Selasa, 18 Agustus 2015

Menikmati Keindahan Buochs Switzerland


Aku tak akan melupakan Buochs, sebuah wilayah seluas 9.9 Km2 yang terletak di antara Beckenried dan Stans, Switzerland. Aku singgah di tempat ini saat musim semi, bulan April tahun 2011. Meski hanya dua hari satu malam menginap di  tempat ini, tapi keindahannya sangat berkesan. Bagaimana tidak, udaranya bersih, suhu dingin sejuk, suasana tenang, pemandangan indah oleh tanaman hijau, pegunungan dan danau. Atmosfir tempat ini  khas pemandangan negri empat musim.

Ketika pagi menjelang di tepi danau Lucerne



Sebagian besar wilayah Buochs, sekitar 48 persen merupakan daerah pertanian. Tak heran sesekali ketika angin berhembus  tercium aroma kotoran sapi yang dijadikan pupuk penyubur tanaman. Selebihnya sejumlah 34,1 persen wilayah Buochs adalah hutan, 16 persen bangunan rumah dan jalan, sementara sisanya sejumlah 1,9 persen terdiri dari  sungai, gletser dan gunung.

Apa saja yang bisa dilakukan di Buochs? Wisatawan bisa menikmati kehidupan pedesaan di Grossbächli, sebuah area pertanian yang menawarkan gaya hidup sebagaimana yang dijalani para petani. Tidur beralaskan jerami, memerah susu sapi, memetik buah-buahan, piknik di alam terbuka dan kegiatan lainnya.

Lalu, bisa juga berkemah ditepi danau, melakukan olahraga air misalnya menyusuri danau dengan kano atau menyewa perahu.

Hotel dan Resto Postillon

Aku dan Mariska 

Aku dan sahabatku,  Mariska, menginap di Hotel Postillon yang terletak di tepi danau Lucerne. Hotel berbintang 4 bergaya tradisional itu bangunannya didominasi unsur kayu. Terdapat 58 kamar, 3 resto, satu bar, ruang seminar dan hall tempat perjamuan makan di hotel ini.  Asyiknya, pengunjung hotel bisa menikmati makanan di teras resto yang menghadap ke danau saat musim semi dan musim panas.

Bukit cantik melatari hotel Postillon


Suasana di resto Postillon

Interior bergaya tradisional di resto Postillon

Resto di hotel ini kental dengan gaya tradisional  Swiss. Kursi-kursi kayu dan  detail perlengkapannya membuat pengunjung merasa akrab dengan suasana pedesaan yang hangat.

Kamar hotel pun bergaya tradisional.  Meski tak luas, kamar hotel masih terasa nyaman dengan jendela kaca yang menyajikan pemandangan danau Lucerne yang indah.

Kamar yang menghadap danau

Pemandangan danau terligat melalui jendela kamar

Saat aku dan Mariska berkunjung, lift yang kecil dan sempit tengah rusak. Kami terpaksa terengah-engah mengangkut koper-koper besar ke lantai atas. Jangan harap ada porter di sini. Di Eropa, tenaga manusia mahal! Kami harus rela menyeret dan mengangkat koper sendiri dari bandara, naik ke bus, lalu ke hotel-hotel yang kami singgahi hingga saat kembali pulang ke tanah air.

Usai sarapan, aku dan Mariska menikmati pemandangan indah di sekitar hotel. Sengaja kami buru-buru menyelesaikan sarapan supaya sempat berjalan kaki ke tepi danau Lucerne . Langit masih agak gelap ketika kami menyusuri jalan. Tapi pemandangan tampak dramatis, dengan kilau keemasan matahari pagi tercermin pada permukaan air danau.

Sesaat sebelum matahari terbit di Buochs

Kami menemukan rumah-rumah penduduk yang cantik, tampak menyatu dengan alam, bahkan melengkapi keindahan alam. Rumah-rumah itu sepi,mungkin pemiliknya masih  tidur. Aku sempat mengagumi sebuah rumah-rumahan yang dibentuk dari potongan kayu. Unik sekali bentuknya.

Suasana rumah penduduk yang apik, bersih dan asri

Rumah-rumahan dari potongan kayu bakar

Rumah-rumah cantik di kaki bukit

Lalu kami tiba di tepi danau yang tenang. Aku dan Mariska duduk dibangku, lalu berfoto ria. Kami meresapi suasana alam yang tenang.



Pagi hari di tepi danau Lucerne, Buochs

Sayang kami tak bisa berlama-lama di tempat ini, karena akan melanjutkan jalan-jalan ke Mount Titlis. Maka aku dan Mariska beranjak kembali menyusuri jalan menuju hotel. Di sisi-sisi jalan tampak keindahan  ditebarkan oleh bunga-bunga berwarna pink yang bersemi di dahan pohonnya. Bunga ini sepertinya jenis  bunga Sakura atau Cherry Blossom.

Bunga Cherry Blossom
Sementara itu matahari mulai menampakkan sinarnya dan... aku terperangah melihat indahnya pemandangan.  Rumput hijau subur, air danau yang tenang dan jernih, rumah-rumah, pohon, dan pegunungan yang menjadi latar belakangnya. Masya Allah... Perpaduan yang sempurna. Sungguh indah ciptaanNya!

Pemandangan menyegarkan mata di tepi danau Lucerne





Bentang alam yang indah di Buochs

Tak bosan-bosan aku menjepretkan kamera mengabadikan suasana Buochs yang cantik.  Suatu hari nanti, bila aku merindukan tempat ini, foto-foto jepretanku akan kembali menghadirkan  rasa kagum  akan kebesaranNya melalui lukisan alam  Buochs yang mengagumkan.

15 komentar:

Lidya mengatakan...

pemandangannya asri banget ya mbak, warna hijau dimana-mana. Asyik juga ya bisa bikin tenda samping sungai

Ophi Ziadah mengatakan...

Ihhh bikin betah banget ya suasananya mak iweth... Kayaknya klo dah di sana gak mau pulang tuh

Dewi Rieka mengatakan...

Masya Allah, pemandangannya cantik bingiiit....aaakk....

Dewi Sutedja mengatakan...

@Lidya : meskipun di Indonesia juga alam pedesaannya cantik, tapi Buochs menawarkan kecantikan dengan suasana negri empat musim yang unik. :-) . area dekat danau memang sering digunakan untuk camping.

Dewi Sutedja mengatakan...

@Ophi Ziadah : iya... Suasananya nyaman buat ngelamun, dan nulis... Hahaha..

Dewi Sutedja mengatakan...

@Dewi Rieka : ciptaan Allah memang top banget ya..hehe

nunik utami mengatakan...

Membayangkan duduk di kamar sambil mandangin danau. Atau, duduk-duduk di rumput depan danau sambil ngetik-ngetik. Segarnyaaa

riawani elyta mengatakan...

Cantiknyaaa.....kayanya nyampe sini bisa betah deh lama2, kapan ya bisa nyampe kesini? *nghayal dulu*

Dewi Sutedja mengatakan...

@nunik utami :Wah kalo Mbak Nunik ke sini, bakal tercipta novel2 baru,pastiii..hehehe

Dewi Sutedja mengatakan...

@riawani elyta : Insha Allah... Bisa ke sini juga :-)

Ruli retno mengatakan...

Langsung doa... mudah2an bisa kesana juga.. aamiin...

Rahmi Aziza mengatakan...

Masya Alloh cantik banget pemandangannya, InsyaAlloh menysul untuk berlibur ke sana mak. Bismillah...

asuransi jiwa mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Juliana Dewi mengatakan...

@Ruli retno :Aamiin

Juliana Dewi mengatakan...

@Rahmi Aziza : Aamiin...