguk-angguk.

Tiba giliran Dea. Dokter bertanya tentang data-data Blueband.

“Apa? Blueband? Namanya unik, kayak mentega. Lahirnya kapan?”Tanya Bu Dokter.

 “Wah, nggak tahu Dok, induknya kucing liar membawa anaknya ke teras rumah kami. Entah kapan lahirnya.” Sahut Dea.



Blueband kemudian ditimbang, dibawa ke ruang dokter. Matanya dibersihkan dan diperiksa dokter. Dea diajari cara menyuapkan obat kapsul dan vitamin cair untuk Blueband. Lalu Dokter memberi obat untuk dibawa pulang ke rumah.

Selama beberapa hari, Dea merawat Blueband. Menyuapi makanan, menyuapi obat dan memberi cairan vitamin dengan menggunakan alat injeksi yang dimasukkan lewat samping mulut Blueband. Di week end, saat Anin pulang ke rumah dari tempat kos nya, mereka merawat Blueband bersama-sama. Hingga Blueband cepat pulihnya. Alhamdulillah..😍😍

Suatu hari, aku dan Akang berangkat ke Jakarta usai shalat subuh. Kami berdua akan menjalani medical check up rutin tahunan yang dibiayai perusahaan tempat Akang bekerja. Ketika menunggu di lobby, sekitar pukul 7 pagi, Anin menelpon. Suaranya terdengar panik.

“Mamaa... anak kucing semuanya nggak ada! Sudah dicari kemana-mana nggak ada. Rasamaha ngeong-ngeong terus cari anak-anaknya. Jangan-jangan anaknya masuk ke mesin mobil. Lha, mobilnya dibawa Bapak ke Jakarta ya? Soalnya kemarin Anin pernah lihat mereka masuk ke mesin lewat kolong mobil. Coba dilihat Ma.. Aduuuh... takut mereka mati atau hilang. Coba dilihat ada nggak di mobil..” Tangis Anin histeris.😒😒😒😒

Dengan panik aku berlari ke basement gedung tempat parkir mobil. Seandainya ada anak-anak kucing didalam mesin mobil, sementara mobilnya kami bawa dari Bogor ke Jakarta. Ya Tuhaan... Tak kuat aku membayangkan apa yang terjadi. Bagaimana kalau kucingnya kena mesin, kepanasan, jatuh tergilas di jalan tol. Lututku lemas. Aku balik lagi ke lobby menemui Akang.

Yang kulakukan konyol sekali. Tak dapat menahan diri,  aku  mengadu pada Akang sambil menangis seperti anak kecil. 😒😒😒Terbayang wajah Anin yang sedih dan kebingungan mencari kucing-kucingnya. Aku tak kuat bila harus  membuka kap mesin mobil. Aku takut kalau melihat pemandangan mengerikan. Bagaimana kalau kucing-kucing itu tercabik mesin dan terkapar berdarah-darah di dalam kap mobil? Aku tak  kuat...😱😱😱

Akang sibuk menenangkanku.  Akhirnya  bisa berhenti menangis, meski hati tetap tidak tenang. Usai menjalani medical check up, aku kembali cemas. Kami harus memeriksa mesin mobil untuk memastikan nasib anak-anak kucing itu.

“Neng duduk saja di kantin. Biar Akang yang lihat.” Ujar Akang memenangkanku.

Tak lama kemudian Akang kembali.

“Nggak ada anak kucing di dalam kap mesin. Tidak ada juga bekas-bekas darah atau tanda-tanda ada anak kucing. Dipanggil-panggil juga gak ada yang nyahut.” Akang berkata sambil memandangku.

Perasaanku campur aduk. Ada lega, setidaknya ada kemungkinan anak-anak kucing itu masih hidup, tidak mati di dalam kap mesin. Ada rasa bersalah, dan sedih.  Apalagi si Mbak assisten rumah tangga menelpon, mengabari Anin yang menangis terus menerus mencari kucing-kucingnya. Dan induk kucing, si Rasamaha yang tak berhenti mengeong, membawa bangkai tikus  ke sana ke mari mencari anak-anaknya.

Hari sudah sore ketika aku dan Akang tiba di  rumah. Akang memarkir mobil di carport. Dengan perasaan kacau, aku turun dari mobil sambil berdoa,

“Ya Allah ampunilah hamba yang tak teliti. Seandainya ada satu saja anak kucing yang bisa ditemukan, mungkin bisa mengobati perasaan Anin dan Rasamaha. Rasanya tak tega harus menyaksikan kesedihan Anin dan induk kucing itu. “

Baru saja menghela napas menepis rasa tak nyaman, aku melihat Rasamaha berlari menghampiri mobil. Nada suara mengeongnya khas, agak rendah dan lembut. Seperti itulah nada kasih sayang yang diperdengarkan dia setiap kali memanggil anak-anaknya, berbeda nadanya dengan nada mengeong bila dia minta makan.

Rasamaha mengendus-endus bagian bawah bumper mobil. Suaranya lirih mengeong. Aku menatapnya dengan perasaan hancur.

Rasanya aku tak mempercayai pendengaranku. Ada suara lain! Suara kecil lirih dari bagian bawah bumper. Tak lama makhluk kecil berbulu cream kekuningan itu nongol. Si Dumdum! Dia ada di dalam bumper mobil. Jadi ternyata sejak malam kemarin dia tak beranjak, ikut ke Jakarta, mendekam di bumper mobil selama parkir berjam-jam di basement gedung kantor Akang,  dan tetap di sana sampai balik ke Bogor lagi. Sekarang dia keluar ketika dipanggil induknya. Ya Allah... Alhamdulillah.


Dengan riang aku raih anak kucing itu. Tubuhnya lemas, bau asap mobil. Dea langsung membawa Dumdum, dibasuhnya tubuh mungil itu dengan  air hangat dan dikeringkan. Kemudian Dumdum menyusu pada induknya. Rasamaha terlihat  sangat bahagia menjilati seluruh tubuh Dumdum.πŸ˜—πŸ˜—πŸ˜—πŸ’“πŸ’“πŸ’“

“Ma, kasihan Teteh Anin. Dia tadi nelpon. Kayak orang linglung. Dia di tempat kosnya, gak bawa apa-apa. Nangis terus kayak orang patah hati.” Ujar Dea.

“Cepat telpon Teteh suruh balik ke Bogor. Anak kucingnya ketemu satu. Yang lainnya entah hilang kemana, tapi satu ini mungkin bisa mengobati sedihnya Teteh Anin.” Sahutku.


Akhirnya... Alhamdulillah. Aku bisa melihat Anin dengan lega dan bahagia memeluk Dumdum. πŸ’–πŸ’–πŸ’–Meskipun ada juga rasa sedih karena tiga ekor anak kucing lainnya tak jelas nasibnya. Blueband, Tummi dan Orange-peel, entah bagaimana nasib mereka. Semoga Allah melindungi..

Hati rasanya hangat menyaksikan Anin yang sayang sekali pada kucingnya. Sering dia mengirimkan message padaku ketika di weekday dia tinggal di tempat kos dekat kampusnya,

“Mama, Dumdum lagi ngapain?”

Maka aku pun memotret atau mengambil video Dumdum lalu kukirimkan ke Anin. Hehehe...


Anin membelikan Dumdum tempat tidur, rumah-rumahan, mainan, perlengkapan makan dan minum, dan boneka mainan. Bila Anin pulang ke rumah, dia rajin meracik makanan buat Dumdum. Selain  memberi makanan kering, Anin merebus tempe. Lalu tempe diuleg halus, dicampur makanan kucing yang basah dan sedikit yogurt. Dumdum dan Rasamaha makan dengan lahap. Kadang-kadang si Cungkring ikut makan juga.




Sekarang Dumdum tumbuh sehat dan pintar. Ini videonya ketika main dengan Anin 





Alhamdulillah...Sehat dan happy terus ya Dumdum dan Rasamaha πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–

1 komentar:

Surnata Os mengatakan...

Saya jg suka kucing, tp sekarang tidak sedang pelihara kucing.tidak sempet lagi juga lingkungan yg kurang kondusif. Hanya ada satu kucing di tempat kerja sy yg slalu menemani di pos jaga. Setiap kiriman nasi 2 box nasi catering yg satu box sy khususkan buat jatah si buluk kucing. Kadang ayam atau ikan di aduk sama nasi slalu dihabiskannya.