Rabu, 17 Agustus 2016

CARA ASYIK MENGATASI PERTENGKARAN ANAK ABG

Punya dua anak gadis ABG itu kayak ngemut permen asem-manis-pedas-asin. Rasanya senang  melihat mereka akur, saling menemani, saling curhat, jalan bareng, kompak berkegiatan. Apakah selalu tenang aman damai sentosa? Tentu saja tidak! 

Namanya juga ABG. Dengan  emosi yang masih labil,  kadang-kadang mereka berselisih. Dengan ego yang sama-sama tinggi, pertengkaran menjadi cukup heboh. Masalahnya sih sebenarnya kecil, tapi kalo Emaknya tak belajar parenting, bakal ribet meredakan pertengkaran anak-anak. 






Ribet kenapa?  Karena si Emak   ketularan emosi negatif dari pertengkaran itu, dan tak sadar bahwa dia harus lebih dulu membenahi emosinya supaya bisa berfikir  jernih melihat persoalan. Lalu apa akibatnya kalo  Emak tak menyelesaikan emosinya sendiri?  Dia bukannya jadi penengah, malah membela atau memihak salah satu  anaknya. Ini tidak boleh !

Aku ingin sharing pengalaman, menerapkan salah satu metode yang diajarkan dalam training The Secret of Enlightening Parenting bersama Mbak Okina Fitriani.  Namanya “Parental Coaching” atau metode membimbing anak untuk lebih jernih melihat persoalan, dan membangkitkan kesadaran. Metode ini dipadu dengan 5 prinsip keberhasilan komunikasi.

Kejadiannya sekitar setahun yang lalu, tepatnya bulan Mei 2015.

Saat menyiapkan sarapan, aku mendengar suara Anin (anak sulungku, pelajar SMA ) dan Dea (anak ke-dua, pelajar SMP) yang terlibat perdebatan. Tak lama Anin datang menghampiriku dengan wajah keruh. 

“Mama, Dea ini nyebelin banget! Dia bilang foto yang Anin posting di path jelek. Padahal postingan dia sendiri jelek. Terus dia pake sepatu baru Anin sampai rusak. Anin saja belum pernah pakai sepatu itu. Anin kesal banget, Ma!” Seru Anin dengan nada tinggi.

“Dea-nya dimana?” Tanyaku.

“Itu dia kabur ke kamar Mama.”

Aku lalu masuk ke kamarku. Kulihat Dea tidur dengan wajah dan seluruh tubuh tertutup selimut. Perlahan aku memanggilnya.

“Dea, apa benar Dea pakai sepatu Teteh sampai rusak?” Tanyaku pelan.

Dea diam. Yang jawab sang Kakak

“Benar, Ma. Dia itu nggak tanggung jawab. Tadinya sepatu itu kotor. Anin suruh cuci dia bilang nanti. Nanti terus. Malah sepatunya dipakai terus sampai akhirnya bagian besinya karatan. Talinya kotor, dekil. Jadi jelek sepatu Anin!” Anin yang ikut ke kamar kembali menumpahkan amarahnya.

Dea terpancing. Dia menyibak selimut sehingga  aku bisa melihat wajahnya yang tegang tampak memerah.

“Dea kan sudah tanggung jawab. Dea mau ganti sepatu Teteh dengan uang THR. Tapi kan uangnya belum dapat. Nanti kalau sudah dapat Dea bayar ke Teteh. Teteh itu kalau marah langsung  teriak-teriak. Kemarin waktu marah malah baju Dea kena siram air!”Teriak Dea.

Lalu yang terjadi dua anak ABG itu saling berbantah-bantah mengungkapkan kesalahan dan tuduhan masing-masing dengan nada makin tinggi.

Apa yang kulakukan? Berusaha terus tenang, menekan sebuah titik dipundak kananku. Itu tombol sabar. Dan tampaknya rasa tenang  berhasil membuat aku  melihat pertengkaran dua anak gadis tanpa ikut terpancing emosi negatif mereka.

Dari keributan ini aku bisa menyimpulkan bahwa pemicu pertengkaran  karena Dea bilang foto Anin jelek. Masalah sepatu yang dirusak Dea, dan amarah Anin yang menyiram baju Dea sebenarnya sudah selesai, sudah damai, tapi karena mereka sama-sama emosi, yang terjadi adalah saling mengungkit kesalahan.

Ketika air mata sudah menggenang di pelupuk mata mereka, aku berkata dengan nada rendah.
“Sekarang sudah siang, Nak. Kita sarapan dulu.”

“Pokoknya Anin nggak suka punya adik kayak Dea!” Teriak Anin sambil berlalu ke ruang makan.

Dea kembali menutup wajahnya dengan selimut. Aku mengikuti Anin ke ruang makan.

 Ada 5 prinsip yang harus digunakan untuk mencapai keberhasilan komunikasi. Lima prinsip itu adalah :
  1. Selesaikan emosi (emotional state).
  2. Tentukan tujuan, dan fokus pada tujuan itu.
  3. Rapport building atau membangun kedekatan.
  4. Gunakan ketajaman indera.
  5. Kreatif.

Anin sedang dalam kondisi marah. Aku pikir aku bisa memperbaiki kondisi emosinya,  menurunkan amarah dengan cara menyodorkan pizza hangat yang baru selesai kupanggang ke hadapannya.  Hal ini juga sekaligus  untuk membangun kedekatan (raport building), agar Anin merasa nyaman bicara padaku. 

Sambil mengunyah pizza krispi itu, Anin melanjutkan curhat.

“Foto Anin dibilang jelek, padahal Dea sendiri nggak terima kalau dibilang jelek.” Sungut Anin sambil mengusap air mata.



Tergelitik juga rasanya.  Dalam hati aku senyum-senyum. Yaelaaah.... dibilang jelek saja marahnya kok dahsyat begini. Hihihihi.... Apa mungkin Anin marah karena dia merasa seharusnya sebagai adik, Dea mesti mendukungnya. 

Lalu aku  menentukan tujuanku berkomunikasi dengan Anin, yaitu membuka mata Anin agar melihat persoalan dibilang jelek itu bukanlah sesuatu hal yang besar. Aku ingin Anin melihat hal ini sebagai hal remeh  yang tak perlu membuatnya marah. 

“Enak nggak pizza-nya, Nak? “ Tanyaku.

Anin menggangguk. Tampangnya cemberut, tapi tak menangis lagi. 

Menurut inderaku, raut wajah  Anin masih terlihat kesal, tapi amarahnya sudah mulai turun. Itu bagus. 

Selanjutnya aku dan Anin terlibat tanya jawab. Ini adalah saatnya menggunakan metode parental coaching. Prinsipnya adalah menggali permasalahan, membangkitkan kesadaran dengan pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk meta model.

“Kalau Dea bilang foto Anin jelek, yang memutuskan marah siapa?”

“Ya Aninlah. Abis Dea itu bikin kesal banget. Kayak dia yang paling bagus aja.” 

“Enak nggak marah, Nak?”

Anin menggeleng.

“Pusing? Mata bengkak? Sakit hati? Kesal?”


Anin mengangguk.

“Yang bilang foto Anin jelek siapa?”

“Ya Dealah. Gimana sih Mama ini?”

“Selain Dea siapa lagi yang bilang foto Anin jelek?’

“Nggak ada.”

“Dari sekian banyak orang,follower Anin  termasuk orang-orang yang lihat foto Anin di Path ada nggak yang bilang jelek?”

“Nggak ada.”

“Berarti cuma satu yang bilang jelek?”

“Iya.”

“Menurut Anin foto Anin bagus apa jelek?”

“Baguslah.”

“Kalau bagus, artinya ini  hanya beda pendapat. Boleh nggak Dea beda pendapat dengan Anin?”

“Ya boleh sih. Tapi kan nggak usah dibilangin.”

“Anin bisa nggak melarang orang menyatakan pendapatnya?”

Anin terdiam.

“Enak nggak kalau setiap kali  ketemu orang yang  beda pendapat lalu Anin marah?”

Anin menggeleng. Ketegangan di wajahnya sudah mengendur berganti seulas senyum, sambil terus mengunyah pizza. 

Ini pertanda bagus, Anin sudah melihat persoalan dengan lebih jernih. Saatnya menanamkan keyakinan yang memberdayakan. 

“Nah. Mulai sekarang kalau ada orang bilang foto Anin jelek, atau berbeda pendapatnya dengan Anin, tak perlu marah. Alangkah baiknya kalau Anin bilang  ‘Kita berbeda pendapat. Dan itu tidak apa-apa. ‘ Oke nggak?” 

Anin mengangguk sambil menyuap potongan terakhir pizzanya. Wajahnya cerah, jauh berbeda dari  raut muka beberapa menit sebelumnya.

“Nah, sekarang ajak Dea sarapan. Atau bawakan pizzanya. Kasihan dia belum sarapan.” Ujarku.

Anin mengambil sebuah pizza dan membawanya ke kamar. Maka berakhirlah pertengkaran dua ABG ini. 




Benar-benar. Rasanya seperti ngemut permen asem-manis-pedas-asin.  Hehehe…



Klik di sini untuk mengetahui informasi mengenai training The Secret of Enlightening Parenting 

7 komentar:

Ophi Ziadah mengatakan...

Mba Iwed...ini yg sering sy alamai dengan duo gadis kecil saya sekarang.
Sy blom bs setenang dan sestrategis mb iwed. Masih lebih sering tersulut emosi krn ga sabar dg pertengkaran mrk yg kadang2 setelah heboh kuar biasa lalu adem begitu sj setelah mrk puas meluapkan marah. Duuuh...beneran memang nano2 rasanya

Siti Mudrikah mengatakan...

Ahh seru ya punya anak gadis ya beranjak dewasa, harus benar2 bijak menyikapi setiap maslaah mereka

Siti Mudrikah mengatakan...

Ahh seru ya punya anak gadis ya beranjak dewasa, harus benar2 bijak menyikapi setiap maslaah mereka

Triani Retno A mengatakan...

Wah, ada tombol sabar di pundak kanan. Sepertinya saya mesti punya juga nih. Mungkin di kanan dan kiri sekaligus :D

Juliana Dewi mengatakan...

@Ophi Ziadah :hehehe...aku tuh mau nyebutin nano2, tapi gak jadi. btw itu permen masih ada gak sekarang ya?😊

Juliana Dewi mengatakan...

@Siti Mudrikah : iya, butuh kesabaran dan trik khusus😉

Juliana Dewi mengatakan...

@Triani Retno : iya Mba, tombol itu sebagai anchor untuk menghadirkan kondisi emosi tertentu yg kita butuhkan, misalnya sabar, tenang, kreatif dll.