Jumat, 20 Januari 2017

Kemewahan Rasa Tradisional di Rempah Iting

Makan bukan hanya sekedar kegiatan memasukkan makanan ke dalam mulut kemudian mengunyah dan menelannya. Makan juga bukan hanya untuk menghilangkan lapar dan memperoleh nutrisi bagi tubuh. Lebih dari itu.  Kegiatan makan ternyata  bisa menjadi pengalaman yang mengesankan. Seperti menikmati sebuah karya seni.  Bahkan makan juga bisa menumbuhkan rasa nasionalisme, cinta tanah air. Lho, kok bisa? Bagaimana ceritanya? Hehe..



Aku mendengar cerita dari salah seorang sahabat, katanya ada sebuah rumah makan di sebelah Sarinah Thamrin. Tempatnya agak tersembunyi,   di Jalan Sunda no.7 Menteng. Menurutnya masakan di situ enak. Harga makanannya pun untuk ukuran Jakarta Pusat termasuk murah.

“Makanan dan minumannya ditambahi rempah. Jadi bukan cuma rasa, tapi juga aroma. Nikmatnya cetarr ! ”Ujarnya melafalkan huruf r yang bergetar-getar. Ekspresi wajahnya saat mengucapkan kalimat itu kok “makjleb”. Aku jadi penasaran.




Di suatu kesempatan, akhirnya aku mengunjungi tempat makan itu. Memang benar, tempatnya agak tersembunyi. Pintu masuknya terdapat di bagian samping. Namun ada baliho terpasang di bagian depan gedung yang menandakan keberadaan rumah makan ini.




Namanya Rempah Iting. Aku tergelitik dengan nama  yang unik ini. Rempah adalah bumbu andalan yang menjadi ciri khas resto ini  dibanding rumah makan masakan Indonesia lainnya. Dan kata Iting ternyata adalah plesetan dari kata “eating” dalam bahasa Inggris.



Memasuki ruangan resto, rasanya teduh.  Berbeda sekali suasananya dengan hiruk pikuk di luar sana.  Apalagi siang itu  matahari Jakarta tengah mengerahkan segenap  sengat panasnya.

Lantai bermotif kayu memberi efek hangat dan alami pada ruangan. Kursi makan rotan berwarna coklat tua tersusun rapi, sementara mejanya bermotif kayu, senada dengan lantai. 


Di sudut ruangan terdapat sofa-sofa empuk dengan bantal kursi  bermotif  garis putih dan biru. Sebagian dinding menampilkan bata ekspos dengan aksen kayu yang disusun vertikal – horizontal, berfungsi sebagai rak. Lampu-lampu ditata menghasilkan pencahayaan yang sedikit redup. Secara keseluruhan ruangan ini menghadirkan kesan hommy. Hangat, menenangkan.

Pelayan yang ramah menyambutku, menyodorkan menu.  Terdapat cukup banyak varian masakan Indonesia yang tertera di  daftar menu.  

Pada daftar menu terdapat beberapa  yang ditandai dengan gambar jari jempol. Rupanya untuk memudahkan pengunjung resto memilih, menu favorit sengaja ditandai.

Aku memilih beberapa menu favorit yaitu sop konro, gurame mangut, dan nasi iga iting. Hatiku tergelitik  memilih dua menu lain, yang tidak termasuk favorit. Ayam presto penyet dan minuman teh rempah.



Tidak lama kemudian, teh rempah dihidangkan. Aroma rempah yang berasal dari peka, jahe, jinten, kapulaga berbaur menyatu dalam uap panas mengepul.Warna minuman ini pekat. Menghirup harumnya terasa seperti aroma terapi. Kuraih sendok kecil,  kucicipi sedikit. Rasa rempah sangat kental, sedikit pahit. Kubuka tutup cangkir berbentuk batok kelapa yang dihidangkan bersama cangkir teh rempah. Isinya butir-butir gula batu. Kutambahkan secukupnya ke cangkir teh, lalu kuaduk perlahan. Cangkir itu kuraih, uap panas dihirup, cairan pekat itu kuseruput perlahan. Nah.. ini baru pas. Gula batu yang manis menjadi penyeimbang rasa kental rempah. Hangat dan segar di badan. Kubayangkan suasana hujan di Bogor. Duduk di dekat jendela memandang rintik hujan sambil menyeruput teh rempah. Rasanya seperti “me time”-nya putri-putri keraton. Hehehe…

Kemudian nasi iga iting, sop konro, gurame mangut dan ayam presto penyet terhidang satu persatu.



Nasi iga iting penampilannya mirip nasi  bakar timbel. Ketika bungkus daun pisangnya kubuka, terlihat nasi putih dengan aroma bumbu yang sedap. Dengan sendok kubelah bagian tengahnya. Diantara butir-butir nasi bertekstur lembut kenyal itu muncul  potongan iga, jamur dan bumbu-bumbu, di antaranya daun kemangi. Satu sendok nasi beserta sedikit iga dan jamur  menghantarkan rasa yang gurih sementara uap panas mengepulkan aroma bumbu berempah.  Harum, membangkitkan selera. Wajar saja kalau menu ini menjadi salah satu menu favorit pengunjung.



Selanjutnya, gurame mangut. Masakan ini adalah gurame goreng yang di siram kuah kental kuning bersantan dengan potongan-potongan bumbu yang sekaligus mempercantik penampilannya. Ada potongan tomat hijau dan cabe dalam kuah berwarna kuning. 

Satu sendok daging ikan berlumur kuah bumbu itu membuat lidahku bergetar. Agak sulit mendefinisikan rasa lezat masakan ini. Sebelumnya aku pernah makan ikan mangut, tapi yang ini jauh lebih nikmat. Pengalaman terakhirku makan mangut adalah rasa “eneg” akibat bumbunya yang terlalu berani. Nah, gurame mangut ini tidak menimbulkan rasa seperti itu. Tidak ada satu jenis bumbu yang terasa kuat. Aku tak bisa bilang ada wangi jahe, kunyit, atau apa, karena tampaknya bumbu-bumbu ini telah diracik sedemikian rupa sehingga berbaur sempurna membentuk konfigurasi rasa dan aroma baru  yang nikmat sekali. Sekali lagi aku mengakui kalau masakan ini pantas jadi menu favorit.



Dari penampilannya saja, sop konro sudah membangkitkan selera. Potongan konronya besar-besar. Kuah panasnya menebar harum rempah. Apalagi ketika dimakan. Dagingnya lembut, tak sulit mengunyahnya. Potongan daging menyatu dengan saliva di lidahku menyentuh simpul syaraf perasa yang mengantarkan informasi ke otak. Efeknya aku bisa mengenali rasa ini sebagai “enak sekali”. Gurih, tapi bukan gurih yang datang dari zat additive seperti MSG. Ini kolaborasi sempurna  campuran bumbu-bumbu dan rempah Indonesia yang diracik dengan komposisi cermat. Aku jadi ingin kenalan dengan Chef-nya.



Menu yang terakhir kucicipi adalah ayam presto penyet. Aku sengaja memilih menu ini meski tidak termasuk menu favorit, karena ayam penyet adalah menu umum yang keberadaannya merambah  ke mana-mana, baik  di mall,  foodcourt, restaurant, atau tempat makan lainnya. Aku punya cukup banyak pengalaman makan ayam penyet. Jadi kali ini aku ingin membandingkan rasanya.

Yang pertama aku  cicipi adalah sambal yang melumuri ayam. Eh, kok enak. Rasa pedasnya tak menyakiti lidah meski terdapat  butir-butir biji cabe yang tampak utuh. Meski sambal ini tampak seperti topping, tapi ternyata rasanya meresap kedalam daging ayam yang lunak. Yang aku maksud lunak itu bukannya lembek, tapi lembut dan masih terasa kenyal tekstur dagingnya. Kenyal tapi tidak sulit dikunyah. Ini tak seperti ayam penyet yang umum dijual di resto-resto di mall.  Tulangnya bukan saja lunak,  rasa lezat bumbunya pun meresap sampai ke tulang. Jadi , makan ayam ini tidak akan bersisa. Daging dan tulangnya, berikut sambel ludes semua pindah ke perut.

Bagaimana dengan harga? Untuk ukuran Jakarta Pusat, harga di Rempah iting tidak mahal. Harga berkisar dari Rp.5.000,- hingga yang termahal Rp. 100.000,-  Enaknya di resto ini  pengunjung bisa memilih makanan sesuai budget karena ada juga pilihan menu paket  mulai harga Rp. 27.000,- hingga Rp. 75.000,-.  Kalau di rata-rata,  satu orang yang makan dengan menu lengkap berkisar Rp. 75.000,-. Cukup murah jika kubandingkan dengan pengalaman makan di sebuah pusat perkantoran yang menyatu dengan mall di Jakarta Pusat, di mana satu orangnya harus merogoh dompet sekitar Rp. 150.000,- dengan kualitas makanan yang standar saja.


Karena masakannya enak, aku jadi ingat anak-anakku. Lalu 4 menu yang sama yang  sudah terbukti enak kubungkus dan kubawa pulang ke Bogor.

“Anin, Dea, Rafif! Ke sini, Nak. Mama bawa oleh-oleh.” Seruku ketika sampai di rumah. Tiga buah hatiku turun dari kamar mereka di lantai dua.

“Oleh-oleh apa, Ma?” Rafif tampak paling antusias.

Aku menghidangkan 4 menu di atas meja. Mula-mula  mereka tampak tak bergairah. Tak heran, ketiga anakku memang kurang menggandrungi masakan Indonesia sejak mereka kenal masakan Jepang dan Italia.

“Kok nggak bawa spaghetti, Ma? Ini apa? Nasi timbel?” Tanya Rafif sambil menunjuk nasi iga iting.  Bibirnya manyun.

“Bukan. Ini bukan nasi timbel. Coba dibuka. Ada kejutan di dalamnya. “ Bisikku.

Rafif  penasaran. Dengan jari dirobeknya  daun pisang yang membungkus nasi. Dia menyendok bagian tengah nasi, hingga daging iga dan potongan jamur tersembul keluar.

“Coba dicicip, Nak.”

Rafif menyuap satu sendok nasi iga. Aku memperhatikan perubahan raut wajahnya. Sejurus kemudian dia tak berhenti lagi memasukkan suapan demi suapan nasi ke mulutnya. Sebentar saja ludeslah nasi iga iting, pindah ke perutnya.

“Kurang, Ma. “ Ujarnya.

“Kurang enak?” Sahutku.

“Kurang banyak. Enaaak.” Tukas Rafif.

Aku tergelak.

Dea menyantap sop konro, sementara Anin makan ayam presto penyet.

“Tumben. Kalian kok suka masakan ini? Biasanya malas kalau diajak makan masakan Indonesia.

“Ini beda, Ma. Beli di mana sih?” Tanya Anin.

“Di Rempah Iting. Di Jakarta. Bedanya apa dengan masakan yang biasa?” Tanyaku ingin tahu.

“Rasanya enak. Baunya enak. Dagingnya empuk. Nggak bikin mual.” Kali ini Dea yang menjawab.

Aku memperhatikan tiga buah hatiku makan dengan lahap. Terakhir, mereka bertiga menyerbu gurame mangut. Biasanya tak pernah mereka begitu bernafsu makan ikan, apalagi disiram santan. Tapi kali ini nasib gurame mangut itu selesai “hingga titik darah penghabisan”. Hehe… Sekarang kesempatanku menanamkan sebuah keyakinan pada mereka.

“Nak, Mama ingin kalian meresapi benar-benar rasa masakan ini. Ingat baik-baik ya, Nak. Rekam dalam memori kalian.  Rasa nikmat dan aroma sedap yang kalian rasakan ini berasal dari bumbu-bumbu dan rempah asli Indonesia. Rempah  adalah bahan yang ditambahkan untuk mempertegas rasa dan aroma. Kalian tahu, ratusan tahun negara kita di jajah oleh Bangsa Belanda, Jepang dan lainnya, ya karena ini. Para penjajah itu “ngiler” pada eksotisme rempah Indonesia, sehingga mereka merampas dan menguasai bangsa kita. Sekarang Mama mau tanya. Enakan mana, masakan Indonesia, atau yang lain?”

Mereka tak menjawab, hanya tersenyum-senyum sambil terus menggerogoti daging ikan gurame, menjilati ujung -ujung jari   yang berlumur bumbu.

“Nah, Mama ingin kalian mencintai Indonesia. Suatu saat kalau kalian ditakdirkan tinggal jauh di negeri orang, Mama ingin nikmat masakan Indonesia menjadi salah satu pengikat cinta pada Indonesia. Jaga negara kita ya, Nak. Siapa tahu suatu saat nanti kalian yang akan maju berperan di negara kita.” Ucapku sambil menatap tiga buah hati.

“Jadi, kapan Mama mengajak kami makan di Rempah Iting?” Rafif menarik garis bibir hingga pipi gembilnya tertarik ke atas. Matanya dibelalakan dengan ekspresi jenaka.


Aku tergelak. Baru sekali ini anakku meminta diajak makan masakan Indonesia. 

Rempah iting telah berhasil menyajikan racikan tradisional dalam kemewahan rasa. Sehingga siapa pun yang mencobanya merasa jatuh cinta pada masakan Indonesia. 

4 komentar:

Nova Violita mengatakan...

Ku kira iting itu nama masakan.. ternyata... dari "eating..

Vita Pusvitasari mengatakan...

Wah enak nih, bikin ngiler end laper, pengen nasi iga itingnya 😊

ida mengatakan...

Baca tulisan ini dan lihat foto-foto makanan, benaran bikin ngiler ^_^
Semoga ada kesempatan mampir di restoran ini :)

Adenita mengatakan...

Waaah komplit infonya. Makasih ya mbak...