Kamis, 26 Oktober 2017

KOMUNIKASI SUAMI ISTRI KUNCI KEBERHASILAN PENGASUHAN ANAK


Satu hal yang sangat mendasar dalam pengasuhan anak dan  membina rumah tangga  adalah komunikasi suami istri. Bagaimana tidak? Mau tak mau, orangtua adalah teladan bagi anak-anaknya. Bila suami istri bisa berkomunikasi dengan baik, nyaman, adem ayem, kompak, penuh kasih sayang, mesra dan harmonis, maka anak akan melihat seperti itulah contoh nyata rumah tangga  sakinah yang kelak akan mereka bentuk di masa depannya. Anak akan mencontoh, seperti itulah cara suami memperlakukan istri, dan cara istri memperlakukan suami. Anak-anak akan melihat betapa berumah tangga itu menetramkan hati,  dan membuat anak-anak merasakan hadirnya surga di rumah mereka sendiri. Dalam rumah tangga seperti itu, anak-anak akan tumbuh dengan fitrah baik yang tetap terjaga.

Ronny Gunarto & Okina Fitriani

Beda halnya kalau anak melihat pola komunikasi orangtuanya morat-marit, saling menyalahkan, saling menuntut, saling menyindir, saling bersaing, bicara dengan nada keras, kata-kata kasar, bahkan saling menyakiti baik lewat kata maupun secara fisik. Kondisi ini berpotensi merusak fitrah baik anak, bahkan menimbulkan trauma. Yang paling parah, bagaimana kalau anak mengira bahwa memang seharusnya demikianlah cara  suami memperlakukan  istri dan sebaliknya, lalu kemudian mempraktekkan hal yang sama dalam rumah tangga mereka. Duh....

Demikian pentingnya komunikasi suami istri sebagai dasar untuk pengasuhan anak,  maka aku ingin membagikan salah satu materi yang disampaikan Mas Ronny Gunarto dalam training Enlightening Parenting for Dads , di hotel POP! Kelapa Gading Jakarta, 21-22  Oktober 2017 lalu. 

Selasa, 24 Oktober 2017

Review Buku " Berlibur, Berburu Beasiswa, Belajar, Bekerja dan Bermukim di Australia Barat"




Sudah lama tidak jalan-jalan ke luar negeri, rasanya sudah sangat ingin melakukan hal ini lagi. Tapi kemana?

Ketika ngobrol via Whatsapps Call dengan sahabatku, Novi Wilkinson, dia bilang Australia Barat bagus. Dalam hati aku berkata,

” Ah, tentu saja Novi bilang Australia Barat menarik. Lha kan dia tinggal di sana. Pasti sengaja bilang begitu supaya aku mau jalan-jalan ke sana.”

Novi bercerita dengan penuh semangat tentang hal-hal baru dan menarik yang dia jumpai di sana. Dia baru saja pindah dari Kuala Lumpur ke Perth. Dia bilang dia jatuh cinta pada Perth.

Kamis, 19 Oktober 2017

ANCHOR CINTA



Dalam berinteraksi dengan orang-orang, terutama orang terdekat dan tercinta, misalnya suami dan anak-anak, ada kalanya timbul emosi tertentu yang kurang memberdayakan. Ya wajarlah, kita sendiri dan mereka adalah  manusia biasa. Anak-anak  dan suami tentu tidak bisa  24 jam bersikap manis dan menyenangkan. Sementara kondisi emosi diri kita juga tidak selamanya stabil, bisa saja di saat-saat tertentu misalnya  mengalami pre –menstruasi, sehingga  menjadi lebih sensitif.

Bila dalam berinteraksi kemudian timbul “percikan-percikan” yang menimbulkan emosi negatif , apakah yang  bisa dilakukan untuk mengatasi keadaan itu?

Mau marah-marah? Berkata dengan nada tinggi, mata melotot, atau mengucapkan kalimat dengan nada rendah tapi isi kalimatnya “pedas”? Ngomel dan menumpahkan semua uneg-uneg biar hati kita puas? Itu pilihan, Kawan.

Tapi selama ada pilihan yang lebih baik, mengapa tak kita pilih jalan yang lebih baik itu? Bukankah orang yang paling baik adalah yang berlaku paling baik pada keluarganya?
Seperti yang diriwayatkan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku” [HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no: 285].

Jadi kalau kesal, kecewa, marah, gondok, sebal atau apalah itu pada suami dan anak-anak,  harus bagaimana?

Selasa, 10 Oktober 2017

Aksi Jando Beraes


Kenanganku akan masa lalu saat masih remaja dengan empat orang adik perempuan tak lepas dari kenangan tentang  almarhum Papi dan si Jando Beraes.

Siapakah Jando Beraes itu? Tak lain itulah julukan yang kami berikan pada sebuah mobil sedan tua bobrok keluaran tahun 1970 . Mobil itu milik Papiku.  Jando beraes dalam bahasa Palembang artinya janda berdandan. Mobil tua ini diibaratkan  seorang janda tua yang berusaha keras berdandan, namun seberapa keras usaha untuk melawan usia tetap saja harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah digerogoti penyakit tua. Sering mogok mesinnya, pintu kadang-kadang sulit dibuka, engkol untuk membuka kaca jendela macet, karat yang mulai menghiasi bagian body di sana-sini,dan lain-lain.

SENYUM LIMA JARI





Hai Moms.. Pernah nggak memperhatikan ketika anggota keluarga pulang ke rumah setelah berkegiatan di luar rumah, siapa yang pertama kali mereka cari di rumah?

Apa pentingnya memperhatikan hal ini? Tadinya sih iseng saja, tapi memperhatikan hal kecil seperti ini ternyata bisa membuat hati dibanjiri kehangatan, lho. Kok bisa ya?

Selasa, 12 September 2017

TOURING KE LEMBANG, MENIKMATI SEKELUMIT EROPA DI FARMHOUSE


Kantuk hampir saja mengantar ke alam mimpi ketika  derit pintu kamar yang terkuak menarikku kembali ke alam sadar. Dengan kelopak mata berat,  kutangkap bayangan laki-laki separuh jiwa itu masuk kamar dengan langkah gontai.  Kulirik jam.  Pukul 23.10. Ah... Kasihan sekali  Akang, begitulah aku memanggil suamiku,  baru sampai rumah hampir tengah malam begini. Sebuah proyek penting menyita waktunya, ditambah  kemacetan parah di Jakarta memaksa ia pulang lebih larut. Akang menghempaskan tubuh lelahnya di kasur. Lengannya terjulur meraih dan memelukku.

“Neng, besok kita harus berangkat touring. Kalau Akang di atas motor,  segala penat dan ketegangan rasanya lepas. Akang benar-benar butuh refreshing supaya di hari berikutnya punya energi baru untuk menghadapi pekerjaan.”Bisiknya dengan mata setengah terpejam.

Jumat, 10 Maret 2017

CARA EFEKTIF MENEGUR ANAK

Foto Ilustrasi diambil dari raikankasih.com


Ketika anak melakukan kesalahan, apa yang harus dilakukan orang tua? Beberapa orangtua memilih mengomeli anak, menasehati, atau bahkan menjadi pahlawan yang mengatasi konsekuensi dari kesalahan sang anak.


Tiga pilihan itu mengandung resiko. Dan konyolnya, tiga pilihan itu pernah aku lakukan pada anakku. Dulu, ketika belum belajar parenting.


Kamis, 09 Maret 2017

Resep Lasagna ala Iwed


Lasagna adalah salah satu makanan kegemaran anak-anakku. Dulu, kalau ingin makan lasagna kami biasanya datang ke resto masakan Italia. 




Aku akhirnya membuat sendiri masakan ini, dengan racikan bumbu  sendiri, sampai kutemukan komposisi yang pas di lidah anak-anakku. 

Resepnya sebagai berikut :

Kamis, 02 Februari 2017

Cerita Rasa Karena Rasa Punya Cerita


Rempah iting, sebuah resto di kawasan Jl. Sunda no. 7 Menteng dekat Sarinah Thamrin melayangkan undangan untuk peluncuran produk baru berupa nasi box yang dinamai “Cerita Rasa”. Biasanya,  kalau aku dapat undangan peluncuran menu baru dari caffe atau rumah makan, aku memberlakukan  banyak pertimbangan untuk hadir di acara itu.  


Namun kali ini berbeda. Pengalamanku beberapa saat  lalu ketika makan  di resto ini,  terbukti membuat lidah dan indera penciuman hanyut dalam lezatnya rasa serta aroma eksotisme rempah Indonesia. Masakan ala Rempah Iting sudah berhasil membuat aku dan anak-anak jatuh cinta  lagi pada masakan Indonesia. Mengingat bagaimana lezatnya masakan ala Rempah Iting, aku penasaran ingin hadir dan mencicipi “Cerita Rasa”. 

Selasa, 31 Januari 2017

CARA MEMBANGUN KEMESRAAN SUAMI ISTRI DENGAN 5 PILAR KOMUNIKASI



Setelah menikah dan memiliki anak, apakah kisah hidup kemudian  berjalan seindah dongeng Cinderella atau Putri Salju, “live happily everafter”?  Nyatanya tidaklah sama.  Setidaknya itu yang aku rasakan. Aku membayangkan rumah tangga yang romantis sepanjang pernikahan. Peluk, cium, belaian sayang, kata-kata manis, dan tatapan mata mesra penuh cinta menggelora. Ah sungguh indah!  

Pernikahan semacam itu hanya akan menjadi impian bila tak ada upaya mewujudkannya.  Butuh kemauan kuat, dan konsistensi, termasuk juga harus tabah menghadapi drama-drama yang menyertai upaya itu.

Mari simak perjuanganku menerapkan 5 pilar komunikasi yang kupelajari dari training Transforming Behaviour Skill  berdasarkan ilmu Neuro Linguistic Programming (NLP), untuk mencapai tujuan, membangun kemesraan dalam rumah tangga.

Jumat, 20 Januari 2017

Kemewahan Rasa Tradisional di Rempah Iting

Makan bukan hanya sekedar kegiatan memasukkan makanan ke dalam mulut kemudian mengunyah dan menelannya. Makan juga bukan hanya untuk menghilangkan lapar dan memperoleh nutrisi bagi tubuh. Lebih dari itu.  Kegiatan makan ternyata  bisa menjadi pengalaman yang mengesankan. Seperti menikmati sebuah karya seni.  Bahkan makan juga bisa menumbuhkan rasa nasionalisme, cinta tanah air. Lho, kok bisa? Bagaimana ceritanya? Hehe..



Aku mendengar cerita dari salah seorang sahabat, katanya ada sebuah rumah makan di sebelah Sarinah Thamrin. Tempatnya agak tersembunyi,   di Jalan Sunda no.7 Menteng. Menurutnya masakan di situ enak. Harga makanannya pun untuk ukuran Jakarta Pusat termasuk murah.

“Makanan dan minumannya ditambahi rempah. Jadi bukan cuma rasa, tapi juga aroma. Nikmatnya cetarr ! ”Ujarnya melafalkan huruf r yang bergetar-getar. Ekspresi wajahnya saat mengucapkan kalimat itu kok “makjleb”. Aku jadi penasaran.

Jumat, 13 Januari 2017

Ketika Anak Mendadak Menyerah


Pagi itu, aku, si emak dasteran, sedang bersenandung riang di dapur, membolak-balik tempe mendoan di kuali berminyak panas mendesis-desis.

Tiba-tiba aku teringat Anin. Seharusnya dia sudah turun dari kamarnya di lantai dua untuk sarapan. Jam delapan pagi ini dia akan ikut try out di tempat bimbingan belajarnya. Khawatir Anin lupa, aku berlari meninggalkan kuali tempe mendoan, menuju kamarnya di lantai atas.

Kukuakkan pintu kamar hingga terlihat  anak gadis sulungku  sedang duduk di lantai. Di hadapannya berserakan kertas-kertas, buku, dan alat tulis. Sejak tadi malam kulihat dia menekuri tumpukan kertas dan buku-buku. Tapi pagi ini ada yang aneh.

Minggu, 08 Januari 2017

Workshop Menulis dengan Rasa dan Logika ala A. Fuadi



Siang itu, di sebuah caffe  di kawasan Cilandak, aku dan Mbak Gita bertemu untuk membicarakan sebuah proyek buku. Gelas-gelas kopi, kue-kue, dan laptop tertata di meja kami, menjadi saksi  obrolan seru yang mengalir.

Mbak Gita dan aku punya banyak kesamaan. Kami sama-sama suka menulis, sama-sama blogger, mantan tukang ngomel yang  sudah insyaf dan terus berupaya menjadi emak  terbaik buat anak-anak, aktifis parenting, senang berbagi ilmu, gemar belajar, rajin menabung, baik hati dan tidak sombong. Eh.  Hehehe…
 
Aku dan Mbak Gita

Kedekatan kami terjalin kian erat di komunitas alumni training Enlightening Parenting-nya Mbak Okina Fitriani. Banyak respon positif berupa sharing keberhasilan dalam menerapkan teknik-teknik Enlightening Parenting pada pengasuhan anak yang dilakukan anggota komunitas.  Kami berdua merasa sayang sekali kalau berbagai pengalaman tersebut hanya dinikmati  komunitas ini saja. Timbul ide untuk mengumpulkan pengalaman-pengalaman para orang tua menerapkan pengasuhan  dalam sebuah buku. Nah, rencana membuat buku itulah yang kami rundingkan.

Ketika pembicaraan beralih ke topik mencari penerbit, Mbak Gita berkata,

“Coba aku tanya sama kakak sepupuku ya. Namanya  Bang Fuadi. Dia penulis novel Negeri 5 Menara.”

Berasa tak percaya, aku terpelongok.

“Apa? Maksudnya A. Fuadi? Penulis novel trilogi Negeri 5 Menara? Itu sepupumu?”

Selasa, 03 Januari 2017

Anak Trauma pada Guru? Ini Solusinya



Aku sedang  duduk di ruang makan, baru saja menghabiskan semangkuk sop ayam  ketika si sulung Anin masuk.

“Sudah pulang, sayang?” Sapaku.

Anin tak menjawab. Dihempaskan tubuhnya di kursi makan. Tas kecilnya diletakkan sembarangan  di atas meja. Pandangan mataku menangkap raut wajah Anin  kusut. Rahangnya mengeras. Sudut-sudut bibir tertarik ke bawah. Ketajaman inderaku menangkap kemarahan dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh Anin.

“Lha, ada apa ini?” Batinku.

“Anin sebal banget! Ingat Guru Anin  marah tempo hari. Dia bilang percuma saja Anin pintar kalau akhlaknya buruk!” Kalimat itu terlontar dari mulut Anin disertai tatapan mata  dingin menusuk.