Minggu, 01 Mei 2016

Kecanduan Lezatnya Menu Halal Sophia Restaurant Bangkok






Siang yang terik di kota Bangkok. Rasanya  seperti berada dalam  kepungan udara panas yang terjebak dalam stoples kaca. Empat jam penerbangan dari Jakarta ditambah  sekitar 40 menit berkendara di tengah padatnya lalu lintas Bangkok menuju hotel sudah cukup membuat perut kami berteriak.  Lapar! Aku, dan sahabat-sahabatku, Mbak Arie, dan Mbak Chita merasa lega ketika Mbak Okky mengajak kami ke sebuah resto persis di sebelah hotel Al Meroz. Dalam otakku terbayang minuman segar yang bisa memberi kesejukan dan makanan yang mampu  membangkitkan energi di tubuh  yang loyo tersengat matahari.




Bangunan resto  sederhana, berbentuk segi empat, tak terlihat “eye chatching”.   Pada pintu kaca resto  tertulis “Ahlan Wasahlan” dan deretan huruf Arab berlafal “Halal”. Tulisan Sophia Restaurant  dibentuk dari lampu-lampu kecil terpasang pada jendela kaca. Resto ini buka mulai jam 10 pagi hingga jam 10 malam.



Masuk ke dalam resto,  hawa sejuk pendingin ruangan menyergap kami. Ada dua ruangan yang dipisahkan sebuah pintu kaca. Kami memilih duduk di ruangan bagian dalam di dekat jendela.


Pelayan pria dan wanita berhijab menyambut kami. Mereka menyerahkan buku menu.

“Mau pesan apa? Silakan pilih menunya.” Kata Mbak Okky.


Banyak sekali pilihan menu. Tak kurang  213 macam yang terdiri dari aneka snack, nasi, mie, tumisan,   ikan,  telur, bebek, ayam, kepiting, udang, kari, aneka dessert dan minuman. Semua itu membuat aku pusing. Akhirnya dengan rekomendasi Mbak Okky yang memang tinggal di Bangkok dan sudah sering makan di tempat ini, kami memilih papaya salad atau som tam, tom yum,  kwetiaw goreng, dried rice with chicken dip sauce, dan fried chicken with lemongrass.

Sementara menunggu pesanana datang, pelayan menawarkan minuman. Kami memilih air putih saja. 

“Air sejuk atau air biasa? “ Tanya pelayan wanita sambil tersenyum.

Oh, rupanya dia bisa berbahasa Melayu.

Yang dimaksud air sejuk adalah air yang dicampur es batu. Segelas air sejuk rasanya begitu nikmat mengusir panasnya udara Bangkok.
 
Papaya salad
Pesanan kami datang satu persatu. Mula-mula papaya salad atau som tam. Aku, Mbak Arie dan Mbak Chita mencicipi menu sayuran itu dengan antusias. Papaya salad adalah salad ala Thailand dengan bahan irisan pepaya muda, tomat, sedikit wortel, sedikit toge, kacang panjang, timun, kol, selada, bertabur kacang tanah.  Tampaknya biasa saja. Sayuran ini tak asing di mata kami karena di Indonesia juga banyak. Yang membuat salad ini istimewa tentu saja racikan bumbunya. 

Ketika sesendok salad menyentuh lidahku, rasa asam berpadu sedikit manis dan segar berbaur  di lidah. Rasa itu berpadu tekstur sayuran berserat  dengan  komposisi tepat, sempurna di indra pengecapanku. Asamnya tak membuat aku bergidik, begitu harmonis racikan bumbunya. Tak berlebihan bila kusebut nama Allah yang menciptakan lidah dan memberikan keahlian pada chef resto ini hingga menghasilkan salad terlezat yang pernah kucicipi sepanjang hidup. Masya Allah!

Menu selanjutnya, sang pelayan menyuguhkan tom yam dalam wadah berpemanas.   Tom yum ini diberi susu, hingga tampak seperti bersantan. Isinya udang, potongan ikan , cumi, jamur, daun ketumbar, berbumbu rempah. 
 
Tom yum with milk
Rasanya? Asam segar. Kaldu sea food bercampur susu yang gurih  terasa melengkapi nikmat cita rasanya. Tom yum ini seolah meneguhkan kesukaanku pada segarnya masakan Thailand. Meski sama-sama bercita rasa asam,  tom yum dan som tam tetap  terasa berbeda. 

Lagi-lagi resto ini menunjukkan kualitas rasa yang juara. Tom yum yang kusantap ini adalah tom yum terlezat yang pernah kurasakan. Tahun 2012 saat pertama mengunjungi Bangkok, aku juga makan tom yum , tapi rasanya masih kalah dibandingkan tom yum ala Sophia resto ini. 
 
Dried rice with chicken dip sauce
Pelayan meletakkan dried rice with chicken dip sauce di hadapan kami. Aku terkikik, karena yang disebut dried rice itu ternyata rengginang. Di Bogor banyak yang seperti ini! Hehe… yang berbeda adalah saus dengan rasa yang unik. Saus itu dibuat dari daging ayam tapi dengan rasa  manis. Lama sekali aku mengecap-ngecap  saus itu, sulit mendefinisikan rasanya.  Manis seperti manisnya dodol, tapi gurih juga. Ada rasa seperti tauco manis. Kesimpulannya : unik. Hehe… 
 
Kwetiaw Fried
Ketiaw gorengnya tidak istimewa, meskipun tak bisa dibilang tidak enak. Masakan seperti ini sudah sering aku jumpai di tanah air.

“Enak banget ayam ini!” Seru Mbak Arie sambil mengunyah sepotong ayam berbumbu serai. 

Fried chicken with lemongrass, begitulah nama masakan pilihan Mbak Arie itu. Potongan daging ayam berbalut tepung, di goreng, lalu dihidangkan dengan taburan parutan serai yang juga digoreng garing sebagai toppingnya.
 
Fried Chicken with lemongrass
Aku meraih sepotong ayam dan mengunyahnya, diikuti sejumput serai goreng garing. Wow… benar saja. Ayam goreng itu terasa gurih, dan serai garing dengan aroma khas menyempurnakan rasanya.

Aku, Mbak Arie dan Mbak Chita mulai memberi penilaian. Kami sepakat dengan urutan  sebagai berikut. Juara 1 menu somtam atau salad pepaya. Tom yum menempati urutan kedua, disusul ayam goreng serai,  kwetiaw dan terakhir si rengginang itu. 

 Untuk makanan yang dipesan, kami membayar sejumlah 840 Baht, atau sekitar Rp. 336.000,- (1 Baht kira-kira Rp. 400,-). 
The bill

Foto makanan –makanan lezat kami share di media sosial, dan langsung menuai reaksi. Mbak Okina, Mbak Mita dan Mbak Dini yang masih dalam perjalanan menuju Bangkok langsung mengomentari.

“Wah, kami juga mau makan disitu!”

Eh, benar saja. Sore harinya, ketika Mbak Okina dan Mbak Mita sampai di hotel, mereka menagih janji. Jadilah  berbondong-bondong kami kembali ke resto Sophia. Pelayan bengong melihat Aku, Mbak Arie, Mbak Chita dan Mbak Okky datang lagi.  Hahaha…
 
Add caption
Kami memesan menu yang sama ditambah menu ikan. Menu itu adalah steamed seabass with spicy lime. 
 
Steamed seabass with spicy lime
Ikan  yang dimasak adalah ikan tilapia, atau di Indonesia disebut ikan nila.  Disajikan dalam wadah berpemanas, ikan utuh  terhidang dalam kuah bening  berisi potongan sawi putih, dengan topping taburan biji cabai dan daun seledri.

Tak ada aroma amis dari masakan itu.  Harumnya mengundang selera. Kami mencicipi potongan daging ikan  dengan kuah dan pelengkapnya. 

Daging ikannya lembut. Kuah asam segar dengan racikan bumbu yang berbeda dari asamnya tom yam maupun som tam kembali membangkitkan selera kami. Bukan main enaknya! Salutku pada chef di resto ini, sangat pandai menciptakan masakan asam dengan komposisi pas. Tidak “nyelekit “di lidah dan di lambung. Mungkin karena asam diambil dari sari  lemon yang aman bagi lambung.

Tom yum yang kami pilih kali ini adalah tom yum dengan kuah bening tanpa susu. Tom yum ini juga enak, rasanya sedikit berbeda karena ada campuran kecombrang pada kuahnya. 
 
Tom yum, without milk
Nah, dengan hadirnya masakan ini berubah lagi urutan 4 besar  masakan yang direkomendasikan di resto Sophia. Jadi kesimpulan akhirnya seperti ini :

·         Juara 1 tetap tak tergoyahkan adalah papaya salad alias som tam.
·         Ranking dua tetap dipegang tom yum yang mantap sekali rasanya.
·         Ranking tiga pantas diberikan pada menu ikan, steamed seabass with spicy lemon.
·         Ranking empat, fried chicken with lemongrass.

Keesokan harinya, Mbak Dini yang penasaran dengan testimoni kami, kembali menggeret kami ke resto Sophia. Hahaha… para pelayan tertawa gembira melihat tampang kami hadir lagi .

Kami tak bisa pindah ke menu lain, demi Mbak Dini, kami kembali memesan menu-menu lezat itu. Selain  itu ada satu dessert yang cukup enak, namanya sugar palm in milk.

Sugar palm in milk

Makanan penutup ini sekilas tampak seperti kolak. Tapi ternyata agak berbeda. Isinya berupa potongan daging lontar dengan kuah sugar palm dan susu dengan campuran es batu. Tadinya kami sempat berdebat antara kolang-kaling atau lontar, tapi kenyalnya tekstur daging buah itu meneguhkan keyakinan kami bahwa itulah lontar. Dessert ini patut dicoba kalau anda berkunjung ke resto Sophia.

Aku merekomendasikan resto yang terletak di sebelah hotel Al Meroz, tepatnya di 1681 Ramkamhaeng Soi 5 Suanluang Bangkok 10250 bagi anda yang mengunjungi Bangkok.  

Tiga kali mengunjungi  rumah makan yang sama  dalam waktu berdekatan sudah cukup membuat kami menarik kesimpulan. Kami telah kecanduan  nikmatnya masakan ala Sophia Restaurant! Yah, mau bagaimana lagi? Sudah halal, enaknya juara! 

7 komentar:

ali shodiqin mengatakan...

wah makanan di atas bikin laper nih. jadi pengen nyobain salah satunya. sepertinya lezat tuh. saya tertarik dengan makanan yang paling bawah sendiri itu. kalau bisa di kasih resep-resepnya agar bisa membuat atau referensi untuk memasak. thanks infonya...sipppp...

Juliana Dewi mengatakan...

@ali shodiqin : kalo resep mungkin bisa di googling ya. Atau bisa beli bumbu instan Tom yum produksi Thailand, di Indonesia ada di supermarket besar, merknya Lobo, ada logo halalnya :-)

E. Novia mengatakan...

Ternyata ada juga yg halal ya.
Aku waktu kesana cuma bisa baca bismillah dan doa mau makan aja, Mbak. Habis mau gimana lagi, rekan kerjaku disana juga ga paham resto halal. Jadina aku ngikut Aja :(
TFS, Mak

Juliana Dewi mengatakan...

@E. Novia : sama2 Mak :-)

Muhammad Rachmadi mengatakan...

Nice share. One day, I'll be there..hopefully

Muhammad Rachmadi mengatakan...

Nice share. One day, I'll be there..hopefully

Juliana Dewi mengatakan...

@Muhammad Rachmadi : Aamiin..