Sabtu, 23 Januari 2016

Sarapan Roti Canai ala Resto Nasi Kandar Pelita Kuala Lumpur


Jam 7 pagi  9  Januari 2016, Aku dan sahabat-sahabatku,  Arie, Dini dan  Chita sudah duduk cantik di lobby hotel. Tak lama kemudian Mita datang menjemput . Kami bergegas masuk ke mobilnya dan meluncur di kawasan Jalan Ampang yang terlihat lengang. Hanya butuh beberapa menit saja untuk tiba   di sebuah resto masakan tradisional Melayu  India muslim.



Nasi Kandar Pelita. Begitulah nama resto yang  luas dan bersih, dengan kursi-kursi  dan meja aluminium serta para pelayan pria keturunan India.



Entah mengapa, resto ini mengingatkan aku pada konsep rumah makan Padang di tanah air. Mungkin karena tempat ini buka 24 jam, seperti  rumah makan Padang khususnya yang  berada di jalan lintas Pulau Jawa atau Sumatera. 


Kedatangan kami cukup menarik perhatian pengunjung lain dan para pelayan. Tentu saja, karena di pagi  seperti ini belum banyak orang datang untuk makan. Kami menarik perhatian  mungkin karena  terlihat kelaparan. Hehehe...








Menu utama resto ini adalah nasi, dengan berbagai bumbu rempah yang disiramkan sebagai topping. Lalu ada pilihan lauknya ada ayam, cumi, ikan, kambing dan lain-lain.

Menu nasi di pagi hari terasa terlalu “berat” bagi kami. Maka    menu lain pun menjadi pilihan,  yaitu roti canai. Selain itu kami juga memesan tisu bread dan teh tarik.

Ada beberapa pilihan rasa roti canai. Ada yang plain, keju, dan bawang. Kami memesan tiga macam roti canai itu.





Cara membuat roti canai mirip dengan proses membentuk kulit martabak telur. Sang chef dengan terampil membanting dan memutar-mutar adonan roti hingga  terbentuk roti  yang pas tebalnya.

Roti canai dihidangkan di atas nampan aluminium dengan tiga macam sausnya. Menurutku saus-saus itu terasa mirip kuah masakan Padang, seperti gulai, kari dan kuah rendang.



Cara menikmati roti canai adalah mencelupkan potongan roti ke saus-sausnya untuk memberi rasa yang kuat. Saus roti canai terasa pekat bumbunya, tetapi tidak pedas. Enak. Tanpa saus, roti canai keju dan bawang sudah terasa nikmat sementara roti canai plain terasa lebih hambar.




Tisu bread pesanan kami pun tiba. Unik sekali makanan ini. Tinggi menjulang, tipis, krispi,  berlumur bumbu dan susu kental manis. Rasanya garing, gurih, dan manis.


Teh tariknya juga sedap. Rasa teh yang  khas sedikit pahit  berpadu dengan susu  manis.  Pas sekali rasanya.
Dengan rasa lezat, harga makanan di sini tidak mahal. Tampaknya tempat ini memang layak direkomendasikan sebagai lokasi  wisata kuliner wajib bagi  wisatawan yang ingin mencicipi masakan Melayu India.


Sarapan kali ini nikmat sekali.  Saking nikmatnya jadi ingin tambah, tapi malu dong  sama mas- mas pelayan yang  terus memperhatikan kami sejak tadi . Masak sih, cantik-cantik makannya banyak? Jadi bagaimana? Ya dibungkuslah roti canai  tambahannya, supaya bisa  lanjut makan lagi di hotel. Hahaha....



7 komentar:

Lidya Fitrian mengatakan...

rotinya tinggi ya, rebutan :)
Justru enak yang masih sepi ya mbak jadi pesannya gak lama langsung bisa menikmati roti canainya

Juliana Dewi mengatakan...

@Lidya Fitrian : betul Mbak.. Hehe

Ika Puspitasari mengatakan...

Itu abang-abang pelayannya terpesona sama wanita2 cantik yang pagi-pagi udah sarapan di kedainya...hihi

kornelius ginting mengatakan...

Penasaran sama tisu breadnya..pastinya enak banget.. Bentuknya unik mengoda gmana gitu

Juliana Dewi mengatakan...

@Ika Puspitasari : hahaa.. Kami turis berisik yg ngobrol seru dan ngikik2, sibuk foto2, jadinya ya menarik perhatian :-)

Juliana Dewi mengatakan...

@kornelius ginting : enak, kayak keripik gurih manis :-)

Fanny f nila mengatakan...

Ini tempat aku ama temen2 ngerjain assignment ato pas puasa jd tempat sahur :p. Tapi aku seringnya k pelita yg di penang mba, krn deket kampusku :p. Sukaaaa bgt ama makanannya, apalagi sop nya juga enak loh