Jumat, 18 September 2015

Di Balik Layar Lapak Pelangi untuk Fashion Spread Majalah Oase-Sahira

Bergabung di komunitas Lapak Pelangi yang unik dan positif membuat aku mengenal dunia-dunia baru yang sebelumnya tak pernah kusentuh. Sejak awal komunitas ini unik, karena terdiri dari ibu-ibu dengan latar belakang  beragam. Ada yang berprofesi sebagai designer pakaian, penulis, pengrajin kain, pengrajin tas, pengrajin sepatu, hijab stylist, blogger,  host TV, pemilik penerbitan, crafter, dan lain-lain. Semua berkumpul di sini dalam satu benang merah,  semangat menjaga silaturahmi, bersinergi, berkarya dan berkegiatan untuk urusan dunia dan akhirat.

Majalah Oase-Sahira edisi Agustus 2015

Kali ini majalah bulanan Oase-Sahira berkenan menampilkan  karya beberapa anggota Lapak Pelangi untuk  fashion spread edisi bulan Oktober 2015. Menurutku majalah muslim ini cukup unik.  Majalah  ini diterbitkan oleh  PT Halimun Media Citra (HMC) yang  setiap edisi  tampil dalam dua sisi. Sisi pertama majalah Oase dengan motto “Inspirasi Keluarga Muslim yang Sehat dan Cerdas”. Sementara sisi lainnya disebut  majalah Sahira, dengan tema bahasan sebagian besar ditujukan untuk  muslimah.


Untuk mengisi fashion spread kali ini, ada enam orang  anggota Lapak Pelangi yang menampilkan busana-busana, tas, sepatu dan aksesories yaitu   Vina Lucky Karim, Indriya R. Dani, Hartin Rozaline, Susi Gantina, Liza Yuwanti dan Tety Murniati. Selain itu salah seorang anggota Pelangi, Bunda Aida menjadi profil cover majalah bersama suaminya, Ustad Taufiqurrahman.

Bagi media yang berminat  menghubungi Lapak Pelangi untuk mengisi fashoin spread, talkshow, workshop dan lain-lain,  bisa menghubungi contact person, Indriya R Dani. Alamat email : indriya.rusmana@gmail.com

Demi suksesnya acara pemotretan, ketujuh anggota Lapak Pelangi  berkumpul di butik  Teh Tety Murniati untuk membicarakan tema fashion yang akan ditampilkan. Sudah disepakati bersama bahwa tema yang diusung adalah “Etnik-Urban”. Enam desainer masing-masing  menampilkan 2 rancangan, sehingga seluruh busana berjumlah 12 buah. Busana-busana itu  dikenakan oleh 3 orang model dewasa dan 2 orang model anak-anak. Model anak-anak tak lain adalah Jihan, putri Mbak Hartin Rozaline dan Gya, putri bungsu Teh Indriya. R Dani. Acara rembukan berlangsung santai, penuh canda tawa, dan makan-makan  diselingi rengekan Gya yang ingin minum susu, tapi Bunda-nya lupa beli susu. :-) 

Pagi,  15 September 2015, di  kediaman Teh Indriya R Dani di kawasan Villa Duta Bogor, telah tampak aktivitas-aktivitas persiapan.  Teh Susi dan Mbak  Lisa sibuk dengan sertika uap-nya, merapikan busana karya mereka. Teh Tety, Teh Vina dan   Teh Indriya mendiskusikan padu padan busana dengan aksesorisnya.

 

Persiapan pemotretan

Mbak Hartin terlihat sedang mendandani putrinya, Jihan.  Gadis kecil itu tampak sangat menikmati kegiatan berdandan,tidak rewel, dan kooperatif. Sudah beberapa kali Jihan berpose untuk memperagakan busana muslim anak-anak.   Tampaknya dia sudah akrab dengan kegiatan pemotretan.

Jihan dan Bunda Hartin Rozaline

 Tiba-tiba dari dalam kamar Gya muncul, lengkap dengan busana cantik dan hijab orange-nya.  Balita 4 tahun itu pun tampaknya sudah ketularan sang Bunda ,senang dunia fashion dan suka dipotret.

Gya siap beraksi

Kegiatan pemotretan disponsori  juga oleh Wardah kosmetik. Di halaman belakang, satu persatu para model dan desainer didandani  Mbak Intan, juru make-up Wardah kosmetik. 


Make up dengan Wardah Kosmetik

Sementara itu, Teh Tety yang juga seorang hijab stylist, mulai mengkreasikan gaya hijab para model. Salah satunya model Salis yang mengenakan busana karya  Teh Vina Lucky Karim. Dari jemari lentik Teh Tety, tercipta tampilan-tampilan  gaya hijab  modis.

Teh Tety dan Teh Vina mendandani model Salis

Aku mengagumi kreativitas Teh Tety dalam menciptakan gaya hijab yang spontanitas, tanpa rencana tertentu, tapi hasilnya selalu cantik. Meski terlihat mudah, ternyata mengkreasikan gaya hijab itu ada tekniknya. Bila tak menguasai teknik ini, jangan harap hasilnya akan bagus.  Misalnya teknik menyematkan jarum pentul supaya kokoh menahan kedudukan hijab. Bahkan memilih jarum pentul pun tak bisa sembarangan supaya hasil tampilan hijab maksimal.

Tiba di lokasi pemotretan 

Sesi pertama pemotretan berlangsung di sebuah tempat di dalam kompleks Villa Duta Bogor. Lokasi yang rimbun oleh pepohonan hijau dengan helai-helai  rontok membentuk guguran daun berwarna kuning itu cukup ideal menjadi setting pemotretan.

Anita dan Gya beraksi

Anita sang model cantik, menggandengsi si kecil Gya. Mereka menampilkan busana karya Indriya R. Dani, dan sepatu karya Mbak Liza Yuwanti. Proses pemotretan berlangsung lancar. Kru majalah dan Indriya  mengarahkan gaya Gya,  mengajaknya bercanda agar tercipta ekspresi wajah yang ceria.

Selanjutnya sang model harus berganti pakaian dengan busana karya Mbak Liza Yuwanti. Berhubung lokasi pemotretan jauh dari rumah Indriya, terpaksa ganti baju dilakukan di salah satu rumah dekat lokasi pemotretan. Rumah itu milik teman Indriya.

Numpang ganti baju

Sebelum pemotretan berlangsung, Mbak Liza kembali merapikan hijab dan aksesories modelnya. Kali ini pemotretan dilakukan dengan menggunakan mobil putih sebagai properti pelengkap.

Pilih-pilih  hasil jepretan fotografer

Sesi selanjutnya busana karya Mbak Liza , dikenakan model Dian Yusdini. Dilanjutkan dengan aksi gadis cilik, Jihan dengan busana karya Ibundanya, Mbak Hartin Rozaline.

Teh Indriya dan Mbak Liza mendandani model Dian Yusdini


Jihan beraksi

Jihan juga berpose bersama model Salis yang menampilakan rancangan Teh Tety Murniaty. Para kru mengerahkan kreativitas mereka dalam memanfaatkan apa yang ada di lokasi pemotretan. Misalnya di lokasi terlihat  sebatang  kayu  berada di permukaan tanah. Hal ini  menimbulkan ide, Jihan bergaya berjalan meniti batang kayu itu sementara Salis seolah menjaganya seperti gaya seorang ibu yang menemani putrinya bermain, berjalan meniti dahan kayu.

Kreatif memanfaatkan apa yang ada di lokasi pemotretan


Teh Tety, Teh Vina, dan Mbak Liza sibuk  mengarahkan gaya para model. Saking serunya, tanpa sadar Mbak Liza duduk di tengah jalan dengan kursi plastik yang dipinjam dari pos satpam. Dia baru sadar berada di tengah jalan ketika ada kendaraan yang akan lewat sehingga Mbak Liza buru-buru menyingkir. Haha...

Teh Tety, Teh Vina dan Mbak Liza mengarahkan gaya para model

Iseng berfoto di sela pemotretan

Sesi selanjutnya, semua kru,desainer dan model kembli ke rumah Indriya. Di sana teh Tety dan Teh Susi kembali mendandani model, dan memilihkan aksesoris yang tepat untuk busana mereka. 

Istirahat makan siang berlangsung dirangkai shalat zuhur. Kemudian pemotetan kembali berlangsung.

Istirahat makan siang disela canda tawa


Pemotretan model Salis dengan busana rancangan Teh Susi Gantina

Model Salis mengenakan busana karya Susi Gantina, dengan aksesories tas berhias decoupage karya Vina Lucky Karim.

Selanjutnya, pasangan suami istri Ustad Taufiqurrahman dan Bunda Aida menjalani pemotretan untuk cover. Pemotretan berlangsung  sambil bercanda. Kedua model  tersipu-sipu oleh riuh rendah  sorak sorai ledekan anggota pelangi  dan kru majalah yang mendorong mereka berpose mesra. Pemotretan  diwarnai sedikit  insiden , tanpa sengaja kursi-kursi kayu yang diduduki patah satu per satu.  Maka makin hebohlah suasana pemotretan dengan tawa berderai. Keseruan hari itu ditutup dengan pose anggota Pelangi dengan dress code hitam.

insiden kursi patah :-)
Lapak Pelangi 


Selesai acara pemotretan, Indriya dan kru majalah Oase-Sahira terlibat diskusi. Mereka membicarakan   lay out foto serta  ulasan fashion yang akan dikemas untuk tampilan fashion spread.

Rembukan bersama kru majalah Oase-Sahira

Penasaran ingin melihat hasil pemotretannya? Ingin melihat busana-busana dan aksesories karya anggota komunitas Pelangi? Tunggu kehadirannya di  majalah Oase-Sahira edisi Oktober 2015 ya!



3 komentar:

Tally Syifa mengatakan...

Ada kolom fiksinya juga tidak Bunda?

Catcilku mengatakan...

Seru ya lihat sesi poto2 para model gitu

raja hijab mengatakan...

ini Model Baju Muslim nya cantik cantik kakak, pengan beli deh hee