Minggu, 06 November 2016

5 Hal yang bisa dilakukan Orangtua untuk Mewujudkan Era Generasi Gemilang



Tujuan mendidik anak adalah untuk menjaga fitrah atau potensi baik yang sudah dibawa anak-anak sejak lahir, mengupayakannya agar meningkat menjadi lebih baik,  kemudian mengarahkan mereka menjadi  pribadi-pribadi shaleh-shalehah, bermanfaat, tangguh dan  berkolaborasi menjadi generasi gemilang. 


Apa yang bisa dilakukan para orangtua untuk mewujudkan harapan ini? Mari simak 5 hal yang bisa dilakukan untuk mewujudkan era generasi gemilang. 


1. Benahi diri sendiri.

Pengalamanku memulai berbenah diri berawal dari sebuah kesadaran. Dulu, ada masanya  aku  menyandang image “palsu”. Teman-teman mengenalku sebagai pribadi yang baik, ramah, lembut, santun. Mereka tak tahu, ada sisi dalam diriku yang merasa tertohok. Sisi dalam diriku itu berkata dengan keras.

”Hei, kamu nggak malu sama diri sendiri? Kamu dinilai demikian baik oleh teman-temanmu padahal di depan anak-anakmu sendiri  kamu suka teriak-teriak, ngomel, marah-marah, menuntut mereka menuruti perintahmu. Apakah seperti itu ibu yang baik menurutmu? Ibu yang di telapak kakinya terdapat surga? Kamu itu penuh kepalsuan. Mengapa justru pada tamu istimewa, amanah Allah yang paling berharga dalam hidupmu kau bersikap menyebalkan? Tak heran bila anak-anak susah diatur. Kamu  bermasalah. Butuh ilmu. Butuh bantuan.”

Kesadaran itu  menggerakkan aku berusaha mencari dan belajar ilmu parenting demi menjadi ibu yang lebih baik buat anak-anakku. 

Aku ikut seminar, menghadiri sharing parenting, membaca artikel dan buku parenting ini itu dari berbagai sumber. Hasilnya? Belum ada perubahan. Begitu banyak pengetahuan parenting yang sudah didapat, tapi entah mengapa semuanya hanya sebatas teori yang rasanya sulit sekali dipraktekkan . Teori itu “mengawang-awang” dalam pikiranku, rasanya kok seperti berada dalam ranah  berbeda, tak mampu kuaplikasikan dalam pengasuhan anak.

Hingga suatu hari aku berkenalan dengan Mbak Okina Fitriani. Beliau adalah  Psikolog dan Master di bidang Human Resources, konsultan, pembicara dalam seminar maupun  training parenting  dan self improvement. Beliau juga  mendalami Neuro-Linguistic Programming dan Brain Development. 

Saat berkunjung ke apartemennya di Kuala Lumpur, Mbak Okina tengah memberi materi tentang Pola Bahasa Persuasif pada ibu-ibu. Hanya sekitar 20 menit saja aku berada di ruangan itu, mendengarkan penjelasan Mbak Okina   tapi aku seolah mendapat “Aha! moments.” Inilah dia yang aku cari-cari selama ini. 

Aku dan Mbak Okina Fitriani

Singkat cerita, terdorong oleh kebutuhan untuk menjadi orang tua yang baik bagi anak-anakku, aku kemudian ikut training parenting, menimba ilmu dari Mbak Okina Fitriani. Seperti yang kuduga, training ini menjadi jawaban untuk kebutuhanku. Ilmu, metode dan cara-cara yang diajarkan dalam training Enlightening Parenting sungguh aplikatif, mudah diterapkan, dan terbukti  efektif. 

Peserta  berfoto usai training Enlightening Parenting

Contohnya, dalam training diajarkan cara menyelesaikan emosi.  Selama ini, pangkal dari segala sumber kekacauan dalam berkomunikasi dengan anak adalah emosi. Emosi itu berupa ketidak sabaran, nafsu untuk dituruti, amarah dan  ketidak mampuan mengatasi amarah itu.  

Mengapa  emosi bisa jadi sumber kekacauan? Ibarat timbangan, bila emosi ada disatu sisi dan logika ada di sisi yang berlawanan, hubungan yang terbentuk adalah 
  • bila emosi naik logika turun
  • bila emosi turun logika naik.

Karena itu, menyelesaikan emosi menjadi sangat penting. Di saat emosi telah turun, pikiran logis pun akan mampu  bekerja menemukan solusi.

Cara mengatasi emosi  dalam training Enlightening Parenting diajarkan dengan  berbagai metode, misalnya assosiasi-dissosiasi, framing - re-framing, anchoring, dan masih banyak lagi. Semuanya mudah, dan sangat bisa diterapkan oleh siapa saja. 

Ketika emosi yang menjadi pangkal dari segala permasalahan komunikasi  bisa diselesaikan, makin mantaplah jalannya pembenahan  diri. Ditambah  dengan pengetahuan tentang 5 pillar untuk keberhasilan berkomunikasi, menjalani proses pengasuhan pada anak pun terasa lebih nyaman . Yang dulunya banyak kendala, sekarang sudah lebih lancar. Alhamdulillah…Berubah itu mengubah.

 2. Menjadi pejuang ilmu, belajar dan belajar.

Untuk menghadapi tantangan pengasuhan masa kini, jelas dibutuhkan ilmu. Maka jangan ragu, jangan malas dan jangan cari-cari alasan untuk tidak belajar ilmu pengasuhan. 

Bukankah anak adalah tamu istimewa yang kita undang untuk hadir dalam kehidupan kita atas persetujuan Allah? Bukankah katanya anak adalah  harta paling berharga dalam hidup, amanah yang kelak akan dipertanggung jawabkan dihadapan Tuhan? Lha kok malas?


“Ah, seminar atau training-training  parenting itu lokasinya jauh dari rumahku. Repotlah…!”

Mari belajar dari Mbak Emeraldina Darmidjas yang tinggal di Doha Qatar, Mbak Gita Djambek yang dulunya tinggal di Yangon, Myanmar, Mbak Inggit Palupisari yang tinggal di Bangkok Thailand. Mereka rela terbang dari tempat tinggal mereka menuju Jakarta.  Rela bayar tiket pesawat dan akomodasi yang jauh lebih mahal dari biaya training, demi menimba ilmu. Bukan cuma sekali, bahkan Mbak Emeraldina dan Mbak Gita berkali-kali menaklukan jarak jauh demi mencari ilmu. Semua untuk anak-anak mereka, untuk tekad berubah menjadi orangtua yang tercerahkan. 

Team Enlightening Parenting bersama keluarga Mbak Wawang Yulibrata di Bangkok

“Aku kan punya bayi dan anak kecil. Repot kalau mau belajar atau ikutan training. “

Yuk belajar dari Mbak Wawang Yulibrata. Saat training parenting di Bangkok, Mbak Wawang membawa 4 orang anaknya. Salah satunya bahkan masih bayi!. Tentu saja sang suami pun ikut, untuk menjaga anak-anak. Apa yang aku lihat merupakan sebuah kolaborasi menakjubkan.Selama 2 hari training,  suami mbak Wawang menjaga anak-anak di luar ruang training, memberi kesempatan pada  Mbak Wawang untuk belajar dengan nyaman . Saat  break dan istirahat makan siang, Mbak Wawang menyusui bayinya. Anak-anak yang sudah lebih besar pun sangat kooperatif. Mereka bahu membahu bekerja sama, saling jaga saling bantu. Semua dilakukan untuk  melengkapi diri dengan ilmu. Aku salut bukan buatan pada keluarga ini. Sungguh mengagumkan.


“Aku ini wanita karier. Gak ada waktu belajar dan ikutan training.”

Mari belajar dari Mbak Hardini Swastiana. Beliau itu wanita karier yang keren. Bekerja di sebuah bank sentral. Tapi tetap saja bisa belajar parenting. Lha, kan trainingnya cuma dua hari saja, dan dilaksanakan saat week end. Lalu praktek ilmunya langsung bisa dilakukan saat menghabiskan waktu bersama anaknya di pagi dan malam hari, dan saat week end. Nggak percaya Mbak Dini bisa tetap konsisten dan kongruen menerapkan prinsip parenting pada anaknya? Coba deh follow Instagramnya yang menginspirasi di @diniswastiana



“Belajar parenting kan buat ibu-ibu yang anaknya masih kecil-kecil. kalau anaknya sudah besar ya telat.”

Kata siapa? Tidak ada kata terlambat. Mbak Rina Mulyati seorang dosen senior di sebuah universitas, masih sangat bersemangat. Dia bahkan berkali-kali ikut training parenting meski anaknya sudah berada di bangku kuliah. Apakah yang dia pelajari sia-sia? Sama sekali tidak.  Menjalani proses pengasuhan anak di usia berapa pun, ada tantangan tersendiri yang penanganannya memerlukan ilmu. Sekarang Mbak Rina dan Ivan, anaknya, sudah menjadi tim solid yang saling mendukung. Bahagianya…

3. Terapkan ilmu.  Jadilah orangtua yang menyenangkan untuk anak-anak.

Bila sudah punya ilmunya, jangan disimpan saja. Terapkan pada diri sendiri dan anak-anak. Mulailah melakukan perubahan.

“Sulit mengubah pola pengasuhan lama, dan menerapkan cara baru mengasuh anak.”

Siapa bilang? Sulit itu kalau tak punya ilmunya. Kalau sudah punya ilmu, apa yang dikatakan sulit itu bisa disingkirkan jauh-jauh. Semua bisa dilakukan. Coba lihat Mbak Arie Kusuma Dewi. Aku suka geli kalau ingat, dulu dia dijuluki “Singo dimejo”  karena galaknya.

Mbak Arie dulunya otoriter, perfeksionis dan menetapkan standar yang tinggi buat anak-anaknya. Ketika anak-anak dinilai tak mampu memenuhi standar yang ditetapkan, dia akan marah-marah seperti singa betina. Anak sulungnya merasa tertekan,  prestasinya  anjlok.  Mbak Arie kemudian belajar parenting, terbukalah peta mentalnya untuk merubah diri. 

Ketika dia mengubah cara bicara, cara merespon tindakan anak-anak, cara memandang mereka, cara mendekati dan memperhatikan mereka, maka anak-anak pun berubah. Benarlah adanya, kalau anak melakukan sesuatu yang dinilai tidak baik, alih-alih menyalahkan anak , lebih baik koreksi diri kita dulu sebagai orang tua. Jangan-jangan mereka berlaku buruk karena orangtua memperlakukan anak dengan buruk, baik sengaja atau pun tak sengaja. 

Setelah Mbak Arie melakukan perubahan, hasilnya bisa dilihat pada anak-anaknya. Manda,  putri sulung Mbak Arie memperoleh berbagai prestasi membanggakan, kreativitasnya makin berkembang, demikian juga dengan anak bungsunya, Biyan. 

Contoh lainnya. Mbak Gita Djambek. Dulu, Aya,anak sulung Mbak Gita, bahkan menjuluki dia “Godzilla” untuk menggambarkan betapa menyeramkan sang Mama kala marah. Akibatnya, komunikasi antara anak dan Mama tidak berlangsung baik. Hal ini yang mendorong Mbak Gita untuk belajar dan kemudian menerapkan ilmu Enlightening Parenting. Tak terlalu lama, Mbak Gita pun menuai hasilnya. Sekarang, Mbak Gita sudah menjadi sahabat yang sangat menyenangkan bagi anak-anaknya.

Mbak Mira Soneta, tanpa sadar menyimpan trauma berat, menjadikan dia tak mampu mengendalikan diri saat marah pada anak-anaknya. Lagi-lagi dengan ilmu dan metode sederhana yang dipelajari dari training, dia bisa bebas dari trauma, berjuang menaklukan ego lalu berubah menjadi ibu yang mampu memberikan rasa nyaman dan menyenangkan buat anak-anaknya. Sekarang anak-anak Mbak Mira bukan saja berprestasi dalam pelajaran, tapi juga berprestasi dalam tindakan. 


Kiri-kanan : Arie Kusuma Dewi, Rina Mulyati, Okina Fitriani, Chita Harahap, Juliana Dewi K, Hardini Swastiana

Kiri-kanan : Chita Harahap, Hardini Swastiana, Gita Djambek, Juliana Dewi K, Kencana Sutedjo


Tengok juga Mbak Chita Harahap, dia berhasil bertansformasi dengan program slimming-nya, dan menginspirasi orang menjadi sehat, supaya bisa menjadi orangtua yang terlibat aktif dengan anak-anaknya. Selain itu, setelah menerapkan 5 pillar dalam berkomunikasi dengan anak, dia berhasil mencapai tujuannya, mengajak anak-anak gadisnya mengenakan hijab dengan kesadaran sendiri. Dalam hal ini aku perlu belajar dari Mbak Chita. 

Lalu lihatlah Mbak Ilmia Lasmita. Dia yang tadinya kebingungan memahami anak-anaknya, kini paham bahwa komunikasi tidaklah sebatas kata. Dengan menerapkan Six Step Re-framing,  Perceptual Position dan Reimprinting Lifetime History, Mbak Mita menemukan jawaban atas kebingungannya.. Perubahan dirinya selain mengantarkan Rafi dan Shafa memperoleh berbagai reward di sekolah, juga membuat hubungan dengan anak-anaknya menjadi sangat menyenangkan. 

Mengapa sangat penting menjadi orangtua yang menyenangkan bagi anak-anak? Bila anak-anak merasa senang, merasa dekat dengan orangtuanya, akan lebih mudah bagi orangtua menjalankan proses pengasuhan,  lebih mudah menanamkan nilai-nilai kebaikan, dan mengarahkan mereka menjadi pribadi tangguh sebagaimana yang diharapkan. 

4. Pilih sahabat, teman dan  lingkungan yang menguatkan.

Ketika di dalam diri sudah tertanam tekad untuk menjadi orang tua yang lebih baik, akan datang banyak godaan  yang melemahkan niat baik itu. Di sinilah pentingnya memiliki sahabat, teman dan lingkungan yang memberi dukungan kekuatan untuk tetap fokus pada tujuan. 

Kiri-kanan : Ilmia Lasmita, Juliana Dewi K, Chita Harahap, Okina Fitriani, Arie Kusuma Dewi, Hardini Swastiana

Lingkungan yang menguatkan maksudnya adalah lingkungan orang-orang yang memiliki visi yang sama, orang-orang yang memiliki kesamaan minat  mempelajari dan menerapkan ilmu parenting, orang-orang yang aktif berbagi pengalaman, berbagi ilmu serta mengingatkan untuk bertindak sebagaimana orangtua yang ideal bagi anak-anaknya. Terus menerus bergaul dan bersinggungan dengan lingkungan ini akan membantu para orangtua   konsisten dan kongruen menerapkan ilmu parenting dalam pengasuhan anak. 

5. Tebarkan ilmu, meningkat dan bermanfaat.

Ketika para orangtua sudah membenahi diri, punya ilmu, menerapkan ilmu parenting dalam proses pengasuhan anak, dan memiliki sahabat-sahabat yang menguatkan, selanjutnya adalah meningkatkan kemampuan diri dengan cara berbagi ilmu di lingkungan yang lebih luas. 

Kenapa berbagi ilmu bisa menjadi jalan untuk meningkat? Orang yang rajin berbagi ilmu tidak akan menjadi bodoh, malah sebaliknya semakin banyak berbagi ilmu semakin banyaklah dia  memperoleh tambahan ilmu berupa masukan dari orang lain. Semakin sering dia menebar ilmu, semakin lama ilmu yang bermanfaat itu akan bertahan dalam ingatannya. 

Menebar ilmu akan membuat hati bahagia, terutama bila ilmu itu dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Dan yang terpenting, Tuhan mencatat segala kegiatan menebar ilmu sebagai amal kebaikan. Amal kebaikan berupa ilmu yang bermanfaat  pahalanya akan terus mengalir sebagai investasi di  kehidupan abadi kelak. Insya Allah..

Ada banyak cara menebar ilmu. Mulai dari lingkungan yang paling kecil, hingga paling luas. Salah satu caranya adalah menulis. 



Buku The Secret of Enlightening Parenting


Buku The Secret of Enlightening Parenting ditulis oleh 16 orang tua sebagai wujud semangat berbagi ilmu. Buku ini dipersembahkan agar para pembaca memperoleh wawasan dan pengetahuan melalui pengalaman nyata para penulis yang sudah berhasil menerapkan ilmu parenting dalam pengasuhan anak-anaknya.






Yang sangat menggembirakan, buku The Secret of Enlightening Parenting bukan saja menjadi sarana menebar ilmu, royalti buku  terbitan Gramedia yang memperoleh national best seller ini  seluruhnya dimanfaatkan untuk membiayai pendidikan anak-anak dhuafa. 

Apakah berbagi ilmu harus dengan cara menulis buku? Tentu saja tidak, menulis bisa di media mana saja. Tengok  apa yang dilakukan Mbak Dini dan Mbak Eka Mardila. Mereka menuliskan pengalaman mengasuh anak, penerapan ilmu parenting untuk diri sendiri dan anak melalui Instagram. Mbak Yuni Kurniah   dan Mbak Andayanie Muktiasari menulis sharingnya di facebook. Sementara aku, Mbak Gita Djambek dan Mbak Gita Lovusa  memilih menebar ilmu lewat tulisan  di blog.


Klik di nama mereka ya kalau ingin tahu apa yang ditulis Mbak Gita Djambek dan Mbak  Gita Lovusa.



Instagram Mbak Eka Mardila


Cara berbagi ilmu lainnya adalah dengan melaksanakan sharing session. Demikian semangatnya para orangtua menebar ilmu pengasuhan diberbagai sekolah dan komunitas di dalam dan luar negeri.

Semangat berbagi ilmu sudah merambah ke Jakarta,  Bogor, Bandung, Jawa Tengah, Jogjakarta,  Myanmar, hingga Doha-Qatar. Di Kuala Lumpur, Mbak Ilmia Lasmita rajin meng-update ilmu dengan mengadakan kelas reguler. Team Enlightening Parenting bukan hanya membidik komunitas maupun sekolah, semangat menebar kebaikan bahkan juga pernah dilakukan  di lembaga pemasyarakatan wanita Tangerang.

Sharing Parenting di Lapas Wanita Tangerang

Sharing parenting di Delangu, Jawa Tengah

Seminar Parenting di Glocal Islamic School

Sharing Parenting di SD Teladan Jogjakarta

Sharing Parenting di PAUD TAAM BABUSSALAM , Cilebut- Bogor


Sharing Parenting di SDIT Miftahul Jannah

Sharing Parenting di Pelatihan untuk Pendidik TPA, Jogjakarta

Sharing Mbak Emeraldina  di Doha-Qatar

Sharing Parenting di Yangon-Myanmar

Sharing PArenting di Kuala Lumpur


Bergerak, berbagi, bergandengan tangan dengan iringan doa dan semangat menebar kebaikan. Dengan upaya bersama para orangtua , terwujudnya era generasi gemilang akan jadi nyata. Kami sudah memulainya. Bagaimana dengan anda?

2 komentar:

April Hamsa mengatakan...

Nomer satu makjleb banget
Terima kasih udah sharing ya mbak :)
Aku bbrp kali ikutn kelas parenting, moga bisa kupraktekkan dengan baik TFS :)

TS mengatakan...

Dan.. semuanya berawal dari diri sendiri ya mbak. Karena belum punya anak jadi praktiknya ke adik. Dulu sempet adik berpikiran mbaknya ini kayak Kak Ros yang suka marah-marah, tapi sekarang ini tiap ditanya apa iya mbaknya ini suka marah-marah kaya Kak Ros, merekajawab ngga. Hehe. Adem dengernya