Senin, 27 Juli 2015

Kuliner Soto Babat dan Teh Susu Depan Pasar Cinde Palembang


Delapan tahun lalu saat masih tinggal di Palembang, tepatnya tahun 2007, aku dan  si Akang, pernah diajak   tetangga kami, Pak Yusfik dan istrinya, menikmati kuliner soto babat di sebuah warung makan sederhana. 

Mulanya aku heran mengapa  mereka menganggap tempat makan sederhana itu sebagai sesuatu yang istimewa  hingga  mengajak kami ke sana. Warung itu menempati sebuah ruko di jalan Jendral Sudirman, berseberangan dengan pasar Cinde.  Suasana bergaya seadanya,cenderung suram dan “jadul”, bahkan tidak ada papan namanya.

Meja-meja kayu dengan kursi plastik berbeda-beda warna. Ada yang putih dekil, merah pudar dan hijau lusuh seakan membawaku pada suasana warung makan masa lalu.

“Kami ingin mengajak kalian bernostalgia. Dulu kami sering makan di sini. Sotonya enak. Dan rasanya tetap tak berubah seiring waktu. “ Ujar Pak Yusfik disambut senyum manis istrinya. Pasangan setengah baya itu ramah dan baik hati.

Kami memesan soto  babat campur daging dan nasi putih.

“Saya pesankan minuman istimewa ya. Es teh susu di sini  enak lho. “ Pak Yusfik berkata setengah promosi.

Aku dan Akang  mengangguk.



Lalu pelayan menyuguhkan soto babat  daging dan nasi pesanan kami.  Soto dengan kuah agak kuning itu disajikan dalam wadah mangkuk  kecil. Uap panas mengepul menebar aroma sedap.

Aku menyendok sedikit kuahnya, menunggu uap panasnya berkurang, lalu menghirup pelan-pelan. Ternyata memang enak!

“Bagaimana?” Tanya Pak Yusfik.

Aku mengacungkan jempol sambil tersenyum. Pak Yusfik tertawa.

Lalu pelayan mengangsurkan segelas teh susu. Penampilan minuman ini tak ada istimewanya. Sama saja dengan teh susu di warung-warung pada umumnya.

“Coba cicipi teh susu ini.” Ujar Pak Yusfik.

Tak menunggu lama aku menyeruput minuman dingin itu.  Ada rasa sedikit pahit dan sepet khas daun teh yang sangat serasi berpadu dengan susu kental manis. Seketika aku terlempar kembali ke masa kecil. Sudah lama sekali aku tak menjumpai rasa dan aroma  teh  persis seperti yang tertanam dalam memori masa kecilku, saat tak banyak pilihan produk teh di pasaran. Seperti inilah rasa dan aroma teh yang kunikmati bersama kakek, nenek, mami, papi dan tante-tanteku di rumah besar milik kakek di Bandar Lampung dulu. Bukan main! Seteguk es teh susu di warung sederhana ini  menimbulkan kesan yang sangat menyentuh. Aku berterimakasih pada Pak Yusfik dan istrinya yang sudah mengajak bernostalgia melalui wisata rasa.

Hari itu, Sabtu 25 Juli 2015, delapan tahun sejak kunjungan kami ke warung sederhana di depan pasar Cinde , aku dan Akang kembali menyambangi tempat itu.


Warung makan  ini tak banyak berubah. Hanya sedikit lebih baik dari kondisi delapan tahun lalu. Meja-meja masih dari kayu, dan kursinya juga tetap kursi plastik tapi kini warnanya seragam, hijau. Dapur yang dulu terlihat dari luar kini sudah diberi partisi dari papan seadanya tanpa dilapis cat. Lantainya masih ubin pc abu-abu  kuno  yang suram dan retak-retak. Jangan berharap warung ini mengikuti konsep caffe-caffe modern yang berdesain kekinian. Tidak. Warung ini setia pada gaya jadul seadanya.

Meski ada menu bubur ayam, lontong, laksan dan burgo, tapi menu andalan tempat makan ini masih seperti dulu.  



Kami kembali memesan menu andalan  yang sama dengan pesanan delapan tahun lalu. Soto babat daging dengan es teh susu. Ternyata rasanya tetap tak berubah. Sotonya enak, dengan babat dan daging yang lembut, dicampur sedikit toge, berkuah kuning mengepul panas. Es teh susunya kembali membuaiku  menelusuri masa kecil lewat sentuhan rasa unik pahit sepat manis pada indra pengecapku.  Alhamdulillah senangnya…

Yang membuatku tersenyum adalah para pengunjung yang menikmati menu di tempat ini masih seperti dulu. Rata-rata para manula yang tampaknya menjadi pelanggan setia.   Kesetiaan para pelanggan ini tentulah karena rasa masakan yang juga terjaga, tak berubah seiring waktu.Aku jadi ingat Pak Yusfik dan istrinya yang kini sudah pindah ke Bandung. Kalau mereka mengunjungi Palembang, kurasa mereka akan mampir ke tempat ini lagi untuk bernostalgia.

Harga yang kami bayar untuk dua porsi soto babat daging, nasi, dua kerupuk dan dua gelas es teh susu adalah Rp. 60.000,-

Ingin mencoba? Silahkan mampir ke warung tanpa nama di depan pasar Cinde Palembang.

4 komentar:

diarysivika mengatakan...

haduh itu babatnya kelihatan enak banget...hehe sayang jauh harus ke Palembang :)

adi pradana mengatakan...

Teh Susu? Mauuuuu....

kornelius ginting mengatakan...

ngiler uy bacanya... tapi jauh kian di palembang sana.. tanpa nama pula :)

Lidya mengatakan...

bedanya dengan soto babat yang ada di jawa barat apa mbak? oh ya maaf lahir batin ya. Maaf baru bisa bw lagi